Rabu, 16 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 9)

"Kak Daniel!" terdengar teriakan yang memanggil Daniel.

Aku tersenyum kecil melihat sekumpulan remaja yang berlari-lari mendekati aku dan Daniel yang berjalan kaki dari jalan raya.

Kami sampai di terminal pagi tadi, dan Daniel langsung mengajakku menaiki taksi yang tersedia di sana lalu turun tepat di depan kediaman orang tua asuh Daniel. Sejak tadi malam, aku dan Daniel belum berbicara sama sekali.

Aku masih canggung membuka percakapan dengannya, Daniel membuatku terdiam selama perjalanan.

Kumpulan remaja itu langsung memeluk Daniel, dan ada beberapa diantaranya tersenyum, menjabat tanganku, dan memelukku.

"Kakak! Aku kangen!" aku terbangun dari lamunan sesaat ku ketika mendengar rengekan bocah yang meminta dipelukㅡyang paling kecil dikumpulan itu.

Daniel merunduk lalu memeluk tubuh anak itu dan mencium pipinya.

"Kangen ya sama kakak? Kangen banget atau kangen aja?" canda Daniel yang sembari menggendong adik bungsunya.

Kami bersama-sama berjalan menuju sebuah rumah besar yang berada didepanku. Aku berjalan di belakang Daniel dan adik-adiknya, terlihat mereka begitu bahagia.

Aku menghentikan langkah sebentar, mengedarkan pandangan ku setelah memasuki pagar rumah.

Rumah besar yang sangat sederhana. Tanaman hias tertata rapih dalam pot di teras rumah, tanaman-tanaman yang lain pula terawat di halaman.

Rumah yang luas.

Ku lihat ada beberapa mobilㅡkeluaran terbaru yang terparkir disebelah timur, dan motor yang berjejer rapih disampingnya.

"Welcome home" terdengar nada rendah seseorang yang menyambut kedatangan kami.

Adik-adik Daniel yang tadi mengerubungi kami, berlari masuk ke dalam rumah.

Kulihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju berlengan panjang dan rok panjang berwarna gelap, berjalan ke arah kami.

Daniel langsung memeluk wanita itu dan mencium pipinya.

Ternyata orang itu, ibu asuhnya.

Ibu Daniel sangat cantik, rambutnya tergerai indah terhembus angin. Wajahnya mirip dengan Daniel, disaat tersenyum matanya juga akan ikut tersenyumㅡsama seperti Daniel. Muncul rasa tak percaya jika Daniel adalah anak asuh dari ibunya.

"Kenalkan bu, orang ini Angga"  ujar Daniel.

Ibu Daniel mendekatiku yang merunduk sedikit, tersenyum dan bersalaman.

"Akhirnya, aku bertemu dengan mu, nak" ucap ibu Daniel lembut, aku masih tersenyum kaku.

"Mari masuk, anggap ini rumah sendiri" lanjutnya.

"Ah, iya bu" ucapku.

Aku membiarkan mereka berbincang-bincang sembari berlalu meninggalkan aku. Aku masih terpesona dengan rumah besar namun sederhana yang ada dihadapan ku.

Rumah yang masih menggunakan arsitektur jaman dahulu dengan koridor panjang dan teras halaman yang sangat luas, membuat ku tak dapat menutup mata.

Pilar-pilar pondasi yang tinggi, membuat bangunan ini terlihat sangat kokoh. Dipadu dengan cat tembok yang berwarna kalem, dan gradasi warna glamor semakin membuat rumah ini terlihat mewah.

Aku berjalan sedikit berlari, mengejar Daniel dan ibunya. Sesaat aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, adik-adik Daniel langsung bersorak, berteriak mengejek Daniel.

Daniel membalas ejekan adiknya lalu bersenda-gurau tanpa memperdulikan aku. Puas melepas rindu dengan adik-adiknya, Daniel mengenalkan aku pada semua adiknyaㅡyang ku hitung berjumlah 6.

"Ini ya, ini pacarnya kakak?" aku membelalakan mataku.

Adik bungsu Daniel membuat aku berdiri mematung.

"Ya sayang, jadi nanti kasih tau yang lain jangan nakal sama pacarnya kakak!" jawab Daniel dengan sedikit bercanda.

Astaga. Aku berharap, telingaku sudah tak berfungsi dengan benar.

Semoga aku salah dengar.

Ibu Daniel memanggil ku dan Daniel yang bercanda di ruang keluarga, dan menyuruh kami bergegas masuk ke dalam kamar.

Aku sangat yakin, kamar ini adalah kamar Daniel. Tercium aroma khas keringat tubuh Daniel.

"Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau keluar?" aku terdiam saat ibunya menginterogasi ku dikamar Danielㅡhanya aku, Daniel dan ibunya.

Aku memandang wajah Daniel yang menahan senyum.

"Kamu penari, kan?" aku mengangguk pelan.

Ibu Daniel duduk di depanku, lalu meraih tanganku untuk duduk disampingnya. Sedangkan Daniel merapihkan sisi lain kamar.

"Jangan malu, ibu juga dulu seperti kamu, sudah berapa lama jadi penari striptease?" aku semakin membisu, tubuhku kaku.

"Sudahlah ibu, jangan tanya Angga yang tidak-tidak..." ucap Daniel yang sibuk membenahi kamar.

"Ah ya, maaf maaf... Ibu cuma terlalu senang melihat Angga ada di depan ibu" ibu Daniel tersenyum.

"Sudahlah, kalian harus beristirahat, nanti kita makan malam bersama" lanjutnya sebelum sang ibu melangkah pergi meninggalkan aku dan Daniel.

-***-

"Boleh aku merokok?" tanyaku memandangi Daniel yang duduk di jendela kamarnya. Daniel tersenyum pelan.

"Kalimat pertama yang kau ucapkan padaku setelah aku menyatakan perasaan ku..." Daniel terkekeh.

Aku terdiam.

Aku berusaha tak memperdulikan kalimat Daniel, aku mengambil rokok dan menyulut perlahan.

"Dimas yang dulu aku kenal belum berubah, walau ia sudah berganti nama dengan nama yang aku berikan" aku masih terdiam.

"Konyol, aku seperti mengemis... Tapi, aku menikmatinya... Dan kau, seperti membalas dendam padaku karena aku meninggalkan mu" lanjut Daniel.

"Andai kau mengetahui alasan ku..."

"Berhentilah berbicara, dan cium aku sekarang jika kau memang mencintai ku" aku memotong kalimatnya tanpa memandang wajah Daniel.

Daniel diam tak bersuara.

"Lihat, kau berani mengemis tapi kau tak berani akan resikonya..." ucap ku.

Daniel membisu.

Siang itu, sinar matahari masuk ke dalam kamar yang redup. Walau aku tak memandang wajah Daniel secara langsung, aku dapat melihat jelas wajah Daniel yang memandang ku penuh rasa penasaran.

"Apa yang kau lihat?" tanyaku ketus.

"Dirimu" aku meringis, sembari masih menikmati batangan rokok yang ku hisap.

"Sudahlah, kau harus beristirahat... Tidurlah, jika sudah waktunya makan malam, aku akan membangunkan mu" ujar ku.

Daniel turun dari jendela, menutup kedua daun jendelaㅡnamun sengaja dibiarkan terbuka sedikit dan berjalan ke arahku.

Ia membuka bajunya, lalu merebahkan diri disampingku.

"Baiklah, aku tidur... Jangan mengangguku atau mengerjaiku" ucapnya sebelum memejamkan mata.

Aku terdiam.

Sembari menghisap rokok, aku memandangi wajah Daniel yang terlelap. Daniel terlihat seperti malaikatㅡmenurut ku jika ia terlelap seperti ini.

Wajah oriental kental membuatnya semakin menarik disaat ia memejamkan mata.

Daniel begitu tampan.

Aku berdiam diri selama setengah jam, membayangkan hal yang seharusnya tak aku bayangkan. Rokok yang ku hisap pula sudah habis dari beberapa menit yang lalu.

Ku putuskan untuk ikut beristirahat, aku mengambil ancang-ancang untuk tidur.

Aku merebahkan diri disamping Daniel, dengan posisi memandangi wajah Daniel.

Aku tersenyum kecil. Tanganku menyentuh hidung Daniel dan mengusap pelan pipinya.

Ada rasa bahagia mendengar pengakuan Daniel. Rasa yang dulu ku pendam, terjawab sudah.

Tanganku berhenti mengusap ketika telapak tangan Daniel menggenggam tanganku. Aku terkejut melihat Daniel membuka matanya lalu tersenyum ke arah ku.

Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrum dan bibir ku.

Tangannya menuntun tanganku ke bibirnya. Reflek, jemari ku mengusap bibirnya yang tipis.

Aku tersenyum, ia pula ikut tersenyum.

Wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku memejamkan mata, ketika tangannya tak lagi menggenggam tangan ku.

Jemari Daniel mengusap pipi dan kepalaku, lalu kurasakan telunjuknya menyentuh bibir ku.

"Aku mencintai mu..." ucapnya perlahan sebelum ia mencium bibir ku mesra.

Ya, Bibir ku dicium Daniel dengan begitu lembut.

-To Be Continue Soon-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar