- Shinee (Onew, Key, Jonghyun, Minho, Taemin), SNSD (Taeyon,
Sooyoung, Jessica, Tiffany, Yuri, Yoona, Seohyun, Hyeyeon, Sunny), 2NE1
(Sandara, CL), Author Family and Friends (Special Friends Nuna Funzee),
Alex and Her Family, Adam Couple (Jo Kwon, Gain)
Before :
“Sepertinya sapu tangan yang kau pegang sangat spesial. Apa itu dari Alex?” aku memancing pertanyaan padanya.
“Ya,
dia sangat pintar merajut dan menjahit” ia menjawab dengan percaya
diri, terdiam seketika dan melanjutkan perkataannya. “Bukan Alex yang
kau pikirkan tentunya anak muda” ia tersenyum.
“Luka cakar diwajahmu juga karena anak itu kan?” ia terdiam.
“Kau
tau? Ada istilah yang disebut Hubungan Penyihir, karena kau penyihir
aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Tentara merah” aku
tersenyum, membuatnya salah tingkah.
“Apa yang kau bicarakan anak muda” ia meringis.
“Kau lupa pada Alex kecilmu dan menjadi tentara merah?” ia terdiam.
“Sebelum
aku mengucapkan mantra api yang mengenai punggungmu, Alex ikut
mengejarmu karena ia tau siapa yang sedang ia kejar. Ia hanya ingin
bertemu ayahnya yang menghilang entah kemana. Jika aku Alex kecilmu
mungkin aku akan menangis dan tak menganggapmu ayahku lagi. Tingkah
anehmu yang menyembunyikan luka dipunggung memastikan aku yang curiga
padamu, alasan tentara merah menyerang rumah nenekku karena rumah
peristirahatanmu dekat dengan rumah nenekku. Kau berpura-pura menjadi
korban tentara merah” ia menggeser tempatnya dan membuatnya duduk di
tepi kursi.
“Kembalilah jadilah orang
tua Alex yang dulu. Alex merindukanmu, merindukan seorang ayah yang
sayang pada anaknya. Kau lebih tua dariku seharusnya kau paham perasaan
anakmu yang ikut berjuang melawan tentara merah”
“Diam!
Kau terlalu banyak bicara!” ia berteriak padaku, mengambil sebuah
pistol dan menembakan kearah kepalaku. Aku tak dapat menepisnya dan
tersungkur jatuh.
_***_
Aku
menampar pipiku didalam kamar mandi, aku masih belum percaya mimpi yang
ku alami. Aku terus mencuci muka, meyakinkan diri bahwa masih berada
dalam dunia nyata. Aku menyebutkan beberapa mantra yang pernah
kusebutkan, tidak terjadi apapun. Aku melihat kembali isi buku catatan
usang didalam tasku, buku catatan itu berubah warna. Warna usangnya
berubah cerah, ia menjadi buku kosong.
“Mana isinya! Sial! Tidak akan mungkin akan hilang! Mana tulisannya!”
“Kim…” aku mendengar bisikan pelan ditelingaku, aku terdiam. Kupandangi
sekelilingku, ku tutup buku catatan itu dan memasukannya kedalam tas.
Suara bisikan itu terus terdengar memanggil namaku, sedangkan keringat
dingin tak berhenti mengaliri wajahku. Ku pastikan lagi suara yang
memanggilku, ku amati keadaan sekitar. Pandanganku kabur, kulihat
tetesan darah di lantai. Aku panik, karena bisikan itu semakin jelas.
Pandanganku sedikit kabur. Kurapihkan tas dan bergegas berganti baju
untuk memulai perkerjaan hari ini. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan
kamar mandi, aku berusaha tidak mendengar bisikan yang sepertinya
mengejarku.
“Eh, kenapa dengan kepalamu?” kakak perempuan terkejut melihat segumpal darah di kepalaku.
“Kepala? Aku baik-baik saja”
“Bodoh, kepalamu bocor masih bilang baik-baik saja” ia memberikan sapu
tangan putih padaku “Bersihin dong, kok ya bisa berdarah? Jatoh di kamar
mandi atau gimana?” ia meninggalkanku.
Aku
memegang kepalaku, aku tak merasa kepalaku dialiri darah. Aku kembali ke
kamar mandi untuk memastikan kalimat kakakku, dan kulihat darah segar
mengucur dari dahi kananku.
“Apa yang terjadi?”
Aku membasahi sapu tangan itu dan membersihkan aliran darah yang
mengalir, mataku terasa berat begitu pula dengan tubuhku. Aku tak
sanggup lagi untuk berdiri lebih lama, aku berjalan menjauhi westafel
dan cermin. Kusandarkan tubuhku di dinding kamar mandi yang sejuk itu,
rasa kantuk menyerang membuat pandanganku semakin kabur. Walau bisikan
yang tadi memanggilku sudah tak terdengar, aku terus membersihkan darah
yang mengalir sambil menenangkan diri. Aku putuskan untuk memejamkan
mata. Berusaha menghilangkan rasa kantuk yang menyerang.
“Ia sadar! CL! Kim sadar!” aku membuka mataku dengan pelan, aku melihat penyihir kecil yang ku kenal.
“Benarkah? Kim! Kau sadar!” tubuhku ditutupi selimut, aku berada di
rumah nenekku. Aku dibantu seorang perempuan yang kulihat—dalam—mimpi
untuk menyandarkan diri. Aku mencari kacamataku, dan memakainya. Saat
aku memakai kacamataku semuanya terlihat
blur, ketika melepasnya semua berubah jelas. Aku taruh kacamata itu di meja.
“Maaf, Kim. Maaf karena telat menyelamatkanmu” aku mengacuhkan
kalimat-kalimatnya dan berusaha menyamankan diri di tepi ranjang,
nyawaku masih belum terkumpul sepenuhnya.
“Apa kau benar-benar sadar?” anak kecil itu bertanya padaku, ia duduk disampingku dan memandangi.
“Ada apa denganmu?” tanyaku, ia menahan air matanya.
“Sukurlah” ia menangis dan memelukku.
“Maaf, maafkan ayahku…”
Rasa sakit di kepalaku kembali menyerang, dapat kurasakan ada sesuatu
yang membasahi kepalaku. Perban yang diikat kencang membuatku semakin
pusing, aku memandang kearah lain.
“Alex… berhentilah menangis” ujar perempuan itu.
Ingatanku menganggu penglihatanku, kamarku terkadang berubah menjadi
kamar mandi di rumah sewa dan kembali berubah menjadi kamar di rumah
nenekku. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi, rasanya aku seperti
kembali dalam mimpi burukku.
“Kim…” aku terdiam.
Kupejamkan mata mengingat semua yang terjadi dan aku ingat semuanya. Aku
ingat siapa perempuan itu, aku ingat anak kecil yang kini memelukku,
aku ingat luka yang diberikan oleh penyihir tua yang menjadi tentara
merah. Aku ingat semua, aku ingat jika aku adalah keturunan
seraphim.
“Alex… berhentilah menangis” ujarku, aku memeluk tubuh kecilnya. Ia
menyembunyikan wajahnya ditubuhku dan terus meminta maaf.
“Hey, terlalu berlebihan jika seperti ini” aku sedikit tertawa dan
memandang perempuan yang membantuku menyandarkan diri.
“Alex, lepaslah…” CL membantu melepas pelukan Alex di tubuhku, ia tersenyum dan memberi isyarat mata padaku.
“Kenapa?” mataku membalas isyaratnya.
“Ia takut kehilanganmu karena ayahnya” ia kembali membalas isyaratku dengan bahasa mulutnya.
“Alex, lepaslah… tubuhku semakin sakit jika kau terus peluk seperti
ini” ia melepas pelukannya dan wajahnya menatapku.
“Maaf… ayahku… kau… ditembak olehnya…”
“Setidaknya aku tidak disihirnya” aku tersenyum, ia menghapus air matanya dan ikut tersenyum denganku.
“Kau… kau…
bạn đang seraphim yêu thích của tôi” aku memandang wajah Alex.
“Hey, kau mengerti apa yang dikatakannya” ujarku setengah berbisik ditelinga CL.
“Itu bahasa Vietnam, bodoh”
“Artinya? Aku tak paham bahasa Vietnam…” Alex pergi meninggalkanku.
“
Te amo…” ia ikut pergi meninggalkanku.
Kami berhenti di depan jeruji penjara, CL menyuruhku masuk dengan Alex
sedangkan anak-penyihir itu menundukan wajahnya dan menggenggam
tanganku.
“Bicaralah” ujarku, dengan tangan yang dirantai menggantung di atas kepalanya ia menundukan wajah.
“Apa yang kau inginkan dariku?” ia terdiam, dengan tetap menunduk ia terkekeh.
“Bos kami,
Si-Merah-Yang-Kuat tidak mengincarmu. Ia mengincar kekuatan dahsyat yang dapat membuatnya menguasai dunia”
“Modus yang sama, entah kenapa aku bosan mendengarnya… yang jahat
selalu mengincar kekuatan untuk menghancurkan dunia dan semacamnya
sedangkan disisi lain ada pahlawan yang selalu ingin membuat dunia
kembali tenang…”
“Dan janganlah berpikir kau adalah pahlawan itu” laki-laki tua itu memotong kalimatku.
“Aku tak pernah ingin menjadi pahlawan yang membela dunia, aku hanya
ingin mengembalikan kehidupanku yang telah dicuri”
“Yah…” tiba-tiba anak-penyihir melepaskan genggamannya dan mendekati laki-laki itu.
“Ayah… kau ayahku kan?” Tanya sambil memegang pundaknya, laki-laki itu mengangkat wajahnya. Alex memeluknya.
“Ya, kau adalah ayahku yang selama ini menjadi tentara merah” suaranya bergetar.
“Siapa anak ini?” ia memalingkan muka kearah lain.
“Aku anakmu, Alex… ini aku…” aku mendekati mereka. Aku pandangi wajah
laki-laki itu, matanya memerah, ia menahan tangisannya.
“Pergilah, aku tak pernah memiliki anak…” aku lepaskan rantai yang
mengikat tangannya, ku ucapkan mantra pengunci sihir untuk laki-laki
itu.
“Peluklah, itu darah dagingmu…” ucapku pelan.
“Pergilah… kau bukan anakku… aku tentara merah tak pernah memiliki anak
penyihir kecil seperti mu” jawabnya dengan sedikit bergetar, Alex
melepas pelukannya dan memandangi wajah ayahnya.
“Lihat luka ini… aku… aku membuat wajah ayahku seperti ini… aku ingat
sihir pemanggil yang menyebabkan wajahmu seperti ini…” Alex menangis, di
sentuhnya wajah itu dan diusapnya luka cakar yang dibuatnya.
“Ayahku tidak memarahi dan membentak ku ketika aku mengucapkan sihir
itu, ia tertawa dan memelukku… aku rindu hangatnya pelukan ayahku… aku
rindu ayah…” tangisannya membasahi wajahnya, ia mengeluarkan sapu tangan
kecil dan memberikan kepada laki-laki itu.
“Aku
membuat dua saputangan yang sama, aku yakin kau memilikinya… ayahku tak
pernah menghilangkan benda apapun… walau hanya saputangan ia akan
menjaganya sepenuh hati seperti ia menjagaku dulu…” suara anak itu
melemah dan menghilang, kini yang terdengar hanya isakan-isakan kecil
yang membuatku merinding. CL mendekatiku dan menggenggam tanganku, ia
berbisik kecil di telingaku.
“Tinggalkan mereka…
biarkan semuanya mengalir seperti air…” kami meninggalkan reuni keluarga
yang membuatku terharu, ku pandangi kehangatan mereka dari pintu
jeruji. Laki-laki tua itu dengan perlahan mengangkat tangannya, memeluk
dan ikut menangis bersama anak—penyihir—hebat itu.
“Ma.. maaf… maafkan ayah… maafkan ayah ya sayang…”
_***_
“Aku rindu keluargaku…” CL mengencangkan genggaman tangannya.
“Simpanlah kerinduan itu, sebentar lagi kita akan kembalikan dunia
seperti semula” aku tersenyum memandangnya. CL kembali menitikan
airmatanya, aku mengusapnya dengan pelan lalu ku ajak ia beristirahat di
taman belakang rumah nenekku.
“Ini… tempat
favoritku dan ibuku… aku selalu bermain dengan ibu disini… nenek selalu
memandangi kami ketika bermain…”
“Tempat yang indah…”
“Banyak kenangan disini, kau lihat tanaman mawar merah itu?” aku
menunjuk mawar merah yang bersemi di pojok taman “Dibawah mawar itu ada
makam kekasih ibuku, aku tak pernah bertemu dengannya namun ibuku
mengatakan bahwa orang yang terbaring disitu adalah orang yang sangat
ibu dan nenek cintai”
“Makam ayahmu?”
“Ayah? Sepertinya bukan… aku tak pernah melihat ayahku… mungkin itu makam ayahku…”
“Bukan… itu bukan ayahmu…” aku terkejut ketika nenek membawa sepiring makanan kecil dan teh.
“Bahkan itu bukanlah makam… itu hanya tanah. Ibumu menanami tanah itu
dengan mawar biasa yang akan layu ketika seseorang yang hebat gugur…
dibawah mawar itu ada barang-barang peninggalan ayahmu…”
“Barang?” CL memandangi wajahku, ia tersenyum. Aku suka ketika
melihatnya tersenyum, dunia seperti ikut tersenyum bersamanya.
“Ya, ayahmu seseorang yang hebat… namun…” nenek terdiam dan mendekat
kearahku, ia duduk di kursi goyang favoritnya.
“Kau akan mengetahui siapa ayahmu. Karena kita adalah keturunan
seraphim
yang sangat hebat” nenek tersenyum, ia memejamkan matanya. Tubuhnya
yang kecil dengan tulang yang tersisa, ia menunjuk sebuah pohon rindang
dengan buah yang ranum.
“Pohon itu akan memberi
jawabannya ketika ada orang yang sangat teliti…” aku memandang pohon
itu, pohon tinggi dengan batang yang kuat. Aku ingat semasa kecilku
bermain dengan ibu, kami bermain petak umpet dan pohon itu menjadi
tempat yang sangat cocok untuk bersembunyi. Pohon itu memiliki sebuah
celah dimana aku sering bersembunyi di dalamnya. Pohon yang memiliki
aroma harum dari aroma apapun di dunia ini, aku yakin nenek dan ibuku
merawat pohon itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.
“CL, Kim!” aku mendengar suara Funzee yang memanggil, aku mengamati
keadaan sekitar. Nenekku menghilang, ia tak lagi duduk di kursi
favoritnya.
“Dimana kalian?” CL menarikku masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa kak?”
“Ingat situsku?” tanyanya, aku mengangguk.
“Pergilah ke Kota Gelap, aku mendapat respon dari penduduk disana”
“Ada apa disana?” tanya CL dengan wajah sedikit terkejut.
“Beberapa penduduk disandera oleh tentara merah, mereka mengatakan
besok adalah hari dimana seluruh penduduk yang melawan tentara merah di
eksekusi”
“Eksekusi?”
“Ya, selamatkan penduduk di kota itu”
“Apa kita di beri upah?” tanyaku dengan sedikit gurauan.
“Upah? Hey, untuk apa?” tanya CL, aku memandangnya.
“Kau tau sebuah permainan kecil yang
portable? Aku butuh
gameboy untuk menghilangkan kestresan ini” aku tertawa.
“CL, boleh kau mewakilkan perasaanku pada anak ini?” Funzee memandang CL.
“Dengan
senang hati” tubuhku sedikit bergoyang ketika dipukul CL. Untuk ukuran
seorang wanita, pukulannya termasuk berkekuatan besar.
“Hey, aku hanya butuh hiburan…”
“Upah? Kau pikir kita semua disini tidak merasa stress?” aku mengangkat bahuku.
“Kalian bukan aku, mana aku tau”
“Boleh sekali lagi, kak?”
“Silahkan
prajurit cantik” dengan senyuman Funzee meninggalkan aku yang dipukul
oleh CL, aku mengejar Funzee keruangan tengah. Ia memberi peta dan
beberapa kantung koin.
“Pergilah,
jangan habiskan koin untuk membeli sesuatu yang tidak penting dan ajak
seseorang yang sekiranya butuh liburan” aku memandang Alex yang baru
memasuki ruangan tengah.
“Kim… berhentilah menatap ku seperti itu…” ujarnya dengan sedikit tersenyum.
“Aku hanya ingin mengajakmu bocah penyihir yang sombong” nadaku sedikit ku tinggikan, ia mengambil tongkat sihirnya.
“Diluar
sana banyak monster dan sesuatu yang kalian belum pernah lihat, jangan
gegabah dan jangan terlalu mencolok!” Funzee mengingatkan kami, ia
kembali menatap layar komputernya.
“Tenang
kak, aku akan menjaganya agar tidak terlalu mencolok” CL memandangku
dengan matanya yang tajam, tubuh ku bergetar ditatapnya seperti itu.
Terkadang tatapannya seperti ingin menikam orang yang bersalah dan kali
ini aku merasa sangat bersalah dihadapannya.
“Aku juga akan menjaganya kak” Alex ikut memandangku dengan tatapan ganasnya.
_***_
Aku, CL dan Alex pergi menuju Kota Gelap. Tempatnya tidak jauh, hanya
berjarak 10 KM dari rumah nenekku. Kami berjalan dengan bekal makanan
yang nenek buat, satu jam kami berjalan dan belum ada monster atau
apapun yang menganggu.
“Hey… aku lapar” Alex sedikit mengeluh dengan gaya kekanak-kanakannya.
“Baiklah, kita beristirahat disini… jangan sampai kita mati hanya
karena rasa lapar yang menyerang” kami memutuskan untuk memakan bekal
buatan nenek di tengah padang rumput. Perjalanan masih membutuhkan waktu
setengah jam lagi agar sampai ke tujuan.
“Bekal
buatan nenek memang yang paling enak” Alex menghabiskan bekal yang
tersisa, aku dan CL memandangnya lalu tertawa.
“Nikmatnya piknik keluarga…” aku sedikit terkejut mendengar seseorang
berteriak dibelakang kami, ku lihat empat orang bertopeng lengkap dengan
senjata tajam menghampiri.
“Siapa kalian?”
“Kami?” salah satu diantaranya tertawa, yang lainnya mengelilingi kami “Kalian tidak tau siapa kami?”
“Penting ya?” Alex bertanya sambil mengunyah makanannya.
“Habiskan makananmu dulu sebelum berbicara! Anak kecil bodoh” kali ini
seorang yang lainnya
menodong pistol kearah Alex.
“Hey… dia masih kecil, kasar sekali” aku berdiri dan merapihkan ranjang makanan kami.
“Jangan panggil
Monk Ranger jika
tidak kasar” salah satu yang tertua diantaranya berteriak, mendengar
suaranya aku ingin tertawa. Terdengar jelas jika mereka bukanlah seorang
perampok handal.
“Kau” aku menunjuk anggota
termuda “Rapihkan gayamu ketika kau ingin berlaga seperti pencuri, di
tempat anak panahmu terlihat kosong jelas sekali kalian bukan pencuri”
anggota muda itu terdiam dan menjauh, diikuti satu anggota yang
sepertinya sedang menghiburnya.
“Kau! Kau mengejek
kami! Rasakan…” tiba-tiba sebuah panah menancap di tanah ketika
perampok itu ingin menembak kami dengan pistolnya.
“Jangan ganggu mereka!” terdengar seorang wanita berteriak, dengan
pakaian seorang pemanah ia mendekat dan menakuti perampok itu. Mereka
pergi meninggalkan kami
“Jangan pernah mengacau lagi
Young Ranger!” ucapnya dengan gagah.
“Jangan hiraukan
Monk Ranger
itu, setauku mereka tak pernah mengganggu siapapun” aku memandangnya,
rambut coklat bob dengan suara khas dan panah yang menggantung
membuatnya terlihat sangat gagah.
“Kau!” CL
berteriak dibelakangku, nada tingginya membuat telingaku berdengung. Aku
yakin ia akan marah dan menghajar pahlawan wanita itu karena secara tak
langsung mengejek kemampuan kami untuk membela diri, aku berusaha
menahannya dengan tanganku.
“Lepas! Kau!” CL melempar tanganku, ia mendekati wanita itu, berteriak dihadapannya sambil menunjuknya.
“Kak Dara!”
“Eh, CL?”
“Kya! Aku bertemu juga denganmu…” nada tinggi CL berubah menjadi riang, aku merasa
dibodohi.
“Alex, kita mendapatkan teman… kenalkan ini kakak perempuanku” ujarku
lemas meninggalkan CL dan pahlawan panah itu yang berpelukan.
_***_
Kami sampai di Kota Gelap, kota ini tak segelap seperti namanya. Asal
mula nama kota ini karena pepohonan yang menutupi kota, pepohonan itu
menutupi cahaya matahari dan menjadikan Kota Gelap ini sejuk.
“Kemana
saja selama ini?” Tanya CL dengan nada riang, mereka menghabiskan
minuman di bar, sedangkan aku terus mengawasi Alex yang mencoba meraih
kursi bar yang tinggi.
“Hey, umurku 10 tahun… aku dapat mencapai kursi ini tanpa bantuanmu” ucapnya sambil memutar bola matanya.
“Bersyukurlah kau masih kecil… belum seperti mereka yang berumur namun
bertingkah seperti anak 10 tahun” aku menunjuk CL dan Dara.
“Pesankan aku susu coklat dong, di ranjang bekal susunya habis…”
“Kenalkan ketua tim kami…” CL menarik lenganku untuk berjabat dengan pahlawan wanita itu.
“Kim” aku tersenyum, ia membalas senyumku.
“Dara, Sandara Park” aku mengangguk.
Kami berbagi cerita, Dara adalah kakak angkat CL ketika di Filipina.
Kisahnya sama sepertiku dan CL, ia mengincar ketua tentara merah karena
ingin mengambil kembali sesuatu yang telah dicuri darinya.
Ia berkelana
dari benua lain untuk mencari markas tentara merah yang sebenarnya. Adik
kandungnya adalah ahli tembak, tentara merah menculik adiknya. Dara
mengajak kami untuk mengelilingi kota, ia mengaku mengenal kota ini
karena dulu ia pernah menempati salah satu sudut rumah di kota
ini.
“Jadi… Thunder sekarang …” Dara mengangguk mengiyakan perkataan CL.
“Entahlah, semoga aku dapat menyelamatkan adikku”
“Tenang saja… kau memiliki
seraphim terhebat
disini” Alex memandangi wajahku, ia tersenyum sambil mengedipkan
matanya. Aku paham akan isyarat yang diberinya. Isyarat untuk
membanggakan diri.
“Hey!” seseorang berteriak dibelakang kami, aku menoleh dan aku terkejut melihat seseorang yang berteriak ke arah kami.
“Alex, bukankah itu orang yang menodongmu dengan pistol?” ujarku memanasi anak—penyihir sombong hebat—itu.
“Jangan
memberi ijin padaku untuk menggunakan sihirku disini, Kim” jawabnya
dengan rasa kesal, aku tertawa lalu memandang CL dan Dara. Mereka
tersenyum licik dan mulai menahan tawa.
“Aku tidak memberi ijin padamu… anggap saja aku tidak ada”
“Baiklah…”
anak itu tertawa bak penyihir hitam yang akan menyerang mangsanya, ia
sebutkan beberapa mantra lalu menunjuk laki-laki yang berlari kearah
kami.
Berapa detik kemudian, tak ada sesuatu yang terjadi. Alex
merenung karena gagal menyihir laki-laki yang berlari kearah kami,
sedangkan laki-laki itu memandang kami dengan tatapan kosong.
“Apa kau
seraphim yang dibicarakan situs itu?” aku mendengar bisikan setelah laki-laki itu berbicara, aku terdiam.
“Hey, apa kau benar orang itu?
Seraphim yang
di katakan di situs ‘anti tentara merah’?” tanyanya lagi, kali ini aku
memandang CL dan Dara. Mereka tertawa, memandang kami.
“Hey,
kau benar-benar orang yang menodongkan pistol ke arahku tadi!” Alex
berteriak “Lagipula orang yang kau bilang pesanan bukanlah barang!”
“Sudahlah…
jangan berteriak” ujarku dengan tenang, sejujurnya aku sedikit bangga
karena anak ini mewakilkan perasaanku “Apa yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin bertemu
Seraphim, dan aku yakin orang itu adalah kau”
“Apa kau yang menulis pesan di situs kami?” CL memandangnya, ia mengangguk.
“Baiklah, ikuti aku lebih baik kita membicarakannya didalam tokoku”
_***_
Kami mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam tokonya, di
perjalanan ia menceritakan tentara merah yang menyerang tokonya.
Laki-laki itu bernama Onew, ia ahli tembak sama seperti adik kandung
Dara. Ia anggota keluarga tertua dari lima bersaudara. Adiknya yang
paling kecil diculik oleh tentara merah karena mengetahui memiliki
kekuatan sihir. Mereka memutuskan mencari pengganti untuk menebus
adiknya yang paling kecil.
Kami sampai
didepan tokonya, ku lihat beberapa orang yang benar-benar ku kenal.
Mereka orang-orang yang tadi berniat untuk membunuh aku, Alex dan CL
ditengah perjalanan ke kota ini.
“Seharusnya… kau tak perlu begitu” Dara mengeluarkan pendapatnya ketika sampai didalam toko
“Tak perlu harus menjadi
Ranger yang mengagetkan orang untuk berkunjung ke kota ini”
“Maaf… hanya itu satu-satunya cara kami” salah satu adiknya
menutup pintu, jendela, memasang tanda tutup di depan pintu dan
menguncinya dari dalam. Kami diajaknya ke lantai atas untuk
beristirahat, toko yang merangkap sebagai tempat tinggal.
Bagiku, tempat ini sangat unik. Masih tercium harum
kayu ek atau
cemara dalam toko ini, memiliki banyak kamar dan ruangan yang begitu luas tak diragui jika bangunan ini disebut
toko.
“Kenalkan, ini Jonghyun ia
Fighter
terkuat diantara kami. Adikku setelah Jonghyun adalah Key yang berdiri
di belakang kalian, ia belum pernah menggenggam senjata sejauh ini ia
yang mengatur kehidupan kami sedangkan adik kami yang kau lihat
membersihkan toko adalah Minho. Pemanah yang memiliki karisma” kami
mengangguk mengiyakan, Key menyuguhkan
snack dan minuman dingin.
“Ceritakan awal kalian memiliki niat seperti itu” tanyaku.
“Sebelumnya
kami meminta maaf karena mengejutkan kalian, karena hanya itu
satu-satunya cara kami menghindari mata-mata tentara merah”
“Memang
apa yang kalian milikki?” Tanya CL, aku memandang teman-temanku yang
duduk disampingku. Aku melihat Alex bermain dengan Key yang menyuguhkan
kami
snack.
“Kami… memiliki…”
“Kak,
It’s fine if you’re tell the truth?” potong Jonghyun yang duduk disampingnya.
“
Of course, he’s seraphim! Don’t you believe him?” Jonghyun memandangku.
“
Yes! To stupid to be a seraphim” aku tertawa pahit mendengar kalimatnya, mungkin mereka pikir aku tak mengerti bahasa asing yang mereka katakan.
“Bisa dilanjut?” CL melanjutkan pembicaraan.
“Sebenarnya
adik kami… adik terkecil kami adalah kunci dimana harta keluarga SM
tersimpan rapih. Namun, kini mungkin saja harta itu tidak berada di
tempatnya lagi. Taemin di sandera para tentara merah itu”
“Jelas
saja ia dengan mudah tertangkap, kalian terlalu kekanak-kanakan menjadi
seseorang kakak” seseorang dengan suara tegas memotong kalimat Onew.
“Pasti kau
seraphim itu, kenalkan aku Sooyoung” aku membelalakan mataku. Tujuh orang perempuan cantik mendekatiku dan berkenalan denganku.
“Kenalkan ini keluarga kami yang lain, bibi-bibi kami…” Onew memperkenalkan keluarga lainnya pada kami.
“Maaf
kami tak sopan karena memotong pembicaraan kalian. Kenalkan aku taeyon,
kakak tertua mereka” ujarnya sambil menunjuk enggota lain.
“Ini
keluargaku, dua orang yang memegang panah itu Jessica dan Yuri, yang
membawa pistol sama denganku adalah Tifanny, yang memakai sarung tangan
adalah Sunny, yang memegang tongkat adalah
Yoona sedangkan yang memegang
tonfa dan memotong pembicaraan kalian adalah Sooyoung. Keluarga kami
terkenal dengan
Ninetails-fox” aku tersenyum kearah mereka semua.
“Sebenarnya
anggota keluarga bibi kami ada Sembilan orang, dua diantaranya ikut
disandera bersama adik kami” Minho menyusul mengikuti pembicaraan kami.
“Ya, keluarga kami terlalu bodoh karena ingin menolong adik kecilmu itu” Sooyoung meninggikan suaranya sambil mengambil
snack dan mengunyahnya.
Semua
yang mendengarnya terkejut, kulihat hampir semua orang keluar dari
ruangan ini. Bahkan Alex diajak oleh taeyon keluar ruangan. Meninggalkan
aku, CL, Sooyoung, dan Key.
“Ada apa ini?” tanyaku yang kebingungan.
“Sebelumnya aku meminta maaf pada
seraphim tampan
ini, aku kesini hanya ingin meminta pertanggung jawaban mereka yang
menyebabkan kedua ahli sihir kami disandera” aku dan CL mengangguk.
“Soo! Bukan salah kami jika bibi Hyeo dan Seohyun disandera!” Key membela diri.
“Diam kau! Aku tak berbicara padamu ‘mesin pembersih’!” Sooyoung menatap tajam Key.
Suasana ramah diruangan ini berubah panas, hembusan angin yang sejuk ikut menghilang.
“Soo, bisa kau tenang dengarkan penjelasannya?” Aku menengahi mereka.
“Ah,
keluarga yang lain tau kalau bibi seram ini ingin memarahi mereka” CL
berbisik padaku, aku mengangguk sambil mengunyah kue yang tersedia.
“Key,
maaf sebelumnya… tapi bagiku ini sudah sangat keterlaluan! Kami yang
seharusnya meneruskan jadwal kami terhambat karena tingkah saudara
kalian yang bodoh! Tertangkap di pertengahan misi yang kami berikan…
atau aku harus meminta maaf pada kalian karena terlalu percaya kalian
akan melakukan misi yang kami berikan dengan benar!”
Suasana menjadi hening, aku mencerna kalimat yang diucapkan
Tonfa Warrior ini.
“Soo!
Aku ucapkan sekali lagi bukan salah kami jika memang bibi Hyeo dan
Seohyun ikut disandera! Dan kalau memang kalian merasa diri kalian bodoh
karena menganggap kami kuat, aku pribadi meminta maaf. Karena menurutku
kalimatmu lah lebih bodoh dari kami!”
“Ah!
Benarkah? Jika memang kalian pintar seharusnya kalian selamatkan
keluarga kalian sendiri! Bukan keluarga kami! kami memang bibi kalian!
Tapi hargai pekerjaan kami! Kami tidak hanya menyelematkan keluarga
kalian saja! Banyak orang yang butuh pertolongan kami! Ingat?
Berpikirlah sebelum berbicara bodoh! Ah… aku lupa, kau tak pernah
merasakan pendidikan” ujarnya, ia memandang wajah Key dengan tajam.
Key terdiam, ia menundukan wajahnya. Aku, dan CL terdiam mendengarkan mereka. Aku hanya menghawatirkan sesuatu terjadi disini.
“Sifat
sombongmu tak menghilang, Soo! Aku memang tidak memakan pendidikan, aku
serahkan semua tabunganku agar Minho dan Taemin dapar merasakan
pendidikan! Tidak sepertiku, kakaknya yang bodoh. Kau selalu
membanggakan diri, kau lupa siapa kalian sebelum kalian dipercaya
mayor menjadi pasukan
Ninetails-fox?” Key mendekati Sooyoung, aku melihat mata Key mengeluarkan sebuah semburan api yang siap membakar siapa saja.
“Kau
lupa? Siapa yang mengurus kalian disini? Kau lupa siapa yang memasakan
makanan tiap harinya? Kau lupa siapa yang kau andalkan dulu? Kau lupa
siapa aku? Kau lupa ponakanmu yang kau banggakan? Kau lupa
tonfa
yang kau berikan padaku? Kau ingat ini? KAU INGAT!” emosi Key
benar-benar pada puncaknya. Ia melihatkan liontin yang melingkar di
lehernya.
“Kau bodoh! Memperlihatkan semua itu padaku, jelas aku mengingatnya. Namun akan lebih terkenang jika kau belajar menggunakan
Tonfa yang aku berikan! Aku akan membanggakan dirimu di depan semua kakak-kakakku jika kau akan berkelahi menggunakan
Tonfa itu, sayangnya kau sama sekali tak berminat untuk berkelahi” Sooyoung menjauhi Key dan duduk dihadapanku.
“Apa
yang kau inginkan? Apa? Apa aku harus membunuh diriku dengan Tonfa yang
kau berikan? Apa aku harus berkelahi melawan tentara merah itu
menggunakan benda itu? akan ku bakar benda tua itu diperapian nanti!”
“Silahkan!
Jika kau ingin aku melupakan siapa saudara yang selalu ku andalkan!
Silahkan jika kau berani! Ambil benda yang kau katakan tua itu dan bakar
di hadapanku!”
“Sudahlah, hey kalian berdua bisa menyelesaikan masalah tanpa emosi?” ujarku tenang, walau jujur saja aku sedikit terbawa emosi.
Key berlari kedalam kamar lalu kembali ke ruangan tengah dengan sebuah
tonfa indah dengan ukiran namanya dibagian tengah.
“Kau menginginkan ini kembali? Hah? Baiklah, akan ku kembalikan benda ini setelah aku membakarnya”
“Silahkan, jika kau berani dan sanggup melakukannya” ia terdiam menatap Sooyoung.
Suasana kembali hening.
“Soo… apa kau masih mengandalkanku untuk menyelamatkan mereka?”
“Tentu
saja bodoh! Itu yang aku harapkan! Seandainya kau paham dari awal
kenapa aku tiba-tiba mengamuk… mungkin reunian keluarga kita tak akan
berpisah seperti ini. Aku yakin kakak-kakakku dan yang lain sedang
bermain game di bawah” Sooyoung tiba-tiba merubah nadanya. Seakan-akan
tidak pernah terjadi apapun tadi.
“Baiklah, aku akan berusaha menolong keluarga kita” ujar Key dengan lemas.
“Key!
Bodoh! Bukan itu yang ingin kudengar… seperti yang kubayangkan… kau
pengecut untuk menjadi seorang petarung!” Sooyoung kembali menaikan
nadanya.
“Lalu apa yang kau inginkan ‘tukang sihir’!” Key ikut meninggikan nadanya.
“Bertarunglah!
Jangan pernah mengatakan ‘akan berusaha menolong’ tapi ‘akan menolong’!
Jika kau berpikir logis, kau pasti akan berusaha sekuat tenaga menolong
adikmu, bukan akan berusaha… jika kau berkata seperti itu berarti kau
memang tidak memiliki niat untuk menolong mereka”
_***_
Kepergianku
ke Kota Gelap hanya memenuhi permintaan seorang penduduk yang mengirim
sebuah pesan di situs yang Funzee buat. Aku tak berpikir aku akan
terlibat di sebuah pertikaian keluarga yang rumit seperti tadi.
Hingga kini, aku tak mengerti kenapa Sooyoung harus memarahi Key jika ia menginginkan Key terlibat dalam pertarungan. CL saja yang –menurutku—pintar dalam menebak pikiran orang tak paham apa yang baru dialaminya denganku.
Setelah
Key mempersiapkan semuanya, Key memutuskan untuk mengikutiku. Ia
berniat membebaskan adik dan bibinya. Aku, CL, Dara, Key dan Alex
berjalan meninggalkan Kota Gelap dan berjalan kearah bangunan terpisah
di bagian utara kota tersebut.
Bangunan yang terlihat seperti sebuah istana megah.
“AH!”
teriakan CL yang tiba-tiba membuat jantungku hampir lepas. “Aku lupa
mengisi peluruku!” ditengah perjalanan seperti ini setelah
shock terapy yang dilakukan Sooyoung dan Key, Cl gemar mengagetiku dengan kepikunannya.
“Kim aku lapar…” Alex menarik bajuku, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah CL dan anak—penyihir sepuluh tahun—ini berulah.
“Apa kalian tidak lapar?” tanyaku sambil memandang Dara dan Key, mereka mengelengkan kepala.
“Aku… lelah…”
“Aku… ingin buang air…” Dara dan Key menggenggam pundakku. Tepat seperti dugaanku, mereka memilih beristirahat.
Kami belum melangkahkan kaki keluar dari kota, namun ke-empat kawanku sudah merasa kelelahan.
Rumah keluarga
Ranger saja masih dapat terlihat.
Aku memutuskan untuk mencari sebuah penginapan, namun yang kulihat hanya tanah lapang dan pasangan yang berpacaran.
“Lihat
mereka! Ditengah krisis dunia seperti ini masih saja ada yang
berpacaran dengan mesra, apa mereka tak memikirkan bagaimana cara untuk
berperang?” gumamku dengan memasang wajah lemas.
“Biarkan saja! Itu tandanya ada sebuah kebahagiaan yang seharusnya kita bela” CL membalas gumamanku dengan berbisik.
“Lihat! Penginapan!” Dara berteriak dan berlari meninggalkan kami.
Kami menyusul Dara, berhenti disebuah penginapan besar dan satu-satunya di ujung kota.
“Benarkah?
Bahkan aku tak ingat ada sebuah penginapan di kota ini” Key mengeluh
padaku. “Aku yakin itu adalah jebakan penyihir atau kerjaan sebuah
pasangan yang tidak memiliki pekerjaan” lanjutnya.
Mungkin saja pemikiran itu benar, namun aku dan yang lain tetap berjalan kearah penginapan itu.
“Selamat
datang di penginapan kami, ada yang dapat kami bantu?” sebuah pasangan
dengan wajah ramah menghampiri kami yang mematung di pintu masuk.
Pasangan kecil yang sangat cocok, ku lihat mereka menggunakan
name tag yang terpampang di dada mereka.
“Jo Kwon, Gain… ah kalian pemilik penginapan ini?” CL mewakili pertanyaanku. “Boleh kami memesan kamar?”
“Silahkan,
kebetulan hari ini hari pertama buka di penginapan ini” Jo Kwon
mempersilahkan aku dan yang lain masuk ke dalam penginapan.
“Permisi, apa aku bisa ke belakang? Aku sudah tak tahan…”
“Silahkan, mari saya antar” Gain mengantar Dara yang memang sudah tak dapat menahan kegelisahannya.
Aku kembali keluar dan memandang penginapan itu dengan lebih teliti, ku lihat papan pengumuman di samping pintu masuk.
“One day when you’re turn into a brown… and welcome!” kubaca tulisan di papan tersebut.
Nama
yang unik menurutku, pemikiran Key salah tentang penginapan ini. Walau
sebenarnya ini lebih terlihat seperti “kekurangan pekerjaan” karena
membuka penginapan di ujung kota. Namun, menurutku ada sesuatu yang
harus aku ungkap disini.
Ya, aku harus mengungkap sesuatu disini.
Note !
Bạn đang seraphim yêu thích của tôi : (you're my favorite seraphim)
Te amo : (I Love You)
Tonfa : Senjata tradisional jepang
Karya asli oleh : Fajjar Angga Suprapto (fajjar.sajja@yahoo.co.id)
To Be Continue to part III :)
[semua gambar di dukung oleh yang mengupload pertama :D]
[gambar di part I dan II ini didukung oleh google yang membawa gue ke blog lain... (nama sumber blog gambar gue lupa.... sorry)]