Selasa, 30 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 2-1

"Baiklah, kita kedatangan murid baru, bertemanlah dengan baik" kepala sekolah datang ke kelasku dan mengenalkan seseorang yang mengenakan seragam yang berbeda.

Ia siswa pindahan dari kota seberang. Aku mengetahuinya dari seragam yang ia kenakan, seragamnya menunjukan jika ia siswa dari sekolah yang terkenal.

Maksudku, seragam putih-merah bermotif kotak-kotak tak mungkin dikenakan di sekolah negeri lainnya. Apalagi, kebanyakan Sekolah Menengah Atas Negeri menggunakan seragam putih-abu.

Kelasku berubah seperti pasar, begitu ramai dengan ocehan siswi-siswi yang membicarakan siswa itu.

Ku akui ia siswa yang tampan. Dia tinggi, tubuhnya berisi, matanya kecil, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan menurutku ia sempurna.

"Saya Fikri, salam kenal" ucapnya dengan senyuman yang menyungging diwajahnya.

Lagi, semua siswi ramai akan ocehan tak mutu dan memuja siswa itu. Hanya aku dan Farel yang diam tak bersuara.

"Silahkan duduk, ada satu tempat kosong disamping, Adit" ujar kepala sekolah yang kemudian pamit keluar kelas.

Siswa baru itu melangkah pelan kearahku, lalu tersenyum dihadapanku. Aku merasa semua siswi dikelasku menatapku tajam.

"Boleh duduk?" ujarnya, aku memandanginya, lalu Farel menepuk pundakku dan duduk di bangku yang seharusnya ditempati siswa baru itu.

"Sorry bray, bangku ini udah gue tempatin. Elu kalo mau duduk cari tempat lain" ujar Farel dengan wajah sedikit kesal.
"Sono! Dudukin tempat lu sebelum didudukin sama yang laen!"

-***-

Aku tidak terlalu menyukai keramaian. Sejak Fikri mengisi bangku kosong dibelakangku, mejanya dan mejaku tak pernah sepi dari siswi pecicilan.

Tiap harinya aku harus mengusir satu-persatu siswi yang menduduki bangku dan mejaku, sementara Fikri menikmati popularitasnya yang naik.

Farel sebenernya merasakan hal yang sama denganku, jengah dan jijik melihat aksi centil para siswi dikelasku.

Iapun sempat bercerita jika ia tak menyukai Fikri. Apalagi, setelah kehadiran Fikri, semua siswi dikelasku menjadi liar.

Tapi, aku jamin Farel tak ingin melibatkan diri karena ia lebih suka mengerjaiku daripada berurusan dengan para siswi dikelasku.

-***-

Aku teringat saat Farel menggendongku hingga ke mobil miliknya. Menurutku, itu sikap tersembunyi yang paling jantan diantara sikapnya yang sering ditunjukan.

Ia mampu membuat ku tersipu meski saat itu aku sedang terluka parah, dan kini ingatanku mengenai kejadian itu membuatku tersenyum sendiri.

"Hey!" aku terbangun dari lamunanku saat Fikri duduk disampingku. Aku terdiam dan kembali melamun.

"Lagi mikirin apa?" aku tetap diam.

"Ga istirahat?" tanyanya, aku memalingkan wajahku padanya.

Fikri tersenyum, aku memandangnya sinis.

"Jutek bener" ucapnya diselingi tawa pelan.

"Lu mau apa dari gue?"

"Maksudnya?"

"Kalau elu pikir gue gampang diajak temenan, pikiran lu salah" ujarku.

Kulihat Fikri masih tersenyum.

"Dit, gue udah lama disini dan orang yang paling susah diajak temenan ya cuma elu" aku diam, aku alihkan pandanganku menghadap jendela.

"Gue cuma mau ngundang lu dateng kerumah, ada perayaan ultah gue" aku masih diam.
"Gue udah ajak semua orang kok, termasuk Farel"

Aku tak meladeninya, aku masih menikmati dunia lamunanku.

"Dateng ya, gue berharap banget elu dateng"

-to be continue soon-

Jumat, 19 Juli 2013

Ich Liebe Dich Side Story Part Brama

Cukup panggil aku, Brama, dari nama lengkap ku Brama Widarsana. Aku siswa senior-tingkat dua yang mengikuti ekstrakurikuler basket.

Aku menyukai olahraga basket, karena impian ku menjadi pemain basket yang bermain di tim nasional.

Selain itu, basket pula sarana penghilang stres bagiku. Tak jarang aku kabur dari pelajaran hanya untuk bermain basket.

Basket pula yang mengenalkanku pada junior-tingkat pertama yang membuatku berubah, karena basket pula aku bertaruh pada juniorku yang lain hanya untuk merebutkan dia.

Aku tak akan pernah lupa pada junior ku yang menyaksikan visulisasi ekskul dengan tatapan yang menarik perhatianku.

Aku sering berpapasan dengannya, aku berusaha tersenyum padanya walaupun ujungnya senyumanku di balas dengan wajah tanpa ekspresi oleh dia.

Hingga akhirnya aku mengetahui nama juniorku saat hendak mengambil kotak P3K di dalam ruangan UKS.

Adit, nama junior yang menarik simpati ku.

-***-

Aku menyesal bercerita pada kawan yang ku percaya mengenai Adit.

Siswi populer karena parasnya yang cantik, juga ia terkenal dengan sebutan Telinga Siluman.

Lola Rahmawati, adalah siswi yang memiliki akses penuh di ekstrakulikuler Jurnal, hobi membuat isu, dan siswi itu adalah kawan yang aku percaya.

Adit adalah korban keisengan Lola. Karena Lola juga, Farel mendatangiku dan menantang bertanding basket.

"Gue ga perduli lu kakak kelas gue atau bukan, tapi kalo udah nyangkut tentang Adit, gue ga bisa tinggal diam" aku di datangi Farel di kamar mandi saat ingin mengganti seragamku dengan seragam latihan.

"Sebentar, sebentar... Ini maksudnya apa, Rel?"

"Bram, jangan berlagak di depan gue, di mading ada artikel gue, sama Adit, gue jamin itu kerjaan lu" aku diam, aku bingung apa yang harus ku jawab.

"Yang mau gue tanya cuma satu sama lu, lu suka sama Adit?" mata ku terbuka lebar. Satu pertanyaan yang membuat aku gugup.

"Jujur sama gue, karena gue tau semua dari temen lu yang bikin artikel itu"

Aku masih terdiam, pikiran ku melayang membayangi Lola. Masalah apa lagi yang diperbuat olehnya.

"Kalaupun memang iya lu suka sama Adit, mohon maaf Adit ga akan gue lepasin sampe kapanpun"

"Sebentar, Rel... Aku ga paham sama kalimat kamu, maksud kamu apa..."

"Bodoh" Farel memotong kalimat ku, kami saling berpandangan.

"Gue tau dari temen lu juga, gue tau semua tentang lu, termasuk kenapa lu lebih suka laki-laki ketimbang perempuan"

Mendengar ucapan Farel, hatiku panas dan menjadi emosi. Farel yang ku kenal berubah menjadi Farel yang sok-mengetahui-siapa aku sebenarnya.

"Rel, maaf sebelumnya, jangan jadi orang yang sok tahu siapa saya sebenarnya"

"Oh, terus lu sebenernya siapa? Pengagum rahasia Adit? Gini deh, gue tau lu suka Adit, dan gue ga akan lepasin dia... Jadi, gimana kalo kita one on one?"

"Maaf, Rel... Aku ga mau hobi ku di jadiin media pertarungan cuma karena hal sepele"

"Adit bukan hal yang sepele, Bram. Adit bagi gue adalah orang yang seharusnya dan hanya milik gue"

Ulu hatiku terasa panas, ingin sekali aku memukul wajah orang yang-sok-tahu dihadapanku ini.

"Gue tunggu besok di lapangan sekolah, kalo lu ga dateng, artinya lu siap buat ngejauhin Adit"

Farel meninggalkan ku di dalam kamar mandi, masih terpaku karena kalimat Farel yang membuatku terdiam.

-***-

Haruskah aku mengingat masa laluku lagi? Haruskah aku teringat pada kakak kelas yang membuatku seperti ini?

Haruskah ku ingat tentang ciuman yang mendarat di bibirku, saat pertama mengikuti  ekstrakulikuler basket?

Sial, kenapa hidupku menjadi seperti ini.

Memang salahku bercerita tentang Adit pada Lola, aku tak berpikir jika Lola akan membuat cerita ku sebagai isu.

Sungguh, aku merasa bersalah.

-***-

"Hanya 1 minggu!" Farel mengancamku saat kami berlatih.

Tak kusangka, aku memiliki waktu untuk lebih dekat dengan Adit. Walau hanya seminggu, setidaknya itu membuatku mengenal lebih jauh tentang juniorku.

Hari ini, adalah hari pertama dari satu minggu yang harus ku habiskan bersama Adit. Namun, sampai sekarang aku belum melihat kehadiran Adit.

Terkadang, aku berpikir jika kalimat Adit hanya ucapan biasa. Ucapan penyemangat untuk Farel karena ingin bertanding denganku.

Aku cari ia ke seluruh tempat di sekolah, namun tetap aku belum bertemu dengannya. Di taman, kantin, tempat parkir, koperasi siswa, aula sekolah, dan belum menemukannya. Hingga ku putuskan mencari di kelasnya.

Firasat terakhir ku benar, Adit masih berada di kelasnya walau jam pelajaran telah usai.

"Dik, belum pulang?" aku mencoba menyapa Adit yang duduk di bangku mejanya. Ia memandang ke arah jendela dengan posisi kepala yang ditidurkan di meja.

Mungkin ia tidak mendengar ku, karena fokus pada buku atau pemandangan di luar kelas. Aku mendekatinya dan kembali mencoba menyapa.

Belum aku menyapa, suara dengkuran terdengar dari meja Adit. Ingin aku tertawa karena terkejut mendengar suara pelan namun pasti-dari meja Adit.

"Dik, dik bangun... Udah sore" aku menepuk pundak Adit pelan, ku goyangkan bahunya agar ia terbangun.

"Ya nek, aku sekolah... Sebentar, aku lagi mandi..." jawabnya lalu kembali mendengkur.

Lagi, aku menemukan sisi unik dari Adit. Sungguh konyol, dan membuatku ingin tertawa kencang.

"Dik, dik bangun... Kamu ga pulang?" ujarku yang terus mencoba membangunkannya. Walau ia tetap terlelap dan tak goyah dari posisinya.

Karena tak ada gerakan darinya, aku merapihkan buku-bukunya lalu mengangkat lengannya keatas. Memakaikan tas ransel pada Farel, merapihkan seragamnya lalu ku balikan tubuhku. Ku lingkarkan kaki dan tangannya pada pinggang juga leher ku.

Aku menggendongnya di punggungku, dan membawanya ke arah parkiran. Aku antarkan ia ke rumah Farel, karena aku tak mengetahui dimana letak rumah Adit.

Farel terkejut melihatku membawa Adit kerumahnya dalam keadaan tak sadar. Namun, setelah ku jelaskan dengan detail, ia paham jika Adit sedang berusaha keras menghapal materi ujian yang akan dilaksanakan besok.

-***-

"Kak, maafin aku waktu itu" Adit meminta maaf padaku, sambil menyodori ku mie rebus yang baru selesai di masak.

"Iya dik, ga apa-apa" aku tersenyum memandang wajahnya.

"Oh iya... Besok-besok kalo kaka liat aku ketiduran jangan bawa aku kerumah Farel lagi... Nanti dia kumat kaya sekarang" ujarnya menunjuk Farel yang mengintip dari dapur.

Terdengar suara pisau yang sengaja di ketukan kencang.

"Dimakan ka, mienya" aku kembali tersenyum memandangnya.

Di hari ketiga ini, ia terlihat nyaman. Tidak seperti hari pertama dan kedua kemarin.

Untuk seseorang yang introvert, Adit termasuk orang yang mudah berkomunikasi dan pandai mendekatkan diri. Karena setahuku, introvert termasuk pribadi yang keras dan sulit bergaul.

Ku perhatikan wajahnya, ia semakin menarik dari sebelumnya. Entah karena khayalan ku atau memang ia sangat menarik dan aku baru menyadarinya. Jelas terlihat, jika Adit memang junior yang unik.

-***-

Aku memutuskan untuk mengajaknya menonton konser band di taman kota, namun ia menolak dan lebih memilih menghabiskan waktu memandang pekarangan rumah.

Aku menuruti keinginan Adit, karena sejujurnya akupun tidak terlalu suka keramaian. Mengajaknya ke taman kota, hanya karena kawanku di tim basket memberi ku tiket konser-yang sangat disayangkan jika tak di tonton.

Sore ini, aku begitu terkesima melihat Adit yang mengenakan pakaian santai.

Kaus polos hitam ukuran sedang yang dipadu dengan celana pendek, menghilangkan kesan obesitas yang berlebihan.

Tanpa kacamata, Adit terlihat lebih manis. Aku dapat melihat matanya tersenyum ketika ia tertawa atau menggantungkan senyumannya.

Aku belum menyadarinya jika ia begitu menarik hingga hari ini.

-***-

Besok hari terakhir, yang harus ku habiskan dengan Adit. Semakin hari, semakin aku sulit jauh darinya. Aku yakin, aku menyukainya.

Aku sangat bersyukur saat Farel mendorongku. Karena ia memberiku kesempatan dekat dengan Adit. Kuputuskan untuk memberitahu perasaanku padanya, sekarang.

"Kakak suka ka..."

"Ah! Hujan!" aku terdiam, ku tatap matanya.

"Eh iya kakak ngomong apa?"

"Kamu ga akan pernah tau kalo aku suka kamu, karena aku bukan orang yang kamu suka"

"Itu..."

"Itu, temen kakak bilang begitu tadi pagi" aku diam, tetap memandangnya dan menarik nafas panjang.

"Orang itu, kayanya suka banget sama kakak" ia menunjukan mata tersenyum-nya padaku.

"Harusnya orang itu terus berjuang dapetin kak..." belum Adit menyelesaikan kalimatnya, Farel datang dan menarik tangan Adit.

Aku menahan Farel, mencoba menghentikan tarikan tangan Farel. Namun, usaha ku gagal. Adit sudah pergi dengan Farel yang menariknya.

Ku ikuti mereka ke arah parkiran, aku terkejut ketika Adit jatuh. Ingin aku memukul wajah Farel, karena ia membuat terluka orang yang aku suka.

Tapi, itu tidak mungkin. Aku masih tetap memandangi mereka hingga mereka berhenti di sebuah mobil.

Ya, ia tak akan pernah sadar aku menyukainya. Karena aku bukan orang yang ia suka.

Aku terlalu bodoh, karena menyukai orang yang sudah memiliki pasangan. Bodoh.

-Brama, Ich Liebe Dich, 2013-
-F.A Suprapto, @fhakubeton-

Selasa, 16 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-End

Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang semakin konyol. Ia harus menjalankan seluruh misi yang kuberikan padanya dalam satu minggu, karena ia kalah dalam pertandingan satu lawan satu.

-***-

Aku mengamati Brama dan Farel yang bertanding dengan sangat serius, tanpa ingin kejebolan nilai.
Aku menahan tawa melihat pertandingan ini. Brama yang tidak mengetahui apa-apa menjadi korban kejahilanku.

Sebenarnya aku yakin Farel akan memenangkan pertandingan ini. Karena, ia akan melakukan apa saja untukku.

Bukan aku sombong, tetapi Farel selalu membuatku merasa spesial. Saat pertama kali aku masuk sekolah, ia mendekatiku dan berbicara padaku. Saat aku di-bully oleh kawan-kawan satu kelasku, hanya ia yang membelaku.

Farel berteriak didepan kelas dan mengacungkan bogeman di atas kepalanya sembari memandangi seluruh anak laki-laki didalam kelas.

"Yang berani ngejek Adit selain gue, siap siap kena tampolan dari tangan gue"

Mulai dari situ tak ada murid yang berani mengejek ku, walaupun tetap ada beberapa anak yang mengejek karena berteman dengan Farel.

"Kak Brama! Jangan sampe kalah!" ujarku menyemangati Brama yang telah menguasai permainan.
Setengah jam permainan berlangsung, diantara mereka belum ada yang berhasil memasukan nilai. Mereka bermain tanpa memperdulikan cuaca yang sudah mulai mendung.

"Weh! Cepet masukin point! Mau ujan!" aku berteriak, mendengar teriakanku Farel sengaja mendorong Brama dan mengambil alih permainan.

Farel berhasil memasukan point dan melakukan seremoni kemenangan, membiarkan Brama yang terjatuh.
Aku menahan tawaku, lalu mendekati mereka.

"Oke, baiklah... Farel lu siap siap kena hukuman gue selama satu minggu" aku membantu membangunkan Brama, dan membawanya ke bangku yang tadi kami dudukki.

"Loh ko gue? Kan gue menang"

"Lu curang pe-ak!" Farel terdiam. "Udah ah, kalian harus pulang, mau ujan ini"

Brama merapihkan barang-barangnya lalu beranjak meninggalkan aku.

"Aku pulang dulu ya" aku tersenyum menjawab kalimat pamit Brama.

Farel mendekati dengan memasang wajah kesal menatapku.

"Apa? Mau gue tabok?"

"Galak amat lu ndut" protesnya.

"Gue udah yakin banget lu bakal menang, tapi bukan dengan cara curang... Kecewa gue" Farel terdiam, aku merapihkan barang bawaanku.

"Gue balik, mau ujan" tanganku ditarik Farel ketika aku hendak pergi meninggalkannya.

"Apa?"

"Balik bareng ya"

-***-

Aku masih tak sanggup menahan tawaku, Farel yang-katanya-memiliki-taraf-kegantengan-diatas-seribu-persen menggunakan pakaian cheerleader lengkap dengan pom-pom ditangannya.
Wajahnya ku rias secantik mungkin, agar menghilangkan kesan manly dari wajahnya. Aku menambahkan aksesoris tambahan untuk bagian kepala, dan tubuh.

Sungguh, aku tak dapat berhenti tertawa karena Farel. Brama yang berada disampingku pun tertawa lepas.
Namun, tawaku berhenti saat tangan Brama melingkar dipinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya.
Wajahku memanas, aku tersipu.

Gerakan-gerakan lucu yang dibuat Farel tak dapat membuatku tertawa. Aku masih tersipu karena Brama mengeratkan pelukannya.

-***-

Suasana kantin saat ini begitu berbeda dari biasanya, terlalu tenang tidak ramai. Aku merenung, duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah parkiran sekolah.

Suasana kantin yang tenang, dengan cuaca yang sejuk, membuatku semakin terbuai menikmati hembusan angin.

"Dik..."

Brama tersenyum didepanku, ia membawa sebuah kantung plastik putih yang berisikan kotak bekal makan siang.

"Makan bareng ya" tawarnya padaku, aku menggeleng.

"Ga kak, itu buat kakak aja"

"Loh, ini aku bikin bekalnya banyak... Jadi kita makan berdua ya" aku terdiam, aku tak mungkin menolaknya untuk kedua kalinya.

Ia duduk dihadapanku lalu membuka isi kotak bekal tersebut.

"Kakak buat mie goreng, tapi kebanyakan... Kita bagi dua ya"

Dengan sigap ia mengambil sendok dan garpu disamping kotak bekal, lalu menyendoknya dan menyodorkan ke arahku.

"Buka mulutnya" tawarnya sembari menggantungkan senyuman di wajahnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, memastikan tak ada seseorang dikantin.

"Ayo buka, mumpung masih hangat" ku buka mulutku dengan ragu-ragu.

Sebenarnya aku malu, namun karena aku tak enak untuk menolak perlakuan baiknya, aku menuruti keinginannya.

"Enak kan?" senyuman Brama kembali mengembang.

Aneh, baru seminggu ini aku mengenalnya, tapi perlakuan Brama padaku seperti kawan yang sudah berteman lama.

Tak jarang aku di buat lebih nyaman olehnya, bahkan ia suka memanjakan ku dan menraktir ku makan.

"Adit!" aku tersedak ketika Farel berlari sambil berteriak memanggil namaku.

"Ayo pulang, gue udah selesai beresin mobil" aku memandang wajah Farel heran, aku tidak berjanji untuk pulang bersamanya.

"Ayo! Gerimis ini"

"Sebentar dong, Rel... Adit lagi makan, lagipula baru mendung belum gerimis" Brama menatapku lalu memandang wajah Farel.

Entah kenapa dengan dua orang ini, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.

"Buru pulang" tanganku ditariknya, membuat lutut ku membentur kaki meja dan menggoyangkan kotak bekal Brama.

"Rel..." Brama menarik lengan Farel, menatap tajam wajah Farel. Aku menahan rasa sakit dilutut dan kaki sambil mengamati wajah keduanya.

Takut terjadi apa apa diantara keduanya, aku memutuskan untuk mengikuti Farel dan meninggalkan Brama tanpa pamit.

Pergelangan tanganku di genggam Farel sangat erat, aku yakin ia sangat marah.

"Rel lepasin, sakit! Lu narik-narik pelan kek" aku meronta, Farel tak menghiraukan kalimatku dan terus menarikku.

"Farel!" aku berhasil melepaskan genggamannya, lalu aku jatuh terpeleset di permukaan tanah parkiran yang kasar. Celana seragamku robek dan betis ku terluka parah.

Aku menatap mata Farel dengan sinis.

"Pe-ak! Lu pulang sendiri sana!" ujarku ketika bangun dan mencari tempat duduk. Betisku linu, dapat kurasakan darah mengalir di kaki ku.

Farel terdiam, ia memandangku dengan wajah yang bersalah.

"Ndut, lu ga apa-apa?"

"Cih, lu pikir? Ini namanya ga apa-apa? Pe-ak! Lagian lu kenapa kali, kaya orang dikejer utang, pulang buru-buru"

"Sori, ndut" aku mengacuhkannya.

"Udah sono pulang, gue pulang sendiri!"

"Ga, lu pulang sama gue" ia membalikan tubuhnya, berjongkok di depanku.

"Mau buang aer lu?" tanyaku dengan nada yang sinis. Aku kesal dengannya.

"Naik ke sini, gue gendong lu" aku terdiam. "Buru mau ujan, gue ga mau lu sakit"

Aku tersipu mendengar kalimatnya, aku mengalungkan tanganku dilehernya. Tangannya menggenggam pahaku. Farel berdiri dan mulai melangkah dengan pelan ke arah mobil yang berada di depan.

"Maafin gue, ndut" ucapnya. Aku tersenyum pelan, ku sandarkan daguku di pundak Farel.

"Gue ga mau lu deket sama orang lain... Karena lu punya gue... Cuma punya gue..." aku tersipu. Dengan jantannya ia membawaku dipunggungnya, mengucapkan maaf hingga di depan pintu mobil.

"Sekali lagi... Adit, Ich Liebe Dich"

-to be continue soon-

Senin, 15 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-2

Aku kembali ke hari normalku, hari yang penuh dengan kejahilan dan ketengilan Farel. Farel sudah sembuh dari sakitnya,dan kini ia telah kembali ke kebiasaan lamanya-menjahiliku.

Semenjak kejadian lalu, aku memutuskan untuk menjauhinya. Entah kenapa, tapi aku takut berdekatan dengannya.

-***-

3 Hari Yang Lalu...

"Adit... Ich Liebe Dich" aku merasakan hembusan nafas ditelingaku, punggungku hangat, dan pinggang hingga perut ku rasakan ada yang memeluk.

Aku terkejut melihat pantulan tubuh Farel dicermin. Ku lihat ia menaruh kepalanya dipundakku dan terus berbisik pelan.

"Ich Liebe Dich... Adit"

Dapat kudengar nafasnya yang bersuara, suhu tubuhnya dapat kurasakan menembus kain bajuku. Sungguh hangat, sangat hangat.

"Re... Rel... Itu ar... Artinya apa?" aku tergugup, bingung apa yang harus ku lakukan.

"Adit, I Love You"

Haruskah aku ikut memeluk tangannya, atau mendorong tubuhnya. Aku sangat kebingungan.

-***-

Aku berusaha menjauh tanpa Farel sadari, walaupun sebenarnya aku tak ingin menjauhinya. Jujur, perasaanku pada Farel adalah sama seperti ia kepadaku.

Farel selalu ada disaat aku butuh ataupun tidak, dia selalu mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya, dan aku nyaman.

"Dit, ga istirahat?" salah satu kawanku membangunkan aku yang melamun.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Nanti, gue ke kantin sendiri aja... Lagi ga enak body nih"

"Pasti kurang asupan vitamin F" kawanku duduk dihadapanku lalu menjajakan jajanan yang baru dibelinya dikantin.

"Vitamin F?" aku mengerinyatkan dahiku.

"Ya, vitamin Farel" aku membelalakan mataku, kami menahan tawa.

"Apa sih, please deh... Julukan dari mana lagi coba"

"Dari anak jurnal, lu ga tau? Lu jadi topik utama di mading loh, Dit" ia mengunyah makanannya dihadapanku.

"Topik utama?" ia mengangguk, aku mengedarkan pandanganku, membenarkan posisi kacamata lalu menatap wajah kawanku seksama.

"Header beritanya Adit yang ingin mencium Farel di UKS"  kacamataku hampir jatuh mendengar kalimat kawanku. Aku tertawa.

"Beneran? Kok bisa? Dapet darimana coba itu berita"

"Beritanya dari kakak kelas, terus yang gak kalah penting si Farel ngerespon berita itu"

"Apa? Apa?" aku penasaran, sekali lagi ku edarkan pandanganku memastikan jika tak ada siapapun didalam kelas.

"Farel bilang jangan salahin lu kalo lu mau cium dia, salahin muka dia yang kelewat ganteng" jawabnya sembari meneguk air minum miliknya. Aku tertawa keras, sangat keras.

Ku acungkan empat jempolku untuk Farel. Menggunakan kepercayaan diri dengan frekuensi dahsyat hingga orang lain lebih percaya omongan Farel daripada fakta.

Kawanku yang minum hingga memuncratkan air dari dalam mulutnya karena mendengar tawaku, dan ikut tertawa denganku.

Terkadang, Farel memang benar. Wajah bayinya membuat semua orang ingin mencium. Kecuali aku. Kadang pula, kepercayaan diri Farel membuatku tertawa keras seperti sekarang.

-***-

Bel panjang tanda jam pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa aku tak pulang dan memilih duduk berdiam diri di taman yang menghadap ke lapangan basket.

Membuka buku catatan dan mempelajari ulang apa yang baru saja ku pelajari. Begini nasibnya jika aku menjauhi sang-artis-kelas-disekolahku.

Dulu, aku selalu dibantu Farel mempelajari semua pelajaran yang sulit ku terima. Farel tak pernah komentar tentang kebodohanku, ia mengajariku dengan telaten. Walau terkadang ia lebih suka membentak dan bermain emosi.

Ini konsekuensi yang harus aku jalani, karena keputusanku menjauhi Farel.

"Sendirian, dik?" aku menoleh ketika tangan seseorang menepuk pundak ku.

Aku tersenyum memandang wajah oriental dengan hidung dan senyuman yang menawan, Kak Brama.

"I... Iya kak, kakak latihan?" jawabku tersenyum. Ia duduk disampingku lalu menaruh tas ransel di dekat kakinya.

"Ga, Farel nantang aku maen basket satu lawan satu" aku mengangguk mengiyakan, jika sudah menyangkut Farel aku tak perlu bertanya kenapa atau ada apa lagi.

Sudah jelas pasti Farel yang memulainya, dan aku tak ingin ikut campur lebih jauh dengan semua masalah yang Farel buat.

Aku amati tubuh kakak kelasku. Aku baru menyadari jika kakak kelasku ini memiliki tubuh yang lebih berotot dan berisi dari Farel.

Aku melanjutkan membaca buku catatan pelajaranku, sampai akhirnya bola basket melayang ke arah tanganku, menggoyangkan buku catatan dan mengenai wajahku.

Terdengar tawaan yang kencang dari arah lapangan tertawa. Tak perlu lagi aku menebak karena semua ini pasti ulah si-bodoh-artis-kelas-yang-memiliki-kepercayaan-diri-luar-biasa.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan ke arah Farel sambil membawa bola basket yang tadi mengenaiku. Setelah dekat dengan tubuhnya, ku lemparkan bola itu ke arah wajahnya. Namun, berhasil ditangkapnya.

"Dasar bodoh! Manusia bau ketek! Kegantengan! Tengil!" umpatku, "Muka gue sakit tau!"

Ia tertawa, menunjukan gigi yang berwarna putih didepanku.

"Jangan ngakak! Sialan lu!" ia menjulurkan lidahnya sebelum berlari meninggalkanku.

"Sialan lu! Sini lu!" ku kejar ia berkeliling lapangan hingga ia meminta maaf padaku dan duduk disamping tas ransel milikku.

Aku pun merasa lelah dan duduk diantara kak Brama juga Farel.

"Liat nanti, Rel! Besok lu jadi objek penderitaan gue" ucapku yang mengeluarkan botol minum dari dalam tas.

Ku lihat Brama hanya tersenyum memandangku, mungkin menurutnya pertengkaranku dengan Farel adalah acara komedi yang disiarkan secara langsung.

"Ah, gini... Gue denger dari kak Brama, kalo lu nantang dia satu lawan satu, gimana kalo tantangan itu gue kasih peraturan?" ujarku.

"Eh, maksud lu apa nih ndut?" Farel mengerenyitkan dahinya, lalu merampas botol minumku dan menenggaknya tak tersisa.

"Cih, liat si bodoh... Minuman orangpun asal ambil terus diabisin pula" ku dengar Brama tertawa mendengar celotehanku.

"Gini ya, diantara kalian, siapapun yang menang, boleh deket dan ngapain aja sama gue selama seminggu, dan yang kalah siap siap nanti"

"Siap siap gimana?" Farel memandangku.

"Siap siap jadi apa aja yang gue suruh!" aku menahan tawa, aku sudah membayangkan kedua laki-laki ini menjadi objek penyiksaanku.

"Deal! Yang menang boleh ngapain aja kan sama lu?" Farel dengan semangat berdiri dari tempatnya lalu memandang wajah Brama.

"Menurut lu gimana, Bram?" Brama terdiam.

"Kalo kakak ga suka, ga apa apa, tinggal bilang aja" ucapku, Brama hanya tersenyum.

Terkadang aku takut jika kakak kelasku ini mengidap autis stadium tinggi, karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaanku.

"Boleh, deal" lagi, Brama tersenyum ke arahku. Aku semakin yakin jika Brama bukan mengidap autis, tapi penyakit kejiwaan yang sulit dijelaskan logika.

Farel meninggalkanku dan Brama. Sebelum Brama bangkit, ku tarik tangannya dan memandang wajahnya dalam dalam.

"Kak, aku mohon... Menang ya, aku mau banget bikin si bodoh jera"

"Ya, tenang aja" dijawabnya dengan nada yang lembut.

"Oke, aku wasitnya! Inget ya, hadiahnya satu minggu kalian ngehabisin waktu bareng gue dan apa-apain gue!"

"Sip! Jangan nyesel kalo gue yang menang, Dit" jawab Farel.

"Gue jamin lu kalah, lu siap siap aja" jawabku. "Siap? Satu, dua... Tiga!"

-to be continue soon-

Minggu, 14 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-1

Note : This story have a gay theme inside.

***

Part. 1-1

Aku terbangun karena mendengar alarm jam yang berbunyi dari handphone ku. Aku menggerutu pelan dan memandang jam pada layar handphone.

"Masih pagi..." ucapku sambil menguap dan mengusap ujung mata.

Entah kenapa, hari ini aku sangat malas bangkit dari kasurku untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Untuk ukuran seorang pelajar juniorㅡyang masuk ditahun pertama sepertiku, bangun terlalu pagi adalah siksaan dan bangun terlalu siangpun adalah hukuman.

Belum lagi, aku harus bertemu dengan pelajaran yang tak kusukai. Ditambah dengan kawanku yang menyebalkan.

-***-

Orang memanggilku, Adit. Hanya Adit, tak memiliki nama panjang seperti anak-anak yang lain. Tubuhku besar, dengan tinggi 167 centimeter, gaya rambut berponi ke arah kanan, berkaca-mata dan aku seseorang yang introvert.

"Awas!"

Sedangkan yang baru saja berteriak melewatiku adalah, Farel. Turunan konglomerat, memiliki wajah bayi, atlit olahraga andalan sekolah, berbicara dengan dua bahasa, tubuh berisi, otot lengan yang berurat, perut yang rata, tubuh yang harum dengan parfum mewah, membawa mobil ke sekolah, tingkah kekanak-kanakan, usil dan cerdas.

Orang tersombong yang pertama kukenal selama 16 tahun ini. Aku bersekolah disebuah sekolah negeri favorit yang tiap tahunnya memiliki nilai teratas dibanding sekolah lainnya. Aku duduk dikelas X-3 yang terkenal dengan sebutan kelas 'tersulit' untuk diajar oleh para guru.

Jujur saja, aku bukanlah orang yang cerdas. Akupun tak pernah menyalahkan nilaiku yang tak memuaskan, karena aku sadar aku tak sepintar kawan-kawanku yang lain.

Biasanya, aku memiliki kesibukan diluar kelas yang menyangkut tentang pelajaran. Para guru menyuruhku menjadi perwakilan sekolah yang menghadiri seminar. Bukan hanya aku tentunya, Farelㅡmusuhkuㅡorang yang tak kusukai selalu menemaniku.

Namun, kali ini aku tak sesibuk biasanya tetapi Farel tetap membuntuti. Awalnya, aku tak begitu risih dengan Farel. Namun, saat ia mulai membuntutiku kemanapun aku pergi, rasa risih itu muncul.

Tidak hanya saat seminar saja, ketika aku masuk kamar mandi, membeli makanan dikantin, menemui guru, bahkan sampai ke depan rumahpun, aku di ikuti olehnya.

Jengah, namun sekarang ia tak lagi melakukannya. Mungkin lelah, atau mungkin ia sudah memiliki target lain.

"Engga, gue lagi males ngikutin lu sekarang sekarang" jawab Farel ketika ku tanyakan alasan ia berhenti mengikutiku.

Aneh memang, tapi aku rindu saat ia membuntutiku dan aku memarahinya.

"Lu sakit?"

Farel menggeleng pelan, lalu ia berdiri dari kursi dan memandangku tajam.

"Ga ada dikamus gue kata sakit, jadi gue ga akan sakit" baru ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya goyang lalu jatuh menimpa ku.

"Rel, bangun, Rel!" ujarku dengan nada sedikit panik, walau tubuhku lebih besar darinya. Tubuh Farel tetap terasa berat.

Aku berteriak meminta tolong pada kawanku yang lain dan mengangkat tubuh Farel.

"Bawa ke ruang UKS, tidurin aja badan dia, gue yang ijin sama guru nanti" ucap salah satu kawanku yang ikut mengangkat tubuh Farel tadi.

Aku dan kawan-kawan yang lain memutuskan untuk membawanya ke ruang Unit Kesehatan Sekolah, dan membaringkan tubuh Farel. Aku menyuruh semua teman yang tadi mengangkatnya kembali ke kelas, dan membiarkan aku sendiri yang menjaga musuh besar ku.

Aku menyalakan kipas yang menggantung di langit-langit agar membuat tubuhnya sedikit dingin.

Aku terdiam sembari mengamati wajahnya yang seperti bayi. Pipinya yang chubby, bibirnya yang kecil dan tipis, matanya yang terpejam.

Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, berniat memandang wajahnya lebih jelas, namun pintu ruangan UKS terbuka.

Mataku terbuka lebar, ketika melihat seseorang yang berdiri dengan menahan tawanya.

"Kamu... Kamu lagi apa dek?" ucapnya sembari menahan tawa, wajahku memanas.

Aku malu, sangat malu. Orang itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah lemari yang dekat dengan ranjang.

"Lanjutin aja, anggap aja aku ga ada dek"

"Ah engga kok, aku ga ngapa-ngapain sumpah" aku membenarkan posisiku.

Suasana menjadi hening, terkadang aku mendengar suara tawa yang tertahan. Orang itu mendekatiku dan memandang wajahku.

"Farel kenapa?" tanyanya, aku membalas pandangannya dan tersenyum.

Aku merasa pernah melihat wajah orang yang ada di hadapanku. Tapi, dimana aku melihatnya.

"Sakit..."

"Ah... Udah kamu ke kelas aja sana, biar aku yang jaga"

"Ga apa-apa ko"

"Ah ya, aku Brama" orang itu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan senyuman di wajahku.

Kini aku ingat, ia kakak kelasku dari kelas Alam dan kakak senior Farel di ekstrakurikuler basket.

"Kalau dia ga sadar, mending pulang aja daripada disini"

"Tapi... Aku ga tau rumah dia dimana"

"Aku tau, aku buatin surat ijin ya, kamu rapihin buku-buku dia"

Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. Akhirnya, aku dan kakak kelasku mengantarnya pulang. Terpaksa tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar hari ini, walaupun sebenarnya aku bahagia, karena tak perlu kabur untuk menghindari pelajaran.

-***-

"Sore bi, Farelnya ada?" aku berdiri di samping pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Farel, ia sedang membuang sampah.

"Ah iya, masuk aja dek, aden ada ko, langsung aja ke kamernya" jawabnya dengan dialek daerah yang kental.

Aku melangkah masuk dan berjalan ke arah kamarnya. Tercium aroma keringat yang sangat ku hafal saat memasuki kamarnya.

Aroma yang membuatku rindu akan Farel.

Aku tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, ku taruh barang bawaanku di bawah ranjang dan memandang wajah Farel.

Masih terlihat jelas bekas bubur yang tadi disantap di ujung bibir Farel, ku usap dengan jariku dan membersihkan ujung bibirnya dengan tisu basah.

Sungguh sangat lucu jika melihat Farel tidur. Wajah bayi yang ia miliki terlihat begitu tenang.

"Rel... Cepet sembuh, gue kangen sama lu" ucapku pelan.

Puas memandang wajahnya, aku berjalan ke arah lemari yang ada cerminnya. Merapihkan pakaian dan menemukan sebuah kotak kaleng kecil di bawah kolong lemari.

Ku perhatikan kotak itu dan mengambil buku yang ada didalamnya. Buku tulis yang bergambarkan Astro Boy dengan catatan-catatan panjang didalamnya. Aku baca catatan itu satu persatu.

Untuk ayah, untuk ibu, dan buku itu habis dengan catatan untuk mereka. Aku mengambil buku satunya yang ada didalam kotak tersebut.

Kali ini, berbeda dengan buku yang pertama. Kali ini catatan tentang kawan-kawannya.

Untuk Andi, Budi, Adit. Aku terdiam. Aku memutar otakku keras, kenapa namaku tertulis di bukunya? Ku baca halaman demi halaman, dan tak ada yang aneh dari catatan yang dibuatnya.

Catatan yang berisi tingkah kekanak-kanakannya padaku. Ketika aku mulai bosan membaca halaman halaman itu, mataku terpaku pada satu halaman yang terisi penuh dengan kalimat Ich Liebe Dich.

"Adit... Ich Liebe Dich"

[klik pada tautan judul untuk menujur bagian selanjutnya : Ich Liebe Dich part. 1-2]