"Bu..." aku mendekati ibu yang sedang mencuci piring, aku berdiri disampingnya.
"Ya, kenapa?"
"Boleh aku kembali ke ibukota?" kulihat ibu terdiam sesaat, lalu kembali mencuci piring.
"Boleh bu?"
"Untuk apa? Mendapatkan kembali apa yang telah kau lepaskan?"
Aku terdiam. Ibu memandangku, lalu mengeringkan tangannya dengan lap disamping westafel.
"Sudah sadar dengan apa yang kemarin telah kau lakukan?" aku masih diam.
Ibu melangkah ke meja makan dan membersihkan sisa kotoran makanan yang tertinggal.
"Ibu lelah berperan, nak... Peran ibu terlalu aneh, ibu harus berpura-pura menerima Noval meski kau mengetahui betapa bencinya ibu pada Noval, belum lagi dengan wanita yang mengaku ibunya Angga" ibu terdiam sesaat, memandangku, lalu kembali merapihkan meja makan.
"Ibu tak ingin lagi berpura-pura, kau meminta restu ibu untuk berhubungan dengan Angga dan ibu sudah merestui kalian, tapi kenapa kau begitu bodoh, nak" aku membisu mendengarkan ocehan ibu.
"Dengar, andai saja kau hanya membawanya kemari tanpa memiliki rencana untuk membuat Angga dan Noval berbaikan, mungkin kini Angga membantu ibu merapihkan meja makan ini" ibu melangkah ke arahku, memandangku lekat-lekat.
"Ibu sudah tua, ibu banyak kekurangan, ibu tak ingin mengatur jalan hidupmu, jadi..." ibu mengusap wajahku.
"Izinkan ibu fokus beristirahat, menikmati masa tua yang orang lain katakan indah..." ibu mencubit pipi, hidungku lalu mengecup keningku.
"Sudahlah, ibu harus mengurus adikmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ibu sambil tersenyum padaku sebelum pergi melangkah ke ruang tengah.
Hatiku teriris mendengar kalimat ibu. Aku benar-benar merasa bersalah.
Aku baru mengetahui kekesalan ibu, jujur saja, saat aku mengatakan rencanaku pada ibu tentang Angga, ibu merespon dengan baik. Bahkan saat Noval ku kenalkan melalui fotoㅡsebelum Noval datang kerumah, respon ibu pula biasa saja.
Aku memaksa ibu untuk menerima Noval, aku juga memaksa Angga untuk berbaikan dengan Noval, tapi aku tak pernah berpikir perasaan mereka yang terpaksa.
Konyol. Aku begitu idiot.
Aku seakan terjerumus dilubang yang begitu dalam. Aku tak dapat naik keatas setelah masuk ke dalam.
Astaga, aku benar-benar bodoh.
-***-
"Kak, kak, kak Angga lagi apa ya? Joan kangen kak Angga" aku membelalakan mataku mendengar ocehan Johan yang duduk diatas pangkuan pahaku.
Matanya berbinar, memohon padaku agar menjawab pertanyaannya.
"Johan kangen?" tanyaku balik.
"Ya, Joan mau main lagi sama kak Angga" aku terdiam, aku memandang wajah Ressa yang menatapku dari kejauhan.
Ressa hanya tersenyum.
"Ya udah, nanti kakak bawa kak Angga main kesini" ujarku lemas.
"Jangan boong ya, awas aja" ancam Johan. Aku tersenyum, mengangguk mengiyakan.
"Johan, udah malem sayang, bobo yuk" terdengar suara ibu dari arah belakangku.
"Ya bu!" jawab Johan dengan nada riang.
Johan berdiri lalu berlari ke arah ibu dan memeluknya. Ibu melangkah ke arah kamar Johan dengan menggendong Johan didadanya.
Ku lihat Ressa menahan tawa, lalu bergerak ke arahku dan duduk disampingku.
"Belum melepas topeng, kak?" tanya Ressa.
"Topeng apa?" Ressa terkekeh.
"Kenapa kau jawab ya sementara aku yakin kau tak akan mungkin sanggup membawa Angga"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Aku bukan Johan yang polos, kak. Aku Ressa, yang sudah memiliki kartu tanda penduduk, kau harusnya paham itu"
"Lalu?"
"Kau bodoh kak..."
"Apa maksudnya?"
"Kau seharusnya mendengar kalimatku dan melepas topeng mu, tak malukah jika kau nanti harus berbohong lagi pada adikmu?" aku terdiam.
"Untuk sekarang mungkin kau akan berkata jika Angga seperti ini, seperti itu pada Johan, tapi lihat nanti, Johan akan menuntut janji mu dan pasti memaksamu untuk mempertemukannya dengan Angga"
"Tapi..."
"Ada pengaruhnya, meski Angga bukan anggota keluarga tapi Johan sudah menganggap jika Angga bagian dari hidupnya" mataku terbuka lebar, Ressa seperti dapat membaca pikiran ku.
Kalimat-kalimat yang diucapkan adik perempuanku ini, seperti menjawab pertanyaan dalam benakkuㅡwalau aku tidak mengatakannya.
"Kau lebih jauh dewasa dariku, pahami kalimatku, meski sebenarnya aku tertekan karena kakak ku satu-satunya memilih laki-laki daripada perempuan" Ressa tersenyum pelan, lalu berdiri.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan mungkin memang inilah yang terbaik" Ressa melangkah meninggalkanku.
"Tidurlah, walau aku yakin kau tak akan mungkin bisa terlelap" ucapnya sebelum benar-benar menghilang.
Terdengar gelak tawa dari televisi mengisi kesunyian ruang tengah, sementara aku membisu memandang kosong televisi dihadapanku.
-TBC-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar