Tampilkan postingan dengan label Nano-nano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nano-nano. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

DooSeob Part. II



Part. II

Berusaha menghubungi Doojoon. SMS telepon, udah kulakukan. Hasilnya nihil, ga ada yang dijawab.

Agak sedikit marah, aku menyerah menelepon dia. Kucoba menelepon teman nya, Dongwoon. Aku tau jadwal latihan mereka, jadi kucoba menghubungi temannya dan menanyakan kabar Doojoon. Langsung saja kutelepon Dongwoon

Dongwoon, my best friend. Dia pernah suka padaku. Sejujurnya aku juga suka Dongwoon, gakalah perfect dari Doojoon. Entah, aku suka Doojoon pada awalnya, tapi lama kelamaan, aku menyesal. Doojoon terlalu cuek. Disaat Doojoon cuek, Dongwoon selalu ada buatku.

"Dongwoon-ah, apakah ada Doojoon disana?" tanyaku, berharap Dongwoon bisa mengabariku keadaan Doojoon sekarang.

"Doojoon? Sejam lalu dia pulang dari latihan, dia pulang duluan sih. Katanya bosen latian terus, namjachingu mu itu. Anyway, apa Doojoon ga contact kamu?" tanya Dongwoon penasaran.

"Ani *sigh* he always like that. Woon-ah, bisa temenin aku dirumah? Lagi sendirian nih, jebal" pintaku. Oya, aku sendirian dirumah, tadinya berharap Doojoon bsa menemani. Tapi ~

"N-ne. Chakaman. I'll go now" katanya, terdengar nada excited dri ucapannya.

Dongwoon POV

Doojoon babo ne? *smirk*

Aku langsung berganti pakaian, kuambil yang cukup keren. Menggunakan gel, menyemprotkan parfum, dan sebagainya. Intinya, tampil terbaik untuk Chorong tonight.

Langsung aku melesat turun kebawah, mengambil kunci motor, jaket, dan pergi melesat kerumah Chorong.

Sebenarnya aku sayang Doojoon, sebagai teman. Kalo dia sayang Chorong, aku juga akan senang, tapi engga. Dia menyiakan Chorong, aku yakin Chorong mulai muak sama Doojoon. Kesempatan? Iya. Tapi siapa yang membuka lebar kesempatan itu? Doojoon. Salahku? Iya. Sepenuhnya? Engga.

Tak lama aku sampai dirumah Chorong. Kutelfon dia dari bawah. Saat ku dial, ternyata dia sudah sadar. Ada jeritan "DONGWOON-AH!". Langsung aku menoleh ke arah pintu rumahnya. Terlihat Chorong, dengan baju rumah santainya. Tetap cantik, still dazzling. Doojoon, bego lu nyuekkin yeoja kaya gini.

Chorong POV

Setelah kulihat Dongwoon di luar pagar rumahku memegang handphone, aku langsung berteriak memanggil "DONGWOON-AH!"

Begitu dia menoleh ke arahku. Dor. Dia, gapernah lebih ganteng dari ini. Sangat cakep. Aku belum pernah lihat dia dengan model rambut seperti itu. Dan pakaiannya, so masculine. Doojoon, mianhae.

Aku melesat keluar rumah dan membukakan pintu gerbang. Tercium aroma parfum namja yang khas wanginya. Sungguh feromon bagiku. Langsung kutarik tangan dia dan kuajak masuk kerumahku.


-Continue-

Minggu, 14 Oktober 2012

DooSeob Part. I

Nano-nano FF (Manis Asem Asin) become one :)
This story from 'Anonim' :)

Cast : Doojoon and Yeoseob of B2ST
Part. I




Foreword

Yaoi, angst, a bit smut, fluff, romance
Ada straight dikit di beberapa chapter depan. Okay. Hope you like it


Perfect Life

Sekelompok namja mengiring lagu 'New York New York' di sebuah studio. Lagu jazz milik Frank Sinatra mengalun. Saxophone, ya saxophone pemegang penting dalam jazz. Alunan kasar tapi sexy bila seorang saxophonist menemukan pitch nya sendiri. Improvisasi. Selalu dibutuhkan saxophonist. Nothing easy from them.


Doojoon POV

"I want to wake up in a city that never sleep" aku bernyanyi dalam hati, mencoba mengiring lagu New York nya Sinatra.

"Pulang ya, cape nih, udah sore, besok kan bisa lagi. No, jangan besok. Nanti lagi aja ya?" kataku, memang males sih. I need a life. Bosen juga latihan terus.

"Ya lu kan udah hebat, biasa sombong. Wuuuu!!" canda Hyunseung.

"Yang hebat pulang aja deh hahaha" Dongwoonpun ikut bercanda. Sembari menyenggol tanganku.

"Hebat apasih? Newbie ini newbie. Cape ah, kan mau tidur juga" kataku sembari membersihkan sisa saliva didalam saxo.

"Punya temen kebo sih susah" tawa Junhyung sambil merangkulku dari belakang.

"Sehat tau. Guys, jangan terlalu dipaksa, pulang dulu ya. Bye! See you, thanks for the hard work" aku berjalan sambil menggendong tas saxo ku. Sebelum keluar studio aku melambaikan tangan kepada semua best friend ku. Nothing less from them, i love them all.

Aku berjalan menuju tempat parkir sambil bersenandung kecil lagu Goodbye Baby milik miss A. Bosen juga denger jazz / lagu classic, ballad. Sesekali dance-pop boleh juga.
Aku merogoh kantong celana, mencari kunci mobil yang entah dimana.

Tanpa sengaja aku melihat seorang namja sepantaran denganku, mukanya lucu seperti bayi dan agak pesek (?) *lol*. intinya dia lucu, kulihat dia keluar dari studio juga, ia tidak membawa instrumen sepertiku. Mungkin dia mengandalkan suaranya, drum, piano, keyboard. Gatau lah.

Setelah kudapat kunci mobil, langsung kubuka pintu mobil, kutaruh saxo ku perlahan. Aku selalu menganggap setiap barang adalah berharga, yah mungkin ini absurd, but i love them all like they are my girlfriends.

Aku menyetel music untuk menghilangkan rasa ngantuk dan bosan. Diperjalanan aku tetap bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari speaker. Suara jelek is not a problem for me. Music harus bisa dinikmati, ga harus bagus, yang penting orang senang.

Tak lama aku sampai didepan gerbang rumah, kutekan klakson. Keluarlah yeoja paruh baya, my maid, membukakan gerbang rumah untukku.

"Kamsa loh yah" aku selalu sopan terhadap pembantuku. Menurutku, semua orang setara. Ga ada yang mau dilahirkan miskin kan? Makanya orang berkecukupan sepertiku harus membantu orang susah.

"Cheon Doojoon-ssi, mau dibantu bawa saxo nya?" pembantuku juga sangat loyal kepada keluarga kami. Maklum, ia sudah lama kerja dirumah kami.

"Gwenchana , saya aja, thanks ya" kataku tersenyum sambil kembali menggendong benda 5 kg itu.

Aku pun masuk kerumah, ga ada tanda kehidupan, sepertinya umma sedang pergi. Sedangkan appa bekerja di kota kelahirannya Daegu, sedangkan aku disekolahkan di Seoul, disini aku tinggal hanya bersama umma. Appa juga sering menengok kami, sebulan sekali pasti ada. Jadi walaupun aku sama appa jauh, kami tetep menjaga relasi.

Aku membuka kulkas, mencari botol berisi air dingin milikku, kuteguk hampir setengahnya habis. Lalu aku nyosor ke kasur. Sepertinya Doojoon-si-kebo memang benar. Aku emang cinta tidur.

"WHAT A LIFE" kataku pada diri sendiri. Terjun ke kasur kesayangan, dan mencari yeojachingu ku yang lain yaitu... Guling. Langsung kupeluk si guling. Beberapa menit kemudian aku tertidur.

-Continue-