- Kim And His Friend (Special Appereance Debi Yuliani and Funzee)
- CL, Dara, Key and Alex
- Shindong
- 2PM, 2AM, Brown Eyed Girls (Special Appereance Jaebum)
Entah kenapa perasaanku mengatakan ada yang salah dengan penginapan ini. Apa karena pemiliknya yang terlalu ramah? Ata karena letak penginapan ini yang berada di ujung kota? Atau memang perasaanku yang salah?
“Kau merasa aneh, kim?” CL mengagetiku yang terpaku di depan papan pengumuman. Aku memandangi wajahnya.
“Kau juga?” tanyaku dengan memasang wajah heran. Ia mengangguk dan meninggalkan masuk ke dalam.
Aku mencoba menghilang perasaan aneh ini.
“Hey Kim! Ikut gabung sini!” Key mengajakku untuk berkumpul di ruang tengah bersama yang lain. Tersedia banyak hidangan nikmat di tengah meja sana. Hidangan yang tentu saja menarik nafsu makanku yang sempat hilang karena perjalanan yang yang panjang.
“Istriku sangat pintar memasak, semua keluargaku menyukai masakan istriku” Jo Kwon menarik lenganku untuk duduk bersama. Ada sesuatu yang menarik pandanganku, sebuah foto keluarga yang dipajang.
“Itu keluarga kami” Gain menjawab keheranan yang memandangi foto itu.
“Keluarga kalian? Kalian keluarga besar?” CL selalu mewakili pertanyaan yang berada di dalam benakku. Gain dan Jokwon mengangguk bersamaan.
“Silahkan dimakan, lebih enak dimakan saat masih panas” Gain memberi kami piring dengan nasi diatasnya.
Dara, Alex dan Key saling memburu makanan yang tersedia. Aku dan CL saling berpandangan, aku sangat tidak bernafsu untuk melahap makanan yang ada di hadapanku. Aku meminta izin kepada Jo Kwon untuk pergi ke kamar mandi.
Untuk ukuran sebuah penginapan, bangunan ini terlalu panjang dan luas. Sepertinya aku harus menggunakan kereta kuda agar dapat sampai ke kamar mandi. Sebenarnya, kamar-kamar di penginapan ini terbilang sedikit. Hanya ada 15 kamar, dua diantaranya telah aku dan CL pesan lalu sisanya hanya kamar kosong yang tak berpenghuni.
Aku semakin curiga dengan penginapan ini, atau memang penginapan ini hanya memiliki 15 kamar?
Aku terpatung ketika berada di depan pintu kamar mandi, aku terkejut melihat sebuah bayangan hitam yang berlari dan menghilang di sebuah pintu besi yang berada tepat di samping pintu kamar mandi tersebut. Sebuah pintu besi yang terbuka.
Aku mengintip ke dalam pintu besi misterius tersebut, ku lihat banyak peti mati kosong yang terbuka. Peti yang siap untuk dimasuki sebuah tubuh manusia. Aku semakin yakin dengan perasaanku, ada sesuatu yang harus aku ungkap disini.
Untuk apa mereka menyiapkan peti mati disini? Apakah aku dan yang lain menjadi korban pertama mereka? Aku harus memberitahu yang lain, sebelum terlambat.
_***_
“Lalala…” Alex, Dara dan Key bernyanyi dengan suara yang keras, sedangkan CL dan Gain menahan tawa mereka melihat kekonyolan mereka.
Kulihat Jo Kwon memainkan pianonya dan menunjukan lagu yang diciptakannya.
“Dodaeche meongcheonghan geonji anim sunjinhan geonji”
Aku menarik lengan CL dan mengajaknya keluar dari penginapan untuk berbicara. Sinar bulan yang indah menerpa kami.
“Sejak kapan jadi malem?” CL menggelengkan kepalanya.
“Kita belum satu jam kan ya disini?” CL mengangguk, aku memandangnya.
Jujur saja, wajahnya yang di terpa cahaya bulan sangat menarik.
“CL! Dengarkan aku… perasaanku benar… ada sesuatu dipenginapan ini!” ia terdiam memandang wajahku.
“CL! Pasangan yang ramah itu mau kubur kita hidup hidup!”
“Maksudnya?”
“CL! Makanan itu diracun! Disaat kita lengah, mereka akan memasukan kita kedalam peti mati yang telah di siapkan!” CL memalingkan wajahnya dan membelakangiku.
“Jadi… Kamu udah tau semua?” suaranya terdengar aneh, suara CL yang ceria itu berubah kalem.
“Maaf… Kim” sebuah hantaman mengenai tepat kepalaku. Aku sempat melihat seseorang yang memukulku dengan panci kecilnya. Orang yang kutarik lengannya bukanlah CL, tetapi Gain.
_***_
“Akhirnya…” aku membuka mataku dengan pelan, melihat sekelilingku. Aku mencium aroma tubuhku sendiri.
Aku berada dalam kamarku. Kakak perempuanku berdiri dengan seorang anak kecil yang memandangiku.
“Terima kasih dok…” kakak perempuanku menyalami anak kecil itu dengan riang.
“Ini siapa?” tanyaku, aku menyandarkan diri dibantu oleh kedua orang itu.
“Ini dokter yang bangunin kamu…”
“Anak ini dokter?” aku membelalakan mataku.
“Hey aku berumur 10 tahun!” nyawaku seakan pergi meninggalkan ragaku. Aku hafal dengan kalimat itu, kalimat yang
sering diucapakan sang penyihir kecil—yang sombong—hebat itu.
“Lagian kok ya kamu tiduran di dalem kamar mandi? Kamu kenapa? Jatoh di kamer mandi? Dari tadi darah di kepala kamu ngalir, engga bisa berhenti…” aku tak menghiraukan ocehan kakak perempuanku, aku memandangi anak kecil itu.
“Kamu Alex?” tanyaku dengan sedikit heran.
“Alex siapa? Kamu mimpiin orang yang namanya Alex?” kakak perempuanku menjawab pertanyaanku.
“Mungkin ini efek dari aroma therapi yang aku kasih kak, biarin aja”
“Ya, ya udah kakak tinggalin kamu sama dokternya ya, kakak mau ambil kompresan buat kamu” kakakku meninggalkan ku
dengan anak kecil ini. Ia meringis memandangku.
“Angga? Nama yang keren”
“Kamu Alex?”
“Tenang saja, namaku tak berubah sama sekali”
“Ngapain kamu disini?” anak itu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang berisi cairan berwarna lalu menyuntikkannya di lenganku.
“aku hanya menuntaskan tugasku, kau… jangan sampai lupa akan janjimu… maafkan aku kim…” tubuhku memberat, pandanganku kabur. Aku tak sanggup mengggerakan semua anggota tubuhku.
Ku pejamkan mataku, aku ingin membuka mataku dan berteriak. Namun, tubuhku lemas. Seakan-akan aku tak dapat kembali hidup.
_***_
Aku membuka mataku dengan perlahan. Pandanganku sedikit kabur, namun dapat kulihat dengan jelas sekumpulan orang dengan pakaian bangsawan belanda di hadapanku. Beberapa lelaki bertelanjang dada memamerkan tubuh bagian atasnya yang terbentuk, sebagian menggunakan vest panjang.
Dengan balutan pakaian bangsawan belanda berwarna merah dan hitam, para wanita yang kulihat tersebut mendekat dan membantu melepas ikatan di tanganku.
“Maafkan adik kami…” ujarnya dengan senyuman, aku mengenal semua wanita yang melepas ikatanku.
“Jea? Narsha? Miryo?”
“Kau mengenal kami?” Jea mengangkat alisnya dan memandangku, blus hitam merah panjang dengan bagian bawahnya yang menjuntai ke lantai membuat Jea sang dewi terlihat berwibawa dan sangat cantik.
“Jelas ia mengenal kita, kak… kau lupa pernah menunjukan diri saat ia kecil?” Narsha menggunakan sarung tangan panjang berwarna hitam, sangat cocok dengan pakaian bangsawannya yang dominan berwarna merah.
“Kau lupa saat menyihirnya menjadi kodok?” Miryo melengkapi kalimat Narsha. Rambutnya yang ikal panjang menutupi kerah pakaiannya membuat Miryo terlihat lebih seram dari yang aku kenal.
“Untung saja nenek menghilangkan sihirmu kak”
“Iya, jika tidak… mungkin saja seraphim ini tak akan ada disini sekarang”
Tiga laki-laki mendekat memandangiku. Dengan vest hitam panjang dan kemeja berwarna hitam melekat ditubuh mereka, aku mengenal mereka. Seulong, Jinwoon dan Changmin tersenyum menatapku.
“Ya, kita harus berterima kasih pada nenek. Sampai saat ini kita masih bisa merasakan dunia manusia tanpa harus memakannya” kali ini sekumpulan laki-laki yang bertelanjang dada mendekat. 6 laki-laki yang ikut tersenyum.
Aku terdiam memandang mereka, 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls yang ku kenal berubah menjadi sekumpulan orang yang memakan manusia? Apa telingaku mulai kehilangan pendengaran?
“Kalian vampire?” mereka mengangguk.
“Kau sudah sadar?” Gain dan Jo Kwon mendekat dan meminta maaf padaku.
Aku dibawa mereka keruang tengah, mereka memapahku dan membuatkanku teh hangat.
“Maafkan aku…” Gain menundukan wajahnya, aku tersenyum.
“Tak apa, tenang saja… aku tidak mati”
“Tapi… aku harus lakukan itu padamu…”
“Ya… aku mengerti…”
“Kim, kau benar-benar seraphim?”Jea memandang ku sambil meminum tehnya, aku mengangguk.
“Baiklah… aku langsung saja pada topik” Nickhun memandangku tajam.
“Ada apa ini?”
“Sebelumnya kami meminta maaf… karena kami hanya ingin berbicara padamu, Kim” Taecyon menawariku kue ringan.
“Memangnya ada apa?”
“Kau tau kami harus pergi dari istana kami karena tingkah seseorang… Kau tau Jaebum?” aku menggelengkan kepala.
“Jaebum adalah saudara kami, namun karena tingkahnya yang mengincar kekuatan batu malam menjadikan ia seseorang
yang akan haus kekuatan. Banyak orang di kota menghilang karena dia, dia merubah para penduduk yang tak bersalah itu menjadi vampire” Seulong menjelaskan dari tempatnya yang berdiri di pinggir jendela.
“Lalu?”
“Ia menjadi semakin kuat karena meminum darah manusia yang tak bersalah itu, aku ingin menghentikannya. Kami meminta bantuan kepada ninetails fox namun saudara mereka tertangkap dan kami harus menebus kebodohan kami” aku
mengangguk.
Aku mengerti, sebenarnya Funzee mengirim kami bukan karena tentara merah. Namun karena ulah vampire yang menyandera Taemin—adik kecil Key.
“Bantu kami, Kim… tak ada yang bisa mengalahkannya selain seseorang yang memiliki kekuatan hebat” Junsu menambahkan.
“Kak Jaebum tak pernah seperti ini… aku yakin ia di pengaruhi oleh kekuatan lain” Chansung yang mengunyah pisang ikut berbicara.
“Iya, aku yakin ia dipengaruhi kekuatan yang aneh… kau tau kekuatan sang merah?” Changmin menunjukan wajah herannya, diikuti Junho, Wooyoung, Jinwoon dan Jo Kwon.
“Aku tau… aku tau sangat tau” aku menatap wajah mereka.
Ku jelaskan pada mereka semua yang ku ketahui. Sebenarnya aku tak mengerti apa itu sang merah namun aku yakin ‘kekuatan sang merah’ adalah kekuatan yang berasal dari musuh nenekku. Aku sangat yakin.
“Kau bisa bantu kami?” Miryo bertanya padaku.
“Aku? Aku butuh bantuan kawan-kawanku…”
“Ah, kau butuh bantuan wanita cantik yang sempat aku dandani?” Wooyoung berbicara dengan nada riang.
“Maksudmu orang yang bernama sandara park itu?” Jinwoon mengerenyitkan dahinya.
“Ya diakan yang aku dandani” Wooyoung meringis.
“Tidak, mereka tidak bisa memasuki istana kami. Yang dapat masuk kedalamnya hanya Narsha, Jo Kwon, Gain dan Kau” Jea menjelaskan.
“Kenapa aku?”
“Karena kau seraphim… walaupun Narsha adalah penyihir vampire terhebat selama 500 abad yang lalu… Narsha tetap kalah karena kekuatanmu yang dahsyat” Junho memotong kalimat Jea.
“Apa buktinya?”
“Sekarang kau masih bisa berbicara” Jinwoon menunjukan wajahnya yang tertawa.
“Orang yang dipukul oleh Gain akan divonis mati, karena ia wanita yang memiliki 15000 kekuatan laki-laki. Sedangkan Jo Kwon kebalikan dari Gain, ia memiliki sihir penyembuh yang dapat menyembuhkan 15000 kematian yang disebabkan Gain”
aku mengangguk mendengarkan penjelasan Nickhun.
“Baiklah akan aku bantu…”
_***_
Aku membantu keluarga vampire yang ku temui di penginapan ini. Malam semakin larut, bulan tepat berada di atas kepalaku. Aku menyiapkan diri untuk pergi ke sebuah istana yang kulihat di perjalan sebelum menginap di penginapan ini.
Ku lihat satu bintang yang berkelip di langit, walau aku merasa aneh dengan semua yang ku alami. Namun aku merasa nyaman karena semua ini.
Jujur saja, aku rindu akan dunia nyataku. Namun, aku harus menyelesaikan sesuatu di dunia mimpi ini. Aku ingat apa yang dikatakan anak kecil yang memiliki rupa seperti Alex, aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dan menepati janjiku pada semua orang di dunia ini.
Rasanya aneh aku bertemu dengan para anggota 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls. Mereka adalah idolaku di dunia nyata, sama seperti CL, Minzy, dan Park Bom. Aku khawatir, jika dunia ini akan bercampur dengan dunia nyataku. Ataukah memang sudah tercampur?
Aku merasa jika dunia yang sedang ku alami adalah dunia nyataku, sedangkan dunia nyataku adalah dunia mimpiku. Aku bingung.
Aku ditemani Jo Kwon, Gain, dan Narsha menuju istana besar yang kulihat tadi siang. Suasana yang hening langsung menyerang kami, hawa dingin merasuk ke dalam tulang.
Tak ada pencahayaan di dalam istana ini, hanya cahaya bulan yang menyinari istana ini. Istana yang gelap, dengan kelelawar yang berterbangan kesana kemari. Belum dengan patung naga yang mungkin saja akan bergerak jika kami lengah.
Ku dengar suara desahan berat dari arah belakangku, ku perhatikan sekelilingku. Banyak manusia yang telah berubah menjadi vampire. Tubuh mereka masih lengkap, mungkin hanya mereka tidak memiliki kesadaran.
“Itu korban Jaebum” Jokwon menjawab rasa penasaranku.
“Baiklah kita langsung saja ke tempat Jaebum” Narsha mengajakku kesebuah pintu besar dengan penjaga vampire yang tak bergerak.
“Sebentar, aku ingin membebaskan seseorang disini” ujarku yang mencari sebuah jalan menuju penjara. Aku yakin Taemin dan saudaranya di sandera di istana ini.
Belum aku melangkah, sebuah binatang besar kepala tiga dengan taring panjang dan air liur yang menetes di ujung taringnya mengerang lalu menyerangku.
“KIM!” Gain berteriak melempar sebuah panci ke arahku tepat mengenai salah satu taringnya. Makhluk itu mengerang keras dan menghembuskan napasnya yang menerbangkan Jokwon entah kemana.
Narsha menutup matanya dan mengucapkan sihir waktu, Jokwon yang terlempar kembali berada di tempatnya yang berdiri dan berteriak.
“Dark Aura!” Narsha mengucapkan sihir yang memberi kami sebuah perisai sihir. Kaki makhluk tersebut mencoba menyerang perisai ajaib kami.
Gain berdiri disebelahku dan terus menyerang makhluk itu dengan panci favoritnya.
“Fira!” aku mengeluarkan bola api dari tongkatku, membuat sedikit bulunya terbakar di bagian pinggir tubuh makhluk tersebut.
“Kim, serahkan padaku” Narsha merentangkan tangannya, dengan matanya yang masih menutup ia mengeluarkan tangan hitam besar dari bawah tanah. Tangan itu menggenggam tubuh makhluk itu.
Jo Kwon mendekat dan menanam sebuah benda di taringnya, ia mengucapkan mantra dan benda di taring makhluk itu meledak.
Aku masih mengeluarkan bola api dari tongkat sihirku, sedangkan Gain dan Jokwon bergabung menyerang dua kepala lain makhluk tersebut.
Narsha mengeluarkan tangan sihir lain. Narsha menggerakan tangannya, lalu tangan sihir tersebut mengikuti gerakan tangan Narsha. Narsha mencakar makhluk tersebut lalu membantingnya.
“Kim, serang dengan kekuatan lain. Setauku ia lemah dengan kekuatan cahaya! Tangan sihirku sebentar lagi akan hilang!” Narsha berteriak di belakangku.
“HOLY!” aku berteriak mengarahkan tongkat sihirku ke salah satu kepala makhluk tersebut, salah satu kepala makhluk itu menghilang. Namun, masih saja makhluk itu mengerang dan menyembuhkan kepalanya yang hilang.
Aku panik, kekuatan ku melemah. Gain dan Jo Kwon masih bergabung menyerang makhluk itu. Sedangkan Narsha melepaskan tangan sihirnya dan membuat sihir.
“Super Petrified!” aku mengucapkan sebuah mantra yang aku sendiri tak tahu apa kegunaannya. Aku hanya mengucapkan mantra yang ada di dalam benakku. Makhluk tersebut tiba tiba membatu tak bergerak.
“Baiklah sentuhan terakhir!” Narsha berteriak.
“Kegelapan yang berada di istana ini berkumpul, bantu aku mengalahkan mahkluk ini!” tangan sihir narsha membesar. Genggamannya menutupi tubuh cerberus dan mengangkatnya tinggi di atas kepalaku.
Narsha melepasnya lalu makhluk tersebut pecah berkeping-keping.
“Akhirnya…” Jo Kwon menghela napas, ia mengucapkan mantra sihir penyembuh yang menghilangkan luka.
“Lebih baik kita langsung ke tempat Jaebum, aku khawatir jika kau pergi sendiri…” Gain mengajakku. Ku urungkan niatku untuk menyelamatkan Taemin dan saudara-saudaranya.
Aku terus berjalan melewati pintu besar yang ada di hadapanku. Jika saja CL ada di sampingku mungkin akan lebih cepat mengalahkan cerberus tersebut.
Satu demi satu anak tangga ku naiki agar sampai ke tempat yang paling tinggi. Narsha bercerita jika istana ini memiliki sebuah kamar yang bisa dilewati oleh seorang penyihir. Maka dari itu Jea menyarankan Gain, Jokwon dan Narsha menemaniku.
Kami sampai di depan pintu besi yang dijaga oleh sekumpulan makhluk bertulang dengan pedang digenggamannya.
“Itu skull, tenang saja… aku menemanimu, mereka tak akan menyerang” Gain melangkah kehadapanku dan mengucapkan sebuah perintah dalam bahasa yang sulit dimengerti olehku. Para makhluk tersebut menunduk dan menyembah Gain, memberi jalan lalu membukakan pintu besi tersebut.
“Aku adalah prajurit skull 500 abad yang lalu” Narsha dan Jokwon tertawa, aku hanya terdiam memandang para makhluk tersebut yang menyembah dengan sisa tulang di tubuh mereka.
Aku masuk kedalam ruangan itu, terdengar suara pipa organ yang memekikkan telinga. Nada-nada yang dimainkan organ tersebut terdengar sedih dan memiliki sebuah keegoisan, aku yakin seseorang yang memainkannya sedang dalam kondisi bimbang. Sangat yakin.
“Kau datang juga…” seseorang dengan tubuh kekar dan taring panjang menghentikan permainan pipa organnya, ia berdiri membalikan badan lalu memandang Jokwon.
“Selamat datang… Kwon” ia tersenyum keji memandangku, membuang pandangannya lalu mendekati Gain dan Narsha.
“Ah, reunian keluarga” orang itu menjauh lalu menanggalkan pakaiannya.
Ia memamerkan tubuhnya yang terbentuk, dengan berbagai pecutan disana-sini. Ia hanya menggunakan sebuah celana panjang yang digunakan oleh Jokwon.
“Bummie… hentikan semua ini…” Jokwon mendekatinya, aku paham orang ini adalah orang yang dibicarakan keluarga vampire di penginapan tadi.
“Hentikan apa? Aku tidak melakukan apa-apa” ujarnya, ia terbang mendekati Kwon. Matanya memerah dan mengeluarkan darah dari ujung matanya.
Kulihat darah itu menetes didadanya yang bidang.
“Aku tak bersalah… kau tau itu Kwon”
“Jaebum! Hentikan!” Gain melempar sebuah panci ketika Jaebum menjulurkan tangannya seperti ingin mencekik leher Kwon.
“Ah! Kekuatanmu masih 15000 orang, Gain” ia tersenyum lalu menjauhi kami. Dengan tawanya yang khas dan suaranya yang memekikan telinga, ia melipat tangannya lalu mencakar tubuhnya sendiri.
“Entah kenapa aku merasa marah ketika melihat kalian!” darah yang mengalir sangat banyak membasahi lengannya, darah segar yang menggenang di kakinya.
“Lihat ini! Darah ini mewakili perasaanku yang tak bisa menangis!”
“Bummie… hentikanlah…” Jokwon mendekat, Dari tempatku Narsha mengucapkan mantra lalu melindungi Jokwon dengan
perisai ajaib.
“Kwon… kau tau siapa aku dahulu… tapi entah kenapa seluruh orang membenciku…”
“Bummie, dengarlah… tak ada orang yang membencimu… mereka sayang padamu”
“Jika memang mereka sayang padaku kenapa aku di asingkan seperti ini!” ia menusukan jarinya di tubuhnya, darah segar keluar dari tubuhnya. Darah yang tersebar ke segala arah.
“Aku tak mengerti dengan manusia disini! Aku hanya berkata jika aku bosan menjadi seorang vampire dan ingin menjadi manusia, tapi entah kenapa mereka mengutukku dan mengasingkanku di istana ini… di tempat yang tadinya penuh oleh canda tawa keluargaku, yang penuh dengan gurauan bodohmu, yang penuh dengan kenang indah dan manis…”
“Bummie, kami masih ada disini…”
Narsha berbisik padaku, ia menyuruhku untuk mengucapkan mantra pengganda tubuh dan bersembunyi. Narsha menarik
Gain dan aku, meninggalkan Jokwon yang berdiri berhadapan dengan Jaebum.
“Bummie, aku tau kau siapa… hentikanlah… aku yakin kau dipengaruhi sihir sang merah”
“Sang merah? Kau tau sang merah? Jangan asal bicara kau tentangnya! Kali ini sang merah adalah keluargaku satu-satunya!” ia mendekati kwon lalu menyerangnya, namun serangannya terhalang perisai ajaib Narsha.
“Ah, sihir Narsha…” kulihat dari tempat persembunyian kami, ia belum sadar jika orang yang ada dihadapannya hanyalah penggandaan sihir yang ucapkan. Kecuali Jokwon yang memang ingin berbicara dengan Jaebum.
“Kwon, hilangkan sihir ini… temani aku yang kesepian…”
“Tidak, aku ingin kau yang meninggalkan tempat ini lalu bergabung dengan keluarga yang lain. Aku yakin kau sanggup menghilang sihir sang merah. Hilang sihir itu lalu kembali pada keluarga yang lain… mereka menunggu mu”
“Menunggu? Menungguku mati? Hah!” ia menyerang gandaan Gain yang terpaku. Ia terkejut karena orang yang diserangnya menghilang.
“Sihir apa ini? Kau bisa menggandakan diri, Kwon?”
“Aku tidak akan menjawabnya jika kau masih ada dalam pengaruh sihir sang merah!”
“Sudah kubilang kau jangan asal bicara tentang sang merah!” kali ini Jaebum benar-benar menyerang jokwon hingga perisai ajaibnya menghilang. Ia melayang sambil mengangkat tubuh jokwon tinggi-tinggi.
Ia menjatuhkan tubuh jokwon dari tempatnya terbang, Jokwon tersenyum dengan tubuh yang luka.
“Aku tak akan marah sedikitpun. Aku ingin menunjukan luka ini padamu… aku ingin tunjukan padamu jika aku benar-benar menginginkan mu kembali…”
“Banyak bicara kau!” jaebum mendarat di hadapan tubuh Kwon yang terkulai, ia menendangnya lalu mencakarnya.
Gain yang memeluk Narsha menangis, ia tak tega melihat suaminya terluka. Emosiku naik, ingin ku tolong Jokwon dan menyelesaikan semua ini dengan cepat.
Narsha menarik tanganku yang hendak menolong Jokwon.
“Apa kau masih dapat berbicara keras padaku? Hah! Apa kau masih dapat berbicara! Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan asal membicarakan sang merah!” Ia terus menendang tubuh Jokwon. Jokwon terpental hingga ke sebuah pipa organ yang tadi dimainkan oleh Jaebum.
Tubuh jokwon hampir tertusuk salah satu pipa organ yang ujungnya tajam, pipa organ yang hancur berantakan mengelilingi tubuh jokwon.
“Kau betapa sakitnya aku diasingkan oleh para manusia itu? Yang jelas lebih sakit dari tendanganku! Kau tau sudah berapa abad kalian meninggalkanku? Kau tau? Kau tau itu bodoh!” Jaebum mengangkat tubuh Jokwon melemparnya menjauhi pipa organ yang hancur mendekati pondasi yang menjadi persembunyianku.
Aku mengucapkan mantra tembus pandang, aku menghilangkan Gain dan Narsha agar tak diketahui oleh Jaebum.
Kuhilangkan pula tubuh gandaanku yang hanya mematung memandangi semua perlakuan Jaebum. Sepertinya, ia tak sadar jika tubuh gandaanku telah menghilang.
“Kau tau ucapan para manusia itu? Mereka menganggapku sampah! Mereka menganggapku…”
“Super Holy!”
“Triple Archer!”
“Curaga!”
Jeabum menghentikan perlakuannya pada Kwon dan memandangi orang yang sempat menyerangnya. Kulihat laki-laki dengan dua orang perempuan berdiri lesu menatap Jaebum. Aku yakin laki-laki itu adik Key yang disandera olehnya.
“Hentikan perlakuanmu Vampire bodoh!” laki-laki itu melindungi dua perempuan yang berdiri di belakangnya.
“Ah, Taeminie… kau hebat dapat keluar dari kurungan sihirku…”
“Jelas aku dapat membebaskannya… karena kurunganmu sudah usang dan berumur 500 abad!” Kulihat Funzee muncul di balik tubuh kumpulan orang tersebut, ia tersenyum lalu mendekati Jaebum.
“Sedang apa kau disini?” Jaebum mendekati Funzee lalu mendorongnya mendekati Jokwon.
Funzee menekan sebuah tombol di kursi rodanya, ia merubah kursi roda tersebut menjadi sebuah robot besar dengan pedang dan tombak di setiap genggamannya.
“Hentikan semua ini!”Funzee berteriak lalu mengayunkan pedang ke arah Jaebum. Jaebum menahan dengan kedua tangannya lalu tertawa memandangi Funzee.
Ku hilangkan mantra tembus pandang, mendekati Jokwon mengangkatnya ke sekumpulan orang yang terkulai lemah diseberang pandanganku.
“Sayang… kau tega melukai suamimu?” tanya Jeabum melayang mendekati Funzee yang duduk di atas kepala robot—kursi rodanya.
“Suamiku adalah vampire yang berperasaan, bukan sepertimu!” ia menebaskan tombak kearah Jaebum, Jaebum menghindari tebasan itu lalu mendarat dengan pelan.
“Bagaimana jika aku memang vampire yang terlahir tidak berperasaan… apa kau akan tetap meninggalkanku?”
“Setidaknya aku akan berusaha mengubahnya menjadi seseorang yang berperasaan seperti Jaebum yang kunikahi dulu!”
“Rasakan ini!” aku terkejut ketika mendengar teriakan seorang wanita yang melemparkan sebuah tombak dengan mata tombak yang runcing.
Aku memandang ke arah lain dan tersenyum pada orang yang melempar tombak tersebut.
“Debi?”
“Berhentilah memandangku! Sembuhkan mereka dengan cairan ini…” seorang wanita berkacamata, dengan rambut bob menggunakan pakaian seorang pelempar tombak tersenyum padaku. Ia kawanku sejak aku masih bersekolah.
Pemikiranku benar, dunia ini telah tercampur dengan dunia nyataku.
“Jangan lupakan aku…” dengan tubuh besar dan perut yang sedikit maju, ia menjulurkan tangannya.
“Shindong, pembuat potion yang hebat disini” aku menjabatnya, Narsha memberikan potion itu kepada orang-orang yang terkulai.
Kuputuskan untuk membantu Funzee mengalahkan Jaebum.
“Kak, aku disampingmu…” aku berdiri disamping robot Funzee yang sedang menebaskan pedang dan tombaknya.
“Time Stop!” ujarku dengan lantang. Semua yang bergerak berhenti seketika kecuali aku dan Jaebum.
“Aku yang akan mengalahkanmu…”
“Benarkah? Apa kau seraphim yang dikatakan sang merah? Sungguh berani kau menantangku”
“Jangan berlagak!” aku mendekatinya lalu memukulkan tongkatku ketubuhnya, ia mengerang ketika aku memukul dadanya.
“Sejak kapan kau tau kelemahanku tepat didada?”
“Aku tak pernah tau hingga sekarang!” ia memebelalakan matanya, mungkin ia merasa tertipu karena seranganku yang mengenai dadanya.
“Baiklah kali ini lebih serius… tak akan kuampuni kau!” ia menyerangku, ia mencakarku lalu mencekikku.
Aku meronta melepaskan diri, lalu ku ucapkan matra pengganda dan membiarkan tubuh gandaanku menyerangnya. Ia kebingungan mencari siapa yang akan diserangnya, tubuhku memenuhi ruangan yang berantakan.
“Fira!”
“Blizaga!”
“Thundaga!”
“Slew!”
“Super Holy!”
Semua tubuh gandaanku mengucapkan mantra penyerang, semua elemen cahaya, air, api, dan petir menyerangnya.
Namun ia masih tetap berdiri dengan tegap. Ia menyerang semua tubuh gandaanku, menyisakan aku yang masih berdiri memandangnya.
Aku tertawa, ku lihat ujung pipa organ yang masih menggantung pada bagian tubuhnya. Aku mencepatkan gerakanku, ia mencoba menyerangku. Namun, serangannya tak pernah mengenaiku. Aku mengambil ujung pipa organ yang menggantung itu lalu mengucapkan mantra pelambat gerakan pada Jaebum.
“Mungkin kau akan menyesal karena telah mencoba menyerangku dengan cakaranmu” ia melempar sebuah batu besar kearahku, aku menghindarinya.
Ia mencoba melempari semua yang ada di hadapannya. Lemparannya tepat mengenai tubuh robot Funzee yang mematung. Aku mengucapkan lagi sebuah mantra pengganda dan membiarkan ia menyerang semua tubuh gandaanku.
“Rasakan ini!” aku muncul dari belakangnya lalu menusuknya tepat dijantung. Ia berteriak, darah segar keluar mengenai wajahku dan menyebar ke segala arah.
Tubuh Jaebum meledak, membuat bangunan tua ini bergoyang. Aku menghela napas dan mengucapkan mantra agar waktu yang berhenti kembali berjalan.
Semua orang yang berada di ruangan ini terkejut lalu memandang semua puing-puing yang mengelilingiku.
Semua orang menyorakiku dan berteriak mendekatiku. Aku tak mendengar jelas apa yang dikatakan mereka, tubuhku lemas. Aku menjatuhkan diri dan menutup mataku.
_***_
Aku tersadar karena tetesan air mengenai mataku.
“Kau sadar Kim?” CL tersenyum, aku memandang sekelilingku. Ruangan ini bukan kamarku, di temboknya terpajang foto keluargaku.
Aku merasa asing dengan tempat ini, mungkinkah ini ruangan istana yang di tempati oleh Jaebum?
“Kau hebat…” CL meninggalkanku yang kebingungan.
Aku bangkit dari kasur lalu berdiri di sebuah balkon memandang jauh kearah padang rumput yang luas.
Apa yang baru kualami hanya sebuah mimpi?
Kurasakan perih dan linu di lenganku, aku menyentuh lenganku dan melihat sebuah cakaran. Yang baru kualami bukanlah mimpi, ini kenyataan.
Semua yang kulakukan disini adalah kenyataan, semua yang terjadi disini pula adalah kenyataan. Aku yakin—sangat yakin—dunia nyataku adalah dunia ini.
Kupandangi sinar mentari yang menyilaukan, dari tempatku berdiri kulihat sebuah danau yang memantulkan sinar matahari yang indah.
Pagi baru datang menyambutku yang percaya jika dunia mimpi ini adalah dunia nyataku.
Note :
Fire, Holy, Super Holy, Blizzaga, Thundaga, Slew : a basic spell on a (every) fantasy games
Dark Aura : a shield which contain a dark element
Slew : a slow motion spell, more effective than slow
Triple Archer : an attack with 3 arrow in 1 shoot.
Curaga, Super Petrified : a giga spell on a (every) fantasy games.