Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.
Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author
Angga, is My Name (Ep. 3)
-***-
Aku terdiam sembari menyulut sebatang rokok, sedangkan Noval memandangiku geram.
"Sekarang kamu tahu apa sebabnya aku membenci tempat ini" bentaknya.
"Kekhawatiranku benar-benar terjadi malam ini! Ini sebabnya aku menyogokmu pemilik bar dengan barang kesayanganku" lanjutnya.
Aku mendengar ocehannya sembari fokus merokok.
"Dan kau... Semoga kau cepat mati karena rokokmu!" aku menghela nafas, aku mematikan rokokku dan membuangnya jauh dari tempatku duduk.
"Aku paham, semua itu hakmu! Kamu boleh kerja seperti ini, tapi bukan artinya kamu menggoda orang lain seenaknya!"
"Aku..."
"Jangan mengelak! Kalau bukan gara-gara kamu, siapa lagi! Orang tak akan mungkin menjadi liar kalau kamu ga mulai liar ke dia!"
Ku tundukan wajahku, sia-sia jika aku terus membela diri.
"Maaf..."
"Beresin perlengkapan kamu, kita pulang!"
-***-
Aku menarik nafas panjang. Untuk sekarang Noval terdiam, dan fokus menyetir.
Aku ikut terdiam, pikiranku melayang jauh membayangi wajah Daniel.
Daniel, aku merindukannya.
Daniel tak akan membentakku meski aku melakukan kesalahan besar, Daniel berbeda dengan Noval.
Daniel penuh dengan sikap kebapakan, Daniel benar-benar melindungiku.
"Dasar, trouble maker"
Aku terbangun dari lamunanku, dan menoleh pada wajah Noval.
"Aku?"
"Ya! Kau pembuat masalah, jika bukan aku yang mengawasi mungkin kau sudah menjadi buronan karena masalah yang kau buat!"
Aku terdiam. Aku menarik nafas, ku biarkan Noval mengoceh sesukanyaㅡseperti biasa.
"Entah apa jadinya, jika kau hidup tanpaku! Kau mungkin sudah tak hidup sekarang"
Telingaku panas mendengarkan ocehan Noval, ingin rasanya aku membela diri.
"Kau benar-benar seperti keledai! Bodohnya minta ampun!"
"Ya aku memang keledai, aku memang pembuat masalah, dan jikapun aku mati, seharusnya kakak bersyukur tidak direpoti olehku" ucapku pelan.
Noval mengerem secara mendadak. Aku memandanginya yang menatap tajam wajahku.
"Apa maksudnya?"
"Kau lima tahun lebih tua dariku, pahamilah kalimatku"
"Shit!" Noval kembali menjalankan mobil namun kali ini ia menyetir dengan kecepatan penuh.
-***-
Sesampainya dirumah aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar, aku merapihkan dan memasukan barang-barangkuㅡhanya milikku ke dalam tas ransel.
Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama Noval, baru kali ini aku merasakan sakit hati yang begitu perih.
Ternyata Noval memendam semua kesalahanku dan tadi ia membeberkan semua yang telah kulakukan.
Konyol. Sangat konyol.
Noval memang orang yang sangat baik, ia mengizinkanku tinggal bersama, ia selalu memberi solusi untukku. Tapi, aku tak pernah menyangka jika Novalpun memiliki sikap kekanakan seperti ini.
Noval mengetahui semua tentangku, mengetahui aku yang memiliki kelainan orientasi seksual, memiliki sikap feminim yang lebih banyak dari laki-laki biasanya, mengetahui aku yang tidak memiliki keluarga dan mengetahui identitas asliku.
Aku percaya padanya, tapi aku tak pernah menyangka jika ia akan menjadi seperti ini.
Aku yang terlalu kekanak-kanakan atau aku yang terlalu perfeksionis.
Aku siap meninggalkan rumah Noval dan kembali hidup sendiri. Aku ingin hidupku tanpa adanya ocehan-ocehan Noval.
Aku harus meninggalkan tempat ini, secepatnya.
Aku keluar kamar setelah barang-barangku berada dalam tas ransel. Mengendap-endap hingga pintu.
Aku mengedarkan pandanganku, memastikan diri jika memang Noval sudah tertidur.
Aku membuka pintu, dan keluar rumah lalu menutup pintu perlahan.
"Mau kemana kamu pagi-pagi buta begini?" jantungku hampir lepas mendengar seseorang menegurku. Saat aku menoleh kebelakangku, kulihat Noval duduk diteras sembari menikmati secangkir kopi.
Aku terdiam. Segera aku melangkah pergi meninggalkan Noval.
"Mau kemana kamu?" tanganku ditariknya lalu digenggamnya erat. Aku membalikan tubuh.
"Lepas"
"Jawab, mau kemana kamu?"
"Bukan urusan kakak" jawabku, ku tatap matanya. Aku masih kesal padanya.
"Lepasin tangan aku" lanjutku sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Masuk"
"Engga"
"Masuk!" nadanya naik, genggamannya ditanganku mengencang.
"Ga! Aku mau pergi dari sini!" aku terus meronta dan berusaha melepaskan tanganku.
Aku berhasil melepas genggamanya dan langsung berlari menjauh dari Noval.
Ranselku ditarik Noval hingga aku terjatuh. Ku lihat wajahnya, Noval begitu marah.
"Masuk!" bentaknya.
Aku terdiam, aku bangkit lalu berusaha berlari. Tapi, tanganku ditariknya lagi.
Tubuhku dihempaskannya ke sofa, ketika Noval berhasil menarikku masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana? Jangan bikin aku marah lagi sama kamu"
"Seharusnya kakak jangan tahan aku, biar kakak ga emosi terus"
"Maksud kamu?"
"Aku mau pergi dari sini" aku berdiri lalu melangkah keluar pintu.
"Sampai kamu berani keluar pintu, jangan salahin aku kalau kamu nanti kenapa-kenapa" ujar Noval.
Aku berhenti tepat didepan pintu.
"Aku sudah dewasa, tak perlu pengawasan mu lagi, disamping itu... Aku tak tega melihatmu terus-terusan emosi padaku, barangkali kau mati muda karena ku" ku buka pintu lalu melangkah keluar.
"Dimas Yogi Pratama! Ku hitung sampai tiga, kembali kesini!" aku terdiam.
Aku menghela nafas, lalu kembali melangkah dan berdiri dihadapannya.
Ku pandangi wajahnya.
"Kau panggil aku, siapa?" Noval diam.
Aku mengangkat tanganku dan menampar pipinya.
Ya, aku menampar Novalㅡorang yang kuanggap sebagai kakak.
"Catat dalam otak mu, namaku Angga, hanya Angga" Noval memegangi pipinya.
"Jangan pernah sebut nama itu..." tangan Noval terangkat, namun aku genggam dan remas pergelangan tangannya.
"Aku, Angga, dan kini aku tak takut dengan gertakanmu..."
Noval membisu.
"Catat dalam otak mu, tentang namaku dan jangan pernah mencariku, karena aku yakin, kau tak benar-benar paham mengapa aku seperti ini padamu"
Aku membalikan tubuhku.
"Selamat tinggal"
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar