Rabu, 14 Mei 2014

Angga, is Still My Name (Ep. 2)

"Bu..." aku mendekati ibu yang sedang mencuci piring, aku berdiri disampingnya.

"Ya, kenapa?"

"Boleh aku kembali ke ibukota?" kulihat ibu terdiam sesaat, lalu kembali mencuci piring.

"Boleh bu?"

"Untuk apa? Mendapatkan kembali apa yang telah kau lepaskan?"

Aku terdiam. Ibu memandangku, lalu mengeringkan tangannya dengan lap disamping westafel.

"Sudah sadar dengan apa yang kemarin telah kau lakukan?" aku masih diam.

Ibu melangkah ke meja makan dan membersihkan sisa kotoran makanan yang tertinggal.

"Ibu lelah berperan, nak... Peran ibu terlalu aneh, ibu harus berpura-pura menerima Noval meski kau mengetahui betapa bencinya ibu pada Noval, belum lagi dengan wanita yang mengaku ibunya Angga" ibu terdiam sesaat, memandangku, lalu kembali merapihkan meja makan.

"Ibu tak ingin lagi berpura-pura, kau meminta restu ibu untuk berhubungan dengan Angga dan ibu sudah merestui kalian, tapi kenapa kau begitu bodoh, nak" aku membisu mendengarkan ocehan ibu.

"Dengar, andai saja kau hanya membawanya kemari tanpa memiliki rencana untuk membuat Angga dan Noval berbaikan, mungkin kini Angga membantu ibu merapihkan meja makan ini" ibu melangkah ke arahku, memandangku lekat-lekat.

"Ibu sudah tua, ibu banyak kekurangan, ibu tak ingin mengatur jalan hidupmu, jadi..." ibu mengusap wajahku.

"Izinkan ibu fokus beristirahat, menikmati masa tua yang orang lain katakan indah..." ibu mencubit pipi, hidungku lalu mengecup keningku.

"Sudahlah, ibu harus mengurus adikmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ibu sambil tersenyum padaku sebelum pergi melangkah ke ruang tengah.

Hatiku teriris mendengar kalimat ibu. Aku benar-benar merasa bersalah.

Aku baru mengetahui kekesalan ibu, jujur saja, saat aku mengatakan rencanaku pada ibu tentang Angga, ibu merespon dengan baik. Bahkan saat Noval ku kenalkan melalui fotoㅡsebelum Noval datang kerumah, respon ibu pula biasa saja.

Aku memaksa ibu untuk menerima Noval, aku juga memaksa Angga untuk berbaikan dengan Noval, tapi aku tak pernah berpikir perasaan mereka yang terpaksa.

Konyol. Aku begitu idiot.

Aku seakan terjerumus dilubang yang begitu dalam. Aku tak dapat naik keatas setelah masuk ke dalam.

Astaga, aku benar-benar bodoh.

-***-

"Kak, kak, kak Angga lagi apa ya? Joan kangen kak Angga" aku membelalakan mataku mendengar ocehan Johan yang duduk diatas pangkuan pahaku.

Matanya berbinar, memohon padaku agar menjawab pertanyaannya.

"Johan kangen?" tanyaku balik.

"Ya, Joan mau main lagi sama kak Angga" aku terdiam, aku memandang wajah Ressa yang menatapku dari kejauhan.

Ressa hanya tersenyum.

"Ya udah, nanti kakak bawa kak Angga main kesini" ujarku lemas.

"Jangan boong ya, awas aja" ancam Johan. Aku tersenyum, mengangguk mengiyakan.

"Johan, udah malem sayang, bobo yuk" terdengar suara ibu dari arah belakangku.

"Ya bu!" jawab Johan dengan nada riang.

Johan berdiri lalu berlari ke arah ibu dan memeluknya. Ibu melangkah ke arah kamar Johan dengan menggendong Johan didadanya.

Ku lihat Ressa menahan tawa, lalu bergerak ke arahku dan duduk disampingku.

"Belum melepas topeng, kak?" tanya Ressa.

"Topeng apa?" Ressa terkekeh.

"Kenapa kau jawab ya sementara aku yakin kau tak akan mungkin sanggup membawa Angga"

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Aku bukan Johan yang polos, kak. Aku Ressa, yang sudah memiliki kartu tanda penduduk, kau harusnya paham itu"

"Lalu?"

"Kau bodoh kak..."

"Apa maksudnya?"

"Kau seharusnya mendengar kalimatku dan melepas topeng mu, tak malukah jika kau nanti harus berbohong lagi pada adikmu?" aku terdiam.

"Untuk sekarang mungkin kau akan berkata jika Angga seperti ini, seperti itu pada Johan, tapi lihat nanti, Johan akan menuntut janji mu dan pasti memaksamu untuk mempertemukannya dengan Angga"

"Tapi..."

"Ada pengaruhnya, meski Angga bukan anggota keluarga tapi Johan sudah menganggap jika Angga bagian dari hidupnya" mataku terbuka lebar, Ressa seperti dapat membaca pikiran ku.

Kalimat-kalimat yang diucapkan adik perempuanku ini, seperti menjawab pertanyaan dalam benakkuㅡwalau aku tidak mengatakannya.

"Kau lebih jauh dewasa dariku, pahami kalimatku, meski sebenarnya aku tertekan karena kakak ku satu-satunya memilih laki-laki daripada perempuan" Ressa tersenyum pelan, lalu berdiri.

"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan mungkin memang inilah yang terbaik" Ressa melangkah meninggalkanku.

"Tidurlah, walau aku yakin kau tak akan mungkin bisa terlelap" ucapnya sebelum benar-benar menghilang.

Terdengar gelak tawa dari televisi mengisi kesunyian ruang tengah, sementara aku membisu memandang kosong televisi dihadapanku.

-TBC-

Angga, is Still My Name (Ep. 1)

Aku tak berhenti menatapi langit malam, dan mulutku terus mengucapkan kalimat penyesalan. Aku sungguh bodoh.

Semua hal yang kurencanakan hancur begitu saja, tanpa ada satupun yang berhasil.

Andai saja hari ini dapat terulang, aku tak akan membiarkan Angga pergi dari hidupku. Akan ku tahan Noval, dan menyuruhnya pergi tanpa membawa Angga.

Aku benar-benar menyesal.

"Apa yang kau sesali?" aku membalikan tubuh, dan mataku terbuka lebar.

Angga masih disini! Angga masih ada disini!

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi, ia mendekatiku lalu ikut duduk di kusen jendela bersamaku.

Matanya memandangku. Mata besarnya seakan menelanjangiku, ia seakan menyalahkanku atas apa yang terjadi tadi siang.

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi.

Jantungku berdegup kencang.

"Tak ada..." Angga terkekeh.

"Kau tak pandai menyimpan kebohongan, kurang puaskah kau membuatku menangis kemarin?"

"Aku... Aku tidak..."

"Katakan padaku, apa yang kau sesali?" ia memotong kalimatku.

Aku menghela nafas. Angga benar, aku tak pandai berbohong. Aku pecundang, tak berani mengakui jika aku salah.

Mataku memanas, dadaku terasa sakit dan sesak, jantungku berdegup kencang, aku tak sanggup lagi menahan air mataku.

"Aku... Menyesal dengan yang baru saja terjadi" ucapku.

Air mataku menetes.

"Kenapa kau tak menahan ku? Kenapa kau tak meminta Noval untuk membiarkan aku disini? Kenapa kau membiarkanku pergi darimu? Kenapa..."

"Ku mohon... Berhentilah..." ucapku memotong Angga yang terus bertanya.

Mataku terpaku menatapnya. Ia terdiam, lalu ia berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.

"Kau pecundang, pengecut dan bodoh..." jantungku seakan remuk saat mendengar kalimatnya.

Angin malam berhembus kencang, sementara air mataku mengalir semakin deras.

Angga, kau benar. Aku memang pecundang. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak takut akan resiko apapun yang kau ambil, tetapi aku tak sanggup. Aku tak bisa.

Kau paham jika aku lebih menyukai zona aman dibanding mengambil resiko. Kau benar, aku begitu bodoh. Sangat bodoh.

Maafkan aku.

-***-

"Kak, kau tidak pergi?" pertanyaan Ressa membangunkanku yang termenung didalam kamar.

Ressa berdiri di ambang pintu, memandangku yang duduk di atas kasur.

"Pergi? Kemana?"

"Mengejar cintamu..." ucap Ressa yang berjalan mendekatiku.

"Dulu, kau menasihatiku mengenai cinta yang kurasakan, bolehkah aku menasihatimu sekarang?" Ressa duduk dihadapanku. Rambut panjangnya tergerai indah, Ressa terlihat cantik siang ini.

"Semalam, siapa yang kau tangisi? Kau mengira Angga masih disini?"

Aku diam.

"Aku tak sengaja memergoki mu yang terisak, dan berulang-ulang memanggil Angga, do you love him, right? Kejar cintamu, untuk apa kau disini merenungi kesedihan yang entah kapan akan selesai" aku terdiam. Pipiku seakan ditampar oleh Ressa.

Ressa benar, kenapa aku berdiam diri?

"Ingat kalimat tadi, yang aku ucapkan? Kau berkata hal yang sama padaku, dan aku mengingatnya sampai sekarang. Semoga kau sadar dengan kalimat itu, karena aku langsung tersadar saat aku mendengar nasihat mu" Ressa tersenyum.

"Aku memiliki kakak yang tegar diluar namun rapuh disini..." tangan Ressa menunjuk dadaku.

"Berhenti berpura-pura, karena orang lain lelah melihatmu yang berpura-pura" Ressa berdiri, lalu melangkah keluar kamar.

"Semangat, semoga kau dapat mengejar cintamu" ucapnya.

Aku tersenyum.

"Johan! Itu rok sekolah kakak!" ku dengar Ressa berteriak sebelum pergi meninggalkan ku yang
membisu.

"Johan nakal ya, awas aja kalo minta es krim" masih terdengar suara Ressa yang berteriak, sedangkan aku membisu.

Setelah malam tadi aku membayangkan Angga yang masih ada disini, kini aku merasa tubuhku dihajar oleh Ressa.

Semua yang Ressa ucapkan benar. Aku terlalu nyaman mengenakan topeng kepura-puraan, hingga tak sadar jika aku menginjak tanah.

Aku sudah terbang tinggi dibawa angin kencang.

Astaga, kenapa aku begitu bodoh.

-TBC-

Angga, is Still My Name (Synopsis)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Source.
Label : ABEnt.

Synopsis

"Lalu, harus ku panggil kau, siapa?" ku lihat ia terdiam.

Matanya menatap tajam wajahku.

"Baiklah, ku panggil kau, Angga" aku tersenyum. Dia membuka matanya lebar.

"Kenapa kau begitu baik padaku?"

Aku mendekatinya, lalu duduk disampingnya.

"Baiklah, Angga" aku tak menjawab pertanyaannya.

"Aku Daniel, jadi... Jangan sungkan memanggil namaku" lanjutku.

Angga terdiam. Dia berdiri lalu mengambil bungkusan rokok dari kantung celananya.

"Rokok?" aku terdiam.

Sungguh, orang yang sangat unik.

-***-

"Daniel..."

"Ya?"

"Culik aku... Bawa aku ketempat yang orang lain tidak mengetahuinya... Ku mohon" terdengar suara yang bergetar dan isakan di ujung telepon.

"Ada apa denganmu?"

Angga terdiam, isakan tangisnya menjawab pertanyaanku.

"Hey... Tenangkan dirimu..."

Masih terdengar isakan disana.

"Aku... Lelah..."

Panggilan terputus. Aku terdiam, banyak pertanyaan mengisi benakku. Apa yang terjadi dengannya?

Angga, jangan membuatku khawatir.

Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.

2014©Angga, is Still My Name.