Jumat, 11 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 4)

Terdengar suara adzan subuh berkumandang, sementara aku tetap melangkah tanpa mengetahui kemana arah tujuan ku.

Aku terus melangkah sembari merokok dan merenungkan apa yang telah ku lakukan tadi.

Aku puas, sangat puas. Aku dapat melampiaskan amarah ku pada Noval. Meski, terselip rasa menyesal di dalam hatiku.

Aku masih tak menduga jika ia menjadi seperti ini. Noval yang ku kenal, menjadi orang lain.

"Pulanglah" terdengar nada yang sangat lembut dari belakang ku.

Aku menghentikan langkah dan membalikan tubuh. Mataku terbelalak melihat seseorang yang berdiri dan terengah-engah di hadapan ku. Melalui cahaya temaram lampu penerangan jalan, dapat kulihat wajah Noval.

Aku membuang batangan rokok ku, lalu memandangnya.

Sepertinya Noval berlari mengejar ku, terlihat pada kausnya yang basah akan keringat.

Noval membalas pandanganku dengan tatapan sendu.

"Ku mohon, pulanglah" tangan Noval mengangkat lalu meraih telapak tangan ku dan menggenggamnya erat.

Ku lihat wajahnya yang basah karena aliran keringat, terlihat jelas pula bekas merah tamparan tanganku pada wajahnya.

"Maaf..." ujarnya pelan nan lembut.

"Untuk apa?"

"Untuk semua yang ku lakukan padamu"

Aku tersenyum kecil.

"Dengar, kak... Kau lebih dewasa dariku... Seharusnya kau tak perlu mengejar ku hanya untuk meminta maaf"

"Angga..."

"Dengarkan aku, akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena menampar pipi mu... Dan berhenti mengejar ku, kak" aku melepas genggaman tangannya, dan kembali berjalan.

Aku tak menghiraukan Noval yang terus-menerus memanggil namaku dan mengejar ku.

Noval berlari lalu menghalang jalan ku.

"Kak, apa yang kau inginkan dariku?"

Ia terdiam.

"Kurang puaskah kau memarahi ku? Atau masih ada sifat kekanak-kanakan ku yang masih kau pendam?"

Noval menggelengkan kepala, lalu mendekati ku.

"Maaf... Maaf..."

"Kak, sebanyak apapun kau meminta maaf, sesering apapun kau mengucapkan kata maaf, aku tak akan kembali ke tempat mu..."

"Angga, maafkan aku... Maafkan aku yang berubah"

"Ah, kau sadar kau berubah?" lagi, ia terdiam.

"Kau benar-benar sudah sadar? Atau kau masih ingin memaki dan mencaci ku?"

Noval menarik nafas, lalu perlahan mendekati aku.

Aku menatap matanya yang memerah. Ia berkaca-kaca.

"Angga, ku mohon maafkan aku..." ucapnya, lalu ia memeluk tubuh ku erat. Sangat erat.

Aku dapat mencium aroma keringatnya, wajahku menempel pada kausnya yang basah. Noval benar-benar berlari mengejar ku.

"Aku hanya... Aku hanya menyayangi mu... Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu" ujarnya, pelukannya semakin erat membuatku sedikit sulit bernafas.

"Maafkan aku yang berlebihan padamu... Hanya saja... Hanya saja aku telah berjanji pada ibu untuk menjaga mu..."

Apa?

Aku melepas pelukannya, lalu memandang tajam wajahnya.

"Ibu? Ibu siapa?" ia terdiam.

"Jawab aku, ibu siapa?" ia masih terdiam, ia menghapus air matanya lalu memandang ku dengan mata yang sembap.

"Sudahlah kak, berhenti mengarang cerita... Yang jelas aku tak akan pulang ke tempat mu... Selamat tinggal..."

Aku melangkahkan kaki, pergi meninggalkan laki-laki bertubuh tinggi itu yang menangis.

"Jangan cari aku..." ujarku sebelum benar-benar menghilang darinya.

Ku biarkan laki-laki tampan itu berdiri, menangisi aku.

-***-

Pagi ini tak seperti pagi biasanya, Matahari kurang bersemangat menyinari bumi, akan tetapi jalan raya tetap bising dengan suara klakson dan teriakan kernet angkutan umum.

Aku masih melangkah, walau sebenarnya aku sudah merasa lelah. Aku tak sanggup lagi berjalan.

Pikiran ku melayang jauh. Aku membayangkan jika aku terpaksa pulang ke kampung halaman dengan sisa tabungan yang ku punya, tetapi apa yang akan ku lakukan disana.

Aku tak memiliki keahlian. Aku hanya dapat menari, hanya itu. Sedangkan di kampung halaman ku, tak akan mungkin ada bar malam yang menyajikan tarian striptease khusus para laki-laki menyimpang.

Lagipula, jikapun ya aku pulang, aku tak memiliki tempat tinggal. Aku tak punya siapa-siapa, dan apa-apa.

Aku menghentikan langkah, ku putuskan untuk beristirahat di sebuah warung rokok tepi jalan. Aku membeli sebungkus rokok dan meminta air putih hangat.

Aku begitu kelelahan. Ingin rasanya aku merebahkan diri meluruskan laki di atas kasus yang empuk dan nyaman.

Terlintas sejenak kalimat Noval yang menjadi pertanyaan besar untukku.

Siapa 'ibu' yang Noval maksud? Ibuku? Atau ibunya?

Selama ini aku tak pernah dikenalkan Noval pada keluarganya, dirumahnya pun tak ada foto keluarga Noval.

Siapa yang dia maksud? Kenapa ia harus berjanji pada 'ibu' itu? Apa yang Noval dapatkan setelah berjanji pada orang itu?

Astaga, aku pusing.

"Akhirnya!" aku menoleh sesaat mendengar seseorang berbicara disamping ku.

Terlihat seseorang yang seumuran denganku, tersenyum dan tertawa berbincang di telepon.

Aku mengamati orang itu, aku merasa kenal dengan orang yang berdiri di sampingku.

Rambut ikal orang itu mengingatkan ku pada seseorang. Gaya bicara dan gesture orang itu sama seperti orang yang dulu pernah menemani hidupku.

Mataku tak berkedip mengamati orang yang berdiri di samping ku.

Ketika ia menyudahi panggilan, orang itu menengok ke arah ku.

Mataku hampir lepas saat melihat orang yang tadi ikut membelalakan matanya memandang ku.

"Angga!"

-To Be Continue Soon-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar