Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.
Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author
Angga, is My Name (Ep. 1)
-***-
Terdengar suara klakson kendaraan saling sahut-menyahut, memohon untuk segera berjalan. Matahari bersemangat menyinari bumi, membuat brain master mesin yang saling bersahutan mengeluh karena terpanggang.
Aku, menghela nafasku panjang. Terduduk disebuah bangku panjang depan warung, diam sembari menghisap batangan rokok.
Suasana sangat panas, ditambah dengan bising kendaraan juga para pedagang kaki lima yang berteriak mempromosikan barang dagangan mereka.
Namun, aku menikmatinya. Sangat menikmati. Aku tak perduli akan kulitku yang terbakar, tak perduli dengan kondisi jalan, karena inilah ibukota.
Ibukota tak akan disebut demikian jikaㅡdisaat siang seperti ini, jalanan sepi, tak adanya pedagang di trotoar, atau para jambret di dalam bus.
Bagaimanapun, aku mencintai ibukota ku. Aku mencintai kota besar ini.
Aku tersenyum kecil memandangi orang-orang yang catwalk dihadapanku dengan berbagai macam busana. Busana paling murah, hingga mahal lewat dihadapanku.
Pikiranku melayang jauh, membayangi wajah seseorang.
Daniel, namanya. Ia memiliki wajah oriental dengan senyuman manis dan rambut ikal indah. Matanya menjadi satu garis ketika ia tersenyum atau tertawa.
Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Mahasiswa hukum yang mampu membuat duniaku jungkir balik.
Daniel sering membuatku tertawa dengan candaan garing yang ia ucapkan, ia pula sering memanjakanku seperti adik kecilnya sendiri.
Aku rindu memeluknya, aku rindu harum aroma tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" aku terbangun dari lamunanku.
Aku menoleh ke arah sumber suara lalu segera membuang batangan rokok yang berada disela jariku.
"Apa janjimu?" aku terdiam. Aku berdiri dihadapannya.
"Ayo pulang, kita bahas dirumah" ucapku.
-***-
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sembari fokus menyetir.
"Menunggu mu"
"Apa janjimu?"
"Janji apa?"
"Janji sebelum aku menjemputmu" aku terdiam.
"Pria dewasa tak akan pernah lupa akan janjinya" ujarnya ketus, aku menarik nafas.
"Sudahlah, aku memang bocah dimatamu, kak. Jangan bahas ini lagi"
"Seorang pelupa setidaknya akan mencari solusi untuk mengatasi kekurangan pada dirinya, tapi kau tidak"
"Kak... Hentikanlah"
"Aku belum lihat usahamu mengatasi kekuranganmu"
"Kak... Aku mohon..."
"Aku tak akan berhenti berbicara hingga kau ingat apa janjimu"
"Janji apa? Apa yang aku janjikan padamu? Lalu kapan? Kapan aku berjanji?"
"Konyol, kau bahkan lupa waktu saat berjanji padaku"
Aku kembali diam, ku buang pandanganku ke jalanan sedangkan ia tetap mengoceh sembari menyetir. Ku dengar ocehannya yang sangat mendetail.
Aku bosan, ia pasti akan menasihatiku seperti biasa setelah membeberkan kesalahanku yang sudah-sudah.
"Turun, kau segera mandi, satu jam lagi aku akan mengantarmu ke tempat yang aku benci" ia menghentikan mesin kendaraan lalu turun meninggalkanku.
Ia selalu seperti itu.
-***-
Noval. Entah apa yang harus ku katakan tentangnya. Ia berhasil membuat mood ku hancur sekarang.
Noval memang ku anggap sebagai kakak, karena ia sering menasihatiku bahkan ia mengijinkanku untuk tinggal dikediamannya.
Aku mengenal Noval ketika aku sedang berlari dari kejaran psikopat yang ingin membunuhku. Noval menyelamatkanku lalu menyuruhku tinggal dikediamannya.
Aku sering dinasihatinya seperti tadi, dan itu membuatku risih. Aku selalu dipandang sebelah mata olehnya.
Dimatanya aku adalah anak kecil, dan tak sanggup melakukan apapun. Hal itu yang membuatku jengah.
Ingin sekali aku menyumpal mulut Noval dengan tumpukan sampah agar ia berhenti menceramahi aku dan mulai melihatku sebagai laki-laki dewasa, namun aku tak sanggup.
Selama ini, Noval yang membantuku hidup. Noval menyemangatiku, tanpa meminta imbalan sesuatu padaku.
Mungkin ia menyayangiku seperti ia menyayangi keluarganya, tapi menurutku ia terlalu berlebihan dan aku benci itu.
"Angga! Kau sudah siap?" teriaknya memanggilku.
"Sebentar lagi, kak!" jawabku.
"Cepatlah! Setelah mengantarmu, aku harus bertemu dengan seseorang"
Aku melangkah keluar kamar dan memandanginya yang berdiri di ruangan tengah.
"Ya, aku siap"
"Tunggu aku dalam mobil, ada yang harus ku angkut dari ruang tengah ini"
Aku melangkah keluar rumah, dan menunggunya didalam mobil.
Pikiranku melayang jauh, membayangkan tingkah Noval yang berubah. Noval dulu tak seperti ini, Noval tidak over protective seperti ini.
Dulu ia tidak perduli denganku, ia selalu menjadi pendengar setia disaat aku butuh dan hanya memberi solusi. Sedangkan kini, ia suka memaki dan memojokiku daripada menjadi pendengar setia.
Noval memang tak pernah berkata kasar padaku, ia juga tak pernah bermain fisik padaku. Namun, aku lebih menyukai orang yang bermain fisik ketika marah daripada hanya mengoceh dan memaki.
"Apa yang kau pikirkan, lagi?" aku terbangun dari lamunanku saat Noval duduk di kursi supir dan mulai menyalakan mesin.
Aku menarik nafas, memandanginya lalu berusaha untuk berbiara padanyaㅡmeski aku masih kesal padanya.
"Barang apa yang kau harus bawa?"
"Hanya barang untuk seseorang ditempat kerjamu"
"Tempat kerjaku?"
"Ya... Guci kesayanganku akan kuberi pada pemilik bar itu"
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin kau keluar dari tempat itu dan mencari tempat kerja yang lebih layak untukmu"
"Apa?"
Selama delapan tahun ini ia tak pernah melarangku bekerja ditempat itu, tapi kini ia menyuruhku berhenti. Konyol.
"Kak... Darimana aku makan kalau aku berhenti?"
"Ada aku... Aku yang akan mengurusi itu..." jawabnya, aku memutar bola mataku.
"Kau? Kau bekerja? Selama ini yang kutahu kau hanya menelepon dan menelepon, lalu darimana kau dapat uang?" ia terdiam.
"Kak... Aku tak ingin berhenti dari tempat itu, kau tahu aku suka menari, dan pekerjaan ini cocok menurtku"
"Itu menurutmu, kau cerdas! Kenapa tak kau coba melamar disebuah perusahaan besar yang membutuhkan orang sepertimu?"
"Tidak! Aku tak ingin terikat!"
"Lalu, kau ingin hidup menjadi penari streaptease selama hidupmu?" aku terdiam.
"Aku ingin kau berubah, aku ingin hidupmu jadi lebih baik... Hanya itu" lanjutnya.
"Sudahlah, kita sampai... Cepat turun, aku ingin hari ini berakhir dengan cepat" ujarnya lalu meninggalkanku yang terdiam kaku didalam mobil.
-Be Continue-
No comment! Keburu penasaran!
BalasHapus