Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

When...

Story One

Cast : 용준형-양요섭 (Junhyung-Yoseob) of Beast—CMIIW

Genre : Yaoi, Adult
Rate : R

Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.

-***-

'Dimana? Aku mencari mu' 
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.

'Aku dihatimu' 

'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'

Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.

Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.

"Seob-i, kau dimana?" Aku bangkit dari atas kasurku lalu keluar dari kamar. Jun sudah datang, dan aku harus merapihkan kamarku—menyembunyikan semua yang menyangkut tentang dirinya. 

"Ku kira kau pergi, tak ada tanda-tanda kehidupan diruang tamu tadi" ujarnya sembari melewatiku yang berdiri di ambang pintu, aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya. 

Jun duduk diatas kasurku lalu mengeluarkan gitar akustik dari tas yang dibawanya. 

"Dengarlah, aku membuat sebuah lagu romantis" aku mengangguk pelan, duduk dihadapannya lalu menatapnya. Ia membalas tatapan ku dan tersenyum. Jemari Jun mulai memetik senar gitar, melantukan melodi lembut dan nada-nada yang membuat orang lain seperti  merasakan jatuh cinta. 

Lirik pertama ia nyanyikan dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya pada bagian 'bridge' ia fokus pada senar gitar. Ketika petikan gitar masuk pada reff terakhir ia menatapku tajam. 

"Aku bersyukur telah menemukan mu yang membuatku mengerti akan artinya cinta" lirik yang dinyanyikannya sembari tak hentinya memandangiku. Aku bertepuk tangan saat lagu yang Jun mainkan berhenti. 

"Untuk siapa?" Untuk calon kekasihku" jawabnya sembari menaruh gitar disampingnya. 

DEG , calon kekasih? Aku? Aku menyimpulkan senyuman kecil di wajahku.

"Kau pernah bertemu dengan gadis di ujung komplek ini? Dia begitu cantik" aku terdiam,senyumanku perlahan menghilang. 

"Akan ku nyanyikan lagu ciptaan ku dihadapannya" senyumanku benar-benar menghilang. 

"Akan kunyatakan padanya, diterima atau tidak, yang jelas sudah kunyatakan perasaanku" dadaku berdegup kencang, tubuhku bergetar pelan, mataku memanas.

Benarkah dengan kalimat yang baru saja kudengar? Astaga, aku lupa jika ia memiliki kehidupan yang normal. Tapi, tak adakah rasa cintanya yang dapat dibagikan padaku? Maksudku, selama ini aku selalu ada untuknya, memberikan perhatian untuknya, dan benar-benar tak pernah pergi meninggalkannya. Jun, dapatkah kau bagi perasaan mu padaku sedikit saja untuk ku? 

-***- 

Aku menatap cermin, membenahi diri dan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan pakaian yang ku kenakan—pakaian yang Jun pernah katakan 'terlihat sangat menawan' ketika aku memakainya. Aku harus berusaha menerima apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, aku berusaha untuk tidak menunjukan rasa kesal dan cemburuku pada Jun. 

Disini, aku harus profesional dan tidak ingin menghancurkan rencananya—menyatakan rasa suka Jun pada gadis yang dikenal dengan panggilan GaYoon. Tapi, apakah aku sanggup? 

Aku menarik nafas panjang, dan menenangkan diri. Baiklah, setidaknya aku tak akan kehilangan Jun jika ia benar-benar diterima cintanya. 

'Dimana kau? Aku sudah menunggumu' 

Ku baca pesan yang baru saja masuk. Aku membalasnya dan menyuruhnya untuk menunggu, dan aku tak mendapat balasan darinya. Aku tak yakin, jika aku akan kuat. 

-***- 

Raut sedih benar-benar tak dapat disembunyikan olehnya ketika ia benar-benar ditolak oleh gadis itu. Sejujurnya, aku senang namun saat memandang wajahnya, aku menjadi sangat tidak tega. Andai saja ia menyatakan pada orang yang tepat mungkin ia tak akan seperti ini—maksudku jika ia mengatakan padaku mungkin aku tak akan melihat wajahnya yang muram.

Kami menghabiskan malam di kedai soju dekat dengan perumahannya dan memesan hampir 2 lusin untuk dibawa pulang. 

"Saatnya berpesta, Seob-iya" ujarnya yang hampir mabuk. Sepanjang perjalanan Jun mengoceh, sementara aku tidak menghiraukannya dan fokus memapah tubuhnya hingga masuk ke dalam kamar. 

"Aku begitu bodoh" ujarnya ditengah tawaan yang terdengar sangat terpaksa. 

"Kenapa aku bisa menyukai gadis tolol sepertinya" 

"Sudahlah" ujarku, ku lihat ia kembali membuka botol soju yang masih utuh dan langsung menenggaknya. 

"YA!" Aku membentaknya, "Hentikan!" 

Jun menatapku sinis, lalu memutar bola matanya. 

"Kenapa?" 

"Hentikanlah, kau sudah mabuk" 

"Lalu?" 

"Eiy… aku…" 

"Cih, kau terlalu bawel" aku terdiam ketika Jun memotong kalimatku. "Kau seperti kekasihku saja, membentakku, memarahiku, menyuruhku ini itu, ah… kau benar-benar seperti kekasih yang ku dambakan… jangan-jangan kau menyukaiku tetapi aku tak sadar" lanjutnya diselingi tawa kencang. 

Aku terdiam—benar-benar diam tanpa melakukan apapun. Jun tersedak saat—hampir menghabiskan setengah botol soju. 

"Ah, sial" Jun mengumpat, aku mendekatinya. 

"Sudahlah" Jun menatapku. 

Tatapan kami bertemu, namun aku segera membuang muka. 

"Istirahatlah" ujarku, aku bangkit lalu merapihkan tempat tidurnya. Aku menoleh ketika tangan Jun menarik lenganku hingga aku jatuh terduduk dihadapannya. 

-***- 

Nafasnya mengenai philtrum[1] milikku ketika kami saling bertatapan. Mata Jun sedikit memerah, dan tercium alkohol yang begitu kuat dari hembusan nafasnya. 

"J… Jun" ucapku gugup sebelum Jun mencium ku. 

Ya, Junhyung menciumku tepat dibibirku. Tangannya menggenggam kepalaku, menekan dan menciumku semakin dalam. Bibirku digigit lembut dan terkadang ia menghisap lidahku. Tubuhku terdorong hingga berbaring saat ia menciumku begitu dalam. 

Tubuhnya menindihku, seperti aku tempat tidurnya. 

Kurasakan selangkangannya mulai menegang dan membuat tonjolan kecil, menggesek perut dan selangkanganku. Ciumannya semakin liar, tangannya mulai berani meremas dadaku. 

"Eungh... Jun…" ia hanya menatapku lalu membuka bajunya dan celananya, menyisakan cawat yang
menutupi kemaluannya yang tegang. 

Segera, ia kembali menindih ku dan menciumku dengan tangan yang meremas-remas selangkanganku. Aku terbang hanya dengan ciumannya, remasan tangannya membuat tubuhku melengkung meski ia menindihku dan menahan mulutku dengan ciumannya. Aku 'turn on' karena perlakuannya. 

Puas menghisap bibir dan lidahku, Jun menelanjangiku—tanpa menyisakan apapun dan ia membuka cawatnya. menindihku, hanya saja kepalanya berada di kemaluanku begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehangatan pada kemaluanku dan buah pelirku. Aku terkejut ketika mulutnya memanjakan kemaluanku dengan kulumannya. Lidahnya lihai menjilat, dan memainkan lubang kencingku yang basah. Jun benar-benar seperti bocah yang baru menemukan mainan baru, sementara aku kebingungan dengan kemaluan Jun yang menyenggol pipi dan hidungku sementara precum miliknya menempel pada wajahku dan begitu menyengat namun entah darimana ada dorongan untukku menghisap kemaluannya. 

-***- 

Jun menghentikan hisapannya, dan menaik-turunkan pantatnya dengan kemaluan yang berada dalam kulumanku. Erangan Jun terdengar meski ia masih mengulum kemaluanku. Jun seperti menyenggamai mulutku dengan kemaluannya, aku hampir tersedak karena ia terlalu bersemangat. 

"Hen… hentikan" ucap Jun sebelum mencabut kemaluannya. Ia menyandarkan diri di dinding, lalu menarik tubuhku. Bibirku kembali menjadi sasarannya setelah  tubuh kami berdekatan, kemaluan kamu bertemu—saling mengadu dan menggesek hingga bertukar precum. 

Tubuh kami basah akan keringat, namun itu yang membuat Jun semakin bersemangat. Tangan kanannya mengusap punggungku sementara tangan kirinya merangsang lubang analku dengan jarinya Aku mendorong tubuhnya, melepaskan ciumannya dan mengerang ketika jari tengahnya berhasil menembus lubangku. 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan menyandarkan kepalaku dikepalanya. Kepala Jun terbenam didadaku, mulutnya menghisap dan lidahnya bermain diputing dadaku.Gigitan lembutnya membuat jemariku refleks menarik rambutnya, sementara pemanasan dilubang pantatku belum berhenti hingga 3 jari sukses bersarang dilubang pembuanganku. Kemaluanku melemas, walaupun tak kupungkiri precum masih tetap mengalir dari ujung kemaluanku. 

-***- 

Aku menahan teriakan dengan menggigit bibirku ketika kemaluan Jun berusaha menembus tubuhku, terasa perih dan begitu panas. Ketika, tubuhku sukses dimasuki olehnya, Jun memandangku sendu dengan senyuman kecil yang menggantung di wajahnya. 

"Bertahanlah…" ujarnya setelah kemaluan Jun benar-benar tenggelam dalam tubuhku. Tangannya menggenggam kedua belah pantatku, sedikit meremasnya dan membantuku menaik-turunkan tubuh sementara kepalanya membuat tanda merah disekitar dadaku, dan terkadang menggigit pelan dadaku. 

Perutku benar-benar terisi penuh seakan aku hendak buang air. Kemaluanku menempel diperutnya membuat gesekan—perlahan namun pasti yang membuat kemaluan ku menegang. Erangan kami  memenuhi ruangan dan saling mengisi. Aku mengeratkan lingkaran tanganku ketika Jun berusaha bangkit dan menggendong tubuhku. 

Ia memepetku ke dinding dan kembali menggerakkan tubuhnya. Kali ini, ia mencumbuiku lebih ganas dan terkadang menggigit lidahku. Puting dadanya menggesek dadaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang membuat kemaluanku semakin mengalirkan precum. Tanganku diangkatnya lalu ia menciumi ketiakku. 

Aku melenguh pelan, membuatnya semakin ganas dan memperlakukan ku semakin liar. Ia mencabut kemaluannya, menurunkan tubuhku dan dibaringkan di atas kasurnya. Diangkatnya kakiku, dibukanya lebar dan ia kembali memasukan kemaluannya—yang kepalanya sudah memerah dan berkedut. Tanpa aba-aba ia memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo yang sangat cepat sembari menciumiku. Kemaluanku terjepit di perutnya. 

-***- 

"Argh! Aku… Sampai" bisikku ditengah permainan. 

"Tunggu aku…" tangannya merancap kemaluanku. 

Genggaman tangannya erat dan tidak membuatku sakit saat dirancap. Ku rasakan kemaluannya berkedut dan mengembang dalam tubuhku. 

"Ngargh!... Aku sampai…" ucapnya sebelum ia mencabut kemaluannya dan ditempelkan dikemaluanku. 

Kedua tangannya menggenggam kemaluan kami lalu dikocoknya dengan cepat. 

"Argh!" Erangnya sesaat sperma sukses keluar bersamaan dengan spermaku.

-***- 

'Kenapa kau menjauhiku?' Aku membanting ponsel pintarku ke sudut kamar, dan tak berniat membalas pesan singkat yang masuk. Jun terus memberiku pesan masuk, dan aku tak pernah membalasnya. 

Konyol memang, namun aku ingin memberi pengertian padanya jika aku bukanlah pelampiasan, meskipun aku menikmati permainannya malam itu. 

Aku sengaja tak membawa ponselku keluar rumah, tapi langkahku terhenti saat kudengar alunan melodi gitar yang sangat kuhafal. Aku menoleh ke sekelilingku namun tak kutemukan sumber suara.
Aku mengitari rumahku dan aku juga tak menemukan apapun. 

"Saranghae…" aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku lalu memberikanku seikat mawar. Aku memandangi orang yang ada dihadapanku—ia berpakaian begitu rapih hingga aku tak mengenalinya. Astaga, orang ini penuh dengan kejutan. 

"Jeongmal saranghae…" ujarnya lagi sebelum ia tertawa sendiri karena 'aegyo' yang tak pernah ia lakukan. Jun, tanpa aegyopun kau sudah menempati yang kosong dalam hatiku. 

Hanya saja, aku belum dapat menerimamu, karena aku ragu jika aku masih dalam bayangan gadis itu… 

-End-

[BONUS]

Aku terbangun saat sinar matahari mengenai pipi ku melalui celah jendela, aku bangkit dan memandang ke samping kananku. Kulihat Yoseob sedang tertidur pulas dengan piyama milikku. Aku bergegas ke arah kamar mandi untuk membilas wajah.

ASTAGA.

Aku telanjang tanpa sehelai benang. Apa yang terjadi semalam? Apa aku meniduri Yoseob? Benarkah aku menidurinya?

Aku tak menyangka akan melakukannya pada Yoseob. Semoga ia memaafkanku dan melupakan kejadian tadi malam. Karena sejujurnya, aku belum ingat apa yang terjadi semalam.

-***-

"Aku pulang..."

Apa?

"Maaf... beberapa hari kedepan aku tak bisa menemui mu"

Benarkah yang kudengar?

"Jangan cari aku" ujarnya lagi sebelum ia pergi meninggalkan ku.

Yang Yoseob, ia marah padaku? Aku benar-benar brengsek. Astaga apa yang harus ku lakukan...

[Continue to next part]

Jumat, 07 Februari 2014

What Is Love (Request)

#FanFiction ini adalah permintaan kisah dari @Chanhsung

Cast : Chansung of 2PM And Kyungsoo of EXO.

-***-

Aku menikmati hembusan angin malam sembari tetap melangkah melewati kesenyapan malam, dan masih terdengar deruan mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dijalan.

Meski waktu sudah tengah malam, deruan mesin itu tetap meramaikan jalanan yang kini sedang kulalui.

Aku sengaja berbohong padanya dan kabur darinya, aku ingin menikmati duniaku sendiri ditengah semilir angin tanpa adanya dia disisiku.

Aku ingin bebas, aku tak ingin lagi dikekang.

"Dimana kau?" aku menghentikan langkahku dan menjawab panggilan darinya. Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kau! Dimana! Jawab aku!" bentaknya, aku menghela nafasku.

"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, aku pasti pulang" kuputuskan panggilannya lalu ku lepas baterai ponsel dan memasukannya ke dalam kantung sweater.

Ku edarkan pandanganku, berniat melanjutkan langkahku namun mataku terpaku pada bangunan tinggi dihadapanku.

Gedung apartemen yang rasanya pernah ku tempati bersama seseorang yang kusayang-meski entah siapa orang itu.

Mataku memanas, dadaku sesak. Aku merasa angin yang berhembus menembus kain sweater dan kaus hingga tulang rusukku.

Aku yakin, aku pernah bahagia di salah satu ruangan dalam apartemen itu.

Angin malam kembali berhembus, namun ku nikmati hembusan itu meski air mata dan isakan pelan terdengar dariku.

Malam dingin yang indah.

-***-

Aku menikmati pemandangan dari dalam bus yang kunaiki, sembari mengusap pelan keningku sendiri.

Masih terasa kecupan lembutnya dikeningku, dan aku tidak suka akan perlakuannya-yang kini duduk disampingku.

Sebelum aku menaiki bus bersamanya, aku diinterogasinya.

"Dari mana kau, semalam?"

"Mencari makan"

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ia membentakku, aku terdiam.

Aku memandanginya kesal, ia menghela nafasnya dan berjalan ke arahku.

"Dengar, aku tak pernah ingin melihatmu terluka, aku menyayangimu" ia berlutut di depanku, menggapai kedua tanganku lalu diciumnya.

"Aku ingin menjagamu, tanpa kau terluka" aku terdiam, aku tetap memandang wajahnya.

"Rapihkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat, dan semoga kau betah disana" lanjutnya dengan nada yang sangat lembut, lalu ia berdiri dan mengecup keningku.

Sejujurnya, aku tidak suka. Jong In sudah kuanggap sebagai sahabat, hanya sahabat dan tidak lebih.

Perhatian dan seluruh yang Jong In berikan kuanggap sebagai perhatian seorang sahabat. Entah apa yang ada dipikirannya, dan aku bersumpah takkan pernah ada rasa lain untuknya.

Aku menutup hatiku, karena aku sudah membukakannya untuk satu orang. Satu orang yang ku yakin ia masih hidup dan menungguku untuk menemukan dia.

Namun, aku lupa semua tentang orang itu. Aku hanya ingat aroma tubuhnya, kasih sayang darinya dan masa-masa bahagia bersamanya.

"Hey, kau tak apa?" Jong In menggenggam tanganku yang satu lagi, lalu dikecupnya.

"Ya, aku tak apa"

"Kau sakit? Wajahmu pucat" aku memalingkan muka, menatap matanya.

"Apakah ekspresiku seperti orang sakit?" Jong In diam.

"Jangan berlebihan memperhatikanku, urus urusanmu sendiri dan bayangkan nanti aku tak akan merepotimu lagi"

-***-

"Kyungsoo-nie!" terdengar seseorang berteriak memanggil namaku saat aku melangkah keluar dari bus.

Aku membuka mataku, kulihat sahabat kecilku berlari membuka tangannya. Aku ikut berlari mendekatinya dan berpelukan.

"Baekhyun-ah! Aku merindukanmu!"

"Aku tidak" aku memukul pundaknya, lalu kami tertawa bersama.

"Kau bisa ada disini, kenapa?" tanyaku, kami berjalan berdampingan.

"Aku tak sabar melihatmu, jadi kuputuskan untuk menjemputmu"

"Kau mengetahui aku ingin pulang?" Baekhyun mengangguk.

"Dari siapa?"

"Kai" aku diam.

"Ah ya, mana Kai?" aku mengedarkan pandanganku lalu mencari kemana Jong In.

Aku lupa jika aku ditemani Jong In.

"Ah sudahlah, lebih baik kita menunggunya dirumah saja, cepatlah aku tak sabar mendengar ceritamu tentang kampus di Seoul" ujar Baekhyun.

-To Be Continue Soon-

Rabu, 20 November 2013

Visual Dream part. IV

Note : kisah ini merupakan kisah lanjutan Visual Dreams yang ada disitus ini.

Cast : -. @DBYuliani -. Lee Hayi (이 하이) -. Jay Park (재범) -. Kim Family
Cameo : -. Minzy (민지) -. Funzee (푼지)
Genre : Straight, Fantasy

"Dengarlah, semua penggemar permainan fantasy tidak ada yang seperti mu" terdengar suara yang membangunkan lamunanku saat itu.
Aku terdiam, ku edarkan pandangan dan tak melihat siapapun dikamarku. Aneh, sangat aneh. Darimana suara itu berasal?

"Kim?" CL mendekatiku, ia berdiri di ambang pintu lalu menyerahkan buku usang padaku.

"Semua menunggu mu dibawah"

"Ya, aku segera kebawah"

"Ku tunggu kau..."

Aku mengangguk pelan, tiba-tiba dada kiri dan lenganku perih. Aku baru menyadari jika dada dan lenganku diperban. Apa yang terjadi dengan ku?

-***-

Tepuk tangan dan sorak sorai para pejuang memenuhi ruangan tengah. Aku mematung di anak tangga melihat euphoria para pejuang kala itu.

Harus berbanggakah aku atau haruskah aku mengabaikan mereka semua?

Memang tidak banyak yang menyoraki aku sekarang, namun jika ku teruskan hidupku seperti ini, aku yakin semakin banyak orang yang akan bertepuk tangan.

"Kim!" penyihir kecilㅡsombong berlari kearah ku dan memeluk tubuhku erat.

"Ku pikir kau takkan selamat"

"Tenanglah, ia penyihir hebat tak mungkin ia terluka" ku dengar Funzee mendekat dengan Jay Park yang menuntun kursi rodaㅡcanggih kearah tangga. Aku tersenyum.

"Terima kasih, Kim..."Key menarik tangan dan menjabatku dengan erat.

"Kau menyelamatkan Taemin dan Seohyun, dan kau mempertemukan ku dengan Deby dan juga Shindong"

Aku terkekeh, aku melihat Deby dan Shindong melambaikan tangan.

-***-

Aku mengelilingi istana ini berjam-jam. Aku senang melihat pejuang yang dulunya berkumpul dirumahku kini bercengkrama dengan tawa dan kebahagiaan di istana ini.

Canda dan tawaan terdengar di setiap ruangannya.

Aku terkekeh saat Bom berusaha membuat CL, Sandara, Minzy tertawa. Diruangan lain, Pasukan 9 Rubah dan Perampok Jalan kembali akur. Mereka ditemani Shindong, dan Deby.

Daesung dan Seungri yang mengajarkan para pejuang lain menggunakan sihir dan pedang di sisi lain padang rumput yang dekat dengan istana, disisi lainnya Pasukan Vampir 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls berkumpul.

Ku langkahkan kaki menuju ruang terakhir yang belum ku kunjungi. Aku yakin Changmin, Funzee, Alex dan Jay Park berada didalamnya. Tebakan ku benar, mereka berada di ruangan yang dekat dengan kamar ku. Funzee memberi nama ruangan itu dengan sebutan 'Strategy Room'.

-***-

"Hi..." aku menoleh, ku lihat Deby mendekat dan memberikan ku sebuah tongkat ranting kecil yang sudah sangat usang.

"Ada apa?" tanyaku yang menerima tongkat itu lalu memandangnya.

"Ada yang ingin ku tanyakan..."

"Apa itu?"

"Apa kau menganggap dunia ini mimpi atau dunia ini nyata?" aku terdiam, ku taruh tongkat itu di atas meja didepanku.

"Maksudku... Aku bingung..."

"Ya, aku paham..." ku potong kalimatnya, kami saling memandang.

"Aku paham maksudmu, sepertinya kita terjebak... Namun, aku senang... Bukan hanya aku yang terjebak di dunia ini, aku melihatmu, aku melihat keluarga ku walau mereka telah tiada..."

"Bagaimana jika kita mati disini? Apakah kita..."

"Sudahlah, jangan tegang... Dan jika kita memang mati didunia ini... Artinya tugasmu didunia ini sudah selesai"

"Aku harap, aku tetap dapat bertemu dengan mu didunia nyata" kami berdua tersenyum.

"Terima kasih, Kim" aku mengangguk, wanita pemanah itu meninggalkan kamarku. Aku masih tersenyum kecil, karena sebenarnya ketakutan yang Deby alami sama dengan ketakutan yang aku bayangkan.

Bagaimana jika aku mati sebelum mengalahkan tentara merah? Aku terdiam, ku ambil tongkat usang yang Deby beri dan menaruh disela buku usang yang ku miliki.

Aku sempat terkejut, karena dihalamanㅡyang seharusnya kosong sudah tertulis 'A Start Without An Ending'

-***-

Aku terkejut melihat gadis berpakaian gaun putih dengan pita berwarna darah dilehernya sedang berdiri menatapku dari ambang pintu masuk istana. Gadis itu terus menatapku, lalu melebarkan tangannya seakan-akan ia ingin memeluk tubuhku.

Aku yakin, ia berniat melakukan sesuatu terhadap ku. Ia meringis lalu terkekeh, tubuhku mematung. Aku tak dapat bergerak, ingin segera aku berlari namun tubuhku tak dapat bergerak.

"Hayi!" Minzy berteriak dibelakang ku, lalu berlari dan memeluk gadis itu.

"Kak!" ia tertawa, dan tersenyum ketika Minzy memeluknya.

Aku membelalakan mataku. Kupikir, ia akan membunuhku dengan kekuatannya namun ternyata ia hanya melebarkan tangan untuk memeluk Minzy. Bahkan aku tak sadar jika Minzy ada dibelakangku.

"Kim! Kemarilah! Ini Hayi!" Minzy berteriak. Sungguh, aku ingin tertawa namun aku hanya dapat tersenyum mengingat gadis ini seperti ingin membunuhku.

Aku melangkah mendekati mereka.

"Hayi, perkenalkan ini..."

"Ya aku mengetahuinya, kalau saja kau tidak berteriak memanggilku, laki-laki ini mengira ia akan mati ditanganku"

Minzy dan gadis itu tertawa, aku terdiam.

"Sudahlah, jangan begitu... Kalian sesama penyihir harus saling bekerja sama" ucap Minzy.

"Baiklah, dengarkan aku... Akan kuberitahu yang lain kau datang berkunjung, silahkan saling mengenal" lanjut Minzy yang berlalu meninggalkan aku dan gadis itu.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya.

"Kim" aku menjabatnya, senyumannya menghilang ketika tangan menggenggam erat tangannya.

"Kau... Tentara merah..."

"Maksudmu?"

"Tidak, kau memiliki ikatan dengan tentara merah..."

"Aku...?"

"Kau... Dan keluargamu... Awal dari kehancuran..." apa yang gadis ini bicarakan?

Apa maksudnya?

"Lepas tanganku!" dia berteriak.

Aku terdiam, seketika pemandangan di istana yang ku tempati berubah. Tak ada lagi tanaman hias disekitar istana ini, suasana menjadi gelap dan mengerikan.

Aku terdiam, aku menatap wajah gadis iniㅡyang bernama Hayi berubah pucat. Matanya berubah merah menyala. Bibirnya mengucapkan mantra yang entah apa artinya.

"Lihat di ambang pintu!" ucapnya.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan gaun bangsawan berwarna putih sedang menggendong anak laki-laki.
Wanita itu menangis, sama seperti anak kecil yang berada di dadanya.

Pintu istana terbuka lebar, dengan Jay Park dan tentara merah yang berdiri berdampingan.

"Kau datang rupanya" Jay Park meringis.

"Lihat, tangisannya begitu indah" sang tentara merah menimpali.

"Hey! Hentikan!" ku arahkan pandanganku ke belakang tubuh, ku lihat Jea, dan Narsha berdiri disana.

"Jangan ganggu anak itu dan ibunya"

"Lepaskan mereka!" Jay dan rekan tentara merahnya tak menghiraukan ocehan Jea dan Narsha. Wanita dibawa masuk dan Jea juga Narsha berlari mengikutinya.

Sayangnya, mereka berdua tak dapat mengikuti Jay dan tentara merah. Pintu istana tertutup dan disegel dengan mantra juga monster Cerebrus yang pernah ku kalahkan.

"Sial! Kita harus beritahu yang lain!"

Lalu pandanganku kabur, aku memandang wajah Hayi yang masih pucat.

"Lihat sekelilingmu!" ujar Hayi.

Sekelilingku berubah menjadi penginapan yang pernah aku kunjungi.

"Kita harus meminta tolong!" Gain berteriak.

"Aku tak menyangka Jay akan seperti itu..."

"Pada siapa kita meminta bantuan?"

"Dengarlah, dikota ada Pasukan 9 Rubah! Memintalah pada mereka"

"Dengar, mereka tak akan bisa dan tak akan percaya"

"Kenapa?"

"Kita mahkluk yang hidup lebih dari ratusan abad! Mereka tak akan mungkin melakukannya"

Aku semakin terdiam. Aku baru mengetahui jika Keluarga Vampire 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls pernah berdebat sehebat ini.

"Jangan berkedip! Lihat belakangmu!"

Aku membelalakan mataku. Wanita yang tadi menggendong anaknya kini sedang dirantai. Anak kecil yang digendongnya bermain diatas lantai.

"Aku akan memusnahkan anak ini!" ucap tentara merah.

"Jangan, ku mohon! Hentikan..." tentara merah itu tertawa.

"Jay, bungkam wanita itu! Bunuh jika kau ingin"

"Kulakukan dengan senang hati" Jay tertawa, ia mengeluarkan taring dari giginya dan memanjangkan jarinya.

"Jangan sentuh anak dan cucuku!" tiba-tiba, cahaya putih terang menyilaukan datang.

Aku tercengang saat menatap wanita paruh baya berdiri didepan wanita yang dirantai, ketika cahaya menghilang.

Nenek! Nenek ku melindungi wanita itu.

Tongkat kecil kayu diayun pelan oleh nenek ku. Tubuh Jay mematung untuk sesaat, dan ia mendorong tubuh Jay hingga terpental kedinding. Jay tak dapat berbicara bahkan bergerak. Aku yakin Jay tak sadarkan diri.

"Kau! Ternyata kau dalam pengaruh setan! Terkutuk! Aku menyesal merestui mu dengan anak ku" ucap nenek dengan nada marah.

Dengan sekali ayunan tongkat kecilnya, rantai yang mengikat tubuh, tangan dan kaki wanita itu meleleh.

"Benarkah menyesal? Bukankah kau selalu membanggakanku ibu?"

"Jangan banyak bicara kau! Anak ku tak akan mudah terpengaruh setan sepertimu! Kau bukan anak ku, anak ku sudah mati ketika ia bertugas membasmi kejahatan!"

"Tidak ibu, aku masih disini... Di hadapanmu"

"Diam kau! Terkutuk!" wanita yang tadi dirantai berteriak dan mengeluarkan sihir api yang pernah ku keluarkan.

"Suamiku tidak sepertimu!" wanita itu marah. Berkali-kali ia mengeluarkan bola api dari tangannya.

"Pergi kau dari tubuh suamiku! Biarkan suamiku tenang disurga!" nenek ku dan wanita itu membaca mantra, terlihat sebuah lubang hitam kecil dari belakang tubuh sang tentara merah.

Tentara merah itu terdiam, lalu tertawa kencang.

"Aku tak akan pernah mati, lubang hitam ini hanya membuatku kembali ke masa lalu" tawa tentara merah itu semakin kencang.

"Kau salah! Lubang ini akan mengantarmu kembali ke neraka!" teriak nenek.

"Ibu, mantra! Ucapkan mantra yang pernah kau tujukan padaku!" ucap wanita itu. Nenek mendekati tentara merah dengan tangan kanan yang terbuka dan tangan kiri menggenggam tongkat.

Mulut nenek membaca mantra tanpa suara hingga akhirnya tentara merah itu terdiam dan membatu. Sekali ayunan pelan ditangan kirinya, tongkatnya mengetuk kepala patung tentara merah.

Terlihat retakan kecil dari kepala lalu patung itu terpecah belah dan terhisap oleh lubang hitam didinding.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Hayi.

"Jangan menatapku!" Hayi berteriak, ia menangis. Namun, darah yang mengalir dari matanya.

"Hayi! Hayi!" aku menggenggam tangan Hayi, hingga tak sadar aku berdiri berdua dengan Hayi diruangan yang gelap.

Aku terdiam. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemana nenek? Mana wanita itu dan anaknya? Mana Jay?
Aku mematung dan memandangi sekelilingku.

Tak ada apa apa, hanya kegelapan.

"Pejamkan matamu... Lalu bukalah" aku mendengar suara Hayi menggema, namun saat ku menatap wajah Hayi, ia hanya terdiam dengan mata yang masih mengalirkan darah.

"Jangan tatap aku! Lakukan apa yang aku suruh!"

Aku memejamkan mata, lalu membukanya.
Saat aku membuka mataku, terlihat kembali pemandangan indah disekitar istana ini.

Tanaman hias, cahaya matahari, juga canda dan tawa yang menghiasi istana ini kembali terdengar. Aku memandang wajah Hayi.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya. Aku terdiam.

Hayi mengerenyitkan dahinya.

"Kau tak ingin menjabat tanganku?" ucapnya dengan santai.

Aku tersenyum.

"Kim" ujarku tanpa menjabat tangannya.

"Baiklah sesukamu" ia tertawa, "Hey, ajak aku keruangan Minzy!" lanjutnya.

Aku mengangguk. Ku antar gadis cenayang ini ke ruangan Minzy. Entah apa yang ingin ditunjukannya padaku, namun aku berterima kasih padanya karena aku memiliki jawaban yang tak pernah aku minta.

-***-

Aku terdiam memandangi padang rumput sambil menikmati kilauan senja matahari. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku memang keturunan penyihir kuat, tetapi jika musuh ku adalah ayahku sendiri, apa yang harus ku perbuat.

Kegilaan ini tak akan mungkin bisa berakhir.

Minggu, 14 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-1

Note : This story have a gay theme inside.

***

Part. 1-1

Aku terbangun karena mendengar alarm jam yang berbunyi dari handphone ku. Aku menggerutu pelan dan memandang jam pada layar handphone.

"Masih pagi..." ucapku sambil menguap dan mengusap ujung mata.

Entah kenapa, hari ini aku sangat malas bangkit dari kasurku untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Untuk ukuran seorang pelajar juniorㅡyang masuk ditahun pertama sepertiku, bangun terlalu pagi adalah siksaan dan bangun terlalu siangpun adalah hukuman.

Belum lagi, aku harus bertemu dengan pelajaran yang tak kusukai. Ditambah dengan kawanku yang menyebalkan.

-***-

Orang memanggilku, Adit. Hanya Adit, tak memiliki nama panjang seperti anak-anak yang lain. Tubuhku besar, dengan tinggi 167 centimeter, gaya rambut berponi ke arah kanan, berkaca-mata dan aku seseorang yang introvert.

"Awas!"

Sedangkan yang baru saja berteriak melewatiku adalah, Farel. Turunan konglomerat, memiliki wajah bayi, atlit olahraga andalan sekolah, berbicara dengan dua bahasa, tubuh berisi, otot lengan yang berurat, perut yang rata, tubuh yang harum dengan parfum mewah, membawa mobil ke sekolah, tingkah kekanak-kanakan, usil dan cerdas.

Orang tersombong yang pertama kukenal selama 16 tahun ini. Aku bersekolah disebuah sekolah negeri favorit yang tiap tahunnya memiliki nilai teratas dibanding sekolah lainnya. Aku duduk dikelas X-3 yang terkenal dengan sebutan kelas 'tersulit' untuk diajar oleh para guru.

Jujur saja, aku bukanlah orang yang cerdas. Akupun tak pernah menyalahkan nilaiku yang tak memuaskan, karena aku sadar aku tak sepintar kawan-kawanku yang lain.

Biasanya, aku memiliki kesibukan diluar kelas yang menyangkut tentang pelajaran. Para guru menyuruhku menjadi perwakilan sekolah yang menghadiri seminar. Bukan hanya aku tentunya, Farelㅡmusuhkuㅡorang yang tak kusukai selalu menemaniku.

Namun, kali ini aku tak sesibuk biasanya tetapi Farel tetap membuntuti. Awalnya, aku tak begitu risih dengan Farel. Namun, saat ia mulai membuntutiku kemanapun aku pergi, rasa risih itu muncul.

Tidak hanya saat seminar saja, ketika aku masuk kamar mandi, membeli makanan dikantin, menemui guru, bahkan sampai ke depan rumahpun, aku di ikuti olehnya.

Jengah, namun sekarang ia tak lagi melakukannya. Mungkin lelah, atau mungkin ia sudah memiliki target lain.

"Engga, gue lagi males ngikutin lu sekarang sekarang" jawab Farel ketika ku tanyakan alasan ia berhenti mengikutiku.

Aneh memang, tapi aku rindu saat ia membuntutiku dan aku memarahinya.

"Lu sakit?"

Farel menggeleng pelan, lalu ia berdiri dari kursi dan memandangku tajam.

"Ga ada dikamus gue kata sakit, jadi gue ga akan sakit" baru ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya goyang lalu jatuh menimpa ku.

"Rel, bangun, Rel!" ujarku dengan nada sedikit panik, walau tubuhku lebih besar darinya. Tubuh Farel tetap terasa berat.

Aku berteriak meminta tolong pada kawanku yang lain dan mengangkat tubuh Farel.

"Bawa ke ruang UKS, tidurin aja badan dia, gue yang ijin sama guru nanti" ucap salah satu kawanku yang ikut mengangkat tubuh Farel tadi.

Aku dan kawan-kawan yang lain memutuskan untuk membawanya ke ruang Unit Kesehatan Sekolah, dan membaringkan tubuh Farel. Aku menyuruh semua teman yang tadi mengangkatnya kembali ke kelas, dan membiarkan aku sendiri yang menjaga musuh besar ku.

Aku menyalakan kipas yang menggantung di langit-langit agar membuat tubuhnya sedikit dingin.

Aku terdiam sembari mengamati wajahnya yang seperti bayi. Pipinya yang chubby, bibirnya yang kecil dan tipis, matanya yang terpejam.

Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, berniat memandang wajahnya lebih jelas, namun pintu ruangan UKS terbuka.

Mataku terbuka lebar, ketika melihat seseorang yang berdiri dengan menahan tawanya.

"Kamu... Kamu lagi apa dek?" ucapnya sembari menahan tawa, wajahku memanas.

Aku malu, sangat malu. Orang itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah lemari yang dekat dengan ranjang.

"Lanjutin aja, anggap aja aku ga ada dek"

"Ah engga kok, aku ga ngapa-ngapain sumpah" aku membenarkan posisiku.

Suasana menjadi hening, terkadang aku mendengar suara tawa yang tertahan. Orang itu mendekatiku dan memandang wajahku.

"Farel kenapa?" tanyanya, aku membalas pandangannya dan tersenyum.

Aku merasa pernah melihat wajah orang yang ada di hadapanku. Tapi, dimana aku melihatnya.

"Sakit..."

"Ah... Udah kamu ke kelas aja sana, biar aku yang jaga"

"Ga apa-apa ko"

"Ah ya, aku Brama" orang itu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan senyuman di wajahku.

Kini aku ingat, ia kakak kelasku dari kelas Alam dan kakak senior Farel di ekstrakurikuler basket.

"Kalau dia ga sadar, mending pulang aja daripada disini"

"Tapi... Aku ga tau rumah dia dimana"

"Aku tau, aku buatin surat ijin ya, kamu rapihin buku-buku dia"

Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. Akhirnya, aku dan kakak kelasku mengantarnya pulang. Terpaksa tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar hari ini, walaupun sebenarnya aku bahagia, karena tak perlu kabur untuk menghindari pelajaran.

-***-

"Sore bi, Farelnya ada?" aku berdiri di samping pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Farel, ia sedang membuang sampah.

"Ah iya, masuk aja dek, aden ada ko, langsung aja ke kamernya" jawabnya dengan dialek daerah yang kental.

Aku melangkah masuk dan berjalan ke arah kamarnya. Tercium aroma keringat yang sangat ku hafal saat memasuki kamarnya.

Aroma yang membuatku rindu akan Farel.

Aku tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, ku taruh barang bawaanku di bawah ranjang dan memandang wajah Farel.

Masih terlihat jelas bekas bubur yang tadi disantap di ujung bibir Farel, ku usap dengan jariku dan membersihkan ujung bibirnya dengan tisu basah.

Sungguh sangat lucu jika melihat Farel tidur. Wajah bayi yang ia miliki terlihat begitu tenang.

"Rel... Cepet sembuh, gue kangen sama lu" ucapku pelan.

Puas memandang wajahnya, aku berjalan ke arah lemari yang ada cerminnya. Merapihkan pakaian dan menemukan sebuah kotak kaleng kecil di bawah kolong lemari.

Ku perhatikan kotak itu dan mengambil buku yang ada didalamnya. Buku tulis yang bergambarkan Astro Boy dengan catatan-catatan panjang didalamnya. Aku baca catatan itu satu persatu.

Untuk ayah, untuk ibu, dan buku itu habis dengan catatan untuk mereka. Aku mengambil buku satunya yang ada didalam kotak tersebut.

Kali ini, berbeda dengan buku yang pertama. Kali ini catatan tentang kawan-kawannya.

Untuk Andi, Budi, Adit. Aku terdiam. Aku memutar otakku keras, kenapa namaku tertulis di bukunya? Ku baca halaman demi halaman, dan tak ada yang aneh dari catatan yang dibuatnya.

Catatan yang berisi tingkah kekanak-kanakannya padaku. Ketika aku mulai bosan membaca halaman halaman itu, mataku terpaku pada satu halaman yang terisi penuh dengan kalimat Ich Liebe Dich.

"Adit... Ich Liebe Dich"

[klik pada tautan judul untuk menujur bagian selanjutnya : Ich Liebe Dich part. 1-2]

Kamis, 25 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. V

Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.

Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.

_***_

-Wooyoung POV-

"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.

Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.

Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.

Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.

_***_

-Nickhun POV-

Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.

"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.

Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu,  aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.

Namun... aku tak bisa.

_***_

Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.

"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.

"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.

"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."

"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"

"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.

"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.

Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.

Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.

"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.

"Ne? Ah, gomawo"

_***_

"What do you want from him?"

"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.

"Don't lie to me... we both know who is him"

"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."

"Shut up! You..."

"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.

"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"

Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.

Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.

Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.

_***_

Rabu, 24 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. IV
-Wooyoung POV-
Aku melepas ciumannya, aku terkejut. Aku memandang wajahnya, ekspresinya sama sepertiku. Terkejut dan malu.
"Hyung, apa yang kau lakukan" tanyaku, aku menghapus air mataku dan mengusap bibirku.
"Sorry..." aku dapat melihat telinga dan wajahnya memerah, aku yakin wajahku terlihat sama sepertinya.
"Aku hanya ingin membantu melepas stres-mu, maaf" ia menatapku.
"Aku tak tega melihatmu tertekan seperti ini"
"Tapi, ini bukanlah caranya..."
"Wooyoung, aku ingin kau relax... Aku tak tega melihatmu seperti ini"
Perkataannya memang sangat benar, namun apakah benar ini caranya? Satu sisi aku memang menginginkannya, satu sisi aku menolaknya.
Namun, satu yang pasti dalam anganku. Aku hanya menginginkan ke-nyenyak-an dalam tidur setiap malamnya.
"Maafkan aku..."
-***-
-Nickhun POV-
Aku mencium bibirnya, ku pagut pelan, tanganku mengusap pipinya.
Lagi, ia mendorong tubuhku. Ditatapnya wajahku, diusapnya lalu dicium pipi ku.
"Please help me..." ujarnya sambil setengah berbisik.
Aku menjemput bibirnya, ku lumat lembut. Aku mengangkat tubuhnya ke atas pangkuanku, ia melingkarkan tangannya dileherku.
Aku hisap lidahnya pelan, ku permainkan lidahnya, terkadang aku gigit lidahnya. Kupeluk tubuhnya, aku mengangkat kakinya ku lingkarkan pada pinggangku.
Tangannya mengusap pungguungku, sungguh aku sangat terangsang.
Nafasnya menderu mengenai wajahku, aku melepas pelukanku lalu membuka piyama yang ia kenakan.
Aku mengecupi lehernya, aku jilati hingga ke dada. Didadanya aku menarikan lidahku di atas nipplenya yang tegang. Aku hisap pelan lalu kugigit, ia menarik rambutku dengan pelan.
Ia mendesah, desahannya mengisi kamar malam ini.
Ia mengerang, dan terus memanggil namaku.
Aku menyudahi perlakuanku, aku memandangnya. ia tersipu, tersenyum kecil lalu menggigit bibir bawahku. Dikulumnya, lalu dipermainkan bibirku dengan lidahnya.
Kami bertukar air liur, lidahnya memasuki rongga mulut dan menyentuh langit-langit mulutku.
-***-
-Wooyoung POV-
Entah apa yang ada dalam pikiranku kini, namun aku yakin sebenarnya ini sesuatu yang salah, sangat salah. Aku menyerahkan diri pada orang yang belum aku kenal seutuhnya.
Bodohnya aku, namun aku menikmati ini. Sangat menikmati.
"May I?" bisiknya sembari mengusap kemaluanku yang sudah menegang, aku memejamkan mata lalu mengangguk pelan.
Diremasnya kemaluanku oleh Nickhun, dihisapnya kembali nippleku yang sudah sangat tegang.
Dirapatkan olehnya tubuhku kedinding, Nickhun menyerangku habis-habisan. Tak hanya leher, dadaku sukses di 'kissmark'-nya.
Tuhan, aku paham ini salah, maafkan aku.
Tangannya pandai merancap, bibirnya pintar menemukan titik rangsang, lidahnya lihai menari diatas tubuhku. Laki-laki ini sangat cerdas.
"Have you do this with another male?" bisiknya ditengah permainan, aku menggelengkan kepala.
Aku mendesah, mengerang, menggeliat, menikmati permainannya. Aku sangat terangsang, malam ini aku mungkin akan terlelap dengan nyenyak.
-***-
-Nickhun POV-
Aku merancap kemaluannya kencang, seirama dengan tusukanku dalam tubuhnya. Kami berdua sama sama telanjang, keringat menyilaukan tubuh kami yang basah oleh keringat.
Hentakan demi hentakan terus ku lakukan, aku menikmati permainan ini. Mungkin juga Wooyoung menikmatinya.
Ku lihat wajahnya, matanya yang terpejam, dan bibir tipisnya yang indah membuatku semakin bernafsu untuk meneruskan permainan ini.
Aku mempercepat rancapanku pada kemaluannya, sebentar lagi aku mencapai puncak. Namun, menggenggam kemaluan Wooyoung membuatku menahan klimaks dan lebih mendahulukan Wooyoung.
Otot Wooyoung mengembang dalam genggamanku, aku dapat merasakan jepitan otot tubuhnya yang menjepit milikku. Tak berapa lama, Wooyoung memuntahkan cairannya yang menyebar kemana-mana. Sebagian kedadaku, wajahku, wajahnya dan tentunya tanganku.
Aku tak kuat menahan klimaks, aku mencabut milikku dan meloconya di atas dadanya.. Cairanku keluar mengenai dadanya dan wajahnya, aku menjilati seluruh wajahnya, membersihkan dari cairan kentalku.
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!









































Selasa, 23 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. III

-Wooyoung POV-

Entah mengapa aku dapat melakukan itu, bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diatas kenormalanku.

Aku mencintai pekerjaanku, namun jika seperti ini, sepertinya aku harus menghentikannya sementara waktu.
Aku tak ingin menuduh siapapun, namun Nickhun membuatku seperti ini. Seperti orang gila yang memang membutuhkan kasih sayang dan cinta.

Aku masih ingat ketika Nickhun mengajakku duduk dibangku taman, dengan alasan sudut yang sangat tepat untuk mengambil gambar. Aku menurutinya, namun bukan gambar yang kudapat, melainkan gulali kapas yang dibeli olehnya.

Itu pertama kalinya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat baik sepertinya. Wajah Thailandnya dan senyumannya membuatku betah untuk memandangnya.

-***-

Ku putuskan untuk mengajaknya menginap dirumahku, ia kebingungan mencari tempat tinggal yang cocok. Sangat kebetulan, aku hanya tinggal bersama furniture yang kumiliki.

"Woah, your place... So cozy" ujarnya sambil mengedarkan pandangannya.

"Ani, ini berantakan menurutku" jawabku memandang wajahnya.

"Setidaknya kau memiliki ini semua" aku tersipu mendengar pujiannya, ku taruh tas kameraku dan meninggalkannya.

"Sebenarnya, apa yang kau lakukan di Seoul?" tanyaku dari dapur, membuatkan teh untuknya.

"Aku? Entahlah, aku dikirim oleh atasanku untuk bertugas disini"

"Ah? Benarkah?" kuberikan segelas teh padanya, ia tersenyum lalu meminumnya pelan.

"Eum, aku tak paham jalan pikiran atasanku..." ia terdiam, tatapan matanya kosong. Ia melihatku lalu membuang pandangannya.

Sungguh sangat kosong.

Aku mengambil kameraku lalu memotret dirinya yang terdiam mematung sambil menggenggam cangkir teh, ia sangat mempesona.

Satu, dua, tiga, empat gambar yang kuambil saat itu. Ya, sangat mempesona. Aku tak tahan ingin mengambil gambarnya, ia seperti mannequin dengan pose duduk.

-***-

-Nickhun POV-

Aku tak dapat memejamkan mataku, ada sesuatu yang harus ku katakan padanya. Aku tak dapat berbohong, ia terlalu baik.

Aku terpaku menatapnya yang tertidur, wajah kecilnya dan bibirnya membuatku semakin tak tega membohonginya. Mungkinkah ini cinta?

Aku memang baru pertama kali bertatapan muka dengannya, namun aku telah mengetahuinya lebih dulu.
Jang Wooyoung, photografer handal dengan sejuta 'taste' yang hanya dapat dinikmati photografer profesional. Sedangkan, aku hanya seorang model majalah dengan reputasi buruk.
Pemilik agensi menyuruhku berkenalan dengan Wooyoung, karena itu dapat menaikkan kepopuleranku. Namun, apa yang harus aku jawab ketika Wooyoung bertanya apa pekerjaanku sebenarnya?
Tuhan, tolong aku.

"Tidak!" aku terkejut ketika Wooyoung berteriak ditengah tidurnya, ia mengigau.

Aku mendekatinya, berjongkok mengamati wajahnya. Ia sangat lucu, sangat menarik hatiku. Aku tersenyum ketika melihat ia terbangun dengan mata terebelalak.

"Wae? Waegurae?"

"Aku mengigau?" tanyanya sembari menatap tajam wajahku.

"Sebenarnya..."

"Ya, aku tau... Aku berteriak" ia mengusap keningnya, lalu duduk menghadapku.

"Apa kau baik baik saja?" tanyaku, ia terdiam.

"Entahlah... Aku... Aku bingung..." ia menarik nafas panjang, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya berbeda. Tatapannya seperti orang yang tersesat.

"Aku mencintai pekerjaanku, sungguh! Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaanku!" Wooyoung meneriaki ku, dipukulnya lenganku lalu ditariknya kerah baju ku.

"Aku hanya butuh waktu lebih untuk dapat memenangkannya! Aku hanya butuh seorang model nyata! Hanya itu! Kau dengar? Hah! Aku hanya butuh waktu banyak! Agar aku dapat tidur nyenyak malam ini!" ia menundukan wajahnya, ia menggenggam erat kerah bajuku.

Wooyoung menangis, ia meneteskan air matanya. Aku tak tega melihatnya seperti ini, sungguh. Aku memeluknya, mengusap kepalanya lembut.

"Tenanglah, ada aku disini" kuusap punggungnya lembut, ia menangis terisak dipundakku.
Ku lepas pelukannya, ku pandangi wajahnya.

"Ada aku disini" aku menghapus aliran air matanya, ia terdiam.

Wooyoung menatapku, mata kecilnya sembap. Kuangkat dagunya, ku usap bibir tipisnya.
Kudekatkan wajahnya, aku menciumnya lembut.


-continue-








































Minggu, 21 Oktober 2012

(Request Story) One Day


This story for 'Anynomous'
Sorry for the late posts :(

Part. I

Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM

_***_

Senja menyambutnya lembut dengan pancaran matahari yang siap untuk menyembunyikan diri darinya. Hembusan angin mengenai tubuhnya yang berjongkok, menggali tanah, berniat mengubur sebuah kotak kecil kayu yang ia buat sendiri.

Dibawah pohon yang rindang, belakang pekarangan rumahnya, ia menggali tanah dengan sekop kecil. Kalut, kelam yang dirasakannya. Dilema menyerangnya yang menggali pelan, terkadang rasa tega membuatnya untuk tidak mengubur kenangan indah dalam kotak kecil kayu tersebut.

Tetesan air keringat mengaliri pipi dan jatuh ketanah, ia kelelahan, namun ia harus tetap mengubur kotak kecil tersebut.

"Mianhae... jeongmal mianhae..." dengan nafas terengah, ia masih menggali tanpa henti.

Masih terekam dimemorinya masa-masa indah bersama orang itu, saat ia pertama kalinya mengenal kata sayang dan merasakan rasa sayang yang tak terbatas dari orang itu.

Seorang Pangeran Thailand yang dipuja banyak orang.

_***_



Part. II
(* sorry there was miss-communication between me and connection)
Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM

-***-

Dibawah terik matahari, ia berjalan menelusuri jalan setapak menuju rumahnya. Tak dihiraukannya bau pesing, suara tikus yang mencericit dan kumuhnya gang kecil tersebut, ia terus melangkah tanpa henti.
Wooyoung menghentikan langkahnya ketika sebuah benda beebentuk silinder jatuh melewatinya, dan berhenti dikakinya. Ia teringat akan roll film kamera yang menggelinding jatuh saat itu, dan berhenti tepat dibawah kaki orang itu.

Pangeran Thailand mengambil roll tersebut lalu memandanginya, sadar akan itu milik Wooyoung yang berdiri dihadapannya, ia menggenggam roll itu sembari tersenyum pada Wooyoung.

"This is yours right?" Wooyoung mengangguk, diambilnya roll tersebut lalu meninggalkan orang itu tanpa pamit.

Malu, saat itu Wooyoung malu untuk berbicara padanya. Orang asing yang ditemuinya sukses membuat Wooyoung tersipu.

-***-

Wooyoung mengambil tiap inci pemandangan yang ada dihadapannya, ia memainkan kameranya layak seorang handal.

Dinikmatinya suasana hangat taman kota saat itu, hembusan angin membuatnya lupa akan waktu.
Tak luput darinya pemandangan disana, permen gulali kapas yang sedang dinikmati anak kecil, sebuah pasangan yang bercengkrama dan Pangeran Thailand yang mengembalikan roll filmnya.

Ia terdiam sesaat. Masih memandangi lewat lensanya, ia tetap mengambil gambar Pangeran Thai itu yang sedang berjalan mendekatinya.

"Hi" ucap orang itu dengan senyuman yang tetap menggantung di wajahnya.
Wooyoung berdiri, menatap wajahnya dan menjabat tangannya.

"Nickhun" Wooyoung tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyuman lalu kembali bermain dengan kameranya.

Nickhun berdiri disampingnya, mengedarkan pandangannya dan menepuk pundak Wooyoung.

"Try take it from there, might it will be better than here" ujarnya sambil menunjuk sebuah bangku panjang..

"Let's..." ditariknya tangan Wooyoung lalu diajaknya duduk di bangku tersebut.

-***-

Wooyoung sampai dirumahnya, ia membuka pintu dan beristirahat sejenak disofa ruang tamu. Ia memejamkan matanya, menikmati empuknya sofa yang ia beli sendiri dari hasil fotografinya.

Suasana yang hening, membuatnya ia terlelap. Rasa lelah yang hinggap membujuknya untuk tidur.

"This is your coffee" ia membuka matanya, ia duduk lalu mengedarkan pandangannya.
Ia merasa mendengar suara Nickhun.

Teringat ketika Nickhun menginap dirumahnya. Nickhun selalu membuatkan kopi hangat untuknya, selalu memanjakan Wooyoung.

"Aish... Jinjja.."























Selasa, 16 Oktober 2012

DooSeob Part. II



Part. II

Berusaha menghubungi Doojoon. SMS telepon, udah kulakukan. Hasilnya nihil, ga ada yang dijawab.

Agak sedikit marah, aku menyerah menelepon dia. Kucoba menelepon teman nya, Dongwoon. Aku tau jadwal latihan mereka, jadi kucoba menghubungi temannya dan menanyakan kabar Doojoon. Langsung saja kutelepon Dongwoon

Dongwoon, my best friend. Dia pernah suka padaku. Sejujurnya aku juga suka Dongwoon, gakalah perfect dari Doojoon. Entah, aku suka Doojoon pada awalnya, tapi lama kelamaan, aku menyesal. Doojoon terlalu cuek. Disaat Doojoon cuek, Dongwoon selalu ada buatku.

"Dongwoon-ah, apakah ada Doojoon disana?" tanyaku, berharap Dongwoon bisa mengabariku keadaan Doojoon sekarang.

"Doojoon? Sejam lalu dia pulang dari latihan, dia pulang duluan sih. Katanya bosen latian terus, namjachingu mu itu. Anyway, apa Doojoon ga contact kamu?" tanya Dongwoon penasaran.

"Ani *sigh* he always like that. Woon-ah, bisa temenin aku dirumah? Lagi sendirian nih, jebal" pintaku. Oya, aku sendirian dirumah, tadinya berharap Doojoon bsa menemani. Tapi ~

"N-ne. Chakaman. I'll go now" katanya, terdengar nada excited dri ucapannya.

Dongwoon POV

Doojoon babo ne? *smirk*

Aku langsung berganti pakaian, kuambil yang cukup keren. Menggunakan gel, menyemprotkan parfum, dan sebagainya. Intinya, tampil terbaik untuk Chorong tonight.

Langsung aku melesat turun kebawah, mengambil kunci motor, jaket, dan pergi melesat kerumah Chorong.

Sebenarnya aku sayang Doojoon, sebagai teman. Kalo dia sayang Chorong, aku juga akan senang, tapi engga. Dia menyiakan Chorong, aku yakin Chorong mulai muak sama Doojoon. Kesempatan? Iya. Tapi siapa yang membuka lebar kesempatan itu? Doojoon. Salahku? Iya. Sepenuhnya? Engga.

Tak lama aku sampai dirumah Chorong. Kutelfon dia dari bawah. Saat ku dial, ternyata dia sudah sadar. Ada jeritan "DONGWOON-AH!". Langsung aku menoleh ke arah pintu rumahnya. Terlihat Chorong, dengan baju rumah santainya. Tetap cantik, still dazzling. Doojoon, bego lu nyuekkin yeoja kaya gini.

Chorong POV

Setelah kulihat Dongwoon di luar pagar rumahku memegang handphone, aku langsung berteriak memanggil "DONGWOON-AH!"

Begitu dia menoleh ke arahku. Dor. Dia, gapernah lebih ganteng dari ini. Sangat cakep. Aku belum pernah lihat dia dengan model rambut seperti itu. Dan pakaiannya, so masculine. Doojoon, mianhae.

Aku melesat keluar rumah dan membukakan pintu gerbang. Tercium aroma parfum namja yang khas wanginya. Sungguh feromon bagiku. Langsung kutarik tangan dia dan kuajak masuk kerumahku.


-Continue-

Minggu, 14 Oktober 2012

DooSeob Part. I

Nano-nano FF (Manis Asem Asin) become one :)
This story from 'Anonim' :)

Cast : Doojoon and Yeoseob of B2ST
Part. I




Foreword

Yaoi, angst, a bit smut, fluff, romance
Ada straight dikit di beberapa chapter depan. Okay. Hope you like it


Perfect Life

Sekelompok namja mengiring lagu 'New York New York' di sebuah studio. Lagu jazz milik Frank Sinatra mengalun. Saxophone, ya saxophone pemegang penting dalam jazz. Alunan kasar tapi sexy bila seorang saxophonist menemukan pitch nya sendiri. Improvisasi. Selalu dibutuhkan saxophonist. Nothing easy from them.


Doojoon POV

"I want to wake up in a city that never sleep" aku bernyanyi dalam hati, mencoba mengiring lagu New York nya Sinatra.

"Pulang ya, cape nih, udah sore, besok kan bisa lagi. No, jangan besok. Nanti lagi aja ya?" kataku, memang males sih. I need a life. Bosen juga latihan terus.

"Ya lu kan udah hebat, biasa sombong. Wuuuu!!" canda Hyunseung.

"Yang hebat pulang aja deh hahaha" Dongwoonpun ikut bercanda. Sembari menyenggol tanganku.

"Hebat apasih? Newbie ini newbie. Cape ah, kan mau tidur juga" kataku sembari membersihkan sisa saliva didalam saxo.

"Punya temen kebo sih susah" tawa Junhyung sambil merangkulku dari belakang.

"Sehat tau. Guys, jangan terlalu dipaksa, pulang dulu ya. Bye! See you, thanks for the hard work" aku berjalan sambil menggendong tas saxo ku. Sebelum keluar studio aku melambaikan tangan kepada semua best friend ku. Nothing less from them, i love them all.

Aku berjalan menuju tempat parkir sambil bersenandung kecil lagu Goodbye Baby milik miss A. Bosen juga denger jazz / lagu classic, ballad. Sesekali dance-pop boleh juga.
Aku merogoh kantong celana, mencari kunci mobil yang entah dimana.

Tanpa sengaja aku melihat seorang namja sepantaran denganku, mukanya lucu seperti bayi dan agak pesek (?) *lol*. intinya dia lucu, kulihat dia keluar dari studio juga, ia tidak membawa instrumen sepertiku. Mungkin dia mengandalkan suaranya, drum, piano, keyboard. Gatau lah.

Setelah kudapat kunci mobil, langsung kubuka pintu mobil, kutaruh saxo ku perlahan. Aku selalu menganggap setiap barang adalah berharga, yah mungkin ini absurd, but i love them all like they are my girlfriends.

Aku menyetel music untuk menghilangkan rasa ngantuk dan bosan. Diperjalanan aku tetap bersenandung mengikuti lagu yang keluar dari speaker. Suara jelek is not a problem for me. Music harus bisa dinikmati, ga harus bagus, yang penting orang senang.

Tak lama aku sampai didepan gerbang rumah, kutekan klakson. Keluarlah yeoja paruh baya, my maid, membukakan gerbang rumah untukku.

"Kamsa loh yah" aku selalu sopan terhadap pembantuku. Menurutku, semua orang setara. Ga ada yang mau dilahirkan miskin kan? Makanya orang berkecukupan sepertiku harus membantu orang susah.

"Cheon Doojoon-ssi, mau dibantu bawa saxo nya?" pembantuku juga sangat loyal kepada keluarga kami. Maklum, ia sudah lama kerja dirumah kami.

"Gwenchana , saya aja, thanks ya" kataku tersenyum sambil kembali menggendong benda 5 kg itu.

Aku pun masuk kerumah, ga ada tanda kehidupan, sepertinya umma sedang pergi. Sedangkan appa bekerja di kota kelahirannya Daegu, sedangkan aku disekolahkan di Seoul, disini aku tinggal hanya bersama umma. Appa juga sering menengok kami, sebulan sekali pasti ada. Jadi walaupun aku sama appa jauh, kami tetep menjaga relasi.

Aku membuka kulkas, mencari botol berisi air dingin milikku, kuteguk hampir setengahnya habis. Lalu aku nyosor ke kasur. Sepertinya Doojoon-si-kebo memang benar. Aku emang cinta tidur.

"WHAT A LIFE" kataku pada diri sendiri. Terjun ke kasur kesayangan, dan mencari yeojachingu ku yang lain yaitu... Guling. Langsung kupeluk si guling. Beberapa menit kemudian aku tertidur.

-Continue-


Senin, 01 Oktober 2012

Hurricane Love (YaoiRps Ver)



Cast : Thunder (Cheondung), G.O, Seungho of MBLAQ
Part. II

-Hurricane Love (part. 2)- 

Keringat mengalir deras di kedua tubuh atletis namja tampan yang kini duduk di atas batu karang. Mereka
bertemu dengan kedua anggota EXO dan menyapanya, namun kini Thunder dan Seungho sedang menikmati pemandangan langka di hadapan mereka.

Dua anggota 'panas' EXO bercinta di pantai dengan telanjang bulat. Thunder dan Seungho memandangi mereka dari kejauhan, sepertinya Tao dan Kris tak sadar percintaan mereka di saksikan oleh dua insan tampan di atas batu karang yang berdekatan. Sedikit menelan ludah
Thunder mengalihkan pandangannya ke arah Seungho, sang leader tampan sedang mengapit selangkangannya. 

Thunder tersenyum lalu menyenggol pundak seungho dengan lengannya, 

"Hyung, kau tegang ya?" dengan muka yang sedikit memerah Seungho mengangguk dan membenarkan posisi jrnya.

"Entah kenapa, aku menjadi sangat bernafsu" jawab Seungho yang gelisah karena sang jr tertahan di dalam celana pantainya. 

"Choondung, kau ingin mencoba seperti mereka?" mata Thunder terbuka lebar mendengar ajakan sang leader, belum sempat menjawab Seungho menarik kepala Thunder dan mencium bibirnya, hangatnya matahari disiang itu membuat nafsu sang leader terbakar dan bersemangat. Suasana sepi pantai saat
itu mendukung mereka melakukan apapun sama seperti Tao dan Kris lakukan. Thunder menarik bibirnya dan memandang lekat wajah sang leader dengan rasa tak percaya, Seungho tersenyum nakal menggoda Thunder. 

Sengatan panas dari batu karang yang mereka duduki membuat nafsu ikut terbakar, sayangnya, Thunder malu melakukan itu di pantai. ia turun dari batu karang dan meninggalkan Seungho yang masih mengapit kedua pahanya menyembunyikan jr yang telah menegang. Thunder hampir terpeleset di tengah batu karang karena terkejut mendengar erangan nikmat Tao, dengan hati-hati Thunder turun dari batu karang dan meninggalkan Seungho. 

-Mblaq Dorm- 

Thunder sampai didorm dengan perasaan yang kesal, mengapa sang leader begitu kekanak-kanakan mengajaknya melakukan hal yang tadi mereka lihat. Walaupun saat itu Thunderpun ingin
mencoba hal baru yang tadi dilihatnya. Ia mengistirahatkan diri didalam kamar sambil berusaha menghilangkan bayangan yang selalu melintas dalam otaknya, bayangan dimana ia menjilat nipple dan bercinta dengan membernya. 

G.O yang menyadari kepulangan Thunder menghampiri dengan senyum merekah. 
"Ya! darimana kau!" ujar G.O yang langsung mengerjai Thunder dengan kelitikan, 

"Hentikanlah G.O" Thunder tertawa dan menjauhkan tangan G.O yang mengelitikinya, namun bagi Thunder perlakuan G.O sama seperti meraba. 
Thunder yang sedari tadi membayangkan adegan panas dalam otaknya, membuat tubuhnya semakin memanas dan menimbulkan cetakan jelas di celananya. Tangan G.O yang mengelitiki
tubuh Thunder tak sengaja menyentuh sebuah gundukan tebal di selangkangan Thunder, G.O terkejut dan mengerinyatkan dahinya.

"Wah, kau menegang, apa yang kau lakukan dengan seungho di pantai tadi?" muka Thunder memanas karena malu dan menutupi kakinya dengan selimut, 

"Ah, tidak, kita hanya berkeliling pantai" kelak Thunder. G.O yang menyadari Thunder menegang memasang wajah menggoda di hadapan wajah Thunder lalu ia keluar dari kamar meninggalkan Thunder, Thunder menarik nafas lega. Ia memasukan tangannya kedalam celana menggenggam lembut jrnya, masih dengan kaki yang terselimuti ia membenarkan posisi tidurnya. Ia mengecek lubang kecing yang telah mengeluarkan cairan bening.

"Sial, aku keluar" ujar Thunder, Thunder bangkit dari kasurnya lalu berjalan ke arah kamar mandi berniat mencuci jr yang lubangnya telah menempel lekat dengan celana dalam, Thunder kembali terkejut melihat seseorang sedang berdiri menghadap shower sambil memainkan jr, G.O yang saat itupula terangsang karena menyentuh gundukan tebal Thunder tak sadar akan kehadiran Thunder, ia merancap terus jrnya
tanpa memperdulikan apapun, dengan sedikit desahan G.O memaju mundurkan tangannya, tangan satunya bermain di dada dan nipple yang tegang.

Tak ayal lagi, jr Thunder semakin meronta dan membuat celananya semakin sempit. Ia memperhatikan G.O yang asyik bermain dengan dirinya, ia baru menyadari tubuh G.O terbentuk sempurna, tak terlihat ketika ia meggunakan kaos. Dipandanginya nipple tegang G.O dan jr panjang milik G.O, pemandangan langka baginya. 

Tanpa disadari tangan Thunder mengusap jrnya sendiri yang sudah sangat tegang. Dibuka kaus yang
menempel dan ditaruhnya dekat kakinya. Bukan hanya G.O yang merancap dirinya sendiri namun Thunderpun ikut teralir oleh suasana musim panas di dormnya membuat suhu segala ruangan ikut panas, termasuk kamar mandi utama. Pikiran Thunder kini benar-benar meninggalkan
tempatnya, ia berdiri membelakangi pintu masuk. Namun tak disadari telah ada seseorang yang berdiri menyaksikan tingkah Thunder. 

Lalu orang itu memeluk tubuh thunder yang bertelanjang dada dan membantu thunder memainkan nipplenya, thunder yang reflek merebahkan punggung didada orang itu, dengan desahan pelan tangan Thunder menghentikan aktifitasnya dan membiarkan tangan orang misterius tersebut bermain di
nipple yang telah menegang, tak hanya nipple yang dimainkan, tangan misterius itu kini telah menerobos masuk kedalam celana pantai dan
merogoh batangan jr Thunder.

Thunder mengerang pelan. Sambil memejamkan mata ia terus merebah pada dada bidang yang menempel pada punggungnya sendiri, dapat dirasakan Thunder nipple orang itupun ikut menegang. Ia meregangkan kakinya agar sang tangan misterius dapat terus bermain mesra di dalam celananya, seperti paham akan tingkah Thunder, orang itu menurunkan celana Thunder dan membiarkan jr Thunder
mencuat keluar dengan posisi tegang sempurna dan basah pada ujungnya, dibuat kissmark oleh orang itu pada leher Thunder dan itu membuat jr Thunder semakin mengeluarkan cairan beningnya. 

Desahan panjang dan keras menyadarkan G.O yang asyik bermain sendiri. G.O mendekati
kedua orang tersebut dan memandang mereka lekat lekat. kedua orang itu sama sama memejamkan mata dan saling menikmati permainan mereka G.O yang memang sudah terangsang karena menyentuh gundukan Thunder, berlutut dan memainkan jr Thunder nakal, bukan hanya jrnya yang
dimainkan, twinsball Thunderpun tak luput dari permainan. 

Thunder terkejut ketika jrnya terasa hangat. Ia membuka mata dan berdiri tegak untuk melihat seseorang yang sedang mempermainkan tubuhnya. kini terlihatlah G.O yang sudah mengulum jr thunder dan seungho yang telah bertelanjang bulat dibelakangnya. 
Maksud hati Thunder menghentikan kegiatan G.O namun yang keluar dari mulutnya hanya erangan nikmat.

"Aheumps, ashh aeuh" berulang-ulang Thunder mendesah membuat Seungho yang menyaksikannya semakin bernafsu. 

"Harum tubuhmu wangi Cheondung saat aku membuat kissmark pada lehermu" ujar Seungho sembari menatapnya dalam. G.O yang sedikit puas mengulum jr Thunder berdiri dan menarik mereka berdua ke bawah shower yang masih mengalirkan air dingin segar. Tanpa basa basi, Seungho melumat bibir Thunder dan menggigit lembut dengan memeluk tubuhnya. Jr Seungho dan Thunder saling menempel. sedangkan G.O bergantian mengulum twinsball Seungho dan Tthunder. Cipratan air membuat mereka semakin panas, Seungho mengangkat paha Thunder dan melingkarkan di pinggangnya. 

Mencuatlah jr Seungho yang telah diincar G.O, ia langsung mengulum kuat jr Seungho dan memainkan lubang kencingnya. Seungho yg menerima perlakuan tersebut menggelinjang, nafasnya memburu mengenai wajah Thunder. Sedangkan thunder menikmati ciuman ganas Seungho yang menggigit bibirnya menggantungkan kaki dan berposisi seperti koala. Ketika G.O melepas kulumannya dan mengambil sesuatu untuk jrnya, Seungho memepetkan diri sendiri, ia menukar posisi lalu membiarkan lubang Thunder terekspos di bawah cipratan air shower, Seungho mengusapkan sabun hingga menutupi seluruh batang jr G.O, G.O memasukan seluruh jrnya kedalam lubang Thunder yang membuat Thunder melepas ciumannya dan berteriak
Seungho yang memanfaatkan kesempatan itu langsung menciumi leher dan menjilati telinga Thunder.

"Hyunghh, hyungh" teriak Thunder sedikit mendesah, jr G.O telah masuk kedalam lubang Thunder sepenuhnya, dibiarkannya lubang tersebut menjepit batangan G.O dan menyesuaikan
diri, lalu G.O mendekatkan diri agar punggung Thunder dan nipple tegang G.O bergesekan, sedangkan Seungho yang masih menciumi leher kegelian karena ujung kepala jrnya bertabrakan dengan twinsball G.O. Thunder yang kesakitan kini meronta untuk menyelesaikan permainan ini dengan cepat 

"Hyungsh, cepats, akush takh tahans lagishhh" menuruti kemauan thunder G.O menadah pantat Thunder dan menaik-turunkan tubuhnya, Thunder menengokan wajahnya lalu mencium bibir G.O, tangan Thunder tak tinggal diam nipple Seungho menjadi korban cubitan nakal Thunder di kanan dan kirinya, sedangkan Seungho mengamati dengan tersenyum tingkah kedua membernya. Tak ingin ketinggalan permainan
Seungho mengocok jr Thunder yang sudah sangat licin karena cairan di ujung kepala jrnya. Dimainkannya dengan telunjuk kadang digenggam dengan keras. Bosan dengan posisi koala, Seungho dan G.O bekerja sama mengangkat tubuh Thunder dan berganti posisi. Thunder masih tetap diatas jr G.O dan G.O merebah di bath tub, sedangkan seungho menghisap jr thunder nakal. 

Aksi Seungho tak berhenti hanya sampai situ, ia menarik narik dan mencubit keras nipple Thunder. Dan kini Thunder dipaksanya menghisap jr Seungho. Tanpa pikir panjang Thunder menerima jr itu dengan senang hati. Hisapannya mengikuti tusukan jr G.O yg berirama dalam lubangnya. Air shower yang masih setia menjadi saksi bisu membuat suasana sejuk namun erotis. Tubuh mereka basah bersamaan, erangan G.O yang nikmat membuat seungho ikut mengerang, seperti bersahutan mereka terus mengeluarkan desahan erotis-erotis mereka.

"Auehus, ah, ashhs" sembari mengocok jrnya sendiri, Thunder merasa ia akan sampai pada puncaknya. Namun ia tak berbicara karena masih menikmati mengulum jr Seungho, kliamakspun akan dicapai Seungho. Ia memajukan jrnya hingga Thunder kewalahan karena tenggorokannya ditusuk jr Seungho. Tak berapa lama, pertahanan Seungho melemah dan mengeluarkan cairan hangatnya dalam tenggorokan Thunder 

"Aargh!!!" erang Seungho yg disusul oleh G.O yg memuntahkannya dalam perut Thunder hingga meleleh dari lubangnya mengaliri batang G.O sedangkan Thunder yang masih kuat mengeluarkan cairan  ke segala arah, mengenai dadanya dan dada Seungho. Mereka mengerang bersama-sama dan melepaskan diri dari pergumulan nikmat, masih dibawah siramain air shower. 

Thunder, G.O dan Seungho mandi bersama-sama mencoba menghilankan suasana panas dalam
Tubuh mereka masing-masing. Musim panas tahun ini sangat berkenang bagi EXO Tao, Kris dan MBLAQ G.O, Thunder dan Seungho

-End of Hurricane Love-