Rabu, 08 Juni 2016

MOVE TO WattPad

All of this story will be removed on the middle of 2017
And all of these will be reposting on Fhakubeton Wattpad [click the link]

Thanks for  all of my friends and all participated guys.

Regards.

Jumat, 25 Desember 2015

All I Want For Christmas Is You

All I Want For Christmas Is You
Cast : Yong Junhyung (용준형) and Yang Yoseob (양요섭) of B2ST/Beast (비스트)
Special for : @joker8919l2
Genre : Yaoi-One shot

Warning! This story contain an explisit sex scene! Please leave this page if you don't feel comfortable.

-***-

[Author POV]

"Bagaimana ini?" ia bergumam pelan sembari memandangi potret yang terselip diantara bingkai dan cermin.

Seharian ini ia sangat tidak bergairah, banyak yang ia pikirkan mengenai seseorang yang ia sayangi, dan ia masih merasa bersalah karena kejadian beberapa malam yang lalu.

Seandainya malam itu ia tidak begitu pasif, mungkin kini ia akan menghabiskan malam natal berdua bersama orang itu yang hingga sekarang belum menunjukan batang hidungnya.

"Apa yang harus aku siapkan? Apa yang ingin ku beri?" ujarnya lembut dengan jari yang bergerak naik turun di atas layar sentuh miliknya. Matanya bergerak cepat mengikuti gerakan layar.

"Kado natal... Kado, Natal... Natal... Argh! Ah jinjja! Neomu... Argh!" ia dengan sedih memandang wajah yang memantul di cermin. Wajah yang sedikit memerah, dengan rambut acak-acakan dan raut muka yang lelah.

"Babo..." ia menyalahkan wajah itu. "Ah... Yang Yoseob! Jeongmal baboya~"

Kemudian, ia menghela nafas dan melangkah lesu ke dalam kamar, lalu merebahkan diri di atas kasur yang masih berantakan.

-***-

[Yoseob POV]

"Aku pulang..." terdengar suara yang ku kenal dari arah pintu, bergegas aku menyembunyikan kue yang ku buat dalam lemari pendingin, dan berusaha memanipulasi suasana agar terlihat 'tidak ada yang terjadi tadi'.

"Selamat datang" aku menyambutnya dengan senyuman yang menggantung, namun tidak dengannya. Ia menekuk wajahnya, dan terlihat sangat lelah.

"Ada apa?" aku mendekatinya yang duduk lemas di sofa sembari menonton tayangan televisi.

Ia tidak memandang ku sama sekali, terlalu fokus dengan tayangan malam natal.

"Aku sudah siapkan air hangat, mungkin lebih baik..."

"Ya, nanti" aku terdiam mendengar kalimatnya yang memotong pembicaraan ku. Mungkin ia masih kesal dengan kepasifan ku beberapa malam yang lalu.

Jika sudah seperti ini, aku hanya bisa diam, menunggu waktu membantu ku untuk berbicara dengannya.

Ku biarkan ia yang masih fokus dengan benda dihadapannya, dan berharap ia memaafkan ku dengan cepat. Sesungguhnya aku tak suka dengan suasana canggung seperti ini. Aku benci saat dia seperti ini.

Junhyung yang ku kenal seakan berbeda, Junhyung yang selalu tersenyum--berusaha selalu tersenyum dihadapan ku menjadi pendiam dan sangat mengerikan.

Mau tak mau, aku kembali ke dapur, mengenakan apron yang tadi sempat ku lepas. Memasak beberapa menu spesial yang ku temui di browser.

Aku berusaha untuk tidak bersedih karena sikapnya, aku berusaha menyembunyikan kesedihan ku dengan mencoba tersenyum setiap aku melakukan sesuatu.

Namun, apa dayaku. Air mata ku mulai menetes ketika tanganku mengupas kulit bawang dan memotongnya kecil kecil. Rasanya, aku tak sanggup melanjutkan semua ini. Entah efek pedas dari bawang entah memang aku yang terlalu kalut dalam kesedihan ku.

Aku hanya ingin malam natal ini menghabiskan waktu bersamanya, berbagi cerita, tertawa bersama, menunjukan kebahagiaan dan saling menunjukan kasih sayang. Namun, aku tak bisa memaksanya jika ia sedang tidak ingin berbicara padaku.

Apa yang harus aku lakukan?

"Hey..." aku sontak terkejut ketika pinggang ku dipeluk. "Sedang buat apa?"

Aku ingin membalikan tubuh namun aku tak ingin ia melihatku menangis. Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kenapa diam?" air mataku mulai mengucur deras, dan mungkin terjatuh di lengannya.

Ia memaksa ku untuk membalikan tubuh dan memandangnya. Aku berusaha menolak namun tenaganya lebih kuat, mau tak mau aku menunduk ketika tubuh ku berbalik ke arahnya.

"Lihat aku..." berulang-ulang ia mengatakan itu. Terpaksa aku mengangkat wajahku.

"Kenapa menangis?" aku menggelengkan kepala.

"Dengar... Kau membuat ku sedih jika menangis seperti ini dan membuatku sakit jika kau tak mengatakannya" aku memandangnya, aku tak dapat menyembunyikan isak tangis ku.

"Maaf..." kini, ia memandang ku heran.

"Untuk?"

"Maafkan aku... Beberapa malam yang lalu aku terlalu pasif..." ia menghela nafas panjang, jemarinya menghapus aliran air mata di pipi ku.

Lagi, ia menghela nafas.

"Dengar, lupakan itu... Sudahlah, meski aku kecewa, tapi kau tetap kau... kau tetap Yang Yoseob yang aku sayang..."

Aku menatapnya, ada sedikit rasa sedih mendengar jika ia kecewa.

-***-

[Junhyung POV]

Entahlah, meski aku kecewa, tapi aku tak tega melihatnya menangis--apalagi penyebab ia menangis itu aku. Mengacaukan perasaanku.

"Lupakanlah, ne?" ia mengangguk dan tersenyum padaku.

Ah, senyum itu...

Lalu tangannya mengusap air matanya sendiri sembari mulutnya yang sedikit maju.

Ekspresi itu...

Senyum dan ekspresinya membuat jantungku sedikit berdetak lebih kencang, belum lagi dengan wajahnya yang memerah dan tersipu saat memandang ku.

Aku tak sanggup lagi...

Kudekati wajahku ke wajahnya, hembusan nafasnya mengenai philtrum, membuatku semakin mendekatkan wajah.

Ku cium bibirnya lembut, sementara tangan ku menekan kepalanya untuk tidak bergerak jauh. Belum ada respon apapun darinya, namun nafasnya memberat, seakan ia tak ingin aku melepas ciuman ini. Sengaja, ku kepas ciuman ku, menatapnya dan sedikit tersenyum.
Ia membalas tatapan ku, seakan memberi isyarat 'kenapa kau menghentikannya?'.

"Junnie..." aku tersenyum mendengarnya memanggil nama ku.

"Aku..." aku kembali menciumnya, tak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih banyak.

Kali ini, ciuman ku mendapat respon. Ia membalas ciumanku dan sedikit melumat bibirku, tangannya tak lagi diam. Kini tangannya menyentuh pinggangku, menuntun tubuhku untuk lebih dekat. Kaki kanannya menyilang kaki ku. Aku paham maksudnya.

Aku melepas tekanan tangan ku dikepalanya, turun ke pahanya dan mengangkat tinggi kedua kakinya. Merasa aku menerima radar darinya, kedua kakinya langsung menyilang dipinggang ku--memeluk tubuhku erat dan menekan tubuhku.

Tangan Yoseob kini berada di leher ku, melingkar, mengusap kepala terkadang menarik rambutku lembut. Nafasnya semakin berat, ia mengerang, menghembuskan nafasnya mengikuti ritme ciuman ku, dan setiap tarikan nafasnya yang terdengar erotis membuatku semakin tak ingin melepaskan ciuman ini.

Aku yakin, tanganku di pahanya tak lagi dibutuhkan, aku sengaja memeluknya dan mengangkatnya. Ringan, begitu ringan--menurutku. Masih tetap berciuman, aku mengangkatnya ke meja dapur untuk sesaat sebelum akhirnya ku angkat ia dan ku tekan hingga punggungnya menempel di dinding. Aku menekannya, dan memastikan jika ia tak akan lepas dariku.

Lidah ku menyentuh langit langit dalam mulutnya, melakukan french kiss dan saling bertukar saliva.

"Heungh..." erangan erotis membuatku semakin menjadi. Aku menjilati telinganya, menggigit daun telinganya dan menghisapnya. Sementara ia, semakin menekan kepalaku, seakan menyuruhku untuk terus melakukannya.

Bibirku agak turun sedikit ke lehernya, membasahinya dengan liurku sebelum akhirnya kubuat tanda merah yang benar benar matang--hampir keunguan.

"Angh... Je... Jebal..." itu yang kudengar sebelum aku memandangnya. Matanya berair saat ku tatap, wajahnya merona, tersipu, dan nafasnya semakin berat.

"Junnie... Please... Be gentle..." entah apa yang terjadi dengan ku, mendengar bisikannya--yang terdengar sangat seksi membuatku kalap. Aku langsung menciumnya dan menggigit juga mengulum bibirnya. Jemarinya menjambak rambutku kasar.

Sudah jelas, aku tak dapat menahannya lagi. Kemaluanku dan kemaluannya sama-sama menegang--dapat kurasakan itu karena batang kemaluannya mendesak celanaku.

Ia terdengar seperti orang yang habis berlari jauh sembari memelukku erat. Aku menggendongnya hingga kamar, dan memposisikan diri duduk ditepi ranjang sementara ia duduk di paha ku.

Sungguh, ekspresi yang ia tunjukan seperti memberi isyarat 'jangan hentikan ini' dan aku sendiri dikuasai oleh nafsu yang berujung terus menerus menciumi bibirnya. Tanganku meraba punggungnya, melepaskan tali celemek dan masuk kedalam perut yang masih dibalut baju kesukaannya.

Ia lepas ciuman ku, tangannya melepas apron dan bajunya, menunjukan tubuhnya kepadaku. Keringat membasahi tubuhnya, seakan mengkilat ketika cahaya lampu mengenai tubuhnya. Sungguh begitu seksi dan sangat erotis.

Tangannya menuntun kepala ku kearah dadanya. Aroma yang ku suka menusuk hidung dan tak dapat menahan godaan untuk menjilati puting dadanya yang mengeras.

"Eungh... Please..." aku pura-pura tak mendengarnya, dan mengecup putingnya sebelum ku gigit lembut dan kembali ku jilat. Perlakuan ku membuatnya semakin menekan kepalaku, kakinya semakin menekan tubuhku, dan aku semakin gila dibuatnya.

-***-

[Yoseob POV]

Aku tak yakin jika aku dapat lebih aktif dari ini. Aku teringat kalimatnya yang mengatakan jika lebih suka mendominasi. Ku harap ia tak menghentikan ini saat aku benar benar menikmatinya.

Namun, jujur. Aku suka cara ia memainkan mulutnya di dadaku. Cara ia menjilat kedua puting ku dan lidahnya menari-nari di tengah dadaku. Cara ia meremas kedua bongkahan pantatku dan memainkan dua jari dilubang anusku.
Aku tak dapat menahan erangan demi erangan dari perlakuan Junhyung. Ia benar-benar pandai membuatku melayang seperti sekarang.

Aku benar-benar lupa siapa yang memulai semua ini, yang aku ketahui hanya : aku sedang di-rimming olehnya.

Lidahnya menusuk anusku, sementara tangannya merancap penisku dengan irama stabil dan memainkan telunjuknya dilubang kencingku. Geli, tapi--aku tak ingin munafik, ada rasa nikmat yang kurasa.

Kepala kemaluanku sudah lengket dengan precum yang sedari tadi terus keluar, dan rancapannya di kemaluanku membuat kemaluanku semakin menegang.
Jujur, aku hanya dapat mengerang, mendesah, melenguh karena perlakuannya begitu membuatku ingin sampai klimaks.

"Geli... Junnie... Geli..."

Ia tak mendengar ucapanku, lidahnya semakin nakal membasahi dan menusuk-nusuk lubang pantatku. Aku tak dapat menggambarkan apa yang sedang kurasakan.

"Seob-ah... Kau siap?"

-***-

[Author POV]

"N... Ne-h..." Yoseob mengangguk pelan sembari menatap Junhyung yang sedang merancap kemaluannya sendiri.

"Astaga... Imut sekali..." gumam Junhyung pelan sebelum ia memasuki tubuh Yoseob. Junhyung benar-benar dikuasai nafsu, apalagi melihat Yoseob yang tersipu sembari memandangnya.

Junhyung menciumnya, lagi, ia memainkan lidahnya, menjilat bibir Yoseob sebelum kembali menggigit dan melumat habis bibir Yoseob.
Kepala kemaluannya menempel di lubang anus Yoseob, berusaha menyesuaikan dengan keadaan Yoseob yang belum rileks karena ciuman Junhyung yang semakin liar.

"Angh! A... Angh!" erangan Yoseob terdengar kencang ketika kepala kemaluannya berhasil menembus pertahanan Yoseob. Junhyung terus mendorong kemaluannya hingga batangnya benar-benar tertelan tubuh Yoseob sembari tangannya mencubit dan memelintir lembut puting Yoseob.

Refleks, kaki Yoseob langsung memeluk pinggang dan mendekatkan tubuh Junhyung yang tegak. Mata Yoseob menutup erat ketika gerakan pertama dilakukan Junhyung.

"Eeu... Eungh... Ah-eungh... Ungh..." wajah Yoseob yang berkeringat, dan pejaman matanya ditambah desahan yang terdengar membuat Junhyung semakin tidak kontrol. Jantung Junhyung berdetak semakin kencang dan memutuskan untuk kembali bermain diwajahnya.

Mata, hidung, pipi Yoseob tak luput dari ciuman-ciuman kecil yang mesra. Tubuh mereka saling menempel, saling menggesek dan bergerak semakin mulus karena keringat yang membasahi tubuh mereka. Kedua puting mereka bertemu, menambah sensasi tersendiri bagi keduanya.

Tangan Yoseob mengusap punggung, leher sebelum akhirnya berdiam di pinggang Junhyung untuk menyemangati gerakan demi gerakan Junhyung.

"Don't... Please... Angh... Junnie..."

"Iya? Heungh?"

"Please... Don't ss..."

"Don't?"

"Don't stop... Please-h, eungh, hee-eungh" menangkap sinyal Yoseob, Junhyung semakin semangat memaju-mundurkan pinggangnya. Menusuk semakin dalam, dan berharap mengenai titik dimana Yoseob akan mengerang lebih hebat.

Kemaluan yang terjepit ditubuh mereka sudah mengalirkan precum yang membasahi perut keduanya. Gerakan maju-mundur yang dilakukan Junhyung membuat kemaluan Yoseob berkedutdan semakin tegang, menandakan Yoseob menikmati tusukan yang Junhyung lakukan.

-***-

[Junhyung POV]

Aku tak mengerti kenapa aku menyukai kalimat yang diucapkan Yoseob. Aku suka saat ia menyuruhku untuk tidak berhenti, aku suka caranya menyampaikan keinginannya dengan erangan erotis yang membuatku semakin ingin bercinta dengannya.

Kini, ia menaik-turunkan tubuhnya sembari melingkarkan tangan dileherku sementara mulutku tak berhenti bermain didadanya. Banyak sensasi yang kurasakan dengan posisi ia menduduki kemaluanku, terkadang ia menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri hingga kepala kemaluannya menusuk bagian pertengahan perut dan dada ku.

Keringatnya, luar biasa membuatku ketagihan. Seakan narkoba yang membuat pemakainya sakaw.
Belum lagi dengan terikan dirambutku, usapan di punggungku dan bisikan-bisikan yang lebih terdengar seperti erangan.

"Please... Make-h... Me preg-h... Eungh-nant..." libido ku semakin meninggi saat ia berbisik sebelum akhirnya menciumi pipi dan mengulum bibirku. Terdengar aneh, namun kenyataannya aku suka dengan kalimat itu.

Tangan ku langsung bergerak menggenggam kemaluannya dan merancapnya. Precum yang terus-terusan mengalir membuat rancapan ku sedikit kasar dan membuat gerakannya--naik-turun yang tadi ia lakukan berhenti.

"S... Stahph... I will-h... Cumming-h..." aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap merancap kemaluannya yang ada di genggaman ku. Aku senang menggodanya seperti in--lagipula aku juga ingin keluar bersamaan dengannya.

Ia perlahan namun pasti kembali bergerak naik-turun dan memaksaku untuk berhenti merancapnya. Ku turuti keinginannya dan hanya menggenggamnya, sementara ia yang naik-turun sembari memelukku secara tak langsung merancap kemaluannya sendiri.

"Junnie-h... Jebal..." aku masih menggenggamnya meski ia memohon sperti itu, bahkan aku sengaja meremas kemaluannya yang benar benar sudah tegang.

"I'm-h... I'm-m... Cum-h-m-h-ing-h..." kemaluannya menggembung, berkedut dan seakan ingin meledak, tangan ku semakin meremasnya sebelum akhirnya ia melepaskan spermanya yang berhasil membasahi dagu, dada dan perut ku--perut kami.

"Eung-angh!" desahan terakhir yang kudengar sebelum anusnya meremas kemaluan ku lebih kencang, rectumnya memaksa ku untuk mengeluarkan apa yang kutahan.

Tepat seperi dugaanku, gerakan terakhir yang ia lakukan setelah ia mengerang hebat, aku memuntahkan spermaku dalam tubuhnya sebelum saling memandang dan kembali berciuman.

-***-

[Author POV]

Sinar matahari menusuk kedua mata yang menutup sempurna, terpaksa ia membuka matanya perlahan mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Yoseob merasa ada yang aneh dipagi ini, tubuhnya begitu hangat dan merasa jika ia sedang diselimuti oleh sesuatu. Ia juga merasa aneh karena mimpinya.

Ia merasa bermimpi jika ia melakukannya lagi dengan Junhyung hingga keduanya klimaks.

"Jangan coba-coba bergerak... Aku sedang menikmati aroma tubuhmu dipagi hari" matanya langsung terbuka sempurna saat mendengar suara yang ia kenal di belakangnya.

"N... Ne..." Yoseob menjawab dengan gugup sebelum ia benar benar bergerak dan membalikan tubuhnya kearah Junhyung.

Ia masih bingung dengan yang terjadi, apakah semalam ia benar-benar melakukannya atau hanya mimpi. Namun, dengan apa yang dilihatnya di pagi natal ini, mungkin itu hanya mimpi, toh ia masih mengenakan pakaian yang sama sebelum terlelap.

"Jangan memandangi ku dengan tatapan aneh..." kedua alis Yoseob mengerenyit saat mendengar Junhyung berbicara, sementara kedua mata Junhyung masih menutup.

"Nanti malam... Kita lakukan lagi ya..." wajah Yoseob langsung memanas dan menunduk. Artinya, tadi malam ia benar-benar melakukannya dan itu artinya hubungan mereka kembali baik.

Ada rasa senang dan bahagia dalam hati Yoseob namun mendengar kalimat Junhyung yang sangat mesum, Yoseob tersipu malu dan menenggelamkan wajah di antara pundak dan wajah Junhyung.

"Kau pasti senang nendengarnya" kini Junhyung terkekeh sementara Yoseob semakin menyembunyikan wajah.

"I love you..." bisiknya lembut, sementara jari Junhyung mengusap lembut telinganya.

"Anyway... Marry christmas, Seob-ah..."

[end]

P.S
Selamat natal aja ya buat yang merayakan.
Ini spesial buat yang pernah request di twitter author.
Thanks for reading.

Kamis, 24 Desember 2015

Thanks To :

Saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah menumbuhkan kembali semangat menulis saya.

Saya ucapkan terima kasih untuk pemilik akun roleplayer @joker8919l2 yang terus menyemangati saya mengenai tulis menulis dan menampar saya dengan kasih sayang yang beliau berikan mengenai tulis menulis.

Terima kasih kepada Kak Tri yang selama ini mengijinkan saya meminjam laptopnya,
sahabat sahabat saya : Si Eceu (Resty, Ghina, Diah, Dini Alay, Dini Unyil, Jawir), Lollipop (Indah, Tinna, Ncim, Nina), Yanda, Temin, Dede Noona, NaF, Irma Noona dan sahabat sahabat saya lainnya yang ga bisa saya sebutin satu persatu.

Dan spesial untuk almarhumah ibu yang sudah tenang disurga, tanpa adanya beliau saya tidak akan membuat cerita ini, dan tanpa adanya beliau, saya tidak akan mengerti betapa kerasnya hidup sendiri di dunia tanpa bantuan dari sekumpulan orang yang disebut 'keluarga kandung'.

Terima kasih untuk mereka yang terus menerus membantu, menyemangati saya untuk tetap melanjutkan hidup tanpa kenal putus asa, untuk tetap mengingat Allah selalu ada untuk umatnya, untuk tetap mengingat jika kita semua hidup di dunia memiliki tujuan dan progres hidup yang berbeda. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Best regards.
F. Angga S.
20151220 - 23:55

[Edited 20151224 - 08:10]

Angga, Is My Name (Wattpad Version/Revised)

Anak laki laki yang baru berusia 4 tahun itu sulit memejamkan mata karena desahan dan gerakan kasar disamping tubuhnya yang mungil. Namun, matanya tak ingin terbuka dan mencaritahu apa yang sedang terjadi, ia hanya membayangkan apa yang akan ia rasakan besok di gedung Delilah barunya yang bernama Tanan Kanak-kanak Asuhan Ibu.

Anak itu selalu tersenyum, tertawa terbahak-bahak meski kadang menangis ketika pelajaran agama di sekolahnya mulai. Anak laki-laki yang tidak memiliki ketertarikan untuk bertanyanpada orang tuanya setiap apa yang ia lihat atau yang ia dengar.

Ia memang berbeda dengan anak laki-laki lainnya di TK. Murid laki-laki lain saat jam istirahat bermain bola, atau berpura-pura bermain polisi dan penjahat, sementara ia duduk manis, mendengarkan cerita, menggambar, atau bahkan bernyanyi. Anak laki-laki yang sudah memiliki ketertarikan di dunia hiburan.

Senyumannya tak pernah memudar ketika ia dan kawan-kawannya mendatangi sebuah radio swasta dan melakukan rekaman untuk perpisahan kepala sekolah di TK, tawaannya juga tak pernah menghilang saat ia berhasil menyanyikan satu lagu dangdut favorit ibunya saat perpisahan dimulai.

Semua orang senang dia ada disekelilingnya, semua orang bahagia jika ia berada di samping mereka, tapi tidak jika ia sedang merasa bosan. Semuanya ia caci maki--meskipun terlihat imut, ia mengatai semua orang tukang bohong karena berhasil mengejeknya, ia pasti akan menangis sehari penuh hingga jam sekolah usai, hingga ibunya datang dan memberi es krim coklat kesukaannya.

Kini, anak laki-laki itu sedang berdiri di kakinya sendiri untuk mencaritahu siapa ia sebenarnya. Identitas asli yang disembunyikan oleh almarhum ibunya, identitas asli yang seharusnya ia dapat sejak dulu.

Anak laki-laki yang mengubah namanya dari Dimas Yogi Pratama, menjadi Angga.

-***-

17/11
Happy birthday Angga

Agak sedih sesungguhnya ngucapin ulang tahun ke diri sendiri karena gak ada seorangpun yang ingat akan arti dari tanggal ini.

Read more?
Visit wattpad.com and searching for fhakubeton.
Regards.

Selasa, 22 Desember 2015

AIMN : Mengejar atau di kejar

[Another link : http://w.tt/1mBggXX ]
"Happy birthday ya"

Lah, ternyata cuma mau ngucapin selamet doang ke gue. Astaga, terus gue kenapa harus lari dari kamer cuma buat nemuin dia yang leha leha di ruang tengah.

"Tengkyu ya kak" ucap gue senikmat hati dengan ekspresi yang berusaha ga keliatan kalau itu senyuman palsu.

"Gak usah ngedrama, ekspektasi lu pasti lebih dari ucapan kan?"

Boo~ gue ketauan. Anyway Noval emang paling gak bisa gue bohongin, terpaksa gue senyum beneran buat nutupin sebetapa malunya gue.

"Gue gak butuh nyengir kuda lu, nih lu ke kamer gue bawain ini guci, terus balik lagi" dia nunjuk guci yang ada di meha pake kaki sambil nyengir gak jelas.

Lah, sekarang gue disuruh suruh. Orang ini emang seenaknya suruh sana suruh sini. Bener-bener nikmat hidup orang yang ada di depan gue.

"Gue taro dikasur?"

"Mana aja, ditempat yang aman, dan gak kena sentuh elu"

Ck, konyol amat ya ini abang-abang depan gue. Jangan kena sentuh gue, tapi gue yang disuruh simpen. Delapan jempol gue kasih buat troll-an yang dia bikin.

Gue terpaksa nurut sama omongan dia, biar hidup gue selamat, aman, damai dan tentram. Meski setengah hati gue bawa itu guci yang masih kebungkus rapi sama koran, tapi gue gak mungkin ngecewain Noval. Disamping itu, gue memang numpang kok di rumah Noval. Gak aneh kalau memang gue harus memberi apa yang udah gue dapet--beberapa tahun belakangan ini.

Sesaat, kaki gue gak mau ngelanjut masuk karena hembusan angin dari dalem kamer Noval.

Aroma ini...

Aroma yang membawa gue kembali ke 6 tahun yang lalu. Ke waktu dimana gue dan Noval pertama kali ketemu.

Agak kocak sesungguhnya, karena saat itu gue yang lari dari kejaran psikopat--om om bego yang suka banget sama praktek BDSM,  gak sengaja nabrak dia dan narik dia keluar dari plaza di bilangan jakarta pusat.

Gue masih inget ekspresi dia yang datar tapi heran mandang gue dengan senyuman yang gak berubah sampe sekarang.

"Ngapain lu berdiri depan kamer gue?" gue langsung nengok kearah sumber suara, di depan gue, Noval udah silangin tangan aja sambil liatin sinis gue. "Ada setan dikamer gue?"

Ck, orang itu bener bener gak tau waktu. Gue kan lagi menikmati aroma yang keluar dari kamer dia.

"Kalau udah, langsung keluar, temenin gue service laptop"

Gue cuma tarik nafas panjang saat dia berhasil berlalu sambil teriak "Jangan lama!"

Noval masih sama. Ya, sama seperti dulu... Sama seperti dimana gue kenal sama dia pertama kali.

-***-


"Lu mau apa, heum?" gue gak jawab pertanyaan Noval, mata gue fokus sama menu yang ada ditangan gue, nyari tulisan yang berhubungan dengan makanan pedas.


"Mas, saya pesan dua ini, terus ini, terus yang ini juga, minumnya yang ini sama ini, dessertnya ini, ini, sama ini, dessertnya tunggu kabar dari saya ya" gue turunin tangan gue, mata gue langsung tertuju sama Noval yang lagi ngobrol sama waiter.


Wait, what? Hello, gue belum pesen dia udah asal pilih aja. Dasar kolot gak mau dengerin opini anak muda.


"Kak... Gue belum..."


"Gue udah pesenin" ujar dia setelah waiter pergi, dia mandang gue dengan senyuman yang menggantung.


"Udah, pasti elu suka, percaya sama abang lu" gue cuma bisa muterin bola mata gue kalo Noval udah kepedean kaya gini.


"Jadi, udah make a wish?"


"Siapa?"


"Tukang parkir alfamart, kan elu yang ulang tahun, peak"


"Gak buat..."


"Lah kenapa?"


"Gak tau, belum kepikiran apa-apa"


"Gak mungkin..." beberapa detik kemudian kita terdiam. Noval sibuk sama gadgetnya, begitu juga gue yang sibuk sama game papan online.


"Tapi... Gue masih gak nyangka, gue masih dikasih kehidupan sampe diumur gue yang ke 23" mata Noval mendadak beralih ke gue.


"Emang lu mau mati?"


"Seandainya boleh milih, ya, maunya begitu"


"Terus?"


"Ya... Begitu, toh kalaupun gue mati gak akan ada yang nyari kak... Lagian... Gue bosen hidup" Noval senyum sinis ke gue.


"Kapan lu dewasanya ya, setelah bertahun-tahun kita tinggal lu masih aja begini... Seseorang yang dewasa akan mencoba mencari cara untuk menutupi kekurangannya bukan menunjukan sisi kelemahannya... Mental lu kaya..."


"Chocolate shake, silahkan..." great timing pake banget. Omongan Noval dipotong sama waiter yang naro minuman. Coba kalo gue yang potong omongan dia, udah ditabok sampe berdarah-darah kali.


"Sial... Gue gak ada maksud bilang mental lu kaya ini minuman ya" dia menggelengkan kepala sambil nyuruh gue minum yang tersaji.


"Tapi, Angga, ada perubahan dari lu, meski gak banyak, gue rasa elu udah berubah"


"Oh ya?"


"Pertama kali lu nabrak gue, gue gak pernah nyangka kalau elu orangnya itu begini" gue mulai mendengarkan dia dengan seksama sambil seruput minuman dengan pose bak model iklan.


"Pertama kali gue kenal, lu itu selalu dalam keadaan bahagia, gak gampang putus asa kaya begini, menyembunyikan apa yang elu rasain, bisa nahan emosi dan gak meledak-ledak, sekarang..."


"Gimana?"


"Ada beberapa yang masih sama, ada beberapa hal yang makin parah... Emosi lu gak keatur, mood berubah-ubah, makin ekspresif, dan segudang hal lainnya yang secara gak sadar elu itu bukan Angga yang dulu lagi"


Huh?


"Inget pertama kali kita ketemu?" gue ngangguk.


"Inget kita makan disana?" telunjuk dia nunjuk ke tempat lain yang posisinya gak jauh dari tempat kita makan. "Waktu itu, lu keliatan bahagia"


"Bahagia? Jelaslah kak, gue baru selamet dari kejaran psikopat terus ditraktir pula, siapa yang gak bahagia" dia langsung diem. "Coba kakak bayangin aja, kakak dikejar psikopat terus kakak gak sengaja nabrak orang tinggi, ganteng, badan proporsional, wangi, orang yang berada, terus diajak makan dengan harga yang anak sekolahan gak mampu beli, siapa yang gak bahagia?"


"Gak usah muji" ucap Noval sambil nahan senyum. Pasti seneng dia denger kalimat gue, sampe nahan senyum gak jelas kaya orang lagi nahan boker.


"Tapi emang kenyataannya begitu, gue ketemu sesosok dewa dari Madagaskar waktu itu"


"Di Madagaskar gak ada yang matanya sekecil gue, idiot" well, indirect sentence yang mengakui dia suka sama hiperbola gue.


Waktu itu, gue gak percaya sama orang yang gue tabrak sebaik ini. Insiden memalukan yang berujung gue tinggal bareng Noval. Seorang pengangguran tapi memiliki segalanya apa yang gue mau. Benernya sih kita makin deket setelah pertemuan kedua di waktu dan tempat yang sama saat gue tabrak dia.

Kita dipertemukan oleh sneaker biru yang dipajang di salah satu distro brand terkenal. Gue memang mau sneaker itu karena warna dan bentuknya--yang gue rasa cocok sama kaki gue, gak ada kesan mau memiliki pake banget, toh gue cuma cek harga aja siapa tau dengan uang yang gue kumpulin bisa kebeli.

Ternyata, Noval juga mau barang yang gue pengen. Alhasil, kita berdua gak beli barang itu, malah ngabisin waktu ngobrol di salah satu tempat franchise terkenal. Kita ngakak, sharing segalanya, persis temen yang gak ketemu belasan tahun, dari situ perasaan gue bilang "Noval berbeda, Noval baik".

Gue--jujur tertarik dengan kehidupan yang dia punya, pengangguran yang memiliki segalanya sementara gue--yang posisinya pelajar dan harus kerja malem gak bisa seperti dia. Setiap gue tanya "Kakak kerja apaan emang?" dia cuma yang senyum senyum gak bilang apa-apa.

Dia gak pernah cerita dirinya secara detail, bahkan sampe sekarangpun gue buta sama keluarganya, gue buta apa pekerjaannya, siapa pacarnya, dan gue gak mau cari tau tentang itu. Satu hal yang bikin gue kagum sama dia, dia 'terbuka'.

Mampu menerima perbedaan. Mainstream sih alasannya, tapi hal itu jarang ditemui dari orang orang kebanyakan. Gue sempet kasih warning ke dia kalau gue berbeda dengan anak laki-laki lainnya, dan dia--dengan kecenya bilang "Ya, kamu spesial, orang yang kaya kamu bikin hidup lebih berkesan"

Adalagi kalimat yang sempet bikin gue tercengang. "Dateng ke tempat kakak kalau kamu bingung mau tinggal dimana, rumah kakak selalu terbuka buat kamu"

Semua itu masih gue inget, dan yang bikin gue bersyukur dia masih mau jadi sosok kakak buat gue. Gue sangat bersyukur.

"Silahkan dessertnya" mata dan mulut gue kebuka lebar liat 3 macam makanan penutup dengan bentuk yang super lucu dan tulisan 'Happy Birthday, Angga'.

Sumpah, pertama kalinya gue dapet surprise dari orang yang sekarang duduk disamping gue.

"Jadi lu udah ngerencanain semua ini kak?" Noval ngangguk terus liat gue sambil senyum puas--sedikit bangga dan agak sedikit... Unidentified.

"Ya lah peak, tempat ini mana tau elu ulang taun sekarang"

"Wah, makasih" gue langsung peluk dia, kepala gue diusap dia lembut.

"Seriusan, ini  pertama kalinya elu kasih kejutan diulang taun gue"

"Gak usah banyak omong, dimakan dessertnya terus kita pulang, gue sibuk..."

-***-

Hembusan angin senja mengembalikan gue ke realita dimana beberapa jam lagi gue harus kembali ke tempat itu. Gue harus melakukan pekerjaan gue ditempat itu dan membuat tempat itu semakin sering dikunjungi. Tidak berat seperti yang terdengar--meski tak ada hari libur, toh gue melakukan pekerjaan ini dengan santai dan menikmatinya. Lagipula, gue gak punya bakat selain ini.

Otak gue--sepertinya sudah melemah, gue gak bisa berpikir lebih keras, gue gak bisa hidup dengan tekanan pekerjaan yang tinggi. Jadi, menurut gue pekerjaan ini memang cocok untuk gue--sangat cocok malahan. Gak perlu repot untuk cari tempat foto kopi cuma buat memperbanyak dokumen, atau beli lembaran jilid buku. Pekerjaan gue cuma mengandalkan senyuman, tatapan, musik dan tentunya krat botol alkohol. Ya hanya itu.

Tapi, hari ini tidak mengecewakan. Hari yang bahagia, meski kurang sahabat, keluarga dan orang itu.

Orang itu... Gimana kabarnya orang itu?

Rabu, 22 Juli 2015

Announcement!

I'm back!
Yeay!

So follow my twitter : @fhakubeton
Or add me ass friends on fb : Fajjar Angga Suprapto

Dengan update-an terbaru yang akan saya bagi disini dan di wordpress ^^

#HappyBlogging

Selasa, 05 Agustus 2014

Announcement!

Sebagian blog ini saya pindahkan ke Wordpress (silahkan klik pada kata wordpress)
terima kasih :)
regards
Author.

Senin, 04 Agustus 2014

When...

Story One

Cast : ìš©ì¤€í˜•-양요섭 (Junhyung-Yoseob) of Beast—CMIIW

Genre : Yaoi, Adult
Rate : R

Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.

-***-

'Dimana? Aku mencari mu' 
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.

'Aku dihatimu' 

'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'

Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.

Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.

"Seob-i, kau dimana?" Aku bangkit dari atas kasurku lalu keluar dari kamar. Jun sudah datang, dan aku harus merapihkan kamarku—menyembunyikan semua yang menyangkut tentang dirinya. 

"Ku kira kau pergi, tak ada tanda-tanda kehidupan diruang tamu tadi" ujarnya sembari melewatiku yang berdiri di ambang pintu, aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya. 

Jun duduk diatas kasurku lalu mengeluarkan gitar akustik dari tas yang dibawanya. 

"Dengarlah, aku membuat sebuah lagu romantis" aku mengangguk pelan, duduk dihadapannya lalu menatapnya. Ia membalas tatapan ku dan tersenyum. Jemari Jun mulai memetik senar gitar, melantukan melodi lembut dan nada-nada yang membuat orang lain seperti  merasakan jatuh cinta. 

Lirik pertama ia nyanyikan dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya pada bagian 'bridge' ia fokus pada senar gitar. Ketika petikan gitar masuk pada reff terakhir ia menatapku tajam. 

"Aku bersyukur telah menemukan mu yang membuatku mengerti akan artinya cinta" lirik yang dinyanyikannya sembari tak hentinya memandangiku. Aku bertepuk tangan saat lagu yang Jun mainkan berhenti. 

"Untuk siapa?" Untuk calon kekasihku" jawabnya sembari menaruh gitar disampingnya. 

DEG , calon kekasih? Aku? Aku menyimpulkan senyuman kecil di wajahku.

"Kau pernah bertemu dengan gadis di ujung komplek ini? Dia begitu cantik" aku terdiam,senyumanku perlahan menghilang. 

"Akan ku nyanyikan lagu ciptaan ku dihadapannya" senyumanku benar-benar menghilang. 

"Akan kunyatakan padanya, diterima atau tidak, yang jelas sudah kunyatakan perasaanku" dadaku berdegup kencang, tubuhku bergetar pelan, mataku memanas.

Benarkah dengan kalimat yang baru saja kudengar? Astaga, aku lupa jika ia memiliki kehidupan yang normal. Tapi, tak adakah rasa cintanya yang dapat dibagikan padaku? Maksudku, selama ini aku selalu ada untuknya, memberikan perhatian untuknya, dan benar-benar tak pernah pergi meninggalkannya. Jun, dapatkah kau bagi perasaan mu padaku sedikit saja untuk ku? 

-***- 

Aku menatap cermin, membenahi diri dan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan pakaian yang ku kenakan—pakaian yang Jun pernah katakan 'terlihat sangat menawan' ketika aku memakainya. Aku harus berusaha menerima apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, aku berusaha untuk tidak menunjukan rasa kesal dan cemburuku pada Jun. 

Disini, aku harus profesional dan tidak ingin menghancurkan rencananya—menyatakan rasa suka Jun pada gadis yang dikenal dengan panggilan GaYoon. Tapi, apakah aku sanggup? 

Aku menarik nafas panjang, dan menenangkan diri. Baiklah, setidaknya aku tak akan kehilangan Jun jika ia benar-benar diterima cintanya. 

'Dimana kau? Aku sudah menunggumu' 

Ku baca pesan yang baru saja masuk. Aku membalasnya dan menyuruhnya untuk menunggu, dan aku tak mendapat balasan darinya. Aku tak yakin, jika aku akan kuat. 

-***- 

Raut sedih benar-benar tak dapat disembunyikan olehnya ketika ia benar-benar ditolak oleh gadis itu. Sejujurnya, aku senang namun saat memandang wajahnya, aku menjadi sangat tidak tega. Andai saja ia menyatakan pada orang yang tepat mungkin ia tak akan seperti ini—maksudku jika ia mengatakan padaku mungkin aku tak akan melihat wajahnya yang muram.

Kami menghabiskan malam di kedai soju dekat dengan perumahannya dan memesan hampir 2 lusin untuk dibawa pulang. 

"Saatnya berpesta, Seob-iya" ujarnya yang hampir mabuk. Sepanjang perjalanan Jun mengoceh, sementara aku tidak menghiraukannya dan fokus memapah tubuhnya hingga masuk ke dalam kamar. 

"Aku begitu bodoh" ujarnya ditengah tawaan yang terdengar sangat terpaksa. 

"Kenapa aku bisa menyukai gadis tolol sepertinya" 

"Sudahlah" ujarku, ku lihat ia kembali membuka botol soju yang masih utuh dan langsung menenggaknya. 

"YA!" Aku membentaknya, "Hentikan!" 

Jun menatapku sinis, lalu memutar bola matanya. 

"Kenapa?" 

"Hentikanlah, kau sudah mabuk" 

"Lalu?" 

"Eiy… aku…" 

"Cih, kau terlalu bawel" aku terdiam ketika Jun memotong kalimatku. "Kau seperti kekasihku saja, membentakku, memarahiku, menyuruhku ini itu, ah… kau benar-benar seperti kekasih yang ku dambakan… jangan-jangan kau menyukaiku tetapi aku tak sadar" lanjutnya diselingi tawa kencang. 

Aku terdiam—benar-benar diam tanpa melakukan apapun. Jun tersedak saat—hampir menghabiskan setengah botol soju. 

"Ah, sial" Jun mengumpat, aku mendekatinya. 

"Sudahlah" Jun menatapku. 

Tatapan kami bertemu, namun aku segera membuang muka. 

"Istirahatlah" ujarku, aku bangkit lalu merapihkan tempat tidurnya. Aku menoleh ketika tangan Jun menarik lenganku hingga aku jatuh terduduk dihadapannya. 

-***- 

Nafasnya mengenai philtrum[1] milikku ketika kami saling bertatapan. Mata Jun sedikit memerah, dan tercium alkohol yang begitu kuat dari hembusan nafasnya. 

"J… Jun" ucapku gugup sebelum Jun mencium ku. 

Ya, Junhyung menciumku tepat dibibirku. Tangannya menggenggam kepalaku, menekan dan menciumku semakin dalam. Bibirku digigit lembut dan terkadang ia menghisap lidahku. Tubuhku terdorong hingga berbaring saat ia menciumku begitu dalam. 

Tubuhnya menindihku, seperti aku tempat tidurnya. 

Kurasakan selangkangannya mulai menegang dan membuat tonjolan kecil, menggesek perut dan selangkanganku. Ciumannya semakin liar, tangannya mulai berani meremas dadaku. 

"Eungh... Jun…" ia hanya menatapku lalu membuka bajunya dan celananya, menyisakan cawat yang
menutupi kemaluannya yang tegang. 

Segera, ia kembali menindih ku dan menciumku dengan tangan yang meremas-remas selangkanganku. Aku terbang hanya dengan ciumannya, remasan tangannya membuat tubuhku melengkung meski ia menindihku dan menahan mulutku dengan ciumannya. Aku 'turn on' karena perlakuannya. 

Puas menghisap bibir dan lidahku, Jun menelanjangiku—tanpa menyisakan apapun dan ia membuka cawatnya. menindihku, hanya saja kepalanya berada di kemaluanku begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehangatan pada kemaluanku dan buah pelirku. Aku terkejut ketika mulutnya memanjakan kemaluanku dengan kulumannya. Lidahnya lihai menjilat, dan memainkan lubang kencingku yang basah. Jun benar-benar seperti bocah yang baru menemukan mainan baru, sementara aku kebingungan dengan kemaluan Jun yang menyenggol pipi dan hidungku sementara precum miliknya menempel pada wajahku dan begitu menyengat namun entah darimana ada dorongan untukku menghisap kemaluannya. 

-***- 

Jun menghentikan hisapannya, dan menaik-turunkan pantatnya dengan kemaluan yang berada dalam kulumanku. Erangan Jun terdengar meski ia masih mengulum kemaluanku. Jun seperti menyenggamai mulutku dengan kemaluannya, aku hampir tersedak karena ia terlalu bersemangat. 

"Hen… hentikan" ucap Jun sebelum mencabut kemaluannya. Ia menyandarkan diri di dinding, lalu menarik tubuhku. Bibirku kembali menjadi sasarannya setelah  tubuh kami berdekatan, kemaluan kamu bertemu—saling mengadu dan menggesek hingga bertukar precum. 

Tubuh kami basah akan keringat, namun itu yang membuat Jun semakin bersemangat. Tangan kanannya mengusap punggungku sementara tangan kirinya merangsang lubang analku dengan jarinya Aku mendorong tubuhnya, melepaskan ciumannya dan mengerang ketika jari tengahnya berhasil menembus lubangku. 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan menyandarkan kepalaku dikepalanya. Kepala Jun terbenam didadaku, mulutnya menghisap dan lidahnya bermain diputing dadaku.Gigitan lembutnya membuat jemariku refleks menarik rambutnya, sementara pemanasan dilubang pantatku belum berhenti hingga 3 jari sukses bersarang dilubang pembuanganku. Kemaluanku melemas, walaupun tak kupungkiri precum masih tetap mengalir dari ujung kemaluanku. 

-***- 

Aku menahan teriakan dengan menggigit bibirku ketika kemaluan Jun berusaha menembus tubuhku, terasa perih dan begitu panas. Ketika, tubuhku sukses dimasuki olehnya, Jun memandangku sendu dengan senyuman kecil yang menggantung di wajahnya. 

"Bertahanlah…" ujarnya setelah kemaluan Jun benar-benar tenggelam dalam tubuhku. Tangannya menggenggam kedua belah pantatku, sedikit meremasnya dan membantuku menaik-turunkan tubuh sementara kepalanya membuat tanda merah disekitar dadaku, dan terkadang menggigit pelan dadaku. 

Perutku benar-benar terisi penuh seakan aku hendak buang air. Kemaluanku menempel diperutnya membuat gesekan—perlahan namun pasti yang membuat kemaluan ku menegang. Erangan kami  memenuhi ruangan dan saling mengisi. Aku mengeratkan lingkaran tanganku ketika Jun berusaha bangkit dan menggendong tubuhku. 

Ia memepetku ke dinding dan kembali menggerakkan tubuhnya. Kali ini, ia mencumbuiku lebih ganas dan terkadang menggigit lidahku. Puting dadanya menggesek dadaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang membuat kemaluanku semakin mengalirkan precum. Tanganku diangkatnya lalu ia menciumi ketiakku. 

Aku melenguh pelan, membuatnya semakin ganas dan memperlakukan ku semakin liar. Ia mencabut kemaluannya, menurunkan tubuhku dan dibaringkan di atas kasurnya. Diangkatnya kakiku, dibukanya lebar dan ia kembali memasukan kemaluannya—yang kepalanya sudah memerah dan berkedut. Tanpa aba-aba ia memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo yang sangat cepat sembari menciumiku. Kemaluanku terjepit di perutnya. 

-***- 

"Argh! Aku… Sampai" bisikku ditengah permainan. 

"Tunggu aku…" tangannya merancap kemaluanku. 

Genggaman tangannya erat dan tidak membuatku sakit saat dirancap. Ku rasakan kemaluannya berkedut dan mengembang dalam tubuhku. 

"Ngargh!... Aku sampai…" ucapnya sebelum ia mencabut kemaluannya dan ditempelkan dikemaluanku. 

Kedua tangannya menggenggam kemaluan kami lalu dikocoknya dengan cepat. 

"Argh!" Erangnya sesaat sperma sukses keluar bersamaan dengan spermaku.

-***- 

'Kenapa kau menjauhiku?' Aku membanting ponsel pintarku ke sudut kamar, dan tak berniat membalas pesan singkat yang masuk. Jun terus memberiku pesan masuk, dan aku tak pernah membalasnya. 

Konyol memang, namun aku ingin memberi pengertian padanya jika aku bukanlah pelampiasan, meskipun aku menikmati permainannya malam itu. 

Aku sengaja tak membawa ponselku keluar rumah, tapi langkahku terhenti saat kudengar alunan melodi gitar yang sangat kuhafal. Aku menoleh ke sekelilingku namun tak kutemukan sumber suara.
Aku mengitari rumahku dan aku juga tak menemukan apapun. 

"Saranghae…" aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku lalu memberikanku seikat mawar. Aku memandangi orang yang ada dihadapanku—ia berpakaian begitu rapih hingga aku tak mengenalinya. Astaga, orang ini penuh dengan kejutan. 

"Jeongmal saranghae…" ujarnya lagi sebelum ia tertawa sendiri karena 'aegyo' yang tak pernah ia lakukan. Jun, tanpa aegyopun kau sudah menempati yang kosong dalam hatiku. 

Hanya saja, aku belum dapat menerimamu, karena aku ragu jika aku masih dalam bayangan gadis itu… 

-End-

[BONUS]

Aku terbangun saat sinar matahari mengenai pipi ku melalui celah jendela, aku bangkit dan memandang ke samping kananku. Kulihat Yoseob sedang tertidur pulas dengan piyama milikku. Aku bergegas ke arah kamar mandi untuk membilas wajah.

ASTAGA.

Aku telanjang tanpa sehelai benang. Apa yang terjadi semalam? Apa aku meniduri Yoseob? Benarkah aku menidurinya?

Aku tak menyangka akan melakukannya pada Yoseob. Semoga ia memaafkanku dan melupakan kejadian tadi malam. Karena sejujurnya, aku belum ingat apa yang terjadi semalam.

-***-

"Aku pulang..."

Apa?

"Maaf... beberapa hari kedepan aku tak bisa menemui mu"

Benarkah yang kudengar?

"Jangan cari aku" ujarnya lagi sebelum ia pergi meninggalkan ku.

Yang Yoseob, ia marah padaku? Aku benar-benar brengsek. Astaga apa yang harus ku lakukan...

[Continue to next part]

Rabu, 14 Mei 2014

Angga, is Still My Name (Ep. 2)

"Bu..." aku mendekati ibu yang sedang mencuci piring, aku berdiri disampingnya.

"Ya, kenapa?"

"Boleh aku kembali ke ibukota?" kulihat ibu terdiam sesaat, lalu kembali mencuci piring.

"Boleh bu?"

"Untuk apa? Mendapatkan kembali apa yang telah kau lepaskan?"

Aku terdiam. Ibu memandangku, lalu mengeringkan tangannya dengan lap disamping westafel.

"Sudah sadar dengan apa yang kemarin telah kau lakukan?" aku masih diam.

Ibu melangkah ke meja makan dan membersihkan sisa kotoran makanan yang tertinggal.

"Ibu lelah berperan, nak... Peran ibu terlalu aneh, ibu harus berpura-pura menerima Noval meski kau mengetahui betapa bencinya ibu pada Noval, belum lagi dengan wanita yang mengaku ibunya Angga" ibu terdiam sesaat, memandangku, lalu kembali merapihkan meja makan.

"Ibu tak ingin lagi berpura-pura, kau meminta restu ibu untuk berhubungan dengan Angga dan ibu sudah merestui kalian, tapi kenapa kau begitu bodoh, nak" aku membisu mendengarkan ocehan ibu.

"Dengar, andai saja kau hanya membawanya kemari tanpa memiliki rencana untuk membuat Angga dan Noval berbaikan, mungkin kini Angga membantu ibu merapihkan meja makan ini" ibu melangkah ke arahku, memandangku lekat-lekat.

"Ibu sudah tua, ibu banyak kekurangan, ibu tak ingin mengatur jalan hidupmu, jadi..." ibu mengusap wajahku.

"Izinkan ibu fokus beristirahat, menikmati masa tua yang orang lain katakan indah..." ibu mencubit pipi, hidungku lalu mengecup keningku.

"Sudahlah, ibu harus mengurus adikmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ibu sambil tersenyum padaku sebelum pergi melangkah ke ruang tengah.

Hatiku teriris mendengar kalimat ibu. Aku benar-benar merasa bersalah.

Aku baru mengetahui kekesalan ibu, jujur saja, saat aku mengatakan rencanaku pada ibu tentang Angga, ibu merespon dengan baik. Bahkan saat Noval ku kenalkan melalui fotoㅡsebelum Noval datang kerumah, respon ibu pula biasa saja.

Aku memaksa ibu untuk menerima Noval, aku juga memaksa Angga untuk berbaikan dengan Noval, tapi aku tak pernah berpikir perasaan mereka yang terpaksa.

Konyol. Aku begitu idiot.

Aku seakan terjerumus dilubang yang begitu dalam. Aku tak dapat naik keatas setelah masuk ke dalam.

Astaga, aku benar-benar bodoh.

-***-

"Kak, kak, kak Angga lagi apa ya? Joan kangen kak Angga" aku membelalakan mataku mendengar ocehan Johan yang duduk diatas pangkuan pahaku.

Matanya berbinar, memohon padaku agar menjawab pertanyaannya.

"Johan kangen?" tanyaku balik.

"Ya, Joan mau main lagi sama kak Angga" aku terdiam, aku memandang wajah Ressa yang menatapku dari kejauhan.

Ressa hanya tersenyum.

"Ya udah, nanti kakak bawa kak Angga main kesini" ujarku lemas.

"Jangan boong ya, awas aja" ancam Johan. Aku tersenyum, mengangguk mengiyakan.

"Johan, udah malem sayang, bobo yuk" terdengar suara ibu dari arah belakangku.

"Ya bu!" jawab Johan dengan nada riang.

Johan berdiri lalu berlari ke arah ibu dan memeluknya. Ibu melangkah ke arah kamar Johan dengan menggendong Johan didadanya.

Ku lihat Ressa menahan tawa, lalu bergerak ke arahku dan duduk disampingku.

"Belum melepas topeng, kak?" tanya Ressa.

"Topeng apa?" Ressa terkekeh.

"Kenapa kau jawab ya sementara aku yakin kau tak akan mungkin sanggup membawa Angga"

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Aku bukan Johan yang polos, kak. Aku Ressa, yang sudah memiliki kartu tanda penduduk, kau harusnya paham itu"

"Lalu?"

"Kau bodoh kak..."

"Apa maksudnya?"

"Kau seharusnya mendengar kalimatku dan melepas topeng mu, tak malukah jika kau nanti harus berbohong lagi pada adikmu?" aku terdiam.

"Untuk sekarang mungkin kau akan berkata jika Angga seperti ini, seperti itu pada Johan, tapi lihat nanti, Johan akan menuntut janji mu dan pasti memaksamu untuk mempertemukannya dengan Angga"

"Tapi..."

"Ada pengaruhnya, meski Angga bukan anggota keluarga tapi Johan sudah menganggap jika Angga bagian dari hidupnya" mataku terbuka lebar, Ressa seperti dapat membaca pikiran ku.

Kalimat-kalimat yang diucapkan adik perempuanku ini, seperti menjawab pertanyaan dalam benakkuㅡwalau aku tidak mengatakannya.

"Kau lebih jauh dewasa dariku, pahami kalimatku, meski sebenarnya aku tertekan karena kakak ku satu-satunya memilih laki-laki daripada perempuan" Ressa tersenyum pelan, lalu berdiri.

"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan mungkin memang inilah yang terbaik" Ressa melangkah meninggalkanku.

"Tidurlah, walau aku yakin kau tak akan mungkin bisa terlelap" ucapnya sebelum benar-benar menghilang.

Terdengar gelak tawa dari televisi mengisi kesunyian ruang tengah, sementara aku membisu memandang kosong televisi dihadapanku.

-TBC-

Angga, is Still My Name (Ep. 1)

Aku tak berhenti menatapi langit malam, dan mulutku terus mengucapkan kalimat penyesalan. Aku sungguh bodoh.

Semua hal yang kurencanakan hancur begitu saja, tanpa ada satupun yang berhasil.

Andai saja hari ini dapat terulang, aku tak akan membiarkan Angga pergi dari hidupku. Akan ku tahan Noval, dan menyuruhnya pergi tanpa membawa Angga.

Aku benar-benar menyesal.

"Apa yang kau sesali?" aku membalikan tubuh, dan mataku terbuka lebar.

Angga masih disini! Angga masih ada disini!

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi, ia mendekatiku lalu ikut duduk di kusen jendela bersamaku.

Matanya memandangku. Mata besarnya seakan menelanjangiku, ia seakan menyalahkanku atas apa yang terjadi tadi siang.

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi.

Jantungku berdegup kencang.

"Tak ada..." Angga terkekeh.

"Kau tak pandai menyimpan kebohongan, kurang puaskah kau membuatku menangis kemarin?"

"Aku... Aku tidak..."

"Katakan padaku, apa yang kau sesali?" ia memotong kalimatku.

Aku menghela nafas. Angga benar, aku tak pandai berbohong. Aku pecundang, tak berani mengakui jika aku salah.

Mataku memanas, dadaku terasa sakit dan sesak, jantungku berdegup kencang, aku tak sanggup lagi menahan air mataku.

"Aku... Menyesal dengan yang baru saja terjadi" ucapku.

Air mataku menetes.

"Kenapa kau tak menahan ku? Kenapa kau tak meminta Noval untuk membiarkan aku disini? Kenapa kau membiarkanku pergi darimu? Kenapa..."

"Ku mohon... Berhentilah..." ucapku memotong Angga yang terus bertanya.

Mataku terpaku menatapnya. Ia terdiam, lalu ia berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.

"Kau pecundang, pengecut dan bodoh..." jantungku seakan remuk saat mendengar kalimatnya.

Angin malam berhembus kencang, sementara air mataku mengalir semakin deras.

Angga, kau benar. Aku memang pecundang. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak takut akan resiko apapun yang kau ambil, tetapi aku tak sanggup. Aku tak bisa.

Kau paham jika aku lebih menyukai zona aman dibanding mengambil resiko. Kau benar, aku begitu bodoh. Sangat bodoh.

Maafkan aku.

-***-

"Kak, kau tidak pergi?" pertanyaan Ressa membangunkanku yang termenung didalam kamar.

Ressa berdiri di ambang pintu, memandangku yang duduk di atas kasur.

"Pergi? Kemana?"

"Mengejar cintamu..." ucap Ressa yang berjalan mendekatiku.

"Dulu, kau menasihatiku mengenai cinta yang kurasakan, bolehkah aku menasihatimu sekarang?" Ressa duduk dihadapanku. Rambut panjangnya tergerai indah, Ressa terlihat cantik siang ini.

"Semalam, siapa yang kau tangisi? Kau mengira Angga masih disini?"

Aku diam.

"Aku tak sengaja memergoki mu yang terisak, dan berulang-ulang memanggil Angga, do you love him, right? Kejar cintamu, untuk apa kau disini merenungi kesedihan yang entah kapan akan selesai" aku terdiam. Pipiku seakan ditampar oleh Ressa.

Ressa benar, kenapa aku berdiam diri?

"Ingat kalimat tadi, yang aku ucapkan? Kau berkata hal yang sama padaku, dan aku mengingatnya sampai sekarang. Semoga kau sadar dengan kalimat itu, karena aku langsung tersadar saat aku mendengar nasihat mu" Ressa tersenyum.

"Aku memiliki kakak yang tegar diluar namun rapuh disini..." tangan Ressa menunjuk dadaku.

"Berhenti berpura-pura, karena orang lain lelah melihatmu yang berpura-pura" Ressa berdiri, lalu melangkah keluar kamar.

"Semangat, semoga kau dapat mengejar cintamu" ucapnya.

Aku tersenyum.

"Johan! Itu rok sekolah kakak!" ku dengar Ressa berteriak sebelum pergi meninggalkan ku yang
membisu.

"Johan nakal ya, awas aja kalo minta es krim" masih terdengar suara Ressa yang berteriak, sedangkan aku membisu.

Setelah malam tadi aku membayangkan Angga yang masih ada disini, kini aku merasa tubuhku dihajar oleh Ressa.

Semua yang Ressa ucapkan benar. Aku terlalu nyaman mengenakan topeng kepura-puraan, hingga tak sadar jika aku menginjak tanah.

Aku sudah terbang tinggi dibawa angin kencang.

Astaga, kenapa aku begitu bodoh.

-TBC-