Tampilkan postingan dengan label NC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NC. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

When...

Story One

Cast : 용준형-양요섭 (Junhyung-Yoseob) of Beast—CMIIW

Genre : Yaoi, Adult
Rate : R

Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.

-***-

'Dimana? Aku mencari mu' 
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.

'Aku dihatimu' 

'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'

Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.

Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.

"Seob-i, kau dimana?" Aku bangkit dari atas kasurku lalu keluar dari kamar. Jun sudah datang, dan aku harus merapihkan kamarku—menyembunyikan semua yang menyangkut tentang dirinya. 

"Ku kira kau pergi, tak ada tanda-tanda kehidupan diruang tamu tadi" ujarnya sembari melewatiku yang berdiri di ambang pintu, aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya. 

Jun duduk diatas kasurku lalu mengeluarkan gitar akustik dari tas yang dibawanya. 

"Dengarlah, aku membuat sebuah lagu romantis" aku mengangguk pelan, duduk dihadapannya lalu menatapnya. Ia membalas tatapan ku dan tersenyum. Jemari Jun mulai memetik senar gitar, melantukan melodi lembut dan nada-nada yang membuat orang lain seperti  merasakan jatuh cinta. 

Lirik pertama ia nyanyikan dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya pada bagian 'bridge' ia fokus pada senar gitar. Ketika petikan gitar masuk pada reff terakhir ia menatapku tajam. 

"Aku bersyukur telah menemukan mu yang membuatku mengerti akan artinya cinta" lirik yang dinyanyikannya sembari tak hentinya memandangiku. Aku bertepuk tangan saat lagu yang Jun mainkan berhenti. 

"Untuk siapa?" Untuk calon kekasihku" jawabnya sembari menaruh gitar disampingnya. 

DEG , calon kekasih? Aku? Aku menyimpulkan senyuman kecil di wajahku.

"Kau pernah bertemu dengan gadis di ujung komplek ini? Dia begitu cantik" aku terdiam,senyumanku perlahan menghilang. 

"Akan ku nyanyikan lagu ciptaan ku dihadapannya" senyumanku benar-benar menghilang. 

"Akan kunyatakan padanya, diterima atau tidak, yang jelas sudah kunyatakan perasaanku" dadaku berdegup kencang, tubuhku bergetar pelan, mataku memanas.

Benarkah dengan kalimat yang baru saja kudengar? Astaga, aku lupa jika ia memiliki kehidupan yang normal. Tapi, tak adakah rasa cintanya yang dapat dibagikan padaku? Maksudku, selama ini aku selalu ada untuknya, memberikan perhatian untuknya, dan benar-benar tak pernah pergi meninggalkannya. Jun, dapatkah kau bagi perasaan mu padaku sedikit saja untuk ku? 

-***- 

Aku menatap cermin, membenahi diri dan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan pakaian yang ku kenakan—pakaian yang Jun pernah katakan 'terlihat sangat menawan' ketika aku memakainya. Aku harus berusaha menerima apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, aku berusaha untuk tidak menunjukan rasa kesal dan cemburuku pada Jun. 

Disini, aku harus profesional dan tidak ingin menghancurkan rencananya—menyatakan rasa suka Jun pada gadis yang dikenal dengan panggilan GaYoon. Tapi, apakah aku sanggup? 

Aku menarik nafas panjang, dan menenangkan diri. Baiklah, setidaknya aku tak akan kehilangan Jun jika ia benar-benar diterima cintanya. 

'Dimana kau? Aku sudah menunggumu' 

Ku baca pesan yang baru saja masuk. Aku membalasnya dan menyuruhnya untuk menunggu, dan aku tak mendapat balasan darinya. Aku tak yakin, jika aku akan kuat. 

-***- 

Raut sedih benar-benar tak dapat disembunyikan olehnya ketika ia benar-benar ditolak oleh gadis itu. Sejujurnya, aku senang namun saat memandang wajahnya, aku menjadi sangat tidak tega. Andai saja ia menyatakan pada orang yang tepat mungkin ia tak akan seperti ini—maksudku jika ia mengatakan padaku mungkin aku tak akan melihat wajahnya yang muram.

Kami menghabiskan malam di kedai soju dekat dengan perumahannya dan memesan hampir 2 lusin untuk dibawa pulang. 

"Saatnya berpesta, Seob-iya" ujarnya yang hampir mabuk. Sepanjang perjalanan Jun mengoceh, sementara aku tidak menghiraukannya dan fokus memapah tubuhnya hingga masuk ke dalam kamar. 

"Aku begitu bodoh" ujarnya ditengah tawaan yang terdengar sangat terpaksa. 

"Kenapa aku bisa menyukai gadis tolol sepertinya" 

"Sudahlah" ujarku, ku lihat ia kembali membuka botol soju yang masih utuh dan langsung menenggaknya. 

"YA!" Aku membentaknya, "Hentikan!" 

Jun menatapku sinis, lalu memutar bola matanya. 

"Kenapa?" 

"Hentikanlah, kau sudah mabuk" 

"Lalu?" 

"Eiy… aku…" 

"Cih, kau terlalu bawel" aku terdiam ketika Jun memotong kalimatku. "Kau seperti kekasihku saja, membentakku, memarahiku, menyuruhku ini itu, ah… kau benar-benar seperti kekasih yang ku dambakan… jangan-jangan kau menyukaiku tetapi aku tak sadar" lanjutnya diselingi tawa kencang. 

Aku terdiam—benar-benar diam tanpa melakukan apapun. Jun tersedak saat—hampir menghabiskan setengah botol soju. 

"Ah, sial" Jun mengumpat, aku mendekatinya. 

"Sudahlah" Jun menatapku. 

Tatapan kami bertemu, namun aku segera membuang muka. 

"Istirahatlah" ujarku, aku bangkit lalu merapihkan tempat tidurnya. Aku menoleh ketika tangan Jun menarik lenganku hingga aku jatuh terduduk dihadapannya. 

-***- 

Nafasnya mengenai philtrum[1] milikku ketika kami saling bertatapan. Mata Jun sedikit memerah, dan tercium alkohol yang begitu kuat dari hembusan nafasnya. 

"J… Jun" ucapku gugup sebelum Jun mencium ku. 

Ya, Junhyung menciumku tepat dibibirku. Tangannya menggenggam kepalaku, menekan dan menciumku semakin dalam. Bibirku digigit lembut dan terkadang ia menghisap lidahku. Tubuhku terdorong hingga berbaring saat ia menciumku begitu dalam. 

Tubuhnya menindihku, seperti aku tempat tidurnya. 

Kurasakan selangkangannya mulai menegang dan membuat tonjolan kecil, menggesek perut dan selangkanganku. Ciumannya semakin liar, tangannya mulai berani meremas dadaku. 

"Eungh... Jun…" ia hanya menatapku lalu membuka bajunya dan celananya, menyisakan cawat yang
menutupi kemaluannya yang tegang. 

Segera, ia kembali menindih ku dan menciumku dengan tangan yang meremas-remas selangkanganku. Aku terbang hanya dengan ciumannya, remasan tangannya membuat tubuhku melengkung meski ia menindihku dan menahan mulutku dengan ciumannya. Aku 'turn on' karena perlakuannya. 

Puas menghisap bibir dan lidahku, Jun menelanjangiku—tanpa menyisakan apapun dan ia membuka cawatnya. menindihku, hanya saja kepalanya berada di kemaluanku begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehangatan pada kemaluanku dan buah pelirku. Aku terkejut ketika mulutnya memanjakan kemaluanku dengan kulumannya. Lidahnya lihai menjilat, dan memainkan lubang kencingku yang basah. Jun benar-benar seperti bocah yang baru menemukan mainan baru, sementara aku kebingungan dengan kemaluan Jun yang menyenggol pipi dan hidungku sementara precum miliknya menempel pada wajahku dan begitu menyengat namun entah darimana ada dorongan untukku menghisap kemaluannya. 

-***- 

Jun menghentikan hisapannya, dan menaik-turunkan pantatnya dengan kemaluan yang berada dalam kulumanku. Erangan Jun terdengar meski ia masih mengulum kemaluanku. Jun seperti menyenggamai mulutku dengan kemaluannya, aku hampir tersedak karena ia terlalu bersemangat. 

"Hen… hentikan" ucap Jun sebelum mencabut kemaluannya. Ia menyandarkan diri di dinding, lalu menarik tubuhku. Bibirku kembali menjadi sasarannya setelah  tubuh kami berdekatan, kemaluan kamu bertemu—saling mengadu dan menggesek hingga bertukar precum. 

Tubuh kami basah akan keringat, namun itu yang membuat Jun semakin bersemangat. Tangan kanannya mengusap punggungku sementara tangan kirinya merangsang lubang analku dengan jarinya Aku mendorong tubuhnya, melepaskan ciumannya dan mengerang ketika jari tengahnya berhasil menembus lubangku. 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan menyandarkan kepalaku dikepalanya. Kepala Jun terbenam didadaku, mulutnya menghisap dan lidahnya bermain diputing dadaku.Gigitan lembutnya membuat jemariku refleks menarik rambutnya, sementara pemanasan dilubang pantatku belum berhenti hingga 3 jari sukses bersarang dilubang pembuanganku. Kemaluanku melemas, walaupun tak kupungkiri precum masih tetap mengalir dari ujung kemaluanku. 

-***- 

Aku menahan teriakan dengan menggigit bibirku ketika kemaluan Jun berusaha menembus tubuhku, terasa perih dan begitu panas. Ketika, tubuhku sukses dimasuki olehnya, Jun memandangku sendu dengan senyuman kecil yang menggantung di wajahnya. 

"Bertahanlah…" ujarnya setelah kemaluan Jun benar-benar tenggelam dalam tubuhku. Tangannya menggenggam kedua belah pantatku, sedikit meremasnya dan membantuku menaik-turunkan tubuh sementara kepalanya membuat tanda merah disekitar dadaku, dan terkadang menggigit pelan dadaku. 

Perutku benar-benar terisi penuh seakan aku hendak buang air. Kemaluanku menempel diperutnya membuat gesekan—perlahan namun pasti yang membuat kemaluan ku menegang. Erangan kami  memenuhi ruangan dan saling mengisi. Aku mengeratkan lingkaran tanganku ketika Jun berusaha bangkit dan menggendong tubuhku. 

Ia memepetku ke dinding dan kembali menggerakkan tubuhnya. Kali ini, ia mencumbuiku lebih ganas dan terkadang menggigit lidahku. Puting dadanya menggesek dadaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang membuat kemaluanku semakin mengalirkan precum. Tanganku diangkatnya lalu ia menciumi ketiakku. 

Aku melenguh pelan, membuatnya semakin ganas dan memperlakukan ku semakin liar. Ia mencabut kemaluannya, menurunkan tubuhku dan dibaringkan di atas kasurnya. Diangkatnya kakiku, dibukanya lebar dan ia kembali memasukan kemaluannya—yang kepalanya sudah memerah dan berkedut. Tanpa aba-aba ia memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo yang sangat cepat sembari menciumiku. Kemaluanku terjepit di perutnya. 

-***- 

"Argh! Aku… Sampai" bisikku ditengah permainan. 

"Tunggu aku…" tangannya merancap kemaluanku. 

Genggaman tangannya erat dan tidak membuatku sakit saat dirancap. Ku rasakan kemaluannya berkedut dan mengembang dalam tubuhku. 

"Ngargh!... Aku sampai…" ucapnya sebelum ia mencabut kemaluannya dan ditempelkan dikemaluanku. 

Kedua tangannya menggenggam kemaluan kami lalu dikocoknya dengan cepat. 

"Argh!" Erangnya sesaat sperma sukses keluar bersamaan dengan spermaku.

-***- 

'Kenapa kau menjauhiku?' Aku membanting ponsel pintarku ke sudut kamar, dan tak berniat membalas pesan singkat yang masuk. Jun terus memberiku pesan masuk, dan aku tak pernah membalasnya. 

Konyol memang, namun aku ingin memberi pengertian padanya jika aku bukanlah pelampiasan, meskipun aku menikmati permainannya malam itu. 

Aku sengaja tak membawa ponselku keluar rumah, tapi langkahku terhenti saat kudengar alunan melodi gitar yang sangat kuhafal. Aku menoleh ke sekelilingku namun tak kutemukan sumber suara.
Aku mengitari rumahku dan aku juga tak menemukan apapun. 

"Saranghae…" aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku lalu memberikanku seikat mawar. Aku memandangi orang yang ada dihadapanku—ia berpakaian begitu rapih hingga aku tak mengenalinya. Astaga, orang ini penuh dengan kejutan. 

"Jeongmal saranghae…" ujarnya lagi sebelum ia tertawa sendiri karena 'aegyo' yang tak pernah ia lakukan. Jun, tanpa aegyopun kau sudah menempati yang kosong dalam hatiku. 

Hanya saja, aku belum dapat menerimamu, karena aku ragu jika aku masih dalam bayangan gadis itu… 

-End-

[BONUS]

Aku terbangun saat sinar matahari mengenai pipi ku melalui celah jendela, aku bangkit dan memandang ke samping kananku. Kulihat Yoseob sedang tertidur pulas dengan piyama milikku. Aku bergegas ke arah kamar mandi untuk membilas wajah.

ASTAGA.

Aku telanjang tanpa sehelai benang. Apa yang terjadi semalam? Apa aku meniduri Yoseob? Benarkah aku menidurinya?

Aku tak menyangka akan melakukannya pada Yoseob. Semoga ia memaafkanku dan melupakan kejadian tadi malam. Karena sejujurnya, aku belum ingat apa yang terjadi semalam.

-***-

"Aku pulang..."

Apa?

"Maaf... beberapa hari kedepan aku tak bisa menemui mu"

Benarkah yang kudengar?

"Jangan cari aku" ujarnya lagi sebelum ia pergi meninggalkan ku.

Yang Yoseob, ia marah padaku? Aku benar-benar brengsek. Astaga apa yang harus ku lakukan...

[Continue to next part]

Senin, 01 Oktober 2012

Chan-Taec



Cast : Taecyon and Chansung of 2PM

- 2PM Chansung-Taecyeon -

Di musim gugur yang dingin Chansung berjalan sendiri ke arah dormnya, entah kenapa ia merasa sangat lesu pikirannya melayang jauh, sedangkan Taec bingung didalam dorm yang merasa kesepian tanpa seorang disana, semua anggota sedang menjalankan kegiatan masing masing.

Taec berusaha menghilangkan kegalauannya dengan bernyanyi. Sedangkan Chansung yang berhenti di tengah taman yang dikelilingi oleh pohon rindang yang berguguran mengambil sebuah kalung perak bertuliskan inisial namanya. Chansung menarik napas.


"Ah... Hyung... Kau membuatku bingung" ujar Chansung sambil memandangi kalung tersebut, Taecyeon yang merasa terpanggil seseorang menoleh kearah sampingnya, mengedarkan pandangannya namun tak ada seorangpun. 

"Chansung-a kapan kau akan pulang" ucapnya pelan "Aku khawatir"

Dilain tempat Chansung melanjutkan perjalanan sambil menggenggam kalung pemberian Taecyon beberapa hari lalu, dengan rasa khawatir yang tinggi, Taecyon bergegas keluar dari dorm berniat mencari Chansung, ia berlari dengan tergegas sampai akhirnya ia melihat Chansung berada tepat didepannya, Chansung hendak menyebrangi jalan raya, namun ia tak melihat sebuah kendaraan sedang melaju kencang ke arahnya, lalu
Taecyon berlari dan berteriak, 

"Chansung-a awas!" Taec mendorong tubuh Chan ke pinggir jalan, membuat mereka terjatuh dengan posisi Taec menindih tubuh Chan. 

"Ya! Apa kau sudah gila?" Taec bangun dan memarahi Chan, Chan yg terkejut ikut bangun dan merapihkan diri. 

"Bodohnya kau!" Taec tatap memarahi Chan, lalu ia menarik tangan Chan masuk ke dalam dorm. Chan yang masih merasa bingung dan bersalah duduk terdiam di sofa, sedangkan Taec membka jaketnya sembari membuatkan noodlecup untuk Chan. 

"Darimana kau?" Tanya taec dari arah dapur, 

"Aku dari taman" jawab Chansung, Chansung kembali membiarkan pikirannya melayang, ia terus memandangi kalung berinisial namanya dan mengacuhkan omelan Taec. Dalam pikiran Chan, apa maksud Taec hyung memberiku kalung ini, kenapa harus aku, kenapa bukan orang lain, didorm ini semuanya lebih dariku. Apa spesialnya aku dimatamu hyung? Chansung terbangun dan memasukan kalungnya kedalam kantung jaket.

"Ya! Kau tidak mendengarkan aku?"

"Aku bukan anak kecil lagi hyung" jawab Chan lesu, Taec melihat Chan sangat lesu hari ini, dalam pikiran Taec Chansung sedang mengalami masalah hebat, aku harus ada disampingnya agar ia tenang. 

Chan melahap noodlecup tanpa semangat, Taec memandanginya, ia perhatikan Chan yang wajahnya memucat.

"Apa kau sakit?" tanya Taec sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Chan, Chan tersedak karna wajah Taec yg memenuhi pandangannya. Chan menahan senyumnya, ia melanjutkan makannya dan mencoba mengacuhkan Taec. Namun Taec terus menatapnya, Chan semakin salah tingkah.

Ia terbatuk, Taec memberinya segelas minuman hangat. 

"Pelan-pelan makannya" dalam hati Chan yang membuat dirinya terbatuk adalah tingkah hyugnya. Ia menghabiskan air minumnya tergesa, membuat alirannya menetes melalui dagunya, Taec mengusapkan tangannya menghapus aliran air di dagu Chan, Chan terpaku. Begitpun Taec, Taec menatap lama wajah Chan dan mendekatkan bibirnya ke bibir Chan, Chan menutup mata dan menjatuhkan gelas digenggmannya, Taec merubah posisi duduknya, bibir Taec mencium bibir lembut Chan, terus dipagutnya bibir Chan, tangan Taec membuka sleting jaket tebal Chan,

Reflek tangan Chan melingkar di pinggang Taec, dengan lama mereka berciuman, tangan Chan mengusap punggung taec lalu masuk kedalam baju hangat Taec, begitupula tangan Taec yang telah berada di dada Chan, Taec bermain dengan nipple Chan nakal.

Membuat Chan semakin geli, Taec melepas ciumannya lalu melepas pakaian Chan, dihisapnya nipple Chan lembut kadang digigitnya nipple Chan.

Chansung mengangkat kepalanya, tangan meremas rambut Taec, tangan Taec sibuk membuka celana Chan dan dirinya. Suasana dingin musim gugur tak terasa oleh mereka, kali ini Taec dan Chan telah sama sama telanjang, Taec mendorong Chan tiduran disofa, Taec menindih C begitu pula jr mereka masing masing, dalam keadaan setengah berdiri, Taec menjepit jr Chan dengan pahanya sembari tetap memanjakan nipple Chan.

Tangan Chan masih memeluk punggung Taec mesra sedangkan tangan Taec menggenggam daging empuk dibelakang jr Chan, 

"Hyungghhh" desah Chan diantara nikmat dan bingung, Chan mendesah hebat, 

"Hyungh aheumphh ahehh" Taec yg mengerti sendiri arti desahan Chan, turun menjilat perut Chan, hingga tepat pada kepala jr Chan, di-licknya dengan pelan kepala jr Chan dengan mesra, kedua kaki Chan dilebarkan, kaki kiri Chan berada dipundak Taec, sedangkan kaki kirinya menjulur kebawah sofa, tanpa babibu Taec melahap jr Chan, 

"Aheunghh, hyungghhh stophh" tolak Chan, Taec tak berhenti sampai situ. Jari tengah taec menembus lubang Chan pelan, menambah knikmatan Chan, jarinya dimasukan seirama dengan hisapan di jr Chan, 

"Hyunghh aku takhh kuathh" tiba tiba Taec memberhentkan aksinya, lalu memaksakan jrnya yang sudah basah masuk kedalam mulut Chan, Chan mengerti keinginan Taec, dan memajukan kepalanya maju mundur. 

Setelah merasa cukup Taec menarik jrnya lalu dengan sergap membasahi lubang Chan dan menciuminya, dengan tenang Taec memasukan jrnya ke dalam lubang Chan, membuat Chan berteriak, 

"Arghhh" khawatir akan teriakan Chan terdengar, Taec langsung mencium bibir Chan dan berperang lidah, hembusan nafas Chan memburu menerpa wajah Taec. Jr Taec sukses menembus pertahanan Chan dan menyesuaikan dengan jepitan lubang Chan, tangan Taec mencubit nipple Chan, wajah mereka memerah, keringat saling membasahi, jr Chan terjepit perut Taec yg memaju mundurkan pinggulnya, semakin menambah ketegangan jr Chan. 

Tangan Chan mengusap kadang mencakar punggung Taec ganas, dengan perlakuan Chan, Taec semakin bersemangat menggenjot lubang Chan, belum dengan jepitannya yang membuat nikmat.

Masih dengan posisi sama, Chan menopang kepalanya dipundak Taec dan membiarkan Taec membuat kissmark dileher Chan.

"Hyunghh, akuhh takkhh tahanhh laghihh" tak berapa lama, jr Chan mengembang dan memncratkan cairannya keperut masing masing Taec yang jrnya terjepit kencang karena orgasme Chan pula merasa akan sampai pada puncaknya, sampai akhirnya ia mencabut dan mengocok jrnya di atas dada Chan, cairan jr Taec keluar dan muncrat ke segala arah. Wajah Chan penuh dengan cairan Taec, lalu Taec membersihkan
cairan itu dengan menjilati wajah Chan dan mengumpulkannya didalam mulut, Taec mencium chan dengan mulut penuh cairan cinta...

-Malamnya-

Chan berdiri di balkon menatap luas pemandangan malam kota Seoul, angin dingin menerpa wajahnya, sembari menggenggam kalung pemberian Taec, Chan bergumam "Apa artinya ini... Apa ia mencintaiku? Apa ia menyayangiku? Perasaan apa ini? Apa aku mencintainya? Kenapa aku?"

Berbagai macam kemungkinan muncul di otak Chan, merasa nyaman dengan terpaan angin diwajahnya Chan bergumam pelan dengan nada I can't dari album lamanya.

"Chan..." Chan terkejut karena Taec kini sudah berada disampingnya, 

"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Taec, Chan diam terpaku menatap wajah Taec, Chan menunjukan kalung perak yang digenggamnya, Taec ikut memandangi, dan tersenyum. Taec mengambil kalung itu Memasangkannya di leher chan dengan jantannya, lalu memeluk Chan dari belakang dengan mesra, 

"Diamerika sebuah kalung menandakan hadiah untuk yg tersayang, dan hyung kasih ini untuk Chanana yang hyung sayang" Taec mencium tengkuk Chan lembut, tanpa diketahui Taec, mata Chan memanas dan menangis, Chan menumpukan tangannya di atas tangan Taec, 

"Gomawo hyung..." Ucapnya pelan. Sambil menundukan wajah, di akhir musim gugur ini, Chan mendapatkan cinta dari Taec, hyungnya, walaupun daun daun kering berguguran, namun sang batang pohon tak akan pernah gugur. Terus berdiri tegak hingga sang batang tak mampu lagi bertahan, sama dengan hati Chan yang walaupun nanti akan gugur, namun ia yakin cinta Taec dan cintanya tak akan pernah gugur, hingga mereka berdua sama sama lelah dengan sendirinya. 

-End of Chan-Taec on 'Fall' Love- 

(Random) Kai-Rain-Seung


Cast : Amber F(x)-Cameo
Kai Exo
Rain
Seung Heon

This story from @NUESTBaekho_YI

Amber : "Kai antarkan ini kerumah tetangga sebelah ya" 

Kai : "Iya hyung (?)"

Amber : *jedotin pala ketembok* 

15 menit kemudian Kai sampai di rumah rain 

Kai : "Misi Qa"

Pintupun tak terkunci Kai masuk dan mendengar erangan dari suatu kamar. Kai pun menengok dan terkejut melihatnya, ternyata Rain sedang difuck oleh Seung Heon. Kai pun mundur perlahan tapi Kai terjatuh dan menimbulkan suara yang kencang. Kaipun mencoba bangun tapi tangannya telah di pegang oleh Rain

Rain : "Mau kemana adik manis"

Kai mencoba berontak tapi Rain membawa paksa Kai ke kamar dan Seung Heon mengunci pintu kamar.

Seung : "Kau harus memuaskan kami adik manis"

Kaipun ketakutan tapi dia tertegun melihat abs Seung and Rain yang sangat besar di tambah jr mereka yg besar dan panjang membuat Kai jadi terangsang Rainpun mengecup bibir Kai mesra Seung menelanjangi Kai dan menjilat jr Kai yang mulai menegang 17cm.

Mulut Rain masih sibuk mencumbu mulut Kai, Seungpun melumat jr dan twinball Kai yg membuat Kai merem melek Rainpun membuat kissmark dileher Kai setelah itu Rainpun berdiri 

Rain : "Isep kontol gue cepetan"

Kaipun mengisap jr Rain yg menegang 25cm

Rain : "Ooh yeah oohh ohhh"

Seungpun menjilati hole Kai dan memasukkan 3 jari sekaligus yang buat Kai kesakitan. Kai tak dapat berteriak karena di mulut sudah ada jr Rain. 

Kai : "Emmph emmphh"

Seung makin bernapsu memainkan hole Kai

Seung : "Hey gantian sekarang kontol ku ingin diisap"

Rainpun melepas jrnya dari mulut Kai dan Seung langsung memasukkan jrnya yang menegang 28cm yang membuat kai hampir tersedak rain tidak tinggal diam jrnya lngsung menembus hole kai yg sempit 

Rain: ooohh aaahh i'm fuck you now

rain memaju mundurkan jr di hole kai yg membuat kai meringis seung pun tak mau tinggal diam dia mencabut jr dari mulut kai dan jr seung pun ikut menembus hole kai 

Seungheon: aaaahh sem aaahh pit aaaaaahhh 

kai pun mengerang kesakitan karna 2jr skaligus masuk kehole'a 

Kai: aaaaaa sakit aaa hyung. seung dan rain menggenjot jrny di hole kai

Rain: aaakhh aaahh yeah emmph Seung: aaaarght aaahh. kai pun menikmati genjotan sambil menggigit bahu seung 

Kai: sa aaahh kit hyung

seung langsung membuat kissmark di leher sambil masih menggenjot 

Rain: aaah aah aku mau kelu aaaah *croo8x* keluar
 Rain pun melepas jr dari hole kai 

Rain: bersihin kontol gue pake mulut lo. kai pun melumat jr rain. seung msh menggenjot hole kai

Seung: aaahh kai aaahh hole lu sem aaahh pit gue suk aaahh a. seung mempercepat gejotan dan jr'a berdenyut di hole kai seung pun menyemburkan cairan di hole kai 

Rain : "Lo belum keluar kai" 

Rain langsung melumat ganas jr Kai hingga Kai mengerang keras.

Kai : "Aaaahh aaahh hyung aaahh"

15 menit kemudian jr Kai mulai berdenyut 

Kai : "Aaaahh hyung aaahh keluar" 

Rain mempercepat emutan dan air pejuh Kai langsung menyembur ke mulut Rain. Rain langsung melepas dan mengecup bibir seung untuk berbagi pejuh Kai. Kai lemas di kasur dengan hole menganga Rain dan Seung Heon tersenyum puas mereka mencium bibir Kai 

Seung : "Thanks hole lo enak banget"

Rain : "Kapan-kapan main lagi ya"

Kai : "Iya hyung walau sakit tpi enak jga"

Mereka kembali berpakaian

Rain : "Udah pulang sana ntar dicariin mamah loh" 

Kai : "Ne" Kaipun pulang dengan perasaan gembira sambil memegang holenya.

-End-