Ia memicingkan matanya menghadap langit, mengamati peredaran awan gelap yang kini telah menutupi cahaya matahari. Ia semakin yakin jika hujan akan turun nantinya.
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke sebuah rumah kecil di dekatnya, rumah dengan teras dan halaman yang luas, juga tanaman-tanaman dalam pot kecil yang membuat rumah tersebut terlihat.
Ia memutuskan untuk masuk ke halaman rumah, berdiri dekat kursi bambu dan menunggu hujan turun.
Balutan sweater dekil berwarna putih yang menutupi baju hitam, dengan celana jeans hitam panjang yang dilengkapi dengan sepatu cats berwarna putih. Topi hitam dan ransel sedang yang digendongnya senada dengan warna pakaian yang dikenakannya, membuat ia menjadi salah satu perhatian para pejalan kaki ya melintas.
"Apa yang salah denganku?" gumamnya kecil sembari menunduk, memperhatikan pakaiannya sendiri karena sedikit merasa malu menjadi salah satu objek yang dilihat pejalan kaki.
"Hi" sapa seseorang dari arah pintu, yang menggenggam cangkir kecil berisi teh hangat.
Ia menoleh, langsung membungkukan diri tanpa melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Maaf, maaf, saya hanya pejalan kaki yang ingin berteduh" ucapnya sambil membungkuk.
Orang itu tertawa kecil, melenggang ke kursi dan duduk sembari menaruh cangkir putih di meja.
"It is fine, you don't disturb me" ujar orang itu sambil memandanginya.
"Take a sit boy" ia tegap, lalu duduk dengan malu-malu.
"You hate rain do you?" tanya orang itu, ia mengangguk kecil. Ia masih belum berani, mengangkat kepalanya, ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Ah, its funny, I think just someone in this world who don't like a rain" lanjut orang itu.
"You remind me about someone, my litlle brother. He's don't like a rain, even the rain not pouring yet" orang itu terkekeh, lalu meminum teh hangat dan orang itu kembali memandanginya dengan seksama.
"Oh hey, how about tea? Do you want some?"
"Ah, ga usah, ga usah, ngerepotin mister aja" ia menolak tawaran orang itu.
"Don't call me mister, saya orang indonesia, hanya saja, saya orang yang suka berbicara menggunakan bahasa inggris" ia mengangguk.
"Well, are you blackjack huh?" ia mengangguk lagi.
"Hm, lucu sekali. Setelah kau mengingatkan ku tentang seseorang, ternyata topimu pun mengingatkan ku pada orang itu..." ia mengangkat kepalanya, sedikit mengintip untuk melihat siapa yang ada disampingnya.
"Well, selagi menunggu hujan turun, saya ingin bercerita padamu, kau tak keberatan kan?" orang itu kembali meminum tehnya dan mulai bercerita.
-***-
Yoga, nama panggilanku disekolah. Kini, aku menduduki kelas akhir disekolah, yang artinya aku harus bisa lebih konsentrasi karena masa depan yang pasti ditentukan setelah lulus sekolah nanti.
Semester pertama di kelas akhir ini, aku disibukan oleh kegiatan theater yang akan diadakan pertengahan tahun oleh sekolah. Bertepatan dengan ulang tahun sekolah yang ke-50 tahun, umur yang berkilau seperti emas.
Sekolahku memang bukanlah sekolah favorit, namun prestasi akademik maupun non-akademik yang dibuat sekolah ini mendapat acungan jempol dari para petinggi dikotaku.
Kelasku mendapat bagian theater, sedangkan kelas lain ada yang mendapat bagian untuk 'kur', penari latar, figuran yang menggunakan properti, bahkan ada kelas yang sama sekali tak mendapat bagian.
Kelasku dibantu oleh beberapa junior-satu tahun dibawahku, junior-junior yang memang mengikuti ekstrakulikuler kesenian. Para junior itu pula membantu sekolah menoreh prestasi dibidang non-akademik. Lebih dari lima kali-pada tahun ini mereka memenangkan lomba menari dan theater tingkat kota, mereka selalu menduduki juara satu disetiap perlombaannya. Maka dari itu, para wali kelas mengandalkan mereka untuk menjadi mentor para senior.
Angga, salah satu junior yang kukenal. Ia membantuku dalam hal 'mendalami peran'. Ia termasuk junior yang 'hyperaktif', tak sering para senior tertawa melihat tingkahnya yang 'nyeleneh' dan konyol.
Angga pula lebih sering terlihat dilayar kaca, walaupun hanya sebagai pemeran pembantu di beberapa serial ftv dan iklan-iklan lokal. Namun, aku mengacungkan dua jempolku untuknya. Bukan hanya wajahnya yang manis, namun karena prestasi yang diraihnya.
"Ka, berhenti ngomong pake bahasa inggris napa" ucapnya padaku yang menikmati mie instan buatannya. Waktu itu, aku dan dia sedang beristirahat setelah melakukan latihan theater.
Aku tersenyum mendengar kalimatnya, ia selalu berkata dengan mimik wajah yang membuat orang tertawa.
"Why? Its already been setted in my life" jawabku.
"Ya, tapi kan kaka itu orang indonesia, seengganya EYD harus dipake dong"
"Okay, if this for you I will do it"
"Ngomong okenya jangan dilanjutin sama bahasa inggris, baboya..." aku kembali dibuatnya tertawa.
"Kamu, ngomong ke orang lain jangan pake bahasa inggris sendirinya pake bahasa korea"
"Ah, geunddae, its already been settled" kami berdua tertawa.
-***-
Orang itu bangkit dari kursi bambu, menurunkan tirai kayu yang ada dihadapannya.
"Rain will down, wanna take a sit inside house or stay here?" Orang itu bertanya padanya yang telah mengangkat kepalanya, walau wajahnya masih tertutup oleh topi yang dikenakannya.
"Diluar aja, pak" jawabnya, ia melepas ransel dan menaruhnya di pangkuannya.
"Okay, let's continue" Orang itu meminum teh lalu kembali bercerita.
-***-
Angga selalu mengeluh padaku ketika aku harus berakting 'sedang jatuh cinta', ia selalu mengomeliku karena ekspresi dan nada bicaraku yang tak karuan menurutnya.
"Ka, gimana sih? Masa kaya beginian aja ga bisa!"
"Its hard you know!"
"Ga ada yang susah! Ah! Kaka pernah jatuh cinta ga sih?" bentaknya sembari melakukan mimik yang membuatku tertawa.
"Elah, malah ketawa, weh! Ini seriusan! Satu bulan lagi kalian tampil weh!"
"Just don't angry to me like that, you look like a make a joke than angry to me" aku tertawa, ia menarik nafas lalu mengambil naskah drama dari genggamanku.
"Nih, gue contohin ya ka, disini kan tulisannya...." Ia menghentikan kalimatnya, bola matanya bergerak cepat kearah kanan dan kiri menyapu kalimat-kalimat didalam naskah.
"Nah, nih tulisannya sejak aku pertama kenal kamu aku langsung suka sama kamu. Itu artinya, kaka itu suka sama lawan main kaka! Jadi kaka itu harus mainin nada bicara kaka! Weh!" lanjutnya.
"Okay, teach me"
"Aku jadi lawan kaka, kaka harus bisa bikin lawan kaka itu 'skakmat' abis dengerin omongan kaka" ujarnya menceramahi ku.
"Ya, so when we start?"
"Sekarang, kaka tarik nafas dulu, terus lanjutin dialog kaka, jangan terpaku sama naskah! Kalo kaka udah ngedalemin perasaan kaka, semuanya bakal ngalir" aku terdiam memandangnya, aku menarik nafas panjang dan mendekati Angga.
"Angga... Boleh kita ngobrol sebentar"
"Bagus, lanjutin ka, feelnya mulai dapet" ucapnya mengamatiku.
"Pertama kenal sama kamu, aku..." ia mengangguk, mata sendunya menatap mataku. Jantungku berdegup kencang, aku benar benar gugup.
"Aku... Aku suka sama kamu" tiba-tiba mata sendunya menutup dan ia pergi menjauhiku.
"Kaka ga akan pernah bisa ngelanjutin dialog ini dengan sempurna" ujarnya sembari mengeluarkan botol minum dari tasnya.
"Eh? Why? This is just a theater, just drama! Don't do it with a perfect skill"
"Ya, tapi kalau sebuah drama kakanya ga becus, maksudnya ga dalemin peran, semuanya bakal hambar!" nada bicara Angga sedikit naik.
"Lagipula, apa salahnya drama yang kalo dilakuin secara sempurna? Babo! Gue balik dulu ka, usaha buat latihannya, oya mulai besok kayanya gue ga bisa nemenin kaka latihan, maaf" ia meninggalkan ku siang itu di aula.
-***-
"Saya berpikir, waktu itu dia marah besar sehingga dia berbicara demikian" orang itu menjelaskan, ia bersandar di punggung kursi, sembari menikmati cerita panjang orang itu.
"Angga memang bukan orang yang spesial, tapi dihati saya dia sangat spesial. Wajahnya yang sunda asli, matanya yang besar dan senyumnya yang menawan, membuat dia terlihat sangat manis, tak salah dia selalu menjadi pilihan para sutradara untuk membintangi iklan iklan lokal" ia tertarik akan cerita lanjutan orang itu.
Suara petir kencang mengagetkan mereka, dan hujan mulai turun.
-***-
Pagelaran pentas sekolah usai dilaksanakan, para siswa tahun akhir diberi hari bebas selama satu minggu. Dan satu minggu pula aku tak bertemu Angga.
Aku sangat menyayangkan semua ini, mungkin Angga masih marah dengan tingkahku kemarin. Mungkin ia tersinggung akan kalimatku waktu itu, mungkin ia membenciku karena menyinggung tentang 'kesempurnaan' dalam melakukan 'drama'. Bodohnya aku.
Aku mencoba bertanya pada seluruh teman-temannya, aku menanyakan tempat tinggal Angga, berapa nomor teleponnya, namun tak ada yang mengetahuinya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya, dan tentunya maaf.
Hingga saat ini, aku belum juga menemukan dimana Angga.
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya di sebuah warung kecil dekat sekolah.
Aku ingat sekali ia menggunakan sweater tebal berwarna hitam, berdiri di bawah atap warung.
"Angga!" aku berteriak dan mendekatinya.
"Belum pulang? Kenapa?" ia tak menjawab pertanyaanku, ia hanya memandang ke langit dan menarik nafas.
"It will be rain, let's go home, let me take you to go home" aku tersenyum padanya, namun ia tak mengeluarkan ekspresinya seperti biasa.
"Angga, are you still mad to me? I'm sorry..." ia masih terdiam, ia mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu.
"Angga, I'm sorry, I know last week I'm make you..." handphone Angga berdering, memotong kalimat permintaan maafku.
"Ya, dipindah? Dimana? Bibi urus dulu ya, aku ga bisa kerumah sakit sekarang, mau ujan, ya, nanti kalo udah sedikit terang, aku ke sana"
Suara kencang petir mengagetiku, kulihat Angga menutup kedua telinganya dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri.
"You... You hate rain do you?" tanyaku, ia tak menjawab. Aku berdiri didepannya, melepas kedua tangan dari telinganya lalu memandang wajahnya yang kini memandangku.
Aku memeluknya, tangannya ku lingkarkan dipinggangku.
"Don't be afraid, I'm here... Your big bro is here" ucapku.
-***-
Hujan deras disertai angin menggoyangkan tirai kayu yang diturunkan orang itu, ia menaikan topinya sedikit keatas lalu mencuri pandang ke arah orang itu.
Ia mengamati wajah orang itu dari samping, mata kecil yang berujung tajam dengan hidung mancung membuat wajah orang itu menarik. Diamatinya wajah orang itu dengan seksama.
Pandangan orang itu terlempar jauh, sesekali ia tersenyum lalu meminum teh hangat dalam cangkir kecir putih disampingnya. Ia yakin, orang itu sangat sayang pada juniornya yang sedang diceritakannya sekarang.
-***-
Aku mengantarnya kerumah sakit, ibunya telah dirawat dirumah sakit selama 1 bulan. Pantas saja, aku tak bertemu dengan satu minggu satu bulan ini. Angga bercerita jika ibunya masuk rumah sakit karena penyakit yang diderita ibunya, tumor rahim-yang kata dokter kembali tumbuh dalah tubuh ibunya.
Ibunya dirawat, paska aku sedang dilatih Angga mendalami peran. Tak heran jika waktu itu, Angga begitu emosional saat mengajari ku.
Aku menemani Angga tiap malamnya, membantu Angga agar tak merasa kelelahan. Angga sempat menolak aku membantu, namun aku terus memaksa agar dia mengijinkan aku membantunya.
Hampir dua bulan Angga pulang pergi rumah sakit dan rumahnya, namun sampai sekarang ibunya tak kunjung sembuh.
Aku masih ingat, ketika Angga meneleponku ditengah malam dan menangis. Aku menemuinya dirumah sakit, masuk kedalam ruang karantina dimana orang tua Angga dirawat.
"Ka..." Angga memanggilku lemas, dapat kulihat air matanya masih mengalir.
Kupeluk Angga kencang, masih terdengar isakannya di dadaku. Ku edarkan pandanganku diruang karantina, perawat dan dokter berkumpul mengelilingi kasur ibu Angga.
Kulihat seseorang menggelengkan kepalanya, dan berkata sesuatu pada seorang perawat. Aku melepas pelukanku dan mengangkat wajah Angga.
"Jangan takut, I'm here..." Ku peluk lagi tubuhnya.
-***-
"Saya dan Angga melewati banyak hari-hari bersama, ibunya meninggal malam itu. Malam dimana Angga berulang tahun" orang itu menyapu ujung mata dengan telunjuk, ia masih memandangi wajah orang itu yang tak menyadari jika wajah orang itu sedang di amati olehnya.
"Paginya, saya menelepon sekolah dan bercerita tentang Angga, semua guru datang ke pemakaman ibu Angga, saya sendiri berusaha selalu ada disamping Angga"
"Beruntung sekali orang itu" ia tersenyum, memotong kalimat orang yang bercerita dihadapannya.
"Saya yang beruntung, tanpanya pementasan saya waktu itu mungkin saja gagal karena saya yang tak pandai berakting" orang itu menoleh, dengan cepat ia kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Hey, do you know what is love? Do you?" ia menggeleng.
"Ah, you too don't know... I don't know about what I feel till now, when I was close to him, I'm so comfort, saya merasa Angga adalah orang yang sangat menarik, dia membuat saya tertawa, sedih, dia membuat saya kebingungan akan yang saya rasakan"
"Bapak pernah bilang sama orang itu kalo bapak suka?"
"Tidak, saya tak pernah mengatakannya, saya hanya bingung, apa reaksinya ketika mendengar ucapan saya"
"Lalu?"
"Saya menyimpan rasa itu sampe sekarang, mungkin sampai kapanpun saya akan tetap menyimpan perasaan ini"
"Kenapa?"
"Biarkan Angga menganggap rasa sayang yang saya lakukan padanya hanya sebagai kakak, saya tak ingin membuatnya kecewa" ia mengangguk kecil.
Hujan mulai reda, namun awan mendung masih menggantung dilangit.
"Satu yang saya sayangkan saat itu, saat Angga bercerita tentang hujan, saya tidak mencoba menjelaskan apa yang saya rasakan, saat itu, saat terakhir saya melihat Angga"
-***-
"Makasih ka, kaka udah nemenin aku" Angga tersenyum ke arahku. Aku ikut tersenyum, wajanya tersenyum membuat hatiku lega. Matanya yang sedikit besar nampak segaris ketika tersenyum, entah sengaja atau tidak-menurutku ia sangat menarik ketika tersenyum seperti itu.
"Gue benci ujan ka, ibu sakit saat cuaca ujan seperti ini, udah beberapa kali ujan membuat ibu sakit, walaupun kali ini kematian bukan karena ujan, tapi saat pemakaman ujan turun deras, dan gue semakin membencinya!" Angga menyandarkan kepalanya dibahuku.
Ingin aku mengusap kepalanya dan menenangkan dirinya. Namun, aku tak berani.
"Sekarang ibu udah disurga, kemungkinan besar gue ga disini, gue pulang kerumah bibi yang jaga ibu" aku terkejut, artinya kelulusanku nanti tak akan dihadirinya.
"Eh? Why? How about my graduation party? Are you not take a part?"
"Engga lah, temen-temen gue juga pinter ekting kali ka, tenang aja pesta kelulusan kaka bakal rame ko sama mereka"
Sebenarnya bukan itu jawaban yang aku harapkan, aku menanti jawaban Angga yang berkata 'ya' bukan 'tidak'.
"Ka, setelah lulus nanti, gue mau kalo lu ketemu gue nanti, gue udah jadi seorang guru kesenian, tak perlu secara resmi, maksud gue, gue jadi pengajar yang hanya dibutuhkan saat ada event event tertentu, dan kalo ketemu gue nanti, kaka harus udah jadi orang sukses!" Angga menatap wajahku, mata besar yang sendu menelanjangi ku. Aku senang ditatapnya seperti itu, matanya seperti berbicara 'percaya padaku kaka bisa'.
Aku tersenyum memandangnya.
"Oiya, kalo kaka punya rumah, gue mohon sebagai permintaan terakhir, kaka harus punya halaman teras yang luas, dengan taneman-taneman di dalem pot kecil, terus ada tirai kayu sama bangku bambu. Jadi kalo gue dateng kita ngobrol dibangku itu, kalo ujan kaka turunin tirainya, terus kalo kaka ga ada kaka harus taro kunci cadangan dibawah pot kecil biar gue bisa masuk tanpa sepengetahuan kaka"
Angga tertawa, ia membayangkan hal itu semua dengan wajah yang sangat riang.
-***-
"Dan hari itu terakhir saya melihat Angga, truthly I want tell him I love him, but I don't have a..."
"Pak, ujan selesai saya pam..." saat ia berdiri tak sengaja ia menjatuhkan pot kecil diatas meja, terlihat sebuah kunci dibawahnya.
"Ah maaf"
"Its okay"
"Saya pamit pa" orang itu mengangguk dan ia meninggalkannya.
Setelah jauh dari rumah itu, ia berbalik dan memandangi rumah itu sekali lagi.
"Lu inget semua tentang gue, lu turutin keinginan gue, dan gue sukses jadi pengajar walau bukan resmi pengajar, gue seneng, perasaan gue terjawab, gue juga suka sama lu ka Yoga..." ia tersenyum, dikeluarkan nametag dari dalam sweaternya, tertulis Angga Permana.
Hujan yang dibencinya membuat ia bertemu dengan seseorang yang ia cintai. Sesuatu yang ia benci membawa sebuah kebaikan.
"Terima kasih, kak Yoga..." ia melanjutkan langkahnya sambil tersenyum.
-end-
Just an ordinary blog with short story and fan fictions inside
Sabtu, 15 Desember 2012
Kamis, 25 Oktober 2012
(Request Story) One Day
Part. V
Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.
Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.
_***_
-Wooyoung POV-
"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.
Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.
Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.
Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.
_***_
-Nickhun POV-
Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.
"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.
Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu, aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.
Namun... aku tak bisa.
_***_
Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.
"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.
"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.
"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."
"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"
"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.
"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.
Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.
Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.
"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.
"Ne? Ah, gomawo"
_***_
"What do you want from him?"
"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.
"Don't lie to me... we both know who is him"
"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."
"Shut up! You..."
"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.
"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"
Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.
Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.
Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.
_***_
Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.
Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.
_***_
-Wooyoung POV-
"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.
Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.
Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.
Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.
_***_
-Nickhun POV-
Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.
"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.
Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu, aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.
Namun... aku tak bisa.
_***_
Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.
"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.
"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.
"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."
"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"
"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.
"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.
Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.
Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.
"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.
"Ne? Ah, gomawo"
_***_
"What do you want from him?"
"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.
"Don't lie to me... we both know who is him"
"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."
"Shut up! You..."
"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.
"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"
Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.
Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.
Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.
_***_
Rabu, 24 Oktober 2012
(Request Story) One Day
Part. IV
-Wooyoung POV-
Aku melepas ciumannya, aku terkejut. Aku memandang wajahnya, ekspresinya sama sepertiku. Terkejut dan malu.
"Hyung, apa yang kau lakukan" tanyaku, aku menghapus air mataku dan mengusap bibirku.
"Sorry..." aku dapat melihat telinga dan wajahnya memerah, aku yakin wajahku terlihat sama sepertinya.
"Aku hanya ingin membantu melepas stres-mu, maaf" ia menatapku.
"Aku tak tega melihatmu tertekan seperti ini"
"Tapi, ini bukanlah caranya..."
"Wooyoung, aku ingin kau relax... Aku tak tega melihatmu seperti ini"
Perkataannya memang sangat benar, namun apakah benar ini caranya? Satu sisi aku memang menginginkannya, satu sisi aku menolaknya.
Namun, satu yang pasti dalam anganku. Aku hanya menginginkan ke-nyenyak-an dalam tidur setiap malamnya.
"Maafkan aku..."
-***-
-Nickhun POV-
Aku mencium bibirnya, ku pagut pelan, tanganku mengusap pipinya.
Lagi, ia mendorong tubuhku. Ditatapnya wajahku, diusapnya lalu dicium pipi ku.
"Please help me..." ujarnya sambil setengah berbisik.
Aku menjemput bibirnya, ku lumat lembut. Aku mengangkat tubuhnya ke atas pangkuanku, ia melingkarkan tangannya dileherku.
Aku hisap lidahnya pelan, ku permainkan lidahnya, terkadang aku gigit lidahnya. Kupeluk tubuhnya, aku mengangkat kakinya ku lingkarkan pada pinggangku.
Tangannya mengusap pungguungku, sungguh aku sangat terangsang.
Nafasnya menderu mengenai wajahku, aku melepas pelukanku lalu membuka piyama yang ia kenakan.
Aku mengecupi lehernya, aku jilati hingga ke dada. Didadanya aku menarikan lidahku di atas nipplenya yang tegang. Aku hisap pelan lalu kugigit, ia menarik rambutku dengan pelan.
Ia mendesah, desahannya mengisi kamar malam ini.
Ia mengerang, dan terus memanggil namaku.
Aku menyudahi perlakuanku, aku memandangnya. ia tersipu, tersenyum kecil lalu menggigit bibir bawahku. Dikulumnya, lalu dipermainkan bibirku dengan lidahnya.
Kami bertukar air liur, lidahnya memasuki rongga mulut dan menyentuh langit-langit mulutku.
-***-
-Wooyoung POV-
Entah apa yang ada dalam pikiranku kini, namun aku yakin sebenarnya ini sesuatu yang salah, sangat salah. Aku menyerahkan diri pada orang yang belum aku kenal seutuhnya.
Bodohnya aku, namun aku menikmati ini. Sangat menikmati.
"May I?" bisiknya sembari mengusap kemaluanku yang sudah menegang, aku memejamkan mata lalu mengangguk pelan.
Diremasnya kemaluanku oleh Nickhun, dihisapnya kembali nippleku yang sudah sangat tegang.
Dirapatkan olehnya tubuhku kedinding, Nickhun menyerangku habis-habisan. Tak hanya leher, dadaku sukses di 'kissmark'-nya.
Tuhan, aku paham ini salah, maafkan aku.
Tangannya pandai merancap, bibirnya pintar menemukan titik rangsang, lidahnya lihai menari diatas tubuhku. Laki-laki ini sangat cerdas.
"Have you do this with another male?" bisiknya ditengah permainan, aku menggelengkan kepala.
Aku mendesah, mengerang, menggeliat, menikmati permainannya. Aku sangat terangsang, malam ini aku mungkin akan terlelap dengan nyenyak.
-***-
-Nickhun POV-
Aku merancap kemaluannya kencang, seirama dengan tusukanku dalam tubuhnya. Kami berdua sama sama telanjang, keringat menyilaukan tubuh kami yang basah oleh keringat.
Hentakan demi hentakan terus ku lakukan, aku menikmati permainan ini. Mungkin juga Wooyoung menikmatinya.
Ku lihat wajahnya, matanya yang terpejam, dan bibir tipisnya yang indah membuatku semakin bernafsu untuk meneruskan permainan ini.
Aku mempercepat rancapanku pada kemaluannya, sebentar lagi aku mencapai puncak. Namun, menggenggam kemaluan Wooyoung membuatku menahan klimaks dan lebih mendahulukan Wooyoung.
Otot Wooyoung mengembang dalam genggamanku, aku dapat merasakan jepitan otot tubuhnya yang menjepit milikku. Tak berapa lama, Wooyoung memuntahkan cairannya yang menyebar kemana-mana. Sebagian kedadaku, wajahku, wajahnya dan tentunya tanganku.
Aku tak kuat menahan klimaks, aku mencabut milikku dan meloconya di atas dadanya.. Cairanku keluar mengenai dadanya dan wajahnya, aku menjilati seluruh wajahnya, membersihkan dari cairan kentalku.
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
-Wooyoung POV-
Aku melepas ciumannya, aku terkejut. Aku memandang wajahnya, ekspresinya sama sepertiku. Terkejut dan malu.
"Hyung, apa yang kau lakukan" tanyaku, aku menghapus air mataku dan mengusap bibirku.
"Sorry..." aku dapat melihat telinga dan wajahnya memerah, aku yakin wajahku terlihat sama sepertinya.
"Aku hanya ingin membantu melepas stres-mu, maaf" ia menatapku.
"Aku tak tega melihatmu tertekan seperti ini"
"Tapi, ini bukanlah caranya..."
"Wooyoung, aku ingin kau relax... Aku tak tega melihatmu seperti ini"
Perkataannya memang sangat benar, namun apakah benar ini caranya? Satu sisi aku memang menginginkannya, satu sisi aku menolaknya.
Namun, satu yang pasti dalam anganku. Aku hanya menginginkan ke-nyenyak-an dalam tidur setiap malamnya.
"Maafkan aku..."
-***-
-Nickhun POV-
Aku mencium bibirnya, ku pagut pelan, tanganku mengusap pipinya.
Lagi, ia mendorong tubuhku. Ditatapnya wajahku, diusapnya lalu dicium pipi ku.
"Please help me..." ujarnya sambil setengah berbisik.
Aku menjemput bibirnya, ku lumat lembut. Aku mengangkat tubuhnya ke atas pangkuanku, ia melingkarkan tangannya dileherku.
Aku hisap lidahnya pelan, ku permainkan lidahnya, terkadang aku gigit lidahnya. Kupeluk tubuhnya, aku mengangkat kakinya ku lingkarkan pada pinggangku.
Tangannya mengusap pungguungku, sungguh aku sangat terangsang.
Nafasnya menderu mengenai wajahku, aku melepas pelukanku lalu membuka piyama yang ia kenakan.
Aku mengecupi lehernya, aku jilati hingga ke dada. Didadanya aku menarikan lidahku di atas nipplenya yang tegang. Aku hisap pelan lalu kugigit, ia menarik rambutku dengan pelan.
Ia mendesah, desahannya mengisi kamar malam ini.
Ia mengerang, dan terus memanggil namaku.
Aku menyudahi perlakuanku, aku memandangnya. ia tersipu, tersenyum kecil lalu menggigit bibir bawahku. Dikulumnya, lalu dipermainkan bibirku dengan lidahnya.
Kami bertukar air liur, lidahnya memasuki rongga mulut dan menyentuh langit-langit mulutku.
-***-
-Wooyoung POV-
Entah apa yang ada dalam pikiranku kini, namun aku yakin sebenarnya ini sesuatu yang salah, sangat salah. Aku menyerahkan diri pada orang yang belum aku kenal seutuhnya.
Bodohnya aku, namun aku menikmati ini. Sangat menikmati.
"May I?" bisiknya sembari mengusap kemaluanku yang sudah menegang, aku memejamkan mata lalu mengangguk pelan.
Diremasnya kemaluanku oleh Nickhun, dihisapnya kembali nippleku yang sudah sangat tegang.
Dirapatkan olehnya tubuhku kedinding, Nickhun menyerangku habis-habisan. Tak hanya leher, dadaku sukses di 'kissmark'-nya.
Tuhan, aku paham ini salah, maafkan aku.
Tangannya pandai merancap, bibirnya pintar menemukan titik rangsang, lidahnya lihai menari diatas tubuhku. Laki-laki ini sangat cerdas.
"Have you do this with another male?" bisiknya ditengah permainan, aku menggelengkan kepala.
Aku mendesah, mengerang, menggeliat, menikmati permainannya. Aku sangat terangsang, malam ini aku mungkin akan terlelap dengan nyenyak.
-***-
-Nickhun POV-
Aku merancap kemaluannya kencang, seirama dengan tusukanku dalam tubuhnya. Kami berdua sama sama telanjang, keringat menyilaukan tubuh kami yang basah oleh keringat.
Hentakan demi hentakan terus ku lakukan, aku menikmati permainan ini. Mungkin juga Wooyoung menikmatinya.
Ku lihat wajahnya, matanya yang terpejam, dan bibir tipisnya yang indah membuatku semakin bernafsu untuk meneruskan permainan ini.
Aku mempercepat rancapanku pada kemaluannya, sebentar lagi aku mencapai puncak. Namun, menggenggam kemaluan Wooyoung membuatku menahan klimaks dan lebih mendahulukan Wooyoung.
Otot Wooyoung mengembang dalam genggamanku, aku dapat merasakan jepitan otot tubuhnya yang menjepit milikku. Tak berapa lama, Wooyoung memuntahkan cairannya yang menyebar kemana-mana. Sebagian kedadaku, wajahku, wajahnya dan tentunya tanganku.
Aku tak kuat menahan klimaks, aku mencabut milikku dan meloconya di atas dadanya.. Cairanku keluar mengenai dadanya dan wajahnya, aku menjilati seluruh wajahnya, membersihkan dari cairan kentalku.
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
Selasa, 23 Oktober 2012
(Request Story) One Day
Part. III
-Wooyoung POV-
Entah mengapa aku dapat melakukan itu, bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diatas kenormalanku.
Aku mencintai pekerjaanku, namun jika seperti ini, sepertinya aku harus menghentikannya sementara waktu.
Aku tak ingin menuduh siapapun, namun Nickhun membuatku seperti ini. Seperti orang gila yang memang membutuhkan kasih sayang dan cinta.
Aku masih ingat ketika Nickhun mengajakku duduk dibangku taman, dengan alasan sudut yang sangat tepat untuk mengambil gambar. Aku menurutinya, namun bukan gambar yang kudapat, melainkan gulali kapas yang dibeli olehnya.
Itu pertama kalinya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat baik sepertinya. Wajah Thailandnya dan senyumannya membuatku betah untuk memandangnya.
-***-
Ku putuskan untuk mengajaknya menginap dirumahku, ia kebingungan mencari tempat tinggal yang cocok. Sangat kebetulan, aku hanya tinggal bersama furniture yang kumiliki.
"Woah, your place... So cozy" ujarnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Ani, ini berantakan menurutku" jawabku memandang wajahnya.
"Setidaknya kau memiliki ini semua" aku tersipu mendengar pujiannya, ku taruh tas kameraku dan meninggalkannya.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan di Seoul?" tanyaku dari dapur, membuatkan teh untuknya.
"Aku? Entahlah, aku dikirim oleh atasanku untuk bertugas disini"
"Ah? Benarkah?" kuberikan segelas teh padanya, ia tersenyum lalu meminumnya pelan.
"Eum, aku tak paham jalan pikiran atasanku..." ia terdiam, tatapan matanya kosong. Ia melihatku lalu membuang pandangannya.
Sungguh sangat kosong.
Aku mengambil kameraku lalu memotret dirinya yang terdiam mematung sambil menggenggam cangkir teh, ia sangat mempesona.
Satu, dua, tiga, empat gambar yang kuambil saat itu. Ya, sangat mempesona. Aku tak tahan ingin mengambil gambarnya, ia seperti mannequin dengan pose duduk.
-***-
-Nickhun POV-
Aku tak dapat memejamkan mataku, ada sesuatu yang harus ku katakan padanya. Aku tak dapat berbohong, ia terlalu baik.
Aku terpaku menatapnya yang tertidur, wajah kecilnya dan bibirnya membuatku semakin tak tega membohonginya. Mungkinkah ini cinta?
Aku memang baru pertama kali bertatapan muka dengannya, namun aku telah mengetahuinya lebih dulu.
Jang Wooyoung, photografer handal dengan sejuta 'taste' yang hanya dapat dinikmati photografer profesional. Sedangkan, aku hanya seorang model majalah dengan reputasi buruk.
Pemilik agensi menyuruhku berkenalan dengan Wooyoung, karena itu dapat menaikkan kepopuleranku. Namun, apa yang harus aku jawab ketika Wooyoung bertanya apa pekerjaanku sebenarnya?
Tuhan, tolong aku.
"Tidak!" aku terkejut ketika Wooyoung berteriak ditengah tidurnya, ia mengigau.
Aku mendekatinya, berjongkok mengamati wajahnya. Ia sangat lucu, sangat menarik hatiku. Aku tersenyum ketika melihat ia terbangun dengan mata terebelalak.
"Wae? Waegurae?"
"Aku mengigau?" tanyanya sembari menatap tajam wajahku.
"Sebenarnya..."
"Ya, aku tau... Aku berteriak" ia mengusap keningnya, lalu duduk menghadapku.
"Apa kau baik baik saja?" tanyaku, ia terdiam.
"Entahlah... Aku... Aku bingung..." ia menarik nafas panjang, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya berbeda. Tatapannya seperti orang yang tersesat.
"Aku mencintai pekerjaanku, sungguh! Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaanku!" Wooyoung meneriaki ku, dipukulnya lenganku lalu ditariknya kerah baju ku.
"Aku hanya butuh waktu lebih untuk dapat memenangkannya! Aku hanya butuh seorang model nyata! Hanya itu! Kau dengar? Hah! Aku hanya butuh waktu banyak! Agar aku dapat tidur nyenyak malam ini!" ia menundukan wajahnya, ia menggenggam erat kerah bajuku.
Wooyoung menangis, ia meneteskan air matanya. Aku tak tega melihatnya seperti ini, sungguh. Aku memeluknya, mengusap kepalanya lembut.
"Tenanglah, ada aku disini" kuusap punggungnya lembut, ia menangis terisak dipundakku.
Ku lepas pelukannya, ku pandangi wajahnya.
"Ada aku disini" aku menghapus aliran air matanya, ia terdiam.
Wooyoung menatapku, mata kecilnya sembap. Kuangkat dagunya, ku usap bibir tipisnya.
Kudekatkan wajahnya, aku menciumnya lembut.
-continue-
-Wooyoung POV-
Entah mengapa aku dapat melakukan itu, bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diatas kenormalanku.
Aku mencintai pekerjaanku, namun jika seperti ini, sepertinya aku harus menghentikannya sementara waktu.
Aku tak ingin menuduh siapapun, namun Nickhun membuatku seperti ini. Seperti orang gila yang memang membutuhkan kasih sayang dan cinta.
Aku masih ingat ketika Nickhun mengajakku duduk dibangku taman, dengan alasan sudut yang sangat tepat untuk mengambil gambar. Aku menurutinya, namun bukan gambar yang kudapat, melainkan gulali kapas yang dibeli olehnya.
Itu pertama kalinya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat baik sepertinya. Wajah Thailandnya dan senyumannya membuatku betah untuk memandangnya.
-***-
Ku putuskan untuk mengajaknya menginap dirumahku, ia kebingungan mencari tempat tinggal yang cocok. Sangat kebetulan, aku hanya tinggal bersama furniture yang kumiliki.
"Woah, your place... So cozy" ujarnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Ani, ini berantakan menurutku" jawabku memandang wajahnya.
"Setidaknya kau memiliki ini semua" aku tersipu mendengar pujiannya, ku taruh tas kameraku dan meninggalkannya.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan di Seoul?" tanyaku dari dapur, membuatkan teh untuknya.
"Aku? Entahlah, aku dikirim oleh atasanku untuk bertugas disini"
"Ah? Benarkah?" kuberikan segelas teh padanya, ia tersenyum lalu meminumnya pelan.
"Eum, aku tak paham jalan pikiran atasanku..." ia terdiam, tatapan matanya kosong. Ia melihatku lalu membuang pandangannya.
Sungguh sangat kosong.
Aku mengambil kameraku lalu memotret dirinya yang terdiam mematung sambil menggenggam cangkir teh, ia sangat mempesona.
Satu, dua, tiga, empat gambar yang kuambil saat itu. Ya, sangat mempesona. Aku tak tahan ingin mengambil gambarnya, ia seperti mannequin dengan pose duduk.
-***-
-Nickhun POV-
Aku tak dapat memejamkan mataku, ada sesuatu yang harus ku katakan padanya. Aku tak dapat berbohong, ia terlalu baik.
Aku terpaku menatapnya yang tertidur, wajah kecilnya dan bibirnya membuatku semakin tak tega membohonginya. Mungkinkah ini cinta?
Aku memang baru pertama kali bertatapan muka dengannya, namun aku telah mengetahuinya lebih dulu.
Jang Wooyoung, photografer handal dengan sejuta 'taste' yang hanya dapat dinikmati photografer profesional. Sedangkan, aku hanya seorang model majalah dengan reputasi buruk.
Pemilik agensi menyuruhku berkenalan dengan Wooyoung, karena itu dapat menaikkan kepopuleranku. Namun, apa yang harus aku jawab ketika Wooyoung bertanya apa pekerjaanku sebenarnya?
Tuhan, tolong aku.
"Tidak!" aku terkejut ketika Wooyoung berteriak ditengah tidurnya, ia mengigau.
Aku mendekatinya, berjongkok mengamati wajahnya. Ia sangat lucu, sangat menarik hatiku. Aku tersenyum ketika melihat ia terbangun dengan mata terebelalak.
"Wae? Waegurae?"
"Aku mengigau?" tanyanya sembari menatap tajam wajahku.
"Sebenarnya..."
"Ya, aku tau... Aku berteriak" ia mengusap keningnya, lalu duduk menghadapku.
"Apa kau baik baik saja?" tanyaku, ia terdiam.
"Entahlah... Aku... Aku bingung..." ia menarik nafas panjang, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya berbeda. Tatapannya seperti orang yang tersesat.
"Aku mencintai pekerjaanku, sungguh! Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaanku!" Wooyoung meneriaki ku, dipukulnya lenganku lalu ditariknya kerah baju ku.
"Aku hanya butuh waktu lebih untuk dapat memenangkannya! Aku hanya butuh seorang model nyata! Hanya itu! Kau dengar? Hah! Aku hanya butuh waktu banyak! Agar aku dapat tidur nyenyak malam ini!" ia menundukan wajahnya, ia menggenggam erat kerah bajuku.
Wooyoung menangis, ia meneteskan air matanya. Aku tak tega melihatnya seperti ini, sungguh. Aku memeluknya, mengusap kepalanya lembut.
"Tenanglah, ada aku disini" kuusap punggungnya lembut, ia menangis terisak dipundakku.
Ku lepas pelukannya, ku pandangi wajahnya.
"Ada aku disini" aku menghapus aliran air matanya, ia terdiam.
Wooyoung menatapku, mata kecilnya sembap. Kuangkat dagunya, ku usap bibir tipisnya.
Kudekatkan wajahnya, aku menciumnya lembut.
-continue-
Minggu, 21 Oktober 2012
(Request Story) One Day
This story for 'Anynomous'
Sorry for the late posts :(
Part. I
Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM
_***_
Senja menyambutnya lembut dengan pancaran matahari yang siap untuk menyembunyikan diri darinya. Hembusan angin mengenai tubuhnya yang berjongkok, menggali tanah, berniat mengubur sebuah kotak kecil kayu yang ia buat sendiri.
Dibawah pohon yang rindang, belakang pekarangan rumahnya, ia menggali tanah dengan sekop kecil. Kalut, kelam yang dirasakannya. Dilema menyerangnya yang menggali pelan, terkadang rasa tega membuatnya untuk tidak mengubur kenangan indah dalam kotak kecil kayu tersebut.
Tetesan air keringat mengaliri pipi dan jatuh ketanah, ia kelelahan, namun ia harus tetap mengubur kotak kecil tersebut.
"Mianhae... jeongmal mianhae..." dengan nafas terengah, ia masih menggali tanpa henti.
Masih terekam dimemorinya masa-masa indah bersama orang itu, saat ia pertama kalinya mengenal kata sayang dan merasakan rasa sayang yang tak terbatas dari orang itu.
Seorang Pangeran Thailand yang dipuja banyak orang.
_***_
Part. II
(* sorry there was miss-communication between me and connection)
Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM
-***-
Dibawah terik matahari, ia berjalan menelusuri jalan setapak menuju rumahnya. Tak dihiraukannya bau pesing, suara tikus yang mencericit dan kumuhnya gang kecil tersebut, ia terus melangkah tanpa henti.
Wooyoung menghentikan langkahnya ketika sebuah benda beebentuk silinder jatuh melewatinya, dan berhenti dikakinya. Ia teringat akan roll film kamera yang menggelinding jatuh saat itu, dan berhenti tepat dibawah kaki orang itu.
Pangeran Thailand mengambil roll tersebut lalu memandanginya, sadar akan itu milik Wooyoung yang berdiri dihadapannya, ia menggenggam roll itu sembari tersenyum pada Wooyoung.
"This is yours right?" Wooyoung mengangguk, diambilnya roll tersebut lalu meninggalkan orang itu tanpa pamit.
Malu, saat itu Wooyoung malu untuk berbicara padanya. Orang asing yang ditemuinya sukses membuat Wooyoung tersipu.
-***-
Wooyoung mengambil tiap inci pemandangan yang ada dihadapannya, ia memainkan kameranya layak seorang handal.
Dinikmatinya suasana hangat taman kota saat itu, hembusan angin membuatnya lupa akan waktu.
Tak luput darinya pemandangan disana, permen gulali kapas yang sedang dinikmati anak kecil, sebuah pasangan yang bercengkrama dan Pangeran Thailand yang mengembalikan roll filmnya.
Ia terdiam sesaat. Masih memandangi lewat lensanya, ia tetap mengambil gambar Pangeran Thai itu yang sedang berjalan mendekatinya.
"Hi" ucap orang itu dengan senyuman yang tetap menggantung di wajahnya.
Wooyoung berdiri, menatap wajahnya dan menjabat tangannya.
"Nickhun" Wooyoung tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyuman lalu kembali bermain dengan kameranya.
Nickhun berdiri disampingnya, mengedarkan pandangannya dan menepuk pundak Wooyoung.
"Try take it from there, might it will be better than here" ujarnya sambil menunjuk sebuah bangku panjang..
"Let's..." ditariknya tangan Wooyoung lalu diajaknya duduk di bangku tersebut.
-***-
Wooyoung sampai dirumahnya, ia membuka pintu dan beristirahat sejenak disofa ruang tamu. Ia memejamkan matanya, menikmati empuknya sofa yang ia beli sendiri dari hasil fotografinya.
Suasana yang hening, membuatnya ia terlelap. Rasa lelah yang hinggap membujuknya untuk tidur.
"This is your coffee" ia membuka matanya, ia duduk lalu mengedarkan pandangannya.
Ia merasa mendengar suara Nickhun.
Teringat ketika Nickhun menginap dirumahnya. Nickhun selalu membuatkan kopi hangat untuknya, selalu memanjakan Wooyoung.
"Aish... Jinjja.."
Selasa, 16 Oktober 2012
(Request Story) YunJae
This from @YaoiRps for @UknowYourLeader and @mjejae
#HappyAniv for you two
Cast : Yuno and Jaejung of TVXQ
Yuno tersenyum lebar ketika cermin memantulkan bayangan tubuhnya yang terbentuk. Ia berpose layak 'Hercules' dan tertawa kecil melihat pantulan cermin yang mengikuti gayanya, terbayang oplehnya ketika berdiri 'topless' diatas panggung dan hanya menggunakan celana pendek ketat. Mungkin semua fansnya akan berteriak dan memandangi tubuhnya yang terbentuk rapih.
"Hm, tubuhku memang sangat bagus" gumamnya tersenyum sembari memainkan dadanya.
"Tubuhmu memang bagus" Yuno terkejut ketika Jae masuk ke dalam kamar mandi, memergokinya yang sedang memuji diri sendiri.
"Jae, sedang apa kau?" Jae tersenyum lalu memeluknya.
"Kau lupa jika hari ini aku berkunjung untuk menjengukmu" dilepas pelukannya lalu diciumnya pipi Yuno dengan mesra. Seketika muka Yuno merekah-merah muda.
"Changmin menyuruhku menunggu diluar, namun kau tau aku tak pernah sabar menunggumu" Jae tersenyum keluar kamar mandi.
Yuno mengejar Jae dengan handuk yang masih melilit di pinggang, dikejarnya Jae sampai kamar dipeluknya tubuh Jae dari belakang.
"Hentikanlah... ganti bajumu, aku akan menunggumu diluar" ujar Jae yang tersipu karena pelukan Yuno, Jae dapat merasakan nipple tegang Yuno menempel pada punggungnya.
"Aku tak ingin mengganti bajuku... aku ingin kau merasakan tubuhku" bisik Yuno ditelinga Jae, Jae membalikan tubuhnya dan memandang Yuno.
"Lagi?" Jae mengerenyitkan dahinya.
"Tak perlu kau pintapun, aku pasti akan merasakan tubuhmu" ujar Jae sambil mengusap pipi Yuno, diciumnya bibir Yuno pelan lalu dilumatnya mesra.
Tangan Yuno memeluk pinggang Jae kencang. Tubuh Jae ditarik Yuno, lalu mengeratkan pelukannya. Jae masih menciumi bibir Yuno, ditekannya wajah Yuno agar ciumannya tidak terlepas. Dihisapnya lidah Yuno, dan dimainkannya dalam mulut Jae. Tangan Yuno tak tinggal diam, ia masuk kedalam celana Jae, dan menekan-nekan bongkahan daging tebal Jae.
Masih berciuman, tangan Jae melepas lilitan handuk dipinggang Yuno. Membiarkan adik kecil Yuno merasakan hembusang angin Air Conditioner dalam kamar. Ciuman Jae kini turun dari bibir, berjalan ke arah dada, pusar lalu ke arah selangkangan. Aroma lotion yang tercium oleh Jae membuatnya semakin terangsang. Jae bertumpu pada lututnya lalu menggenggam twinsball Yuno, tangan satunya memainkan adik kecil Yuno yang setengah tegang. Jae menarik-narik adik Yuno, lalu memainkan lubang kencing itu dengan telunjuknya.
Yuno tak tahan dengan perlakuan Jae, ia menengadahkan kepala dan mendesah pelan. Masih memainkan twinsball, Jae mulai menghisap 'jr' Yuno ganas. dilahapnya pelan-pelan lalu dimainkan lubang kencingnya dengan lidah dalam mulutnya hingga 'jr' Yuno tegak sempurna. Jae bangkit dari tumpuannya lalu menyerang nipple dan leher Yuno. dibuat kissmark leher Jae dengan semangat, hingga Yuno mengerang nikmat.
"Sudahlah... kita harus segera berangkat" ujar Jae menghentikan perlakuannya. Yuno membelalakan mata, terkejut mendengar ucapan Jae yang telah menghentikan perlakuannya.
Yuno menarik tangan Jae, lalu memepetnya ketembok. Dibukanya baju jae dan dicubitnya nakal nipple Ja oleh Yuno.
"Emang kita mau kemana, chagi? Eum?" ditatapnya wajah Jae yang memejamkan mata, Yuno mengeluarkan senyuman nakalnya melihat Jae terangsang karena rangsangan pada nipple Jae.
Setelah puas melihat wajah Jae yang terangsang, Yuno menarik tubuh jae ke atas kasur dan menindihnya. 'Jr' mereka saling menyentuh dan menggesek. Yuno menjilati tubuh Jae, dari atas hingga bawah. Tak ada yang dilewatinya hingga ia membuka celana Jae yang membungkus kemaluan Jae. Dikeluarkannya 'jr' Jae yang ujung kepalanya telah mengerluarkan cairan kental.
Yuno yang memang sudah sangat teransang, meloco 'jr'nya lalu mengarahkannya pada mulut Jae dan menyuruh Jae menghisapnya. Jae yang mengerti langsung membuka mulutnya lalu melahapnya hingga ke pangkal 'jr' Yuno. Yuno memaju-mundurkan pinggulnya mengikuti irama hisapan Jae.
"Aheumps, Ash..." desahan Yuno mengisi kekosongan dalam kamar. Yuno terus menggenjot mulut Jae tanpa ampun, Jae merasa sesak pada mulutnya. Ia paham jika Yuno akan sampai pada puncak.
Jae semakin bersemangat menghisap dan memainkan 'jr' Yuno, hingga akhirnya Yuno menembakan cairannya pada tenggorokan Jae.
Dicabut oleh Yuno kemaluannya dari mulut Jae, lalu diciumnya bibir Jae dengan mesra.
"Kau belum klimaks, aku harus memuaskanmu chagi..." dengan sergap kemaluan Jae masuk ke dalam mulut Yuno dan dihisapnya. Jae kembali memejamkan mata, menikmati rangsangan dari hisapan-hisapan Yuno.
Sembari menghisap tangan Yuno menembus lubang Jae hingga dua jari telah masuk kedalam lubang pantat Jae.
Hembusan Air Conditioner dalam ruangan membuat mereka semakin terus bertingkah, Air Conditioner tidak menghilangkan peluh keringat yang membasahi tubuh masing-masing. Setelah puas melakukan penetrasi, Yuno memasukan kemaluannya pada lubang Jae, dengan usaha keras Yuno berhasil memasukan semua batang tubuh kemaluannya.
Yuno menggenjot pelan kemaluannya, berusaha menikmati jepitan otot lubang Jae. Terus digenjotnya dan Yuno menambah kecepatan genjotannya.
"Cha... gi... yaa.... aku mau... ashhh arghh!!" belum selesai bicara Jae mengeluarkan cairannya, mengenai dada dan wajah Yuno. Yuno tersenyum melihat wajah Jae yang telah sampai puncak.
Ditindihnya, dan menggesekan 'jr' Jae dengan absnya sendiri. Sembari mencium ganas bibirnya. Yuno mencubit nipple Jae dengan ganas. Cubitannya semakin keras ketika ia hendak keluar lagi dalam lubang Jae.
Masih menindih dan berciuman, Yuno menghisap lidah Jae kencang, mengangkat tubuh Jae hingga posisi tubuh Jae menduduki Yuno.
Yuno menggigit nipple Jae kencang, dan Jae mengerang sambil menjambak rambut Yuno.
Tak berapa lama, Yuno sampai pada klimaksnya dan mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Jae.
Jae memandang Yuno, di usapnya wajah Yuno lembut lalu mereka berciuman mesra.
"Saranghae..."
"HYUNG!" kalimat Jae terpotong oleh Changmin yang mematung diambang pintu kamar Yuno.
"Changmin-a... Wae?" Yuno tersenyum melihat Changmin yang terpaku.
Ini, kali pertamanya Changmin memergoki kedua Hyungnya bercinta tanpa mengunci pintu kamar.
-end-
#HappyAniv for you two
Cast : Yuno and Jaejung of TVXQ
Yuno tersenyum lebar ketika cermin memantulkan bayangan tubuhnya yang terbentuk. Ia berpose layak 'Hercules' dan tertawa kecil melihat pantulan cermin yang mengikuti gayanya, terbayang oplehnya ketika berdiri 'topless' diatas panggung dan hanya menggunakan celana pendek ketat. Mungkin semua fansnya akan berteriak dan memandangi tubuhnya yang terbentuk rapih.
"Hm, tubuhku memang sangat bagus" gumamnya tersenyum sembari memainkan dadanya.
"Tubuhmu memang bagus" Yuno terkejut ketika Jae masuk ke dalam kamar mandi, memergokinya yang sedang memuji diri sendiri.
"Jae, sedang apa kau?" Jae tersenyum lalu memeluknya.
"Kau lupa jika hari ini aku berkunjung untuk menjengukmu" dilepas pelukannya lalu diciumnya pipi Yuno dengan mesra. Seketika muka Yuno merekah-merah muda.
"Changmin menyuruhku menunggu diluar, namun kau tau aku tak pernah sabar menunggumu" Jae tersenyum keluar kamar mandi.
Yuno mengejar Jae dengan handuk yang masih melilit di pinggang, dikejarnya Jae sampai kamar dipeluknya tubuh Jae dari belakang.
"Hentikanlah... ganti bajumu, aku akan menunggumu diluar" ujar Jae yang tersipu karena pelukan Yuno, Jae dapat merasakan nipple tegang Yuno menempel pada punggungnya.
"Aku tak ingin mengganti bajuku... aku ingin kau merasakan tubuhku" bisik Yuno ditelinga Jae, Jae membalikan tubuhnya dan memandang Yuno.
"Lagi?" Jae mengerenyitkan dahinya.
"Tak perlu kau pintapun, aku pasti akan merasakan tubuhmu" ujar Jae sambil mengusap pipi Yuno, diciumnya bibir Yuno pelan lalu dilumatnya mesra.
Tangan Yuno memeluk pinggang Jae kencang. Tubuh Jae ditarik Yuno, lalu mengeratkan pelukannya. Jae masih menciumi bibir Yuno, ditekannya wajah Yuno agar ciumannya tidak terlepas. Dihisapnya lidah Yuno, dan dimainkannya dalam mulut Jae. Tangan Yuno tak tinggal diam, ia masuk kedalam celana Jae, dan menekan-nekan bongkahan daging tebal Jae.
Masih berciuman, tangan Jae melepas lilitan handuk dipinggang Yuno. Membiarkan adik kecil Yuno merasakan hembusang angin Air Conditioner dalam kamar. Ciuman Jae kini turun dari bibir, berjalan ke arah dada, pusar lalu ke arah selangkangan. Aroma lotion yang tercium oleh Jae membuatnya semakin terangsang. Jae bertumpu pada lututnya lalu menggenggam twinsball Yuno, tangan satunya memainkan adik kecil Yuno yang setengah tegang. Jae menarik-narik adik Yuno, lalu memainkan lubang kencing itu dengan telunjuknya.
Yuno tak tahan dengan perlakuan Jae, ia menengadahkan kepala dan mendesah pelan. Masih memainkan twinsball, Jae mulai menghisap 'jr' Yuno ganas. dilahapnya pelan-pelan lalu dimainkan lubang kencingnya dengan lidah dalam mulutnya hingga 'jr' Yuno tegak sempurna. Jae bangkit dari tumpuannya lalu menyerang nipple dan leher Yuno. dibuat kissmark leher Jae dengan semangat, hingga Yuno mengerang nikmat.
"Sudahlah... kita harus segera berangkat" ujar Jae menghentikan perlakuannya. Yuno membelalakan mata, terkejut mendengar ucapan Jae yang telah menghentikan perlakuannya.
Yuno menarik tangan Jae, lalu memepetnya ketembok. Dibukanya baju jae dan dicubitnya nakal nipple Ja oleh Yuno.
"Emang kita mau kemana, chagi? Eum?" ditatapnya wajah Jae yang memejamkan mata, Yuno mengeluarkan senyuman nakalnya melihat Jae terangsang karena rangsangan pada nipple Jae.
Setelah puas melihat wajah Jae yang terangsang, Yuno menarik tubuh jae ke atas kasur dan menindihnya. 'Jr' mereka saling menyentuh dan menggesek. Yuno menjilati tubuh Jae, dari atas hingga bawah. Tak ada yang dilewatinya hingga ia membuka celana Jae yang membungkus kemaluan Jae. Dikeluarkannya 'jr' Jae yang ujung kepalanya telah mengerluarkan cairan kental.
Yuno yang memang sudah sangat teransang, meloco 'jr'nya lalu mengarahkannya pada mulut Jae dan menyuruh Jae menghisapnya. Jae yang mengerti langsung membuka mulutnya lalu melahapnya hingga ke pangkal 'jr' Yuno. Yuno memaju-mundurkan pinggulnya mengikuti irama hisapan Jae.
"Aheumps, Ash..." desahan Yuno mengisi kekosongan dalam kamar. Yuno terus menggenjot mulut Jae tanpa ampun, Jae merasa sesak pada mulutnya. Ia paham jika Yuno akan sampai pada puncak.
Jae semakin bersemangat menghisap dan memainkan 'jr' Yuno, hingga akhirnya Yuno menembakan cairannya pada tenggorokan Jae.
Dicabut oleh Yuno kemaluannya dari mulut Jae, lalu diciumnya bibir Jae dengan mesra.
"Kau belum klimaks, aku harus memuaskanmu chagi..." dengan sergap kemaluan Jae masuk ke dalam mulut Yuno dan dihisapnya. Jae kembali memejamkan mata, menikmati rangsangan dari hisapan-hisapan Yuno.
Sembari menghisap tangan Yuno menembus lubang Jae hingga dua jari telah masuk kedalam lubang pantat Jae.
Hembusan Air Conditioner dalam ruangan membuat mereka semakin terus bertingkah, Air Conditioner tidak menghilangkan peluh keringat yang membasahi tubuh masing-masing. Setelah puas melakukan penetrasi, Yuno memasukan kemaluannya pada lubang Jae, dengan usaha keras Yuno berhasil memasukan semua batang tubuh kemaluannya.
Yuno menggenjot pelan kemaluannya, berusaha menikmati jepitan otot lubang Jae. Terus digenjotnya dan Yuno menambah kecepatan genjotannya.
"Cha... gi... yaa.... aku mau... ashhh arghh!!" belum selesai bicara Jae mengeluarkan cairannya, mengenai dada dan wajah Yuno. Yuno tersenyum melihat wajah Jae yang telah sampai puncak.
Ditindihnya, dan menggesekan 'jr' Jae dengan absnya sendiri. Sembari mencium ganas bibirnya. Yuno mencubit nipple Jae dengan ganas. Cubitannya semakin keras ketika ia hendak keluar lagi dalam lubang Jae.
Masih menindih dan berciuman, Yuno menghisap lidah Jae kencang, mengangkat tubuh Jae hingga posisi tubuh Jae menduduki Yuno.
Yuno menggigit nipple Jae kencang, dan Jae mengerang sambil menjambak rambut Yuno.
Tak berapa lama, Yuno sampai pada klimaksnya dan mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Jae.
Jae memandang Yuno, di usapnya wajah Yuno lembut lalu mereka berciuman mesra.
"Saranghae..."
"HYUNG!" kalimat Jae terpotong oleh Changmin yang mematung diambang pintu kamar Yuno.
"Changmin-a... Wae?" Yuno tersenyum melihat Changmin yang terpaku.
Ini, kali pertamanya Changmin memergoki kedua Hyungnya bercinta tanpa mengunci pintu kamar.
-end-
DooSeob Part. II
Part. II
Berusaha menghubungi Doojoon. SMS telepon, udah kulakukan. Hasilnya nihil, ga ada yang dijawab.
Agak sedikit marah, aku menyerah menelepon dia. Kucoba menelepon teman nya, Dongwoon. Aku tau jadwal latihan mereka, jadi kucoba menghubungi temannya dan menanyakan kabar Doojoon. Langsung saja kutelepon Dongwoon
Dongwoon, my best friend. Dia pernah suka padaku. Sejujurnya aku juga suka Dongwoon, gakalah perfect dari Doojoon. Entah, aku suka Doojoon pada awalnya, tapi lama kelamaan, aku menyesal. Doojoon terlalu cuek. Disaat Doojoon cuek, Dongwoon selalu ada buatku.
"Dongwoon-ah, apakah ada Doojoon disana?" tanyaku, berharap Dongwoon bisa mengabariku keadaan Doojoon sekarang.
"Doojoon? Sejam lalu dia pulang dari latihan, dia pulang duluan sih. Katanya bosen latian terus, namjachingu mu itu. Anyway, apa Doojoon ga contact kamu?" tanya Dongwoon penasaran.
"Ani *sigh* he always like that. Woon-ah, bisa temenin aku dirumah? Lagi sendirian nih, jebal" pintaku. Oya, aku sendirian dirumah, tadinya berharap Doojoon bsa menemani. Tapi ~
"N-ne. Chakaman. I'll go now" katanya, terdengar nada excited dri ucapannya.
Dongwoon POV
Doojoon babo ne? *smirk*
Aku langsung berganti pakaian, kuambil yang cukup keren. Menggunakan gel, menyemprotkan parfum, dan sebagainya. Intinya, tampil terbaik untuk Chorong tonight.
Langsung aku melesat turun kebawah, mengambil kunci motor, jaket, dan pergi melesat kerumah Chorong.
Sebenarnya aku sayang Doojoon, sebagai teman. Kalo dia sayang Chorong, aku juga akan senang, tapi engga. Dia menyiakan Chorong, aku yakin Chorong mulai muak sama Doojoon. Kesempatan? Iya. Tapi siapa yang membuka lebar kesempatan itu? Doojoon. Salahku? Iya. Sepenuhnya? Engga.
Tak lama aku sampai dirumah Chorong. Kutelfon dia dari bawah. Saat ku dial, ternyata dia sudah sadar. Ada jeritan "DONGWOON-AH!". Langsung aku menoleh ke arah pintu rumahnya. Terlihat Chorong, dengan baju rumah santainya. Tetap cantik, still dazzling. Doojoon, bego lu nyuekkin yeoja kaya gini.
Chorong POV
Setelah kulihat Dongwoon di luar pagar rumahku memegang handphone, aku langsung berteriak memanggil "DONGWOON-AH!"
Begitu dia menoleh ke arahku. Dor. Dia, gapernah lebih ganteng dari ini. Sangat cakep. Aku belum pernah lihat dia dengan model rambut seperti itu. Dan pakaiannya, so masculine. Doojoon, mianhae.
Aku melesat keluar rumah dan membukakan pintu gerbang. Tercium aroma parfum namja yang khas wanginya. Sungguh feromon bagiku. Langsung kutarik tangan dia dan kuajak masuk kerumahku.
-Continue-
Agak sedikit marah, aku menyerah menelepon dia. Kucoba menelepon teman nya, Dongwoon. Aku tau jadwal latihan mereka, jadi kucoba menghubungi temannya dan menanyakan kabar Doojoon. Langsung saja kutelepon Dongwoon
Dongwoon, my best friend. Dia pernah suka padaku. Sejujurnya aku juga suka Dongwoon, gakalah perfect dari Doojoon. Entah, aku suka Doojoon pada awalnya, tapi lama kelamaan, aku menyesal. Doojoon terlalu cuek. Disaat Doojoon cuek, Dongwoon selalu ada buatku.
"Dongwoon-ah, apakah ada Doojoon disana?" tanyaku, berharap Dongwoon bisa mengabariku keadaan Doojoon sekarang.
"Doojoon? Sejam lalu dia pulang dari latihan, dia pulang duluan sih. Katanya bosen latian terus, namjachingu mu itu. Anyway, apa Doojoon ga contact kamu?" tanya Dongwoon penasaran.
"Ani *sigh* he always like that. Woon-ah, bisa temenin aku dirumah? Lagi sendirian nih, jebal" pintaku. Oya, aku sendirian dirumah, tadinya berharap Doojoon bsa menemani. Tapi ~
"N-ne. Chakaman. I'll go now" katanya, terdengar nada excited dri ucapannya.
Dongwoon POV
Doojoon babo ne? *smirk*
Aku langsung berganti pakaian, kuambil yang cukup keren. Menggunakan gel, menyemprotkan parfum, dan sebagainya. Intinya, tampil terbaik untuk Chorong tonight.
Langsung aku melesat turun kebawah, mengambil kunci motor, jaket, dan pergi melesat kerumah Chorong.
Sebenarnya aku sayang Doojoon, sebagai teman. Kalo dia sayang Chorong, aku juga akan senang, tapi engga. Dia menyiakan Chorong, aku yakin Chorong mulai muak sama Doojoon. Kesempatan? Iya. Tapi siapa yang membuka lebar kesempatan itu? Doojoon. Salahku? Iya. Sepenuhnya? Engga.
Tak lama aku sampai dirumah Chorong. Kutelfon dia dari bawah. Saat ku dial, ternyata dia sudah sadar. Ada jeritan "DONGWOON-AH!". Langsung aku menoleh ke arah pintu rumahnya. Terlihat Chorong, dengan baju rumah santainya. Tetap cantik, still dazzling. Doojoon, bego lu nyuekkin yeoja kaya gini.
Chorong POV
Setelah kulihat Dongwoon di luar pagar rumahku memegang handphone, aku langsung berteriak memanggil "DONGWOON-AH!"
Begitu dia menoleh ke arahku. Dor. Dia, gapernah lebih ganteng dari ini. Sangat cakep. Aku belum pernah lihat dia dengan model rambut seperti itu. Dan pakaiannya, so masculine. Doojoon, mianhae.
Aku melesat keluar rumah dan membukakan pintu gerbang. Tercium aroma parfum namja yang khas wanginya. Sungguh feromon bagiku. Langsung kutarik tangan dia dan kuajak masuk kerumahku.
-Continue-
Minggu, 14 Oktober 2012
DooSeob Part. I
Nano-nano FF (Manis Asem Asin) become one :)
This story from 'Anonim' :)
Cast : Doojoon and Yeoseob of B2ST
Part. I
-Continue-
This story from 'Anonim' :)
Cast : Doojoon and Yeoseob of B2ST
Part. I
Foreword
Yaoi, angst, a bit smut, fluff, romance
Ada straight dikit di beberapa chapter depan. Okay. Hope you like it
Perfect Life
Sekelompok namja mengiring lagu 'New York New York' di sebuah studio. Lagu jazz milik Frank Sinatra mengalun. Saxophone, ya saxophone pemegang penting dalam jazz. Alunan kasar tapi sexy bila seorang saxophonist menemukan pitch nya sendiri. Improvisasi. Selalu dibutuhkan saxophonist. Nothing easy from them.
Doojoon POV
"I want to wake up in a city that never sleep" aku bernyanyi dalam hati, mencoba mengiring lagu New York nya Sinatra.
"Pulang ya, cape nih, udah sore, besok kan bisa lagi. No, jangan besok. Nanti lagi aja ya?" kataku, memang males sih. I need a life. Bosen juga latihan terus.
"Ya lu kan udah hebat, biasa sombong. Wuuuu!!" canda Hyunseung.
"Yang hebat pulang aja deh hahaha" Dongwoonpun ikut bercanda. Sembari menyenggol tanganku.
"Hebat apasih? Newbie ini newbie. Cape ah, kan mau tidur juga" kataku sembari membersihkan sisa saliva didalam saxo.
"Punya temen kebo sih susah" tawa Junhyung sambil merangkulku dari belakang.
"Sehat tau. Guys, jangan terlalu dipaksa, pulang dulu ya. Bye! See you, thanks for the hard work" aku berjalan sambil menggendong tas saxo ku. Sebelum keluar studio aku melambaikan tangan kepada semua best friend ku. Nothing less from them, i love them all.
Aku berjalan menuju tempat parkir sambil bersenandung kecil lagu Goodbye Baby milik miss A. Bosen juga denger jazz / lagu classic, ballad. Sesekali dance-pop boleh juga.
Aku merogoh kantong celana, mencari kunci mobil yang entah dimana.
Tanpa sengaja aku melihat seorang namja sepantaran denganku, mukanya lucu seperti bayi dan agak pesek (?) *lol*. intinya dia lucu, kulihat dia keluar dari studio juga, ia tidak membawa instrumen sepertiku. Mungkin dia mengandalkan suaranya, drum, piano, keyboard. Gatau lah.
Setelah kudapat kunci mobil, langsung kubuka pintu mobil, kutaruh saxo ku perlahan. Aku selalu menganggap setiap barang adalah berharga, yah mungkin ini absurd, but i love them all like they are my girlfriends.
Aku menyetel music untuk menghilangkan rasa ngantuk dan bosan. Diperjalanan aku tetap bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari speaker. Suara jelek is not a problem for me. Music harus bisa dinikmati, ga harus bagus, yang penting orang senang.
Tak lama aku sampai didepan gerbang rumah, kutekan klakson. Keluarlah yeoja paruh baya, my maid, membukakan gerbang rumah untukku.
"Kamsa loh yah" aku selalu sopan terhadap pembantuku. Menurutku, semua orang setara. Ga ada yang mau dilahirkan miskin kan? Makanya orang berkecukupan sepertiku harus membantu orang susah.
"Cheon Doojoon-ssi, mau dibantu bawa saxo nya?" pembantuku juga sangat loyal kepada keluarga kami. Maklum, ia sudah lama kerja dirumah kami.
"Gwenchana , saya aja, thanks ya" kataku tersenyum sambil kembali menggendong benda 5 kg itu.
Aku pun masuk kerumah, ga ada tanda kehidupan, sepertinya umma sedang pergi. Sedangkan appa bekerja di kota kelahirannya Daegu, sedangkan aku disekolahkan di Seoul, disini aku tinggal hanya bersama umma. Appa juga sering menengok kami, sebulan sekali pasti ada. Jadi walaupun aku sama appa jauh, kami tetep menjaga relasi.
Aku membuka kulkas, mencari botol berisi air dingin milikku, kuteguk hampir setengahnya habis. Lalu aku nyosor ke kasur. Sepertinya Doojoon-si-kebo memang benar. Aku emang cinta tidur.
"WHAT A LIFE" kataku pada diri sendiri. Terjun ke kasur kesayangan, dan mencari yeojachingu ku yang lain yaitu... Guling. Langsung kupeluk si guling. Beberapa menit kemudian aku tertidur.
Yaoi, angst, a bit smut, fluff, romance
Ada straight dikit di beberapa chapter depan. Okay. Hope you like it
Perfect Life
Sekelompok namja mengiring lagu 'New York New York' di sebuah studio. Lagu jazz milik Frank Sinatra mengalun. Saxophone, ya saxophone pemegang penting dalam jazz. Alunan kasar tapi sexy bila seorang saxophonist menemukan pitch nya sendiri. Improvisasi. Selalu dibutuhkan saxophonist. Nothing easy from them.
Doojoon POV
"I want to wake up in a city that never sleep" aku bernyanyi dalam hati, mencoba mengiring lagu New York nya Sinatra.
"Pulang ya, cape nih, udah sore, besok kan bisa lagi. No, jangan besok. Nanti lagi aja ya?" kataku, memang males sih. I need a life. Bosen juga latihan terus.
"Ya lu kan udah hebat, biasa sombong. Wuuuu!!" canda Hyunseung.
"Yang hebat pulang aja deh hahaha" Dongwoonpun ikut bercanda. Sembari menyenggol tanganku.
"Hebat apasih? Newbie ini newbie. Cape ah, kan mau tidur juga" kataku sembari membersihkan sisa saliva didalam saxo.
"Punya temen kebo sih susah" tawa Junhyung sambil merangkulku dari belakang.
"Sehat tau. Guys, jangan terlalu dipaksa, pulang dulu ya. Bye! See you, thanks for the hard work" aku berjalan sambil menggendong tas saxo ku. Sebelum keluar studio aku melambaikan tangan kepada semua best friend ku. Nothing less from them, i love them all.
Aku berjalan menuju tempat parkir sambil bersenandung kecil lagu Goodbye Baby milik miss A. Bosen juga denger jazz / lagu classic, ballad. Sesekali dance-pop boleh juga.
Aku merogoh kantong celana, mencari kunci mobil yang entah dimana.
Tanpa sengaja aku melihat seorang namja sepantaran denganku, mukanya lucu seperti bayi dan agak pesek (?) *lol*. intinya dia lucu, kulihat dia keluar dari studio juga, ia tidak membawa instrumen sepertiku. Mungkin dia mengandalkan suaranya, drum, piano, keyboard. Gatau lah.
Setelah kudapat kunci mobil, langsung kubuka pintu mobil, kutaruh saxo ku perlahan. Aku selalu menganggap setiap barang adalah berharga, yah mungkin ini absurd, but i love them all like they are my girlfriends.
Aku menyetel music untuk menghilangkan rasa ngantuk dan bosan. Diperjalanan aku tetap bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari speaker. Suara jelek is not a problem for me. Music harus bisa dinikmati, ga harus bagus, yang penting orang senang.
Tak lama aku sampai didepan gerbang rumah, kutekan klakson. Keluarlah yeoja paruh baya, my maid, membukakan gerbang rumah untukku.
"Kamsa loh yah" aku selalu sopan terhadap pembantuku. Menurutku, semua orang setara. Ga ada yang mau dilahirkan miskin kan? Makanya orang berkecukupan sepertiku harus membantu orang susah.
"Cheon Doojoon-ssi, mau dibantu bawa saxo nya?" pembantuku juga sangat loyal kepada keluarga kami. Maklum, ia sudah lama kerja dirumah kami.
"Gwenchana , saya aja, thanks ya" kataku tersenyum sambil kembali menggendong benda 5 kg itu.
Aku pun masuk kerumah, ga ada tanda kehidupan, sepertinya umma sedang pergi. Sedangkan appa bekerja di kota kelahirannya Daegu, sedangkan aku disekolahkan di Seoul, disini aku tinggal hanya bersama umma. Appa juga sering menengok kami, sebulan sekali pasti ada. Jadi walaupun aku sama appa jauh, kami tetep menjaga relasi.
Aku membuka kulkas, mencari botol berisi air dingin milikku, kuteguk hampir setengahnya habis. Lalu aku nyosor ke kasur. Sepertinya Doojoon-si-kebo memang benar. Aku emang cinta tidur.
"WHAT A LIFE" kataku pada diri sendiri. Terjun ke kasur kesayangan, dan mencari yeojachingu ku yang lain yaitu... Guling. Langsung kupeluk si guling. Beberapa menit kemudian aku tertidur.
-Continue-
Rabu, 10 Oktober 2012
TaoRis Part VII
Part. VII
Pliss review n No Silent Reader. :*
Entah kenapa hatiku terasa begitu hangat. Ku dapat merasakan dadanya yang padat berbidang membuatku ingin melakukan yang lebih.
Eehhh, apaan sich? Ya tuhan, jangan sampai pikiran nakal ini menggangguku.
Kris melepas pelukanya dan duduk di sofa sambil menonton tv. Karena baju ku yang basah ini, aku langsung berjalan ke kamar untuk ganti baju.
Dan sekalian mencuri kesempatan buat tidur siang.
"Tao, kau mau kemana?"
"Aku mau ganti baju. Wae Ge?"
"Ani.." Kris masih terfokus untuk melihat tv.
Sementara aku berjalan ke kamar melewati kamar Chen Ge dengan suara desahannya yang membuatku sedikit horny.
FLASHBACK
Aku Chen, Gegenya Tao. Yang sibuk mengatur seisi rumah. Sambil menunggu Tao, aku menyiapkan kimchi kesukaan Tao.
Teng Tong... Suara bel pintu berbunyi.
Aku berpikir seseorang diluar sana adalah tukang listrik. Tapi, aku telah melunasi semua tagihan.
Kubuka pintu perlahan sampai kulihat ada seorang namja bertubuh agak gemuk berdiri di depan rumahku.
"Annyeong. Naneun Xiumin imnida. Kau kakaknya Tao?"
"Ne... Naneun Chen Imnida. Waeyo?"
"Ani.. Boleh saya masuk?"
"Uh, boleh... Silahkan"
Xiumin langsung masuk ke rumah. Tapi bukannya duduk di sofa, dia malah melihatku. Kulihat matanya sedikit takut. Dan perlahan dia mendekatiku dan mengatakan
"Wo Ai Ni Chen. I want to having a nice time with you. Can I sleeping with you?" Bluuussshhh
Mukaku merekah seketika dan langsung saja aku mengiyakan permintaannya.
"N-ne Ge? Ma-mau di kamar?"
Ge? Yahh kulihat dia agak tua dari ku. Dia langsung saja menggendongku ala Bride Style dan membawaku ke kamar. Sambil menurunkanku dia mencium bibir dengan lembut. Kuraba dadanya yang agak gemuk.
Sembari memainkan nipple nya dia membuka pakaianku termasuk celanaku. Dia melepas semua pakaiannya sampai terlihat jr nya yang tegang sempurna. Ingin rasanya aku mengulum jr nya. Ku bangkit dan langsung menghampiri jr Xiu dan mengulumnya.
Aaahhh ooohhh desahan Xiu membuatku semakin liar dalam mengulum jr nya. Menjilat jr nya dari atas sampai bawah dan memainkan twinsballnya.
"Sudah cukup. Gantian kamu ne?" Xiu menidurkanku dan mengulum jr ku.
Aahhh ssshhh mmmm desahan ku semakin kencang ketika Xiu memasukan jari nya di holeku. Kurasakan rasa sakit yang luar biasa ketika ketiga jari Xiu sukses masuk di holeku.
Tanpa aba-aba dia langsung memasukan jr nya ke holeku dan mendorongnya pelan. Xiu mengulum nippleku sampai basah dan eranganku makin keras. Xiu seakan tidak memikirkan keadaanku yang menahan sakit luar biasa.
Tapi aku akui sodokannya memang enak. Pelan tapi pasti aku mulai menikmati dorongannya. Aahhh!! Ternyata Xiu menggigit leherku.
"Now You are Mine Chen."
"Ya!! Tanpa kau bilang, I'm already yours" Xiu tersenyum dan dorongannya semakin kuat membuatku mencapai klimaks. Xiu sepertinya kecapekan, aku berinisiatif menggantikan dia.
"Ge, sini biar Chen aja yang genjot."
"Ne..." Aku meniduri Xiumin dan mulai menggenjot di jr nya. Kunaik-turunkan jr ku pelan-pelan sampai ada suara pintu yang terbuka. Tapi aku tidak peduli karena aku keenakan di atas jr Xiumin.
END OF FLASHBACK
Kuganti bajuku pelan-pelan dan mulai memilih baju.
Tak lama aku mengambil baju bergambar panda dan langsung memakainya.
Chapter 7 done.
Review pliss :*
@exomkris_wy
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
Pliss review n No Silent Reader. :*
Entah kenapa hatiku terasa begitu hangat. Ku dapat merasakan dadanya yang padat berbidang membuatku ingin melakukan yang lebih.
Eehhh, apaan sich? Ya tuhan, jangan sampai pikiran nakal ini menggangguku.
Kris melepas pelukanya dan duduk di sofa sambil menonton tv. Karena baju ku yang basah ini, aku langsung berjalan ke kamar untuk ganti baju.
Dan sekalian mencuri kesempatan buat tidur siang.
"Tao, kau mau kemana?"
"Aku mau ganti baju. Wae Ge?"
"Ani.." Kris masih terfokus untuk melihat tv.
Sementara aku berjalan ke kamar melewati kamar Chen Ge dengan suara desahannya yang membuatku sedikit horny.
FLASHBACK
Aku Chen, Gegenya Tao. Yang sibuk mengatur seisi rumah. Sambil menunggu Tao, aku menyiapkan kimchi kesukaan Tao.
Teng Tong... Suara bel pintu berbunyi.
Aku berpikir seseorang diluar sana adalah tukang listrik. Tapi, aku telah melunasi semua tagihan.
Kubuka pintu perlahan sampai kulihat ada seorang namja bertubuh agak gemuk berdiri di depan rumahku.
"Annyeong. Naneun Xiumin imnida. Kau kakaknya Tao?"
"Ne... Naneun Chen Imnida. Waeyo?"
"Ani.. Boleh saya masuk?"
"Uh, boleh... Silahkan"
Xiumin langsung masuk ke rumah. Tapi bukannya duduk di sofa, dia malah melihatku. Kulihat matanya sedikit takut. Dan perlahan dia mendekatiku dan mengatakan
"Wo Ai Ni Chen. I want to having a nice time with you. Can I sleeping with you?" Bluuussshhh
Mukaku merekah seketika dan langsung saja aku mengiyakan permintaannya.
"N-ne Ge? Ma-mau di kamar?"
Ge? Yahh kulihat dia agak tua dari ku. Dia langsung saja menggendongku ala Bride Style dan membawaku ke kamar. Sambil menurunkanku dia mencium bibir dengan lembut. Kuraba dadanya yang agak gemuk.
Sembari memainkan nipple nya dia membuka pakaianku termasuk celanaku. Dia melepas semua pakaiannya sampai terlihat jr nya yang tegang sempurna. Ingin rasanya aku mengulum jr nya. Ku bangkit dan langsung menghampiri jr Xiu dan mengulumnya.
Aaahhh ooohhh desahan Xiu membuatku semakin liar dalam mengulum jr nya. Menjilat jr nya dari atas sampai bawah dan memainkan twinsballnya.
"Sudah cukup. Gantian kamu ne?" Xiu menidurkanku dan mengulum jr ku.
Aahhh ssshhh mmmm desahan ku semakin kencang ketika Xiu memasukan jari nya di holeku. Kurasakan rasa sakit yang luar biasa ketika ketiga jari Xiu sukses masuk di holeku.
Tanpa aba-aba dia langsung memasukan jr nya ke holeku dan mendorongnya pelan. Xiu mengulum nippleku sampai basah dan eranganku makin keras. Xiu seakan tidak memikirkan keadaanku yang menahan sakit luar biasa.
Tapi aku akui sodokannya memang enak. Pelan tapi pasti aku mulai menikmati dorongannya. Aahhh!! Ternyata Xiu menggigit leherku.
"Now You are Mine Chen."
"Ya!! Tanpa kau bilang, I'm already yours" Xiu tersenyum dan dorongannya semakin kuat membuatku mencapai klimaks. Xiu sepertinya kecapekan, aku berinisiatif menggantikan dia.
"Ge, sini biar Chen aja yang genjot."
"Ne..." Aku meniduri Xiumin dan mulai menggenjot di jr nya. Kunaik-turunkan jr ku pelan-pelan sampai ada suara pintu yang terbuka. Tapi aku tidak peduli karena aku keenakan di atas jr Xiumin.
END OF FLASHBACK
Kuganti bajuku pelan-pelan dan mulai memilih baju.
Tak lama aku mengambil baju bergambar panda dan langsung memakainya.
Chapter 7 done.
Review pliss :*
@exomkris_wy
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
Selasa, 09 Oktober 2012
TaoRis Part VI
Part. VI
Oke, ini agak aneh Kris mengatakan dia akan melindungiku. Padahal aku bukan pacarnya. Dengan lembut dia membelai rambutku. Tapi masih terdengar suara desahan Chen Ge dengan Xiumin. Jujur aku tidak percaya dengan yang terjadi. Walaupun Chen Ge Yaoi tapi belum pernah kulihat di tidur dengan namja lain selain aku karena aku adiknya.
*back to story* Kris terus memelukku bahkan bisa kurasakan sesuatu menusuk perutku. Kruyuk Kruyuk. Duh,, suara perut ini mengganggu suasana romantis ini.
"Kau lapar, Tao?"
"N-ne. Gege udah makan?"
"Belum juga"
"Aku ada mie ramen, mau aku buatin?"
"Ne" Kris dan aku meluncur ke dapur. Kupersilahkan Kris duduk di kursi sementara aku menyiapkan mie ramennya. 15 menit sudah mie ramen yang aku buat sudah siap. Kris terlihat bersemangat dengan mie ramen yang aku buat.
Slurp slurp suara mie yang aku makan begitu enak.
"Tao, ada yang nempel tuh?" .
"Jinjayo? Daerah mana ge?" Aku terus mencari sisa makanan yang menempel.
"Sini gege bersihin" BLUSSSS Kris tiba - tiba menaruh tanganya di mulutku. Mukaku semakin merah dan jantungku berdebar cukup kencang.
"Sudah bersih"
"Go-gomawo Ge?"
"Gege boleh nginep disini gak?" Uhuk uhuk aku langsung tersedak dibuatnya.
Kris dengan cepat meminumkan segelas air ke mulutku. Tapi air minumku menumpah sedikit di bajuku yang membuat dadaku basah kuyup dan menunjukkan kedua nipple yang menegang. Kris terlihat nafsu dengan keadaanku.
"Tadi Gege bilang apa?"
"Gege boleh nginep gak?" Sebenarnya aku mau menolak permintaan Kris tapi melihat senyumnya membuatku mengiyakan permintaannya.
Kris langsung memelukku tanda dia senang permintaanya di kabulkan.
Chapter 6 done. :*
Pliss review.
Pliss review.
@ExoMKris_WY
Minggu, 07 Oktober 2012
TaoRis Part V
Part. V
"Tao, Bangun. Ayo sekolah. Sarapan sudah siap." Sapa Chen Ge membangunkanku.
"Oh, Ne." Kubangkit dari kasur ku yang empuk dengan bantal panda menuju ke kamar mandi. Kubersihkan seluruh badan ku dengan malas. Setelah keluar daru kamar mandi, kulihat ad SMS dari seseorang.
"Ah.. Ini pasti Xiumin Ge." Tapi ternyata BUKAN.
"Annyeong, Ini Kris. Cepat keluar, aku sudah menunggumu dari tadi."
Wooaa langsung hatiku berdebar - debar kencang. Baru kali ini ada namja yang mau mengunjungi rumahku. Keluar dari kamar dan menuju dapur aku langsung ambil kimbab dan meninggalkan dapur.
"Berangkat dulu Ge!" Dengan cepat aku keluar dari rumah dan berharap Kris tidak ada di depan rumah. Dan benar saja Kris menungguku di depan rumahku. Oh God, Apa yang sebenarnya terjadi?
"Annyeong" Sapanya
"Ne. Annyeong"
"Ayo berangkat" Kumasuk ke dalam mobil Kris dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan kulihat dia terus memperhatikanku.
"Hari ini kamu sibuk gak?" Dan Blussh perasaan ku campur aduk.
"Ti-tidak. Waeyo?"
"Aku ingin pergi mencari makanan. Kamu mau ikut?" Dengan bodohnya aku menjawab
"I-iya aku ikut"
Dohhh pliss Help Me!!
"Oke pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang ne?"
"Ne"
Tak kukira dia bisa sebaik ini. Padahal kalau di sekolah dia sombong banget. Sreeet.. Sampailah kita di sekolah. Kusapa Sehun dengan berlari.
Sekolah berjalan cukup lama.
Tapi hal ini justru yang memang aku inginkan. Karena aku tidak mau bertemu dengan Si Kris yang akan mengajaku pergi nanti. Sehun terus memperhatikanku dengan wajah khawatir.
"Hey kau tidak apa - apa?" Sehun melihatku
"Tidak kok"
"Jinja?"
"Ne"
"Jika ada masalah lapor ke kita ne?"
"Ne" Sehun, Mianhe aku tidak bisa ngomongin hal ini.
Teng
Teng
Bel pulang sekolah berbunyi dan semua siswa keluar dengan santai.
Tapi aku? Perasaanku jadi agak takut mengingat ajakan Kris tadi pagi.
"Annyeong. Ayo kita brangkat" Kris langsung menggandeng tanganku dan masuk ke dalam mobil.
"Kita ubah plan kita ne?"
"Waeyo?"
"Aku ingin pergi ke rumahmu. Bolehkan?"
"Bo-boleh." Dengan polos nya aku langsung mengiyakan setiap permintaan Kris.
"Oh iya aku lupa akukan lebih tua. Jadi panggil aku dengan Ge ne?"
"Ne, Ge"
Sesampainya di rumah Kris langsung menggandeng tangan ku dan ketika Kris membuka pintu tiba - tiba terdengar suara desahan.
"Ooohhh aaaahh faaster baby" Suara ini kupastikan suara Chen Gege. Wae? Aku berjalan Kekamar Chen Ge. Dan terkejutlah aku, Ada Xiumin yang sedang memasukan juniornya di hole Chen ge.
Aku langsung shock dan lari keluar sambil menutup pintu pelan - pelan kemudian lari dan memeluk Kris.
"Wa-wae Tao? Suara apa itu?"
"Tidak apa - apa Ge" Kris langsung memeluk ku dan aku pun tersadar.
Tapi pelukannya hangat banget. Perasaanku yang kacau berubah menjadi tenang. Rasanya nyaman banget. Kris langsung mengelus elus rambutku dengan lembut. Apakah aku menyukainya? Oh jangan!!
"Tao, tenang saja Gege ada disini. Gege akan melindungimu" Mengapa dia berkata seperti itu? Apa dia menyukaiku?
Chapter 5 done. :*Review ne? :*
@Exomkris_wy
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
"Tao, Bangun. Ayo sekolah. Sarapan sudah siap." Sapa Chen Ge membangunkanku.
"Oh, Ne." Kubangkit dari kasur ku yang empuk dengan bantal panda menuju ke kamar mandi. Kubersihkan seluruh badan ku dengan malas. Setelah keluar daru kamar mandi, kulihat ad SMS dari seseorang.
"Ah.. Ini pasti Xiumin Ge." Tapi ternyata BUKAN.
"Annyeong, Ini Kris. Cepat keluar, aku sudah menunggumu dari tadi."
Wooaa langsung hatiku berdebar - debar kencang. Baru kali ini ada namja yang mau mengunjungi rumahku. Keluar dari kamar dan menuju dapur aku langsung ambil kimbab dan meninggalkan dapur.
"Berangkat dulu Ge!" Dengan cepat aku keluar dari rumah dan berharap Kris tidak ada di depan rumah. Dan benar saja Kris menungguku di depan rumahku. Oh God, Apa yang sebenarnya terjadi?
"Annyeong" Sapanya
"Ne. Annyeong"
"Ayo berangkat" Kumasuk ke dalam mobil Kris dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan kulihat dia terus memperhatikanku.
"Hari ini kamu sibuk gak?" Dan Blussh perasaan ku campur aduk.
"Ti-tidak. Waeyo?"
"Aku ingin pergi mencari makanan. Kamu mau ikut?" Dengan bodohnya aku menjawab
"I-iya aku ikut"
Dohhh pliss Help Me!!
"Oke pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang ne?"
"Ne"
Tak kukira dia bisa sebaik ini. Padahal kalau di sekolah dia sombong banget. Sreeet.. Sampailah kita di sekolah. Kusapa Sehun dengan berlari.
Sekolah berjalan cukup lama.
Tapi hal ini justru yang memang aku inginkan. Karena aku tidak mau bertemu dengan Si Kris yang akan mengajaku pergi nanti. Sehun terus memperhatikanku dengan wajah khawatir.
"Hey kau tidak apa - apa?" Sehun melihatku
"Tidak kok"
"Jinja?"
"Ne"
"Jika ada masalah lapor ke kita ne?"
"Ne" Sehun, Mianhe aku tidak bisa ngomongin hal ini.
Teng
Teng
Bel pulang sekolah berbunyi dan semua siswa keluar dengan santai.
Tapi aku? Perasaanku jadi agak takut mengingat ajakan Kris tadi pagi.
"Annyeong. Ayo kita brangkat" Kris langsung menggandeng tanganku dan masuk ke dalam mobil.
"Kita ubah plan kita ne?"
"Waeyo?"
"Aku ingin pergi ke rumahmu. Bolehkan?"
"Bo-boleh." Dengan polos nya aku langsung mengiyakan setiap permintaan Kris.
"Oh iya aku lupa akukan lebih tua. Jadi panggil aku dengan Ge ne?"
"Ne, Ge"
Sesampainya di rumah Kris langsung menggandeng tangan ku dan ketika Kris membuka pintu tiba - tiba terdengar suara desahan.
"Ooohhh aaaahh faaster baby" Suara ini kupastikan suara Chen Gege. Wae? Aku berjalan Kekamar Chen Ge. Dan terkejutlah aku, Ada Xiumin yang sedang memasukan juniornya di hole Chen ge.
Aku langsung shock dan lari keluar sambil menutup pintu pelan - pelan kemudian lari dan memeluk Kris.
"Wa-wae Tao? Suara apa itu?"
"Tidak apa - apa Ge" Kris langsung memeluk ku dan aku pun tersadar.
Tapi pelukannya hangat banget. Perasaanku yang kacau berubah menjadi tenang. Rasanya nyaman banget. Kris langsung mengelus elus rambutku dengan lembut. Apakah aku menyukainya? Oh jangan!!
"Tao, tenang saja Gege ada disini. Gege akan melindungimu" Mengapa dia berkata seperti itu? Apa dia menyukaiku?
Chapter 5 done. :*Review ne? :*
@Exomkris_wy
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
Jumat, 05 Oktober 2012
TaoRis Part IV
Part. IV
TengTeng
Bel pulang sekolah berbunyi. Tapi bukannya senang, hatiku malah kacau.
"Tao, kau mau tidak ikut kita?" ajak Chanyeol yang berdiri di sebelah mejaku.
"Ikut aja Tao. Kau kan baru di Korea. Kita mau beli Kimchi!" Rayu Lay.
"Jeongmal mianhe. Sebenarnya aku ingin ikut tapi Xiumin Ge mengantarku pulang ke rumah" Sehun yang tadi minum sebotol air mineral langsung muncrat membasahi tubuhnya.
"Apa?? Jinjayo?? Tao? Kau gak bercanda kan?" tanya Sehun dengan mulut yang masih basah. Chanyeol, Lay, dan Kai pun tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Ya sudah. Kalau kamu mau ikut si Xiumin gwenchana kok..." Usul sehun.
"N-ne.. Gomawoyo..." Jawabku dengan perasaan sedih.
Kreeekk... Suara pintu kelas ku terbuka dan kulihat Xiumin berdiri di dekat pintu.
"Ayo, Tao. Kita pulang" suara Xiumin begitu halus di telingaku. Tak butuh waktu lama aku berjalan meninggalkan Kai, Lay, Sehun, dan Chanyeol dengan mulut yang terbuka lebar.
Kumasuk mobil Xiumin dengan perasaan kurang nyaman. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.
"Tao, rumah mu dimana?"
"Eh....d-dekat sini kok... Belok kiri lalu lurus"
jawabku.
"Suaramu halus sekali. Untuk namja sepertimu pasti banyak yang suka" Smirknya
"Ahh.. Gege bisa saja. Hehe..."
"Tuh kan, senyummu indah sekali" Xiumin kemudian tersenyum. OMG senyumanya aigooo.. Ayolah cepat sampai!
"Kamu dirumah tinggal dengan siapa?" Tanyanya lagi.
"Aku? A--ku sama Gege Chen... Wae?"
"Anni, gwenchana" pertanyaan yang ditanyakan membuatku semakin bertanya - tanya. Ada apa dengan dia?
Wwiieeww sampai juga dirumah. Xiumin dengan cepat keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
"Annyeong My Panda." Gege Chen menyapaku dengan senyumnya yang manis. Kulihat Xiumin terpukau dengan senyuman GEGE ku.
Maklum saja banyak sekali yeoja di sekolahku dulu yang ingin sekali menjadi yeojachingunya.
"Gege? Kau tidak apa - apa?" Tanya ku kepada Xiumin.
"Aahh... Anni.. Itu Chen?"
"Ne. Waeyo?"
"Ani.. Aku pulang dulu ne? Annyeong"
"Ne Ge." Dengan cepat Xiumin menyalakan mobilnya dan dia dengan meninggalkanku dengan Chen.
"Siapa dia, Tao?"
"Itu Xiumin. Waeyo?"
"Manis sekali"
"Wae, Ge?"
"A-ani.. Hehe udah, kita makan dulu ne?"
"Gege suka sama Xiumin?"
"Ssstttt, jangan bilang siapa - siapa ne?"
"Siap. Hehehe" Terpintas pikiranku untuk menjodohkan keduanya. Hehehe akal jahatku mulai keluar.
-Kris POV-
Malam hari ku telpon Xiumin untuk meminta hasilnya.
"Yoboseo? Ini Kris. Mana hasilnya?"
"Ne. Namanya Tao. Lengkapnya aku kurang tau. Dia tinggal disebuah apartement kecil bersama dengan seorang Gege namanya Chen. Kurasa itu yang bisa aku beri tau. Oh iya tempat tinggalnya tidak jauh dari sekolah kita. Dan ini nomor telponnya"
"Oke, Gomawo ne?" beeepp..
Tao, You Will Be Mine
-End of Kris POV-
Chapter 4 done. :*
Review pliss
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
TengTeng
Bel pulang sekolah berbunyi. Tapi bukannya senang, hatiku malah kacau.
"Tao, kau mau tidak ikut kita?" ajak Chanyeol yang berdiri di sebelah mejaku.
"Ikut aja Tao. Kau kan baru di Korea. Kita mau beli Kimchi!" Rayu Lay.
"Jeongmal mianhe. Sebenarnya aku ingin ikut tapi Xiumin Ge mengantarku pulang ke rumah" Sehun yang tadi minum sebotol air mineral langsung muncrat membasahi tubuhnya.
"Apa?? Jinjayo?? Tao? Kau gak bercanda kan?" tanya Sehun dengan mulut yang masih basah. Chanyeol, Lay, dan Kai pun tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Ya sudah. Kalau kamu mau ikut si Xiumin gwenchana kok..." Usul sehun.
"N-ne.. Gomawoyo..." Jawabku dengan perasaan sedih.
Kreeekk... Suara pintu kelas ku terbuka dan kulihat Xiumin berdiri di dekat pintu.
"Ayo, Tao. Kita pulang" suara Xiumin begitu halus di telingaku. Tak butuh waktu lama aku berjalan meninggalkan Kai, Lay, Sehun, dan Chanyeol dengan mulut yang terbuka lebar.
Kumasuk mobil Xiumin dengan perasaan kurang nyaman. Sepanjang perjalanan kami hanya diam.
"Tao, rumah mu dimana?"
"Eh....d-dekat sini kok... Belok kiri lalu lurus"
jawabku.
"Suaramu halus sekali. Untuk namja sepertimu pasti banyak yang suka" Smirknya
"Ahh.. Gege bisa saja. Hehe..."
"Tuh kan, senyummu indah sekali" Xiumin kemudian tersenyum. OMG senyumanya aigooo.. Ayolah cepat sampai!
"Kamu dirumah tinggal dengan siapa?" Tanyanya lagi.
"Aku? A--ku sama Gege Chen... Wae?"
"Anni, gwenchana" pertanyaan yang ditanyakan membuatku semakin bertanya - tanya. Ada apa dengan dia?
Wwiieeww sampai juga dirumah. Xiumin dengan cepat keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
"Annyeong My Panda." Gege Chen menyapaku dengan senyumnya yang manis. Kulihat Xiumin terpukau dengan senyuman GEGE ku.
Maklum saja banyak sekali yeoja di sekolahku dulu yang ingin sekali menjadi yeojachingunya.
"Gege? Kau tidak apa - apa?" Tanya ku kepada Xiumin.
"Aahh... Anni.. Itu Chen?"
"Ne. Waeyo?"
"Ani.. Aku pulang dulu ne? Annyeong"
"Ne Ge." Dengan cepat Xiumin menyalakan mobilnya dan dia dengan meninggalkanku dengan Chen.
"Siapa dia, Tao?"
"Itu Xiumin. Waeyo?"
"Manis sekali"
"Wae, Ge?"
"A-ani.. Hehe udah, kita makan dulu ne?"
"Gege suka sama Xiumin?"
"Ssstttt, jangan bilang siapa - siapa ne?"
"Siap. Hehehe" Terpintas pikiranku untuk menjodohkan keduanya. Hehehe akal jahatku mulai keluar.
-Kris POV-
Malam hari ku telpon Xiumin untuk meminta hasilnya.
"Yoboseo? Ini Kris. Mana hasilnya?"
"Ne. Namanya Tao. Lengkapnya aku kurang tau. Dia tinggal disebuah apartement kecil bersama dengan seorang Gege namanya Chen. Kurasa itu yang bisa aku beri tau. Oh iya tempat tinggalnya tidak jauh dari sekolah kita. Dan ini nomor telponnya"
"Oke, Gomawo ne?" beeepp..
Tao, You Will Be Mine
-End of Kris POV-
Chapter 4 done. :*
Review pliss
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
TaoRis Part III
Part III
"Hi?" dan Jlebb! Aku tersedak.
Ku minum segelas air dengan cepat sambil melihat ke arah sumber suara.
"Annyeong, perkenalkan saya Xiumin. Boleh saya duduk di sebelah anda?" kulihat yang lain mengangguk dan kuijinkan dia duduk di kursi kami.
"Maaf sudah buat kalian terkejut, hehehe" Senyumnya begitu manis. Mana ada namja yang memiliki senyum semanis ini. Sehun pun sampai-sampai menjatuhkan sandwichnya di piring.
"Kalian kenapa?" sepintas tersadar dan aku pun menggelengkan kepala.
"A-ani..." jawabku.
"By the way, nama mu siapa?"
"Aku? Aku Tao. Anak baru..."
"Senyummu manis juga"
Blush... Wajahku memerah mengalahkan tomat. Sehun, Kai, Lay, dan Chanyeol membuka mata mereka lebar-lebar, karena mereka tidak percaya dengan yang Xiumin katakan.
"Salam kenal ya?" Xiumin menggapai tanganku dan menaik-nurunkan tanganku. Aku tak berkutat dengan perilakunya. Tapi aku curiga dengan dia, mengingat dia juga masuk dalam geng Cover Boy yang sangat terkenal di sekolahku. Walaupun aku anak baru, tapi aku tidak suka sama sekali dengan geng itu.
Xiumin dengan polosnya mengeluarkan handphone, "Boleh minta nomor telp kamu?"
Ya ampun ingin sekali aku berteriak OMG! Tapi dengan polosnya aku memberi nomor telpku.
"Oke Xie xie. Dan eh, Aku kan lebih tua daripada kamu, jadi kamu panggil aku GEGE ne?"
Blusshhh...
"N-ne.." Perlahan tapi pasti Xiumin meninggalkan mejaku dan meluncur keluar kantin.
"Wow Tao. Kau hebat sekali bisa dekat dengan Xiumin” kagum Kai padaku.
"Ah, biasa saja kok. Paling cuma dibuat main – main” sahutku.
"Sahabat lucuku Daebak!" Sehun langsung memelukku.
"Ya! Sesak tau!" Aku menggembungkan pipiku. Tak kusadar dari tadi Kris memperhatikanku. Biarpun aku tak suka tapi kubiarkan senyumku mengembang di pipiku.
Teng Teng Bel sekolah berbunyi, Aku dan Sehun bergegas lari ke kelas. Sementara Kai, Lay, Chanyeol pergi ke kamar mandi. Selama pelajaran aku mengikuti dengan rasa penasaran dengan Xiumin tadi. Tiba - tiba handphoneku berbunyi.
Kulihat ada SMS dari.. Tanpa Nama!!
"Annyeong?" isi SMS itu.
"Siapa ini?" Balasku. Tak lama muncul SMS lagi.
"Ini Xiumin Ge. Pulang sekolah kita pulang bareng ne?" sontak saja hal ini membuatku terkejut, dan konyolnya aku langsung membalas SMS dengan mengiyakan isi sms itu.
-continue-
Kamis, 04 Oktober 2012
Yun-Jae-Chun
Cast : U-Know Yuno, Hero Jaejoong, and Micky Yoochun of TVXQ
*note : this story before JYJ debuted
Seketika langit senja digantikan oleh terangnya rembulan. Banyak bintang berhamburan menghiasi polosnya sang langit malam, hembusan angin menerpa tubuh tiga namja tampan yang berkumpul disebuah bukit yang telah menjadi markas mereka berkumpul sejak dulu.
Namun kali ini, mereka tengah dilanda belasan botol soju yang tergeletak di bawah kaki mereka. Yuno tertawa dan berkata kepada Dua orang lainnya "Ya! Kalian berdua tidak merasa aneh?" Dipandangnya jaejung dan Uchun yang berada disamping kanan dan kiri Yuno.
"Aku merasa aku sedang terangsang gara gara belasan botol soju ini" ujarnya dilanjutnya dengan tertawa, Yoochun yang berbaring memandang langit, mengusap jrnya. Sedangkan Jaejung yang mengamati tingkah Micky meracau
"Lihat! Micky mengusap jrnya! Kaupun terangsang?" Jaejung ikut irama tawa Yuno. Micky tersenyum dan menutup matanya.
Terus diusapnya jr Micky hingga membentuk gundukan besar yang tercetak jelas, masih terdengar bahakan tawa jaejung dan yuno malam itu. Micky tak menghiraukannya, ia terus mengusap hingga benar benar terasa sempit.
Tak memperdulikan Jaejung dan Yuno, Micky membuka ikatan sabuk pada celananya, membuka dan mengeluarkan jrnya yang tegang dengan bentuk sempurna, jr tegang milik Yoochun mencuat tegak berdiri menghadap langit.
Digenggamnya, lalu diayunkannya pelan genggaman tangan yoochun naik turun, merancap dirinya sendiri ditengah hembusan angin malam. Masih menutup mata, Yoochun membayangkan seseorang menghisap kemaluannya. Tenggelam dalam imajinasi fantasi sexnya Yoochun memainkan twinsballnya sendiri dan menusuk lubang kencing dengan telunjuknya sendiri. Dengan sedikit desahan Yoochun benar benar menikmati selfservicenya.
Jaejung dan Yuno yang tadi tertawa kini saling memuaskan, mereka berdua saling menggengam kepala dan bertukar air liur dengan ganas. Bukan bahakan tawa lagi yang terdengar melainkan desahan nikmat dari ketiga namja tampan tersebut. Yoochun yang mendengar desahan Jae dan Yuno memberanikan diri melepas semua semua pakaiannya. Nipplenya yang tegang sudah tidak tertutupi lagi oblong favoritnya. Masih memejamkan mata, Yoochun mencubiti nipplenya dan mengerang. Erangan yang terdengar seperti memancing Yuno dan Jae yang kala itu berciuman nakal.
Nafsu yang sudah tak terbendung membuat mereka menghentikan kegiatan lalu mendekati Yoochun yang memejamkan matanya. Jae menjilati wajah Micky ganas, Jae menciumi paha dan mengusap tubuh indah Yoochun. Yoochun yg menerima sensasi tersebut menghentikan kegiatan meloconya. Yuno yang sadar akan kepasrahan Yoochun Menaiki tubuh yoochun dan mencium bibirnya ganas, Jae tak tinggal diam. Ia membenarkan posisi pantat yuno lalu membuka sabuk celana
Yuno dari belakang, ditarik paksa celana Yuno dan menaruhnya di samping baju Yoochun.
Setelah terpampang lubang pantat Yuno, Jae memandang jr Yuno yang sedikit basah dilubangnya. Lubang kemaluan Yoochun yang basah bertabrakan dengan kemaluan Yuno. Jae yang tak ingin
kehilangan kesempatan, menatapi dua kemaluan yang bertabrakan. Diluruskan kemaluan mereka oleh Jae dan dimainkannya. Ciuman Yuno dan Yoochun terhenti, mereka berdua mendesah dan mengerang bersama sama. Aroma soju yang tercium dari mulut Yuno dan Micky semakin membakar libido
masing masing, Yoochun membuka kaus Yuno dan mengusap dadanya lembut. Sedangkan Yuno mendekatkan mulutnya dan menghembuskan aroma soju ke hidung Yoochun, Jae yang kinipun ikut bertelanjang mendorong pinggul Yuno, memaksa kemaluan Yuno dan Yoochun berhimpitan.
Tangan yoochun sekarang mengusap punggung Yuno lalu turun kebongkahan pantat Yuno. Dibukanya lebar dan di genggamnya, dimaju mundurkan pantat yuno oleh tangan yoochun, Jae yang diberi kesempatan Yoochun langsung meringkuk menjilati lubang pantat Yuno. Terkadang ditusukan lidahnya tepat dikerutan lubang pantat Yuno. Yuno yang memang sangat bernafsu malam itu menggigit ganas bibir Chun. Dihisapnya dengan kencang lidah Chun dan dijambaknya rambut Chun kencang.
Gesekan antara perut dan kemaluan Yuno juga Yoochun semakin membuat mereka bernafsu. Jae membasahi kemaluannya dengan air liur, bersiap memasukannya kedalam lubang Yuno. Alkohol yg dikonsumsi Yuno tak membuatnya kesakitan saat dirinya dimasuki oleh kemaluan Jae. Yuno semakin bernafsu bertukar air liur ketika kemaluan Jae habis ditelan lubangnya.
"Yuno..." Racau jae sedikit mengerang, tak memperdulikan desahan Jae. Yoochun masih tetap memaju-mundurkan pantat Yuno. Bosan dengan posisi tersebut Jae melepas jrnya, merancap sendiri kemaluannya agar tetap tegang, Yoochun yang melihat Jae melepas tusukannya mendorong tubuh Yuno. Dengan inisatif tinggi, Yoochun mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi dan menunjukan lubangnya pada Yuno. Yuno yang paham akan keinginan Chunnie, membasahi jrnya lalu menyiapkan diri didepan lubang pantat Chun. Jae yang tak ingin ketinggalan menaruh jrnya diatas mulut Chun dan membiarkan jr menempel pada bibirnya, Jae mencium bibir Yuno ganas. Dengan kaki yang ditopang pada bahu Yuno, Chun menggenggam jr Jae merancapnya pelan lalu memasukannya dalam mulut.
Hisapan Chun membuat Jae kelojotan. Tak hanya jr, twinsball Jae kena sasaran hisapan Chun.
Sembari menciumi yuno, tangan Jae mencubit nipple Yuno keras, membuat nipple Yuno semakin mencuat. Dibawah sebuah pohon rindang diatas bukit, mereka mengerang bersahutan. Dirasa cukup. Yuno yang merasa akan mencapai klimaks mencabut jrnya lalu menyuruh Chunnie melakukan
Doggie style, Jae meringsut kebawah Chunni. Membiarkan kemaluannya menegang melewati celah paha dan merujuk ke lubang pantat Chun.
Dibantu oleh Yuno, kemaluan Jae dihisapnya sebentar dan dimasukannya kedalam lubang Chun. Hampir masuk setengah, Yuno memainkan jrnya memaksa masuk Lubang Chun. Tak ada respon dari Chunnie, Yuno tetap mendorong kemaluannya. Kemaluan Jaepun terdorong, terlahap semua batangnya oleh lubang Chun. Nafas mereka memburu satu sama lain. Kini, dua kemaluan telah dilahap lubang Chunnie, ia memaju-mundurkan tubuhnya sendiri.
Yuno memeluk Chunnie dari belakang, menempelkan nipplenya pada punggung Chun, sedangkan Jae mengusap lembut nipple Chun.
"Aheump, ash, ash" Chunnie mendesah diikuti Jae, Yuno merasa kemaluannya terjepit keras karena kemaluan Jae yg mengembang. Menandakan ia mencapai orgasme menahan jepitan nikmat dari batang Jae dan otot lubang Chun, Yuno menciumi punggung Chun.
Tak berapa lama, ditembakannya cairan hangat masuk kedalam perut Chun, Yuno mencabut jrnya. Terlihat mengkilap kemaluan Yuno karena cairan Jae. Jae mencabut kemaluannya lalu membiarkan
Chunnie berdiri, kali ini lubang Jae yang menjadi sasaran Yuno. Yuno membuka lebar kedua kaki Jae dan memaksa memasukan jrnya. Jae sedikit berteriak namun mulutnya langsung tersumpal kemaluan Chun. Teriakan berubah erangan nakal. Dorongan jr pada tubuh Jae dipercepat Yuno.
Bukan hanya erangan nakal Jae, bunyi pokpok ikut menghiasi malam itu. Chun yang kemaluannya dihisap dan lubangnya dipermainkan mendekatkan wajah pada Yuno. Mereka kembali berciuman dengan panas. Sembari merancap kemaluan Jae, Yuno melepas ciumannya dan berteriak.
"Ssebentar... " belum selesai berbicara, Yuno memuntahkan cairannya dan segera mencabut dari lubang Jae. Chunnie yang kemaluannya dipermainkan Jae pula merasa sampai pada puncaknya, Yuno menduduki tubuh Jae lalu menjilati leher Chunnie yang sebentar lagi berorgasme.
"Asshhh, ashhhiiy" Tak berapa lama, Chunnie memuntahkan cairannya. Semuanya ditelan. Habis-habisan oleh Jae. Dicabut jrnya dari mulut Jae, tubuh Jae ditarik Yuno dan mereka berdiri bersamaan dengan kemaluan yang masih menegang. Tangan mereka saling merancap kemaluan, Yuno pada Jae, Jae pada Chun dan Chun pada Yuno. Masih dalam keadaan nafsu.
Tangan kiri mereka mengusap nipple, dengan arah putaran yg sama. Tak berapa lama, Yochun
Mendesah,
"Ah, ah, ah, kocokans Jaeh membuatkush sebentars lagih akans sampai" dan akhirnya disaat bersamaan. Mereka kembali mengeluarkan muncratannya.
Malam itu, selesai bercinta mereka duduk terdiam tanpa sehelai benangpun. Menikmati hembusan angin malam dengan bertelanjang ria.
-End-
Langganan:
Postingan (Atom)