"Apa yang kau sukai dari ku?" aku memandang wajah Daniel.
Daniel sibuk mengaduk bubur, lalu menyiapkan satu sendok penuh bubur untuk menyuapi ku.
"Kenapa kau begitu munafik?" ucapku lagi. Daniel diam, menatap wajahku.
"Aku tak mengetahui apa yang kau rencanakan, jadi jangan libatkan aku dalam rencana busuk mu itu" aku melahap suapan Daniel setelah berbicara. Daniel tetap tersenyum.
"Kenapa kau berbicara begitu?"
"Entahlah, tapi aku yakin kau merencanakan sesuatu" Daniel kembali mengaduk bubur, dan kembali mengambil satu sendok penuh bubur.
"Bagaimana kabar mu?" aku memalingkan wajah memandang pintu, Noval berdiri di ambang pintu sembari tersenyum.
"Angga baik-baik saja" jawab Daniel, aku terdiam.
"Benarkah? Sudah baikan?" aku mengangguk.
"Masuk kak" ujar Daniel.
Noval masuk lalu duduk disamping ku.
"Syukurlah kalau kau sudah baikan" Noval mengusap kepala ku, sembari menggantungkan senyumannya.
"Maafkan aku yang membuat mu kebasahan" ucapnya.
"Bukan kau yang harusnya meminta maaf, tapi orang ini yang harusnya minta maaf" ucapku setelah melahap suapan terakhir dari Daniel, sembari menunjuk Daniel.
Mereka berdua tertawa, aku menyandarkan tubuh di dinding.
"Jangan tertawa, aku serius"
"Hey, aku sudah meminta maaf" Daniel mengelak.
"Oh ya? Aku belum dengar"
"Dasar kau" Daniel tertawa sambil mencubit pipi ku.
"Hentikan, jangan memanjakan aku" ucapku.
Mereka kembali tertawa.
"Baiklah, aku kembali ke kamar, aku bersyukur kau sudah baikan" ujar Noval yang pergi meninggalkan kamar.
-***-
Aku terbangun di tengah malam, saat mendengar suara pintu yang terbuka. Aku membalikan tubuh, melihat Daniel mengunci kamar lalu menyalakan lampu tidurㅡyang sedikit remang setelah mematikan lampu utama, dan bersiap untuk berbaring.
Aku memandang wajah Daniel yang terkena cahaya lampu tidur. Daniel terdiam, ia menyandarkan punggung ke dinding kamar sembari matanya memandang jauh ke langit-langit kamar.
"Apa yang kau pikirkan?" Daniel menoleh.
Aku bangkit lalu duduk memandangnya.
"Aku memikirkan mu..."
"Kenapa aku?"
"Tidak..." Daniel memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kau berbohong" ujarku, aku menyandarkan kepala di paha Daniel.
Daniel mengusap kepala ku dengan lembut.
"Kau cerdas, kau sangat pintar... Tapi, kenapa banyak orang yang tidak menyukai mu..."
Aku terdiam.
"Ingat saat kau dan aku berdebat? Kau dipanggil oleh guru sosiologi dan masuk ke dalam kelasku"
"Ya aku ingat, kenapa?"
"Kau memiliki daya tersendiri, kau begitu cerdas dan pandai, bahkan guru sosiologi memuji mu karena opini opini yang kau keluarkan dan hanya aku yang menentang mu"
"Ya, kau begitu menyebalkan saat itu" Daniel terkekeh.
"Dimata ku saat itu, kau begitu mengada-ada saat menjelaskan prilaku penyimpangan seksual"
"Tapi kini kau menyimpang, Daniel"
Kami terdiam, tangan Daniel masih mengusap kepalaku.
"Ya, inilah aku... Aku tak pernah menduga jika kau tak memiliki kawan di kelas mu, hingga akhirnya aku berkenalan dengan mu dan memutuskan untuk berteman denganmu"
"Lalu, kau menyesali semua itu?"
"Tidak, hanya saja..." usapan tangan Daniel terhenti, ia terdiam.
Ku dengar ia menghela nafas panjang.
"Kau hebat, meski kau murid baru di sekolah, tanpa kawan, tanpa orang tua, kau mampu menorehkan prestasi yang begitu banyak untuk sekolah, bahkan semua guru selalu membicarakan mu"
"Darimana kau mengetahui itu?"
"Pembimbing ekstrakurikuler membicarakan mu, karena hanya kau satu-satunya murid yang menjalankan test sendirian, tanpa siapapun"
Aku terdiam.
"Dengarlah, bagaimana kalau kau mengetahui kau masih memiliki orang tua? Apa yang akan kau lakukan pada orang yang mengaku orang tua mu"
Aku tetap diam.
"Kenapa tak menjawabnya? Apa kau akan membencinya seperti kau membenci Noval?" aku bangun, lalu memandang wajah Daniel yang terdiam.
Ku lihat mata Daniel berkaca-kaca, namun aku berpura-pura tidak melihatnya.
Aku berdiri lalu membuka jendela, segera aku mengambil sebatang rokok dan duduk di kusen jendela sambil mataku memandang halaman samping.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" tanyaku, aku mulai menghisap rokok.
"Tidak..."
"Tak mungkin, ada yang kau sembunyikan dari ku"
"Tidak..."
"Dengar Daniel... Aku memang tidak mengenal mu sejauh kau mengenal ku, mungkin kau juga sudah mengetahui jika aku masih memiliki orang tua... Tapi, aku mohon, jujur padaku, apa yang kau sembunyikan?"
Tanpa memandang Daniel, aku tetap menyulut rokok sembari menikmati hembusan angin malam.
"Kau juga mungkin sudah tahu, jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku, dan orang tua kandung ku tidak menganggap ku sebagai anak, jadi pertanyaan mu menurutku sangat konyol" Daniel terdiam.
"Lihatlah pada kenyataan, kau juga akan merasakan benci yang mendalam saat kau bertemu dengan orang tua kandung mu, kau pasti tak akan menganggap orang tua kandung mu, yang kau anggap sebagai orang tua kandung adalah ibu mu yang merawat mu" Aku sedikit menengok ke arah Daniel.
Ku lihat ia menunduk seakan menyesali sesuatu.
"Di dunia ini, tak ada yang indah... Kalaupun ya ada, kau akan menemukannya nanti disaat kau benar-benar paham akan hidup... Keindahan yang kekal adalah keindahan yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun... Bahkan, kau akan menyadari keindahan yang kekal adalah keindahan yang muncul dari diri sendiri hingga kita mengucapkan kata syukur" terdengar isak tangis pelan di belakang ku, mungkin Daniel menangis.
"Sudahlah, kau harus beristirahat..." ucapku.
Daniel, apa yang kau sembunyikan dariku?
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar