[Another link : http://w.tt/1mBggXX ]
"Happy birthday ya"
Lah, ternyata cuma mau ngucapin selamet doang ke gue. Astaga, terus gue kenapa harus lari dari kamer cuma buat nemuin dia yang leha leha di ruang tengah.
"Tengkyu ya kak" ucap gue senikmat hati dengan ekspresi yang berusaha ga keliatan kalau itu senyuman palsu.
"Gak usah ngedrama, ekspektasi lu pasti lebih dari ucapan kan?"
Boo~ gue ketauan. Anyway Noval emang paling gak bisa gue bohongin, terpaksa gue senyum beneran buat nutupin sebetapa malunya gue.
"Gue gak butuh nyengir kuda lu, nih lu ke kamer gue bawain ini guci, terus balik lagi" dia nunjuk guci yang ada di meha pake kaki sambil nyengir gak jelas.
Lah, sekarang gue disuruh suruh. Orang ini emang seenaknya suruh sana suruh sini. Bener-bener nikmat hidup orang yang ada di depan gue.
"Gue taro dikasur?"
"Mana aja, ditempat yang aman, dan gak kena sentuh elu"
Ck, konyol amat ya ini abang-abang depan gue. Jangan kena sentuh gue, tapi gue yang disuruh simpen. Delapan jempol gue kasih buat troll-an yang dia bikin.
Gue terpaksa nurut sama omongan dia, biar hidup gue selamat, aman, damai dan tentram. Meski setengah hati gue bawa itu guci yang masih kebungkus rapi sama koran, tapi gue gak mungkin ngecewain Noval. Disamping itu, gue memang numpang kok di rumah Noval. Gak aneh kalau memang gue harus memberi apa yang udah gue dapet--beberapa tahun belakangan ini.
Sesaat, kaki gue gak mau ngelanjut masuk karena hembusan angin dari dalem kamer Noval.
Aroma ini...
Aroma yang membawa gue kembali ke 6 tahun yang lalu. Ke waktu dimana gue dan Noval pertama kali ketemu.
Agak kocak sesungguhnya, karena saat itu gue yang lari dari kejaran psikopat--om om bego yang suka banget sama praktek BDSM, gak sengaja nabrak dia dan narik dia keluar dari plaza di bilangan jakarta pusat.
Gue masih inget ekspresi dia yang datar tapi heran mandang gue dengan senyuman yang gak berubah sampe sekarang.
"Ngapain lu berdiri depan kamer gue?" gue langsung nengok kearah sumber suara, di depan gue, Noval udah silangin tangan aja sambil liatin sinis gue. "Ada setan dikamer gue?"
Ck, orang itu bener bener gak tau waktu. Gue kan lagi menikmati aroma yang keluar dari kamer dia.
"Kalau udah, langsung keluar, temenin gue service laptop"
Gue cuma tarik nafas panjang saat dia berhasil berlalu sambil teriak "Jangan lama!"
Noval masih sama. Ya, sama seperti dulu... Sama seperti dimana gue kenal sama dia pertama kali.
-***-
"Lu mau apa, heum?" gue gak jawab pertanyaan Noval, mata gue fokus sama menu yang ada ditangan gue, nyari tulisan yang berhubungan dengan makanan pedas.
"Mas, saya pesan dua ini, terus ini, terus yang ini juga, minumnya yang ini sama ini, dessertnya ini, ini, sama ini, dessertnya tunggu kabar dari saya ya" gue turunin tangan gue, mata gue langsung tertuju sama Noval yang lagi ngobrol sama waiter.
Wait, what? Hello, gue belum pesen dia udah asal pilih aja. Dasar kolot gak mau dengerin opini anak muda.
"Kak... Gue belum..."
"Gue udah pesenin" ujar dia setelah waiter pergi, dia mandang gue dengan senyuman yang menggantung.
"Udah, pasti elu suka, percaya sama abang lu" gue cuma bisa muterin bola mata gue kalo Noval udah kepedean kaya gini.
"Jadi, udah make a wish?"
"Siapa?"
"Tukang parkir alfamart, kan elu yang ulang tahun, peak"
"Gak buat..."
"Lah kenapa?"
"Gak tau, belum kepikiran apa-apa"
"Gak mungkin..." beberapa detik kemudian kita terdiam. Noval sibuk sama gadgetnya, begitu juga gue yang sibuk sama game papan online.
"Tapi... Gue masih gak nyangka, gue masih dikasih kehidupan sampe diumur gue yang ke 23" mata Noval mendadak beralih ke gue.
"Emang lu mau mati?"
"Seandainya boleh milih, ya, maunya begitu"
"Terus?"
"Ya... Begitu, toh kalaupun gue mati gak akan ada yang nyari kak... Lagian... Gue bosen hidup" Noval senyum sinis ke gue.
"Kapan lu dewasanya ya, setelah bertahun-tahun kita tinggal lu masih aja begini... Seseorang yang dewasa akan mencoba mencari cara untuk menutupi kekurangannya bukan menunjukan sisi kelemahannya... Mental lu kaya..."
"Chocolate shake, silahkan..." great timing pake banget. Omongan Noval dipotong sama waiter yang naro minuman. Coba kalo gue yang potong omongan dia, udah ditabok sampe berdarah-darah kali.
"Sial... Gue gak ada maksud bilang mental lu kaya ini minuman ya" dia menggelengkan kepala sambil nyuruh gue minum yang tersaji.
"Tapi, Angga, ada perubahan dari lu, meski gak banyak, gue rasa elu udah berubah"
"Oh ya?"
"Pertama kali lu nabrak gue, gue gak pernah nyangka kalau elu orangnya itu begini" gue mulai mendengarkan dia dengan seksama sambil seruput minuman dengan pose bak model iklan.
"Pertama kali gue kenal, lu itu selalu dalam keadaan bahagia, gak gampang putus asa kaya begini, menyembunyikan apa yang elu rasain, bisa nahan emosi dan gak meledak-ledak, sekarang..."
"Gimana?"
"Ada beberapa yang masih sama, ada beberapa hal yang makin parah... Emosi lu gak keatur, mood berubah-ubah, makin ekspresif, dan segudang hal lainnya yang secara gak sadar elu itu bukan Angga yang dulu lagi"
Huh?
"Inget pertama kali kita ketemu?" gue ngangguk.
"Inget kita makan disana?" telunjuk dia nunjuk ke tempat lain yang posisinya gak jauh dari tempat kita makan. "Waktu itu, lu keliatan bahagia"
"Bahagia? Jelaslah kak, gue baru selamet dari kejaran psikopat terus ditraktir pula, siapa yang gak bahagia" dia langsung diem. "Coba kakak bayangin aja, kakak dikejar psikopat terus kakak gak sengaja nabrak orang tinggi, ganteng, badan proporsional, wangi, orang yang berada, terus diajak makan dengan harga yang anak sekolahan gak mampu beli, siapa yang gak bahagia?"
"Gak usah muji" ucap Noval sambil nahan senyum. Pasti seneng dia denger kalimat gue, sampe nahan senyum gak jelas kaya orang lagi nahan boker.
"Tapi emang kenyataannya begitu, gue ketemu sesosok dewa dari Madagaskar waktu itu"
"Di Madagaskar gak ada yang matanya sekecil gue, idiot" well, indirect sentence yang mengakui dia suka sama hiperbola gue.
Waktu itu, gue gak percaya sama orang yang gue tabrak sebaik ini. Insiden memalukan yang berujung gue tinggal bareng Noval. Seorang pengangguran tapi memiliki segalanya apa yang gue mau. Benernya sih kita makin deket setelah pertemuan kedua di waktu dan tempat yang sama saat gue tabrak dia.
Kita dipertemukan oleh sneaker biru yang dipajang di salah satu distro brand terkenal. Gue memang mau sneaker itu karena warna dan bentuknya--yang gue rasa cocok sama kaki gue, gak ada kesan mau memiliki pake banget, toh gue cuma cek harga aja siapa tau dengan uang yang gue kumpulin bisa kebeli.
Ternyata, Noval juga mau barang yang gue pengen. Alhasil, kita berdua gak beli barang itu, malah ngabisin waktu ngobrol di salah satu tempat franchise terkenal. Kita ngakak, sharing segalanya, persis temen yang gak ketemu belasan tahun, dari situ perasaan gue bilang "Noval berbeda, Noval baik".
Gue--jujur tertarik dengan kehidupan yang dia punya, pengangguran yang memiliki segalanya sementara gue--yang posisinya pelajar dan harus kerja malem gak bisa seperti dia. Setiap gue tanya "Kakak kerja apaan emang?" dia cuma yang senyum senyum gak bilang apa-apa.
Dia gak pernah cerita dirinya secara detail, bahkan sampe sekarangpun gue buta sama keluarganya, gue buta apa pekerjaannya, siapa pacarnya, dan gue gak mau cari tau tentang itu. Satu hal yang bikin gue kagum sama dia, dia 'terbuka'.
Mampu menerima perbedaan. Mainstream sih alasannya, tapi hal itu jarang ditemui dari orang orang kebanyakan. Gue sempet kasih warning ke dia kalau gue berbeda dengan anak laki-laki lainnya, dan dia--dengan kecenya bilang "Ya, kamu spesial, orang yang kaya kamu bikin hidup lebih berkesan"
Adalagi kalimat yang sempet bikin gue tercengang. "Dateng ke tempat kakak kalau kamu bingung mau tinggal dimana, rumah kakak selalu terbuka buat kamu"
Semua itu masih gue inget, dan yang bikin gue bersyukur dia masih mau jadi sosok kakak buat gue. Gue sangat bersyukur.
"Silahkan dessertnya" mata dan mulut gue kebuka lebar liat 3 macam makanan penutup dengan bentuk yang super lucu dan tulisan 'Happy Birthday, Angga'.
Sumpah, pertama kalinya gue dapet surprise dari orang yang sekarang duduk disamping gue.
"Jadi lu udah ngerencanain semua ini kak?" Noval ngangguk terus liat gue sambil senyum puas--sedikit bangga dan agak sedikit... Unidentified.
"Ya lah peak, tempat ini mana tau elu ulang taun sekarang"
"Wah, makasih" gue langsung peluk dia, kepala gue diusap dia lembut.
"Seriusan, ini pertama kalinya elu kasih kejutan diulang taun gue"
"Gak usah banyak omong, dimakan dessertnya terus kita pulang, gue sibuk..."
-***-
Hembusan angin senja mengembalikan gue ke realita dimana beberapa jam lagi gue harus kembali ke tempat itu. Gue harus melakukan pekerjaan gue ditempat itu dan membuat tempat itu semakin sering dikunjungi. Tidak berat seperti yang terdengar--meski tak ada hari libur, toh gue melakukan pekerjaan ini dengan santai dan menikmatinya. Lagipula, gue gak punya bakat selain ini.
Otak gue--sepertinya sudah melemah, gue gak bisa berpikir lebih keras, gue gak bisa hidup dengan tekanan pekerjaan yang tinggi. Jadi, menurut gue pekerjaan ini memang cocok untuk gue--sangat cocok malahan. Gak perlu repot untuk cari tempat foto kopi cuma buat memperbanyak dokumen, atau beli lembaran jilid buku. Pekerjaan gue cuma mengandalkan senyuman, tatapan, musik dan tentunya krat botol alkohol. Ya hanya itu.
Tapi, hari ini tidak mengecewakan. Hari yang bahagia, meski kurang sahabat, keluarga dan orang itu.
Orang itu... Gimana kabarnya orang itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar