Senin, 04 Agustus 2014

When...

Story One

Cast : 용준형-양요섭 (Junhyung-Yoseob) of Beast—CMIIW

Genre : Yaoi, Adult
Rate : R

Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.

-***-

'Dimana? Aku mencari mu' 
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.

'Aku dihatimu' 

'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'

Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.

Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.

"Seob-i, kau dimana?" Aku bangkit dari atas kasurku lalu keluar dari kamar. Jun sudah datang, dan aku harus merapihkan kamarku—menyembunyikan semua yang menyangkut tentang dirinya. 

"Ku kira kau pergi, tak ada tanda-tanda kehidupan diruang tamu tadi" ujarnya sembari melewatiku yang berdiri di ambang pintu, aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya. 

Jun duduk diatas kasurku lalu mengeluarkan gitar akustik dari tas yang dibawanya. 

"Dengarlah, aku membuat sebuah lagu romantis" aku mengangguk pelan, duduk dihadapannya lalu menatapnya. Ia membalas tatapan ku dan tersenyum. Jemari Jun mulai memetik senar gitar, melantukan melodi lembut dan nada-nada yang membuat orang lain seperti  merasakan jatuh cinta. 

Lirik pertama ia nyanyikan dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya pada bagian 'bridge' ia fokus pada senar gitar. Ketika petikan gitar masuk pada reff terakhir ia menatapku tajam. 

"Aku bersyukur telah menemukan mu yang membuatku mengerti akan artinya cinta" lirik yang dinyanyikannya sembari tak hentinya memandangiku. Aku bertepuk tangan saat lagu yang Jun mainkan berhenti. 

"Untuk siapa?" Untuk calon kekasihku" jawabnya sembari menaruh gitar disampingnya. 

DEG , calon kekasih? Aku? Aku menyimpulkan senyuman kecil di wajahku.

"Kau pernah bertemu dengan gadis di ujung komplek ini? Dia begitu cantik" aku terdiam,senyumanku perlahan menghilang. 

"Akan ku nyanyikan lagu ciptaan ku dihadapannya" senyumanku benar-benar menghilang. 

"Akan kunyatakan padanya, diterima atau tidak, yang jelas sudah kunyatakan perasaanku" dadaku berdegup kencang, tubuhku bergetar pelan, mataku memanas.

Benarkah dengan kalimat yang baru saja kudengar? Astaga, aku lupa jika ia memiliki kehidupan yang normal. Tapi, tak adakah rasa cintanya yang dapat dibagikan padaku? Maksudku, selama ini aku selalu ada untuknya, memberikan perhatian untuknya, dan benar-benar tak pernah pergi meninggalkannya. Jun, dapatkah kau bagi perasaan mu padaku sedikit saja untuk ku? 

-***- 

Aku menatap cermin, membenahi diri dan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan pakaian yang ku kenakan—pakaian yang Jun pernah katakan 'terlihat sangat menawan' ketika aku memakainya. Aku harus berusaha menerima apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, aku berusaha untuk tidak menunjukan rasa kesal dan cemburuku pada Jun. 

Disini, aku harus profesional dan tidak ingin menghancurkan rencananya—menyatakan rasa suka Jun pada gadis yang dikenal dengan panggilan GaYoon. Tapi, apakah aku sanggup? 

Aku menarik nafas panjang, dan menenangkan diri. Baiklah, setidaknya aku tak akan kehilangan Jun jika ia benar-benar diterima cintanya. 

'Dimana kau? Aku sudah menunggumu' 

Ku baca pesan yang baru saja masuk. Aku membalasnya dan menyuruhnya untuk menunggu, dan aku tak mendapat balasan darinya. Aku tak yakin, jika aku akan kuat. 

-***- 

Raut sedih benar-benar tak dapat disembunyikan olehnya ketika ia benar-benar ditolak oleh gadis itu. Sejujurnya, aku senang namun saat memandang wajahnya, aku menjadi sangat tidak tega. Andai saja ia menyatakan pada orang yang tepat mungkin ia tak akan seperti ini—maksudku jika ia mengatakan padaku mungkin aku tak akan melihat wajahnya yang muram.

Kami menghabiskan malam di kedai soju dekat dengan perumahannya dan memesan hampir 2 lusin untuk dibawa pulang. 

"Saatnya berpesta, Seob-iya" ujarnya yang hampir mabuk. Sepanjang perjalanan Jun mengoceh, sementara aku tidak menghiraukannya dan fokus memapah tubuhnya hingga masuk ke dalam kamar. 

"Aku begitu bodoh" ujarnya ditengah tawaan yang terdengar sangat terpaksa. 

"Kenapa aku bisa menyukai gadis tolol sepertinya" 

"Sudahlah" ujarku, ku lihat ia kembali membuka botol soju yang masih utuh dan langsung menenggaknya. 

"YA!" Aku membentaknya, "Hentikan!" 

Jun menatapku sinis, lalu memutar bola matanya. 

"Kenapa?" 

"Hentikanlah, kau sudah mabuk" 

"Lalu?" 

"Eiy… aku…" 

"Cih, kau terlalu bawel" aku terdiam ketika Jun memotong kalimatku. "Kau seperti kekasihku saja, membentakku, memarahiku, menyuruhku ini itu, ah… kau benar-benar seperti kekasih yang ku dambakan… jangan-jangan kau menyukaiku tetapi aku tak sadar" lanjutnya diselingi tawa kencang. 

Aku terdiam—benar-benar diam tanpa melakukan apapun. Jun tersedak saat—hampir menghabiskan setengah botol soju. 

"Ah, sial" Jun mengumpat, aku mendekatinya. 

"Sudahlah" Jun menatapku. 

Tatapan kami bertemu, namun aku segera membuang muka. 

"Istirahatlah" ujarku, aku bangkit lalu merapihkan tempat tidurnya. Aku menoleh ketika tangan Jun menarik lenganku hingga aku jatuh terduduk dihadapannya. 

-***- 

Nafasnya mengenai philtrum[1] milikku ketika kami saling bertatapan. Mata Jun sedikit memerah, dan tercium alkohol yang begitu kuat dari hembusan nafasnya. 

"J… Jun" ucapku gugup sebelum Jun mencium ku. 

Ya, Junhyung menciumku tepat dibibirku. Tangannya menggenggam kepalaku, menekan dan menciumku semakin dalam. Bibirku digigit lembut dan terkadang ia menghisap lidahku. Tubuhku terdorong hingga berbaring saat ia menciumku begitu dalam. 

Tubuhnya menindihku, seperti aku tempat tidurnya. 

Kurasakan selangkangannya mulai menegang dan membuat tonjolan kecil, menggesek perut dan selangkanganku. Ciumannya semakin liar, tangannya mulai berani meremas dadaku. 

"Eungh... Jun…" ia hanya menatapku lalu membuka bajunya dan celananya, menyisakan cawat yang
menutupi kemaluannya yang tegang. 

Segera, ia kembali menindih ku dan menciumku dengan tangan yang meremas-remas selangkanganku. Aku terbang hanya dengan ciumannya, remasan tangannya membuat tubuhku melengkung meski ia menindihku dan menahan mulutku dengan ciumannya. Aku 'turn on' karena perlakuannya. 

Puas menghisap bibir dan lidahku, Jun menelanjangiku—tanpa menyisakan apapun dan ia membuka cawatnya. menindihku, hanya saja kepalanya berada di kemaluanku begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehangatan pada kemaluanku dan buah pelirku. Aku terkejut ketika mulutnya memanjakan kemaluanku dengan kulumannya. Lidahnya lihai menjilat, dan memainkan lubang kencingku yang basah. Jun benar-benar seperti bocah yang baru menemukan mainan baru, sementara aku kebingungan dengan kemaluan Jun yang menyenggol pipi dan hidungku sementara precum miliknya menempel pada wajahku dan begitu menyengat namun entah darimana ada dorongan untukku menghisap kemaluannya. 

-***- 

Jun menghentikan hisapannya, dan menaik-turunkan pantatnya dengan kemaluan yang berada dalam kulumanku. Erangan Jun terdengar meski ia masih mengulum kemaluanku. Jun seperti menyenggamai mulutku dengan kemaluannya, aku hampir tersedak karena ia terlalu bersemangat. 

"Hen… hentikan" ucap Jun sebelum mencabut kemaluannya. Ia menyandarkan diri di dinding, lalu menarik tubuhku. Bibirku kembali menjadi sasarannya setelah  tubuh kami berdekatan, kemaluan kamu bertemu—saling mengadu dan menggesek hingga bertukar precum. 

Tubuh kami basah akan keringat, namun itu yang membuat Jun semakin bersemangat. Tangan kanannya mengusap punggungku sementara tangan kirinya merangsang lubang analku dengan jarinya Aku mendorong tubuhnya, melepaskan ciumannya dan mengerang ketika jari tengahnya berhasil menembus lubangku. 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan menyandarkan kepalaku dikepalanya. Kepala Jun terbenam didadaku, mulutnya menghisap dan lidahnya bermain diputing dadaku.Gigitan lembutnya membuat jemariku refleks menarik rambutnya, sementara pemanasan dilubang pantatku belum berhenti hingga 3 jari sukses bersarang dilubang pembuanganku. Kemaluanku melemas, walaupun tak kupungkiri precum masih tetap mengalir dari ujung kemaluanku. 

-***- 

Aku menahan teriakan dengan menggigit bibirku ketika kemaluan Jun berusaha menembus tubuhku, terasa perih dan begitu panas. Ketika, tubuhku sukses dimasuki olehnya, Jun memandangku sendu dengan senyuman kecil yang menggantung di wajahnya. 

"Bertahanlah…" ujarnya setelah kemaluan Jun benar-benar tenggelam dalam tubuhku. Tangannya menggenggam kedua belah pantatku, sedikit meremasnya dan membantuku menaik-turunkan tubuh sementara kepalanya membuat tanda merah disekitar dadaku, dan terkadang menggigit pelan dadaku. 

Perutku benar-benar terisi penuh seakan aku hendak buang air. Kemaluanku menempel diperutnya membuat gesekan—perlahan namun pasti yang membuat kemaluan ku menegang. Erangan kami  memenuhi ruangan dan saling mengisi. Aku mengeratkan lingkaran tanganku ketika Jun berusaha bangkit dan menggendong tubuhku. 

Ia memepetku ke dinding dan kembali menggerakkan tubuhnya. Kali ini, ia mencumbuiku lebih ganas dan terkadang menggigit lidahku. Puting dadanya menggesek dadaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang membuat kemaluanku semakin mengalirkan precum. Tanganku diangkatnya lalu ia menciumi ketiakku. 

Aku melenguh pelan, membuatnya semakin ganas dan memperlakukan ku semakin liar. Ia mencabut kemaluannya, menurunkan tubuhku dan dibaringkan di atas kasurnya. Diangkatnya kakiku, dibukanya lebar dan ia kembali memasukan kemaluannya—yang kepalanya sudah memerah dan berkedut. Tanpa aba-aba ia memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo yang sangat cepat sembari menciumiku. Kemaluanku terjepit di perutnya. 

-***- 

"Argh! Aku… Sampai" bisikku ditengah permainan. 

"Tunggu aku…" tangannya merancap kemaluanku. 

Genggaman tangannya erat dan tidak membuatku sakit saat dirancap. Ku rasakan kemaluannya berkedut dan mengembang dalam tubuhku. 

"Ngargh!... Aku sampai…" ucapnya sebelum ia mencabut kemaluannya dan ditempelkan dikemaluanku. 

Kedua tangannya menggenggam kemaluan kami lalu dikocoknya dengan cepat. 

"Argh!" Erangnya sesaat sperma sukses keluar bersamaan dengan spermaku.

-***- 

'Kenapa kau menjauhiku?' Aku membanting ponsel pintarku ke sudut kamar, dan tak berniat membalas pesan singkat yang masuk. Jun terus memberiku pesan masuk, dan aku tak pernah membalasnya. 

Konyol memang, namun aku ingin memberi pengertian padanya jika aku bukanlah pelampiasan, meskipun aku menikmati permainannya malam itu. 

Aku sengaja tak membawa ponselku keluar rumah, tapi langkahku terhenti saat kudengar alunan melodi gitar yang sangat kuhafal. Aku menoleh ke sekelilingku namun tak kutemukan sumber suara.
Aku mengitari rumahku dan aku juga tak menemukan apapun. 

"Saranghae…" aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku lalu memberikanku seikat mawar. Aku memandangi orang yang ada dihadapanku—ia berpakaian begitu rapih hingga aku tak mengenalinya. Astaga, orang ini penuh dengan kejutan. 

"Jeongmal saranghae…" ujarnya lagi sebelum ia tertawa sendiri karena 'aegyo' yang tak pernah ia lakukan. Jun, tanpa aegyopun kau sudah menempati yang kosong dalam hatiku. 

Hanya saja, aku belum dapat menerimamu, karena aku ragu jika aku masih dalam bayangan gadis itu… 

-End-

[BONUS]

Aku terbangun saat sinar matahari mengenai pipi ku melalui celah jendela, aku bangkit dan memandang ke samping kananku. Kulihat Yoseob sedang tertidur pulas dengan piyama milikku. Aku bergegas ke arah kamar mandi untuk membilas wajah.

ASTAGA.

Aku telanjang tanpa sehelai benang. Apa yang terjadi semalam? Apa aku meniduri Yoseob? Benarkah aku menidurinya?

Aku tak menyangka akan melakukannya pada Yoseob. Semoga ia memaafkanku dan melupakan kejadian tadi malam. Karena sejujurnya, aku belum ingat apa yang terjadi semalam.

-***-

"Aku pulang..."

Apa?

"Maaf... beberapa hari kedepan aku tak bisa menemui mu"

Benarkah yang kudengar?

"Jangan cari aku" ujarnya lagi sebelum ia pergi meninggalkan ku.

Yang Yoseob, ia marah padaku? Aku benar-benar brengsek. Astaga apa yang harus ku lakukan...

[Continue to next part]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar