Rabu, 16 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 7)

Daniel sama sekali belum berubah, ia masih tetap Daniel yang dulu ku kenal. Sikap dan sifatnya masih sama sebelum ia menghilang, akupun berharap perasaannya masih sama padaku.

Meski aku dan Daniel tak pernah ada ikatan hubungan, ia memperlakukanku layaknya seorang kekasihㅡwalau ia mengaku memperlakukan ku seperti adiknya sendiri.

Sejauh aku dekat dengannya selama ini, Daniel memang begitu baik. Bahkan lebih baik dari Noval.

Daniel memang orang yang sangat open minded dan mudah bergaul, ia berteman dengan siapa saja dari kaum manapun.

Daniel menerima semua orang yang dekat dengannya dan memaklumi mereka yang telah memilih jalannya masing-masing.

Aku teringat ketika ia mengajakku berkumpul bersama kawan-kawannya yang normal dan straight, bahkan aku mengetahui salah satu dari kawan-kawannya phobia dengan kaum menyimpang.

Tapi, Daniel memberikan pengertian pada kawan-kawannya walau diantara mereka masih tetap belum bisa menerima kehadiran kaum menyimpang.

Aku pula terkadang sakit hati dengannya yang suka berbicara asal. Ia pernah bersumpah jika ia tak akan menjadi homoseksual, dan jika ia menjadi salah satu dari kaum itu, Daniel akan mengejarku hingga aku menerimanya.

Sumpahannya memang sangat menjanjikan untukku yang terlahir sebagai kaum homo, tapi aku berharap ia tak menjadi salah satu dari kaumku dan tetap normal.

Pernah ia bertanya padaku kenapa aku menjadi seperti ini, aku menjawabnya dengan penjelasan yang mendetail.

Ia hanya mengangguk dan mengiyakan semua kalimat ku.

Namun aku tetap bangga padanya, Daniel kini sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri dengan penghasilan di atas pegawai negeri.

"Jangan melamun, kau harus membantu ku mengantar pesanan" aku terbangun dari lamunan ku ketika ia menepuk pundak ku.

"Apa yang kau bayangkan?" aku menggelengkan kepala.

Ku lihat ia mengambil posisi menyetir dan mulai menyalakan mesin mobil.

"Sekarang kita kemana?" tanyaku.

"Kita harus ke pusat kota, lalu kembali berjualan di monumen nasional" ujarnya tetap fokus menyetir.

"Kenapa?" lanjutnya.

"Tidak, hanya saja kau sukses sekarang" ia terkekeh.

"Kau memiliki usaha sendiri, kendaraan pribadi dan penghasilan yang melebihi dari cukup"

"Jangan memuji ku, aku belum sukses, aku masih menyewa rumah kecil di kota ini"

"Tapi, walau kau menyewa rumah, sebenarnya kau bisa membeli rumah dan kau dapat menempati rumah itu sendirian"

"Hentikan pujian mu, menurut ku aku masih belum sukses..." ucapnya, dan tetap fokus menyetir.

Kami berdua terdiam, hingga akhirnya sampai ke sebuah komplek perumahan untuk mengantarkan jajanan yang dipesan oleh pelanggan.

Setelah transaksi selesai, Daniel kembali menjalankan mobil ke tujuan selanjutnya. Monumen nasional.

Daniel berhenti di tepi jalan yang dekat pintu masuk monumen nasional, dan kembali membuka usahanya.

Usaha kecil yang sangat menguntungkan menurutku.

Daniel menjual jajanan dari berbagai negara yang dibuat secara mendadak, dan ia juga menjual beberapa fast food.

Tetapi peminat jajanan yang dijual Daniel begitu banyak, aku kebingungan saat melayani pembeli. Untungnya, Daniel berjualan menggunakan mobil yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, agar memudahkan aku melayani pelanggan.

"Sayang!" aku menengok sesaat mendengar teriakan seseorang. Mataku terbelalak melihat seorang transgenderㅡlengkap dengan make up tebal dan pakaian modis untuk para remaja, berjalan mendekati Daniel yang kebetulan berada di luar mobil.

Aku hanya dapat menahan tawa, agar tak terlihat mengejeknya. Orang itu memiliki kepercayaan diri yang sangat dahsyat.

"Sayang, kamu kemarin ga jualan disini ya?" ujar orang itu manja.

"Ya, kebetulan ketemu cem-ceman waktu sekolah dulu" jawab Daniel santai.

"Mana? Cantik siapa? Aku atau dia"

Astaga, orang itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi, ku acungi jempol untuknya. Ia berani menunjukan ke-eksistensi-an dirinya di hadapan publik, sedangkan beberapa kawanku yang seperti dia memilih sembunyi dan menjauh dari keramaian.

-***-

Hari mulai gelap, dan angin malam berhembus kencang. Daniel memutuskan untuk menutup usahanya dan pulang.

Aku menurutinya, karena itu yang bisa ku lakukan.

Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas mandi. Sedangkan aku menata kembali barang-barang yang berantakan di dalam mobil.

Aku keluar dari mobil setelah selesai membereskan kotoran dari dalam mobil.

Ku putuskan untuk beristirahat di teras rumah, menikmati semilir angin malam yang berhembus menerpa wajahku.

Sembari memandangi langit malam yang cerah dengan kerlipan bintang, aku terduduk mensilakan kaki sambil merokok.

Malam yang indah.

"Angga..."

Terdengar suara yang memanggil namaku, aku menoleh mencari sumber suara ke arah kanan dan kiri ku.

"Angga..."

Suara itu kembali terdengar, suara yang ku kenal dan aku yakin itu bukan suara Daniel.

Terlintas bayangan wajah Noval di langit malam ketika aku menengadahkan muka ke langit. Terlukis jelas wajah tampannya yang menangis mencariku.

Aku terdiam, aku sedikit menyesal dan kasihan padanya. Namun, keputusan ku sudah bulat dan aku tak ingin kembali lagi ke tempat ituㅡtempat tinggal Noval.

-To Be Continue Soon-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar