Jumat, 25 Desember 2015

All I Want For Christmas Is You

All I Want For Christmas Is You
Cast : Yong Junhyung (용준형) and Yang Yoseob (양요섭) of B2ST/Beast (비스트)
Special for : @joker8919l2
Genre : Yaoi-One shot

Warning! This story contain an explisit sex scene! Please leave this page if you don't feel comfortable.

-***-

[Author POV]

"Bagaimana ini?" ia bergumam pelan sembari memandangi potret yang terselip diantara bingkai dan cermin.

Seharian ini ia sangat tidak bergairah, banyak yang ia pikirkan mengenai seseorang yang ia sayangi, dan ia masih merasa bersalah karena kejadian beberapa malam yang lalu.

Seandainya malam itu ia tidak begitu pasif, mungkin kini ia akan menghabiskan malam natal berdua bersama orang itu yang hingga sekarang belum menunjukan batang hidungnya.

"Apa yang harus aku siapkan? Apa yang ingin ku beri?" ujarnya lembut dengan jari yang bergerak naik turun di atas layar sentuh miliknya. Matanya bergerak cepat mengikuti gerakan layar.

"Kado natal... Kado, Natal... Natal... Argh! Ah jinjja! Neomu... Argh!" ia dengan sedih memandang wajah yang memantul di cermin. Wajah yang sedikit memerah, dengan rambut acak-acakan dan raut muka yang lelah.

"Babo..." ia menyalahkan wajah itu. "Ah... Yang Yoseob! Jeongmal baboya~"

Kemudian, ia menghela nafas dan melangkah lesu ke dalam kamar, lalu merebahkan diri di atas kasur yang masih berantakan.

-***-

[Yoseob POV]

"Aku pulang..." terdengar suara yang ku kenal dari arah pintu, bergegas aku menyembunyikan kue yang ku buat dalam lemari pendingin, dan berusaha memanipulasi suasana agar terlihat 'tidak ada yang terjadi tadi'.

"Selamat datang" aku menyambutnya dengan senyuman yang menggantung, namun tidak dengannya. Ia menekuk wajahnya, dan terlihat sangat lelah.

"Ada apa?" aku mendekatinya yang duduk lemas di sofa sembari menonton tayangan televisi.

Ia tidak memandang ku sama sekali, terlalu fokus dengan tayangan malam natal.

"Aku sudah siapkan air hangat, mungkin lebih baik..."

"Ya, nanti" aku terdiam mendengar kalimatnya yang memotong pembicaraan ku. Mungkin ia masih kesal dengan kepasifan ku beberapa malam yang lalu.

Jika sudah seperti ini, aku hanya bisa diam, menunggu waktu membantu ku untuk berbicara dengannya.

Ku biarkan ia yang masih fokus dengan benda dihadapannya, dan berharap ia memaafkan ku dengan cepat. Sesungguhnya aku tak suka dengan suasana canggung seperti ini. Aku benci saat dia seperti ini.

Junhyung yang ku kenal seakan berbeda, Junhyung yang selalu tersenyum--berusaha selalu tersenyum dihadapan ku menjadi pendiam dan sangat mengerikan.

Mau tak mau, aku kembali ke dapur, mengenakan apron yang tadi sempat ku lepas. Memasak beberapa menu spesial yang ku temui di browser.

Aku berusaha untuk tidak bersedih karena sikapnya, aku berusaha menyembunyikan kesedihan ku dengan mencoba tersenyum setiap aku melakukan sesuatu.

Namun, apa dayaku. Air mata ku mulai menetes ketika tanganku mengupas kulit bawang dan memotongnya kecil kecil. Rasanya, aku tak sanggup melanjutkan semua ini. Entah efek pedas dari bawang entah memang aku yang terlalu kalut dalam kesedihan ku.

Aku hanya ingin malam natal ini menghabiskan waktu bersamanya, berbagi cerita, tertawa bersama, menunjukan kebahagiaan dan saling menunjukan kasih sayang. Namun, aku tak bisa memaksanya jika ia sedang tidak ingin berbicara padaku.

Apa yang harus aku lakukan?

"Hey..." aku sontak terkejut ketika pinggang ku dipeluk. "Sedang buat apa?"

Aku ingin membalikan tubuh namun aku tak ingin ia melihatku menangis. Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kenapa diam?" air mataku mulai mengucur deras, dan mungkin terjatuh di lengannya.

Ia memaksa ku untuk membalikan tubuh dan memandangnya. Aku berusaha menolak namun tenaganya lebih kuat, mau tak mau aku menunduk ketika tubuh ku berbalik ke arahnya.

"Lihat aku..." berulang-ulang ia mengatakan itu. Terpaksa aku mengangkat wajahku.

"Kenapa menangis?" aku menggelengkan kepala.

"Dengar... Kau membuat ku sedih jika menangis seperti ini dan membuatku sakit jika kau tak mengatakannya" aku memandangnya, aku tak dapat menyembunyikan isak tangis ku.

"Maaf..." kini, ia memandang ku heran.

"Untuk?"

"Maafkan aku... Beberapa malam yang lalu aku terlalu pasif..." ia menghela nafas panjang, jemarinya menghapus aliran air mata di pipi ku.

Lagi, ia menghela nafas.

"Dengar, lupakan itu... Sudahlah, meski aku kecewa, tapi kau tetap kau... kau tetap Yang Yoseob yang aku sayang..."

Aku menatapnya, ada sedikit rasa sedih mendengar jika ia kecewa.

-***-

[Junhyung POV]

Entahlah, meski aku kecewa, tapi aku tak tega melihatnya menangis--apalagi penyebab ia menangis itu aku. Mengacaukan perasaanku.

"Lupakanlah, ne?" ia mengangguk dan tersenyum padaku.

Ah, senyum itu...

Lalu tangannya mengusap air matanya sendiri sembari mulutnya yang sedikit maju.

Ekspresi itu...

Senyum dan ekspresinya membuat jantungku sedikit berdetak lebih kencang, belum lagi dengan wajahnya yang memerah dan tersipu saat memandang ku.

Aku tak sanggup lagi...

Kudekati wajahku ke wajahnya, hembusan nafasnya mengenai philtrum, membuatku semakin mendekatkan wajah.

Ku cium bibirnya lembut, sementara tangan ku menekan kepalanya untuk tidak bergerak jauh. Belum ada respon apapun darinya, namun nafasnya memberat, seakan ia tak ingin aku melepas ciuman ini. Sengaja, ku kepas ciuman ku, menatapnya dan sedikit tersenyum.
Ia membalas tatapan ku, seakan memberi isyarat 'kenapa kau menghentikannya?'.

"Junnie..." aku tersenyum mendengarnya memanggil nama ku.

"Aku..." aku kembali menciumnya, tak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih banyak.

Kali ini, ciuman ku mendapat respon. Ia membalas ciumanku dan sedikit melumat bibirku, tangannya tak lagi diam. Kini tangannya menyentuh pinggangku, menuntun tubuhku untuk lebih dekat. Kaki kanannya menyilang kaki ku. Aku paham maksudnya.

Aku melepas tekanan tangan ku dikepalanya, turun ke pahanya dan mengangkat tinggi kedua kakinya. Merasa aku menerima radar darinya, kedua kakinya langsung menyilang dipinggang ku--memeluk tubuhku erat dan menekan tubuhku.

Tangan Yoseob kini berada di leher ku, melingkar, mengusap kepala terkadang menarik rambutku lembut. Nafasnya semakin berat, ia mengerang, menghembuskan nafasnya mengikuti ritme ciuman ku, dan setiap tarikan nafasnya yang terdengar erotis membuatku semakin tak ingin melepaskan ciuman ini.

Aku yakin, tanganku di pahanya tak lagi dibutuhkan, aku sengaja memeluknya dan mengangkatnya. Ringan, begitu ringan--menurutku. Masih tetap berciuman, aku mengangkatnya ke meja dapur untuk sesaat sebelum akhirnya ku angkat ia dan ku tekan hingga punggungnya menempel di dinding. Aku menekannya, dan memastikan jika ia tak akan lepas dariku.

Lidah ku menyentuh langit langit dalam mulutnya, melakukan french kiss dan saling bertukar saliva.

"Heungh..." erangan erotis membuatku semakin menjadi. Aku menjilati telinganya, menggigit daun telinganya dan menghisapnya. Sementara ia, semakin menekan kepalaku, seakan menyuruhku untuk terus melakukannya.

Bibirku agak turun sedikit ke lehernya, membasahinya dengan liurku sebelum akhirnya kubuat tanda merah yang benar benar matang--hampir keunguan.

"Angh... Je... Jebal..." itu yang kudengar sebelum aku memandangnya. Matanya berair saat ku tatap, wajahnya merona, tersipu, dan nafasnya semakin berat.

"Junnie... Please... Be gentle..." entah apa yang terjadi dengan ku, mendengar bisikannya--yang terdengar sangat seksi membuatku kalap. Aku langsung menciumnya dan menggigit juga mengulum bibirnya. Jemarinya menjambak rambutku kasar.

Sudah jelas, aku tak dapat menahannya lagi. Kemaluanku dan kemaluannya sama-sama menegang--dapat kurasakan itu karena batang kemaluannya mendesak celanaku.

Ia terdengar seperti orang yang habis berlari jauh sembari memelukku erat. Aku menggendongnya hingga kamar, dan memposisikan diri duduk ditepi ranjang sementara ia duduk di paha ku.

Sungguh, ekspresi yang ia tunjukan seperti memberi isyarat 'jangan hentikan ini' dan aku sendiri dikuasai oleh nafsu yang berujung terus menerus menciumi bibirnya. Tanganku meraba punggungnya, melepaskan tali celemek dan masuk kedalam perut yang masih dibalut baju kesukaannya.

Ia lepas ciuman ku, tangannya melepas apron dan bajunya, menunjukan tubuhnya kepadaku. Keringat membasahi tubuhnya, seakan mengkilat ketika cahaya lampu mengenai tubuhnya. Sungguh begitu seksi dan sangat erotis.

Tangannya menuntun kepala ku kearah dadanya. Aroma yang ku suka menusuk hidung dan tak dapat menahan godaan untuk menjilati puting dadanya yang mengeras.

"Eungh... Please..." aku pura-pura tak mendengarnya, dan mengecup putingnya sebelum ku gigit lembut dan kembali ku jilat. Perlakuan ku membuatnya semakin menekan kepalaku, kakinya semakin menekan tubuhku, dan aku semakin gila dibuatnya.

-***-

[Yoseob POV]

Aku tak yakin jika aku dapat lebih aktif dari ini. Aku teringat kalimatnya yang mengatakan jika lebih suka mendominasi. Ku harap ia tak menghentikan ini saat aku benar benar menikmatinya.

Namun, jujur. Aku suka cara ia memainkan mulutnya di dadaku. Cara ia menjilat kedua puting ku dan lidahnya menari-nari di tengah dadaku. Cara ia meremas kedua bongkahan pantatku dan memainkan dua jari dilubang anusku.
Aku tak dapat menahan erangan demi erangan dari perlakuan Junhyung. Ia benar-benar pandai membuatku melayang seperti sekarang.

Aku benar-benar lupa siapa yang memulai semua ini, yang aku ketahui hanya : aku sedang di-rimming olehnya.

Lidahnya menusuk anusku, sementara tangannya merancap penisku dengan irama stabil dan memainkan telunjuknya dilubang kencingku. Geli, tapi--aku tak ingin munafik, ada rasa nikmat yang kurasa.

Kepala kemaluanku sudah lengket dengan precum yang sedari tadi terus keluar, dan rancapannya di kemaluanku membuat kemaluanku semakin menegang.
Jujur, aku hanya dapat mengerang, mendesah, melenguh karena perlakuannya begitu membuatku ingin sampai klimaks.

"Geli... Junnie... Geli..."

Ia tak mendengar ucapanku, lidahnya semakin nakal membasahi dan menusuk-nusuk lubang pantatku. Aku tak dapat menggambarkan apa yang sedang kurasakan.

"Seob-ah... Kau siap?"

-***-

[Author POV]

"N... Ne-h..." Yoseob mengangguk pelan sembari menatap Junhyung yang sedang merancap kemaluannya sendiri.

"Astaga... Imut sekali..." gumam Junhyung pelan sebelum ia memasuki tubuh Yoseob. Junhyung benar-benar dikuasai nafsu, apalagi melihat Yoseob yang tersipu sembari memandangnya.

Junhyung menciumnya, lagi, ia memainkan lidahnya, menjilat bibir Yoseob sebelum kembali menggigit dan melumat habis bibir Yoseob.
Kepala kemaluannya menempel di lubang anus Yoseob, berusaha menyesuaikan dengan keadaan Yoseob yang belum rileks karena ciuman Junhyung yang semakin liar.

"Angh! A... Angh!" erangan Yoseob terdengar kencang ketika kepala kemaluannya berhasil menembus pertahanan Yoseob. Junhyung terus mendorong kemaluannya hingga batangnya benar-benar tertelan tubuh Yoseob sembari tangannya mencubit dan memelintir lembut puting Yoseob.

Refleks, kaki Yoseob langsung memeluk pinggang dan mendekatkan tubuh Junhyung yang tegak. Mata Yoseob menutup erat ketika gerakan pertama dilakukan Junhyung.

"Eeu... Eungh... Ah-eungh... Ungh..." wajah Yoseob yang berkeringat, dan pejaman matanya ditambah desahan yang terdengar membuat Junhyung semakin tidak kontrol. Jantung Junhyung berdetak semakin kencang dan memutuskan untuk kembali bermain diwajahnya.

Mata, hidung, pipi Yoseob tak luput dari ciuman-ciuman kecil yang mesra. Tubuh mereka saling menempel, saling menggesek dan bergerak semakin mulus karena keringat yang membasahi tubuh mereka. Kedua puting mereka bertemu, menambah sensasi tersendiri bagi keduanya.

Tangan Yoseob mengusap punggung, leher sebelum akhirnya berdiam di pinggang Junhyung untuk menyemangati gerakan demi gerakan Junhyung.

"Don't... Please... Angh... Junnie..."

"Iya? Heungh?"

"Please... Don't ss..."

"Don't?"

"Don't stop... Please-h, eungh, hee-eungh" menangkap sinyal Yoseob, Junhyung semakin semangat memaju-mundurkan pinggangnya. Menusuk semakin dalam, dan berharap mengenai titik dimana Yoseob akan mengerang lebih hebat.

Kemaluan yang terjepit ditubuh mereka sudah mengalirkan precum yang membasahi perut keduanya. Gerakan maju-mundur yang dilakukan Junhyung membuat kemaluan Yoseob berkedutdan semakin tegang, menandakan Yoseob menikmati tusukan yang Junhyung lakukan.

-***-

[Junhyung POV]

Aku tak mengerti kenapa aku menyukai kalimat yang diucapkan Yoseob. Aku suka saat ia menyuruhku untuk tidak berhenti, aku suka caranya menyampaikan keinginannya dengan erangan erotis yang membuatku semakin ingin bercinta dengannya.

Kini, ia menaik-turunkan tubuhnya sembari melingkarkan tangan dileherku sementara mulutku tak berhenti bermain didadanya. Banyak sensasi yang kurasakan dengan posisi ia menduduki kemaluanku, terkadang ia menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri hingga kepala kemaluannya menusuk bagian pertengahan perut dan dada ku.

Keringatnya, luar biasa membuatku ketagihan. Seakan narkoba yang membuat pemakainya sakaw.
Belum lagi dengan terikan dirambutku, usapan di punggungku dan bisikan-bisikan yang lebih terdengar seperti erangan.

"Please... Make-h... Me preg-h... Eungh-nant..." libido ku semakin meninggi saat ia berbisik sebelum akhirnya menciumi pipi dan mengulum bibirku. Terdengar aneh, namun kenyataannya aku suka dengan kalimat itu.

Tangan ku langsung bergerak menggenggam kemaluannya dan merancapnya. Precum yang terus-terusan mengalir membuat rancapan ku sedikit kasar dan membuat gerakannya--naik-turun yang tadi ia lakukan berhenti.

"S... Stahph... I will-h... Cumming-h..." aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap merancap kemaluannya yang ada di genggaman ku. Aku senang menggodanya seperti in--lagipula aku juga ingin keluar bersamaan dengannya.

Ia perlahan namun pasti kembali bergerak naik-turun dan memaksaku untuk berhenti merancapnya. Ku turuti keinginannya dan hanya menggenggamnya, sementara ia yang naik-turun sembari memelukku secara tak langsung merancap kemaluannya sendiri.

"Junnie-h... Jebal..." aku masih menggenggamnya meski ia memohon sperti itu, bahkan aku sengaja meremas kemaluannya yang benar benar sudah tegang.

"I'm-h... I'm-m... Cum-h-m-h-ing-h..." kemaluannya menggembung, berkedut dan seakan ingin meledak, tangan ku semakin meremasnya sebelum akhirnya ia melepaskan spermanya yang berhasil membasahi dagu, dada dan perut ku--perut kami.

"Eung-angh!" desahan terakhir yang kudengar sebelum anusnya meremas kemaluan ku lebih kencang, rectumnya memaksa ku untuk mengeluarkan apa yang kutahan.

Tepat seperi dugaanku, gerakan terakhir yang ia lakukan setelah ia mengerang hebat, aku memuntahkan spermaku dalam tubuhnya sebelum saling memandang dan kembali berciuman.

-***-

[Author POV]

Sinar matahari menusuk kedua mata yang menutup sempurna, terpaksa ia membuka matanya perlahan mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Yoseob merasa ada yang aneh dipagi ini, tubuhnya begitu hangat dan merasa jika ia sedang diselimuti oleh sesuatu. Ia juga merasa aneh karena mimpinya.

Ia merasa bermimpi jika ia melakukannya lagi dengan Junhyung hingga keduanya klimaks.

"Jangan coba-coba bergerak... Aku sedang menikmati aroma tubuhmu dipagi hari" matanya langsung terbuka sempurna saat mendengar suara yang ia kenal di belakangnya.

"N... Ne..." Yoseob menjawab dengan gugup sebelum ia benar benar bergerak dan membalikan tubuhnya kearah Junhyung.

Ia masih bingung dengan yang terjadi, apakah semalam ia benar-benar melakukannya atau hanya mimpi. Namun, dengan apa yang dilihatnya di pagi natal ini, mungkin itu hanya mimpi, toh ia masih mengenakan pakaian yang sama sebelum terlelap.

"Jangan memandangi ku dengan tatapan aneh..." kedua alis Yoseob mengerenyit saat mendengar Junhyung berbicara, sementara kedua mata Junhyung masih menutup.

"Nanti malam... Kita lakukan lagi ya..." wajah Yoseob langsung memanas dan menunduk. Artinya, tadi malam ia benar-benar melakukannya dan itu artinya hubungan mereka kembali baik.

Ada rasa senang dan bahagia dalam hati Yoseob namun mendengar kalimat Junhyung yang sangat mesum, Yoseob tersipu malu dan menenggelamkan wajah di antara pundak dan wajah Junhyung.

"Kau pasti senang nendengarnya" kini Junhyung terkekeh sementara Yoseob semakin menyembunyikan wajah.

"I love you..." bisiknya lembut, sementara jari Junhyung mengusap lembut telinganya.

"Anyway... Marry christmas, Seob-ah..."

[end]

P.S
Selamat natal aja ya buat yang merayakan.
Ini spesial buat yang pernah request di twitter author.
Thanks for reading.

Kamis, 24 Desember 2015

Thanks To :

Saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah menumbuhkan kembali semangat menulis saya.

Saya ucapkan terima kasih untuk pemilik akun roleplayer @joker8919l2 yang terus menyemangati saya mengenai tulis menulis dan menampar saya dengan kasih sayang yang beliau berikan mengenai tulis menulis.

Terima kasih kepada Kak Tri yang selama ini mengijinkan saya meminjam laptopnya,
sahabat sahabat saya : Si Eceu (Resty, Ghina, Diah, Dini Alay, Dini Unyil, Jawir), Lollipop (Indah, Tinna, Ncim, Nina), Yanda, Temin, Dede Noona, NaF, Irma Noona dan sahabat sahabat saya lainnya yang ga bisa saya sebutin satu persatu.

Dan spesial untuk almarhumah ibu yang sudah tenang disurga, tanpa adanya beliau saya tidak akan membuat cerita ini, dan tanpa adanya beliau, saya tidak akan mengerti betapa kerasnya hidup sendiri di dunia tanpa bantuan dari sekumpulan orang yang disebut 'keluarga kandung'.

Terima kasih untuk mereka yang terus menerus membantu, menyemangati saya untuk tetap melanjutkan hidup tanpa kenal putus asa, untuk tetap mengingat Allah selalu ada untuk umatnya, untuk tetap mengingat jika kita semua hidup di dunia memiliki tujuan dan progres hidup yang berbeda. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Best regards.
F. Angga S.
20151220 - 23:55

[Edited 20151224 - 08:10]

Angga, Is My Name (Wattpad Version/Revised)

Anak laki laki yang baru berusia 4 tahun itu sulit memejamkan mata karena desahan dan gerakan kasar disamping tubuhnya yang mungil. Namun, matanya tak ingin terbuka dan mencaritahu apa yang sedang terjadi, ia hanya membayangkan apa yang akan ia rasakan besok di gedung Delilah barunya yang bernama Tanan Kanak-kanak Asuhan Ibu.

Anak itu selalu tersenyum, tertawa terbahak-bahak meski kadang menangis ketika pelajaran agama di sekolahnya mulai. Anak laki-laki yang tidak memiliki ketertarikan untuk bertanyanpada orang tuanya setiap apa yang ia lihat atau yang ia dengar.

Ia memang berbeda dengan anak laki-laki lainnya di TK. Murid laki-laki lain saat jam istirahat bermain bola, atau berpura-pura bermain polisi dan penjahat, sementara ia duduk manis, mendengarkan cerita, menggambar, atau bahkan bernyanyi. Anak laki-laki yang sudah memiliki ketertarikan di dunia hiburan.

Senyumannya tak pernah memudar ketika ia dan kawan-kawannya mendatangi sebuah radio swasta dan melakukan rekaman untuk perpisahan kepala sekolah di TK, tawaannya juga tak pernah menghilang saat ia berhasil menyanyikan satu lagu dangdut favorit ibunya saat perpisahan dimulai.

Semua orang senang dia ada disekelilingnya, semua orang bahagia jika ia berada di samping mereka, tapi tidak jika ia sedang merasa bosan. Semuanya ia caci maki--meskipun terlihat imut, ia mengatai semua orang tukang bohong karena berhasil mengejeknya, ia pasti akan menangis sehari penuh hingga jam sekolah usai, hingga ibunya datang dan memberi es krim coklat kesukaannya.

Kini, anak laki-laki itu sedang berdiri di kakinya sendiri untuk mencaritahu siapa ia sebenarnya. Identitas asli yang disembunyikan oleh almarhum ibunya, identitas asli yang seharusnya ia dapat sejak dulu.

Anak laki-laki yang mengubah namanya dari Dimas Yogi Pratama, menjadi Angga.

-***-

17/11
Happy birthday Angga

Agak sedih sesungguhnya ngucapin ulang tahun ke diri sendiri karena gak ada seorangpun yang ingat akan arti dari tanggal ini.

Read more?
Visit wattpad.com and searching for fhakubeton.
Regards.

Selasa, 22 Desember 2015

AIMN : Mengejar atau di kejar

[Another link : http://w.tt/1mBggXX ]
"Happy birthday ya"

Lah, ternyata cuma mau ngucapin selamet doang ke gue. Astaga, terus gue kenapa harus lari dari kamer cuma buat nemuin dia yang leha leha di ruang tengah.

"Tengkyu ya kak" ucap gue senikmat hati dengan ekspresi yang berusaha ga keliatan kalau itu senyuman palsu.

"Gak usah ngedrama, ekspektasi lu pasti lebih dari ucapan kan?"

Boo~ gue ketauan. Anyway Noval emang paling gak bisa gue bohongin, terpaksa gue senyum beneran buat nutupin sebetapa malunya gue.

"Gue gak butuh nyengir kuda lu, nih lu ke kamer gue bawain ini guci, terus balik lagi" dia nunjuk guci yang ada di meha pake kaki sambil nyengir gak jelas.

Lah, sekarang gue disuruh suruh. Orang ini emang seenaknya suruh sana suruh sini. Bener-bener nikmat hidup orang yang ada di depan gue.

"Gue taro dikasur?"

"Mana aja, ditempat yang aman, dan gak kena sentuh elu"

Ck, konyol amat ya ini abang-abang depan gue. Jangan kena sentuh gue, tapi gue yang disuruh simpen. Delapan jempol gue kasih buat troll-an yang dia bikin.

Gue terpaksa nurut sama omongan dia, biar hidup gue selamat, aman, damai dan tentram. Meski setengah hati gue bawa itu guci yang masih kebungkus rapi sama koran, tapi gue gak mungkin ngecewain Noval. Disamping itu, gue memang numpang kok di rumah Noval. Gak aneh kalau memang gue harus memberi apa yang udah gue dapet--beberapa tahun belakangan ini.

Sesaat, kaki gue gak mau ngelanjut masuk karena hembusan angin dari dalem kamer Noval.

Aroma ini...

Aroma yang membawa gue kembali ke 6 tahun yang lalu. Ke waktu dimana gue dan Noval pertama kali ketemu.

Agak kocak sesungguhnya, karena saat itu gue yang lari dari kejaran psikopat--om om bego yang suka banget sama praktek BDSM,  gak sengaja nabrak dia dan narik dia keluar dari plaza di bilangan jakarta pusat.

Gue masih inget ekspresi dia yang datar tapi heran mandang gue dengan senyuman yang gak berubah sampe sekarang.

"Ngapain lu berdiri depan kamer gue?" gue langsung nengok kearah sumber suara, di depan gue, Noval udah silangin tangan aja sambil liatin sinis gue. "Ada setan dikamer gue?"

Ck, orang itu bener bener gak tau waktu. Gue kan lagi menikmati aroma yang keluar dari kamer dia.

"Kalau udah, langsung keluar, temenin gue service laptop"

Gue cuma tarik nafas panjang saat dia berhasil berlalu sambil teriak "Jangan lama!"

Noval masih sama. Ya, sama seperti dulu... Sama seperti dimana gue kenal sama dia pertama kali.

-***-


"Lu mau apa, heum?" gue gak jawab pertanyaan Noval, mata gue fokus sama menu yang ada ditangan gue, nyari tulisan yang berhubungan dengan makanan pedas.


"Mas, saya pesan dua ini, terus ini, terus yang ini juga, minumnya yang ini sama ini, dessertnya ini, ini, sama ini, dessertnya tunggu kabar dari saya ya" gue turunin tangan gue, mata gue langsung tertuju sama Noval yang lagi ngobrol sama waiter.


Wait, what? Hello, gue belum pesen dia udah asal pilih aja. Dasar kolot gak mau dengerin opini anak muda.


"Kak... Gue belum..."


"Gue udah pesenin" ujar dia setelah waiter pergi, dia mandang gue dengan senyuman yang menggantung.


"Udah, pasti elu suka, percaya sama abang lu" gue cuma bisa muterin bola mata gue kalo Noval udah kepedean kaya gini.


"Jadi, udah make a wish?"


"Siapa?"


"Tukang parkir alfamart, kan elu yang ulang tahun, peak"


"Gak buat..."


"Lah kenapa?"


"Gak tau, belum kepikiran apa-apa"


"Gak mungkin..." beberapa detik kemudian kita terdiam. Noval sibuk sama gadgetnya, begitu juga gue yang sibuk sama game papan online.


"Tapi... Gue masih gak nyangka, gue masih dikasih kehidupan sampe diumur gue yang ke 23" mata Noval mendadak beralih ke gue.


"Emang lu mau mati?"


"Seandainya boleh milih, ya, maunya begitu"


"Terus?"


"Ya... Begitu, toh kalaupun gue mati gak akan ada yang nyari kak... Lagian... Gue bosen hidup" Noval senyum sinis ke gue.


"Kapan lu dewasanya ya, setelah bertahun-tahun kita tinggal lu masih aja begini... Seseorang yang dewasa akan mencoba mencari cara untuk menutupi kekurangannya bukan menunjukan sisi kelemahannya... Mental lu kaya..."


"Chocolate shake, silahkan..." great timing pake banget. Omongan Noval dipotong sama waiter yang naro minuman. Coba kalo gue yang potong omongan dia, udah ditabok sampe berdarah-darah kali.


"Sial... Gue gak ada maksud bilang mental lu kaya ini minuman ya" dia menggelengkan kepala sambil nyuruh gue minum yang tersaji.


"Tapi, Angga, ada perubahan dari lu, meski gak banyak, gue rasa elu udah berubah"


"Oh ya?"


"Pertama kali lu nabrak gue, gue gak pernah nyangka kalau elu orangnya itu begini" gue mulai mendengarkan dia dengan seksama sambil seruput minuman dengan pose bak model iklan.


"Pertama kali gue kenal, lu itu selalu dalam keadaan bahagia, gak gampang putus asa kaya begini, menyembunyikan apa yang elu rasain, bisa nahan emosi dan gak meledak-ledak, sekarang..."


"Gimana?"


"Ada beberapa yang masih sama, ada beberapa hal yang makin parah... Emosi lu gak keatur, mood berubah-ubah, makin ekspresif, dan segudang hal lainnya yang secara gak sadar elu itu bukan Angga yang dulu lagi"


Huh?


"Inget pertama kali kita ketemu?" gue ngangguk.


"Inget kita makan disana?" telunjuk dia nunjuk ke tempat lain yang posisinya gak jauh dari tempat kita makan. "Waktu itu, lu keliatan bahagia"


"Bahagia? Jelaslah kak, gue baru selamet dari kejaran psikopat terus ditraktir pula, siapa yang gak bahagia" dia langsung diem. "Coba kakak bayangin aja, kakak dikejar psikopat terus kakak gak sengaja nabrak orang tinggi, ganteng, badan proporsional, wangi, orang yang berada, terus diajak makan dengan harga yang anak sekolahan gak mampu beli, siapa yang gak bahagia?"


"Gak usah muji" ucap Noval sambil nahan senyum. Pasti seneng dia denger kalimat gue, sampe nahan senyum gak jelas kaya orang lagi nahan boker.


"Tapi emang kenyataannya begitu, gue ketemu sesosok dewa dari Madagaskar waktu itu"


"Di Madagaskar gak ada yang matanya sekecil gue, idiot" well, indirect sentence yang mengakui dia suka sama hiperbola gue.


Waktu itu, gue gak percaya sama orang yang gue tabrak sebaik ini. Insiden memalukan yang berujung gue tinggal bareng Noval. Seorang pengangguran tapi memiliki segalanya apa yang gue mau. Benernya sih kita makin deket setelah pertemuan kedua di waktu dan tempat yang sama saat gue tabrak dia.

Kita dipertemukan oleh sneaker biru yang dipajang di salah satu distro brand terkenal. Gue memang mau sneaker itu karena warna dan bentuknya--yang gue rasa cocok sama kaki gue, gak ada kesan mau memiliki pake banget, toh gue cuma cek harga aja siapa tau dengan uang yang gue kumpulin bisa kebeli.

Ternyata, Noval juga mau barang yang gue pengen. Alhasil, kita berdua gak beli barang itu, malah ngabisin waktu ngobrol di salah satu tempat franchise terkenal. Kita ngakak, sharing segalanya, persis temen yang gak ketemu belasan tahun, dari situ perasaan gue bilang "Noval berbeda, Noval baik".

Gue--jujur tertarik dengan kehidupan yang dia punya, pengangguran yang memiliki segalanya sementara gue--yang posisinya pelajar dan harus kerja malem gak bisa seperti dia. Setiap gue tanya "Kakak kerja apaan emang?" dia cuma yang senyum senyum gak bilang apa-apa.

Dia gak pernah cerita dirinya secara detail, bahkan sampe sekarangpun gue buta sama keluarganya, gue buta apa pekerjaannya, siapa pacarnya, dan gue gak mau cari tau tentang itu. Satu hal yang bikin gue kagum sama dia, dia 'terbuka'.

Mampu menerima perbedaan. Mainstream sih alasannya, tapi hal itu jarang ditemui dari orang orang kebanyakan. Gue sempet kasih warning ke dia kalau gue berbeda dengan anak laki-laki lainnya, dan dia--dengan kecenya bilang "Ya, kamu spesial, orang yang kaya kamu bikin hidup lebih berkesan"

Adalagi kalimat yang sempet bikin gue tercengang. "Dateng ke tempat kakak kalau kamu bingung mau tinggal dimana, rumah kakak selalu terbuka buat kamu"

Semua itu masih gue inget, dan yang bikin gue bersyukur dia masih mau jadi sosok kakak buat gue. Gue sangat bersyukur.

"Silahkan dessertnya" mata dan mulut gue kebuka lebar liat 3 macam makanan penutup dengan bentuk yang super lucu dan tulisan 'Happy Birthday, Angga'.

Sumpah, pertama kalinya gue dapet surprise dari orang yang sekarang duduk disamping gue.

"Jadi lu udah ngerencanain semua ini kak?" Noval ngangguk terus liat gue sambil senyum puas--sedikit bangga dan agak sedikit... Unidentified.

"Ya lah peak, tempat ini mana tau elu ulang taun sekarang"

"Wah, makasih" gue langsung peluk dia, kepala gue diusap dia lembut.

"Seriusan, ini  pertama kalinya elu kasih kejutan diulang taun gue"

"Gak usah banyak omong, dimakan dessertnya terus kita pulang, gue sibuk..."

-***-

Hembusan angin senja mengembalikan gue ke realita dimana beberapa jam lagi gue harus kembali ke tempat itu. Gue harus melakukan pekerjaan gue ditempat itu dan membuat tempat itu semakin sering dikunjungi. Tidak berat seperti yang terdengar--meski tak ada hari libur, toh gue melakukan pekerjaan ini dengan santai dan menikmatinya. Lagipula, gue gak punya bakat selain ini.

Otak gue--sepertinya sudah melemah, gue gak bisa berpikir lebih keras, gue gak bisa hidup dengan tekanan pekerjaan yang tinggi. Jadi, menurut gue pekerjaan ini memang cocok untuk gue--sangat cocok malahan. Gak perlu repot untuk cari tempat foto kopi cuma buat memperbanyak dokumen, atau beli lembaran jilid buku. Pekerjaan gue cuma mengandalkan senyuman, tatapan, musik dan tentunya krat botol alkohol. Ya hanya itu.

Tapi, hari ini tidak mengecewakan. Hari yang bahagia, meski kurang sahabat, keluarga dan orang itu.

Orang itu... Gimana kabarnya orang itu?

Rabu, 22 Juli 2015

Announcement!

I'm back!
Yeay!

So follow my twitter : @fhakubeton
Or add me ass friends on fb : Fajjar Angga Suprapto

Dengan update-an terbaru yang akan saya bagi disini dan di wordpress ^^

#HappyBlogging