Just an ordinary blog with short story and fan fictions inside
Selasa, 05 Agustus 2014
Senin, 04 Agustus 2014
When...
Genre : Yaoi, Adult
Rate : R
Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.
'Aku dihatimu'
'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'
Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.
Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.
Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.
Rabu, 14 Mei 2014
Angga, is Still My Name (Ep. 2)
"Bu..." aku mendekati ibu yang sedang mencuci piring, aku berdiri disampingnya.
"Ya, kenapa?"
"Boleh aku kembali ke ibukota?" kulihat ibu terdiam sesaat, lalu kembali mencuci piring.
"Boleh bu?"
"Untuk apa? Mendapatkan kembali apa yang telah kau lepaskan?"
Aku terdiam. Ibu memandangku, lalu mengeringkan tangannya dengan lap disamping westafel.
"Sudah sadar dengan apa yang kemarin telah kau lakukan?" aku masih diam.
Ibu melangkah ke meja makan dan membersihkan sisa kotoran makanan yang tertinggal.
"Ibu lelah berperan, nak... Peran ibu terlalu aneh, ibu harus berpura-pura menerima Noval meski kau mengetahui betapa bencinya ibu pada Noval, belum lagi dengan wanita yang mengaku ibunya Angga" ibu terdiam sesaat, memandangku, lalu kembali merapihkan meja makan.
"Ibu tak ingin lagi berpura-pura, kau meminta restu ibu untuk berhubungan dengan Angga dan ibu sudah merestui kalian, tapi kenapa kau begitu bodoh, nak" aku membisu mendengarkan ocehan ibu.
"Dengar, andai saja kau hanya membawanya kemari tanpa memiliki rencana untuk membuat Angga dan Noval berbaikan, mungkin kini Angga membantu ibu merapihkan meja makan ini" ibu melangkah ke arahku, memandangku lekat-lekat.
"Ibu sudah tua, ibu banyak kekurangan, ibu tak ingin mengatur jalan hidupmu, jadi..." ibu mengusap wajahku.
"Izinkan ibu fokus beristirahat, menikmati masa tua yang orang lain katakan indah..." ibu mencubit pipi, hidungku lalu mengecup keningku.
"Sudahlah, ibu harus mengurus adikmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ibu sambil tersenyum padaku sebelum pergi melangkah ke ruang tengah.
Hatiku teriris mendengar kalimat ibu. Aku benar-benar merasa bersalah.
Aku baru mengetahui kekesalan ibu, jujur saja, saat aku mengatakan rencanaku pada ibu tentang Angga, ibu merespon dengan baik. Bahkan saat Noval ku kenalkan melalui fotoㅡsebelum Noval datang kerumah, respon ibu pula biasa saja.
Aku memaksa ibu untuk menerima Noval, aku juga memaksa Angga untuk berbaikan dengan Noval, tapi aku tak pernah berpikir perasaan mereka yang terpaksa.
Konyol. Aku begitu idiot.
Aku seakan terjerumus dilubang yang begitu dalam. Aku tak dapat naik keatas setelah masuk ke dalam.
Astaga, aku benar-benar bodoh.
-***-
"Kak, kak, kak Angga lagi apa ya? Joan kangen kak Angga" aku membelalakan mataku mendengar ocehan Johan yang duduk diatas pangkuan pahaku.
Matanya berbinar, memohon padaku agar menjawab pertanyaannya.
"Johan kangen?" tanyaku balik.
"Ya, Joan mau main lagi sama kak Angga" aku terdiam, aku memandang wajah Ressa yang menatapku dari kejauhan.
Ressa hanya tersenyum.
"Ya udah, nanti kakak bawa kak Angga main kesini" ujarku lemas.
"Jangan boong ya, awas aja" ancam Johan. Aku tersenyum, mengangguk mengiyakan.
"Johan, udah malem sayang, bobo yuk" terdengar suara ibu dari arah belakangku.
"Ya bu!" jawab Johan dengan nada riang.
Johan berdiri lalu berlari ke arah ibu dan memeluknya. Ibu melangkah ke arah kamar Johan dengan menggendong Johan didadanya.
Ku lihat Ressa menahan tawa, lalu bergerak ke arahku dan duduk disampingku.
"Belum melepas topeng, kak?" tanya Ressa.
"Topeng apa?" Ressa terkekeh.
"Kenapa kau jawab ya sementara aku yakin kau tak akan mungkin sanggup membawa Angga"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Aku bukan Johan yang polos, kak. Aku Ressa, yang sudah memiliki kartu tanda penduduk, kau harusnya paham itu"
"Lalu?"
"Kau bodoh kak..."
"Apa maksudnya?"
"Kau seharusnya mendengar kalimatku dan melepas topeng mu, tak malukah jika kau nanti harus berbohong lagi pada adikmu?" aku terdiam.
"Untuk sekarang mungkin kau akan berkata jika Angga seperti ini, seperti itu pada Johan, tapi lihat nanti, Johan akan menuntut janji mu dan pasti memaksamu untuk mempertemukannya dengan Angga"
"Tapi..."
"Ada pengaruhnya, meski Angga bukan anggota keluarga tapi Johan sudah menganggap jika Angga bagian dari hidupnya" mataku terbuka lebar, Ressa seperti dapat membaca pikiran ku.
Kalimat-kalimat yang diucapkan adik perempuanku ini, seperti menjawab pertanyaan dalam benakkuㅡwalau aku tidak mengatakannya.
"Kau lebih jauh dewasa dariku, pahami kalimatku, meski sebenarnya aku tertekan karena kakak ku satu-satunya memilih laki-laki daripada perempuan" Ressa tersenyum pelan, lalu berdiri.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan mungkin memang inilah yang terbaik" Ressa melangkah meninggalkanku.
"Tidurlah, walau aku yakin kau tak akan mungkin bisa terlelap" ucapnya sebelum benar-benar menghilang.
Terdengar gelak tawa dari televisi mengisi kesunyian ruang tengah, sementara aku membisu memandang kosong televisi dihadapanku.
-TBC-
Angga, is Still My Name (Ep. 1)
Aku tak berhenti menatapi langit malam, dan mulutku terus mengucapkan kalimat penyesalan. Aku sungguh bodoh.
Semua hal yang kurencanakan hancur begitu saja, tanpa ada satupun yang berhasil.
Andai saja hari ini dapat terulang, aku tak akan membiarkan Angga pergi dari hidupku. Akan ku tahan Noval, dan menyuruhnya pergi tanpa membawa Angga.
Aku benar-benar menyesal.
"Apa yang kau sesali?" aku membalikan tubuh, dan mataku terbuka lebar.
Angga masih disini! Angga masih ada disini!
"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi, ia mendekatiku lalu ikut duduk di kusen jendela bersamaku.
Matanya memandangku. Mata besarnya seakan menelanjangiku, ia seakan menyalahkanku atas apa yang terjadi tadi siang.
"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi.
Jantungku berdegup kencang.
"Tak ada..." Angga terkekeh.
"Kau tak pandai menyimpan kebohongan, kurang puaskah kau membuatku menangis kemarin?"
"Aku... Aku tidak..."
"Katakan padaku, apa yang kau sesali?" ia memotong kalimatku.
Aku menghela nafas. Angga benar, aku tak pandai berbohong. Aku pecundang, tak berani mengakui jika aku salah.
Mataku memanas, dadaku terasa sakit dan sesak, jantungku berdegup kencang, aku tak sanggup lagi menahan air mataku.
"Aku... Menyesal dengan yang baru saja terjadi" ucapku.
Air mataku menetes.
"Kenapa kau tak menahan ku? Kenapa kau tak meminta Noval untuk membiarkan aku disini? Kenapa kau membiarkanku pergi darimu? Kenapa..."
"Ku mohon... Berhentilah..." ucapku memotong Angga yang terus bertanya.
Mataku terpaku menatapnya. Ia terdiam, lalu ia berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.
"Kau pecundang, pengecut dan bodoh..." jantungku seakan remuk saat mendengar kalimatnya.
Angin malam berhembus kencang, sementara air mataku mengalir semakin deras.
Angga, kau benar. Aku memang pecundang. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak takut akan resiko apapun yang kau ambil, tetapi aku tak sanggup. Aku tak bisa.
Kau paham jika aku lebih menyukai zona aman dibanding mengambil resiko. Kau benar, aku begitu bodoh. Sangat bodoh.
Maafkan aku.
-***-
"Kak, kau tidak pergi?" pertanyaan Ressa membangunkanku yang termenung didalam kamar.
Ressa berdiri di ambang pintu, memandangku yang duduk di atas kasur.
"Pergi? Kemana?"
"Mengejar cintamu..." ucap Ressa yang berjalan mendekatiku.
"Dulu, kau menasihatiku mengenai cinta yang kurasakan, bolehkah aku menasihatimu sekarang?" Ressa duduk dihadapanku. Rambut panjangnya tergerai indah, Ressa terlihat cantik siang ini.
"Semalam, siapa yang kau tangisi? Kau mengira Angga masih disini?"
Aku diam.
"Aku tak sengaja memergoki mu yang terisak, dan berulang-ulang memanggil Angga, do you love him, right? Kejar cintamu, untuk apa kau disini merenungi kesedihan yang entah kapan akan selesai" aku terdiam. Pipiku seakan ditampar oleh Ressa.
Ressa benar, kenapa aku berdiam diri?
"Ingat kalimat tadi, yang aku ucapkan? Kau berkata hal yang sama padaku, dan aku mengingatnya sampai sekarang. Semoga kau sadar dengan kalimat itu, karena aku langsung tersadar saat aku mendengar nasihat mu" Ressa tersenyum.
"Aku memiliki kakak yang tegar diluar namun rapuh disini..." tangan Ressa menunjuk dadaku.
"Berhenti berpura-pura, karena orang lain lelah melihatmu yang berpura-pura" Ressa berdiri, lalu melangkah keluar kamar.
"Semangat, semoga kau dapat mengejar cintamu" ucapnya.
Aku tersenyum.
"Johan! Itu rok sekolah kakak!" ku dengar Ressa berteriak sebelum pergi meninggalkan ku yang
membisu.
"Johan nakal ya, awas aja kalo minta es krim" masih terdengar suara Ressa yang berteriak, sedangkan aku membisu.
Setelah malam tadi aku membayangkan Angga yang masih ada disini, kini aku merasa tubuhku dihajar oleh Ressa.
Semua yang Ressa ucapkan benar. Aku terlalu nyaman mengenakan topeng kepura-puraan, hingga tak sadar jika aku menginjak tanah.
Aku sudah terbang tinggi dibawa angin kencang.
Astaga, kenapa aku begitu bodoh.
-TBC-
Angga, is Still My Name (Synopsis)
Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Source.
Label : ABEnt.
Synopsis
"Lalu, harus ku panggil kau, siapa?" ku lihat ia terdiam.
Matanya menatap tajam wajahku.
"Baiklah, ku panggil kau, Angga" aku tersenyum. Dia membuka matanya lebar.
"Kenapa kau begitu baik padaku?"
Aku mendekatinya, lalu duduk disampingnya.
"Baiklah, Angga" aku tak menjawab pertanyaannya.
"Aku Daniel, jadi... Jangan sungkan memanggil namaku" lanjutku.
Angga terdiam. Dia berdiri lalu mengambil bungkusan rokok dari kantung celananya.
"Rokok?" aku terdiam.
Sungguh, orang yang sangat unik.
-***-
"Daniel..."
"Ya?"
"Culik aku... Bawa aku ketempat yang orang lain tidak mengetahuinya... Ku mohon" terdengar suara yang bergetar dan isakan di ujung telepon.
"Ada apa denganmu?"
Angga terdiam, isakan tangisnya menjawab pertanyaanku.
"Hey... Tenangkan dirimu..."
Masih terdengar isakan disana.
"Aku... Lelah..."
Panggilan terputus. Aku terdiam, banyak pertanyaan mengisi benakku. Apa yang terjadi dengannya?
Angga, jangan membuatku khawatir.
Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.
2014©Angga, is Still My Name.
Selasa, 29 April 2014
Author Crush on You!
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk paha pembaca, oke maksud saya para *gigit tembok* yang sudah setia membaca tiap artikel yang saya buat.
Banyak pertanyaan yang masuk ke email dan bbm saya (email saya untuk menanyakan pin bbm) mengenai cerita Angga is My Name.
Saya masih simpan beberapa pertanyaan dari para pembaca yang memang setia mengunjungi blog ini.
Q : Sebenernya tujuan blog fhakubeton.blogspot.com ini apa?
A : Tujuannya hanya untuk menghibur para internet surfer yang hobi membaca artikel-artikel pendek atau panjang. Tapi, dulu sebenernya blog ini cuma buat jadi tempat curhat saya, namun setelah saya pikir lagi dan karena sangat menggelikan, jadi saya memutuskan mengalih-fungsikan blog ini menjadi blog publik yang HANYA menyajikan cerita yang asli dari pemikiran saya sendiri.
Q : Sempat berpikir untuk membuat buku dengan isi cerita dari blog ini?
A : Pernah, tapi saya belum berani dan belum mengetahui proses membuat buku.
Q : Pernah membuat cerita yang di post dimedia sosial yang lain?
A : Dulu, waktu saya masih sekolah, saya sering membuat cerita dicatatan facebook lalu setelah itu saya mencoba menulis fan fiction yang bagikan di akun twitter (yang sekarang udah deactive).
Q : Untuk tema yang sering dibuat kebanyakan Yaoi/Boys Love/Gay, apa alasannya?
A : Entah, saya hanya mengandalkan imajinasi saya membayangkan bagaimana dua orang pria memadu kasih.
Q : Ada alasan lain? Atau memang anda senang melihat pasangan sesama jenis?
A : Pertanyaannya sedikit memojokkan ya, saya memiliki banyak kawan yang memang menyimpang tapi saya tidak melecehkan, mencemooh, mencaci atau menyumpahi mereka. Saya orang yang terbuka dan dapat menerima perbedaan, jadi alasan saya membuat cerita yang mengandung tema seperti itu hanya untuk membuat pembaca sadar akan perbedaan yang kini terlihat dimana-mana. Saya hanya ingin memberitahu pembaca jika orang seperti itu jangan di jauhi, pelajari mereka dan bimbing mereka.
Q : Untuk kisah Angga, is My Name, anda mendapat ide darimana?
A : Sekarang ini, banyak kisah kisah sejenis yang tersebar di dunia maya. Ide ini saya dapat dari nama saya sendiri, lalu saya gabungkan dengan beberapa cerita nyata dari sekitar saya.
Q : Setelah saya baca, (untuk kisah AIMN) banyak pertanyaan yang memenuhi otak saya. Dan saya sedikit kecewa karena masih banyak teka-teki didalam kisah itu namun anda memutuskan untuk menyelesaikan kisah itu. Ada rencana untuk membuat sekuel selanjutnya?
A : Sebenarnya, saya sudah merencanakan untuk membuat trilogi dari Angga, is My Name. Tapi, sepertinya tidak jadi. Karena, saya sudah terlanjur membuat sekuel kedua dari AIMN dengan sudut pandang berbeda juga lebih sederhana tanpa teka-teki yang ribet. Mungkin lebih pantas disebut series daripada trilogi.
Q : Saya juga sempat membaca artikel lain di sini, banyak juga orang yang meminta anda untuk membuat fan fiction, bagaimana caranya untuk meminta anda membuat fan fiction?
A : Sebenarnya, kalau saya boleh jujur, ada beberapa fan fiction yang hingga sekarang belum tuntas. Tapi, kalau ingin meminta saya membuat fan fiction dengan alur, dan unsur cerita yang saya atur boleh email saya di Fhakubeton@gmail.com atau melalui DM Twitter (klik link di kata Twitter) pribadi saya. Kalaupun ingin merekues via pin bbm bisa invite saya (Email saya untuk meminta pin, saya hanya menyimpan pin yang memang dapat diajak bertukar pikiran atau mengobrol, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kontak pertemanan).
Q : Bisa sedikit memberi bocoran tentang kisah yang akan dibuat selanjutnya?
A : Sebenarnya saya mau mulai project saya bersama sahabat saya Alnurf yang berjudul The Promise awal mei nanti, tapi kalau pribadi saya sendiri, saya mau buat cerita yang bertema horor, fantasi dan komedi, entah cerpen atau fan fiction.
Tetapi, kalau untuk kisah AIMN saya belum bisa kasih bocoran. Maaf.
Tadi malam juga saya membuka open question buat pembaca, biasanya saya buka open question dari jam 00.00 sampai selesai. Tapi, terkadang saya open question di saat saya sedang renggang.
Kalaupun memang pembaca ada yang ingin memberi saran/kritik atau ingin sekedar berbincang-bincang dan semisalkan ingin merekues cerita bisa hubungi saya :
Facebook : Fajjar Angga Suprapto
Twitter : Fhakubeton
Email : Fhakubeton
Whatsapp/Line/BBM bisa tanya melalui email.
Untuk kpopers juga yang mungkin ingin berbagi suka duka atau ingin membagi sharingan sebagai fanboy/fangirl, boleh mengobrol dengan saya.
Atau ingin mendengarkan kegalauan saya karena TIDAK DAPAT MELIHAT 2NE1 AON *maaf nyolot* boleh juga mengobrol.
Terima kasih :)
감사합니다 :)
Thanks :)
Regards
-Author-
Senin, 28 April 2014
Angga, is My Name (Last Episode)
"Siap?" Noval menepuk pundakku. Aku berdiam diri di ambang pintu sembari memandang jalan raya.
"Ya... Mungkin memang saatnya aku yang mengejar jawaban..." Noval diam.
"Noval... Maksudku, kak..." Noval tersenyum.
"Ya? Panggil nama juga tak apa, aku paham kau belum memaafkan ku" aku tersenyum.
"Kak, sebenarnya... Siapa wanita yang kemarin ke sini..."
"Dia? Bukan siapa-siapa, dia hanya orang lain" aku memandang Noval.
"Orang lain? Apa tujuannya kemari? Lalu kenapa kau memanggilnya ibu? Wanita itu ibu mu?"
"Percayalah padaku, dia bukan siapa-siapa, lagipula aku memanggilnya ibu karena aku merasa tidak sopan jika memanggil orang itu bukan ibu"
Alasan yang logis.
"Sudahlah, persiapkan dirimu, setelah pementasan usai, kita harus pulang"
Aku menghela nafas.
"Ya, baiklah"
Aku melangkah masuk ke dalam kamar. Mengambil perlengkapan ku lalu kembali ke teras sambil menggantungkan ransel di punggung.
"Tunggulah dalam mobil, sudah ada ibu dan adik-adik Daniel" ucap Noval.
"Lalu, kakak?"
"Aku menyusul, aku harus menunggu mobil travel yang nanti datang ke sini" aku mengangguk.
Aku melangkah masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping adik Daniel yang termuda.
Johan mengajakku bercanda, aku meladeni Johan hingga Daniel datang dan mulai menyalakan mesin mobil.
Sepanjang perjalanan aku terdiam, meski Johan mengajakku bermain.
Otakku terisi penuh dengan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Kepalaku terasa begitu panas, rasanya seperti ingin meledak.
Astaga, apa yang harus ku lakukan.
-***-
"Kakak!" Ressa berteriak dan berlari mendekati Daniel setelah kami sampai di lahan parkir sekolah.
Ressa menarik-narik tangan Daniel lalu mengajak yang lainnya untuk segera memasuki aula. Terlihat jelas, wajah gembira Ressa.
"Pentas sudah mulai, untung saja ibu tepat waktu" ujar Ressa dengan nada gembira.
"Aku sudah menyiapkan tempat duduk untuk kalian, kalian dapet tempat di depan" lanjutnya.
Aku, Daniel, ibunya dan adik-adik Daniel memasuki ruang aula yang sangat besar dan luas, pertunjukan sudah berjalan tapi aku rasa kami belum tertinggal jauh dari jalan cerita.
Kami fokus melihat pementasan, setelah kami menduduki kursi yang sudah di pesan.
Entah bagaimana pendapat dari anggota keluarga Daniel, tapi aku benar-benar merasa tersanjung. Ressa dan kawan-kawannya mampu melakukan peran mereka masing-masing dengan baik.
Dengan latar belakang dan pengaturan tempat yang benar-benar terlihat seperti nyata. Mataku disuguhi sebuah drama yang sangat memukau.
Aku sedikit terkejut saat Ressa bermain nakal dengan peran utama, Ressa benar-benar doing out of the box. Ressa benar-benar memiliki keahlian berperan yang hebat.
Ressa dapat memainkan nada bicaranya, mengikuti teks dalam dialog. Lawan mainnya pula benar-benar cerdas mengatasi kekurangan diri, hingga tak ada cacat sedikitpunㅡmenurutku.
Mataku tetap tak dapat menutup saat ada bagian tertentu diselingi musik yang dimainkan secara langsung. Para pemeran juga pandai menyiasati kekurangan satu dengan yang lain.
Aku takjub mendengar suara para pemeran yang bernyanyi secara langsung. Merdu, dan terdengar begitu indah.
Aku menangis saat Ressa bernyanyi sebuah lagu favorit ku dengan suara yang begitu merdu, sebuah lagu yang memang diperuntukan seseorang.
Tangisan ku belum berhenti, dan semakin menjadi saat perpisahan kedua tokoh utama. Aku benar-benar tenggelam dalam broadway yang dibawakan Ressa dan kawan-kawan.
Kami semua bertepuk tangan saat pentasㅡyang berjalan satu jam penuh, selesai.
Beberapa orang melakukan standing applauseㅡtermasuk aku, dan berteriak meminta adegan tambahan. Aku tersentuh.
Hati kecilku tersentuh. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Terima kasih..." ucap Ressa menggunakan mikrofon setelah para penonton berhenti bertepuk tangan.
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada pihak sekolah yang memberikan kesempatan pada kelas saya untuk memeriahkan ulang tahun sekolah" lanjut Ressa.
"Saya juga ingin berterima kasih pada pihak yang telah turut membantu hingga suksesnya broadway yang saya dan kawan-kawan bawakan"
Suasana menjadi hening, hanya terdengar gema suara Ressa.
"Saya juga ingin berterima kasih pada kak Angga..." Ressa menunjuk ku.
"Pak, boleh saya panggil kakak saya? Saya ingin memberikan sesuatu sebelum kakak saya pergi" ucapnya, yang bertanya pada guru di depannya.
"Kak Angga, boleh naik?" aku bangkit dari duduk, lalu berjalan menaiki tangga panggung dan berdiri di samping Ressa.
"Ide cerita ini dibuat oleh kak Angga, tanpa bantuan kak Angga dan ide ceritanya mungkin kami akan membawakan cerita pangeran kodok, karena jujur saja, saya dan kawan-kawan sudah benar-benar tak memiliki ide cerita sebagus kak Angga" aku menahan senyum. Aku memperhatikan Ressa yang memandang ku sembari tersenyum.
"Sebelum kakak pergi, ada sesuatu yang harus Ressa katakan..." suasana semakin hening.
Ressa mengeluarkan selembar kertas dari kantung bajunya.
Ressa membacakan sebuah puisi dengan nada bergetar.
"Angga, entah apa yang membuat mu begitu spesial di mata ku... Kau begitu lugas, lantang, dan polos... Kau terlalu sempurna untuk menjadi insan biasa... Angga, ingatkah saat kau mengucap janji jika kita akan hidup bahagia? Ingatkah kau berjanji jika kita akan terus bersama? Ku mohon, jangan tinggalkan aku... Aku mengakui aku munafik, aku mengakui jika aku pecundang. Tapi kau, menyemangati ku dengan sepucuk surat yang kau beri sebelum aku pergi... Karena mu, aku menjadi pemberani, karena mu aku menjadi pemaksa, karena mu aku sadar kau memang orang yang aku sayang..." Ressa menangis. Begitupun aku.
"Kak..." Ressa memandang ku, setelah melempar lembaran kertas yang dibacanya tadi.
"Kenapa kakak datang dan pergi begitu cepat... Aku senang saat pertama kali melihat mu datang di tengah kebahagiaan keluarga, aku senang melihat mu bercanda dengan keluarga ku, tapi... Kenapa kau tega meninggalkan aku yang belum pernah kau ajak bermain?" suara Ressa sangat lembut, ia menyembunyikan tangisan di tengah puisi dadakan yang ia katakan.
"Jangan pergi, tinggalah meski hanya untuk 5 detik..." Ressa menunduk.
Ressa mengalihkan pandangannya ke arah penonton.
"Aku tak malu, sama sekali tidak malu, jika aku harus menangis di depan ratusan bahkan ribuan penonton untuk mengemis padamu agar kau tidak pergi... Aku belum dapat memberikan apa-apa padamu, tapi kenapa kau memilih ego mu sendiri untuk mencari kesenangan sementara dibanding bercengkrama dengan keluarga?" Ressa mengamuk.
"Tapi... Aku sadar... Itu dunia mu... Kau memiliki hak untuk memilih jalan mu, dan akupun pasti akan melakukan hal yang sama seperti mu..." Ressa memandang ku.
Ia mengeluarkan sebuah kalungㅡperak panjang yang sangat mengkilau.
"Aku belum dapat memberikan apapun selain kalung ini... Dan prestasi ku sebagai adik mu yang mampu merealisasikan drama yang kau buat..." aku terisak, begitu pula Ressa.
Ressa mendekati ku, ia memasang kalung yang ia persiapkan dileherku. Tangisanku menjadi-jadi.
Ressa memeluk tubuhku sangat erat.
"Dan aku... Hanya dapat memberikan kenangan terindah ini..."
Ressa mulai bernyanyi, diiringi petikan gitar akustik yang dimainkan oleh kawannya.
Sebuah lagu favorit ku, yang sering aku nyanyikan jika aku sedang merindukan seseorang.
Suara Ressa bergetar, ia tak dapat lagi menyembunyikan tangisannya.
Saat aku memeluk Ressa untuk menenangkan dirinya, terdengar suara kawan-kawannya yang ikut bernyanyi.
Ressa memelukku lebih erat, dan ia mengecup pipi ku.
"Terima kasih kak..." bisiknya.
Ressa, harusnya aku yang berterima kasih padamu.
-***-
Aku berjalan berdampingan dengan Daniel, diikuti ibu dan adik-adik Daniel. Aku puas, menyaksikan sebuah drama yang sempurna.
Beberapa guru ditemani Ressa menjabat tangan ku, mengucapkan terima kasih dan memuji cerita yang ku buat.
Bahkan aku sempat di dekati oleh orang tua murid yang bekerja di bidang produksi perfilman, dan ditawari membuat naskah skenario namun aku menolaknya.
Aku bangga, Ressa dan kawan-kawannya mampu membuat ku menangis terharu.
"Ibu, tunggu aku dan Angga di dalam mobil, ada sesuatu yang harus aku bicarakan pada Angga" kata Daniel yang lalu menggiring ku ke tempat yang lebih sepi.
Aku menatap mata Daniel yang sembap sama seperti ku.
"Terima kasih..." Daniel menyalami tangan ku. Seakan ia baru bertemu dengan ku.
Kami terisak, tersedu-sedan. Saling menyembunyikan tangisan.
"Terima kasih, kau menyadarkan aku" Daniel memelukku erat.
"Aku masih pecundang, aku masih bodoh, aku masih seperti anak kecil... Maaf... Maaf..." bisiknya pelan.
"Terima kasih, sudah menyukai ku... Terima kasih sudah menyimpan rasa sayang mu untuk ku... Terima kasih... Sungguh, maafkan aku"
"Hentikan, Daniel..."
Daniel melepas pelukan, menatap mataku dalam-dalam.
"Jaga kalung yang aku titipkan pada Ressa, ingatlah aku..." aku tersenyum, di tengah tangisan ku.
"Ini yang aku takutkan, aku terkena karma... Tapi, aku bersyukur karena kau sendiri yang memberikan karma padaku, aku mencintai mu, sungguh..." air mataku kembali mengalir jatuh.
Kami bertatapan, Daniel mengusap pipiku. Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrumㅡcelah antara hidung dan mulut ku.
Aku memejamkan mata.
"Sungguh, aku mencintai mu" ucapnya, setelah mencium bibir ku lembut.
-***-
Meski aku tak ingin pergi, ada sebuah keadaan yang membuatku harus pergi dari sini. Meninggalkan Daniel dan keluarganya.
Aku harus mencari jawaban, aku harus mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku harus paham mengenai diriku sendiri. Sepahit apapun, aku harus menerimanya. Karena ini sudah jalan hidupku.
Jalan hidup Angga, yang mencari kebenaran.
Angga, adalah namaku.
-end-
28일04월2014년
Author
Angga, is My Name (Ep. 17)
Aku keluar dari kamar saat mendengar suara bising dari ruang tamu.
Siapa yang bertamu hingga tertawa sekencang ini?
Meski siang hari, pantaskah tamu yang berkunjung tertawa terbahak-bahak seperti itu?
Aku sengaja duduk di ruang keluarga, mencoba mendengarkan pembicaraan di ruang tamu.
"Jadi, Noval sama Dimas ada disini bu?" terdengar suara perempuan yang bertanya.
"Kalau Noval memang disini, tapi kalau Dimas..." aku yakin kali ini ibu Daniel yang berbicara.
"Kalau Dimas kenapa bu?"
"Ga, begini, ibu itu siapanya Noval ya?"
"Boleh di panggil Novalnya? Biar jelas" jawab perempuan itu.
"Sebentar ya bu" aku memandang wajah ibu Daniel saat memasuki ruang keluarga.
Ibu Daniel membisiki ku menyuruh ku untuk bersembunyi dan mengunci kamar.
Aku terdiam, saat aku bertanya kenapa, ibu Daniel terdiam.
Aku menuruti ibu Daniel, namun saat aku ingin melangkah masuk ke dalam kamar, terdengar suara perempuan yang memanggil.
"Dimas?" aku menoleh.
Mataku terbuka lebar melihat tamu yang berkunjung.
Seorang wanita paruh bayaㅡseumur dengan ibu Daniel, berdiri memandangi ku. Wanita berambut bob yang mengenakan pakaian modis dengan warna serasi mendekatiku lalu memeluk ku erat.
Aku tak dapat berkata apa-apa. Ku lihat ibu Danielpun terdiam sama seperti ku.
"Nak, ini ibu, nak" perempuan itu mengusap pipi dan kepala ku.
"Astaga, ibu tidak menyangka, ibu dapat bertemu denganmu lagi" lanjutnya.
Lagi? Pernahkah aku bertemu dengan orang ini? Kapan?
"Ibu?" terdengar suara Noval.
Kami bertiga menengok ke arah belakang ku. Ku lihat Noval terdiam mematung, memandangi ku.
"Noval? Kenapa kamu ga pulang?" tanya wanita itu. Namun, berbeda dengan ku, wanita iniㅡyang sedang berdiri di hadapan ku, tidak memeluk Noval.
Apa yang terjadi? Siapa wanita ini? Inikah orang yang Noval sebut sebagai ibu?
Apakah ini mimpi? Kapan aku bertemu dengan wanita ini? Lalu, apa tujuannya wanita ini datang kemari?
Aku, Noval, dan ibu Daniel terdiam mendengarkan wanita ini mengoceh di ruang tamu. Mulai dari kesibukannya, hingga ia bercerita jika ia menyesal menyerahkan aku pada kawan wanitanya.
Wanita ini terus bercerita, sampai Daniel datang setelah menjemput Johan. Ibu Daniel pamit untuk mengurus Johan sedangkan Daniel berdiri terkejut melihat seseorang bertamu.
Aku langsung menyuruh Daniel masuk ke dalam kamar, meninggalkan Noval yang berbincang dengan wanita itu.
"Apa yang kau sembunyikan dari ku?" aku langsung menginterogasi Daniel setelah mengunci pintu kamar.
"Apa maksud mu?"
"Jangan berlagak! Aku yakin ini semua ulah mu! Mulai dari Noval hingga seseorang yang mengaku ibu kandung ku"
Daniel terdiam.
"Apa yang kau inginkan? Apa yang ingin kau ambil? Apa yang ingin kau ambil dariku?" aku mencerca Daniel.
Daniel tetap terdiam. Mataku menatap sinis Daniel.
"Jawab! Apa yang kau inginkan dari ku? Kau menginginkan aku? Sudah ku beri bukan? Lalu apalagi? Kau ingin aku berbaikan dengan Noval? Aku sudah berbaikan dengannya, apalagi?" aku membentak Daniel.
"Aku sudah meminta mu untuk jujur! Tapi kau belum memberikan itu padaku! Licik! Kenapa kau begitu menyebalkan!" aku mendorong tubuh Daniel.
"Hey, dengarlah... Aku bahkan tidak mengetahui hal ini... Aku hanya berencana..."
"Rencana? Kau merencanakan ini semua? Memang kau brengsek!" aku memotong kalimat Daniel.
Daniel mendekati ku.
"Seharusnya kau paham siapa aku! Aku pernah bercerita padamu jika aku tak memiliki orang tua, karena orang tua ku sudah meninggal! Dan semalam aku mengatakan jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku bukan? Seharusnya kau paham betapa bencinya aku pada orang tua kandung ku!" aku menatapnya.
Mataku memanas.
"Apalagi yang kau inginkan? Apa! Lebih baik kau bunuh aku sekarang! Daripada aku harus seperti ini karena mu! Ku pikir... Ku pikir kau belum berubah! Ku pikir kau masih Daniel yang dulu aku kenal, tapi ternyata kau berubah!" aku menunduk, aku tak tahan lagi. Aku menangis.
Aku menangis tersedu. Daniel, apa yang kau inginkan dariku?
"Hey... Tenangkan dirimu..." Daniel memelukku dari belakang. Aku meronta, melepas pelukan Daniel dari tubuhku.
-***-
"Angga..." aku memandang ibu Daniel yang duduk di samping ku.
Aku hanya duduk merenung di atas kasur sebelum ibu masuk ke dalam.
"Kenapa bu?"
"Apa rencana mu kali ini?"
"Entahlah..."
"Dengarkan ibu, temui orang ini... Bilang saja, kau adik ibu..." ibu Daniel menyerahkan selembar kartu nama.
"Ini untuk apa?"
"Orang itu... Sahabat ibu sejak kecil, jika kau ingin mencari tempat tinggal, temui saja dia"
Aku terdiam. Aku mengamati kartu nama yang diberi ibu.
"Besok, ikut ibu ke penampilan Ressa ya" ibu tersenyum.
Aku mengangguk.
"Ah ya, tadi ibu berbicara dengan Noval... Noval mengajak mu pulang... Setelah melihat penampilan Ressa, Noval sudah bicara padamu?" aku terdiam.
"Jangan lupakan ibu disini... Anggap ibu adalah ibumu sendiri"
Ibu Daniel memelukku erat.
"Aneh memang, tapi entah kenapa... Ibu merasa ibu dekat sekali dengan mu, seakan kau benar-benar anak kandung ibu..." ibu melepas pelukannya, lalu menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hidupmu... Mengapa begitu berat... Kau masih muda, ibu harap kau kuat menjalani semua ini..." ibu mengusap pipi ku, lalu mengecup kening ku.
"Rumah ini selalu ada untuk mu, jangan ragu jika ingin pulang kesini..." ibu menangis. Air matanya menetes dan jatuh melalui dagu.
"Ibu tidak tega... Perjalanan hidup mu begitu keras, ibu tak dapat membayangkan itu..." ibu terisak.
Mataku ikut berkaca-kaca.
"Sudahlah, kau harus beristirahat... Besok, Noval akan membawa mu pulang..." ibu kembali memeluk ku erat lalu melangkah keluar kamar.
Aku terdiam, ku putuskan untuk berbaring.
Noval mengajak ku pulang, Daniel merencanakan sesuatu, dan ibu menangisi kepergian ku. Apa yang terjadi sebenarnya?
Apakah hanya aku yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi?
Lalu siapa sebenarnya wanita itu yang mengaku sebagai kandung ku? Dan, kenapa Noval memanggil wanita itu ibu?
Aku butuh jawaban!
-To Be Continue-
Angga, is My Name (Ep. 16)
"Apa yang kau sukai dari ku?" aku memandang wajah Daniel.
Daniel sibuk mengaduk bubur, lalu menyiapkan satu sendok penuh bubur untuk menyuapi ku.
"Kenapa kau begitu munafik?" ucapku lagi. Daniel diam, menatap wajahku.
"Aku tak mengetahui apa yang kau rencanakan, jadi jangan libatkan aku dalam rencana busuk mu itu" aku melahap suapan Daniel setelah berbicara. Daniel tetap tersenyum.
"Kenapa kau berbicara begitu?"
"Entahlah, tapi aku yakin kau merencanakan sesuatu" Daniel kembali mengaduk bubur, dan kembali mengambil satu sendok penuh bubur.
"Bagaimana kabar mu?" aku memalingkan wajah memandang pintu, Noval berdiri di ambang pintu sembari tersenyum.
"Angga baik-baik saja" jawab Daniel, aku terdiam.
"Benarkah? Sudah baikan?" aku mengangguk.
"Masuk kak" ujar Daniel.
Noval masuk lalu duduk disamping ku.
"Syukurlah kalau kau sudah baikan" Noval mengusap kepala ku, sembari menggantungkan senyumannya.
"Maafkan aku yang membuat mu kebasahan" ucapnya.
"Bukan kau yang harusnya meminta maaf, tapi orang ini yang harusnya minta maaf" ucapku setelah melahap suapan terakhir dari Daniel, sembari menunjuk Daniel.
Mereka berdua tertawa, aku menyandarkan tubuh di dinding.
"Jangan tertawa, aku serius"
"Hey, aku sudah meminta maaf" Daniel mengelak.
"Oh ya? Aku belum dengar"
"Dasar kau" Daniel tertawa sambil mencubit pipi ku.
"Hentikan, jangan memanjakan aku" ucapku.
Mereka kembali tertawa.
"Baiklah, aku kembali ke kamar, aku bersyukur kau sudah baikan" ujar Noval yang pergi meninggalkan kamar.
-***-
Aku terbangun di tengah malam, saat mendengar suara pintu yang terbuka. Aku membalikan tubuh, melihat Daniel mengunci kamar lalu menyalakan lampu tidurㅡyang sedikit remang setelah mematikan lampu utama, dan bersiap untuk berbaring.
Aku memandang wajah Daniel yang terkena cahaya lampu tidur. Daniel terdiam, ia menyandarkan punggung ke dinding kamar sembari matanya memandang jauh ke langit-langit kamar.
"Apa yang kau pikirkan?" Daniel menoleh.
Aku bangkit lalu duduk memandangnya.
"Aku memikirkan mu..."
"Kenapa aku?"
"Tidak..." Daniel memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kau berbohong" ujarku, aku menyandarkan kepala di paha Daniel.
Daniel mengusap kepala ku dengan lembut.
"Kau cerdas, kau sangat pintar... Tapi, kenapa banyak orang yang tidak menyukai mu..."
Aku terdiam.
"Ingat saat kau dan aku berdebat? Kau dipanggil oleh guru sosiologi dan masuk ke dalam kelasku"
"Ya aku ingat, kenapa?"
"Kau memiliki daya tersendiri, kau begitu cerdas dan pandai, bahkan guru sosiologi memuji mu karena opini opini yang kau keluarkan dan hanya aku yang menentang mu"
"Ya, kau begitu menyebalkan saat itu" Daniel terkekeh.
"Dimata ku saat itu, kau begitu mengada-ada saat menjelaskan prilaku penyimpangan seksual"
"Tapi kini kau menyimpang, Daniel"
Kami terdiam, tangan Daniel masih mengusap kepalaku.
"Ya, inilah aku... Aku tak pernah menduga jika kau tak memiliki kawan di kelas mu, hingga akhirnya aku berkenalan dengan mu dan memutuskan untuk berteman denganmu"
"Lalu, kau menyesali semua itu?"
"Tidak, hanya saja..." usapan tangan Daniel terhenti, ia terdiam.
Ku dengar ia menghela nafas panjang.
"Kau hebat, meski kau murid baru di sekolah, tanpa kawan, tanpa orang tua, kau mampu menorehkan prestasi yang begitu banyak untuk sekolah, bahkan semua guru selalu membicarakan mu"
"Darimana kau mengetahui itu?"
"Pembimbing ekstrakurikuler membicarakan mu, karena hanya kau satu-satunya murid yang menjalankan test sendirian, tanpa siapapun"
Aku terdiam.
"Dengarlah, bagaimana kalau kau mengetahui kau masih memiliki orang tua? Apa yang akan kau lakukan pada orang yang mengaku orang tua mu"
Aku tetap diam.
"Kenapa tak menjawabnya? Apa kau akan membencinya seperti kau membenci Noval?" aku bangun, lalu memandang wajah Daniel yang terdiam.
Ku lihat mata Daniel berkaca-kaca, namun aku berpura-pura tidak melihatnya.
Aku berdiri lalu membuka jendela, segera aku mengambil sebatang rokok dan duduk di kusen jendela sambil mataku memandang halaman samping.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" tanyaku, aku mulai menghisap rokok.
"Tidak..."
"Tak mungkin, ada yang kau sembunyikan dari ku"
"Tidak..."
"Dengar Daniel... Aku memang tidak mengenal mu sejauh kau mengenal ku, mungkin kau juga sudah mengetahui jika aku masih memiliki orang tua... Tapi, aku mohon, jujur padaku, apa yang kau sembunyikan?"
Tanpa memandang Daniel, aku tetap menyulut rokok sembari menikmati hembusan angin malam.
"Kau juga mungkin sudah tahu, jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku, dan orang tua kandung ku tidak menganggap ku sebagai anak, jadi pertanyaan mu menurutku sangat konyol" Daniel terdiam.
"Lihatlah pada kenyataan, kau juga akan merasakan benci yang mendalam saat kau bertemu dengan orang tua kandung mu, kau pasti tak akan menganggap orang tua kandung mu, yang kau anggap sebagai orang tua kandung adalah ibu mu yang merawat mu" Aku sedikit menengok ke arah Daniel.
Ku lihat ia menunduk seakan menyesali sesuatu.
"Di dunia ini, tak ada yang indah... Kalaupun ya ada, kau akan menemukannya nanti disaat kau benar-benar paham akan hidup... Keindahan yang kekal adalah keindahan yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun... Bahkan, kau akan menyadari keindahan yang kekal adalah keindahan yang muncul dari diri sendiri hingga kita mengucapkan kata syukur" terdengar isak tangis pelan di belakang ku, mungkin Daniel menangis.
"Sudahlah, kau harus beristirahat..." ucapku.
Daniel, apa yang kau sembunyikan dariku?
-To Be Continue-
Minggu, 27 April 2014
Angga, is My Name (Ep. 15)
Daniel bodoh! Kenapa harus beralasan sakit dan membiarkan aku berbelanja dengan Noval?
Apa yang direncanakannya? Hingga akhirnya aku dan Noval harus berbelanja.
Bodoh! Daniel bodoh! Aku sangat kesal!
"Sudah siap?" Noval bertanya padaku yang menggerutu karena kesal.
Aku terpaksa duduk di jok motor yang dipinjamkan pada Noval.
"Ya, cepatlah, aku tak betah berlama-lama di pasar nanti" jawabku ketus.
"Pegangan padaku" ujar Noval.
"Dengarkan aku, jangan menganggap motor ini seperti milik mu! Ingat! Jangan, menganggap motor ini seperti milik mu" aku meninggikan nada bicara.
"Kenapa?" Noval mulai menyalakan mesin motor.
"Karena biasanya...Ak!" aku memeluk perut Noval erat saat ia mengambil kecepatan tinggi sebelum aku menyelesaikan kalimat ku.
"Noval! Bodoh!" teriak ku.
Aku berteriak sepanjang jalan dan mengeratkan pelukan, Sementara Noval asik bermain dengan kecepatan motor, menyalip kesana-kemari seakan jalan raya milik sendiri.
Baru sampai tempat parkir pasar aku berhenti berteriak. Aku memukul pundak Noval berulang-ulang dan semakin keras.
"Bodoh! Aku hampir mati! Bodoh! Bodoh!" keluh ku sembari turun dari motor.
"Lebih baik kau tabrak aku daripada kau harus membonceng ku dengan kecepatan tinggi!" ucapku sembari meninggalkan Noval.
Ku dengar Noval tertawa puas, aku hanya menggerutu hingga masuk ke dalam pasar.
Noval berjalan disamping ku dan menggandeng tangan ku, lalu digenggamnya erat. Ia menuntun ku menjauhi tanah yang basah dan menjaga ku agar tidak bersenggolan dengan orang lain.
Terkadang Noval merangkul ku, dan tidak membiarkan aku berbelanja sendirian.
Ada sedikit rasa risih, namun ada sedikit rasa terlindungi saat seperti ini.
Noval melindungi ku, benar-benar menjaga ku.
"Noval, sepertinya ingin hujan... Lebih baik kita pulang" ajak ku.
"Barang belanja sudah lengkap?"
"Belum, tinggal beberapa sayuran dan bumbu dapur"
"Cari lagi ya, baru kita pulang" aku mengangguk.
Aku dan Noval berputar mengelilingi pasar, mencari bumbu dapur dan sayuran yang belum aku dapat.
Angin berhembus kencang, menyebarkan bau basah. Aku sangat yakin, sebentar lagi hujan akan turun.
Aku cemas. Aku tak ingin tubuhku basah karena hujan.
Aku berusaha merayu Noval agar segera pulang. Namun, Noval tetap memaksa ku untuk mencari bahan masakan yang kurang.
Suara petir terdengar dimana-mana, kilauan cahaya kilat pula terlihat di depan mataku. Aku terdiam.
Aku menarik baju Noval dan membujuk Noval untuk menyudahi belanja, aku takut.
"Ku mohon, aku ingin pulang..." ujarku lemas.
Noval menatap wajahku.
"Sebentar lagi ya, lagipula masih pagi, jikalau hujan pun, tak akan mungkin sampai siang"
"Lalu, kau akan mengajakku berteduh hingga siang nanti?" Noval diam.
"Aku pulang sendiri!" tangan ku ditarik Noval.
"Baiklah kita pulang" Noval menatap ku dalam-dalam. Aku membalas tatapan Noval sendu.
Lagi, aku melihat kilauan cahaya kilat. Aku memejamkan mata, dan menutup kedua telingaku. Aku yakin hujan akan turun deras.
Dugaan ku benar, terdengar suara petir yang menggelegar sebelum hujan turun.
"Ku mohon, aku ingin pulang" ucap ku lemas.
Angin dingin menusuk tulang, rintik hujan membasahi tubuhku. Lagi, suara petir terdengar kencang.
Aku berteriak.
"Tenang... Hey tenang, ada kakak disini" bisiknya lembut sembari memelukku erat.
Dibawah guyuran hujan, Noval memeluk tubuhku yang basah.
"Kak, ku mohon... Pulang..." aku memandang wajah Noval, aku menangis.
Jari Noval mengusap aliran air mataku, lalu memeluk ku lagi.
"Ya, kita pulang... Tenang, ada kakak disini... Jangan takut, kakakmu ada disini"
Hujan turun semakin deras. Aku memeluk Noval. Menyembunyikan wajahku di dadanya.
Kak, aku ingin pulang.
-***-
Aku dibangunkan Daniel saat menjelang malam. Tubuhku lemas, aku sulit membangunkan diri.
Daniel membantu ku, lalu meminta maaf padaku.
"Aku kesal padamu..." ujarku lesu.
"Maaf..." Daniel memeluk ku.
"Lepas, aku ingin beristirahat"
"Makan dulu, aku membuatkan bubur untukmu" bisiknya. Daniel belum melepaskan pelukannya.
"Ya, aku makan dulu baru beristirahat"
"Jangan istirahat dulu, kita belum bermesraan beberapa hari ini"
"Mesum!" aku mendorong tubuh Daniel hingga pelukannya terlepas.
"Bisa-bisanya kau memikirkan hal mesum disaat aku seperti ini, lama-lama ku potong adik kecil kebanggan mu, bodoh" bentak ku dengan suara parau.
Daniel terkekeh.
Aku terdiam.
"Daniel..." aku memandangi Daniel yang sibuk menyiapkan bubur untuk ku.
"Ya?" Daniel menatap ku. Mata kecilnya menusuk hatiku. Seakan menelanjangi ku.
"Kau benar-benar menyukai ku?" Daniel tersenyum. Mata kecilnya ikut tersenyumㅡmembentuk setengah lingkaran seperti film animasi.
"Sudahlah, jangan pertanyakan hal itu, lebih baik kau makan dahulu" jawabnya.
Aku menolak suapan Daniel untuk pertama kalinya.
"Kenapa? Tenang saja, aku tidak meracunimu..."
"Aku tidak ingin makan sebelum kau menjawab" Daniel kembali tersenyum.
"Jika ku jawab, apa kau akan meninggalkan ku?" aku terdiam.
Apa maksudnya?
"Dengar, aku yakin kau begitu kehilangan ku saat aku pergi dari mu... Sekarang, jika aku menyukai mu dan benar-benar menyayangi mu, aku takut sakit hati... Seperti mu... Aku belum sukses mendapatkan hati mu... Maksud ku hatimu yang seutuhnya..." aku diam.
"Aku takut kau akan membalas ku, saat aku sudah menyatakan perasaan ku dan kau akan meninggalkan ku... Hanya itu..." aku tetap diam.
"Sudahlah, ayo makan" Daniel tersenyum.
Aku membuka mulut dan menerima suapan Daniel.
Daniel, hanya itu yang kau takutkan?
Apa pantas ku sebut kau kekasih ku?
-To Be Continue-
Angga, is My Name (Ep. 14)
"Apa yang kau lakukan semalam?" Noval menegur ku yang terduduk di kusen jendela kamar.
Aku terdiam, melanjutkan kebiasaan ku yang belum ingin ku hilangkanㅡmerokok.
"Aku yakin, adik Daniel akan puas memerankan peran yang ada di dalam naskah drama itu" lanjut Noval.
Noval mendekati ku, lalu memandang ku. Aku menatap wajah Noval sesaat dan melanjutkan menghisap rokok.
"Suruh siapa kau masuk? Daniel mengijinkan mu masuk ke dalam kamarnya?" tanyaku ketus.
"Tidak, tapi ibu mengijinkan ku"
Aku menoleh, ku lihat Noval tersenyum.
Agak sedikit lega melihat Noval dapat kembali tersenyum. Jambang, kumis dan janggut yang pernah menumbuh sudah hilang.
Noval kembali menjadi Noval yang tampan, dengan senyum yang menawan.
"Dengar, aku sudah sadar kenapa kau menampar ku saat itu, aku paham semua itu maka dari itu aku memaksa mu pulang" jelas Noval.
Aku mendengarkan Noval tanpa memandang wajahnya.
"Saat itu, aku hanya emosi dan khawatir kau terluka karena pria yang ingin memperkosa mu... Jadi, aku memaki mu"
"Ya, makian yang berasal dari semua kesalahan yang kau pendam"
Noval terdiam.
"Aku menyesal sungguh, sungguh menyesal, jadi ku mohon, berhenti membenci ku"
"Tidak, maaf... Aku belum bisa untuk tidak membenci mu... Selama ini, kau menyimpan semua kesalahan ku dan disaat aku membutuhkan nasihat seperti yang kau dulu beri, kau memilih memaki ku dan menyebut nama asli ku"
"Dimas..."
"Berhenti memanggil nama Dimas, nama ku Angga, bukan Dimas!" Noval membisu saat aku meninggikan nada bicara ku.
"Bahkan di kartu tanda penduduk milik ku, tertulis Angga, bukan Dimas..." Noval masih terdiam.
"Kau mengetahui apa sebabnya aku membenci nama itu, kenapa kau tetap memanggil ku dengan nama itu!" aku membuang batangan rokok, dan turun dari jendela.
"Sampai kapanpun aku akan membenci mu, hingga akhirnya kau benar-benar sadar apa yang telah kau perbuat sampai aku membenci mu seperti ini" ucapku, aku berlalu keluar dari kamar tanpa memperdulikan Noval yang mematung.
Aku mengusap mataku perlahan setelah duduk dilantai teras rumah. Aku tak sanggup menahan air mataku.
Ingin aku memaafkan Noval, namun aku masih membencinya.
Semakin ia berusaha meminta maaf, semakin besar rasa benci ku padanya. Walau sejujurnya, aku ingin memeluknya dan berterima kasih padanya.
Tanpa bisikan Noval tadi malam, mungkin hingga sekarang aku tak akan menyelesaikan drama untuk Ressa.
-***-
Aku terpingkal di lantai teras rumah melihat Johan yang sedang bermain dengan Daniel di halaman. Daniel seperti anak-anak jika sudah bersama Johan, mereka tertawa, saling mengerjai, saling meledek dan aku senang melihat mereka.
Walau sebenarnya aku iri pada Johan. Johan memiliki keluarga, dia pula memiliki kakak yang penyayang, dan dia memiliki kualitas waktu yang sangat berharga dengan keluarganya.
Berbeda dengan ku.
Aku hidup sendiri, tanpa keluarga. Aku tak pernah memiliki kualitas waktu yang sama seperti Johan.
Meskipun aku mengetahui jika aku masih memiliki keluarga, tapi aku menganggap kalau aku hanya hidup sendiri. Aku tak ingin menggantungkan hidup ku pada satu kelompok yang orang lain sebut keluarga.
Aku sadar aku egois, tetapi keegoisan ku karena satu hal yang membuat ku benci akan diriku sendiri.
Aku benci akan diriku yang sebenarnya.
"Hey" aku terbangun dari lamunan ku, dan menggoyangkan sedikit tubuhku ketika kurasakan telapak tangan menggelitik pinggang ku.
Aku menengok ke samping ku, ku lihat Noval menahan tawanya saat aku sedikit menjauh.
"Jangan sentuh aku" ancam ku.
Aku kembali fokus memandang Daniel dan Johan, sebelum tangan Noval kembali menggelitiki ku.
Aku menahan tawa, dan berusaha untuk tidak meladeni Noval.
Kelitikan tangan Noval semakin kencang dan keras, aku tak mampu lagi menahan tawaku. Aku terbahak-bahak ketika Noval menggelitiki aku dengan jahil.
Aku berusaha membalas namun aku tak kuasa dan hanya dapat tertawa keras.
"Hentikan! Kakak curang!" ujarku di tengah tawa.
Noval terdiam. Aku juga mulai diam.
"Kakak?" Noval mengerenyitkan dahi.
"Kakak? Apa?" tanyaku dengan rasa heran.
"Kau memanggil ku kakak" aku diam. Wajah ku memanas.
Benarkah? Aku tak sadar, jika aku memanggilnya kakak.
"Mu... mungkin..." aku diam. Aku kembali memandang Daniel dan Johan yang masih bermain.
"Kau tidak mengaku?" tanya Noval yang sembari mendekatkan diri dengan mimik yang kulihat sangat menyebalkan.
"Kau tidak mengaku? Baiklah" Noval kembali menggelitiki aku, aku tak dapat menahan tawa.
Aku kembali tertawa dan berusaha menjauhkan tangannya dari tubuhku. Aku berhasil melepaskan tangannya dan membalas menggelitiki Noval.
Noval terpingkal-pingkal dan melakukan apa yang tadi ku lakukanㅡmenjauhkan tangan ku dari tubuhnya.
-To Be Continue-
Jumat, 25 April 2014
Angga, is My Name (Ep. 13)
Aku terdiam memandangi lembaran kertas kosong dari buku yang diberikan salah satu adikㅡasuh perempuan Daniel, Ressaㅡadik Daniel yang tertua, memintaku menolongnya membuat cerita untuk tugas praktek sekolah.
Entah apa yang harus ku tulis di lembaran itu. Aku bingung.
Pikiran ku masih melambung tinggi membayangkan Noval yang menangis di hadapan ku. Noval begitu menginginkan aku pulang ke rumahnya, walau aku tak ingin dan tak akan mungkin aku kembali.
Ditambah dengan desakan Daniel yang menyuruhku memaafkan Noval, juga ibu Daniel yang membuatku berpikir seperti Einstein.
Astaga, aku merasa kepalaku begitu sesak.
Sementara, Ressa meminta pertolongan ku. Astaga, Semakin sesak kepalaku.
"Hey, tidurlah..." terdengar teguran Daniel dibelakangku.
"Nanti, mungkin..."
"Apa yang sedang kau kerjakan?"
"Membuat drama untuk Ressa"
"Sudahlah, lanjutkan besok, aku risih melihat mu seperti ini" aku menoleh ke arah Daniel yang pulas terlentang.
Aku mendekatkan wajah pada Daniel hingga matanya terbuka.
"Kenapa? Kau ingin meminta jatah?" aku mengerenyitkan dahi.
"Kepala mu jatah!" aku menutup muka Daniel dengan bantal yang ada di samping ku.
"Dasar mesum!"
Aku berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Daniel yang terkekeh.
Ku putuskan untuk mencari ide di ruang makan, ditemani sebatang rokok.
Otakku belum menemukan ide cerita untuk ku tulis, aku masih memikirkan Noval.
Meski sejujurnya aku merindukan Noval, tapi aku tetap membencinya.
Biasanya, Noval akan membantu ku tanpa di minta dan biasanya kalimat Noval akan membuat otak ku berputar mencari ide.
"Kau cerdas, untuk apa kau memiliki kecerdasan jika tak di manfaat kan?" aku terdiam. Ku dengar suara Noval di telingaku.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Tak ada siapapun.
Aku menengok ke jam dinding yang berada di depan ku, ternyata sudah dini hari dan aku belum menuliskan satu huruf di lembaran buku.
"Tulis apa yang ingin kau tulis, yakin dengan apa yang ada di hatimu, jika kau ingin menulis keseharian mu, tulislah, jika kau ingin menuliskan kekesalan mu, tulislah, tidak selamanya kau mampu memendam apa yang ada di dalam hatimu tanpa mengeluarkan emosi melalui media tertentu" suara Noval kembali terdengar, aku yakin Noval ada di samping ku.
Tapi, aku tak melihat siapapun di sekitar ku.
Aku sedikit tersenyum, aku mengetahui apa yang harus ku tulis.
Terima kasih kak. Sungguh, aku berterima kasih.
-***-
"Angga... Angga, bangun" aku membuka mataku perlahan.
Kulihat ibu Daniel disamping ku, tersenyum ke arah ku.
"Cuci muka dulu sana, lalu kembali kesini dan sarapan"
Sarapan?
Aku mengusap mataku perlahan, mencoba mengembalikan pandanganku yang sedikit kabur.
"Maaf ya kak, aku merepotkan kakak" terdengar suara Ressa yang membuat ku terkesiap.
Aku terkejut saat pandangan ku sudah kembali. Seluruh keluarga Daniel dan Noval sudah duduk di kursi dengan piring dan perlengkapan sarapan yang tersedia di meja makan.
Astaga, aku tertidur.
"Kakak, kakak bobonya lucu" celoteh Johanㅡadik asuh Daniel yang termuda.
"Kakak bobo di meja makan, terus gaya bobo kakak kaya begini" lanjut Johan menirukan gaya ku yang tertidurㅡkepala menunduk, dengan tangan yang menggenggam pensil.
Anggota keluarga yang lain tertawa.
Astaga, aku malu.
"Sudah, jangan meledek kak Angga" ibu Daniel tersenyum ke arah ku.
"Sudah, cuci muka dulu" aku mengangguk dan pergi ke kamar mandi lalu kembali ke ruang makan.
Pagi itu, merupakan pagi spesial menurut ku. Aku seperti memiliki keluarga.
Aku merasa aku terlahir kembali. Aku merasa kembali memiliki ibu.
Canda tawa di ruang makan kini aku rasakan lagi.
"Dengarlah, ibu tadi malam berbicara dengan Ressa, akhir minggu nanti kita semua diundang ke sekolahannya" ucap ibu disambut sorakan girang anak-anaknya.
"Setelah itu, kita langsung jalan-jalan ke puncak!" lanjut ibu.
"Tapi, kak Noval, kak Angga sama kak Daniel ikut ga?" celetuk Johan.
Ibu Daniel terdiam, begitupun aku, Noval dan Daniel.
"Kalau ke sekolah, kak Angga, kak Noval sama kak Daniel ikut, tapi..."
"Harus ikut! Masa dede ke puncak kakaknya dede ga ikut" Johan berteriak memotong kalimat ibu.
"Liat nanti aja ya sayang" ujar Daniel.
Daniel menatap ku lalu memandang Noval.
"Sudah, selesaikan sarapan, terus semuanya berangkat sekolah" ujar ibu sebelum kami melanjutkan sarapan tanpa bersuara.
-To Be Continue-
Angga, is My Name (Ep. 12)
Noval memandang ku dengan tatapan sendu, matanya begitu merah. Wajah Noval terlihat begitu lemas.
Sebenarnya aku tak tega, tapi hatiku belum bisa memaafkan Noval.
"Maafkan kakakmu Angga..." terdengar suara Daniel dibelakangku.
"Aku tak bisa..." ucapku dengan nada yang lemah.
Aku begitu terharu, Noval menangis dihadapanku.
"Dimas... Maaf..." Noval berdiri lalu mendekatiku.
"Aku... Aku belum bisa..." suaraku bergetar.
"Separah itukah kesalahanku? Separah itukah kau membenciku?" aku diam.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku?" Noval tetap memandangku. Air matanya masih menetes.
"Dengarlah, aku berjanji padamu... Jika kau pulang, aku tak akan mengganggumu lagi... Sungguh..." Noval sedikit mendorong tubuhku, membuat tubuhku menjadi semakin dekat dengan Noval.
"Aku... Aku sudah sadar, aku sadar aku gagal... Maaf..." aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa.
Tubuhku mematung, namun sedikit bergetar.
"Ku mohon, maaf..."
Tangan Noval memelukku erat. Tercium aroma khas tubuhnya ketika kepalaku bersembunyi didadanya. Aroma khas yang membawaku kembali ke masa-masa bahagia saat pertama bertemu Noval.
"Ku mohon... Maafkan aku..."
Tangan kekarnya memelukku sembari mengusap kepalaku.
-***-
Ibu Daniel tersenyum memandangku yang duduk disampingnya, kami menghabiskan malam di teras. Berbicara mengenai apa yang aku rencanakan selanjutnya.
Aku dan ibu saling berbagi cerita mengenai masa sekolah, dan bercerita tentang Noval yang gelisah tadi siang.
Ibu berkata, jika Noval begitu sangat menyesal. Saat ibu menyuruh Noval beristirahat, Noval tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan ku dan meminta maaf.
"Legakah?" tanya ibu. Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa? Bukankah Noval sudah meminta maaf?" aku terdiam.
"Tak apa bu, hanya saja aku tak suka melihat Noval... Jika bukan Daniel yang memaksa, aku tak akan memaafkan Noval"
"Hanya itu?"
"Ya... Aku membenci Noval bu"
"Benci? Sebabnya?"
"Banyak..."
Ibu terdiam.
"Dengar, dulu ibu benci sekali pada ayah Daniel, sebabnya banyak, tapi... Ibu merasa ibu sudah dewasa, ibu juga harus bersikap dewasa, sampai akhirnya ibu mampu menghilangkan rasa benci ibu pada ayah Daniel" aku memandang wajah ibu.
"Suatu hari ayah Daniel menyarankan ibu untuk mengadopsi anak, tapi ibu tak ingin dan ibu merasa tidak sanggup, jika ibu mampu menyusui, ibu sudah mengadopsi bayi dari panti, lalu kami bertengkar hingga akhirnya ada seseorang yang sengaja meninggalkan Daniel di depan rumah dalam keadaan menangis" aku mendengarkan ibu Daniel, sempat terlihat mata ibu berkaca-kaca.
"Ibu masih ingat Daniel menangis di tinggal oleh orang tuanya yang entah kemana, lalu ayah dan ibu memutuskan untuk mengadopsi Daniel, dan pertengkaran kami selesai saat Daniel datang... Memang berbeda dengan kasus mu, tapi ibu harap, dengan paksaan Daniel juga datangnya Noval kesini meminta maaf padamu, pertengkaran kalian selesai, tak baik bertengkar dengan saudara sendiri"
"Tapi bu, aku dan Noval bukan saudara... Aku memang menganggap Noval sebagai kakak, tapi kami bukan saudara kandung" ibu terdiam.
"Kau harus buka matamu, agar kau dapat melihat apa yang ada disekitar mu, jangan berpura-pura buta..." aku diam.
Apa maksudnya?
"Ibu selalu membuka mata ibu, dan karena itu, ibu sadar, apa yang ada di hadapan ibu, hingga banyak kawan-kawan ibu yang meminta ibu mengasuh anak-anak mereka, hingga akhirnya ibu memiliki hak asuh resmi dari pengadilan... Lihat semua adik Daniel, mereka berbeda wajah, tapi mereka sanggup menerima satu dengan yang lain, karena ibu mengajarkan pada mereka untuk membuka mata..."
Aku membisu.
Angin malam menerpa wajah kami. Rambut ibu yang tergerai, melayang-layang mengikuti hembusan angin.
Apa yang dimaksud ibu? Aku belum paham.
"Bu, sudah malam, masuklah, nanti ibu sakit..." aku menoleh saat mendengar Daniel menegur.
"Ah ya, baiklah, ibu tinggal ya..." ibu Daniel bangkit lalu meninggalkan ku yang termenung.
"Apa yang kalian bicarakan?" Daniel bertanya, aku memandang wajah Daniel.
Aku tersenyum kecil.
"Banyak, sudahlah, aku ingin tidur"
Aku berdiri, lalu melangkah masuk ke dalam.
Ibu, apa yang ibu maksud?
-To Be Continue-
Senin, 21 April 2014
Angga, is My Name (Ep. 10.5)
"Warning! Melewati bagian ini tidak berpengaruh dalam cerita keseluruhan.
Bagian ini mengandung unsur sex eksplisit.
Regards.
Author"
-Ep. 10.5-
"Angga... Aku tak dapat tertidur..." bisiknya di telinga ku, aku tak meladeni Daniel dan berpura-pura sudah terlelap.
Daniel mendekap ku lebih erat, kurasakan dadanya menempel pada punggung ku.
"Angga... Aku terbayang akan kalimat mu..." bisiknya lagi. Aku masih belum meladeni Daniel.
"Dengarlah, kau berkata jika aku hanya berani mengemis tanpa berani akan resikonya... Memang apa resikonya jika aku menyukai mu" lanjutnya.
"Jujur saja, aku masih ingat saat pertama kali aku mengenal mu, aku yakin ada sesuatu yang istimewa dari dirimu"
"Tak dapatkah aku mencintai mu? Aku ingin seperti ayah dan ibu, saling mencintai hingga tua"
Aku mulai risih, aku membuka mataku, melepaskan dekapannya dan membalikan tubuhku.
"Tidurlah, cukup ibu mu yang membuat ku berpikir layaknya seorang ilmuwan, jadi ku harap kau tidur" ujarku dengan nada ketus.
"Aku tak dapat tidur... Aku... Adikku..."
Aku menarik nafas.
"Adik mu bangun? Lalu apa susahnya jika sekarang kau keluar dan meniduri adikmu?" Daniel terdiam.
"Kenapa? Kau punya tangan bukan?" Daniel masih diam.
"Sekarang kau keluar, lalu tiduri adikmu, lagipula apa yang adikmu lakukan di tengah malam seperti ini?" Daniel menahan tawa.
"Angga..."
"Apa?" ia meraih tanganku lalu dituntunnya ke selangkangannya.
Mataku terbuka lebar saat tanganku merasakan kemaluan Daniel mengeras.
"Adik ku yang ini sulit tertidur..." aku terdiam.
Mulutku membentuk lingkaran kecil. Aku baru paham adik yang Daniel maksud.
"Dengarlah, kawan ku berbicara mengenai melakukan hal itu padaku, dan... Aku ingin merasakannya..." kini, giliran ku yang menahan tawa.
"Bodoh, ku pikir adik mu yang lain, sudahlah kau harus tidur, jangan lakukan apapun pada adik mu yang sulit tertidur" ucapku sembari menarik tangan ku.
Daniel terdiam. Aku memejamkan mataku, dan berusaha tertidur. Entah apa yang Daniel lakukan, aku hanya ingin fokus tertidur.
"Angga..." Daniel merayu ku. Aku mengacuhkan Daniel.
Aku mengintip Daniel, ku lihat ia meremas-remas kemaluannya. Aku ingin tertawa. Sungguh konyol.
"Astaga, bagaimana ini..." keluh Daniel pelan.
Daniel berdiri lalu mematikan lampu kamar, dan ia kembali berbaring disampingku.
Terdengar suara berasal dari Daniel, aku membayangkan Daniel melepas kolor dan memainkan adik kecilnya, lalu aku mendengar seperti suara desahan yang tertahan.
"Kau jahat, Angga... Aku sudah menyatakan perasaaan ku padamu tapi kau tak ada respon, dan kini kau membiarkan aku sengsara dengan kemaluan yang menegang" keluhnya lagi.
"Aku sangat bersyukur saat bertemu dengan mu lagi, dan kini aku bersama mu lebih dari 1 bulan tapi kau belum menjawab pertanyaan ku" lanjutnya di selingi desahan yang tertahan.
"Dan aku sekarang merancap kemaluan ku sendiri, walaupun disamping ku ada kau, kau benar-benar jahat!" aku menahan tawa dengan mata yang masih tertutup.
Aku menahan tawaku, ia benar-benar melepas kolor dan merancap penisnya sendiri.
Keluhannya membuat ku ingin tertawa lepas.
"Tapi... Kenapa aku tetap menyukai bahkan mencintai mu, Angga!" kali ini desahannya terdengar begitu jelas.
"Ah, shit, why I'm so horny tonight!" lanjutnya dengan desahan yang panjang.
Sepertinya, ia sudah mencapai klimaks.
Aku bangkit dan terbangun, mataku mulai terbiasa melihat meski gelap. Terlihat Daniel gelisah dan menutup kemaluannya yang masih menegang.
"Angga..." ia memanggil ku dengan nada yang lemah. Sepertinya ia malu.
"Kau begitu berisik! Aku tak dapat tidur karena mu!" ujarku. Ia terdiam. Lalu ia meraba-raba kasur mencari kolor yang sudah ia lepaskan.
"Mencari apa kau?" ia terdiam.
Aku mendekati Daniel yang berbaring, dengan tangan kiri yang mencari celana dan tangan satunya yang menutup kemaluanㅡwalau masih terlihat bagian batang kemaluan yang tidak tertutup.
Aku terdiam, lalu aku berdiri dan duduk diperutnya.
"Apa yang kau cari?" kedua tangan Daniel diam.
"Kenapa kau begitu berisik! Aku ingin tidur!" bentak ku tapi tetap dengan suara yang pelan.
"Jika kau benar-benar ingin melakukannya denganku, lakukanlah, toh aku tak akan menolak!" ucapku.
Daniel terdiam, lalu ia membangkitkan diri dengan lengan yang menahan tubuhnya.
"Benarkah?"
"Tidak, aku hanya bercanda" canda ku sembari berdiri dari perutnya dan berbaring di sampingnya.
"Ah, candaan mu keterlaluan" ia kembali merebahkan diri.
Aku tertawa kecil.
"Lakukanlah jika kau ingin, karena aku juga menyukai mu" ucapku.
-***-
Daniel menindih tubuhku sembari bibirnya menciumku. Ciumannya ganas, terkadang ia menghisap dan mengigit bibirku.
Lidahnya menyentuh langit-langit mulutku sementara tangannya menggenggam kepalaku, menahan kepalaku agar tidak bergerak.
Aku memeluknya, mengusap punggungnya.
Kemaluannya menekan kemaluanku yang masih terbalut celana dalam.
Puas menciumku, Daniel mengecupi leher dan menghisap leherku seperti drakulaㅡaku yakin, ia sedang membuat tanda merah dileher.
Tangannya masuk ke dalam bajuku, meraba lalu mengusap dadaku. Jarinya memilin, dan mencubit pelan kedua putingku.
Aku mengerang dan mendesah, perlakuannya membuatku ikut bernafsu.
Aku meremas rambutnya saat ia menjilat telinga dan mengecupi pipiku.
"Daniel..." erangku ditelinganya.
-***-
"Kau yakin?" tanyanya sembari mengangkat tinggi kakiku.
"Ya, lakukan dengan cepat!"
Kepala menyusup disela pantatku, membasahi lubang anusku dengan jilatan lidahnya. Terasa geli dan basah di pantatku.
Lidahnya menusuk-nusuk anusku, sementara tangannya meremas kemaluanku dan dikocoknya perlahan. Telunjuk Daniel bermain dilubang kencingku, mengilik dan mengelus precum yang membasahi kepala kemaluanku.
"Kau siap?"
"Ya"
Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit pada anusku.
Aku merasa, kemaluan Daniel benar-benar merobek anusku dan mengisi penuh perutku saat kepala kemaluannya masuk.
Aku mengerang menahan sakit.
"Kau tak apa?" aku terus mengerang.
"Aku tak tega..." dicabut kemaluannya lalu kembali menindihku.
"Dengar, aku tak akan melanjutkanya jika itu membuatmu sakit" bisiknya.
Daniel menciumku lagi, kemaluannya menindihku yang sudah benar-benar tegang.
"Lanjutkan... Tak apa, aku hanya belum pernah melakukan ini..." balasku.
Daniel kembali bangkit lalu mencoba lagi, hingga akhirnya ia berhasil menembus anus ku.
Aku mengerang.
Daniel belum bergerak, ia menciumi ku sementara pinggul Daniel berusaha bergerak perlahan.
Kami mendesah bersamaan.
Aku terus-menerus mengusap punggung Daniel, sementara Daniel menggerakan pinggulnya maju-mundur sembari menindihku.
Kemaluanku terjepit oleh perutnya yang terbentuk, membuat sensasi tersendiri yang aku rasakan.
Perlahan namun pasti, Daniel menggenjot tubuhku sembari menciumiku ganas.
Erangan dan desahan kami saling menyahut, ditengah goyangan pinggulnya.
Puas menciumku, ia berdiri sembari meloco penisku dengan tempo lambat.
Entah apa yang Daniel lakukan, aku merasa begitu merangsang walau masih terasa sakit di anusku.
Daniel mengangkat tinggi-tinggi kakiku dan ditaruh di pundaknya, sementara tangannya menggenggam paha ku.
"Aku... Sebentar lagi sampai..."
Aku tak menjawabnya, ia menghentikan goyangan lalu fokus pada kemaluanku.
Aku mendesah, nafasku memberat saat tangan Daniel mengocok kemaluanku dengan cepat.
Mungkin, ia merasa jika kemaluanku menggembung dan mengeras. Kocokan tangannya semakin cepat hingga akhirnya aku mencapai klimaks.
"Giliran ku" ujarnya, setelah aku berhasil mengeluarkan sperma.
Tak memperdulikan aku yang baru saja sampai, Daniel menggoyang pinggulnya cepat dan tak beraturan.
Aku dapat merasa kemaluan Daniel mengembang dan berkedut dalam anusku.
"Ah, aku sampai!" erang Daniel.
Daniel mencabut kemaluannya lalu mengocok di atas perutku, tak berapa lama sperma Daniel keluar dan membasahi dada, dan perutku sebagian mengenai wajah ku.
Daniel menindih tubuhku, sembari menciumku.
"Terima kasih, aku menyayangi mu..."
-To Be Continue-
Angga is My Name (Ep. 11)
"Pulanglah..." aku membalikan tubuhku saat mendengar seseorang berbicara dibelakang ku.
Mataku terbuka lebar melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah kusut, dan kumis juga jambang yang tumbuh lebat diwajahnya berdiri sembari memandang ku sendu.
"Ku mohon... Pulang... Aku memohon padamu..." ucapnya lagi.
Aku berdiri mematung melihat orang yang berdiri dihadapan ku. Mulutku terkunci rapat, tubuhku lemas.
"Dimas... Kakak mohon... Pulang..."
-***-
Mata dan mulutku masih tak dapat menutup, melihat orang iniㅡyang kutemui tadi duduk di hadapan ku, Daniel dan ibunya memohon ku pulang.
Rasa penasaran ku muncul, darimana orang ini mengetahui keberadaan ku.
"De, benar tujuan mu hanya menjemput Angga?" ibu Daniel bertanya pada orang itu, orang itu mengangguk.
"Lalu, darimana kau mengetahui tempat ini?" ia tak menjawab.
"Sebenarnya, ada ikatan apa kamu dengan Angga?" ia terdiam.
"Bu... Sudahlah, biarkan orang ini beristirahat, mungkin ia kelelahan" Daniel berbicara, aku terdiam. Aku masih memandang wajah orang yang juga menatap ke arah ku.
"Ah ya, benar juga, mari de Noval, lebih baik beristirahat dulu..." ibu Daniel mengajak Noval menuju kamar tamu disamping kamar Daniel.
Noval menurut lalu mengikuti ibu Daniel.
"Kau memberitahu siapa saat kau menelepon?" bentak ku pada Daniel setelah Noval pergi.
"Tenangkan dirimu, jangan emosi"
"Jelas aku emosi, darimana Noval mengetahui keberadaan ku!" aku membentak Daniel.
Emosi ku membludak.
"Hey, jangan berteriak, malu jika Noval mendengar"
"Biarkan, aku tak perduli!" aku berdiri lalu melangkah ke kamar.
Aku duduk di atas kusen jendela, dan memutuskan untuk menghisap sebatang rokok.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Darimana Noval mengetahui keberadaan ku? Lalu, kenapa ia tetap ngotot menyuruh ku pulang?
Baru 2 hari aku disini, tapi Noval sudah menyusul. Darimana ia mendapat info keberadaan ku?
Astaga, kepalaku sakit memikirkan hal ini.
"Hey, sudahlah" aku menengok kearah Daniel yang mendekat.
"Sudahlah apa?" tanyaku ketus, aku kembali memandang halaman samping sembari merokok.
"Sudahlah... Jangan terlalu pusing memikirkan hal ini" ujar Daniel.
Kami terdiam.
Aku memainkan kaki ku yang keluar jendela, dengan posisi duduk membelakangi Daniel.
Kurasakan tangan Daniel melingkar dipinggang ku, dan pundak kiri ku terasa berat saat kepala Daniel menyandar.
"Marahkah kau padaku?" tanyanya lembut.
"Tidak, aku hanya kesal"
"Kenapa?"
"Pada siapa kau menelepon saat dibus? Kenapa harus menggunakan bahasa cina?"
"Kawanku, hanya kawanku"
"Lalu jika benar kawanmu, kenapa harus menggunakan bahasa asing?"
"Angga, hentikanlah, kenapa kau begitu curiga padaku?"
"Aku tidak curiga padamu, aku hanya penasaran apa yang membuat Noval mengetahui tempat ini. Kau bilang rumah mu aman, dan tak ada orang yang akan mencari ku, tapi kenyataannya?" Daniel diam.
Aku membuang batangan rokok dan melepaskan pelukan Daniel.
"Sudahlah, aku tak ingin membahas ini" aku menuruni jendela lalu melangkah ke luar rumah.
Aku duduk di kursi teras rumah, yang menghadap jalanan.
"Dimas..." aku menoleh sesaat mendengar namaku dipanggil, lalu kembali membuang muka ke hadapan ku.
"Cari siapa?" tanyaku ketus.
Kami terdiam.
Aku lupa jika Noval masih berada di sini.
"Dimas, ku mohon, pulang" aku membisu, aku tak ingin meladeni Noval.
"Maafkan aku yang berkata seenaknya padamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu..." aku tetap diam.
"Dimas..." aku membuka mata lebar-lebar. Noval bersujud di depan ku.
"Sedang apa kau? Menjijikan!" aku bangkit dari duduk lalu meninggalkan Noval yang masih bersujud.
"Hey, kau tak boleh seperti itu" aku menghentikan langkah saat Daniel menegur ku dari dalam ruang tamu.
Aku tak sadar jika Daniel mengikuti ku.
"Kau membela orang itu?"
"Tidak, hanya saja, maafkan dia"
"Tidak, tidak ingin!"
"Ada sesuatu yang kau sulit maafkan darinya?" aku mengangguk.
"Lalu, bagaimana jika kau melakukan hal yang membuat ku sakit hati? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan orang itu? Bersujud di hadapan ku, sembari memohon maaf, dan aku tidak memaafkan mu, apa kau tetap bersujud seperti orang itu?" aku diam.
Aku menengok ke arah teras, ku lihat Noval masih bersujud.
"Berikanlah apa yang dia inginkan, aku yakin kaupun berharap kata maaf keluar dari mulutku jika kau melakukan hal yang sama seperti Noval" aku menarik nafas panjang.
Daniel, kenapa kau sangat mengesalkan!
"Aku memaafkan orang itu karena mu, ingat itu"
"Karena ku? Lebih baik tak usah, kau memaksakan diri" Daniel berdiri, lalu mendekati ku.
"Dengarlah, Angga... Bayangkan jika kau atau aku ada di posisi orang itu, pasti sangat tidak nyaman... Jadi, buka hati mu, maafkan orang itu" aku menatap mata Daniel.
"Maafkan dia, agar dia tenang... Menurutku cukup balasan dari mu yang menampar pipi orang itu"
Aku menghela nafas ku.
"Maafkanlah..." ku tatap mata Daniel sekali lagi.
Daniel tersenyum, lalu ia mengusap kepalaku pelan.
"Sana, berikan kesempatan untuknya" aku melangkah lesu mendekati Noval.
"Bangunlah!" ucapku ketus.
"Hey, berdiri! Jangan seperti ini!" lanjutku.
Noval diam.
"Hey! Bangun!" aku menendang Noval.
Noval tetap diam.
"Jangan begitu..." terdengar Daniel menegur ku dari arah belakang.
"Dia tidak ingin berdiri, mencari perhatian sekali! Aku benci!"
"Tidak perlu kasar..."
Argh! Daniel kau benar-benar menyebalkan.
"Kak..." panggil ku dengan lembut. Aku terpaksa melakukan hal ini.
Jika bukan Daniel yang memaksa ku, akan ku tendang hingga mati orang yang bersujud di hadapan ku.
"Kak, bangunlah..." Noval mengangkat kepalanya dan memandang ku.
Matanya memerah, terlihat jelas air matanya membasahi pipi.
Aku tak dapat berkata-kata, aku sedikit terharu melihat Noval seperti ini.
Wajah tampannya hilang termakan tangisannya sendiri. Jambang, kumis dan janggut Noval basah. Noval tersenyum ke arahku, di tengah tangisan.
"Dimas... Maafkan kakak..."
-To Be Continue Soon-