Kamis, 27 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 3)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 3)
-***-

Aku terdiam sembari menyulut sebatang rokok, sedangkan Noval memandangiku geram.

"Sekarang kamu tahu apa sebabnya aku membenci tempat ini" bentaknya.

"Kekhawatiranku benar-benar terjadi malam ini! Ini sebabnya aku menyogokmu pemilik bar dengan barang kesayanganku" lanjutnya.

Aku mendengar ocehannya sembari fokus merokok.

"Dan kau... Semoga kau cepat mati karena rokokmu!" aku menghela nafas, aku mematikan rokokku dan membuangnya jauh dari tempatku duduk.

"Aku paham, semua itu hakmu! Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu menggoda orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan mengelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang tak akan mungkin menjadi liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku, sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

-***-

Aku menarik nafas panjang. Untuk sekarang Noval terdiam, dan fokus menyetir.

Aku ikut terdiam, pikiranku melayang jauh membayangi wajah Daniel.

Daniel, aku merindukannya.

Daniel tak akan membentakku meski aku melakukan kesalahan besar, Daniel berbeda dengan Noval.

Daniel penuh dengan sikap kebapakan, Daniel benar-benar melindungiku.

"Dasar, trouble maker"

Aku terbangun dari lamunanku, dan menoleh pada wajah Noval.

"Aku?"

"Ya! Kau pembuat masalah, jika bukan aku yang mengawasi mungkin kau sudah menjadi buronan karena masalah yang kau buat!"

Aku terdiam. Aku menarik nafas, ku biarkan Noval mengoceh sesukanyaㅡseperti biasa.

"Entah apa jadinya, jika kau hidup tanpaku! Kau mungkin sudah tak hidup sekarang"

Telingaku panas mendengarkan ocehan Noval, ingin rasanya aku membela diri.

"Kau benar-benar seperti keledai! Bodohnya minta ampun!"

"Ya aku memang keledai, aku memang pembuat masalah, dan jikapun aku mati, seharusnya kakak bersyukur tidak direpoti olehku" ucapku pelan.

Noval mengerem secara mendadak. Aku memandanginya yang menatap tajam wajahku.

"Apa maksudnya?"

"Kau lima tahun lebih tua dariku, pahamilah kalimatku"

"Shit!" Noval kembali menjalankan mobil namun kali ini ia menyetir dengan kecepatan penuh.

-***-

Sesampainya dirumah aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, aku merapihkan dan memasukan barang-barangkuㅡhanya milikku ke dalam tas ransel.

Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama Noval, baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu perih.

Ternyata Noval memendam semua kesalahanku dan tadi ia membeberkan semua yang telah kulakukan.

Konyol. Sangat konyol.

Noval memang orang yang sangat baik, ia mengizinkanku tinggal bersama, ia selalu memberi solusi untukku. Tapi, aku tak pernah menyangka jika Novalpun memiliki sikap kekanakan seperti ini.

Noval mengetahui semua tentangku, mengetahui aku yang memiliki kelainan orientasi seksual, memiliki sikap feminim yang lebih banyak dari laki-laki biasanya, mengetahui aku yang tidak memiliki keluarga dan mengetahui identitas asliku.

Aku percaya padanya, tapi aku tak pernah menyangka jika ia akan menjadi seperti ini.

Aku yang terlalu kekanak-kanakan atau aku yang terlalu perfeksionis.

Aku siap meninggalkan rumah Noval dan kembali hidup sendiri. Aku ingin hidupku tanpa adanya ocehan-ocehan Noval.

Aku harus meninggalkan tempat ini, secepatnya.

Aku keluar kamar setelah barang-barangku berada dalam tas ransel. Mengendap-endap hingga pintu.

Aku mengedarkan pandanganku, memastikan diri jika memang Noval sudah tertidur.

Aku membuka pintu, dan keluar rumah lalu menutup pintu perlahan.

"Mau kemana kamu pagi-pagi buta begini?" jantungku hampir lepas mendengar seseorang menegurku. Saat aku menoleh kebelakangku, kulihat Noval duduk diteras sembari menikmati secangkir kopi.

Aku terdiam. Segera aku melangkah pergi meninggalkan Noval.

"Mau kemana kamu?" tanganku ditariknya lalu digenggamnya erat. Aku membalikan tubuh.

"Lepas"

"Jawab, mau kemana kamu?"

"Bukan urusan kakak" jawabku, ku tatap matanya. Aku masih kesal padanya.

"Lepasin tangan aku" lanjutku sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Masuk"

"Engga"

"Masuk!" nadanya naik, genggamannya ditanganku mengencang.

"Ga! Aku mau pergi dari sini!" aku terus meronta dan berusaha melepaskan tanganku.

Aku berhasil melepas genggamanya dan langsung berlari menjauh dari Noval.

Ranselku ditarik Noval hingga aku terjatuh. Ku lihat wajahnya, Noval begitu marah.

"Masuk!" bentaknya.

Aku terdiam, aku bangkit lalu berusaha berlari. Tapi, tanganku ditariknya lagi.

Tubuhku dihempaskannya ke sofa, ketika Noval berhasil menarikku masuk ke dalam rumah.

"Kamu mau kemana? Jangan bikin aku marah lagi sama kamu"

"Seharusnya kakak jangan tahan aku, biar kakak ga emosi terus"

"Maksud kamu?"

"Aku mau pergi dari sini" aku berdiri lalu melangkah keluar pintu.

"Sampai kamu berani keluar pintu, jangan salahin aku kalau kamu nanti kenapa-kenapa" ujar Noval.

Aku berhenti tepat didepan pintu.

"Aku sudah dewasa, tak perlu pengawasan mu lagi, disamping itu... Aku tak tega melihatmu terus-terusan emosi padaku, barangkali kau mati muda karena ku" ku buka pintu lalu melangkah keluar.

"Dimas Yogi Pratama! Ku hitung sampai tiga, kembali kesini!" aku terdiam.

Aku menghela nafas, lalu kembali melangkah dan berdiri dihadapannya.

Ku pandangi wajahnya.

"Kau panggil aku, siapa?" Noval diam.

Aku mengangkat tanganku dan menampar pipinya.

Ya, aku menampar Novalㅡorang yang kuanggap sebagai kakak.

"Catat dalam otak mu, namaku Angga, hanya Angga" Noval memegangi pipinya.

"Jangan pernah sebut nama itu..." tangan Noval terangkat, namun aku genggam dan remas pergelangan tangannya.

"Aku, Angga, dan kini aku tak takut dengan gertakanmu..."

Noval membisu.

"Catat dalam otak mu, tentang namaku dan jangan pernah mencariku, karena aku yakin, kau tak benar-benar paham mengapa aku seperti ini padamu"

Aku membalikan tubuhku.

"Selamat tinggal"

-To Be Continue-

Jumat, 21 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 2)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 2)
-***-

Aku terdiam. Ku pandangi ruang tengah yang nantinya akan ku jadikan panggung penampilanku.

Aku yakin, malam ini akan sama seperti malam biasanya. Sepi dan hanya ada beberapa laki laki dewasa dan wanita transgender.

Aku masih teringat kalimat Noval tadi siang. Tiba-tiba ia menyuruhku berhenti dari pekerjaan ini, sedangkan selama bertahun-tahun kemarin ia membiarkan aku. Apa maksudnya?

Ia mengetahui hanya menarilah keahlianku, dan menurutku ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Aku seperti bermain bukan bekerja.

Lagipula, aku sudah menjadi penari striptease sejak lulus sekolahㅡ sebelum aku mengenal Noval. Aku tak akan mungkin meninggalkan pekerjaan ini begitu saja.

Aku juga tak menjual diri disini. Aku memang menari hingga telanjang tapi tak kubiarkan orang-orang yang berkunjung melecehiku.

Aku sudah mengenakan kostumkuㅡcawat kecil yang hanya menutupi kemaluanku, aku pun sudah mengenakan riasanku, kini saatnya aku memulai aktivitasku.

Aku sedikit terkejut saat ku lihat ruang tengah penuh dengan pengunjung. Malam ini lebih ramai dari malam sebelumnya.

Malam kemarin dapat terhitung meja tamu yang terisi, tapi malam ini semua meja penuh.

Sempat kulihat sekumpulan laki-laki bau kencur duduk sembari menghisap batangan rokok.

Meski aku masih merasa sedikit bad mood, tapi aku harus profesional. Ini pekerjaanku.

-***-

Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringan musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

Ku liuk-liukan tubuh diselingi dengan gerakan erotis yang membuat para laki-laki didepan meja bar menyorakiku liar.

Aku berdiri dan mulai melepas cawatkuㅡsatu-satunya helai pakaian yang menutupi kemaluanku.

Aku menggoyangkan pinggangku maju mundur, terkadang aku membuka selangkanganku lebar-lebar.

Riuhan memenuhi ruang tengah, ada beberapa pengunjung mencoba menyentuh kemaluanku, tetapi tak berhasil karena sang bartender menghalangi.

Puas menari diatas meja bar, aku berjalan ke arah tengah lalu mengikuti gerakan yang penari latar lakukan.

Semua pengunjung menyoraki ku, bertepuk tangan dan memanggil-manggil namaku.

Alunan musik berganti tempo, dengan ketukan beat yang lebih intim. Aku menggerakan tubuh ke kanan dan kiri, dengan tangan yangㅡmemang sengaja ku gerakan mengusap dada, selangkangan dan tubuhku yang lain.

Salah seorang penari latar mendekatiku lalu mendekapku dari belakang. Bibirnya bermain di wajahku lalu turun ke leherㅡterlihat seperti pasangan yang berhubungan intim.

Suasana semakin panas, dan riuh akan teriakan para pengunjung. Kerlipan lampu yang ditata mengikuti tempo musik membuat ruang tengah itu semakin ribut.

Aku hanya tersenyum kecil. Aku bangga, dan bahagia. Tarianku dinikmati dengan sorakan dan tepukan tangan meriah.

Aku mencintai pekerjaan ini. Aku bangga menjadi penari striptease.

-***-

Aku terduduk disalah satu kursi yang menghadap ke ruang tengah.

Pesta telah usai. Suasana ruang tengah menjadi sepi, hanya tersisa beberapa pengunjung yang tertidur karena mabuk berat dan beberapa cleaning service yang sibuk merapihkan botol alkohol yang berserakan.

Aku menunggu kedatangan Noval yang tadi sudah menghubungiku.

Entah apa reaksinya jika ia tadi melihatku menari, mungkin aku akan langsung ditariknya pulang. Noval membenci pekerjaan ku, ia membenci semua tentangkuㅡyang menurutnya tak patut untukku sedangkan menurutku pantas.

Lagipula, aku mengenal dunia ini lebih lama sebelum akhirnya aku menabrak Noval saat itu.

"Malam sayang" aku terkejut dan terbangun dari lamunanku ketika ku lihat seseorang mendekatiku.

Wajahnya tidak begitu jelas, tapi yang pasti dari orang itu adalah ia mabuk. Tercium aroma alkohol yang kuat dari mulutnya.

Aku tak meladeninya, ia duduk disampingku lalu meraba pahaku.

"Saya mohon hentikan sebelum terjadi sesuatu pada anda" gertakku, tapi sepertinya ia tak menghiraukan kalimatku.

Tangannya terus meraba pahaku lalu mengcengkram pahaku. Aku menepis tangan orang itu, lalu berdiri dan menjauh darinya.

Aku tersontak kaget saat orang itu menarik tanganku lalu menggiringku ke pojok ruamg tengah, tubuhnya menekan tubuhku hingga menempel pada dinding.

Aku berteriak, meronta meminta tolong. Tetapi, tak ada seorangpun yang mendekat. Aku berusaha lari dari dekapan orang itu, tapi tenaganya begitu kuat.

Bibirnya berusaha menciumku, sedangkan tubuhnya digesekan ke tubuhku. Dapat kurasakan selangkangannya menegang begitu juga puting dadanya.

Aku terus berteriak, menampar orang itu dan melakukan apapun untuk lepas darinya.

"Tolong!" teriakku, tapi tetap tak ada yang menolongku.

"Tak ada yang mungkin datang, aku sudah membayar semua orang itu agar pura-pura tak melihat"

Sial. Aku sangat sial malam ini.

"Ku mohon, lepaskan aku" erangku.

"Tidak, sebelum aku memperkosamu"

"Hey!" mataku terbelalak saat ada seseorang yang berteriak lalu menggenggam pundak orang itu, ditariknya orang itu dan pipi orang itu segera di hantam dengan bogeman mentah.

Orang itu terhempas jauh dan berhasil mengenai meja tamu dan botol minuman yang ada dimeja.

Aku baru sadar, Noval yang menghajar orang itu.

"Jauhi badan busukmu dari Angga! Bajingan!" ucap Noval yang terus-menerus memukul wajah orang itu.

Ketika orang itu tersungkur, Noval melayangkan tendangan diperut dan kepala.

"Bangsat!"

-To Be Continue-

Sabtu, 15 Maret 2014

Camera? Roll. Action!

Cast : Kellan Lutz and D.O of EXO
Genre : NC Yaoi (Explicit)
Requsted By : Roleplayer of Kellan
Author : ASup

Camera? Roll. Action!

Mataku tak dapat menutup mataku ketika membaca tiap kalimat yang tertulis di skrip.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.

"A... Apa ini?" gumam ku pelan.

Dari awal hingga akhir halaman, hanya tertulis dua huruf. Huruf 'A' dan huruf 'H'.

Aku bingung, akankah film yang ku bintangi hanya berisi desahan selama 90 menit penuh?

Ada yang tidak beres, aku harus membicarakan ini dengan tim produksi.

-***-

Aku disambut hangat oleh tim produksi yang berkumpul di studio yang akan digunakan nanti.

Aku menyapa mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, saat ku bicarakan tujuan kedatanganku mereka menjawabnya dengan sopan dan ramah.

Sempat kulihat seorang dari mereka menghubungi sang sutradara dan produser.

Bahkan aku diantar salah seorang kru untuk mendatangi produser dan sutradara yang menginap di tengah kota.

Ketika aku sampai disebuah losmen sederhana, kru yang mengantarku menunjuk satu kamar dan ia berlalu meninggalkan ku.

Segera, aku mengetuk pintu kamar yang produser dan sutradara tempati.

Aku mematung ketika seseorang yang bertelanjang dada menyambutku, orang itu tersenyum padaku.

"Hi" sapa orang itu.

Aku tersenyum kaku memandang wajahnya. Matakuㅡingin tak ingin mengamati tubuhnya yang terbentuk.

"A... Aku ingin bertemu dengan sutradara dan produser"

"Well, masuklah" ucapnya, "Kau tak akan bertemu dengan mereka jika hanya mematung di sini"

Aku mengangguk pelan, lalu mengikutinya masuk ke dalam.

Aku mengedarkan pandanganku, menurutku kamar ini terlalu luas untuk ukuran losmen dan banyak kamera yang telah disiapkan dalam kamar ini. Bahkan aku sempat melihat kamera kecil tersembunyi di balik pintu.

"Jadi, kau partner ku?" tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

"Bersantailah, akan kubuatkan minum untukmu" lanjutnya.

Aku duduk di sofa, masih mengamati perlengkapan yang terpasang di dalam kamar.

"Minumlah, tunggu sebentar, mereka sedang keluar membeli sesuatu" ucap orang itu sembari menyajikan minuman padaku.

Aku meminum yang di sajikan olehnya, dan kami berbincang panjang lebar.

Namanya Kellan, ia bersedia mengambil tawaran sang sutradara karena bayaran yang begitu tinggi. Ia rela berangkat dari negaranya dari beberapa hari yang lalu untuk mengambil gambar di sini.

Menurutku, orang ini mudah bergaul bahkan ia keberatan saat aku panggil 'kak' saat mengobrol.

"Kau kepanasan?" tanyanya ditengah perbincangan.

Aku mengangguk pelan.

"Buka saja bajumu, jangan malu" aku terdiam.

Aku tak mungkin membuka bajuku dengan kamera yang tersebar. Lagipula, aku juga tak mengerti kenapa aku merasa begitu kepanasan.

Air conditioner berhembus dengan kencang namun tetap saja aku merasa begitu panas.

"Tenanglah, kamera disini sedang tidak menyala" ujarnya.

Aku melihat ke seluruh kamera, dan memang tak ada yang menyala.

"Tak apa jika aku membuka baju?"

"Aku, tak apa, aku hanya keberatan saat kau memanggilku kakak" ujarnya, aku sedikit tersipu dengan kalimatnya.

Ku putuskan untuk menanggalkan bajuku. Aku terdiam, dan menutupi dadaku dengan kaus yang tadi ku kenakan.

Kellan hanya tersenyum memandangiku, lalu ia meminta ijin padaku untuk pergi ke kamar mandi.

Aku menghela nafas panjang saat Kellan menghilang dari hadapanku.

Aku bingung, apa yang harus ku lakukan.

Aku menjadi relasi kerjanya dalam film ini, dan hingga saat ini aku tak mengetahui apa sebenarnya peranku.

Aku bangkit dari duduk dan melihat-lihat apa yang ada dalam kamar ini.

Aku membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang tidur dengan balkon. Aku berdiri dibalkon, menikmati hembusan angin.

Aneh, aku merasa begitu kepanasan dan bergairah. Aku tak menyangka akan beradu peran dengan orang yang memiliki bentuk tubuh yang rapih dan kekar seperti Kellan.

Orang yang menjadi kekasihnya sangat beruntung, apalagi saat berhubungan intim. Aku yakin, kekasihnya akan terus-menerus meminta berhubungan.

Astaga, pikiranku melambung tinggi. Aku tersipu dengan pemikiranku sendiri.

Konyol. Kemaluanku tegang, celana ku menyempit.

"Hey, apa yang kau lakukan?" aku tersontak kaget saat kedua lengan memeluk ku dengan erat.

Kurasakan punggungku mengenai dua puting yang menegang dan otot tubuhnya yang lain. Aku terdiam.

"Menikmati angin segar?" tanyanya lagi.

Aku masih diam, tak bersuara. Dada Kellan bergerak pelan, menggesek punggungku. Kedua puting dadanya menggaruk pelan punggungku.

Lengannya tak lagi memeluk, kini dada ku diremasnya lembut. Membuatku sedikit mendesah.

Bibirnya mengecupi dan lidahnya menari dipipiku.

Remasan didadaku semakin keras, jarinya merangsang kedua putingku.

Puas memainkan tubuhku, kini ia membalikan tubuhku agar berhadapan dengannya.

Astaga, tatapan matanya begitu tajam dan dalam.

"Kau menikmatinya?" aku menunduk, aku tersipu.

Tangannya kini turun ke kakiku, dan mengangkatnya. Reflek, aku melingkarkan kakiku dipinggangnya dan mengalungkan tanganku dilehernya.

Ia menggantungkan senyumannya, lalu mencium bibirku.

Ciuman yang liar, menurutku. Bibirku dihisap, digigit dan lidahku ikut dihisap.

Kemaluan kami bertemu, saling bergesekan meski masih tertutup celana jeans.

Angin berhembus kencang, mengenai tubuhku dan tubuhnya yang basah dengan keringat.

Aku dibawanya masuk ke dalam kamar dengan posisi kaki dan tangan yang melingkar ditubuhnyaㅡseperti koala, sementara ciuman kami belum berhenti.

Tubuhku dihempaskannya ke atas kasur, dan Kellan tetap mencumbuku.

Kellan menindihku, dengan kakiku yang terbuka lebar dan memeluk belakang tubuhnya. Dadanya menggesek dadaku, kedua puting kami bertemu dan saling menempel.

Tanganku mengusap kepalanya, dan ciumannya semakin ganas. Daun telinga, tengkuk, dan dadaku menjadi sasaran mulutnya untuk dikecup.

Tangannya membuka resleting celana ku dan meremas kemaluanku yang menegang. Ia terkekeh saat jarinya bermain dicelana dalamku yang mencetak precum.

Aku benar-benar terangsang.

Aku memandang wajahnya dan memintanya berhenti mempermainkanku.

Ia salah menangkap kalimatku, bahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut dan menyuruhku menungging.

Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Beberapa detik kemudian, aku merasa lubang pantatku diolesi sesuatu yang sangat dingin.

Membuatku melengkungkan tubuh dan menggelinjang.

Beberapa menit kemudian, aku berteriak keras saat sesuatu mencoba menembus kemaluanku.

"Hentikan, sakit" ucapku tapi Kellan tak memperdulikanku bahkan ia melanjutkan usahanya hingga berhasil menembus tubuhku.

Kellan mendesah panjang, sedangkan aku menutup mataku menahan sakit.

Kellan menindihku, dadanya kembali menggesek punggungku tanpa menggerakan pinggulnya.

Bibirnya menghisap daun telingaku dan berbisik padaku, lalu menyuruhku bangkit.

Aku menurut, tangannya memeluk ku. Membantuku bangkit dan bertumpu lutut. Ketika aku dan dia sudah bangkit, tangan kirinya menekan kepalaku. Memaksaku menerima ciumannya dan tangan kanannya meremas kencang kemaluanku.

Pinggulnya mulai bergerak, mengikuti irama rancapan tangannya di kemaluanku.

Kellan mendesah ditelingaku, ketika aku menyandarkan kepala dibahunya.

Tangan kirinya memilin putingku lembut, terkadang di remas.

"Hentikan, ku mohon" ujarku.

Kellan menghentikan goyangan pinggulnya, lalu melepas kemaluannya dari anusku.

Aku membaringkan tubuhku, masih menahan sakit.

Ku pikir ia akan berhenti. Kakiku diangkatnya tinggi, lalu kembali memasukan kemaluannya sebelum ciumannya mendarat di bibirku.

Perutnya menekan kemaluanku, sangat terasa otot kencang perutnya menggesek kemaluanku.

Kemaluannya mengoyak isi tubuhku, namun entah kenapa aku merasakan gejolak yang begitu tinggi.

Sakit yang tadi kurasa, berubah nikmat dan membuat kemaluanku mengalirkan precum yang semakin banyak.

Ditambah dengan tekanan perutnya yang menggesek kemaluanku.

Aku benar-benar terangsang, desahan saling menyahut hingga terdengar seperti melodi.

Kellan menggerakan pinggulnya semakin kencang, bibirnya menghisap kedua putingku bergantian. Telunjuknya berada dimulutkuㅡdihisap dengan mulutku.

Sprei kasur begitu berantakan dan basah.

"Kau sampai?" aku tak menjawab saat Kellan berbisik ditelingaku.

Kellan bangkit, lalu merogoh anusku semakin dalam. Tangannya merancap kemaluanku cepat.

Nafasku semakin berat, aku tak sanggup lagi.

"Hentikan, aku sampai!" teriakku ditengah desahan.

Tangan Kellan semakin cepat merancap kemaluanku, hingga kurasakan kemaluanku berdenyut cepat.

Kellan melepas tangannya. Kini, ia fokus pada gerakan pinggulnya.

Kemaluan Kellan terus menerus menyentuh titik rangsangku, bahkan Kellan tidak berbicara sedikitpun dan hanya mendesah.

Hingga akhirnya, aku memuntahkan spermaku. Kellan mencabut kemaluannya dan meloconya cepat.

"Angh, yes-h" beberapa detik kemudian, sperma Kellan bercampur dengan spermaku yang membasahi tubuh.

Tubuhnya menindihku. Bibirnya kembali menciumiku, namun kini lebih lembut. Tangannya mengusap pipiku, dan aku memeluk tubuhnya.

Tubuh kami basah dengan keringat.

Kedua putingnya menempel di putingku, kemaluannya menekan kemaluanku.

Tubuhnya naik turun, seiring dengan nafas kami.

-This is an end?-

Senin, 10 Maret 2014

Angga, Is My Name (Synopsis)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Illustration : Author private image.
Label : ABEnt.

Synopsis
Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.

Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringin musik.

Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.

Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.

Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.

Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.

-***-

"Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu ngegodain orang lain seenaknya!"

"Aku..."

"Jangan ngelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang itu ga akan liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"

Ku tundukan wajahku. Sia-sia jika aku terus membela diri.

"Maaf..."

"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"

Copyright of ABEnt, do not copy without author permission.

2014© Angga, is My Name.

Minggu, 09 Maret 2014

Angga, is My Name (Ep. 1)

Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.

Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author

Angga, is My Name (Ep. 1)
-***-

Terdengar suara klakson kendaraan saling sahut-menyahut, memohon untuk segera berjalan. Matahari bersemangat menyinari bumi, membuat brain master mesin yang saling bersahutan mengeluh karena terpanggang.

Aku, menghela nafasku panjang. Terduduk disebuah bangku panjang depan warung, diam sembari menghisap batangan rokok.

Suasana sangat panas, ditambah dengan bising kendaraan juga para pedagang kaki lima yang berteriak mempromosikan barang dagangan mereka.

Namun, aku menikmatinya. Sangat menikmati. Aku tak perduli akan kulitku yang terbakar, tak perduli dengan kondisi jalan, karena inilah ibukota.

Ibukota tak akan disebut demikian jikaㅡdisaat siang seperti ini, jalanan sepi, tak adanya pedagang di trotoar, atau para jambret di dalam bus.

Bagaimanapun, aku mencintai ibukota ku. Aku mencintai kota besar ini.

Aku tersenyum kecil memandangi orang-orang yang catwalk dihadapanku dengan berbagai macam busana. Busana paling murah, hingga mahal lewat dihadapanku.

Pikiranku melayang jauh, membayangi wajah seseorang.

Daniel, namanya. Ia memiliki wajah oriental dengan senyuman manis dan rambut ikal indah. Matanya menjadi satu garis ketika ia tersenyum atau tertawa.

Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Mahasiswa hukum yang mampu membuat duniaku jungkir balik.

Daniel sering membuatku tertawa dengan candaan garing yang ia ucapkan, ia pula sering memanjakanku seperti adik kecilnya sendiri.

Aku rindu memeluknya, aku rindu harum aroma tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" aku terbangun dari lamunanku.

Aku menoleh ke arah sumber suara lalu segera membuang batangan rokok yang berada disela jariku.

"Apa janjimu?" aku terdiam. Aku berdiri dihadapannya.

"Ayo pulang, kita bahas dirumah" ucapku.

-***-

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sembari fokus menyetir.

"Menunggu mu"

"Apa janjimu?"

"Janji apa?"

"Janji sebelum aku menjemputmu" aku terdiam.

"Pria dewasa tak akan pernah lupa akan janjinya" ujarnya ketus, aku menarik nafas.

"Sudahlah, aku memang bocah dimatamu, kak. Jangan bahas ini lagi"

"Seorang pelupa setidaknya akan mencari solusi untuk mengatasi kekurangan pada dirinya, tapi kau tidak"

"Kak... Hentikanlah"

"Aku belum lihat usahamu mengatasi kekuranganmu"

"Kak... Aku mohon..."

"Aku tak akan berhenti berbicara hingga kau ingat apa janjimu"

"Janji apa? Apa yang aku janjikan padamu? Lalu kapan? Kapan aku berjanji?"

"Konyol, kau bahkan lupa waktu saat berjanji padaku"

Aku kembali diam, ku buang pandanganku ke jalanan sedangkan ia tetap mengoceh sembari menyetir. Ku dengar ocehannya yang sangat mendetail.

Aku bosan, ia pasti akan menasihatiku seperti biasa setelah membeberkan kesalahanku yang sudah-sudah.

"Turun, kau segera mandi, satu jam lagi aku akan mengantarmu ke tempat yang aku benci" ia menghentikan mesin kendaraan lalu turun meninggalkanku.

Ia selalu seperti itu.

-***-

Noval. Entah apa yang harus ku katakan tentangnya. Ia berhasil membuat mood ku hancur sekarang.

Noval memang ku anggap sebagai kakak, karena ia sering menasihatiku bahkan ia mengijinkanku untuk tinggal dikediamannya.

Aku mengenal Noval ketika aku sedang berlari dari kejaran psikopat yang ingin membunuhku. Noval menyelamatkanku lalu menyuruhku tinggal dikediamannya.

Aku sering dinasihatinya seperti tadi, dan itu membuatku risih. Aku selalu dipandang sebelah mata olehnya.

Dimatanya aku adalah anak kecil, dan tak sanggup melakukan apapun. Hal itu yang membuatku jengah.

Ingin sekali aku menyumpal mulut Noval dengan tumpukan sampah agar ia berhenti menceramahi aku dan mulai melihatku sebagai laki-laki dewasa, namun aku tak sanggup.

Selama ini, Noval yang membantuku hidup. Noval menyemangatiku, tanpa meminta imbalan sesuatu padaku.

Mungkin ia menyayangiku seperti ia menyayangi keluarganya, tapi menurutku ia terlalu berlebihan dan aku benci itu.

"Angga! Kau sudah siap?" teriaknya memanggilku.

"Sebentar lagi, kak!" jawabku.

"Cepatlah! Setelah mengantarmu, aku harus bertemu dengan seseorang"

Aku melangkah keluar kamar dan memandanginya yang berdiri di ruangan tengah.

"Ya, aku siap"

"Tunggu aku dalam mobil, ada yang harus ku angkut dari ruang tengah ini"

Aku melangkah keluar rumah, dan menunggunya didalam mobil.

Pikiranku melayang jauh, membayangkan tingkah Noval yang berubah. Noval dulu tak seperti ini, Noval tidak over protective seperti ini.

Dulu ia tidak perduli denganku, ia selalu menjadi pendengar setia disaat aku butuh dan hanya memberi solusi. Sedangkan kini, ia suka memaki dan memojokiku daripada menjadi pendengar setia.

Noval memang tak pernah berkata kasar padaku, ia juga tak pernah bermain fisik padaku. Namun, aku lebih menyukai orang yang bermain fisik ketika marah daripada hanya mengoceh dan memaki.

"Apa yang kau pikirkan, lagi?" aku terbangun dari lamunanku saat Noval duduk di kursi supir dan mulai menyalakan mesin.

Aku menarik nafas, memandanginya lalu berusaha untuk berbiara padanyaㅡmeski aku masih kesal padanya.

"Barang apa yang kau harus bawa?"

"Hanya barang untuk seseorang ditempat kerjamu"

"Tempat kerjaku?"

"Ya... Guci kesayanganku akan kuberi pada pemilik bar itu"

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin kau keluar dari tempat itu dan mencari tempat kerja yang lebih layak untukmu"

"Apa?"

Selama delapan tahun ini ia tak pernah melarangku bekerja ditempat itu, tapi kini ia menyuruhku berhenti. Konyol.

"Kak... Darimana aku makan kalau aku berhenti?"

"Ada aku... Aku yang akan mengurusi itu..." jawabnya, aku memutar bola mataku.

"Kau? Kau bekerja? Selama ini yang kutahu kau hanya menelepon dan menelepon, lalu darimana kau dapat uang?" ia terdiam.

"Kak... Aku tak ingin berhenti dari tempat itu, kau tahu aku suka menari, dan pekerjaan ini cocok menurtku"

"Itu menurutmu, kau cerdas! Kenapa tak kau coba melamar disebuah perusahaan besar yang membutuhkan orang sepertimu?"

"Tidak! Aku tak ingin terikat!"

"Lalu, kau ingin hidup menjadi penari streaptease selama hidupmu?" aku terdiam.

"Aku ingin kau berubah, aku ingin hidupmu jadi lebih baik... Hanya itu" lanjutnya.

"Sudahlah, kita sampai... Cepat turun, aku ingin hari ini berakhir dengan cepat" ujarnya lalu meninggalkanku yang terdiam kaku didalam mobil.

-Be Continue-