Aku terdiam memandangi lembaran kertas kosong dari buku yang diberikan salah satu adikㅡasuh perempuan Daniel, Ressaㅡadik Daniel yang tertua, memintaku menolongnya membuat cerita untuk tugas praktek sekolah.
Entah apa yang harus ku tulis di lembaran itu. Aku bingung.
Pikiran ku masih melambung tinggi membayangkan Noval yang menangis di hadapan ku. Noval begitu menginginkan aku pulang ke rumahnya, walau aku tak ingin dan tak akan mungkin aku kembali.
Ditambah dengan desakan Daniel yang menyuruhku memaafkan Noval, juga ibu Daniel yang membuatku berpikir seperti Einstein.
Astaga, aku merasa kepalaku begitu sesak.
Sementara, Ressa meminta pertolongan ku. Astaga, Semakin sesak kepalaku.
"Hey, tidurlah..." terdengar teguran Daniel dibelakangku.
"Nanti, mungkin..."
"Apa yang sedang kau kerjakan?"
"Membuat drama untuk Ressa"
"Sudahlah, lanjutkan besok, aku risih melihat mu seperti ini" aku menoleh ke arah Daniel yang pulas terlentang.
Aku mendekatkan wajah pada Daniel hingga matanya terbuka.
"Kenapa? Kau ingin meminta jatah?" aku mengerenyitkan dahi.
"Kepala mu jatah!" aku menutup muka Daniel dengan bantal yang ada di samping ku.
"Dasar mesum!"
Aku berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Daniel yang terkekeh.
Ku putuskan untuk mencari ide di ruang makan, ditemani sebatang rokok.
Otakku belum menemukan ide cerita untuk ku tulis, aku masih memikirkan Noval.
Meski sejujurnya aku merindukan Noval, tapi aku tetap membencinya.
Biasanya, Noval akan membantu ku tanpa di minta dan biasanya kalimat Noval akan membuat otak ku berputar mencari ide.
"Kau cerdas, untuk apa kau memiliki kecerdasan jika tak di manfaat kan?" aku terdiam. Ku dengar suara Noval di telingaku.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Tak ada siapapun.
Aku menengok ke jam dinding yang berada di depan ku, ternyata sudah dini hari dan aku belum menuliskan satu huruf di lembaran buku.
"Tulis apa yang ingin kau tulis, yakin dengan apa yang ada di hatimu, jika kau ingin menulis keseharian mu, tulislah, jika kau ingin menuliskan kekesalan mu, tulislah, tidak selamanya kau mampu memendam apa yang ada di dalam hatimu tanpa mengeluarkan emosi melalui media tertentu" suara Noval kembali terdengar, aku yakin Noval ada di samping ku.
Tapi, aku tak melihat siapapun di sekitar ku.
Aku sedikit tersenyum, aku mengetahui apa yang harus ku tulis.
Terima kasih kak. Sungguh, aku berterima kasih.
-***-
"Angga... Angga, bangun" aku membuka mataku perlahan.
Kulihat ibu Daniel disamping ku, tersenyum ke arah ku.
"Cuci muka dulu sana, lalu kembali kesini dan sarapan"
Sarapan?
Aku mengusap mataku perlahan, mencoba mengembalikan pandanganku yang sedikit kabur.
"Maaf ya kak, aku merepotkan kakak" terdengar suara Ressa yang membuat ku terkesiap.
Aku terkejut saat pandangan ku sudah kembali. Seluruh keluarga Daniel dan Noval sudah duduk di kursi dengan piring dan perlengkapan sarapan yang tersedia di meja makan.
Astaga, aku tertidur.
"Kakak, kakak bobonya lucu" celoteh Johanㅡadik asuh Daniel yang termuda.
"Kakak bobo di meja makan, terus gaya bobo kakak kaya begini" lanjut Johan menirukan gaya ku yang tertidurㅡkepala menunduk, dengan tangan yang menggenggam pensil.
Anggota keluarga yang lain tertawa.
Astaga, aku malu.
"Sudah, jangan meledek kak Angga" ibu Daniel tersenyum ke arah ku.
"Sudah, cuci muka dulu" aku mengangguk dan pergi ke kamar mandi lalu kembali ke ruang makan.
Pagi itu, merupakan pagi spesial menurut ku. Aku seperti memiliki keluarga.
Aku merasa aku terlahir kembali. Aku merasa kembali memiliki ibu.
Canda tawa di ruang makan kini aku rasakan lagi.
"Dengarlah, ibu tadi malam berbicara dengan Ressa, akhir minggu nanti kita semua diundang ke sekolahannya" ucap ibu disambut sorakan girang anak-anaknya.
"Setelah itu, kita langsung jalan-jalan ke puncak!" lanjut ibu.
"Tapi, kak Noval, kak Angga sama kak Daniel ikut ga?" celetuk Johan.
Ibu Daniel terdiam, begitupun aku, Noval dan Daniel.
"Kalau ke sekolah, kak Angga, kak Noval sama kak Daniel ikut, tapi..."
"Harus ikut! Masa dede ke puncak kakaknya dede ga ikut" Johan berteriak memotong kalimat ibu.
"Liat nanti aja ya sayang" ujar Daniel.
Daniel menatap ku lalu memandang Noval.
"Sudah, selesaikan sarapan, terus semuanya berangkat sekolah" ujar ibu sebelum kami melanjutkan sarapan tanpa bersuara.
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar