Jumat, 17 Februari 2012

Visual Dreams (Fan Fiction Part. II)




  • Shinee (Onew, Key, Jonghyun, Minho, Taemin), SNSD (Taeyon, Sooyoung, Jessica, Tiffany, Yuri, Yoona, Seohyun, Hyeyeon, Sunny), 2NE1 (Sandara, CL), Author Family and Friends (Special Friends Nuna Funzee), Alex and Her Family, Adam Couple (Jo Kwon, Gain)
 Before :


  “Sepertinya sapu tangan yang kau pegang sangat spesial. Apa itu dari Alex?” aku memancing pertanyaan padanya.

  “Ya, dia sangat pintar merajut dan menjahit” ia menjawab dengan percaya diri, terdiam seketika dan melanjutkan perkataannya. “Bukan Alex yang kau pikirkan tentunya anak muda” ia tersenyum.

  “Luka cakar diwajahmu juga karena anak itu kan?” ia terdiam.

  “Kau tau? Ada istilah yang disebut Hubungan Penyihir, karena kau penyihir aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Tentara merah” aku tersenyum, membuatnya salah tingkah.

  “Apa yang kau bicarakan anak muda” ia meringis.

  “Kau lupa pada Alex kecilmu dan menjadi tentara merah?” ia terdiam.

  “Sebelum aku mengucapkan mantra api yang mengenai punggungmu, Alex ikut mengejarmu karena ia tau siapa yang sedang ia kejar. Ia hanya ingin bertemu ayahnya yang menghilang entah kemana. Jika aku Alex kecilmu mungkin aku akan menangis dan tak menganggapmu ayahku lagi. Tingkah anehmu yang menyembunyikan luka dipunggung memastikan aku yang curiga padamu, alasan tentara merah menyerang rumah nenekku karena rumah peristirahatanmu dekat dengan rumah nenekku. Kau berpura-pura menjadi korban tentara merah” ia menggeser tempatnya dan membuatnya duduk di tepi kursi.

“Kembalilah jadilah orang tua Alex yang dulu. Alex merindukanmu, merindukan seorang ayah yang sayang pada anaknya. Kau lebih tua dariku seharusnya kau paham perasaan anakmu yang ikut berjuang melawan tentara merah”

“Diam! Kau terlalu banyak bicara!” ia berteriak padaku, mengambil sebuah pistol dan menembakan kearah kepalaku. Aku tak dapat menepisnya dan tersungkur jatuh.

_***_


                Aku menampar pipiku didalam kamar mandi, aku masih belum percaya mimpi yang ku alami. Aku terus mencuci muka, meyakinkan diri bahwa masih berada dalam dunia nyata. Aku menyebutkan beberapa mantra yang pernah kusebutkan, tidak terjadi apapun. Aku melihat kembali isi buku catatan usang didalam tasku, buku catatan itu berubah warna. Warna usangnya berubah cerah, ia menjadi buku kosong.

                “Mana isinya! Sial! Tidak akan mungkin akan hilang! Mana tulisannya!”

                “Kim…” aku mendengar bisikan pelan ditelingaku, aku terdiam. Kupandangi sekelilingku, ku tutup  buku catatan itu dan memasukannya kedalam tas.

                Suara bisikan itu terus terdengar memanggil namaku, sedangkan keringat dingin tak berhenti mengaliri wajahku. Ku pastikan lagi suara yang memanggilku, ku amati keadaan sekitar. Pandanganku kabur, kulihat tetesan darah di lantai. Aku panik, karena bisikan itu semakin jelas. Pandanganku sedikit kabur.  Kurapihkan tas dan bergegas berganti baju untuk memulai perkerjaan hari ini. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan kamar mandi, aku berusaha tidak mendengar bisikan yang sepertinya mengejarku.

               “Eh, kenapa dengan kepalamu?” kakak perempuan terkejut melihat segumpal darah di kepalaku.
      
       “Kepala? Aku baik-baik saja”

                “Bodoh, kepalamu bocor masih bilang baik-baik saja” ia memberikan sapu tangan putih padaku “Bersihin dong, kok ya bisa berdarah? Jatoh di kamar mandi atau gimana?” ia meninggalkanku.

                Aku memegang kepalaku, aku tak merasa kepalaku dialiri darah. Aku kembali ke kamar mandi untuk memastikan kalimat kakakku, dan kulihat darah segar mengucur dari dahi kananku.

                “Apa yang terjadi?”

               Aku membasahi sapu tangan itu dan membersihkan aliran darah yang mengalir, mataku terasa berat begitu pula dengan tubuhku. Aku tak sanggup lagi untuk berdiri lebih lama, aku berjalan menjauhi westafel dan cermin. Kusandarkan tubuhku di dinding kamar mandi yang sejuk itu, rasa kantuk menyerang membuat pandanganku semakin kabur. Walau bisikan yang tadi memanggilku sudah tak terdengar, aku terus membersihkan darah yang mengalir sambil menenangkan diri. Aku putuskan untuk memejamkan mata. Berusaha menghilangkan rasa kantuk yang menyerang.

              “Ia sadar! CL! Kim sadar!” aku membuka mataku dengan pelan, aku melihat penyihir kecil yang ku kenal.

                “Benarkah? Kim! Kau sadar!” tubuhku ditutupi selimut, aku berada di rumah nenekku. Aku dibantu seorang perempuan yang kulihat—dalam—mimpi untuk menyandarkan diri. Aku mencari kacamataku, dan memakainya. Saat aku memakai kacamataku semuanya terlihat blur, ketika melepasnya semua berubah jelas. Aku taruh kacamata itu di meja.

               “Maaf, Kim. Maaf karena telat menyelamatkanmu” aku mengacuhkan kalimat-kalimatnya dan berusaha menyamankan diri di tepi ranjang, nyawaku masih belum terkumpul sepenuhnya.

                “Apa kau benar-benar sadar?” anak kecil itu bertanya padaku, ia duduk disampingku dan memandangi.

             “Ada apa denganmu?” tanyaku, ia menahan air matanya.

               “Sukurlah” ia menangis dan memelukku.

               “Maaf, maafkan ayahku…”

                Rasa sakit di kepalaku kembali menyerang, dapat kurasakan ada sesuatu yang membasahi kepalaku. Perban yang diikat kencang membuatku semakin pusing, aku memandang kearah lain.

                “Alex… berhentilah menangis” ujar perempuan itu.

                Ingatanku menganggu penglihatanku, kamarku terkadang berubah menjadi kamar mandi di rumah sewa dan kembali berubah menjadi kamar di rumah nenekku. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi, rasanya aku seperti kembali dalam mimpi burukku.

                “Kim…” aku terdiam. Kupejamkan mata mengingat semua yang terjadi dan aku ingat semuanya. Aku ingat siapa perempuan itu, aku ingat anak kecil yang kini memelukku, aku ingat luka yang diberikan oleh penyihir tua yang menjadi tentara merah. Aku ingat semua, aku ingat jika aku adalah keturunan seraphim.
 
            “Alex… berhentilah menangis” ujarku, aku memeluk tubuh kecilnya. Ia menyembunyikan wajahnya ditubuhku dan terus meminta maaf.

             “Hey, terlalu berlebihan jika seperti ini” aku sedikit tertawa dan memandang perempuan yang membantuku menyandarkan diri.

               “Alex, lepaslah…” CL membantu melepas pelukan Alex di tubuhku, ia tersenyum dan memberi isyarat mata padaku.

               “Kenapa?” mataku membalas isyaratnya.

               “Ia takut kehilanganmu karena ayahnya” ia kembali membalas isyaratku dengan bahasa mulutnya.

               “Alex, lepaslah… tubuhku semakin sakit jika kau terus peluk seperti ini” ia melepas pelukannya dan wajahnya menatapku.

                “Maaf… ayahku… kau… ditembak olehnya…”

                “Setidaknya aku tidak disihirnya” aku tersenyum, ia menghapus air matanya dan ikut tersenyum denganku.

                “Kau… kau… bn đang seraphim yêu thích ca tôi”  aku memandang wajah Alex.

               “Hey, kau mengerti apa yang dikatakannya” ujarku setengah berbisik ditelinga CL.

                “Itu bahasa Vietnam, bodoh”

              “Artinya? Aku tak paham bahasa Vietnam…” Alex pergi meninggalkanku.

              “Te amo…”  ia ikut pergi meninggalkanku.

              Kami berhenti di depan jeruji penjara, CL menyuruhku masuk dengan Alex sedangkan anak-penyihir itu menundukan wajahnya dan menggenggam tanganku.

               “Bicaralah” ujarku, dengan tangan yang dirantai menggantung di atas kepalanya ia menundukan wajah.

                “Apa yang kau inginkan dariku?” ia terdiam, dengan tetap menunduk ia terkekeh.

                “Bos kami, Si-Merah-Yang-Kuat tidak mengincarmu. Ia mengincar kekuatan dahsyat yang dapat membuatnya menguasai dunia”

                “Modus yang sama, entah kenapa aku bosan mendengarnya… yang jahat selalu mengincar kekuatan untuk menghancurkan dunia dan semacamnya sedangkan disisi lain ada pahlawan yang selalu ingin membuat dunia kembali tenang…”

                “Dan janganlah berpikir kau adalah pahlawan itu” laki-laki tua itu memotong kalimatku.

               “Aku tak pernah ingin menjadi pahlawan yang membela dunia, aku hanya ingin mengembalikan kehidupanku yang telah dicuri”

               “Yah…” tiba-tiba anak-penyihir melepaskan genggamannya dan mendekati laki-laki itu.

               “Ayah… kau ayahku kan?” Tanya sambil memegang pundaknya, laki-laki itu mengangkat wajahnya. Alex memeluknya.

                “Ya, kau adalah ayahku yang selama ini menjadi tentara merah” suaranya bergetar.

                “Siapa anak ini?” ia memalingkan muka kearah lain.

                “Aku anakmu, Alex… ini aku…” aku mendekati mereka. Aku pandangi wajah laki-laki itu, matanya memerah, ia menahan tangisannya.

                “Pergilah, aku tak pernah memiliki anak…” aku lepaskan rantai yang mengikat tangannya, ku ucapkan mantra pengunci sihir untuk laki-laki itu.

                “Peluklah, itu darah dagingmu…” ucapku pelan.

                “Pergilah… kau bukan anakku… aku tentara merah tak pernah memiliki anak penyihir kecil seperti mu” jawabnya dengan sedikit bergetar, Alex melepas pelukannya dan memandangi wajah ayahnya.

                “Lihat luka ini… aku… aku membuat wajah ayahku seperti ini… aku ingat sihir pemanggil yang menyebabkan wajahmu seperti ini…” Alex menangis, di sentuhnya wajah itu dan diusapnya luka cakar yang dibuatnya.

               “Ayahku tidak memarahi dan membentak ku ketika aku mengucapkan sihir itu, ia tertawa dan memelukku…  aku rindu hangatnya pelukan ayahku… aku rindu ayah…” tangisannya membasahi wajahnya, ia mengeluarkan sapu tangan kecil dan memberikan kepada laki-laki itu.

                “Aku membuat dua saputangan yang sama, aku yakin kau memilikinya… ayahku tak pernah menghilangkan benda apapun… walau hanya saputangan ia akan menjaganya sepenuh hati seperti ia menjagaku dulu…” suara anak itu melemah dan menghilang, kini yang terdengar hanya isakan-isakan kecil yang membuatku merinding. CL mendekatiku dan menggenggam tanganku, ia berbisik kecil di telingaku.

                “Tinggalkan mereka… biarkan semuanya mengalir seperti air…” kami meninggalkan reuni keluarga yang membuatku terharu, ku pandangi kehangatan mereka dari pintu jeruji. Laki-laki tua itu dengan perlahan mengangkat tangannya, memeluk dan ikut menangis bersama anak—penyihir—hebat itu.

                “Ma.. maaf… maafkan ayah… maafkan ayah ya sayang…”

_***_

                “Aku rindu keluargaku…” CL mengencangkan genggaman tangannya.

                “Simpanlah kerinduan itu, sebentar lagi kita akan kembalikan dunia seperti semula” aku tersenyum memandangnya. CL kembali menitikan airmatanya, aku mengusapnya dengan pelan lalu ku ajak ia beristirahat di taman belakang rumah nenekku.

                “Ini… tempat favoritku dan ibuku… aku selalu bermain dengan ibu disini… nenek selalu memandangi kami ketika bermain…”

              “Tempat yang indah…”

                “Banyak kenangan disini, kau lihat tanaman mawar merah itu?” aku menunjuk mawar merah yang bersemi di pojok taman “Dibawah mawar itu ada makam kekasih ibuku, aku tak pernah bertemu dengannya namun ibuku mengatakan bahwa orang yang terbaring disitu adalah orang yang sangat ibu dan nenek cintai”

                “Makam ayahmu?”

                “Ayah? Sepertinya bukan… aku tak pernah melihat ayahku… mungkin itu makam ayahku…”

                “Bukan… itu bukan ayahmu…” aku terkejut ketika nenek membawa sepiring makanan kecil dan teh.

                “Bahkan itu bukanlah makam… itu hanya tanah. Ibumu menanami tanah itu dengan mawar biasa yang akan layu ketika seseorang yang hebat gugur… dibawah mawar itu ada barang-barang peninggalan ayahmu…”

               “Barang?” CL memandangi wajahku, ia tersenyum. Aku suka ketika melihatnya tersenyum, dunia seperti ikut tersenyum bersamanya.

               “Ya, ayahmu seseorang yang hebat… namun…” nenek terdiam dan mendekat kearahku, ia duduk di kursi goyang favoritnya.

                “Kau akan mengetahui siapa ayahmu. Karena kita adalah keturunan seraphim yang sangat hebat” nenek tersenyum, ia memejamkan matanya. Tubuhnya yang kecil dengan tulang yang tersisa, ia menunjuk sebuah pohon rindang dengan buah yang ranum.

                “Pohon itu akan memberi jawabannya ketika ada orang yang sangat teliti…” aku memandang pohon itu, pohon tinggi dengan batang yang kuat. Aku ingat semasa kecilku bermain dengan ibu, kami bermain petak umpet dan pohon itu menjadi tempat yang sangat cocok untuk bersembunyi. Pohon itu memiliki sebuah celah dimana aku sering bersembunyi di dalamnya. Pohon yang memiliki aroma harum dari aroma apapun di dunia ini, aku yakin nenek dan ibuku merawat pohon itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.

                “CL, Kim!” aku mendengar suara Funzee yang memanggil, aku mengamati keadaan sekitar. Nenekku menghilang, ia tak lagi duduk di kursi favoritnya.

               “Dimana kalian?” CL menarikku masuk ke dalam ruangan.

                “Ada apa kak?”

                “Ingat situsku?” tanyanya, aku mengangguk.

                “Pergilah ke Kota Gelap, aku mendapat respon dari penduduk disana”

                “Ada apa disana?” tanya CL dengan wajah sedikit terkejut.

                “Beberapa penduduk disandera oleh tentara merah, mereka mengatakan besok adalah hari dimana seluruh penduduk yang melawan tentara merah di eksekusi”

               “Eksekusi?”

                “Ya, selamatkan penduduk di kota itu”

                “Apa kita di beri upah?” tanyaku dengan sedikit gurauan.

                “Upah? Hey, untuk apa?” tanya CL, aku memandangnya.

                “Kau tau sebuah permainan kecil yang portable? Aku butuh gameboy untuk menghilangkan kestresan ini” aku tertawa.

                “CL, boleh kau mewakilkan perasaanku pada anak ini?” Funzee memandang CL.

“Dengan senang hati” tubuhku sedikit bergoyang ketika dipukul CL. Untuk ukuran seorang wanita, pukulannya termasuk berkekuatan besar.

“Hey, aku hanya butuh hiburan…”

“Upah? Kau pikir kita semua disini tidak merasa stress?” aku mengangkat bahuku.

“Kalian bukan aku, mana aku tau”

“Boleh sekali lagi, kak?”

“Silahkan prajurit cantik” dengan senyuman Funzee meninggalkan aku yang dipukul oleh CL, aku mengejar Funzee keruangan tengah. Ia memberi peta dan beberapa kantung koin.

“Pergilah, jangan habiskan koin untuk membeli sesuatu yang tidak penting dan ajak seseorang yang sekiranya butuh liburan” aku memandang Alex yang baru memasuki ruangan tengah.

“Kim… berhentilah menatap ku seperti itu…” ujarnya dengan sedikit tersenyum.

“Aku hanya ingin mengajakmu bocah penyihir yang sombong” nadaku sedikit ku tinggikan, ia mengambil tongkat sihirnya.

“Diluar sana banyak monster dan sesuatu yang kalian belum pernah lihat, jangan gegabah dan jangan terlalu mencolok!” Funzee mengingatkan kami, ia kembali menatap layar komputernya.

“Tenang kak, aku akan menjaganya agar tidak terlalu mencolok” CL memandangku dengan matanya yang tajam, tubuh ku bergetar ditatapnya seperti itu. Terkadang tatapannya seperti ingin menikam orang yang bersalah dan kali ini aku merasa sangat bersalah dihadapannya.

“Aku juga akan menjaganya kak” Alex ikut memandangku dengan tatapan ganasnya.

_***_

                Aku, CL dan Alex pergi menuju Kota Gelap. Tempatnya tidak jauh, hanya berjarak 10 KM dari rumah nenekku. Kami berjalan dengan bekal makanan yang nenek buat, satu jam kami berjalan dan belum ada monster atau apapun yang menganggu.

               “Hey… aku lapar” Alex sedikit mengeluh dengan gaya kekanak-kanakannya.

               “Baiklah, kita beristirahat disini… jangan sampai kita mati hanya karena rasa lapar yang menyerang” kami memutuskan untuk memakan bekal buatan nenek di tengah padang rumput. Perjalanan masih membutuhkan waktu setengah jam lagi agar sampai ke tujuan.

                “Bekal buatan nenek memang yang paling enak” Alex menghabiskan bekal yang tersisa, aku dan CL memandangnya lalu tertawa.

                “Nikmatnya piknik keluarga…” aku sedikit terkejut mendengar seseorang berteriak dibelakang kami, ku lihat empat orang bertopeng lengkap dengan senjata tajam menghampiri.

               “Siapa kalian?”

                “Kami?” salah satu diantaranya tertawa, yang lainnya mengelilingi kami “Kalian tidak tau siapa kami?”

               “Penting ya?” Alex bertanya sambil mengunyah makanannya.

               “Habiskan makananmu dulu sebelum berbicara! Anak kecil bodoh” kali ini seorang yang lainnya
menodong pistol kearah Alex.

                “Hey… dia masih kecil, kasar sekali” aku berdiri dan merapihkan ranjang makanan kami.

                “Jangan panggil Monk Ranger jika tidak kasar” salah satu yang tertua diantaranya berteriak, mendengar suaranya aku ingin tertawa. Terdengar jelas jika mereka bukanlah seorang perampok handal.

                “Kau” aku menunjuk anggota termuda “Rapihkan gayamu ketika kau ingin berlaga seperti pencuri, di tempat anak panahmu terlihat kosong jelas sekali kalian bukan pencuri” anggota muda itu terdiam dan menjauh, diikuti satu anggota yang sepertinya sedang menghiburnya.

                “Kau! Kau mengejek kami! Rasakan…” tiba-tiba sebuah panah menancap di tanah ketika perampok itu ingin menembak kami dengan pistolnya.

                “Jangan ganggu mereka!” terdengar seorang wanita berteriak, dengan pakaian seorang pemanah ia mendekat dan menakuti perampok itu. Mereka pergi meninggalkan kami
“Jangan pernah mengacau lagi Young Ranger!” ucapnya dengan gagah.

               “Jangan hiraukan Monk Ranger itu, setauku mereka tak pernah mengganggu siapapun” aku memandangnya, rambut coklat bob dengan suara khas dan panah yang menggantung membuatnya terlihat sangat gagah.

              “Kau!” CL berteriak dibelakangku, nada tingginya membuat telingaku berdengung. Aku yakin ia akan marah dan menghajar pahlawan wanita itu karena secara tak langsung mengejek kemampuan kami untuk membela diri, aku berusaha menahannya dengan tanganku.

               “Lepas! Kau!” CL melempar tanganku, ia mendekati wanita itu, berteriak dihadapannya sambil menunjuknya.

                “Kak Dara!”
 
               “Eh, CL?”

               “Kya! Aku bertemu juga denganmu…” nada tinggi CL berubah menjadi riang, aku merasa
dibodohi.

                “Alex, kita mendapatkan teman… kenalkan ini kakak perempuanku” ujarku lemas meninggalkan CL dan pahlawan panah itu yang berpelukan.

_***_
        
     Kami sampai di Kota Gelap, kota ini tak segelap seperti namanya. Asal mula nama kota ini karena pepohonan yang menutupi kota, pepohonan itu menutupi cahaya matahari dan menjadikan Kota Gelap ini sejuk.
“Kemana saja selama ini?” Tanya CL dengan nada riang, mereka menghabiskan minuman di bar, sedangkan aku terus mengawasi Alex yang mencoba meraih kursi bar yang tinggi.

                “Hey, umurku 10 tahun… aku dapat mencapai kursi ini tanpa bantuanmu” ucapnya sambil memutar bola matanya.

                “Bersyukurlah kau masih kecil… belum seperti mereka yang berumur namun bertingkah seperti anak 10 tahun” aku menunjuk CL dan Dara.

                “Pesankan aku susu coklat dong, di ranjang bekal susunya habis…”

                “Kenalkan ketua tim kami…” CL menarik lenganku untuk berjabat dengan pahlawan wanita itu.

                “Kim”  aku tersenyum, ia membalas senyumku.

                “Dara, Sandara Park” aku mengangguk.
 
                Kami berbagi cerita, Dara adalah kakak angkat CL ketika di Filipina. Kisahnya sama sepertiku dan CL, ia mengincar ketua tentara merah karena ingin mengambil kembali sesuatu yang telah dicuri darinya.

Ia berkelana dari benua lain untuk mencari markas tentara merah yang sebenarnya. Adik kandungnya adalah ahli tembak, tentara merah menculik adiknya. Dara mengajak kami untuk mengelilingi kota, ia mengaku mengenal kota ini karena dulu ia pernah menempati salah satu sudut rumah di kota ini.            

“Jadi… Thunder sekarang …” Dara mengangguk mengiyakan perkataan CL.

“Entahlah, semoga aku dapat menyelamatkan adikku”

“Tenang saja…  kau memiliki seraphim terhebat disini” Alex memandangi wajahku, ia tersenyum sambil mengedipkan matanya. Aku paham akan isyarat yang diberinya. Isyarat untuk membanggakan diri.

“Hey!” seseorang berteriak dibelakang kami, aku menoleh dan aku terkejut melihat seseorang yang berteriak ke arah kami.

“Alex, bukankah itu orang yang menodongmu dengan pistol?” ujarku memanasi anak—penyihir sombong hebat—itu.

“Jangan memberi ijin padaku untuk menggunakan sihirku disini, Kim” jawabnya dengan rasa kesal, aku tertawa lalu memandang CL dan Dara. Mereka tersenyum licik dan mulai menahan tawa.

“Aku tidak memberi ijin padamu… anggap saja aku tidak ada”

“Baiklah…” anak itu tertawa bak penyihir hitam yang akan menyerang mangsanya, ia sebutkan beberapa mantra lalu menunjuk laki-laki yang berlari kearah kami.

Berapa detik kemudian, tak ada sesuatu yang terjadi. Alex merenung karena gagal menyihir laki-laki yang berlari kearah kami, sedangkan laki-laki itu memandang kami dengan tatapan kosong.

“Apa kau seraphim yang dibicarakan situs itu?” aku mendengar bisikan setelah laki-laki itu berbicara, aku terdiam.

“Hey, apa kau benar orang itu? Seraphim yang di katakan di situs ‘anti tentara merah’?” tanyanya lagi, kali ini aku memandang CL dan Dara. Mereka tertawa, memandang kami.

“Hey, kau benar-benar orang yang menodongkan pistol ke arahku tadi!” Alex berteriak “Lagipula orang yang kau bilang pesanan bukanlah barang!”

“Sudahlah… jangan berteriak” ujarku dengan tenang, sejujurnya aku sedikit bangga karena anak ini mewakilkan perasaanku “Apa yang kau inginkan?”

“Aku hanya ingin bertemu Seraphim, dan aku yakin orang itu adalah kau”

“Apa kau yang menulis pesan di situs kami?” CL memandangnya, ia mengangguk.

“Baiklah, ikuti aku lebih baik kita membicarakannya didalam tokoku”

_***_

        Kami mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam tokonya, di perjalanan ia menceritakan tentara merah yang menyerang tokonya. Laki-laki itu bernama Onew, ia ahli tembak sama seperti adik kandung Dara. Ia anggota keluarga tertua dari lima bersaudara. Adiknya yang paling kecil diculik oleh tentara merah karena mengetahui memiliki kekuatan sihir. Mereka memutuskan mencari pengganti untuk menebus adiknya yang paling kecil.     

Kami sampai didepan tokonya, ku lihat beberapa orang yang benar-benar ku kenal. Mereka orang-orang yang tadi berniat untuk membunuh aku, Alex dan CL ditengah perjalanan ke kota ini.

         “Seharusnya… kau tak perlu begitu” Dara mengeluarkan pendapatnya ketika sampai didalam toko

“Tak perlu harus menjadi Ranger yang mengagetkan orang untuk berkunjung ke kota ini”

         “Maaf… hanya itu satu-satunya cara kami” salah satu adiknya menutup pintu, jendela, memasang tanda tutup di depan pintu dan menguncinya dari dalam. Kami diajaknya ke lantai atas untuk beristirahat, toko yang merangkap sebagai tempat tinggal.
Bagiku, tempat ini sangat unik. Masih tercium harum kayu ek atau cemara dalam toko ini, memiliki banyak kamar dan ruangan yang begitu luas tak diragui jika bangunan ini disebut toko.

         “Kenalkan, ini Jonghyun ia Fighter terkuat diantara kami. Adikku setelah Jonghyun adalah Key yang berdiri di belakang kalian, ia belum pernah menggenggam senjata sejauh ini ia yang mengatur kehidupan kami sedangkan adik kami yang kau lihat membersihkan toko adalah Minho. Pemanah yang memiliki karisma” kami mengangguk mengiyakan, Key menyuguhkan snack dan minuman dingin.

        “Ceritakan awal kalian memiliki niat seperti itu” tanyaku.

“Sebelumnya kami meminta maaf karena mengejutkan kalian, karena hanya itu satu-satunya cara kami menghindari mata-mata tentara merah”

“Memang apa yang kalian milikki?” Tanya CL, aku memandang teman-temanku yang duduk disampingku. Aku melihat Alex bermain dengan Key yang menyuguhkan kami snack.

“Kami… memiliki…”

“Kak, It’s fine if you’re tell the truth?” potong Jonghyun yang duduk disampingnya.

Of course, he’s seraphim! Don’t you believe him?” Jonghyun memandangku.

Yes! To stupid to be a seraphim” aku tertawa pahit mendengar kalimatnya, mungkin mereka pikir aku tak mengerti bahasa asing yang mereka katakan.

“Bisa dilanjut?” CL melanjutkan pembicaraan.

“Sebenarnya adik kami… adik terkecil kami adalah kunci dimana harta keluarga SM tersimpan rapih. Namun, kini mungkin saja harta itu tidak berada di tempatnya lagi. Taemin di sandera para tentara merah itu”

“Jelas saja ia dengan mudah tertangkap, kalian terlalu kekanak-kanakan menjadi seseorang kakak” seseorang dengan suara tegas memotong kalimat Onew.

“Pasti kau seraphim itu, kenalkan aku Sooyoung” aku membelalakan mataku. Tujuh orang perempuan cantik mendekatiku dan berkenalan denganku.

“Kenalkan ini keluarga kami yang lain, bibi-bibi kami…” Onew memperkenalkan keluarga lainnya pada kami.

“Maaf kami tak sopan karena memotong pembicaraan kalian. Kenalkan aku taeyon, kakak tertua mereka” ujarnya sambil menunjuk enggota lain.

“Ini keluargaku, dua orang yang memegang panah itu Jessica dan Yuri, yang membawa pistol sama denganku adalah Tifanny, yang memakai sarung tangan adalah Sunny, yang memegang tongkat adalah
Yoona sedangkan yang memegang tonfa dan memotong pembicaraan kalian adalah Sooyoung. Keluarga kami terkenal dengan Ninetails-fox” aku tersenyum kearah mereka semua.

“Sebenarnya anggota keluarga bibi kami ada Sembilan orang, dua diantaranya ikut disandera bersama adik kami” Minho menyusul mengikuti pembicaraan kami.

“Ya, keluarga kami terlalu bodoh karena ingin menolong adik kecilmu itu” Sooyoung meninggikan suaranya sambil mengambil snack dan mengunyahnya.

Semua yang mendengarnya terkejut, kulihat hampir semua orang keluar dari ruangan ini. Bahkan Alex diajak oleh taeyon keluar ruangan. Meninggalkan aku, CL, Sooyoung, dan Key.

“Ada apa ini?” tanyaku yang kebingungan.

“Sebelumnya aku meminta maaf pada seraphim tampan ini, aku kesini hanya ingin meminta pertanggung jawaban mereka yang menyebabkan kedua ahli sihir kami disandera” aku dan CL mengangguk.

“Soo! Bukan salah kami jika bibi Hyeo dan Seohyun disandera!” Key membela diri.

“Diam kau! Aku tak berbicara padamu ‘mesin pembersih’!” Sooyoung menatap tajam Key.
Suasana ramah diruangan ini berubah panas, hembusan angin yang sejuk ikut menghilang.

“Soo, bisa kau tenang dengarkan penjelasannya?” Aku menengahi mereka.

“Ah, keluarga yang lain tau kalau bibi seram ini ingin memarahi mereka” CL berbisik padaku, aku mengangguk sambil mengunyah kue yang tersedia.

“Key, maaf sebelumnya… tapi bagiku ini sudah sangat keterlaluan! Kami yang seharusnya meneruskan jadwal kami terhambat karena tingkah saudara kalian yang bodoh! Tertangkap di pertengahan misi yang kami berikan… atau aku harus meminta maaf pada kalian karena terlalu percaya kalian akan melakukan misi yang kami berikan dengan benar!”

Suasana menjadi hening, aku mencerna kalimat yang diucapkan Tonfa Warrior ini.

“Soo! Aku ucapkan sekali lagi bukan salah kami jika memang bibi Hyeo dan Seohyun ikut disandera! Dan kalau memang kalian merasa diri kalian bodoh karena menganggap kami kuat, aku pribadi meminta maaf. Karena menurutku kalimatmu lah lebih bodoh dari kami!”

“Ah! Benarkah? Jika memang kalian pintar seharusnya kalian selamatkan keluarga kalian sendiri! Bukan keluarga kami! kami memang bibi kalian! Tapi hargai pekerjaan kami! Kami tidak hanya menyelematkan keluarga kalian saja! Banyak orang yang butuh pertolongan kami! Ingat? Berpikirlah sebelum berbicara bodoh! Ah… aku lupa, kau tak pernah merasakan pendidikan” ujarnya, ia memandang wajah Key dengan tajam.

Key terdiam, ia menundukan wajahnya. Aku, dan CL terdiam mendengarkan mereka. Aku hanya menghawatirkan sesuatu terjadi disini.

“Sifat sombongmu tak menghilang, Soo! Aku memang tidak memakan pendidikan, aku serahkan semua tabunganku agar Minho dan Taemin dapar merasakan pendidikan! Tidak sepertiku, kakaknya yang bodoh. Kau selalu membanggakan diri, kau lupa siapa kalian sebelum kalian dipercaya mayor menjadi pasukan Ninetails-fox?” Key mendekati Sooyoung, aku melihat mata Key mengeluarkan sebuah semburan api yang siap membakar siapa saja.

“Kau lupa? Siapa yang mengurus kalian disini? Kau lupa siapa yang memasakan makanan tiap harinya? Kau lupa siapa yang kau andalkan dulu? Kau lupa siapa aku? Kau lupa ponakanmu yang kau banggakan? Kau lupa tonfa yang kau berikan padaku? Kau ingat ini? KAU INGAT!” emosi Key benar-benar pada puncaknya. Ia melihatkan liontin yang melingkar di lehernya.

“Kau bodoh! Memperlihatkan semua itu padaku, jelas aku mengingatnya. Namun akan lebih terkenang jika kau belajar menggunakan Tonfa yang aku berikan! Aku akan membanggakan dirimu di depan semua kakak-kakakku jika kau akan berkelahi menggunakan Tonfa itu, sayangnya kau sama sekali tak berminat untuk berkelahi” Sooyoung menjauhi Key dan duduk dihadapanku.

“Apa yang kau inginkan? Apa? Apa aku harus membunuh diriku dengan Tonfa yang kau berikan? Apa aku harus berkelahi melawan tentara merah itu menggunakan benda itu? akan ku bakar benda tua itu diperapian nanti!”

“Silahkan! Jika kau ingin aku melupakan siapa saudara yang selalu ku andalkan! Silahkan jika kau berani! Ambil benda yang kau katakan tua itu dan bakar di hadapanku!”

“Sudahlah, hey kalian berdua bisa menyelesaikan masalah tanpa emosi?” ujarku tenang, walau jujur saja aku sedikit terbawa emosi.

Key berlari kedalam kamar lalu kembali ke ruangan tengah dengan sebuah tonfa indah dengan ukiran namanya dibagian tengah.

“Kau menginginkan ini kembali? Hah? Baiklah, akan ku kembalikan benda ini setelah aku membakarnya”

“Silahkan, jika kau berani dan sanggup melakukannya” ia terdiam menatap Sooyoung.
Suasana kembali hening.

“Soo… apa kau masih mengandalkanku untuk menyelamatkan mereka?”

“Tentu saja bodoh! Itu yang aku harapkan! Seandainya kau paham dari awal kenapa aku tiba-tiba mengamuk… mungkin reunian keluarga kita tak akan berpisah seperti ini. Aku yakin kakak-kakakku dan yang lain sedang bermain game di bawah” Sooyoung tiba-tiba merubah nadanya. Seakan-akan tidak pernah terjadi apapun tadi.

“Baiklah, aku akan berusaha menolong keluarga kita” ujar Key dengan lemas.

“Key! Bodoh! Bukan itu yang ingin kudengar… seperti yang kubayangkan… kau pengecut untuk menjadi seorang petarung!” Sooyoung kembali menaikan nadanya.

“Lalu apa yang kau inginkan ‘tukang sihir’!” Key ikut meninggikan nadanya.

“Bertarunglah! Jangan pernah mengatakan ‘akan berusaha menolong’ tapi ‘akan menolong’! Jika kau berpikir logis, kau pasti akan berusaha sekuat tenaga menolong adikmu, bukan akan berusaha… jika kau berkata seperti itu berarti kau memang tidak memiliki niat untuk menolong mereka”

_***_

Kepergianku ke Kota Gelap hanya memenuhi permintaan seorang penduduk yang mengirim sebuah pesan di situs yang Funzee buat. Aku tak berpikir aku akan terlibat di sebuah pertikaian keluarga yang rumit seperti tadi.

Hingga kini, aku tak mengerti kenapa Sooyoung harus memarahi Key jika ia menginginkan Key terlibat dalam pertarungan. CL saja yang –menurutku—pintar dalam menebak pikiran orang tak paham apa yang baru dialaminya denganku.

Setelah Key mempersiapkan semuanya, Key memutuskan untuk mengikutiku. Ia berniat membebaskan adik dan bibinya. Aku, CL, Dara, Key dan Alex berjalan meninggalkan Kota Gelap dan berjalan kearah bangunan terpisah di bagian utara kota tersebut.

Bangunan yang terlihat seperti sebuah istana megah.

“AH!” teriakan CL yang tiba-tiba membuat jantungku hampir lepas. “Aku lupa mengisi peluruku!” ditengah perjalanan seperti ini setelah shock terapy yang dilakukan Sooyoung dan Key, Cl gemar mengagetiku dengan kepikunannya.

“Kim aku lapar…” Alex menarik bajuku, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah CL dan anak—penyihir sepuluh tahun—ini berulah.

“Apa kalian tidak lapar?” tanyaku sambil memandang Dara dan Key, mereka mengelengkan kepala.

“Aku… lelah…”

“Aku… ingin buang air…” Dara dan Key menggenggam pundakku. Tepat seperti dugaanku, mereka memilih beristirahat.

Kami belum melangkahkan kaki keluar dari kota, namun ke-empat kawanku sudah merasa kelelahan.

Rumah keluarga Ranger saja masih dapat terlihat.
Aku memutuskan untuk mencari sebuah penginapan, namun yang kulihat hanya tanah lapang dan pasangan yang berpacaran.

“Lihat mereka! Ditengah krisis dunia seperti ini masih saja ada yang berpacaran dengan mesra, apa mereka tak memikirkan bagaimana cara untuk berperang?” gumamku dengan memasang wajah lemas.

“Biarkan saja! Itu tandanya ada sebuah kebahagiaan yang seharusnya kita bela” CL membalas gumamanku dengan berbisik.

“Lihat! Penginapan!” Dara berteriak dan berlari meninggalkan kami.
Kami menyusul Dara, berhenti disebuah penginapan besar dan satu-satunya di ujung kota.

“Benarkah? Bahkan aku tak ingat ada sebuah penginapan di kota ini” Key mengeluh padaku. “Aku yakin itu adalah jebakan penyihir atau kerjaan sebuah pasangan yang tidak memiliki pekerjaan” lanjutnya.
Mungkin saja pemikiran itu benar, namun aku dan yang lain tetap berjalan kearah penginapan itu.

“Selamat datang di penginapan kami, ada yang dapat kami bantu?” sebuah pasangan dengan wajah ramah menghampiri kami yang mematung di pintu masuk.

Pasangan kecil yang sangat cocok, ku lihat mereka menggunakan name tag yang terpampang di dada mereka.

“Jo Kwon, Gain… ah kalian pemilik penginapan ini?” CL mewakili pertanyaanku. “Boleh kami memesan kamar?”

“Silahkan, kebetulan hari ini hari pertama buka di penginapan ini” Jo Kwon mempersilahkan aku dan yang lain masuk ke dalam penginapan.

“Permisi, apa aku bisa ke belakang? Aku sudah tak tahan…”

“Silahkan, mari saya antar” Gain mengantar Dara yang memang sudah tak dapat menahan kegelisahannya.
Aku kembali keluar dan memandang penginapan itu dengan lebih teliti, ku lihat papan pengumuman di samping pintu masuk.
 
“One day when you’re turn into a brown… and welcome!” kubaca tulisan di papan tersebut.
Nama yang unik menurutku, pemikiran Key salah tentang penginapan ini. Walau sebenarnya ini lebih terlihat seperti “kekurangan pekerjaan” karena membuka penginapan di ujung kota. Namun, menurutku ada sesuatu yang harus aku ungkap disini.
Ya, aku harus mengungkap sesuatu disini.


 Note !
Bạn đang seraphim yêu thích của tôi : (you're my favorite seraphim)
Te amo : (I Love You)

Tonfa : Senjata tradisional jepang
Karya asli oleh : Fajjar Angga Suprapto (fajjar.sajja@yahoo.co.id)
To Be Continue to part III :)
[semua gambar di dukung oleh yang mengupload pertama :D]
[gambar di part I dan II ini didukung oleh google yang membawa gue ke blog lain... (nama sumber blog gambar gue lupa.... sorry)]

Visual Dreams (Fan Fiction Part. I)

  • [Bigbang] Daesung, Seungri [2Ne1] CL, Minzy, BOM
  • [TVXQ] Changmin [HSK] Nuna Funzee
  • Writer Friends, Writer Family
  • Note : This time the story was really STRAIGHT :) no yaoi / yuri, this fantasy story that I experienced(the author) when last night ... honest story is not fake, this time I was having a dream. certainly the end of my story changed a bit since I had never found a worn notebook. enjoy :)
  • The Cast Pict :  




  
  Semua ini terlalu seram untuk menjadi kenyataan. Semua ini terjadi ketika semua “gamer” gemar memainkan permainan yang berjudul “Fantasy World”. Begitupun denganku, aku hanya anak remaja laki-laki yang gemar memaikan permainan itu. Permainan yang selalu ada dalam fantasy ku, menggenggam sebuah pedang dan bermain dengan sihir.
Aku selalu ditegur oleh semua kawanku karena terlalu sering memainkan permainan itu, akupun sering mengeluh karena minus dimataku bertambah.  Namun tak dapat dipungkiri aku sangat menyukai permainan itu.

Malam itu aku mengeluh didepan kakak perempuan ku karena pekerjaan yang terlalu menyiksa waktu dan tenagaku. Aku merebahkan diri dirumah sewaku dan langsung tertidur.

     Aku terbangun ketika jam dinding di kamarku menunjukan pukul 08.00 pagi. Aku bergegas ketempat kerjaku, di tengah perjalananku aku bertemu dengan seseorang yang sangat kukenal. Orang itu bukanlah kawanku, ia seorang selebritis yang sangat terkenal di dunia. Ia berjalan dengan kostum seperti suster yang merawat dirumah sakit. Aku tak menghiraukannya, karena pikirku ia sedang bergegas ke sebuah lokasi pengambilan video untuk album terbarunya.

     Aku mengganti pakaian ku karena pekerjaan yang mengharuskan memakai seragam. Beberapa menit berlalu tempat kerjaku di sebuah pelayanan jasa ramai. Beberapa pengunjung menggunakan pakaian yang menurutku aneh, kawanku menghampiriku dengan kostum seperti pemanah dan tentunya ia membawa panah yang menggantung di bahunya.
 
 “Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku karena rasa penasaran.

    “Aku sedang mengunjungi mu tentunya, kau meninggalkan pakaianmu”

     “Aku? Pakaian?” aku mengintip kantung plastik itu, kulihat dengan jelas didalamnya terdapat kostum penyihir dan buku catatan usang.

     “Apa kau gila? Aku memakai pakaian seperti ini?” aku tertawa dan menaruh pakaianku di loker pakaianku. ia memberiku sebuah botol kecil dengan cairan berwarna merah.

     “Ketika kau terluka, minumlah ini. Segera ganti bajumu, dan berhati-hatilah” aku mengangguk dan tertawa ketika ia pergi.
  
 Keteruskan pekerjaanku dan tak menghiraukan apa yang dikatakan kawanku, bahkan aku lupa siapa nama kawanku yang memberiku kostum.

_***_


     “Kim!” kudengar seseorang memanggil nama, seseorang dengan wajah tampan dan kostum prajurit lengkap dengan helmnya mendekat dan tersenyum padaku.

    “Hey! Kau kupanggil diam saja” ia tetap tersenyum.

   “Saya?” kuamati wajah orang itu, wajah yang sepertinya aku pernah lihat.

    “Tentu saja, namamu Kim! Kau pikir aku memanggil siapa?” aku terkejut, namaku berubah. Seingatku semua orang tak pernah memanggilku Kim.

    “Kenapa kau tak mengganti baju?” aku diam, semuanya mulai aneh bagiku.

    “Kau, siapa kau? Aku tak mengenalmu! Apa urusanmu jika aku belum mengganti bajuku?”

    “O? Kau lupa pada kakak angkatmu? Hey! Ini aku, Changmin!” aku tertawa, aku tak pernah memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Changmin. Bahkan jika memang ia Changmin yang aku bayangkan aku tak akan mengaku ia kakak ku.

   “Kau sudah mengingatnya?”

    “Aku tak punya kakak laki-laki”

    “Sepertinya kau mengalami gangguan ingatan, perlu aku mengingatkanmu?” ia memandangku dan tersenyum padaku.     “Baiklah, under my skin! Neon nareul wonhae? Ingat?” lanjutnya sambil bernyanyi dan menari.

   Aku menggeleng pelan, bagiku orang di hadapanku ini adalah orang gila yang memakai kostum prajurit lengkap dengan helmnya berakting seperti seorang artis.

    “Baiklah, aku akan menunggumu di luar. Segera berganti baju ada sebuah misi yang harus kita jalankan” aku menurutinya, ia pergi dan aku menatap loker pakaian disampingku.

   Aku buka loker pakaian itu, ketika aku mengintip plastik yang diberikan kawanku tubuhku membatu. Tak lama tempat kerjaku meledak. Aku terkejut mendengar ledakan di belakang tubuhku. Aku panik jantungku berdetak kencang, aku berusaha lari namun kakiku tak bergerak sama sekali. Tubuhku masih membatu didepan loker pakaianku. Dengan posisi berdiri dan masih menggenggam sebuah plastik aku berdoa, buku catatan yang ku intip jatuh dengan posisi terbuka. Ku lihat dengan mataku ada sebuah tulisan latin didalamnya.

   Salah satu tentara berseragam itu ada di belakangku dan menyuruhku untuk mengangkat tanganku, namun bagiku usahanya sia-sia karena aku membatu. Sama sekali tak bergerak, aku hanya dapat menggerakan mata, dan mulut.

    Tentara itu terus menyuruhku mengangkat tanganku dan berteriak memanggil kawannya. Jantungku berdetak sangat kencang. Keringat dingin mengucur dari dahiku dan mengalir melewati bingkai kacamata ku.

    Rasa panikku bertambah ketika beberapa tentara berteriak dibelakangku. Aku ingin menangis, aku takut aku akan mati di tempat kerjaku. Sebuah kematian yang tidak aku inginkan. Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil dan beberapa tentara itu berteriak untuk mundur.

    Aku mendengar letusan senjata, dan beberapa ledakan bom dibelakangku. Keringat dingin terus mengucur dan mengaliri wajahku, aku ingin berlari namun aku tetap membatu.

    “Kim, gunakan mantramu!” ku dengar seseorang berteriak.

    “Mantra? Dimana? Aku tak melihat ada mantra disini!” aku membalas teriakan itu. Ku amati tempatku dan melihat buku catatan yang terjatuh tadi. Tulisan latin yang kulihat bersinar, cahanya menembus kacamataku dan membuat kacamataku pecah dibagian tepi.

 “LIBER EVADERET!” aku membaca tulisan itu dengan lantang. Angin kencang menyerang tempat kerjaku, angin itu membawa beberapa tentara yang tersisa di tempat kerjaku termasuk semua mayat yang terbaring.

   Tubuhku lemas dan terjatuh ketika angin itu menghabiskan tempat kerjaku. Aku berlari menjauh dengan membawa plastik dan buku catatan yang telah menyelamatkanku, aku tak menghiraukan orang-orang yang berada disana. Jantungku masih berdetak kencang dengan keringat yang terus mengucur. Aku berlari tak tentu arah, sepatu ku lepas dan membuangnya jauh. Aku berlari menuju rumah nenekku di tengah hutan.

    Aku tak melihat kearah depan dan terus melihat kebelakang, aku khawatir akan tentara yang mengejarku. Bagiku kini dunia menjadi gila, tentara yang seharusnya melindungi rakyatnya kini membalik menyerang. Ada apa dengan pemerintah sekarang, pikirku.

    “Hey, perhatikan langkahmu adik kecil” aku menabrak seorang wanita dengan pakaian anggun.

    “Bom? Park Bom?”

    “Kim! Kau selamat!” seorang yang ku kagumi telah kutabrak dan sekarang ia memelukku. Apa yang terjadi, beribu pertanyaan menyerang kepalaku.

  Ia mengajakku untuk masuk kedalam rumah, rumah nenekku berubah menjadi markas. Kamarku penuh dengan dengan senjata api dan beberapa pisau. Lemari pakaianku penuh dengan seragam penyihir seperti milikku. aku tak dapat berkata apa-apa ketika nenekku menyuguhkan kue favoritku.

    “Kau selamat, nenek pikir kau akan terbunuh di tempat kerjamu” ujarnya sambil menitikan air mata. Aku memeluk nenekku karena aku paham akan rasa khawatir yang dialaminya.

 “Aku yakin ia pasti selamat” seseorang dengan kursi roda dan kacamata mengagetkan ku.

    “Nuna Funzee?” tanyaku, “Sedang apa kau?”

    “Aku? Aku programmer tentu saja, aku memprogram beberapa aplikasi yang dapat menghancurkan musuh kita tentunya” ia tersenyum.

 “Musuh?” aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi di dunia. Namun kedatangan wanita itu membuatku sedikit tenang, ia meyakinkan bahwa bukan hanya aku yang mengalami perubahan dunia.

   “Kau selamat, Kim!” kali ini wanita berambut pirang panjang memotong pembicaraanku dan memberiku sepasang sepatu.

    “Kau? CL? Chang Lin?”

    “Tentu saja, kau pikir siapa?” ia tertawa. Ku pandangi sepatu yang diberinya, itu sepatu yang ku buang saat berlari pulang.
 
“Kami temukan sepatumu, kami kira kau terbunuh saat tentara itu menyerang tempat kerjamu” suara yang sangat kuhafal mengejutkan ku yang memandangi sepatu.

 “Minzy?”

  “Sepertinya kau mengalami hari yang berat sekarang” nenek mengejekku dan meninggalkan kami di ruang tengah.

   “Sebentar, Nuna Funzee, CL, Bom, Minzy sedang apa kalian dirumah nenekku?”

   “Rumah nenekmu sangat cocok untuk dijadikan sebuah markas, ditengah hutan yang kemungkinan besar tentara itu tak akan pernah tau” Funzee menjelaskan sambil memakan kue favoritku.

  “Ya, lagipula nenekmu penyihir terkuat dalam sejarah. Ia pasti akan menyembunyikan tempat ini dari tentara itu” Bom melanjutkan.

    “Semua yang kalian jelaskan tetap tidak dapat masuk dalam akalku”

    “Baiklah, mungkin setelah kau mandi kau akan mengingatnya” CL mengantarku kekamar mandi, ia berjanji akan bercerita setelah aku mandi. Ia paham perasaan ku yang masih terkejut dengan semua yang terjadi.

    Aku membilas diriku, di kamar mandi semuanya masih dalam keadaan normal. Kamar mandi yang sama sebelum aku menyewa rumah yang dekat dengan tempat kerjaku. Sabun, dan perlengkapan mandi yang sama. Ketika aku melihat pakaian gantiku, aku merasa aku berada dalam dunia lain. Pakaian penyihir dengan topi anehnya mebuatku berpikir dua kali untuk menggunakannya atau tidak. aku berjalan menuju kamar yang penuh dengan senjata api dan pisau. Aku berencana untuk pergi dari rumah nenek tanpa pamit. Aku merapihkan beberapa pakaian normalku dan membungkusnya dengan plastik hitam yang selalu kusediakan di dalam lemari.

Ketika aku ingin melangkah keluar dari rumah nenek, seseorang memanggilku.

  “Mau pergi?” tanyanya, orang yang mengaku Changmin itu mendekati ku. Ku sembunyikan plastik yang kubawa di belakang tubuhku.

  “Aku? Tidak aku hanya ingin membuang pakaian” jawabku, ia tertawa.

    “Tak perlu berbohong padaku setelah kau menerbangkanku dengan sihir dahsyat” ia melepaskan helmnya dan tersenyum ke arahku. Ku pandangi wajahnya, ia benar-benar seperti Changmin yang aku bayangkan. Selebritis terkenal akan lagu-lagunya.

    “Kau terkejut?” aku mengangguk mengiyakan, ia mengajakku masuk kedalam kamarku. Aku menaruh plastik hitam yang ingin aku bawa, ia bercerita tentang dunia yang berubah drastis, ia merebahkan diri di kasurku. Ia menjelaskan beberapa pakaian penyihirku dan beberapa pisau yang ada dibawah lemari pakaianku.

 “Nenek sangat baik. Aku hampir mati jika nenek tidak menolongku, ia gunakan sihirnya untuk menyembuhkan lukaku. Nenek bercerita tentang pakaianmu, kau akan memakai penyihir yang berwarna merah ketika kau telah menguasai beberapa sihir kuat dan kawan-kawanmu akan memanggilmu penyihir merah” kupandangi pakaian penyihir berwarna merah.

 CL memasuki kamarku dan menghampiriku.

  “Aku berjanji untuk bercerita, keluarlah. Aku yakin kau tak akan nyaman mendengar ceritaku ketika ada dihadapan kakakmu” ia menunjuk Changmin yang memejamkan mata. Aku mengikutinya kearah teras.

    “Relax, take your time” ia duduk diatas kayu pembatas teras dan halaman.

   “Dunia telah berubah ketika orang itu datang” jelasnya, aku berdiri disampingnya mencoba mendengarkan ceritanya yang mungkin saja akan diterima oleh akalku.

 “Aku yakin keinginanmu sama denganku, aku ingin dunia ini kembali seperti semula. Tak ada pertikaian, permusuhan, pembunuhan atau apapun itu. Aku ingin dunia kembali normal”

 “Apa kau terjebak disini?” ia memandangku, ia tersenyum.

 “Sama seperti mu, aku beristirahat dikamarku ketika terbangun seluruh keluargaku mati”

 “Dibunuh?” ia mengangguk.

 “Tentara itu, mereka membunuh keluargaku” kulihat dimatanya tergenang air mata yang siap menetes.

 “Aku janji padamu, aku akan membuat dunia kembali seperti semula…” aku ingin menghiburnya, sebelum semuanya terjadi ia adalah selebritis wanita yang aku sukai. Kali ini aku melihatnya seperti sebuah kawan lama yang rindu akan keluarganya, aku paham perasaannya. Itu  yang sekarang sedang aku rasakan, aku rindu ibu. Walau kakak dan nenekku masih hidup, kehadiran seorang ibu merupakan hal penting bagiku.

  “Terima kasih” ia tersenyum, ku hapus air matanya yang mengalir di pipinya. Pipinya lembut, aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin membalaskan rasa sakitnya pada tentara itu, aku tak ingin melihatnya menangis.

   “CL! Kim!” aku mendengar Funzee memanggil, aku dan CL bergegas masuk kedalam ruang tengah menemuinya.

    “Kenapa, kak?” tanya CL. Ia menjelaskan aplikasi yang baru saja dibuatnya, aplikasi yang dapat membuat seluruh situs dunia kacau. Aplikasi yang dapat membuat barisan tentara merah menyerah.

“Kim, dengarkan aku. Aplikasi ini membuat seluruh situs dunia kacau, ketika seseorang surfing internet yang ditemukannya hanyalah situs ini. Walau kau tetap mencoba pergi ke situs lain tetap situs ini yang akan ditampilkan komputer”

    “Kenggulan situsmu selain itu?”

    “Setidaknya kita dapat mengetahui daerah mana yang akan diserang oleh tentara itu, namun untuk awalan aku ingin kau dan CL mengisi pesan dikolom ini agar aku dapat memberitahukan ke seluruh dunia jika dunia kita sedang diserang oleh tentara itu”

   Aku, CL, dan Funzee membuat pesan dikolom yang telah disediakan. Aku bercerita tentang tentara yang menyerang tempat kerjaku, CL bercerita tentang keluarganya yang dibunuh dan Funzee bercerita tentang kehidupannya sebelum diserang tentara itu. Ia menambahkan kolom kecil untuk para pengunjung yang meninggalkan komentar. Kami berdua fokus menatap layar komputer dan berharap ada yang memberikan komentar atau cerita sama yang dialami olehku.
Park Bom ikut bergabung, ia menulis pengalamannya ketika diburu oleh tentara merah.

_***_

    “Berjuanglah, kalian harus berjuang. Kita ikuti kawan-kawan yang berperang melawan tentara merah, aku ingin mengikuti jejak ketuaku. Aku ingin mengikuti pahlawan yang gugur karena telah melindungiku, Yunho, Yoochun, Jaejoong, Junsu. Aku tak ingin kalian terbunuh sia-sia, berperanglah. Lawan tentara merah itu dan jadilah pahlawan yang ikut mengembalikan dunia seperti semula” Changmin berbicara diruang bawah tanah yang pernah kubuat dulu sebelum pergi meninggalkan rumah nenek.

    “Aku ingin katakan sesuatu” nenekku mengambil alih, ia berdiri menggantikan Changmin.

    “Cucuku pulang dengan selamat, aku tak dapat melindungi tempat ini lagi. Cucuku seorang seraphim sama sepertiku. Aku dapat merasakan pesta kemenangan yang akan kalian adakan, aku akan datang menemui kalian ketika cucuku mengadakan pesta itu. Bergegaslah, dengan selamatnya cucuku tentara itu akan mengejarnya dan membunuh orang yang menyembunyikan cucuku. Semua ini tentang kekacauan dunia. Kalian harus paham apa yang sedang dikejar oleh ketua tentara merah itu, orang itu adalah musuh bebuyutanku. Orang itu telah membunuh anakku dan suamiku. Berhati-hatilah, aku telah mempersiapkan segalanya. Pilih senjata kalian, asah keahlian kalian, perbaiki kesalahan diwaktu lalu jangan sampai kalian berubah dan menyerang kami para pejuang yang ingin menyelamatkan dunia. Selamatkan dunia!”
Malam itu rapat yang diadakan Changmin dan nenek menggerakkan hati beberapa pejuang dirumahku. Aku masih belum mengerti dengan semua yang terjadi, aku hanya menyaksikan beberapa pejuang lain memilih senjata yang cocok dengan mereka. Seorang dari mereka mendekatiku, penyihir perempuan dengan tongkat kayunya.

   “Kim, aku ingin meminta tolong padamu”

   “Ya?”

    “Aku ingin kau mencari ayahku, ayahku hilang” aku terdiam menatap anak perempuan itu, ia terlihat bersungguh-sungguh meminta pertolonganku.

   “Maaf gadis kecil, aku tak ikut berperang” ia terdiam.

    “Tapi… tapi kau penyihir sama seperti ku bahkan tingkatmu lebih tinggi dariku. Kau seraphim kenapa tak ikut berperang?”

   “Kau tau? Aku bukanlah seorang pejuang, mungkin orang-orang disini menganggapku hebat tapi aku bukanlah seorang prajurit atau penyihir hebat seperti mu” dimatanya tergenang air, ia menangis memandangku, wajahnya pucat.

    “Tak baik menangisi seorang anak kecil, Kim” CL mendekatiku dan mengusap kepala anak perempuan itu. “Lihatlah, ia masih kecil namun sudah bertekad menjadi penyihir hebat” anak perempuan itu menyembunyikan wajahnya.

    “Tenang saja, Kim akan menemukan ayahmu. Sebutkan ciri-ciri ayahmu”

    “Ayahku memiliki luka diwajahnya, luka cakar yang membekas. Cakaran tanganku membuat wajahnya seperti itu” ia menjelaskan dengan isakan tangis.

    “Siapa namamu gadis kecil?”

    “Alex, dari Vietnam” ia berlari meninggalkanku dan CL.

    “Sebaiknya jangan kau kecewakan anak itu, Kim”

    “Aku hanya ingin menepati janji padamu, bukan pada seluruh orang disini”

    “Menepati janjiku sama saja menepati janji pada semua orang itu” CL mengasah pisau kecilnya, ia taruh pisau kecil itu dikantung belakangnya. Lalu ia mengambil sebuah gatling gun lengkap dengan peluru tambahan melingkari tubuhnya.      

“Asah kemampuanmu dan buat sebuah keajaiban” lanjutnya dengan tersenyum.

_***_

     Malam semakin larut, beberapa orang yang tidak mengambil senjata tidur diruang bawah tanah. Sedangkan orang-orang yang mengambil senjata ikut berjaga denganku dan CL.

    Terkadang aku memejamkan mata, mencoba beristirahat. Namun dalam penglihatanku aku melihat seseorang tentara merah menyerang, aku kembali terjaga. Selalu seperti itu, aku tak pernah menutup mataku dan terus terjaga. Rasa kantuk yang menyerang membuatku semakin terjaga. Aku bermain dengan beberapa mantra kecil yang membuatku tertawa.

   “Sulit ya menghilangkan rasa kekanak-kanakan mu” aku terkejut seseorang mendekati dan berdiri disampingku. Ia tersenyum.

   “Ah, aku hanya bermain dengan mantra favoritku ketika aku kecil” ia menjulurkan tangannya.

   “Seungri, bagaimana rasanya menjadi cucu seorang penyihir?”

   “Biasa saja, aku hanya berharap aku keturunan seorang prajurit pedang”

    “Kau bisa belajar menggunakan pedang jika kau mau” ia tersenyum, ia memandang jauh kearah langit malam. Aku mengikutinya.

  “Kaupun bisa mengambil bintang paling terang jika kau menginginkannya”

  “Apa kau yakin Kim akan mengerti perkataanmu?” seorang dengan mata yang kecil ikut mendekati dan memandang kearah langit.

  “Daesung, siap untuk peperangan besar?” ia menjulurkan tangannya dan tersenyum kearahku.

  “Aku? Entahlah” jawabku, aku hanya berpikir untuk menepati janjiku pada CL, dan tak berniat untuk berperang melawan tentara merah.

   “Aku pernah melihatmu di kontes” tiba-tiba Seungri mengalihkan pandangannya padaku.

  “Kontes?” aku memandang wajah Seungri.

 “Ya, kontes dance”

 “Lucu sekali seorang penyihir, menari” Daesung menyela.

 “Hey, itu pekerjaanku sebelum berperang” ujarku, mereka tertawa.

 “Aku sendiri tak pernah menginginkan menjadi penyihir”  tawaan mereka mengisi malamku, perasaanku malam ini sungguh tidak nyaman. Khawatir akan tentara merah menyerang dan mengacau rumah nenekku.
Kejenuhan menyerang ketika semua orang mulai tertidur, aku merasa mereka meremehkan apa yang akan mereka hadapi. Bagiku, kejadian ini adalah kesempatan untuk mengembalikan hidupku yang indah.

   “AH!”

  “Tentara merah!” kudengar seseorang berteriak, aku berlari ke sumber suara. Aku melihat Bom ditarik seorang tentara. Aku mengejar tentara itu.

  “Kim! Kejar Bom! Aku akan menyelesaikan beberapa tentara disini!” CL berteriak.

    “Bom!” aku terus mengejar tentara yang membawa Bom, kulihat perempuan kecil yang sempat berbicara denganku mengejar Bom.

    “Alex! Gunakan sihirmu! Tambah kecepatanku!” ujarku menyemangatinya, ia menoleh dan mengucapkan mantra padaku.

    “Kim, Velocitate!” kecepatan kakiku bertambah, aku hampir menabrak sebuah pohon yang ada di depan mataku.

    “Aku akan menolongmu!” aku berteriak dibelakang tentara yang menangkap Bom. Aku akan merasa menyesal ketika harus kehilangan seorang pejuang sebelum perang dimulai.

    “Kim!” Bom berteriak padaku.

    “Bom, jika kau bisa menggunakan sihir gunakanlah!”

    “Percuma, mereka mengunci sihirku”

    “Ignis!” aku terus berlari sambil mengucapkan mantra, sebuah tembakan api kecil mengenai tubuh tentara itu. Tentara merah itu sempat menoleh dan berhenti untuk memandangku. Sedikit lagi aku akan dekat dengannya dan menghajar wajahnya.

    “Ignis! Ignis!” berulang-ulang aku mengucapkan mantra, sebagian tembakan mengenai pakaian tentara itu dan membakar punggungnya. Sebagian tembakan hampir mengenai wajah Bom.

    “Hey! Hati-hati dengan mantramu anak kecil!” Bom berteriak dan memukul punggung tentara itu.

    “Turunkan aku tentara bodoh!” ia mengeluh dan terus meronta melepaskan diri.

    “Fragor!”  aku mengarahkan tanganku ketantara itu, dengan sekejap tentara itu meledak. Aku mendekati ledakan itu, yang kulihat hanya Bom yang tersungkur.

 “Bommie!” aku membangunkan Bom.

    “Tentara itu lari kearah sana, kejarlah!” nadanya melemah, wajahnya menghitam karena mantra ledakanku.

   “Minum ini” aku memberikan botol cairan merah yang kudapat dari kawanku.

   “Kejarlah… dan berhati-hatilah” aku mengangguk.

    “Bommie!” Seungri, CL dan Daesung datang menghampiri, aku menggenggam tangan Bom.

    “Tolonglah, bawa pulang. Aku akan mengejar tentara itu” ku teruskan berlari mengejar tentara merah yang telah membuat duniaku berubah seratus persen.

    Aku semakin masuk kedalam hutan, mengejar tentara merah. Yang kutemukan hanya sebuah pengistirahatan yang terbuat dari kayu-kayu lapuk. Aku tak mencium keadaan tentara merah yang kukejar. aku menyelidiki tempat itu, aku mendengar suara bising dari dalam rumah tersebut.

   “Invicta” ku sebutkan mantra yang membuatku tembus pandang, aku masuk kedalam rumah itu dan berjalan pelan. Ku amati dalam rumah itu, tak ada tanda-tanda keberadaan tentara merah. Ku terus amati seluruh ruangan rumah itu. Ku temukan sesuatu yang mencurigakan, sebuah ember kecil dengan busa detergen yang menutupi.
    “Lepaskan mantra tak terlihatmu” aku terkejut ketika seorang laki-laki berwajah besar ada disampingku.

   “Percuma kau menggunakan mantra dihadapanku, karena aku sama sepertimu” kuhilangkan mantraku dan memandangi wajah laki-laki itu.

   Wajahnya terdapat luka cakar, aku seperti mengenal laki-laki ini. Laki-laki yang muncul dengan tiba-tiba dihadapanku.

    “Kau, kau orang tua Alex” ujarku. Ia menatap tajam kearahku, sepertinya ia terkejut mendengar ucapanku.

    “Alex? Siapa dia?”

    “Anakmu, kau memiliki anak yang bernama Alex!” aku mengikutinya keruang tengah, ia duduk dengan pelan. Sepertinya ia merasa sakit dibagian punggung. Ku perhatikan tingkahnya, ia gelisah dan aku sempat melihatnya membersihkan luka di lengannya dengan saputangan.

    “Nak, sepertinya kau mengigau. Bertahun-tahun aku tinggal disini dan aku belum punya anak” aku terdiam. Dengan diam-diam aku mengucapkan mantra, aku menggandakan diri dan berjalan mengecek ember yang sempat membuatku curiga.

    Diriku yang satunya berbicara dengan lelaki separuh baya itu, ia bercerita tentang kehidupannya dirumah itu dan bertanya padaku apa yang membuat ku masuk kedalam rumahnya.

   “Kau melihat tentara merah?” tanyaku.

   “Tentara merah? Maksudmu tentara yang kejam itu?”

    “Ya, tentara yang membuat kehidupanku berubah seratus persen” ia menggeleng, diwaktu yang sama diriku yang satu lagi menghilang dan menyisakan ingatan “ember” padaku yang sedang berbicara.

    “Mengubah hidupmu?”

    “Ya, aku hanya seorang pegawai di pelayanan jasa. Dengan kehadiran mereka hidupku yang tenang memaksaku menjadi seorang penyihir”

    “Ya, sayang karena aku sama sekali tidak tau tentara merah yang kau maksud” tingkahnya menunjukan bahwa ia gelisah dan panik, keringat dinginnya mengalir. Aku dapat melihatnya dengan kacamataku.

   Aku terdiam melihat reaksinya.

    “Sepertinya sapu tangan yang kau pegang sangat spesial. Apa itu dari Alex?” aku memancing pertanyaan padanya.

    “Ya, dia sangat pintar merajut dan menjahit” ia menjawab dengan percaya diri, terdiam seketika dan melanjutkan perkataannya. “Bukan Alex yang kau pikirkan tentunya anak muda” ia tersenyum.

    “Kau tau? Ada istilah yang disebut Hubungan Penyihir, karena kau penyihir aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Tentara merah” aku tersenyum, membuatnya salah tingkah.

    “Apa yang kau bicarakan anak muda” ia meringis.

    “Kau lupa pada Alex kecilmu dan menjadi tentara merah?” ia terdiam.

    “Sebelum aku mengucapkan mantra api yang mengenai punggungmu, Alex ikut mengejarmu karena ia tau siapa yang sedang ia kejar. Ia hanya ingin bertemu ayahnya yang menghilang entah kemana. Jika aku Alex kecilmu mungkin aku akan menangis dan tak menganggapmu ayahku lagi”

    “Tingkah anehmu yang menyembunyikan luka dipunggung memastikan aku yang curiga padamu, alasan tentara merah menyerang rumah nenekku karena rumah peristirahatanmu dekat dengan rumah nenekku. Kau berpura-pura menjadi korban tentara merah” ia menggeser tempatnya dan membuatnya duduk di tepi kursi.

    “Kembalilah, jadilah orang tua Alex yang dulu. Alex merindukanmu, merindukan seorang ayah yang sayang pada anaknya. Kau lebih tua dariku seharusnya kau paham perasaan anakmu yang ikut berjuang melawan tentara merah”

    “Diam! Kau terlalu banyak bicara!” ia berteriak padaku, mengambil sebuah pistol dan menembakan kearah kepalaku. Aku tak dapat menepisnya dan tersungkur jatuh.

_***_

 Aku terbangun karena suara kakak perempuanku yang tertawa keras, jam dinding dalam kamar sewaku menunjukan pukul 12 siang. Aku membuka mata dan melihat keadaan sekitarku. Semuanya terlihat normal. Rumah sewaku yang normal, pakaian kerjaku yang normal. Tak ada lagi mantra, tak ada lagi pedang, tak ada lagi selebritis yang ikut berperang, tak ada lagi sesuatu yang aneh.

 Sungguh mimpi yang sangat menakutkan, aku sangat bersyukur ketika semua itu hanyalah mimpi belaka. Dan aku tak perlu khawatir terluka karena semua hal itu hanya ada dalam mimpiku. Aku bergegas membersihkan diri dan menggunakan pakaianku, tempat kerjaku tidaklah jauh dari rumah sewaku. Aku tersenyum pada kakakku dan membuatkan makan siang untuknya.

   Aku berjalan ketempat kerja dengan tas ransel yang setia menemaniku. Tempat pelayanan jasa yang sangat nyaman tanpa adanya tentara yang mengejarku. Aku buka tasku dan mengambil pakaian kerjaku, aku terkejut ketika melihat sebuah buku catatan using terjatuh dari pakaian ku. Buku catatan yang pernah kulihat. Aku membuka dan membaca isinya, beberapa menggunakan huruf latin. Dan beberapa halaman terlihat kosong, namun aku tertarik akan sebuah halaman yang bercorak merah, disitu tertulis : Tentara merah, Bommie, Alex dan Mimpi.

Karya asli oleh : Fajjar Angga Suprapto
Continue to part. II
Note : Seraphim = Higher than an angel, Divine creatures from the Old Testament,
Liber Evaderet, Ignis, Fragor = it's a  *for a some country (i'm forget from where i got it, sorry... but i just remember that means is : speed, fire and explode)

thanks for reading :)
NP : MBLAQ - It's War