Note : Cerita ini permintaan @DazzleNaeun94
Cast : Kris dan Tao EXO
Genre : Romance, BoysLove, One Shot
-Kisah ini mengandung unsur tema gay/yaoi yang tidak explisit atau digambarkan secara fulgar, silahkan tinggalkan halaman ini jika dirasa mengganggu, Regards, Author-
-A Kiss In The Middle Of Winter-
Salahkah aku jika aku memintanya lebih peka terhadapku? Salahkah aku jika aku memintanya selalu ada untuk ku? Salahkah aku jika aku memintanya untuk tetap disampingku setiap harinya?
Aku memang egois, namun aku memiliki alasanku sendiri mengapa aku menjadi terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan, namun aku juga memiliki alasan tersendiri kenapa aku seperti ini.
Kris, memang orang yang baik. Bahkan menurutku, ia terlalu baik hingga aku takut menyakiti perasaannya. Sayangnya, ia tak pernah ada untuk ku disaat aku membutuhkannya.
Aku tak berniat menjadi orang yang over protective padanya. Hanya saja, aku menginginkan ia meluangkan waktu sedikit untuk ku. Menyisihkan sedikit tenaga untuk memberi kabar padaku.
Apakah aku salah meminta hal itu?
-***-
Aku dan Kris sudah menjalani hubungan yang lama, namun entah mengapa aku merasa jika Kris tak paham apa yang aku inginkan.
Kris terlalu dingin, Kris terlalu acuh padaku. Terkadang, aku menyesal menerima cintanya. Tapi, penyesalanku selalu terkalahkan oleh rasa sayangku padanya.
Mengapa aku begitu lemah jika dihadapannya, mengapa aku begitu bodoh sehingga aku mengiyakan semua kalimatnya yang jelas tak dapat diterima akal sehatku.
Apa karena rasa sayang tulus ku padanya?
-***-
Sempat menyangka jika aku hanyalah pelampiasan semata. Tapi, ku coba menghilangkan sangkaan ku agar terus menyayanginya tanpa adanya kecurigaan.
Aku hanya butuh perhatian darinya, bukan hal lain?
-***-
"Kris..." ku panggil namanya pelan, aku berharap ia menoleh ke arah ku dan tersenyum padaku. Namun, harapan ku hanya sebuah harapan.
Kris tetap fokus pada jalan dihadapannya. Memandang ke arah kanan kiri mencari sebuah kedai makanan ringan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Kris memasukan tangannya ke dalam kantung celananya, tidak menggenggam tanganku lagi seperti dahulu saat aku dan dia berkenalan untuk pertama kalinya.
"Kris... Sadarkah kau jika aku ada disamping mu?" ucap ku, aku membuang pandangan ku dari wajahnya dan berjalan menunduk menatapi jalanan yang sudah bersalju.
"Maafkan aku, jika aku membuat mu marah..." aku terus menunduk.
"Maafkan aku... Jika aku terlalu egois..." ucapku lagi, dan belum ada jawaban dari Kris.
"Maafkan aku, yang terlalu kekanak-kanakan" lanjutku. Masih belum ada jawaban.
Mataku memanas, dapat kurasakan air mataku menggenang di bawah kelopak mataku.
"Aku hanya... Aku hanya takut kau pergi meninggalkan aku" air mataku menetes, langsung jatuh menyentuh salju yang ku injak.
Aku menangis, tanpa isakan. Aku berusaha agar nada ucapan ku tak berubah karena tangisan ku.
"Aku takut... Aku takut kau menjadikan ku pelampiasan... Sungguh aku takut" aku merasa tubuhku menggigil kedinginan. Suhu musim dingin kali ini seakan masuk menyetuh tulang dan membekukan fungsi organ tubuhku.
Terasa sesak di dada, dan perih. Tangisan ku semakin menjadi. Isakan tak dapat lagi kusembunyikan, nada ucapanku lebih terdengar gugup dan kecewa.
Aku terkejut ketika lenganku digenggam, dan kepalaku diangkat olehnya. Kris menatap mataku dalam-dalam.
Aku membalas tatapan matanya lalu kubuang pandanganku ke arah lain.
Aku malu, menangis di hadapannya. Aku merasa aku yang bersalah. Menangisi hal kecil, seakan aku adalah pembuat onar yang memudahkan semua hal.
Dapat ku rasakan jika Kris tetap memandangku. Tangannya menyentuh wajahku dan diusapnya dengan pelan. Ku pejamkan mataku, berharap ia menghentikan perlakuannya dan membahas hal ini di rumah.
Namun, aku terkejut. Tangannya tak berhenti menghapus aliran air mataku. Dapat kurasakan wajahku semakin di angkatnya.
Aku semakin memejamkan mataku, karena takut ia akan menampar atau memukuli ku. Namun, ternyata tidak. Bibirnya dengan lembut mengecup keningku.
Sangat lama mengecup keningku, lalu turun ke hidungku dan tepat di bibirku ia mencium ku lembut.
Ya, bibirku.
Kris mencium bibir ku dengan jantan dan mesra. Ciuman yang menghangatkan tubuh ku. Ciuman yang dapat melebur kebekuan dalam tubuh ku. Ciuman yang sangat jantan bagi ku.
Ku buka mataku, terpampang jelas mata Kris yang terpejam sembari mencium bibir ku.
Aku berusaha menikmati ciumannya. Membalas sedikit lumatan dan kecupan di bibirku.
Lalu, Kris melepaskan ciumannya dan memandangku dengan senyuman menggantung di wajahnya.
"Maafkan aku... Karena aku sangat mencintaimu... Aku tak akan pergi meninggalkan mu dan tak pernah ada niatanku menjadikan mu sebagai pelampiasan... Aku menyayangimu"
Air mataku kembali mengalir deras membasahi pipi. Aku tersenyum pelan. Wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat warna merah muda pada pipiku karena tersipu.
"Jangan menangis, ada aku disamping mu... Jangan takut, karena aku tak akan meninggalkan mu sendirian" ucapnya lagi sembari menghapus air mataku.
"Akan kubiarkan kau khawatir tentangku, akan kubiarkan kau mengoceh tentang ku tingkah ku namun, tak akan kubiarkan kau melepas tanggung jawabmu untuk menyayangi dan menjaga kasih sayang mu untuk ku. Aku mencintaimu, Tao" lanjutnya.
Kris tersenyum. Aku ikut tersenyum. Ia berhasil menciumku di musim dingin di jalanan tengah kota.
Lalu, ia menggenggam tanganku erat dan mengajak untuk melangkah bersama berdampingan melewati dinginnya musim dingin.
"Kris, aku menyayangimu"
-end-
Budayakan baca dan komentar, terima kasih.
Regards, Author
Tidak ada komentar:
Posting Komentar