Rabu, 14 Mei 2014

Angga, is Still My Name (Ep. 1)

Aku tak berhenti menatapi langit malam, dan mulutku terus mengucapkan kalimat penyesalan. Aku sungguh bodoh.

Semua hal yang kurencanakan hancur begitu saja, tanpa ada satupun yang berhasil.

Andai saja hari ini dapat terulang, aku tak akan membiarkan Angga pergi dari hidupku. Akan ku tahan Noval, dan menyuruhnya pergi tanpa membawa Angga.

Aku benar-benar menyesal.

"Apa yang kau sesali?" aku membalikan tubuh, dan mataku terbuka lebar.

Angga masih disini! Angga masih ada disini!

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi, ia mendekatiku lalu ikut duduk di kusen jendela bersamaku.

Matanya memandangku. Mata besarnya seakan menelanjangiku, ia seakan menyalahkanku atas apa yang terjadi tadi siang.

"Apa yang kau sesali?" tanyanya lagi.

Jantungku berdegup kencang.

"Tak ada..." Angga terkekeh.

"Kau tak pandai menyimpan kebohongan, kurang puaskah kau membuatku menangis kemarin?"

"Aku... Aku tidak..."

"Katakan padaku, apa yang kau sesali?" ia memotong kalimatku.

Aku menghela nafas. Angga benar, aku tak pandai berbohong. Aku pecundang, tak berani mengakui jika aku salah.

Mataku memanas, dadaku terasa sakit dan sesak, jantungku berdegup kencang, aku tak sanggup lagi menahan air mataku.

"Aku... Menyesal dengan yang baru saja terjadi" ucapku.

Air mataku menetes.

"Kenapa kau tak menahan ku? Kenapa kau tak meminta Noval untuk membiarkan aku disini? Kenapa kau membiarkanku pergi darimu? Kenapa..."

"Ku mohon... Berhentilah..." ucapku memotong Angga yang terus bertanya.

Mataku terpaku menatapnya. Ia terdiam, lalu ia berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.

"Kau pecundang, pengecut dan bodoh..." jantungku seakan remuk saat mendengar kalimatnya.

Angin malam berhembus kencang, sementara air mataku mengalir semakin deras.

Angga, kau benar. Aku memang pecundang. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak takut akan resiko apapun yang kau ambil, tetapi aku tak sanggup. Aku tak bisa.

Kau paham jika aku lebih menyukai zona aman dibanding mengambil resiko. Kau benar, aku begitu bodoh. Sangat bodoh.

Maafkan aku.

-***-

"Kak, kau tidak pergi?" pertanyaan Ressa membangunkanku yang termenung didalam kamar.

Ressa berdiri di ambang pintu, memandangku yang duduk di atas kasur.

"Pergi? Kemana?"

"Mengejar cintamu..." ucap Ressa yang berjalan mendekatiku.

"Dulu, kau menasihatiku mengenai cinta yang kurasakan, bolehkah aku menasihatimu sekarang?" Ressa duduk dihadapanku. Rambut panjangnya tergerai indah, Ressa terlihat cantik siang ini.

"Semalam, siapa yang kau tangisi? Kau mengira Angga masih disini?"

Aku diam.

"Aku tak sengaja memergoki mu yang terisak, dan berulang-ulang memanggil Angga, do you love him, right? Kejar cintamu, untuk apa kau disini merenungi kesedihan yang entah kapan akan selesai" aku terdiam. Pipiku seakan ditampar oleh Ressa.

Ressa benar, kenapa aku berdiam diri?

"Ingat kalimat tadi, yang aku ucapkan? Kau berkata hal yang sama padaku, dan aku mengingatnya sampai sekarang. Semoga kau sadar dengan kalimat itu, karena aku langsung tersadar saat aku mendengar nasihat mu" Ressa tersenyum.

"Aku memiliki kakak yang tegar diluar namun rapuh disini..." tangan Ressa menunjuk dadaku.

"Berhenti berpura-pura, karena orang lain lelah melihatmu yang berpura-pura" Ressa berdiri, lalu melangkah keluar kamar.

"Semangat, semoga kau dapat mengejar cintamu" ucapnya.

Aku tersenyum.

"Johan! Itu rok sekolah kakak!" ku dengar Ressa berteriak sebelum pergi meninggalkan ku yang
membisu.

"Johan nakal ya, awas aja kalo minta es krim" masih terdengar suara Ressa yang berteriak, sedangkan aku membisu.

Setelah malam tadi aku membayangkan Angga yang masih ada disini, kini aku merasa tubuhku dihajar oleh Ressa.

Semua yang Ressa ucapkan benar. Aku terlalu nyaman mengenakan topeng kepura-puraan, hingga tak sadar jika aku menginjak tanah.

Aku sudah terbang tinggi dibawa angin kencang.

Astaga, kenapa aku begitu bodoh.

-TBC-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar