All I Want For Christmas Is You
Cast : Yong Junhyung (용준형) and Yang Yoseob (양요섭) of B2ST/Beast (비스트)
Special for : @joker8919l2
Genre : Yaoi-One shot
Warning! This story contain an explisit sex scene! Please leave this page if you don't feel comfortable.
-***-
[Author POV]
"Bagaimana ini?" ia bergumam pelan sembari memandangi potret yang terselip diantara bingkai dan cermin.
Seharian ini ia sangat tidak bergairah, banyak yang ia pikirkan mengenai seseorang yang ia sayangi, dan ia masih merasa bersalah karena kejadian beberapa malam yang lalu.
Seandainya malam itu ia tidak begitu pasif, mungkin kini ia akan menghabiskan malam natal berdua bersama orang itu yang hingga sekarang belum menunjukan batang hidungnya.
"Apa yang harus aku siapkan? Apa yang ingin ku beri?" ujarnya lembut dengan jari yang bergerak naik turun di atas layar sentuh miliknya. Matanya bergerak cepat mengikuti gerakan layar.
"Kado natal... Kado, Natal... Natal... Argh! Ah jinjja! Neomu... Argh!" ia dengan sedih memandang wajah yang memantul di cermin. Wajah yang sedikit memerah, dengan rambut acak-acakan dan raut muka yang lelah.
"Babo..." ia menyalahkan wajah itu. "Ah... Yang Yoseob! Jeongmal baboya~"
Kemudian, ia menghela nafas dan melangkah lesu ke dalam kamar, lalu merebahkan diri di atas kasur yang masih berantakan.
-***-
[Yoseob POV]
"Aku pulang..." terdengar suara yang ku kenal dari arah pintu, bergegas aku menyembunyikan kue yang ku buat dalam lemari pendingin, dan berusaha memanipulasi suasana agar terlihat 'tidak ada yang terjadi tadi'.
"Selamat datang" aku menyambutnya dengan senyuman yang menggantung, namun tidak dengannya. Ia menekuk wajahnya, dan terlihat sangat lelah.
"Ada apa?" aku mendekatinya yang duduk lemas di sofa sembari menonton tayangan televisi.
Ia tidak memandang ku sama sekali, terlalu fokus dengan tayangan malam natal.
"Aku sudah siapkan air hangat, mungkin lebih baik..."
"Ya, nanti" aku terdiam mendengar kalimatnya yang memotong pembicaraan ku. Mungkin ia masih kesal dengan kepasifan ku beberapa malam yang lalu.
Jika sudah seperti ini, aku hanya bisa diam, menunggu waktu membantu ku untuk berbicara dengannya.
Ku biarkan ia yang masih fokus dengan benda dihadapannya, dan berharap ia memaafkan ku dengan cepat. Sesungguhnya aku tak suka dengan suasana canggung seperti ini. Aku benci saat dia seperti ini.
Junhyung yang ku kenal seakan berbeda, Junhyung yang selalu tersenyum--berusaha selalu tersenyum dihadapan ku menjadi pendiam dan sangat mengerikan.
Mau tak mau, aku kembali ke dapur, mengenakan apron yang tadi sempat ku lepas. Memasak beberapa menu spesial yang ku temui di browser.
Aku berusaha untuk tidak bersedih karena sikapnya, aku berusaha menyembunyikan kesedihan ku dengan mencoba tersenyum setiap aku melakukan sesuatu.
Namun, apa dayaku. Air mata ku mulai menetes ketika tanganku mengupas kulit bawang dan memotongnya kecil kecil. Rasanya, aku tak sanggup melanjutkan semua ini. Entah efek pedas dari bawang entah memang aku yang terlalu kalut dalam kesedihan ku.
Aku hanya ingin malam natal ini menghabiskan waktu bersamanya, berbagi cerita, tertawa bersama, menunjukan kebahagiaan dan saling menunjukan kasih sayang. Namun, aku tak bisa memaksanya jika ia sedang tidak ingin berbicara padaku.
Apa yang harus aku lakukan?
"Hey..." aku sontak terkejut ketika pinggang ku dipeluk. "Sedang buat apa?"
Aku ingin membalikan tubuh namun aku tak ingin ia melihatku menangis. Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa diam?" air mataku mulai mengucur deras, dan mungkin terjatuh di lengannya.
Ia memaksa ku untuk membalikan tubuh dan memandangnya. Aku berusaha menolak namun tenaganya lebih kuat, mau tak mau aku menunduk ketika tubuh ku berbalik ke arahnya.
"Lihat aku..." berulang-ulang ia mengatakan itu. Terpaksa aku mengangkat wajahku.
"Kenapa menangis?" aku menggelengkan kepala.
"Dengar... Kau membuat ku sedih jika menangis seperti ini dan membuatku sakit jika kau tak mengatakannya" aku memandangnya, aku tak dapat menyembunyikan isak tangis ku.
"Maaf..." kini, ia memandang ku heran.
"Untuk?"
"Maafkan aku... Beberapa malam yang lalu aku terlalu pasif..." ia menghela nafas panjang, jemarinya menghapus aliran air mata di pipi ku.
Lagi, ia menghela nafas.
"Dengar, lupakan itu... Sudahlah, meski aku kecewa, tapi kau tetap kau... kau tetap Yang Yoseob yang aku sayang..."
Aku menatapnya, ada sedikit rasa sedih mendengar jika ia kecewa.
-***-
[Junhyung POV]
Entahlah, meski aku kecewa, tapi aku tak tega melihatnya menangis--apalagi penyebab ia menangis itu aku. Mengacaukan perasaanku.
"Lupakanlah, ne?" ia mengangguk dan tersenyum padaku.
Ah, senyum itu...
Lalu tangannya mengusap air matanya sendiri sembari mulutnya yang sedikit maju.
Ekspresi itu...
Senyum dan ekspresinya membuat jantungku sedikit berdetak lebih kencang, belum lagi dengan wajahnya yang memerah dan tersipu saat memandang ku.
Aku tak sanggup lagi...
Kudekati wajahku ke wajahnya, hembusan nafasnya mengenai philtrum, membuatku semakin mendekatkan wajah.
Ku cium bibirnya lembut, sementara tangan ku menekan kepalanya untuk tidak bergerak jauh. Belum ada respon apapun darinya, namun nafasnya memberat, seakan ia tak ingin aku melepas ciuman ini. Sengaja, ku kepas ciuman ku, menatapnya dan sedikit tersenyum.
Ia membalas tatapan ku, seakan memberi isyarat 'kenapa kau menghentikannya?'.
"Junnie..." aku tersenyum mendengarnya memanggil nama ku.
"Aku..." aku kembali menciumnya, tak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih banyak.
Kali ini, ciuman ku mendapat respon. Ia membalas ciumanku dan sedikit melumat bibirku, tangannya tak lagi diam. Kini tangannya menyentuh pinggangku, menuntun tubuhku untuk lebih dekat. Kaki kanannya menyilang kaki ku. Aku paham maksudnya.
Aku melepas tekanan tangan ku dikepalanya, turun ke pahanya dan mengangkat tinggi kedua kakinya. Merasa aku menerima radar darinya, kedua kakinya langsung menyilang dipinggang ku--memeluk tubuhku erat dan menekan tubuhku.
Tangan Yoseob kini berada di leher ku, melingkar, mengusap kepala terkadang menarik rambutku lembut. Nafasnya semakin berat, ia mengerang, menghembuskan nafasnya mengikuti ritme ciuman ku, dan setiap tarikan nafasnya yang terdengar erotis membuatku semakin tak ingin melepaskan ciuman ini.
Aku yakin, tanganku di pahanya tak lagi dibutuhkan, aku sengaja memeluknya dan mengangkatnya. Ringan, begitu ringan--menurutku. Masih tetap berciuman, aku mengangkatnya ke meja dapur untuk sesaat sebelum akhirnya ku angkat ia dan ku tekan hingga punggungnya menempel di dinding. Aku menekannya, dan memastikan jika ia tak akan lepas dariku.
Lidah ku menyentuh langit langit dalam mulutnya, melakukan french kiss dan saling bertukar saliva.
"Heungh..." erangan erotis membuatku semakin menjadi. Aku menjilati telinganya, menggigit daun telinganya dan menghisapnya. Sementara ia, semakin menekan kepalaku, seakan menyuruhku untuk terus melakukannya.
Bibirku agak turun sedikit ke lehernya, membasahinya dengan liurku sebelum akhirnya kubuat tanda merah yang benar benar matang--hampir keunguan.
"Angh... Je... Jebal..." itu yang kudengar sebelum aku memandangnya. Matanya berair saat ku tatap, wajahnya merona, tersipu, dan nafasnya semakin berat.
"Junnie... Please... Be gentle..." entah apa yang terjadi dengan ku, mendengar bisikannya--yang terdengar sangat seksi membuatku kalap. Aku langsung menciumnya dan menggigit juga mengulum bibirnya. Jemarinya menjambak rambutku kasar.
Sudah jelas, aku tak dapat menahannya lagi. Kemaluanku dan kemaluannya sama-sama menegang--dapat kurasakan itu karena batang kemaluannya mendesak celanaku.
Ia terdengar seperti orang yang habis berlari jauh sembari memelukku erat. Aku menggendongnya hingga kamar, dan memposisikan diri duduk ditepi ranjang sementara ia duduk di paha ku.
Sungguh, ekspresi yang ia tunjukan seperti memberi isyarat 'jangan hentikan ini' dan aku sendiri dikuasai oleh nafsu yang berujung terus menerus menciumi bibirnya. Tanganku meraba punggungnya, melepaskan tali celemek dan masuk kedalam perut yang masih dibalut baju kesukaannya.
Ia lepas ciuman ku, tangannya melepas apron dan bajunya, menunjukan tubuhnya kepadaku. Keringat membasahi tubuhnya, seakan mengkilat ketika cahaya lampu mengenai tubuhnya. Sungguh begitu seksi dan sangat erotis.
Tangannya menuntun kepala ku kearah dadanya. Aroma yang ku suka menusuk hidung dan tak dapat menahan godaan untuk menjilati puting dadanya yang mengeras.
"Eungh... Please..." aku pura-pura tak mendengarnya, dan mengecup putingnya sebelum ku gigit lembut dan kembali ku jilat. Perlakuan ku membuatnya semakin menekan kepalaku, kakinya semakin menekan tubuhku, dan aku semakin gila dibuatnya.
-***-
[Yoseob POV]
Aku tak yakin jika aku dapat lebih aktif dari ini. Aku teringat kalimatnya yang mengatakan jika lebih suka mendominasi. Ku harap ia tak menghentikan ini saat aku benar benar menikmatinya.
Namun, jujur. Aku suka cara ia memainkan mulutnya di dadaku. Cara ia menjilat kedua puting ku dan lidahnya menari-nari di tengah dadaku. Cara ia meremas kedua bongkahan pantatku dan memainkan dua jari dilubang anusku.
Aku tak dapat menahan erangan demi erangan dari perlakuan Junhyung. Ia benar-benar pandai membuatku melayang seperti sekarang.
Aku benar-benar lupa siapa yang memulai semua ini, yang aku ketahui hanya : aku sedang di-rimming olehnya.
Lidahnya menusuk anusku, sementara tangannya merancap penisku dengan irama stabil dan memainkan telunjuknya dilubang kencingku. Geli, tapi--aku tak ingin munafik, ada rasa nikmat yang kurasa.
Kepala kemaluanku sudah lengket dengan precum yang sedari tadi terus keluar, dan rancapannya di kemaluanku membuat kemaluanku semakin menegang.
Jujur, aku hanya dapat mengerang, mendesah, melenguh karena perlakuannya begitu membuatku ingin sampai klimaks.
"Geli... Junnie... Geli..."
Ia tak mendengar ucapanku, lidahnya semakin nakal membasahi dan menusuk-nusuk lubang pantatku. Aku tak dapat menggambarkan apa yang sedang kurasakan.
"Seob-ah... Kau siap?"
-***-
[Author POV]
"N... Ne-h..." Yoseob mengangguk pelan sembari menatap Junhyung yang sedang merancap kemaluannya sendiri.
"Astaga... Imut sekali..." gumam Junhyung pelan sebelum ia memasuki tubuh Yoseob. Junhyung benar-benar dikuasai nafsu, apalagi melihat Yoseob yang tersipu sembari memandangnya.
Junhyung menciumnya, lagi, ia memainkan lidahnya, menjilat bibir Yoseob sebelum kembali menggigit dan melumat habis bibir Yoseob.
Kepala kemaluannya menempel di lubang anus Yoseob, berusaha menyesuaikan dengan keadaan Yoseob yang belum rileks karena ciuman Junhyung yang semakin liar.
"Angh! A... Angh!" erangan Yoseob terdengar kencang ketika kepala kemaluannya berhasil menembus pertahanan Yoseob. Junhyung terus mendorong kemaluannya hingga batangnya benar-benar tertelan tubuh Yoseob sembari tangannya mencubit dan memelintir lembut puting Yoseob.
Refleks, kaki Yoseob langsung memeluk pinggang dan mendekatkan tubuh Junhyung yang tegak. Mata Yoseob menutup erat ketika gerakan pertama dilakukan Junhyung.
"Eeu... Eungh... Ah-eungh... Ungh..." wajah Yoseob yang berkeringat, dan pejaman matanya ditambah desahan yang terdengar membuat Junhyung semakin tidak kontrol. Jantung Junhyung berdetak semakin kencang dan memutuskan untuk kembali bermain diwajahnya.
Mata, hidung, pipi Yoseob tak luput dari ciuman-ciuman kecil yang mesra. Tubuh mereka saling menempel, saling menggesek dan bergerak semakin mulus karena keringat yang membasahi tubuh mereka. Kedua puting mereka bertemu, menambah sensasi tersendiri bagi keduanya.
Tangan Yoseob mengusap punggung, leher sebelum akhirnya berdiam di pinggang Junhyung untuk menyemangati gerakan demi gerakan Junhyung.
"Don't... Please... Angh... Junnie..."
"Iya? Heungh?"
"Please... Don't ss..."
"Don't?"
"Don't stop... Please-h, eungh, hee-eungh" menangkap sinyal Yoseob, Junhyung semakin semangat memaju-mundurkan pinggangnya. Menusuk semakin dalam, dan berharap mengenai titik dimana Yoseob akan mengerang lebih hebat.
Kemaluan yang terjepit ditubuh mereka sudah mengalirkan precum yang membasahi perut keduanya. Gerakan maju-mundur yang dilakukan Junhyung membuat kemaluan Yoseob berkedutdan semakin tegang, menandakan Yoseob menikmati tusukan yang Junhyung lakukan.
-***-
[Junhyung POV]
Aku tak mengerti kenapa aku menyukai kalimat yang diucapkan Yoseob. Aku suka saat ia menyuruhku untuk tidak berhenti, aku suka caranya menyampaikan keinginannya dengan erangan erotis yang membuatku semakin ingin bercinta dengannya.
Kini, ia menaik-turunkan tubuhnya sembari melingkarkan tangan dileherku sementara mulutku tak berhenti bermain didadanya. Banyak sensasi yang kurasakan dengan posisi ia menduduki kemaluanku, terkadang ia menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri hingga kepala kemaluannya menusuk bagian pertengahan perut dan dada ku.
Keringatnya, luar biasa membuatku ketagihan. Seakan narkoba yang membuat pemakainya sakaw.
Belum lagi dengan terikan dirambutku, usapan di punggungku dan bisikan-bisikan yang lebih terdengar seperti erangan.
"Please... Make-h... Me preg-h... Eungh-nant..." libido ku semakin meninggi saat ia berbisik sebelum akhirnya menciumi pipi dan mengulum bibirku. Terdengar aneh, namun kenyataannya aku suka dengan kalimat itu.
Tangan ku langsung bergerak menggenggam kemaluannya dan merancapnya. Precum yang terus-terusan mengalir membuat rancapan ku sedikit kasar dan membuat gerakannya--naik-turun yang tadi ia lakukan berhenti.
"S... Stahph... I will-h... Cumming-h..." aku berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap merancap kemaluannya yang ada di genggaman ku. Aku senang menggodanya seperti in--lagipula aku juga ingin keluar bersamaan dengannya.
Ia perlahan namun pasti kembali bergerak naik-turun dan memaksaku untuk berhenti merancapnya. Ku turuti keinginannya dan hanya menggenggamnya, sementara ia yang naik-turun sembari memelukku secara tak langsung merancap kemaluannya sendiri.
"Junnie-h... Jebal..." aku masih menggenggamnya meski ia memohon sperti itu, bahkan aku sengaja meremas kemaluannya yang benar benar sudah tegang.
"I'm-h... I'm-m... Cum-h-m-h-ing-h..." kemaluannya menggembung, berkedut dan seakan ingin meledak, tangan ku semakin meremasnya sebelum akhirnya ia melepaskan spermanya yang berhasil membasahi dagu, dada dan perut ku--perut kami.
"Eung-angh!" desahan terakhir yang kudengar sebelum anusnya meremas kemaluan ku lebih kencang, rectumnya memaksa ku untuk mengeluarkan apa yang kutahan.
Tepat seperi dugaanku, gerakan terakhir yang ia lakukan setelah ia mengerang hebat, aku memuntahkan spermaku dalam tubuhnya sebelum saling memandang dan kembali berciuman.
-***-
[Author POV]
Sinar matahari menusuk kedua mata yang menutup sempurna, terpaksa ia membuka matanya perlahan mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Yoseob merasa ada yang aneh dipagi ini, tubuhnya begitu hangat dan merasa jika ia sedang diselimuti oleh sesuatu. Ia juga merasa aneh karena mimpinya.
Ia merasa bermimpi jika ia melakukannya lagi dengan Junhyung hingga keduanya klimaks.
"Jangan coba-coba bergerak... Aku sedang menikmati aroma tubuhmu dipagi hari" matanya langsung terbuka sempurna saat mendengar suara yang ia kenal di belakangnya.
"N... Ne..." Yoseob menjawab dengan gugup sebelum ia benar benar bergerak dan membalikan tubuhnya kearah Junhyung.
Ia masih bingung dengan yang terjadi, apakah semalam ia benar-benar melakukannya atau hanya mimpi. Namun, dengan apa yang dilihatnya di pagi natal ini, mungkin itu hanya mimpi, toh ia masih mengenakan pakaian yang sama sebelum terlelap.
"Jangan memandangi ku dengan tatapan aneh..." kedua alis Yoseob mengerenyit saat mendengar Junhyung berbicara, sementara kedua mata Junhyung masih menutup.
"Nanti malam... Kita lakukan lagi ya..." wajah Yoseob langsung memanas dan menunduk. Artinya, tadi malam ia benar-benar melakukannya dan itu artinya hubungan mereka kembali baik.
Ada rasa senang dan bahagia dalam hati Yoseob namun mendengar kalimat Junhyung yang sangat mesum, Yoseob tersipu malu dan menenggelamkan wajah di antara pundak dan wajah Junhyung.
"Kau pasti senang nendengarnya" kini Junhyung terkekeh sementara Yoseob semakin menyembunyikan wajah.
"I love you..." bisiknya lembut, sementara jari Junhyung mengusap lembut telinganya.
"Anyway... Marry christmas, Seob-ah..."
[end]
P.S
Selamat natal aja ya buat yang merayakan.
Ini spesial buat yang pernah request di twitter author.
Thanks for reading.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar