Minggu, 14 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-1

Note : This story have a gay theme inside.

***

Part. 1-1

Aku terbangun karena mendengar alarm jam yang berbunyi dari handphone ku. Aku menggerutu pelan dan memandang jam pada layar handphone.

"Masih pagi..." ucapku sambil menguap dan mengusap ujung mata.

Entah kenapa, hari ini aku sangat malas bangkit dari kasurku untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Untuk ukuran seorang pelajar juniorㅡyang masuk ditahun pertama sepertiku, bangun terlalu pagi adalah siksaan dan bangun terlalu siangpun adalah hukuman.

Belum lagi, aku harus bertemu dengan pelajaran yang tak kusukai. Ditambah dengan kawanku yang menyebalkan.

-***-

Orang memanggilku, Adit. Hanya Adit, tak memiliki nama panjang seperti anak-anak yang lain. Tubuhku besar, dengan tinggi 167 centimeter, gaya rambut berponi ke arah kanan, berkaca-mata dan aku seseorang yang introvert.

"Awas!"

Sedangkan yang baru saja berteriak melewatiku adalah, Farel. Turunan konglomerat, memiliki wajah bayi, atlit olahraga andalan sekolah, berbicara dengan dua bahasa, tubuh berisi, otot lengan yang berurat, perut yang rata, tubuh yang harum dengan parfum mewah, membawa mobil ke sekolah, tingkah kekanak-kanakan, usil dan cerdas.

Orang tersombong yang pertama kukenal selama 16 tahun ini. Aku bersekolah disebuah sekolah negeri favorit yang tiap tahunnya memiliki nilai teratas dibanding sekolah lainnya. Aku duduk dikelas X-3 yang terkenal dengan sebutan kelas 'tersulit' untuk diajar oleh para guru.

Jujur saja, aku bukanlah orang yang cerdas. Akupun tak pernah menyalahkan nilaiku yang tak memuaskan, karena aku sadar aku tak sepintar kawan-kawanku yang lain.

Biasanya, aku memiliki kesibukan diluar kelas yang menyangkut tentang pelajaran. Para guru menyuruhku menjadi perwakilan sekolah yang menghadiri seminar. Bukan hanya aku tentunya, Farelㅡmusuhkuㅡorang yang tak kusukai selalu menemaniku.

Namun, kali ini aku tak sesibuk biasanya tetapi Farel tetap membuntuti. Awalnya, aku tak begitu risih dengan Farel. Namun, saat ia mulai membuntutiku kemanapun aku pergi, rasa risih itu muncul.

Tidak hanya saat seminar saja, ketika aku masuk kamar mandi, membeli makanan dikantin, menemui guru, bahkan sampai ke depan rumahpun, aku di ikuti olehnya.

Jengah, namun sekarang ia tak lagi melakukannya. Mungkin lelah, atau mungkin ia sudah memiliki target lain.

"Engga, gue lagi males ngikutin lu sekarang sekarang" jawab Farel ketika ku tanyakan alasan ia berhenti mengikutiku.

Aneh memang, tapi aku rindu saat ia membuntutiku dan aku memarahinya.

"Lu sakit?"

Farel menggeleng pelan, lalu ia berdiri dari kursi dan memandangku tajam.

"Ga ada dikamus gue kata sakit, jadi gue ga akan sakit" baru ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya goyang lalu jatuh menimpa ku.

"Rel, bangun, Rel!" ujarku dengan nada sedikit panik, walau tubuhku lebih besar darinya. Tubuh Farel tetap terasa berat.

Aku berteriak meminta tolong pada kawanku yang lain dan mengangkat tubuh Farel.

"Bawa ke ruang UKS, tidurin aja badan dia, gue yang ijin sama guru nanti" ucap salah satu kawanku yang ikut mengangkat tubuh Farel tadi.

Aku dan kawan-kawan yang lain memutuskan untuk membawanya ke ruang Unit Kesehatan Sekolah, dan membaringkan tubuh Farel. Aku menyuruh semua teman yang tadi mengangkatnya kembali ke kelas, dan membiarkan aku sendiri yang menjaga musuh besar ku.

Aku menyalakan kipas yang menggantung di langit-langit agar membuat tubuhnya sedikit dingin.

Aku terdiam sembari mengamati wajahnya yang seperti bayi. Pipinya yang chubby, bibirnya yang kecil dan tipis, matanya yang terpejam.

Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, berniat memandang wajahnya lebih jelas, namun pintu ruangan UKS terbuka.

Mataku terbuka lebar, ketika melihat seseorang yang berdiri dengan menahan tawanya.

"Kamu... Kamu lagi apa dek?" ucapnya sembari menahan tawa, wajahku memanas.

Aku malu, sangat malu. Orang itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah lemari yang dekat dengan ranjang.

"Lanjutin aja, anggap aja aku ga ada dek"

"Ah engga kok, aku ga ngapa-ngapain sumpah" aku membenarkan posisiku.

Suasana menjadi hening, terkadang aku mendengar suara tawa yang tertahan. Orang itu mendekatiku dan memandang wajahku.

"Farel kenapa?" tanyanya, aku membalas pandangannya dan tersenyum.

Aku merasa pernah melihat wajah orang yang ada di hadapanku. Tapi, dimana aku melihatnya.

"Sakit..."

"Ah... Udah kamu ke kelas aja sana, biar aku yang jaga"

"Ga apa-apa ko"

"Ah ya, aku Brama" orang itu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan senyuman di wajahku.

Kini aku ingat, ia kakak kelasku dari kelas Alam dan kakak senior Farel di ekstrakurikuler basket.

"Kalau dia ga sadar, mending pulang aja daripada disini"

"Tapi... Aku ga tau rumah dia dimana"

"Aku tau, aku buatin surat ijin ya, kamu rapihin buku-buku dia"

Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. Akhirnya, aku dan kakak kelasku mengantarnya pulang. Terpaksa tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar hari ini, walaupun sebenarnya aku bahagia, karena tak perlu kabur untuk menghindari pelajaran.

-***-

"Sore bi, Farelnya ada?" aku berdiri di samping pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Farel, ia sedang membuang sampah.

"Ah iya, masuk aja dek, aden ada ko, langsung aja ke kamernya" jawabnya dengan dialek daerah yang kental.

Aku melangkah masuk dan berjalan ke arah kamarnya. Tercium aroma keringat yang sangat ku hafal saat memasuki kamarnya.

Aroma yang membuatku rindu akan Farel.

Aku tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, ku taruh barang bawaanku di bawah ranjang dan memandang wajah Farel.

Masih terlihat jelas bekas bubur yang tadi disantap di ujung bibir Farel, ku usap dengan jariku dan membersihkan ujung bibirnya dengan tisu basah.

Sungguh sangat lucu jika melihat Farel tidur. Wajah bayi yang ia miliki terlihat begitu tenang.

"Rel... Cepet sembuh, gue kangen sama lu" ucapku pelan.

Puas memandang wajahnya, aku berjalan ke arah lemari yang ada cerminnya. Merapihkan pakaian dan menemukan sebuah kotak kaleng kecil di bawah kolong lemari.

Ku perhatikan kotak itu dan mengambil buku yang ada didalamnya. Buku tulis yang bergambarkan Astro Boy dengan catatan-catatan panjang didalamnya. Aku baca catatan itu satu persatu.

Untuk ayah, untuk ibu, dan buku itu habis dengan catatan untuk mereka. Aku mengambil buku satunya yang ada didalam kotak tersebut.

Kali ini, berbeda dengan buku yang pertama. Kali ini catatan tentang kawan-kawannya.

Untuk Andi, Budi, Adit. Aku terdiam. Aku memutar otakku keras, kenapa namaku tertulis di bukunya? Ku baca halaman demi halaman, dan tak ada yang aneh dari catatan yang dibuatnya.

Catatan yang berisi tingkah kekanak-kanakannya padaku. Ketika aku mulai bosan membaca halaman halaman itu, mataku terpaku pada satu halaman yang terisi penuh dengan kalimat Ich Liebe Dich.

"Adit... Ich Liebe Dich"

[klik pada tautan judul untuk menujur bagian selanjutnya : Ich Liebe Dich part. 1-2]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar