Kamis, 25 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. V

Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.

Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.

_***_

-Wooyoung POV-

"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.

Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.

Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.

Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.

_***_

-Nickhun POV-

Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.

"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.

Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu,  aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.

Namun... aku tak bisa.

_***_

Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.

"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.

"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.

"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."

"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"

"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.

"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.

Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.

Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.

"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.

"Ne? Ah, gomawo"

_***_

"What do you want from him?"

"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.

"Don't lie to me... we both know who is him"

"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."

"Shut up! You..."

"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.

"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"

Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.

Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.

Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.

_***_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar