Tampilkan postingan dengan label FF (Fan Fiction). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF (Fan Fiction). Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Visual Dream part. IV

Note : kisah ini merupakan kisah lanjutan Visual Dreams yang ada disitus ini.

Cast : -. @DBYuliani -. Lee Hayi (이 하이) -. Jay Park (재범) -. Kim Family
Cameo : -. Minzy (민지) -. Funzee (푼지)
Genre : Straight, Fantasy

"Dengarlah, semua penggemar permainan fantasy tidak ada yang seperti mu" terdengar suara yang membangunkan lamunanku saat itu.
Aku terdiam, ku edarkan pandangan dan tak melihat siapapun dikamarku. Aneh, sangat aneh. Darimana suara itu berasal?

"Kim?" CL mendekatiku, ia berdiri di ambang pintu lalu menyerahkan buku usang padaku.

"Semua menunggu mu dibawah"

"Ya, aku segera kebawah"

"Ku tunggu kau..."

Aku mengangguk pelan, tiba-tiba dada kiri dan lenganku perih. Aku baru menyadari jika dada dan lenganku diperban. Apa yang terjadi dengan ku?

-***-

Tepuk tangan dan sorak sorai para pejuang memenuhi ruangan tengah. Aku mematung di anak tangga melihat euphoria para pejuang kala itu.

Harus berbanggakah aku atau haruskah aku mengabaikan mereka semua?

Memang tidak banyak yang menyoraki aku sekarang, namun jika ku teruskan hidupku seperti ini, aku yakin semakin banyak orang yang akan bertepuk tangan.

"Kim!" penyihir kecilㅡsombong berlari kearah ku dan memeluk tubuhku erat.

"Ku pikir kau takkan selamat"

"Tenanglah, ia penyihir hebat tak mungkin ia terluka" ku dengar Funzee mendekat dengan Jay Park yang menuntun kursi rodaㅡcanggih kearah tangga. Aku tersenyum.

"Terima kasih, Kim..."Key menarik tangan dan menjabatku dengan erat.

"Kau menyelamatkan Taemin dan Seohyun, dan kau mempertemukan ku dengan Deby dan juga Shindong"

Aku terkekeh, aku melihat Deby dan Shindong melambaikan tangan.

-***-

Aku mengelilingi istana ini berjam-jam. Aku senang melihat pejuang yang dulunya berkumpul dirumahku kini bercengkrama dengan tawa dan kebahagiaan di istana ini.

Canda dan tawaan terdengar di setiap ruangannya.

Aku terkekeh saat Bom berusaha membuat CL, Sandara, Minzy tertawa. Diruangan lain, Pasukan 9 Rubah dan Perampok Jalan kembali akur. Mereka ditemani Shindong, dan Deby.

Daesung dan Seungri yang mengajarkan para pejuang lain menggunakan sihir dan pedang di sisi lain padang rumput yang dekat dengan istana, disisi lainnya Pasukan Vampir 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls berkumpul.

Ku langkahkan kaki menuju ruang terakhir yang belum ku kunjungi. Aku yakin Changmin, Funzee, Alex dan Jay Park berada didalamnya. Tebakan ku benar, mereka berada di ruangan yang dekat dengan kamar ku. Funzee memberi nama ruangan itu dengan sebutan 'Strategy Room'.

-***-

"Hi..." aku menoleh, ku lihat Deby mendekat dan memberikan ku sebuah tongkat ranting kecil yang sudah sangat usang.

"Ada apa?" tanyaku yang menerima tongkat itu lalu memandangnya.

"Ada yang ingin ku tanyakan..."

"Apa itu?"

"Apa kau menganggap dunia ini mimpi atau dunia ini nyata?" aku terdiam, ku taruh tongkat itu di atas meja didepanku.

"Maksudku... Aku bingung..."

"Ya, aku paham..." ku potong kalimatnya, kami saling memandang.

"Aku paham maksudmu, sepertinya kita terjebak... Namun, aku senang... Bukan hanya aku yang terjebak di dunia ini, aku melihatmu, aku melihat keluarga ku walau mereka telah tiada..."

"Bagaimana jika kita mati disini? Apakah kita..."

"Sudahlah, jangan tegang... Dan jika kita memang mati didunia ini... Artinya tugasmu didunia ini sudah selesai"

"Aku harap, aku tetap dapat bertemu dengan mu didunia nyata" kami berdua tersenyum.

"Terima kasih, Kim" aku mengangguk, wanita pemanah itu meninggalkan kamarku. Aku masih tersenyum kecil, karena sebenarnya ketakutan yang Deby alami sama dengan ketakutan yang aku bayangkan.

Bagaimana jika aku mati sebelum mengalahkan tentara merah? Aku terdiam, ku ambil tongkat usang yang Deby beri dan menaruh disela buku usang yang ku miliki.

Aku sempat terkejut, karena dihalamanㅡyang seharusnya kosong sudah tertulis 'A Start Without An Ending'

-***-

Aku terkejut melihat gadis berpakaian gaun putih dengan pita berwarna darah dilehernya sedang berdiri menatapku dari ambang pintu masuk istana. Gadis itu terus menatapku, lalu melebarkan tangannya seakan-akan ia ingin memeluk tubuhku.

Aku yakin, ia berniat melakukan sesuatu terhadap ku. Ia meringis lalu terkekeh, tubuhku mematung. Aku tak dapat bergerak, ingin segera aku berlari namun tubuhku tak dapat bergerak.

"Hayi!" Minzy berteriak dibelakang ku, lalu berlari dan memeluk gadis itu.

"Kak!" ia tertawa, dan tersenyum ketika Minzy memeluknya.

Aku membelalakan mataku. Kupikir, ia akan membunuhku dengan kekuatannya namun ternyata ia hanya melebarkan tangan untuk memeluk Minzy. Bahkan aku tak sadar jika Minzy ada dibelakangku.

"Kim! Kemarilah! Ini Hayi!" Minzy berteriak. Sungguh, aku ingin tertawa namun aku hanya dapat tersenyum mengingat gadis ini seperti ingin membunuhku.

Aku melangkah mendekati mereka.

"Hayi, perkenalkan ini..."

"Ya aku mengetahuinya, kalau saja kau tidak berteriak memanggilku, laki-laki ini mengira ia akan mati ditanganku"

Minzy dan gadis itu tertawa, aku terdiam.

"Sudahlah, jangan begitu... Kalian sesama penyihir harus saling bekerja sama" ucap Minzy.

"Baiklah, dengarkan aku... Akan kuberitahu yang lain kau datang berkunjung, silahkan saling mengenal" lanjut Minzy yang berlalu meninggalkan aku dan gadis itu.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya.

"Kim" aku menjabatnya, senyumannya menghilang ketika tangan menggenggam erat tangannya.

"Kau... Tentara merah..."

"Maksudmu?"

"Tidak, kau memiliki ikatan dengan tentara merah..."

"Aku...?"

"Kau... Dan keluargamu... Awal dari kehancuran..." apa yang gadis ini bicarakan?

Apa maksudnya?

"Lepas tanganku!" dia berteriak.

Aku terdiam, seketika pemandangan di istana yang ku tempati berubah. Tak ada lagi tanaman hias disekitar istana ini, suasana menjadi gelap dan mengerikan.

Aku terdiam, aku menatap wajah gadis iniㅡyang bernama Hayi berubah pucat. Matanya berubah merah menyala. Bibirnya mengucapkan mantra yang entah apa artinya.

"Lihat di ambang pintu!" ucapnya.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan gaun bangsawan berwarna putih sedang menggendong anak laki-laki.
Wanita itu menangis, sama seperti anak kecil yang berada di dadanya.

Pintu istana terbuka lebar, dengan Jay Park dan tentara merah yang berdiri berdampingan.

"Kau datang rupanya" Jay Park meringis.

"Lihat, tangisannya begitu indah" sang tentara merah menimpali.

"Hey! Hentikan!" ku arahkan pandanganku ke belakang tubuh, ku lihat Jea, dan Narsha berdiri disana.

"Jangan ganggu anak itu dan ibunya"

"Lepaskan mereka!" Jay dan rekan tentara merahnya tak menghiraukan ocehan Jea dan Narsha. Wanita dibawa masuk dan Jea juga Narsha berlari mengikutinya.

Sayangnya, mereka berdua tak dapat mengikuti Jay dan tentara merah. Pintu istana tertutup dan disegel dengan mantra juga monster Cerebrus yang pernah ku kalahkan.

"Sial! Kita harus beritahu yang lain!"

Lalu pandanganku kabur, aku memandang wajah Hayi yang masih pucat.

"Lihat sekelilingmu!" ujar Hayi.

Sekelilingku berubah menjadi penginapan yang pernah aku kunjungi.

"Kita harus meminta tolong!" Gain berteriak.

"Aku tak menyangka Jay akan seperti itu..."

"Pada siapa kita meminta bantuan?"

"Dengarlah, dikota ada Pasukan 9 Rubah! Memintalah pada mereka"

"Dengar, mereka tak akan bisa dan tak akan percaya"

"Kenapa?"

"Kita mahkluk yang hidup lebih dari ratusan abad! Mereka tak akan mungkin melakukannya"

Aku semakin terdiam. Aku baru mengetahui jika Keluarga Vampire 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls pernah berdebat sehebat ini.

"Jangan berkedip! Lihat belakangmu!"

Aku membelalakan mataku. Wanita yang tadi menggendong anaknya kini sedang dirantai. Anak kecil yang digendongnya bermain diatas lantai.

"Aku akan memusnahkan anak ini!" ucap tentara merah.

"Jangan, ku mohon! Hentikan..." tentara merah itu tertawa.

"Jay, bungkam wanita itu! Bunuh jika kau ingin"

"Kulakukan dengan senang hati" Jay tertawa, ia mengeluarkan taring dari giginya dan memanjangkan jarinya.

"Jangan sentuh anak dan cucuku!" tiba-tiba, cahaya putih terang menyilaukan datang.

Aku tercengang saat menatap wanita paruh baya berdiri didepan wanita yang dirantai, ketika cahaya menghilang.

Nenek! Nenek ku melindungi wanita itu.

Tongkat kecil kayu diayun pelan oleh nenek ku. Tubuh Jay mematung untuk sesaat, dan ia mendorong tubuh Jay hingga terpental kedinding. Jay tak dapat berbicara bahkan bergerak. Aku yakin Jay tak sadarkan diri.

"Kau! Ternyata kau dalam pengaruh setan! Terkutuk! Aku menyesal merestui mu dengan anak ku" ucap nenek dengan nada marah.

Dengan sekali ayunan tongkat kecilnya, rantai yang mengikat tubuh, tangan dan kaki wanita itu meleleh.

"Benarkah menyesal? Bukankah kau selalu membanggakanku ibu?"

"Jangan banyak bicara kau! Anak ku tak akan mudah terpengaruh setan sepertimu! Kau bukan anak ku, anak ku sudah mati ketika ia bertugas membasmi kejahatan!"

"Tidak ibu, aku masih disini... Di hadapanmu"

"Diam kau! Terkutuk!" wanita yang tadi dirantai berteriak dan mengeluarkan sihir api yang pernah ku keluarkan.

"Suamiku tidak sepertimu!" wanita itu marah. Berkali-kali ia mengeluarkan bola api dari tangannya.

"Pergi kau dari tubuh suamiku! Biarkan suamiku tenang disurga!" nenek ku dan wanita itu membaca mantra, terlihat sebuah lubang hitam kecil dari belakang tubuh sang tentara merah.

Tentara merah itu terdiam, lalu tertawa kencang.

"Aku tak akan pernah mati, lubang hitam ini hanya membuatku kembali ke masa lalu" tawa tentara merah itu semakin kencang.

"Kau salah! Lubang ini akan mengantarmu kembali ke neraka!" teriak nenek.

"Ibu, mantra! Ucapkan mantra yang pernah kau tujukan padaku!" ucap wanita itu. Nenek mendekati tentara merah dengan tangan kanan yang terbuka dan tangan kiri menggenggam tongkat.

Mulut nenek membaca mantra tanpa suara hingga akhirnya tentara merah itu terdiam dan membatu. Sekali ayunan pelan ditangan kirinya, tongkatnya mengetuk kepala patung tentara merah.

Terlihat retakan kecil dari kepala lalu patung itu terpecah belah dan terhisap oleh lubang hitam didinding.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Hayi.

"Jangan menatapku!" Hayi berteriak, ia menangis. Namun, darah yang mengalir dari matanya.

"Hayi! Hayi!" aku menggenggam tangan Hayi, hingga tak sadar aku berdiri berdua dengan Hayi diruangan yang gelap.

Aku terdiam. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemana nenek? Mana wanita itu dan anaknya? Mana Jay?
Aku mematung dan memandangi sekelilingku.

Tak ada apa apa, hanya kegelapan.

"Pejamkan matamu... Lalu bukalah" aku mendengar suara Hayi menggema, namun saat ku menatap wajah Hayi, ia hanya terdiam dengan mata yang masih mengalirkan darah.

"Jangan tatap aku! Lakukan apa yang aku suruh!"

Aku memejamkan mata, lalu membukanya.
Saat aku membuka mataku, terlihat kembali pemandangan indah disekitar istana ini.

Tanaman hias, cahaya matahari, juga canda dan tawa yang menghiasi istana ini kembali terdengar. Aku memandang wajah Hayi.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya. Aku terdiam.

Hayi mengerenyitkan dahinya.

"Kau tak ingin menjabat tanganku?" ucapnya dengan santai.

Aku tersenyum.

"Kim" ujarku tanpa menjabat tangannya.

"Baiklah sesukamu" ia tertawa, "Hey, ajak aku keruangan Minzy!" lanjutnya.

Aku mengangguk. Ku antar gadis cenayang ini ke ruangan Minzy. Entah apa yang ingin ditunjukannya padaku, namun aku berterima kasih padanya karena aku memiliki jawaban yang tak pernah aku minta.

-***-

Aku terdiam memandangi padang rumput sambil menikmati kilauan senja matahari. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku memang keturunan penyihir kuat, tetapi jika musuh ku adalah ayahku sendiri, apa yang harus ku perbuat.

Kegilaan ini tak akan mungkin bisa berakhir.

Rabu, 13 November 2013

Satu Hari

Note : Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika dirasa mengganggu. Terima kasih, regards, Author.

Kisah ini pula pernah dibuat dalam 5 bagian yang tak selesai pada blog ini yang berjudul "One Day" dan kisah ini, Author mengubah beberapa bagian menjadi kisah yang tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang agar tidak menjadi kisah yang panjang.

Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM.
Genre : Yaoi Explicit, Mature Content, Adult

Peringatan! Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika merasa terganggu dan membuat jijik. Ini hanya kisah fiksi yang dibuat oleh fans. Selamat membaca. Terima kasih, Regards, Author.

-Satu Hari-

Memang, yang muncul pertama kali dihati manusia adalah kecurigaan. Aku tak memungkirinya.
Aku menaruh curiga ku pada orang itu, yang setiap harinya membuatku seperti orang gila.

-***-

[2 Months before, Day]
Aku mengenalnya saat aku sedang memburu pemandangan ditaman kota. Tak sengaja aku melihatnya melalui lensa kamera, ketika ia sedang tersenyum sembari memakan permen gulali kapas.

Tanganku refleks menekan tombol pada kamera agar mendapatkan gambarnya.
Satu, dua, tiga gambar aku dapatkan tanpa sepengetahuannya. Aku memeriksa hasil jepretan pada kamera dan sedikit tersenyum saat mengetahui hasilnya mendekati sempurna.

"Gulali?" aku membelalakan mataku ketika objek yang aku curi melalui kamera menawarkan permen gulali kapas.

Aku terdiam, aku tersipu sesaat lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit.

-***-

[3 Months before, Night]
Nickhun. Tangannya menjabat ku dengan erat lalu menggoyangkannya pelan.

Aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Nickhun ketika ia sedang mengetuk pelan pintu rumahku. Aku tak mengerti bagaimana ia dapat menemukan alamat rumahku dengan mudahnya.

"Cukup panggil aku, Khun" ia tersenyum.

Aneh, aku merasa aneh padanya.

"Jadi... Kau Wooyoung sang fotografer handal itu?" tanyanya, ia kembali tersenyum.

"Senang bertemu denganmu, aku Khun model pertamamu" lanjutnya.

Sejak saat itu, Khun menginap dikediaman ku.

Dia bercerita tentang alasannya kenapa mengejarku hingga datang ke Busan. Nickhun diutus oleh presiden agensi daerahnya untuk menemukan seorang fotografer handal, dan ia menemukan namaku disebuah situs fotografi yang menulis namaku sebagai pemotret pemandangan yang handal.

"Aku tak menyangka jika aku dapat menemukanmu" ucapnya dengan riang.

"Tempat tinggalmu begitu nyaman dan sangat tenang. Tidak sama dengan tempat tinggalku. Kau..."

"Teh atau kopi?" aku memotong kalimatnya, memandang wajahnya sesaat lalu melangkah ke arah dapur.

"Teh, kau benar-benar sendiri?" lanjutnya.

"Ya... Selamat datang di duniaku" jawabku yang menyodorkan dua gelah cangkir teh hangat. Aku melangkah meninggalkannya membuka pintu kaca agar angin sejuk malam hari dari teras belakang rumah masuk ke dalam.

Ia terdiam, aku mengajaknya duduk di teras belakang rumah. Nickhun mengikuti ku dan duduk bersila menghadap ke arah halaman.

Aku terpesona memandangnya, kemeja putih gading yang dikenakan dengan lengan yang dilipat hingga ke sikut membuatnya begitu menarik.

"Tunggu disini..." aku mengambil kamera yang kutaruh di meja makan dan mengambil gambar Nickhun dari arah belakang.

Lalu aku kembali duduk dihadapannya, dan mengambil gambar Nickhun yang sedang meminum teh.

"Kau memang pantas menjadi seorang model" puji ku.

Nickhun tersenyum. Malam itu kami berbincang panjang mengenai diri masing-masing.

-***-

Andai saja, saat itu aku tak mengenalnya. Mungkin aku tak akan merasa sesedih ini. Aku menyesal, sangat menyesal. Bukan karena mengenalnya, namun karena perasaan yang ku libati ketika mulai mengetahui siapa Nickhun sebenarnya.

-***-

[1 Months before, Night]
"Apa ini! Kau bilang ini bagus? Majalah kami tak akan menerbitkannya!" bentak pria paruh baya dihadapan ku. Aku terdiam menatap wajahnya.

"Apa yang terjadi padamu, aku paham kau hanya seorang pekerja paruh waktu disini. Tapi, tak seperti pula hasil yang ku inginkan!" lagi, kali ini air liurnya membasahi wajah, hasil foto, dan kamera ku.

"Sepertinya, kau harus banyak belajar bocah! Mulai besok, aku tak ingin melihatmu dan hasil foto mu ditempat ini! Datang kembali jika kau sudah paham apa yang namanya fotografi!" lanjut pria itu yang membentak dengan nada tinggi.

Ia merobek hasil fotoku dan membakarnya di hadapanku.

Emosiku meningkat, tubuhku terbakar, kupejamkan mataku dan ku kepalkan tanganku. Ingin sekali aku menghajar wajahnya, menendang mulutnya dan melempar tubuhnya dari ruangan kerja.

Ketika aku membuka mata, yang ku lihat Nickhun sedang memandangi wajahku.

"Ada apa dengan mu?" tanyanya.

Aku terdiam. Ku edarkan pandanganku dan kembali memejamkan mata.

Mimpi buruk.

"Ada apa dengan mu, Wooyoung?" Nickhun memajukan tubuhnya, ia memandang ku seakan aku bukan manusia.

"Apa tadi aku mengigau?" tanyaku sembari mendudukan tubuh. Ku sadarkan tubuhku ke dinding, mendorong sedikit tubuh Nickhun lalu memandang wajahnya.

"Sebenarnya... Kau berteriak..." aku menarik nafas panjang. Ku usap keningku dan wajahku. Aku terdiam.

"Maafkan aku jika kau terganggu karena ku..."

"Bukan., ini bukan karenamu... Ini karena atasan ku yang membenci hasil fotoku" kami berdua terdiam. Hanya terdengar suara dengusan nafas dari hidungku.

"Kau bermimpi buruk..." Nickhun memandangku. Aku menganggukan wajah, dan membalas tatapan matanya.

"Hampir setiap malamnya aku bermimpi yang sama..."

"Dan aku baru mendengar kau berteriak pada malam ini..."

Aku menundukan wajah. Aku merasa bersalah padanya.

"Maafkan aku... Aku menganggu waktu tidurmu" Nickhun tersenyum.

"Tidak, aku tak apa... Aku hanya khawatir padamu" ia menatapku lekat lekat. Seakan ada yang ingin ia ucapkan padaku.

"Kau..." aku membelalakan mataku, kalimatku terpotong ketika Nickhun mencium bibirku.

Nickhun mencium dengan lembut bibirku.

Tanganku menggenggam bahu Nickhun, mendorongnya pelan namun tubuhnya semakin dekat. Aku ingin menolaknya, namun tubuhku kaku. Aku hanya dapat diam dan menerima ciuman bibir Nickhun yang lembut. Mataku terpejam, tak lagi aku mendorong tubuh Nickhun tetapi aku memeluk lehernya.

"Maaf..." ucapnya memandangku. Wajah dan telinganya memerah..

"Aku hanya tak tega melihatmu seperti tadi, karena aku..." ia duduk dikedua lutut ku.

Kami diam, seribu bahasa.

Lalu ia berdiri, dan hendak meninggalkanku. Ku tarik kaus dalamnya, ku peluk tubuhnya dari belakang, ku taruh kepalaku dipundaknya.

"Jangan... Bantu aku melupakan mimpi burukku..." Nickhun membalikan tubuhnya perlahan, menatap wajahku dan kembali menciumku.

Aku menikmati perlakuannya, tangannya mengusap punggungku dan membuka kancing piyama yang aku kenakan. Bibirnya melumat, menghisap dan mengulum bibir juga lidahku.

Kami bertukar air liur.

Perlakuannya membuatku seperti melayang. Dengusan nafasnya mengenai hidungku, erangan dan rintihan pelan membakar semua emosiku. Aku terangsang, sangat terangsang.

Entah siapa yang memulai, kami sudah bertelanjang. Kakiku diangkat Nickhun dan kulingkarkan dipinggangnya. Kemaluan kami saling menghimpit dan dada kami saling bergesekan. Buliran keringat sudah membasahi tubuh kami. Aku yakin, kami sudah dimabukan asmara.

"Izinkan aku..."

"Lakukan apa yang kau suka"

Nickhun berbisik pelan, dan aku menjawabnya.

Lidahnya kini bermain ditelingaku, melumat buliran keringat yang mengalir. Membuat tanda merah dileher dan dadaku. Ia mengangkat tubuhku dengan tangannya, ia membawaku ke dinding dan menghimpit tubuhku.

Kembali ia mencium bibirku dengan nafsu. Kedua jarinya bermain dilubang anusku dan menusukannya pelan. Ia merangsangku dengan menghisap dan menggigit kedua puting dadaku bergantian.

Aku mengerang dan mendesah.

Kemaluannya menonjok perut dan terkadang menggesek pinggulku. Ia berusaha mengangkat tubuhku tinggi-tinggi agar kemaluannya dapat menembus lubang anusku.

Aku berteriak kencang ketika miliknya berhasil masuk dan merobek anusku. Perih, namun entah kenapa tubuhku bereaksi lain dan semakin membuat aku bernafsu.

Hentakan demi hentakan ia lakukan hingga kami benar-benar klimaks.

-***-

[One day before, Day]
Aku paham, yang pernah aku lakukan dengannya malam itu salah. Namun, aku harus berterima kasih padanya karena sejak itu aku tak lagi mengalami mimpi yang serupa.

Namun, ketika perasaanku semakin terlibat. Aku semakin yakin jika ada yang aneh darinya. Aku berhasil menjadi seorang fotografer disebuah studio yang berani membayar lebih upahku, dan aku berniat mengajak Nickhun untuk menikmati hasil yang aku dapatkan.

Aku baru mengetahui jika Nickhun bukanlah orang yang baik. Nickhun adalah penipu ulung yang memanfaatkan ku agar ia mendapatkan hasil taruhan yang lebih besar dari hasil upahku.

Aku mengetahui hal itu ketika aku berjalan pulang kerumah. Ku lihat segerombolan orang sedang menyalami Nickhun. Aku mengenal salah satu diantara mereka, kawan lama yang aku benci karena mengetahui jika ia adalah pengedar obat terlarang.

Bodohnya aku, aku mudah percaya semua kalimat-kalimatnya. Aku memang bodoh.

Ketika Nickhun sampai rumah, aku mendiaminya.

"Wooyoung-ah... Aku ingin berpamitan denganmu"

Aku tak menjawabnya, hatiku sakit.

"Apa kau tak apa ku tinggal?"

Aku masih tak menjawabnya, rasa kecewa semakin membesar.

"Wooyoung-ah, aku ingin pergi..." aku melangkah mendekatinya, menyiram dadanya dengan air hangat yang ku persiapkan untuk membuat teh.

"Ada apa denganmu!" ia berteriak, tangannya mengepal, ku sodorkan pipiku.

"Hajar aku, agar kau semakin puas menyakitiku" ucapku. Kami saling bertatapan. Mataku memanas.

Nickhun terdiam.

"Kau mengecewakan ku! Kau memanfaatkan ku! Kau menjadikan aku taruhan mu! Dasar idiot!" aku mencengkeram kerah bajunya, mendorong tubuhnya hingga mengenai dinding.

Emosiku meningkat, mataku memanas. Sekilas teringat dalam kepalaku saat Nickhun memeluk ku dari belakang sembari menyanyikan lagu 'aku milikmu' .

"Kau memang brengsek! Kau penipu ulung!" dadaku sesak, aku menangis tanpa terisak.

Lagi, aku menatapnya sinis lalu aku mendekatinya dan memukul dadanya. Nickhun tak berontak. Ia hanya diam.

"Kau... Brengsek" aku terduduk lemah diantara kakinya, aku lemas.

"Pergi dari tempatku... Aku muak melihatmu..." ujarku dengan nada lemah.

-***-

[Now, Day]
"Ini teh mu..." aku terkejut dan segera mengedarkan pandangan ke sekelilingku, namun tak ada siapa siapa disekitarku.

Aku merasa mendengar suara Nickhun.

Lagi, sekilas aku terbayang wajah Nickhun dan hari-hari saat kami berdua. Sayangnya, aku terlanjur kecewa padanya dan aku tak ingin mengulangi hari-hariku bersamanya.

Walau saat itu aku tak memiliki hubungan dengannya, aku senang dapat mengenal Nickhun. Nickhun orang yang baik, aku sangat yakin dia baik.

Mungkin, karena pengaruh lingkungannya maka Nickhun seperti itu. Andai saja, dia tak menjadikanku barang taruhan. Mungkin aku sudah menjadikannya model terkenal yang akan selalu ku foto dan ku pajang gambarnya disitus resmi milikku sendiri.

-fin, end-

Selasa, 12 November 2013

A Kiss In The Middle Of Winter

Note : Cerita ini permintaan @DazzleNaeun94
Cast : Kris dan Tao EXO
Genre : Romance, BoysLove, One Shot

-Kisah ini mengandung unsur tema gay/yaoi yang tidak explisit atau digambarkan secara fulgar, silahkan tinggalkan halaman ini jika dirasa mengganggu, Regards, Author-

-A Kiss In The Middle Of Winter-

Salahkah aku jika aku memintanya lebih peka terhadapku? Salahkah aku jika aku memintanya selalu ada untuk ku? Salahkah aku jika aku memintanya untuk tetap disampingku setiap harinya?

Aku memang egois, namun aku memiliki alasanku sendiri mengapa aku menjadi terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan, namun aku juga memiliki alasan tersendiri kenapa aku seperti ini.

Kris, memang orang yang baik. Bahkan menurutku, ia terlalu baik hingga aku takut menyakiti perasaannya. Sayangnya, ia tak pernah ada untuk ku disaat aku membutuhkannya.

Aku tak berniat menjadi orang yang over protective padanya. Hanya saja, aku menginginkan ia meluangkan waktu sedikit untuk ku. Menyisihkan sedikit tenaga untuk memberi kabar padaku.

Apakah aku salah meminta hal itu?

-***-

Aku dan Kris sudah menjalani hubungan yang lama, namun entah mengapa aku merasa jika Kris tak paham apa yang aku inginkan.

Kris terlalu dingin, Kris terlalu acuh padaku. Terkadang, aku menyesal menerima cintanya. Tapi, penyesalanku selalu terkalahkan oleh rasa sayangku padanya.

Mengapa aku begitu lemah jika dihadapannya, mengapa aku begitu bodoh sehingga aku mengiyakan semua kalimatnya yang jelas tak dapat diterima akal sehatku.

Apa karena rasa sayang tulus ku padanya?

-***-

Sempat menyangka jika aku hanyalah pelampiasan semata. Tapi, ku coba menghilangkan sangkaan ku agar terus menyayanginya tanpa adanya kecurigaan.

Aku hanya butuh perhatian darinya, bukan hal lain?

-***-

"Kris..." ku panggil namanya pelan, aku berharap ia menoleh ke arah ku dan tersenyum padaku. Namun, harapan ku hanya sebuah harapan.

Kris tetap fokus pada jalan dihadapannya. Memandang ke arah kanan kiri mencari sebuah kedai makanan ringan untuk mengisi perutnya yang kosong.

Kris memasukan tangannya ke dalam kantung celananya, tidak menggenggam tanganku lagi seperti dahulu saat aku dan dia berkenalan untuk pertama kalinya.

"Kris... Sadarkah kau jika aku ada disamping mu?" ucap ku, aku membuang pandangan ku dari wajahnya dan berjalan menunduk menatapi jalanan yang sudah bersalju.

"Maafkan aku, jika aku membuat mu marah..." aku terus menunduk.

"Maafkan aku... Jika aku terlalu egois..." ucapku lagi, dan belum ada jawaban dari Kris.

"Maafkan aku, yang terlalu kekanak-kanakan" lanjutku. Masih belum ada jawaban.

Mataku memanas, dapat kurasakan air mataku menggenang di bawah kelopak mataku.

"Aku hanya... Aku hanya takut kau pergi meninggalkan aku" air mataku menetes, langsung jatuh menyentuh salju yang ku injak.

Aku menangis, tanpa isakan. Aku berusaha agar nada ucapan ku tak berubah karena tangisan ku.

"Aku takut... Aku takut kau menjadikan ku pelampiasan... Sungguh aku takut" aku merasa tubuhku menggigil kedinginan. Suhu musim dingin kali ini seakan masuk menyetuh tulang dan membekukan fungsi organ tubuhku.

Terasa sesak di dada, dan perih. Tangisan ku semakin menjadi. Isakan tak dapat lagi kusembunyikan, nada ucapanku lebih terdengar gugup dan kecewa.

Aku terkejut ketika lenganku digenggam, dan kepalaku diangkat olehnya. Kris menatap mataku dalam-dalam.

Aku membalas tatapan matanya lalu kubuang pandanganku ke arah lain.

Aku malu, menangis di hadapannya. Aku merasa aku yang bersalah. Menangisi hal kecil, seakan aku adalah pembuat onar yang memudahkan semua hal.

Dapat ku rasakan jika Kris tetap memandangku. Tangannya menyentuh wajahku dan diusapnya dengan pelan. Ku pejamkan mataku, berharap ia menghentikan perlakuannya dan membahas hal ini di rumah.

Namun, aku terkejut. Tangannya tak berhenti menghapus aliran air mataku. Dapat kurasakan wajahku semakin di angkatnya.

Aku semakin memejamkan mataku, karena takut ia akan menampar atau memukuli ku. Namun, ternyata tidak. Bibirnya dengan lembut mengecup keningku.

Sangat lama mengecup keningku, lalu turun ke hidungku dan tepat di bibirku ia mencium ku lembut.

Ya, bibirku.

Kris mencium bibir ku dengan jantan dan mesra. Ciuman yang menghangatkan tubuh ku. Ciuman yang dapat melebur kebekuan dalam tubuh ku. Ciuman yang sangat jantan bagi ku.

Ku buka mataku, terpampang jelas mata Kris yang terpejam sembari mencium bibir ku.

Aku berusaha menikmati ciumannya. Membalas sedikit lumatan dan kecupan di bibirku.

Lalu, Kris melepaskan ciumannya dan memandangku dengan senyuman menggantung di wajahnya.

"Maafkan aku... Karena aku sangat mencintaimu... Aku tak akan pergi meninggalkan mu dan tak pernah ada niatanku menjadikan mu sebagai pelampiasan... Aku menyayangimu"

Air mataku kembali mengalir deras membasahi pipi. Aku tersenyum pelan. Wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat warna merah muda pada pipiku karena tersipu.

"Jangan menangis, ada aku disamping mu... Jangan takut, karena aku tak akan meninggalkan mu sendirian" ucapnya lagi sembari menghapus air mataku.

"Akan kubiarkan kau khawatir tentangku, akan kubiarkan kau mengoceh tentang ku tingkah ku namun, tak akan kubiarkan kau melepas tanggung jawabmu untuk menyayangi dan menjaga kasih sayang mu untuk ku. Aku mencintaimu, Tao" lanjutnya.

Kris tersenyum. Aku ikut tersenyum. Ia berhasil menciumku di musim dingin di jalanan tengah kota.

Lalu, ia menggenggam tanganku erat dan mengajak untuk melangkah bersama berdampingan melewati dinginnya musim dingin.

"Kris, aku menyayangimu"

-end-

Budayakan baca dan komentar, terima kasih.
Regards, Author

Minggu, 04 Maret 2012

Visual Dreams Part. III

Cast :
  •  Kim And His Friend (Special Appereance Debi Yuliani and Funzee)
  • CL, Dara, Key and Alex
  • Shindong
  • 2PM, 2AM, Brown Eyed Girls (Special Appereance Jaebum)

Entah kenapa perasaanku mengatakan ada yang salah dengan penginapan ini. Apa karena pemiliknya yang terlalu ramah? Ata karena letak penginapan ini yang berada di ujung kota? Atau memang perasaanku yang salah?


“Kau merasa aneh, kim?” CL mengagetiku yang terpaku di depan papan pengumuman. Aku memandangi wajahnya.

“Kau juga?” tanyaku dengan memasang wajah heran. Ia mengangguk dan meninggalkan masuk ke dalam.
Aku mencoba menghilang perasaan aneh ini.

“Hey Kim! Ikut gabung sini!” Key mengajakku untuk berkumpul di ruang tengah bersama yang lain. Tersedia banyak hidangan nikmat di tengah meja sana. Hidangan yang tentu saja menarik nafsu makanku yang sempat hilang karena perjalanan yang yang panjang.

“Istriku sangat pintar memasak, semua keluargaku menyukai masakan istriku” Jo Kwon menarik lenganku untuk duduk bersama. Ada sesuatu yang menarik pandanganku, sebuah foto keluarga yang dipajang.

“Itu keluarga kami” Gain menjawab keheranan yang memandangi foto itu.

“Keluarga kalian? Kalian keluarga besar?” CL selalu mewakili pertanyaan yang berada di dalam benakku. Gain dan Jokwon mengangguk bersamaan.

“Silahkan dimakan, lebih enak dimakan saat masih panas” Gain memberi kami piring dengan nasi diatasnya.
Dara, Alex dan Key saling memburu makanan yang tersedia. Aku dan CL saling berpandangan, aku sangat tidak bernafsu untuk melahap makanan yang ada di hadapanku. Aku meminta izin kepada Jo Kwon untuk pergi ke kamar mandi.

Untuk ukuran sebuah penginapan, bangunan ini terlalu panjang dan luas. Sepertinya aku harus menggunakan kereta kuda agar dapat sampai ke kamar mandi. Sebenarnya, kamar-kamar di penginapan ini terbilang sedikit. Hanya ada 15 kamar, dua diantaranya telah aku dan CL pesan lalu sisanya hanya kamar kosong yang tak berpenghuni.

Aku semakin curiga dengan penginapan ini, atau memang penginapan ini hanya memiliki 15 kamar?

Aku terpatung ketika berada di depan pintu kamar mandi, aku terkejut melihat sebuah bayangan hitam yang berlari dan menghilang di sebuah pintu besi yang berada tepat di samping pintu kamar mandi tersebut. Sebuah pintu besi yang terbuka.

Aku mengintip ke dalam pintu besi misterius tersebut, ku lihat banyak peti mati kosong yang terbuka. Peti yang siap untuk dimasuki sebuah tubuh manusia. Aku semakin yakin dengan perasaanku, ada sesuatu yang harus aku ungkap disini.

Untuk apa mereka menyiapkan peti mati disini? Apakah aku dan yang lain menjadi korban pertama mereka? Aku harus memberitahu yang lain, sebelum terlambat.

_***_

“Lalala…” Alex, Dara dan Key bernyanyi dengan suara yang keras, sedangkan CL dan Gain menahan tawa mereka melihat kekonyolan mereka.

Kulihat Jo Kwon memainkan pianonya dan menunjukan lagu yang diciptakannya.

Dodaeche meongcheonghan geonji anim sunjinhan geonji

Aku menarik lengan CL dan mengajaknya keluar dari penginapan untuk berbicara. Sinar bulan yang indah menerpa kami.

“Sejak kapan jadi malem?” CL menggelengkan kepalanya.

“Kita belum satu jam kan ya disini?” CL mengangguk, aku memandangnya.
Jujur saja, wajahnya yang di terpa cahaya bulan sangat menarik.

“CL! Dengarkan aku… perasaanku benar… ada sesuatu dipenginapan ini!” ia terdiam memandang wajahku.

“CL! Pasangan yang ramah itu mau kubur kita hidup hidup!”

“Maksudnya?”

“CL! Makanan itu diracun! Disaat kita lengah, mereka akan memasukan kita kedalam peti mati yang telah di siapkan!” CL memalingkan wajahnya dan membelakangiku.

“Jadi… Kamu udah tau semua?” suaranya terdengar aneh, suara CL yang ceria itu berubah kalem.

“Maaf… Kim” sebuah hantaman mengenai tepat kepalaku. Aku sempat melihat seseorang yang memukulku dengan panci kecilnya. Orang yang kutarik lengannya bukanlah CL, tetapi Gain.

_***_

“Akhirnya…” aku membuka mataku dengan pelan, melihat sekelilingku. Aku mencium aroma tubuhku sendiri.

Aku berada dalam kamarku. Kakak perempuanku berdiri dengan seorang anak kecil yang memandangiku.

“Terima kasih dok…” kakak perempuanku menyalami anak kecil itu dengan riang.

“Ini siapa?” tanyaku, aku menyandarkan diri dibantu oleh kedua orang itu.

“Ini dokter yang bangunin kamu…”

“Anak ini dokter?” aku membelalakan mataku.

“Hey aku berumur 10 tahun!” nyawaku seakan pergi meninggalkan ragaku. Aku hafal dengan kalimat itu, kalimat yang
sering diucapakan sang penyihir kecil—yang sombong—hebat itu.

“Lagian kok ya kamu tiduran di dalem kamar mandi? Kamu kenapa? Jatoh di kamer mandi? Dari tadi darah di kepala kamu ngalir, engga bisa berhenti…” aku tak menghiraukan ocehan kakak perempuanku, aku memandangi anak kecil itu.

“Kamu Alex?” tanyaku dengan sedikit heran.

“Alex siapa? Kamu mimpiin orang yang namanya Alex?” kakak perempuanku menjawab pertanyaanku.

“Mungkin ini efek dari aroma therapi yang aku kasih kak, biarin aja”

“Ya, ya udah kakak tinggalin kamu sama dokternya ya, kakak mau ambil kompresan buat kamu” kakakku meninggalkan ku
dengan anak kecil ini. Ia meringis memandangku.

“Angga? Nama yang keren”

“Kamu Alex?”

“Tenang saja, namaku tak berubah sama sekali”

“Ngapain kamu disini?” anak itu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang berisi cairan berwarna lalu menyuntikkannya di lenganku.

“aku hanya menuntaskan tugasku, kau… jangan sampai lupa akan janjimu… maafkan aku kim…” tubuhku memberat, pandanganku kabur. Aku tak sanggup mengggerakan semua anggota tubuhku.

Ku pejamkan mataku, aku ingin membuka mataku dan berteriak. Namun, tubuhku lemas. Seakan-akan aku tak dapat kembali hidup.

_***_

Aku membuka mataku dengan perlahan. Pandanganku sedikit kabur, namun dapat kulihat dengan jelas sekumpulan orang dengan pakaian bangsawan belanda di hadapanku. Beberapa lelaki bertelanjang dada memamerkan tubuh bagian atasnya yang terbentuk, sebagian menggunakan vest panjang.

Dengan balutan pakaian bangsawan belanda berwarna merah dan hitam, para wanita yang kulihat tersebut mendekat dan membantu melepas ikatan di tanganku.

“Maafkan adik kami…” ujarnya dengan senyuman, aku mengenal semua wanita yang melepas ikatanku.

“Jea? Narsha? Miryo?”

“Kau mengenal kami?” Jea mengangkat alisnya dan memandangku, blus hitam merah panjang dengan bagian bawahnya yang menjuntai ke lantai membuat Jea sang dewi terlihat berwibawa dan sangat cantik.

“Jelas ia mengenal kita, kak… kau lupa pernah menunjukan diri saat ia kecil?” Narsha menggunakan sarung tangan panjang berwarna hitam, sangat cocok dengan pakaian bangsawannya yang dominan berwarna merah.

“Kau lupa saat menyihirnya menjadi kodok?” Miryo melengkapi kalimat Narsha. Rambutnya yang ikal panjang menutupi kerah pakaiannya membuat Miryo terlihat lebih seram dari yang aku kenal.

“Untung saja nenek menghilangkan sihirmu kak”

“Iya, jika tidak… mungkin saja seraphim ini tak akan ada disini sekarang”

Tiga laki-laki mendekat memandangiku. Dengan vest hitam panjang dan kemeja berwarna hitam melekat ditubuh mereka, aku mengenal mereka. Seulong, Jinwoon dan Changmin tersenyum menatapku.

“Ya, kita harus berterima kasih pada nenek. Sampai saat ini kita masih bisa merasakan dunia manusia tanpa harus memakannya” kali ini sekumpulan laki-laki yang bertelanjang dada mendekat. 6 laki-laki yang ikut tersenyum.

Aku terdiam memandang mereka, 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls yang ku kenal berubah menjadi sekumpulan orang yang memakan manusia? Apa telingaku mulai kehilangan pendengaran?

 “Kalian vampire?” mereka mengangguk.

“Kau sudah sadar?” Gain dan Jo Kwon mendekat dan meminta maaf padaku.

Aku dibawa mereka keruang tengah, mereka memapahku dan membuatkanku teh hangat.

“Maafkan aku…” Gain menundukan wajahnya, aku tersenyum.

“Tak apa, tenang saja… aku tidak mati”

“Tapi… aku harus lakukan itu padamu…”

“Ya… aku mengerti…”

“Kim, kau benar-benar seraphim?”Jea memandang ku sambil meminum tehnya, aku mengangguk.

“Baiklah… aku langsung saja pada topik” Nickhun memandangku tajam.

“Ada apa ini?”

“Sebelumnya kami meminta maaf… karena kami hanya ingin berbicara padamu, Kim” Taecyon menawariku kue ringan.

“Memangnya ada apa?”

“Kau tau kami harus pergi dari istana kami karena tingkah seseorang… Kau tau Jaebum?” aku menggelengkan kepala.

“Jaebum adalah saudara kami, namun karena tingkahnya yang mengincar kekuatan batu malam menjadikan ia seseorang
yang akan haus kekuatan. Banyak orang di kota menghilang karena dia, dia merubah para penduduk yang tak bersalah itu menjadi vampire” Seulong menjelaskan dari tempatnya yang berdiri di pinggir jendela.

“Lalu?”

“Ia menjadi semakin kuat karena meminum darah manusia yang tak bersalah itu, aku ingin menghentikannya. Kami meminta bantuan kepada ninetails fox namun saudara mereka tertangkap dan kami harus menebus kebodohan kami” aku
mengangguk.

Aku mengerti, sebenarnya Funzee mengirim kami bukan karena tentara merah. Namun karena ulah vampire yang menyandera Taemin—adik kecil Key.

“Bantu kami, Kim… tak ada yang bisa mengalahkannya selain seseorang yang memiliki kekuatan hebat” Junsu menambahkan.

“Kak Jaebum tak pernah seperti ini… aku yakin ia di pengaruhi oleh kekuatan lain” Chansung yang mengunyah pisang ikut berbicara.

“Iya, aku yakin ia dipengaruhi kekuatan yang aneh… kau tau kekuatan sang merah?” Changmin menunjukan wajah herannya, diikuti Junho, Wooyoung, Jinwoon dan Jo Kwon.

“Aku tau… aku tau sangat tau” aku menatap wajah mereka.
Ku jelaskan pada mereka semua yang ku ketahui. Sebenarnya aku tak mengerti apa itu sang merah namun aku yakin ‘kekuatan sang merah’ adalah kekuatan yang berasal dari musuh nenekku. Aku sangat yakin.

“Kau bisa bantu kami?” Miryo bertanya padaku.

“Aku? Aku butuh bantuan kawan-kawanku…”

“Ah, kau butuh bantuan wanita cantik yang sempat aku dandani?” Wooyoung berbicara dengan nada riang.

“Maksudmu orang yang bernama sandara park itu?” Jinwoon mengerenyitkan dahinya.

“Ya diakan yang aku dandani” Wooyoung meringis.

“Tidak, mereka tidak bisa memasuki istana kami. Yang dapat masuk kedalamnya hanya Narsha, Jo Kwon, Gain dan Kau” Jea menjelaskan.

“Kenapa aku?”

“Karena kau seraphim… walaupun Narsha adalah penyihir vampire terhebat selama 500 abad yang lalu… Narsha tetap kalah karena kekuatanmu yang dahsyat” Junho memotong kalimat Jea.

“Apa buktinya?”

“Sekarang kau masih bisa berbicara” Jinwoon menunjukan wajahnya yang tertawa.

“Orang yang dipukul oleh Gain akan divonis mati, karena ia wanita yang memiliki 15000 kekuatan laki-laki. Sedangkan Jo Kwon kebalikan dari Gain, ia memiliki sihir penyembuh yang dapat menyembuhkan 15000 kematian yang disebabkan Gain”
aku mengangguk mendengarkan penjelasan Nickhun.

“Baiklah akan aku bantu…”

_***_

Aku membantu keluarga vampire yang ku temui di penginapan ini. Malam semakin larut, bulan tepat berada di atas kepalaku. Aku menyiapkan diri untuk pergi ke sebuah istana yang kulihat di perjalan sebelum menginap di penginapan ini.
Ku lihat satu bintang yang berkelip di langit, walau aku merasa aneh dengan semua yang ku alami. Namun aku merasa  nyaman karena semua ini.

Jujur saja, aku rindu akan dunia nyataku. Namun, aku harus menyelesaikan sesuatu di dunia mimpi ini. Aku ingat apa yang dikatakan anak kecil yang memiliki rupa seperti Alex, aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dan menepati janjiku pada semua orang di dunia ini.

Rasanya aneh aku bertemu dengan para anggota 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls. Mereka adalah idolaku di dunia nyata, sama seperti CL, Minzy, dan Park Bom. Aku khawatir, jika dunia ini akan bercampur dengan dunia nyataku. Ataukah memang sudah tercampur?

Aku merasa jika dunia yang sedang ku alami adalah dunia nyataku, sedangkan dunia nyataku adalah dunia mimpiku. Aku bingung.

Aku ditemani Jo Kwon, Gain, dan Narsha menuju istana besar yang kulihat tadi siang. Suasana yang hening langsung menyerang kami, hawa dingin merasuk ke dalam tulang.

Tak ada pencahayaan di dalam istana ini, hanya cahaya bulan yang menyinari istana ini. Istana yang gelap, dengan kelelawar yang berterbangan kesana kemari. Belum dengan patung naga yang mungkin saja akan bergerak jika kami lengah.

Ku dengar suara desahan berat dari arah belakangku, ku perhatikan sekelilingku. Banyak manusia yang telah berubah menjadi vampire. Tubuh mereka masih lengkap, mungkin hanya mereka tidak memiliki kesadaran.

“Itu korban Jaebum” Jokwon menjawab rasa penasaranku.

“Baiklah kita langsung saja ke tempat Jaebum” Narsha mengajakku kesebuah pintu besar dengan penjaga vampire yang tak bergerak.

“Sebentar, aku ingin membebaskan seseorang disini” ujarku yang mencari sebuah jalan menuju penjara. Aku yakin Taemin dan saudaranya di sandera di istana ini.

Belum aku melangkah, sebuah binatang besar kepala tiga dengan taring panjang dan air liur yang menetes di ujung taringnya mengerang lalu menyerangku.

“KIM!” Gain berteriak melempar sebuah panci ke arahku tepat mengenai salah satu taringnya. Makhluk itu mengerang keras dan menghembuskan napasnya yang menerbangkan Jokwon entah kemana.

Narsha menutup matanya dan mengucapkan sihir waktu, Jokwon yang terlempar kembali berada di tempatnya yang berdiri dan berteriak.

Dark Aura!” Narsha mengucapkan sihir yang memberi kami sebuah perisai sihir. Kaki makhluk tersebut mencoba menyerang perisai ajaib kami.

Gain berdiri disebelahku dan terus menyerang makhluk itu dengan panci favoritnya.

Fira!” aku mengeluarkan bola api dari tongkatku, membuat sedikit bulunya terbakar di bagian pinggir tubuh makhluk tersebut.

“Kim, serahkan padaku” Narsha merentangkan tangannya, dengan matanya yang masih menutup ia mengeluarkan tangan hitam besar dari bawah tanah. Tangan itu menggenggam tubuh makhluk itu.

Jo Kwon mendekat dan menanam sebuah benda di taringnya, ia mengucapkan mantra dan benda di taring makhluk itu meledak.


Aku masih mengeluarkan bola api dari tongkat sihirku, sedangkan Gain dan Jokwon bergabung menyerang dua kepala lain makhluk tersebut.

Narsha mengeluarkan tangan sihir lain. Narsha menggerakan tangannya, lalu tangan sihir tersebut mengikuti gerakan tangan Narsha. Narsha mencakar makhluk tersebut lalu membantingnya.

“Kim, serang dengan kekuatan lain. Setauku ia lemah dengan kekuatan cahaya! Tangan sihirku sebentar lagi akan hilang!” Narsha berteriak di belakangku.

HOLY!” aku berteriak mengarahkan tongkat sihirku ke salah satu kepala makhluk tersebut, salah satu kepala makhluk itu menghilang. Namun, masih saja makhluk itu mengerang dan menyembuhkan kepalanya yang hilang.

Aku panik, kekuatan ku melemah. Gain dan Jo Kwon masih bergabung menyerang makhluk itu. Sedangkan Narsha melepaskan tangan sihirnya dan membuat sihir.

Super Petrified!” aku mengucapkan sebuah mantra yang aku sendiri tak tahu apa kegunaannya. Aku hanya mengucapkan mantra yang ada di dalam benakku. Makhluk tersebut tiba tiba membatu tak bergerak.

“Baiklah sentuhan terakhir!” Narsha berteriak.

“Kegelapan yang berada di istana ini berkumpul, bantu aku mengalahkan mahkluk ini!” tangan sihir narsha membesar. Genggamannya menutupi tubuh cerberus dan mengangkatnya tinggi di atas kepalaku.
Narsha melepasnya lalu makhluk tersebut pecah berkeping-keping.

“Akhirnya…” Jo Kwon menghela napas, ia mengucapkan mantra sihir penyembuh yang menghilangkan luka.

“Lebih baik kita langsung ke tempat Jaebum, aku khawatir jika kau pergi sendiri…” Gain mengajakku. Ku urungkan niatku untuk menyelamatkan Taemin dan saudara-saudaranya.

Aku terus berjalan melewati pintu besar yang ada di hadapanku. Jika saja CL ada di sampingku mungkin akan lebih cepat mengalahkan cerberus tersebut.

Satu demi satu anak tangga ku naiki agar sampai ke tempat yang paling tinggi. Narsha bercerita jika istana ini memiliki sebuah kamar yang bisa dilewati oleh seorang penyihir. Maka dari itu Jea menyarankan Gain, Jokwon dan Narsha menemaniku.

Kami sampai di depan pintu besi yang dijaga oleh sekumpulan makhluk bertulang dengan pedang digenggamannya.

“Itu skull, tenang saja… aku menemanimu, mereka tak  akan menyerang” Gain melangkah kehadapanku dan mengucapkan sebuah perintah dalam bahasa yang sulit dimengerti olehku. Para makhluk tersebut menunduk dan menyembah Gain, memberi jalan lalu membukakan pintu besi tersebut.

“Aku adalah prajurit skull 500 abad yang lalu” Narsha dan Jokwon tertawa, aku hanya terdiam memandang para makhluk tersebut yang menyembah dengan sisa tulang di tubuh mereka.

Aku masuk kedalam ruangan itu, terdengar suara pipa organ yang memekikkan telinga. Nada-nada yang dimainkan organ tersebut terdengar sedih dan memiliki sebuah keegoisan, aku yakin seseorang yang memainkannya sedang dalam kondisi bimbang. Sangat yakin.

“Kau datang juga…” seseorang dengan tubuh kekar dan taring panjang menghentikan permainan pipa organnya, ia berdiri membalikan badan lalu memandang Jokwon.

“Selamat datang… Kwon” ia tersenyum keji memandangku, membuang pandangannya lalu mendekati Gain dan Narsha.

“Ah, reunian keluarga” orang itu menjauh lalu menanggalkan pakaiannya.
Ia memamerkan tubuhnya yang terbentuk, dengan berbagai pecutan disana-sini. Ia hanya menggunakan sebuah celana panjang yang digunakan oleh Jokwon.

“Bummie… hentikan semua ini…” Jokwon mendekatinya, aku paham orang ini adalah orang yang dibicarakan keluarga vampire di penginapan tadi.

“Hentikan apa? Aku tidak melakukan apa-apa” ujarnya, ia terbang mendekati Kwon. Matanya memerah dan mengeluarkan darah dari ujung matanya.

Kulihat darah itu menetes didadanya yang bidang.

“Aku tak bersalah… kau tau itu Kwon”

“Jaebum! Hentikan!” Gain melempar sebuah panci ketika Jaebum menjulurkan tangannya seperti ingin mencekik leher Kwon.

“Ah! Kekuatanmu masih 15000 orang, Gain” ia tersenyum lalu menjauhi kami. Dengan tawanya yang khas dan suaranya yang memekikan telinga, ia melipat tangannya lalu mencakar tubuhnya sendiri.

“Entah kenapa aku merasa marah ketika melihat kalian!” darah yang mengalir sangat banyak membasahi lengannya, darah segar yang menggenang di kakinya.

“Lihat ini! Darah ini mewakili perasaanku yang tak bisa menangis!”

“Bummie… hentikanlah…” Jokwon mendekat, Dari tempatku Narsha mengucapkan mantra lalu melindungi Jokwon dengan
perisai ajaib.

“Kwon… kau tau siapa aku dahulu… tapi entah kenapa seluruh orang membenciku…”

“Bummie, dengarlah… tak ada orang yang membencimu… mereka sayang padamu”

“Jika memang mereka sayang padaku kenapa aku di asingkan seperti ini!” ia menusukan jarinya di tubuhnya, darah segar keluar dari tubuhnya. Darah yang tersebar ke segala arah.

“Aku tak mengerti dengan manusia disini! Aku hanya berkata jika aku bosan menjadi seorang vampire dan ingin menjadi manusia, tapi entah kenapa mereka mengutukku dan mengasingkanku di istana ini… di tempat yang tadinya penuh oleh canda tawa keluargaku, yang penuh dengan gurauan bodohmu, yang penuh dengan kenang indah dan manis…”

“Bummie, kami masih ada disini…”
Narsha berbisik padaku, ia menyuruhku untuk mengucapkan mantra pengganda tubuh dan bersembunyi. Narsha menarik
Gain dan aku, meninggalkan Jokwon yang berdiri berhadapan dengan Jaebum.

“Bummie, aku tau kau siapa… hentikanlah… aku yakin kau dipengaruhi sihir sang merah”

“Sang merah? Kau tau sang merah? Jangan asal bicara kau tentangnya! Kali ini sang merah adalah keluargaku satu-satunya!” ia mendekati kwon lalu menyerangnya, namun serangannya terhalang perisai ajaib Narsha.

“Ah, sihir Narsha…” kulihat dari tempat persembunyian kami, ia belum sadar jika orang yang ada dihadapannya hanyalah penggandaan sihir  yang ucapkan. Kecuali Jokwon yang memang ingin berbicara dengan Jaebum.

“Kwon, hilangkan sihir ini… temani aku yang kesepian…”

“Tidak, aku ingin kau yang meninggalkan tempat ini lalu bergabung dengan keluarga yang lain. Aku yakin kau sanggup menghilang sihir sang merah. Hilang sihir itu lalu kembali pada keluarga yang lain… mereka menunggu mu”

“Menunggu? Menungguku mati? Hah!” ia menyerang gandaan Gain yang terpaku. Ia terkejut karena orang yang diserangnya menghilang.

“Sihir apa ini? Kau bisa menggandakan diri, Kwon?”

“Aku tidak akan menjawabnya jika kau masih ada dalam pengaruh sihir sang merah!”

“Sudah kubilang kau jangan asal bicara tentang sang merah!” kali ini Jaebum benar-benar menyerang jokwon hingga perisai ajaibnya menghilang. Ia melayang sambil mengangkat tubuh jokwon tinggi-tinggi.

Ia menjatuhkan tubuh jokwon dari tempatnya terbang, Jokwon tersenyum dengan tubuh yang luka.

“Aku tak akan marah sedikitpun. Aku ingin menunjukan luka ini padamu… aku ingin tunjukan padamu jika aku benar-benar menginginkan mu kembali…”

“Banyak bicara kau!” jaebum mendarat di hadapan tubuh Kwon yang terkulai, ia menendangnya lalu mencakarnya.

Gain yang memeluk Narsha menangis, ia tak tega melihat suaminya terluka. Emosiku naik, ingin ku tolong Jokwon dan menyelesaikan semua ini dengan cepat.

Narsha menarik tanganku yang hendak menolong Jokwon.

“Apa kau masih dapat berbicara keras padaku? Hah! Apa kau masih dapat berbicara! Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan asal membicarakan sang merah!” Ia terus menendang tubuh Jokwon. Jokwon terpental hingga ke sebuah pipa organ yang tadi dimainkan oleh Jaebum.

Tubuh jokwon hampir tertusuk salah satu pipa organ yang ujungnya tajam, pipa organ yang hancur berantakan mengelilingi tubuh jokwon.

“Kau betapa sakitnya aku diasingkan oleh para manusia itu? Yang jelas lebih sakit dari tendanganku! Kau tau sudah berapa abad kalian meninggalkanku? Kau tau? Kau tau itu bodoh!” Jaebum mengangkat tubuh Jokwon melemparnya menjauhi pipa organ yang hancur mendekati pondasi yang menjadi persembunyianku.

Aku mengucapkan mantra tembus pandang, aku menghilangkan Gain dan Narsha agar tak diketahui oleh Jaebum.
Kuhilangkan pula tubuh gandaanku yang hanya mematung memandangi semua perlakuan Jaebum. Sepertinya, ia tak sadar jika tubuh gandaanku telah menghilang.

“Kau tau ucapan para manusia itu? Mereka menganggapku sampah! Mereka menganggapku…”

Super Holy!

Triple Archer!

Curaga!

Jeabum menghentikan perlakuannya pada Kwon dan memandangi orang yang sempat menyerangnya. Kulihat laki-laki dengan dua orang perempuan berdiri lesu menatap Jaebum. Aku yakin laki-laki itu adik Key yang disandera olehnya.

“Hentikan perlakuanmu Vampire bodoh!” laki-laki itu  melindungi dua perempuan yang berdiri di belakangnya.

“Ah, Taeminie… kau hebat dapat keluar dari kurungan sihirku…”

“Jelas aku dapat membebaskannya… karena kurunganmu sudah usang dan berumur 500 abad!” Kulihat Funzee muncul di balik tubuh  kumpulan orang tersebut, ia tersenyum lalu mendekati Jaebum.

“Sedang apa kau disini?” Jaebum mendekati Funzee lalu mendorongnya mendekati Jokwon.

Funzee menekan sebuah tombol di kursi rodanya, ia merubah kursi roda tersebut menjadi sebuah robot besar dengan pedang dan tombak di setiap genggamannya.

“Hentikan semua ini!”Funzee berteriak lalu mengayunkan pedang ke arah Jaebum. Jaebum menahan dengan kedua tangannya lalu tertawa memandangi Funzee.

Ku hilangkan mantra tembus pandang, mendekati Jokwon mengangkatnya ke sekumpulan orang yang terkulai lemah diseberang pandanganku.

“Sayang… kau tega melukai suamimu?” tanya Jeabum melayang mendekati Funzee yang duduk di atas kepala robot—kursi rodanya.


“Suamiku adalah vampire yang berperasaan, bukan sepertimu!” ia menebaskan tombak kearah Jaebum, Jaebum menghindari tebasan itu lalu mendarat dengan pelan.

“Bagaimana jika aku memang vampire yang terlahir tidak berperasaan… apa kau akan tetap meninggalkanku?”

“Setidaknya aku akan berusaha mengubahnya menjadi seseorang yang berperasaan seperti Jaebum yang kunikahi dulu!”

“Rasakan ini!” aku terkejut ketika mendengar teriakan seorang wanita yang melemparkan sebuah tombak dengan mata tombak yang runcing.

Aku memandang ke arah lain dan tersenyum pada orang yang melempar tombak tersebut.

“Debi?”

“Berhentilah memandangku! Sembuhkan mereka dengan cairan ini…” seorang wanita berkacamata, dengan rambut bob menggunakan pakaian seorang pelempar tombak tersenyum padaku. Ia kawanku sejak aku masih bersekolah.
Pemikiranku benar, dunia ini telah tercampur dengan dunia nyataku.

“Jangan lupakan aku…” dengan tubuh besar dan perut yang sedikit maju, ia menjulurkan tangannya.

“Shindong, pembuat potion yang hebat disini” aku menjabatnya, Narsha memberikan potion itu kepada orang-orang yang terkulai.

Kuputuskan untuk membantu Funzee mengalahkan Jaebum.

“Kak, aku disampingmu…” aku berdiri disamping robot Funzee yang sedang menebaskan pedang dan tombaknya.

Time Stop!” ujarku dengan lantang. Semua yang bergerak berhenti seketika kecuali aku dan Jaebum.

“Aku yang akan mengalahkanmu…”

“Benarkah? Apa kau seraphim yang dikatakan sang merah? Sungguh berani kau menantangku”

“Jangan berlagak!” aku mendekatinya lalu memukulkan tongkatku ketubuhnya, ia mengerang ketika aku memukul dadanya.

“Sejak kapan kau tau kelemahanku tepat didada?”

“Aku tak pernah tau hingga sekarang!” ia memebelalakan matanya, mungkin ia merasa tertipu karena seranganku yang mengenai dadanya.

“Baiklah kali ini lebih serius… tak akan kuampuni kau!” ia menyerangku, ia mencakarku lalu mencekikku.
Aku meronta melepaskan diri, lalu ku ucapkan matra pengganda dan membiarkan tubuh gandaanku menyerangnya. Ia kebingungan mencari siapa yang akan diserangnya, tubuhku memenuhi ruangan yang berantakan.

Fira!”

Blizaga!”

Thundaga!”

Slew!”

Super Holy!

Semua tubuh gandaanku mengucapkan mantra penyerang, semua elemen cahaya, air, api, dan petir menyerangnya.
Namun ia masih tetap berdiri dengan tegap. Ia menyerang semua tubuh gandaanku, menyisakan aku yang masih berdiri memandangnya.

Aku tertawa, ku lihat ujung pipa organ yang masih menggantung pada bagian tubuhnya. Aku mencepatkan gerakanku, ia mencoba menyerangku. Namun, serangannya tak pernah mengenaiku. Aku mengambil ujung pipa organ yang menggantung itu lalu mengucapkan mantra pelambat gerakan pada Jaebum.

“Mungkin kau akan menyesal karena telah mencoba menyerangku dengan cakaranmu” ia melempar sebuah batu besar kearahku, aku menghindarinya.

Ia mencoba melempari semua yang ada di hadapannya. Lemparannya tepat mengenai tubuh robot Funzee yang mematung. Aku mengucapkan lagi sebuah mantra pengganda dan membiarkan ia menyerang semua tubuh gandaanku.

“Rasakan ini!” aku muncul dari belakangnya lalu menusuknya tepat dijantung. Ia berteriak, darah segar keluar mengenai wajahku dan menyebar ke segala arah.

Tubuh Jaebum meledak, membuat bangunan tua ini bergoyang. Aku menghela napas dan mengucapkan mantra agar waktu yang berhenti kembali berjalan.

Semua orang yang berada di ruangan ini terkejut lalu memandang semua puing-puing yang mengelilingiku.

Semua orang menyorakiku dan berteriak mendekatiku. Aku tak mendengar jelas apa yang dikatakan mereka, tubuhku lemas. Aku menjatuhkan diri dan menutup mataku.

_***_

Aku tersadar karena tetesan air mengenai mataku.

“Kau sadar Kim?” CL tersenyum, aku memandang sekelilingku. Ruangan ini bukan kamarku, di temboknya terpajang foto keluargaku.

Aku merasa asing dengan tempat ini, mungkinkah ini ruangan istana yang di tempati oleh Jaebum?

“Kau hebat…” CL meninggalkanku yang kebingungan.

Aku bangkit dari kasur lalu berdiri di sebuah balkon memandang jauh kearah padang rumput yang luas.

Apa yang baru kualami hanya sebuah mimpi?

Kurasakan perih dan linu di lenganku, aku menyentuh lenganku dan melihat sebuah cakaran. Yang baru kualami bukanlah mimpi, ini kenyataan.

Semua yang kulakukan disini adalah kenyataan, semua yang terjadi disini pula adalah kenyataan. Aku yakin—sangat yakin—dunia nyataku adalah dunia ini.

Kupandangi sinar mentari yang menyilaukan, dari tempatku berdiri kulihat sebuah danau yang memantulkan sinar matahari yang indah.

Pagi baru datang menyambutku yang percaya jika dunia mimpi ini adalah dunia nyataku.

Note :
Fire, Holy, Super Holy, Blizzaga, Thundaga, Slew : a basic spell on a (every) fantasy games
Dark Aura : a shield which contain a dark element
Slew : a slow motion spell, more effective than slow
Triple Archer : an attack with 3 arrow in 1 shoot.
Curaga, Super Petrified : a giga spell on a (every) fantasy games.

Jumat, 17 Februari 2012

Visual Dreams (Fan Fiction Part. II)




  • Shinee (Onew, Key, Jonghyun, Minho, Taemin), SNSD (Taeyon, Sooyoung, Jessica, Tiffany, Yuri, Yoona, Seohyun, Hyeyeon, Sunny), 2NE1 (Sandara, CL), Author Family and Friends (Special Friends Nuna Funzee), Alex and Her Family, Adam Couple (Jo Kwon, Gain)
 Before :


  “Sepertinya sapu tangan yang kau pegang sangat spesial. Apa itu dari Alex?” aku memancing pertanyaan padanya.

  “Ya, dia sangat pintar merajut dan menjahit” ia menjawab dengan percaya diri, terdiam seketika dan melanjutkan perkataannya. “Bukan Alex yang kau pikirkan tentunya anak muda” ia tersenyum.

  “Luka cakar diwajahmu juga karena anak itu kan?” ia terdiam.

  “Kau tau? Ada istilah yang disebut Hubungan Penyihir, karena kau penyihir aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Tentara merah” aku tersenyum, membuatnya salah tingkah.

  “Apa yang kau bicarakan anak muda” ia meringis.

  “Kau lupa pada Alex kecilmu dan menjadi tentara merah?” ia terdiam.

  “Sebelum aku mengucapkan mantra api yang mengenai punggungmu, Alex ikut mengejarmu karena ia tau siapa yang sedang ia kejar. Ia hanya ingin bertemu ayahnya yang menghilang entah kemana. Jika aku Alex kecilmu mungkin aku akan menangis dan tak menganggapmu ayahku lagi. Tingkah anehmu yang menyembunyikan luka dipunggung memastikan aku yang curiga padamu, alasan tentara merah menyerang rumah nenekku karena rumah peristirahatanmu dekat dengan rumah nenekku. Kau berpura-pura menjadi korban tentara merah” ia menggeser tempatnya dan membuatnya duduk di tepi kursi.

“Kembalilah jadilah orang tua Alex yang dulu. Alex merindukanmu, merindukan seorang ayah yang sayang pada anaknya. Kau lebih tua dariku seharusnya kau paham perasaan anakmu yang ikut berjuang melawan tentara merah”

“Diam! Kau terlalu banyak bicara!” ia berteriak padaku, mengambil sebuah pistol dan menembakan kearah kepalaku. Aku tak dapat menepisnya dan tersungkur jatuh.

_***_


                Aku menampar pipiku didalam kamar mandi, aku masih belum percaya mimpi yang ku alami. Aku terus mencuci muka, meyakinkan diri bahwa masih berada dalam dunia nyata. Aku menyebutkan beberapa mantra yang pernah kusebutkan, tidak terjadi apapun. Aku melihat kembali isi buku catatan usang didalam tasku, buku catatan itu berubah warna. Warna usangnya berubah cerah, ia menjadi buku kosong.

                “Mana isinya! Sial! Tidak akan mungkin akan hilang! Mana tulisannya!”

                “Kim…” aku mendengar bisikan pelan ditelingaku, aku terdiam. Kupandangi sekelilingku, ku tutup  buku catatan itu dan memasukannya kedalam tas.

                Suara bisikan itu terus terdengar memanggil namaku, sedangkan keringat dingin tak berhenti mengaliri wajahku. Ku pastikan lagi suara yang memanggilku, ku amati keadaan sekitar. Pandanganku kabur, kulihat tetesan darah di lantai. Aku panik, karena bisikan itu semakin jelas. Pandanganku sedikit kabur.  Kurapihkan tas dan bergegas berganti baju untuk memulai perkerjaan hari ini. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan kamar mandi, aku berusaha tidak mendengar bisikan yang sepertinya mengejarku.

               “Eh, kenapa dengan kepalamu?” kakak perempuan terkejut melihat segumpal darah di kepalaku.
      
       “Kepala? Aku baik-baik saja”

                “Bodoh, kepalamu bocor masih bilang baik-baik saja” ia memberikan sapu tangan putih padaku “Bersihin dong, kok ya bisa berdarah? Jatoh di kamar mandi atau gimana?” ia meninggalkanku.

                Aku memegang kepalaku, aku tak merasa kepalaku dialiri darah. Aku kembali ke kamar mandi untuk memastikan kalimat kakakku, dan kulihat darah segar mengucur dari dahi kananku.

                “Apa yang terjadi?”

               Aku membasahi sapu tangan itu dan membersihkan aliran darah yang mengalir, mataku terasa berat begitu pula dengan tubuhku. Aku tak sanggup lagi untuk berdiri lebih lama, aku berjalan menjauhi westafel dan cermin. Kusandarkan tubuhku di dinding kamar mandi yang sejuk itu, rasa kantuk menyerang membuat pandanganku semakin kabur. Walau bisikan yang tadi memanggilku sudah tak terdengar, aku terus membersihkan darah yang mengalir sambil menenangkan diri. Aku putuskan untuk memejamkan mata. Berusaha menghilangkan rasa kantuk yang menyerang.

              “Ia sadar! CL! Kim sadar!” aku membuka mataku dengan pelan, aku melihat penyihir kecil yang ku kenal.

                “Benarkah? Kim! Kau sadar!” tubuhku ditutupi selimut, aku berada di rumah nenekku. Aku dibantu seorang perempuan yang kulihat—dalam—mimpi untuk menyandarkan diri. Aku mencari kacamataku, dan memakainya. Saat aku memakai kacamataku semuanya terlihat blur, ketika melepasnya semua berubah jelas. Aku taruh kacamata itu di meja.

               “Maaf, Kim. Maaf karena telat menyelamatkanmu” aku mengacuhkan kalimat-kalimatnya dan berusaha menyamankan diri di tepi ranjang, nyawaku masih belum terkumpul sepenuhnya.

                “Apa kau benar-benar sadar?” anak kecil itu bertanya padaku, ia duduk disampingku dan memandangi.

             “Ada apa denganmu?” tanyaku, ia menahan air matanya.

               “Sukurlah” ia menangis dan memelukku.

               “Maaf, maafkan ayahku…”

                Rasa sakit di kepalaku kembali menyerang, dapat kurasakan ada sesuatu yang membasahi kepalaku. Perban yang diikat kencang membuatku semakin pusing, aku memandang kearah lain.

                “Alex… berhentilah menangis” ujar perempuan itu.

                Ingatanku menganggu penglihatanku, kamarku terkadang berubah menjadi kamar mandi di rumah sewa dan kembali berubah menjadi kamar di rumah nenekku. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi, rasanya aku seperti kembali dalam mimpi burukku.

                “Kim…” aku terdiam. Kupejamkan mata mengingat semua yang terjadi dan aku ingat semuanya. Aku ingat siapa perempuan itu, aku ingat anak kecil yang kini memelukku, aku ingat luka yang diberikan oleh penyihir tua yang menjadi tentara merah. Aku ingat semua, aku ingat jika aku adalah keturunan seraphim.
 
            “Alex… berhentilah menangis” ujarku, aku memeluk tubuh kecilnya. Ia menyembunyikan wajahnya ditubuhku dan terus meminta maaf.

             “Hey, terlalu berlebihan jika seperti ini” aku sedikit tertawa dan memandang perempuan yang membantuku menyandarkan diri.

               “Alex, lepaslah…” CL membantu melepas pelukan Alex di tubuhku, ia tersenyum dan memberi isyarat mata padaku.

               “Kenapa?” mataku membalas isyaratnya.

               “Ia takut kehilanganmu karena ayahnya” ia kembali membalas isyaratku dengan bahasa mulutnya.

               “Alex, lepaslah… tubuhku semakin sakit jika kau terus peluk seperti ini” ia melepas pelukannya dan wajahnya menatapku.

                “Maaf… ayahku… kau… ditembak olehnya…”

                “Setidaknya aku tidak disihirnya” aku tersenyum, ia menghapus air matanya dan ikut tersenyum denganku.

                “Kau… kau… bn đang seraphim yêu thích ca tôi”  aku memandang wajah Alex.

               “Hey, kau mengerti apa yang dikatakannya” ujarku setengah berbisik ditelinga CL.

                “Itu bahasa Vietnam, bodoh”

              “Artinya? Aku tak paham bahasa Vietnam…” Alex pergi meninggalkanku.

              “Te amo…”  ia ikut pergi meninggalkanku.

              Kami berhenti di depan jeruji penjara, CL menyuruhku masuk dengan Alex sedangkan anak-penyihir itu menundukan wajahnya dan menggenggam tanganku.

               “Bicaralah” ujarku, dengan tangan yang dirantai menggantung di atas kepalanya ia menundukan wajah.

                “Apa yang kau inginkan dariku?” ia terdiam, dengan tetap menunduk ia terkekeh.

                “Bos kami, Si-Merah-Yang-Kuat tidak mengincarmu. Ia mengincar kekuatan dahsyat yang dapat membuatnya menguasai dunia”

                “Modus yang sama, entah kenapa aku bosan mendengarnya… yang jahat selalu mengincar kekuatan untuk menghancurkan dunia dan semacamnya sedangkan disisi lain ada pahlawan yang selalu ingin membuat dunia kembali tenang…”

                “Dan janganlah berpikir kau adalah pahlawan itu” laki-laki tua itu memotong kalimatku.

               “Aku tak pernah ingin menjadi pahlawan yang membela dunia, aku hanya ingin mengembalikan kehidupanku yang telah dicuri”

               “Yah…” tiba-tiba anak-penyihir melepaskan genggamannya dan mendekati laki-laki itu.

               “Ayah… kau ayahku kan?” Tanya sambil memegang pundaknya, laki-laki itu mengangkat wajahnya. Alex memeluknya.

                “Ya, kau adalah ayahku yang selama ini menjadi tentara merah” suaranya bergetar.

                “Siapa anak ini?” ia memalingkan muka kearah lain.

                “Aku anakmu, Alex… ini aku…” aku mendekati mereka. Aku pandangi wajah laki-laki itu, matanya memerah, ia menahan tangisannya.

                “Pergilah, aku tak pernah memiliki anak…” aku lepaskan rantai yang mengikat tangannya, ku ucapkan mantra pengunci sihir untuk laki-laki itu.

                “Peluklah, itu darah dagingmu…” ucapku pelan.

                “Pergilah… kau bukan anakku… aku tentara merah tak pernah memiliki anak penyihir kecil seperti mu” jawabnya dengan sedikit bergetar, Alex melepas pelukannya dan memandangi wajah ayahnya.

                “Lihat luka ini… aku… aku membuat wajah ayahku seperti ini… aku ingat sihir pemanggil yang menyebabkan wajahmu seperti ini…” Alex menangis, di sentuhnya wajah itu dan diusapnya luka cakar yang dibuatnya.

               “Ayahku tidak memarahi dan membentak ku ketika aku mengucapkan sihir itu, ia tertawa dan memelukku…  aku rindu hangatnya pelukan ayahku… aku rindu ayah…” tangisannya membasahi wajahnya, ia mengeluarkan sapu tangan kecil dan memberikan kepada laki-laki itu.

                “Aku membuat dua saputangan yang sama, aku yakin kau memilikinya… ayahku tak pernah menghilangkan benda apapun… walau hanya saputangan ia akan menjaganya sepenuh hati seperti ia menjagaku dulu…” suara anak itu melemah dan menghilang, kini yang terdengar hanya isakan-isakan kecil yang membuatku merinding. CL mendekatiku dan menggenggam tanganku, ia berbisik kecil di telingaku.

                “Tinggalkan mereka… biarkan semuanya mengalir seperti air…” kami meninggalkan reuni keluarga yang membuatku terharu, ku pandangi kehangatan mereka dari pintu jeruji. Laki-laki tua itu dengan perlahan mengangkat tangannya, memeluk dan ikut menangis bersama anak—penyihir—hebat itu.

                “Ma.. maaf… maafkan ayah… maafkan ayah ya sayang…”

_***_

                “Aku rindu keluargaku…” CL mengencangkan genggaman tangannya.

                “Simpanlah kerinduan itu, sebentar lagi kita akan kembalikan dunia seperti semula” aku tersenyum memandangnya. CL kembali menitikan airmatanya, aku mengusapnya dengan pelan lalu ku ajak ia beristirahat di taman belakang rumah nenekku.

                “Ini… tempat favoritku dan ibuku… aku selalu bermain dengan ibu disini… nenek selalu memandangi kami ketika bermain…”

              “Tempat yang indah…”

                “Banyak kenangan disini, kau lihat tanaman mawar merah itu?” aku menunjuk mawar merah yang bersemi di pojok taman “Dibawah mawar itu ada makam kekasih ibuku, aku tak pernah bertemu dengannya namun ibuku mengatakan bahwa orang yang terbaring disitu adalah orang yang sangat ibu dan nenek cintai”

                “Makam ayahmu?”

                “Ayah? Sepertinya bukan… aku tak pernah melihat ayahku… mungkin itu makam ayahku…”

                “Bukan… itu bukan ayahmu…” aku terkejut ketika nenek membawa sepiring makanan kecil dan teh.

                “Bahkan itu bukanlah makam… itu hanya tanah. Ibumu menanami tanah itu dengan mawar biasa yang akan layu ketika seseorang yang hebat gugur… dibawah mawar itu ada barang-barang peninggalan ayahmu…”

               “Barang?” CL memandangi wajahku, ia tersenyum. Aku suka ketika melihatnya tersenyum, dunia seperti ikut tersenyum bersamanya.

               “Ya, ayahmu seseorang yang hebat… namun…” nenek terdiam dan mendekat kearahku, ia duduk di kursi goyang favoritnya.

                “Kau akan mengetahui siapa ayahmu. Karena kita adalah keturunan seraphim yang sangat hebat” nenek tersenyum, ia memejamkan matanya. Tubuhnya yang kecil dengan tulang yang tersisa, ia menunjuk sebuah pohon rindang dengan buah yang ranum.

                “Pohon itu akan memberi jawabannya ketika ada orang yang sangat teliti…” aku memandang pohon itu, pohon tinggi dengan batang yang kuat. Aku ingat semasa kecilku bermain dengan ibu, kami bermain petak umpet dan pohon itu menjadi tempat yang sangat cocok untuk bersembunyi. Pohon itu memiliki sebuah celah dimana aku sering bersembunyi di dalamnya. Pohon yang memiliki aroma harum dari aroma apapun di dunia ini, aku yakin nenek dan ibuku merawat pohon itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.

                “CL, Kim!” aku mendengar suara Funzee yang memanggil, aku mengamati keadaan sekitar. Nenekku menghilang, ia tak lagi duduk di kursi favoritnya.

               “Dimana kalian?” CL menarikku masuk ke dalam ruangan.

                “Ada apa kak?”

                “Ingat situsku?” tanyanya, aku mengangguk.

                “Pergilah ke Kota Gelap, aku mendapat respon dari penduduk disana”

                “Ada apa disana?” tanya CL dengan wajah sedikit terkejut.

                “Beberapa penduduk disandera oleh tentara merah, mereka mengatakan besok adalah hari dimana seluruh penduduk yang melawan tentara merah di eksekusi”

               “Eksekusi?”

                “Ya, selamatkan penduduk di kota itu”

                “Apa kita di beri upah?” tanyaku dengan sedikit gurauan.

                “Upah? Hey, untuk apa?” tanya CL, aku memandangnya.

                “Kau tau sebuah permainan kecil yang portable? Aku butuh gameboy untuk menghilangkan kestresan ini” aku tertawa.

                “CL, boleh kau mewakilkan perasaanku pada anak ini?” Funzee memandang CL.

“Dengan senang hati” tubuhku sedikit bergoyang ketika dipukul CL. Untuk ukuran seorang wanita, pukulannya termasuk berkekuatan besar.

“Hey, aku hanya butuh hiburan…”

“Upah? Kau pikir kita semua disini tidak merasa stress?” aku mengangkat bahuku.

“Kalian bukan aku, mana aku tau”

“Boleh sekali lagi, kak?”

“Silahkan prajurit cantik” dengan senyuman Funzee meninggalkan aku yang dipukul oleh CL, aku mengejar Funzee keruangan tengah. Ia memberi peta dan beberapa kantung koin.

“Pergilah, jangan habiskan koin untuk membeli sesuatu yang tidak penting dan ajak seseorang yang sekiranya butuh liburan” aku memandang Alex yang baru memasuki ruangan tengah.

“Kim… berhentilah menatap ku seperti itu…” ujarnya dengan sedikit tersenyum.

“Aku hanya ingin mengajakmu bocah penyihir yang sombong” nadaku sedikit ku tinggikan, ia mengambil tongkat sihirnya.

“Diluar sana banyak monster dan sesuatu yang kalian belum pernah lihat, jangan gegabah dan jangan terlalu mencolok!” Funzee mengingatkan kami, ia kembali menatap layar komputernya.

“Tenang kak, aku akan menjaganya agar tidak terlalu mencolok” CL memandangku dengan matanya yang tajam, tubuh ku bergetar ditatapnya seperti itu. Terkadang tatapannya seperti ingin menikam orang yang bersalah dan kali ini aku merasa sangat bersalah dihadapannya.

“Aku juga akan menjaganya kak” Alex ikut memandangku dengan tatapan ganasnya.

_***_

                Aku, CL dan Alex pergi menuju Kota Gelap. Tempatnya tidak jauh, hanya berjarak 10 KM dari rumah nenekku. Kami berjalan dengan bekal makanan yang nenek buat, satu jam kami berjalan dan belum ada monster atau apapun yang menganggu.

               “Hey… aku lapar” Alex sedikit mengeluh dengan gaya kekanak-kanakannya.

               “Baiklah, kita beristirahat disini… jangan sampai kita mati hanya karena rasa lapar yang menyerang” kami memutuskan untuk memakan bekal buatan nenek di tengah padang rumput. Perjalanan masih membutuhkan waktu setengah jam lagi agar sampai ke tujuan.

                “Bekal buatan nenek memang yang paling enak” Alex menghabiskan bekal yang tersisa, aku dan CL memandangnya lalu tertawa.

                “Nikmatnya piknik keluarga…” aku sedikit terkejut mendengar seseorang berteriak dibelakang kami, ku lihat empat orang bertopeng lengkap dengan senjata tajam menghampiri.

               “Siapa kalian?”

                “Kami?” salah satu diantaranya tertawa, yang lainnya mengelilingi kami “Kalian tidak tau siapa kami?”

               “Penting ya?” Alex bertanya sambil mengunyah makanannya.

               “Habiskan makananmu dulu sebelum berbicara! Anak kecil bodoh” kali ini seorang yang lainnya
menodong pistol kearah Alex.

                “Hey… dia masih kecil, kasar sekali” aku berdiri dan merapihkan ranjang makanan kami.

                “Jangan panggil Monk Ranger jika tidak kasar” salah satu yang tertua diantaranya berteriak, mendengar suaranya aku ingin tertawa. Terdengar jelas jika mereka bukanlah seorang perampok handal.

                “Kau” aku menunjuk anggota termuda “Rapihkan gayamu ketika kau ingin berlaga seperti pencuri, di tempat anak panahmu terlihat kosong jelas sekali kalian bukan pencuri” anggota muda itu terdiam dan menjauh, diikuti satu anggota yang sepertinya sedang menghiburnya.

                “Kau! Kau mengejek kami! Rasakan…” tiba-tiba sebuah panah menancap di tanah ketika perampok itu ingin menembak kami dengan pistolnya.

                “Jangan ganggu mereka!” terdengar seorang wanita berteriak, dengan pakaian seorang pemanah ia mendekat dan menakuti perampok itu. Mereka pergi meninggalkan kami
“Jangan pernah mengacau lagi Young Ranger!” ucapnya dengan gagah.

               “Jangan hiraukan Monk Ranger itu, setauku mereka tak pernah mengganggu siapapun” aku memandangnya, rambut coklat bob dengan suara khas dan panah yang menggantung membuatnya terlihat sangat gagah.

              “Kau!” CL berteriak dibelakangku, nada tingginya membuat telingaku berdengung. Aku yakin ia akan marah dan menghajar pahlawan wanita itu karena secara tak langsung mengejek kemampuan kami untuk membela diri, aku berusaha menahannya dengan tanganku.

               “Lepas! Kau!” CL melempar tanganku, ia mendekati wanita itu, berteriak dihadapannya sambil menunjuknya.

                “Kak Dara!”
 
               “Eh, CL?”

               “Kya! Aku bertemu juga denganmu…” nada tinggi CL berubah menjadi riang, aku merasa
dibodohi.

                “Alex, kita mendapatkan teman… kenalkan ini kakak perempuanku” ujarku lemas meninggalkan CL dan pahlawan panah itu yang berpelukan.

_***_
        
     Kami sampai di Kota Gelap, kota ini tak segelap seperti namanya. Asal mula nama kota ini karena pepohonan yang menutupi kota, pepohonan itu menutupi cahaya matahari dan menjadikan Kota Gelap ini sejuk.
“Kemana saja selama ini?” Tanya CL dengan nada riang, mereka menghabiskan minuman di bar, sedangkan aku terus mengawasi Alex yang mencoba meraih kursi bar yang tinggi.

                “Hey, umurku 10 tahun… aku dapat mencapai kursi ini tanpa bantuanmu” ucapnya sambil memutar bola matanya.

                “Bersyukurlah kau masih kecil… belum seperti mereka yang berumur namun bertingkah seperti anak 10 tahun” aku menunjuk CL dan Dara.

                “Pesankan aku susu coklat dong, di ranjang bekal susunya habis…”

                “Kenalkan ketua tim kami…” CL menarik lenganku untuk berjabat dengan pahlawan wanita itu.

                “Kim”  aku tersenyum, ia membalas senyumku.

                “Dara, Sandara Park” aku mengangguk.
 
                Kami berbagi cerita, Dara adalah kakak angkat CL ketika di Filipina. Kisahnya sama sepertiku dan CL, ia mengincar ketua tentara merah karena ingin mengambil kembali sesuatu yang telah dicuri darinya.

Ia berkelana dari benua lain untuk mencari markas tentara merah yang sebenarnya. Adik kandungnya adalah ahli tembak, tentara merah menculik adiknya. Dara mengajak kami untuk mengelilingi kota, ia mengaku mengenal kota ini karena dulu ia pernah menempati salah satu sudut rumah di kota ini.            

“Jadi… Thunder sekarang …” Dara mengangguk mengiyakan perkataan CL.

“Entahlah, semoga aku dapat menyelamatkan adikku”

“Tenang saja…  kau memiliki seraphim terhebat disini” Alex memandangi wajahku, ia tersenyum sambil mengedipkan matanya. Aku paham akan isyarat yang diberinya. Isyarat untuk membanggakan diri.

“Hey!” seseorang berteriak dibelakang kami, aku menoleh dan aku terkejut melihat seseorang yang berteriak ke arah kami.

“Alex, bukankah itu orang yang menodongmu dengan pistol?” ujarku memanasi anak—penyihir sombong hebat—itu.

“Jangan memberi ijin padaku untuk menggunakan sihirku disini, Kim” jawabnya dengan rasa kesal, aku tertawa lalu memandang CL dan Dara. Mereka tersenyum licik dan mulai menahan tawa.

“Aku tidak memberi ijin padamu… anggap saja aku tidak ada”

“Baiklah…” anak itu tertawa bak penyihir hitam yang akan menyerang mangsanya, ia sebutkan beberapa mantra lalu menunjuk laki-laki yang berlari kearah kami.

Berapa detik kemudian, tak ada sesuatu yang terjadi. Alex merenung karena gagal menyihir laki-laki yang berlari kearah kami, sedangkan laki-laki itu memandang kami dengan tatapan kosong.

“Apa kau seraphim yang dibicarakan situs itu?” aku mendengar bisikan setelah laki-laki itu berbicara, aku terdiam.

“Hey, apa kau benar orang itu? Seraphim yang di katakan di situs ‘anti tentara merah’?” tanyanya lagi, kali ini aku memandang CL dan Dara. Mereka tertawa, memandang kami.

“Hey, kau benar-benar orang yang menodongkan pistol ke arahku tadi!” Alex berteriak “Lagipula orang yang kau bilang pesanan bukanlah barang!”

“Sudahlah… jangan berteriak” ujarku dengan tenang, sejujurnya aku sedikit bangga karena anak ini mewakilkan perasaanku “Apa yang kau inginkan?”

“Aku hanya ingin bertemu Seraphim, dan aku yakin orang itu adalah kau”

“Apa kau yang menulis pesan di situs kami?” CL memandangnya, ia mengangguk.

“Baiklah, ikuti aku lebih baik kita membicarakannya didalam tokoku”

_***_

        Kami mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam tokonya, di perjalanan ia menceritakan tentara merah yang menyerang tokonya. Laki-laki itu bernama Onew, ia ahli tembak sama seperti adik kandung Dara. Ia anggota keluarga tertua dari lima bersaudara. Adiknya yang paling kecil diculik oleh tentara merah karena mengetahui memiliki kekuatan sihir. Mereka memutuskan mencari pengganti untuk menebus adiknya yang paling kecil.     

Kami sampai didepan tokonya, ku lihat beberapa orang yang benar-benar ku kenal. Mereka orang-orang yang tadi berniat untuk membunuh aku, Alex dan CL ditengah perjalanan ke kota ini.

         “Seharusnya… kau tak perlu begitu” Dara mengeluarkan pendapatnya ketika sampai didalam toko

“Tak perlu harus menjadi Ranger yang mengagetkan orang untuk berkunjung ke kota ini”

         “Maaf… hanya itu satu-satunya cara kami” salah satu adiknya menutup pintu, jendela, memasang tanda tutup di depan pintu dan menguncinya dari dalam. Kami diajaknya ke lantai atas untuk beristirahat, toko yang merangkap sebagai tempat tinggal.
Bagiku, tempat ini sangat unik. Masih tercium harum kayu ek atau cemara dalam toko ini, memiliki banyak kamar dan ruangan yang begitu luas tak diragui jika bangunan ini disebut toko.

         “Kenalkan, ini Jonghyun ia Fighter terkuat diantara kami. Adikku setelah Jonghyun adalah Key yang berdiri di belakang kalian, ia belum pernah menggenggam senjata sejauh ini ia yang mengatur kehidupan kami sedangkan adik kami yang kau lihat membersihkan toko adalah Minho. Pemanah yang memiliki karisma” kami mengangguk mengiyakan, Key menyuguhkan snack dan minuman dingin.

        “Ceritakan awal kalian memiliki niat seperti itu” tanyaku.

“Sebelumnya kami meminta maaf karena mengejutkan kalian, karena hanya itu satu-satunya cara kami menghindari mata-mata tentara merah”

“Memang apa yang kalian milikki?” Tanya CL, aku memandang teman-temanku yang duduk disampingku. Aku melihat Alex bermain dengan Key yang menyuguhkan kami snack.

“Kami… memiliki…”

“Kak, It’s fine if you’re tell the truth?” potong Jonghyun yang duduk disampingnya.

Of course, he’s seraphim! Don’t you believe him?” Jonghyun memandangku.

Yes! To stupid to be a seraphim” aku tertawa pahit mendengar kalimatnya, mungkin mereka pikir aku tak mengerti bahasa asing yang mereka katakan.

“Bisa dilanjut?” CL melanjutkan pembicaraan.

“Sebenarnya adik kami… adik terkecil kami adalah kunci dimana harta keluarga SM tersimpan rapih. Namun, kini mungkin saja harta itu tidak berada di tempatnya lagi. Taemin di sandera para tentara merah itu”

“Jelas saja ia dengan mudah tertangkap, kalian terlalu kekanak-kanakan menjadi seseorang kakak” seseorang dengan suara tegas memotong kalimat Onew.

“Pasti kau seraphim itu, kenalkan aku Sooyoung” aku membelalakan mataku. Tujuh orang perempuan cantik mendekatiku dan berkenalan denganku.

“Kenalkan ini keluarga kami yang lain, bibi-bibi kami…” Onew memperkenalkan keluarga lainnya pada kami.

“Maaf kami tak sopan karena memotong pembicaraan kalian. Kenalkan aku taeyon, kakak tertua mereka” ujarnya sambil menunjuk enggota lain.

“Ini keluargaku, dua orang yang memegang panah itu Jessica dan Yuri, yang membawa pistol sama denganku adalah Tifanny, yang memakai sarung tangan adalah Sunny, yang memegang tongkat adalah
Yoona sedangkan yang memegang tonfa dan memotong pembicaraan kalian adalah Sooyoung. Keluarga kami terkenal dengan Ninetails-fox” aku tersenyum kearah mereka semua.

“Sebenarnya anggota keluarga bibi kami ada Sembilan orang, dua diantaranya ikut disandera bersama adik kami” Minho menyusul mengikuti pembicaraan kami.

“Ya, keluarga kami terlalu bodoh karena ingin menolong adik kecilmu itu” Sooyoung meninggikan suaranya sambil mengambil snack dan mengunyahnya.

Semua yang mendengarnya terkejut, kulihat hampir semua orang keluar dari ruangan ini. Bahkan Alex diajak oleh taeyon keluar ruangan. Meninggalkan aku, CL, Sooyoung, dan Key.

“Ada apa ini?” tanyaku yang kebingungan.

“Sebelumnya aku meminta maaf pada seraphim tampan ini, aku kesini hanya ingin meminta pertanggung jawaban mereka yang menyebabkan kedua ahli sihir kami disandera” aku dan CL mengangguk.

“Soo! Bukan salah kami jika bibi Hyeo dan Seohyun disandera!” Key membela diri.

“Diam kau! Aku tak berbicara padamu ‘mesin pembersih’!” Sooyoung menatap tajam Key.
Suasana ramah diruangan ini berubah panas, hembusan angin yang sejuk ikut menghilang.

“Soo, bisa kau tenang dengarkan penjelasannya?” Aku menengahi mereka.

“Ah, keluarga yang lain tau kalau bibi seram ini ingin memarahi mereka” CL berbisik padaku, aku mengangguk sambil mengunyah kue yang tersedia.

“Key, maaf sebelumnya… tapi bagiku ini sudah sangat keterlaluan! Kami yang seharusnya meneruskan jadwal kami terhambat karena tingkah saudara kalian yang bodoh! Tertangkap di pertengahan misi yang kami berikan… atau aku harus meminta maaf pada kalian karena terlalu percaya kalian akan melakukan misi yang kami berikan dengan benar!”

Suasana menjadi hening, aku mencerna kalimat yang diucapkan Tonfa Warrior ini.

“Soo! Aku ucapkan sekali lagi bukan salah kami jika memang bibi Hyeo dan Seohyun ikut disandera! Dan kalau memang kalian merasa diri kalian bodoh karena menganggap kami kuat, aku pribadi meminta maaf. Karena menurutku kalimatmu lah lebih bodoh dari kami!”

“Ah! Benarkah? Jika memang kalian pintar seharusnya kalian selamatkan keluarga kalian sendiri! Bukan keluarga kami! kami memang bibi kalian! Tapi hargai pekerjaan kami! Kami tidak hanya menyelematkan keluarga kalian saja! Banyak orang yang butuh pertolongan kami! Ingat? Berpikirlah sebelum berbicara bodoh! Ah… aku lupa, kau tak pernah merasakan pendidikan” ujarnya, ia memandang wajah Key dengan tajam.

Key terdiam, ia menundukan wajahnya. Aku, dan CL terdiam mendengarkan mereka. Aku hanya menghawatirkan sesuatu terjadi disini.

“Sifat sombongmu tak menghilang, Soo! Aku memang tidak memakan pendidikan, aku serahkan semua tabunganku agar Minho dan Taemin dapar merasakan pendidikan! Tidak sepertiku, kakaknya yang bodoh. Kau selalu membanggakan diri, kau lupa siapa kalian sebelum kalian dipercaya mayor menjadi pasukan Ninetails-fox?” Key mendekati Sooyoung, aku melihat mata Key mengeluarkan sebuah semburan api yang siap membakar siapa saja.

“Kau lupa? Siapa yang mengurus kalian disini? Kau lupa siapa yang memasakan makanan tiap harinya? Kau lupa siapa yang kau andalkan dulu? Kau lupa siapa aku? Kau lupa ponakanmu yang kau banggakan? Kau lupa tonfa yang kau berikan padaku? Kau ingat ini? KAU INGAT!” emosi Key benar-benar pada puncaknya. Ia melihatkan liontin yang melingkar di lehernya.

“Kau bodoh! Memperlihatkan semua itu padaku, jelas aku mengingatnya. Namun akan lebih terkenang jika kau belajar menggunakan Tonfa yang aku berikan! Aku akan membanggakan dirimu di depan semua kakak-kakakku jika kau akan berkelahi menggunakan Tonfa itu, sayangnya kau sama sekali tak berminat untuk berkelahi” Sooyoung menjauhi Key dan duduk dihadapanku.

“Apa yang kau inginkan? Apa? Apa aku harus membunuh diriku dengan Tonfa yang kau berikan? Apa aku harus berkelahi melawan tentara merah itu menggunakan benda itu? akan ku bakar benda tua itu diperapian nanti!”

“Silahkan! Jika kau ingin aku melupakan siapa saudara yang selalu ku andalkan! Silahkan jika kau berani! Ambil benda yang kau katakan tua itu dan bakar di hadapanku!”

“Sudahlah, hey kalian berdua bisa menyelesaikan masalah tanpa emosi?” ujarku tenang, walau jujur saja aku sedikit terbawa emosi.

Key berlari kedalam kamar lalu kembali ke ruangan tengah dengan sebuah tonfa indah dengan ukiran namanya dibagian tengah.

“Kau menginginkan ini kembali? Hah? Baiklah, akan ku kembalikan benda ini setelah aku membakarnya”

“Silahkan, jika kau berani dan sanggup melakukannya” ia terdiam menatap Sooyoung.
Suasana kembali hening.

“Soo… apa kau masih mengandalkanku untuk menyelamatkan mereka?”

“Tentu saja bodoh! Itu yang aku harapkan! Seandainya kau paham dari awal kenapa aku tiba-tiba mengamuk… mungkin reunian keluarga kita tak akan berpisah seperti ini. Aku yakin kakak-kakakku dan yang lain sedang bermain game di bawah” Sooyoung tiba-tiba merubah nadanya. Seakan-akan tidak pernah terjadi apapun tadi.

“Baiklah, aku akan berusaha menolong keluarga kita” ujar Key dengan lemas.

“Key! Bodoh! Bukan itu yang ingin kudengar… seperti yang kubayangkan… kau pengecut untuk menjadi seorang petarung!” Sooyoung kembali menaikan nadanya.

“Lalu apa yang kau inginkan ‘tukang sihir’!” Key ikut meninggikan nadanya.

“Bertarunglah! Jangan pernah mengatakan ‘akan berusaha menolong’ tapi ‘akan menolong’! Jika kau berpikir logis, kau pasti akan berusaha sekuat tenaga menolong adikmu, bukan akan berusaha… jika kau berkata seperti itu berarti kau memang tidak memiliki niat untuk menolong mereka”

_***_

Kepergianku ke Kota Gelap hanya memenuhi permintaan seorang penduduk yang mengirim sebuah pesan di situs yang Funzee buat. Aku tak berpikir aku akan terlibat di sebuah pertikaian keluarga yang rumit seperti tadi.

Hingga kini, aku tak mengerti kenapa Sooyoung harus memarahi Key jika ia menginginkan Key terlibat dalam pertarungan. CL saja yang –menurutku—pintar dalam menebak pikiran orang tak paham apa yang baru dialaminya denganku.

Setelah Key mempersiapkan semuanya, Key memutuskan untuk mengikutiku. Ia berniat membebaskan adik dan bibinya. Aku, CL, Dara, Key dan Alex berjalan meninggalkan Kota Gelap dan berjalan kearah bangunan terpisah di bagian utara kota tersebut.

Bangunan yang terlihat seperti sebuah istana megah.

“AH!” teriakan CL yang tiba-tiba membuat jantungku hampir lepas. “Aku lupa mengisi peluruku!” ditengah perjalanan seperti ini setelah shock terapy yang dilakukan Sooyoung dan Key, Cl gemar mengagetiku dengan kepikunannya.

“Kim aku lapar…” Alex menarik bajuku, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah CL dan anak—penyihir sepuluh tahun—ini berulah.

“Apa kalian tidak lapar?” tanyaku sambil memandang Dara dan Key, mereka mengelengkan kepala.

“Aku… lelah…”

“Aku… ingin buang air…” Dara dan Key menggenggam pundakku. Tepat seperti dugaanku, mereka memilih beristirahat.

Kami belum melangkahkan kaki keluar dari kota, namun ke-empat kawanku sudah merasa kelelahan.

Rumah keluarga Ranger saja masih dapat terlihat.
Aku memutuskan untuk mencari sebuah penginapan, namun yang kulihat hanya tanah lapang dan pasangan yang berpacaran.

“Lihat mereka! Ditengah krisis dunia seperti ini masih saja ada yang berpacaran dengan mesra, apa mereka tak memikirkan bagaimana cara untuk berperang?” gumamku dengan memasang wajah lemas.

“Biarkan saja! Itu tandanya ada sebuah kebahagiaan yang seharusnya kita bela” CL membalas gumamanku dengan berbisik.

“Lihat! Penginapan!” Dara berteriak dan berlari meninggalkan kami.
Kami menyusul Dara, berhenti disebuah penginapan besar dan satu-satunya di ujung kota.

“Benarkah? Bahkan aku tak ingat ada sebuah penginapan di kota ini” Key mengeluh padaku. “Aku yakin itu adalah jebakan penyihir atau kerjaan sebuah pasangan yang tidak memiliki pekerjaan” lanjutnya.
Mungkin saja pemikiran itu benar, namun aku dan yang lain tetap berjalan kearah penginapan itu.

“Selamat datang di penginapan kami, ada yang dapat kami bantu?” sebuah pasangan dengan wajah ramah menghampiri kami yang mematung di pintu masuk.

Pasangan kecil yang sangat cocok, ku lihat mereka menggunakan name tag yang terpampang di dada mereka.

“Jo Kwon, Gain… ah kalian pemilik penginapan ini?” CL mewakili pertanyaanku. “Boleh kami memesan kamar?”

“Silahkan, kebetulan hari ini hari pertama buka di penginapan ini” Jo Kwon mempersilahkan aku dan yang lain masuk ke dalam penginapan.

“Permisi, apa aku bisa ke belakang? Aku sudah tak tahan…”

“Silahkan, mari saya antar” Gain mengantar Dara yang memang sudah tak dapat menahan kegelisahannya.
Aku kembali keluar dan memandang penginapan itu dengan lebih teliti, ku lihat papan pengumuman di samping pintu masuk.
 
“One day when you’re turn into a brown… and welcome!” kubaca tulisan di papan tersebut.
Nama yang unik menurutku, pemikiran Key salah tentang penginapan ini. Walau sebenarnya ini lebih terlihat seperti “kekurangan pekerjaan” karena membuka penginapan di ujung kota. Namun, menurutku ada sesuatu yang harus aku ungkap disini.
Ya, aku harus mengungkap sesuatu disini.


 Note !
Bạn đang seraphim yêu thích của tôi : (you're my favorite seraphim)
Te amo : (I Love You)

Tonfa : Senjata tradisional jepang
Karya asli oleh : Fajjar Angga Suprapto (fajjar.sajja@yahoo.co.id)
To Be Continue to part III :)
[semua gambar di dukung oleh yang mengupload pertama :D]
[gambar di part I dan II ini didukung oleh google yang membawa gue ke blog lain... (nama sumber blog gambar gue lupa.... sorry)]