Author : Angga S.
Genre : Fiction, Adult, Bromance, Boys Love
Label : ABEnt.
Warning! This is gay/yaoi/boys love story, and contained an explicit scene. Please leave this page, than be a haters. Thanks.
-Regards-
Author
Angga, is My Name (Ep. 2)
-***-
Aku terdiam. Ku pandangi ruang tengah yang nantinya akan ku jadikan panggung penampilanku.
Aku yakin, malam ini akan sama seperti malam biasanya. Sepi dan hanya ada beberapa laki laki dewasa dan wanita transgender.
Aku masih teringat kalimat Noval tadi siang. Tiba-tiba ia menyuruhku berhenti dari pekerjaan ini, sedangkan selama bertahun-tahun kemarin ia membiarkan aku. Apa maksudnya?
Ia mengetahui hanya menarilah keahlianku, dan menurutku ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Aku seperti bermain bukan bekerja.
Lagipula, aku sudah menjadi penari striptease sejak lulus sekolahㅡ sebelum aku mengenal Noval. Aku tak akan mungkin meninggalkan pekerjaan ini begitu saja.
Aku juga tak menjual diri disini. Aku memang menari hingga telanjang tapi tak kubiarkan orang-orang yang berkunjung melecehiku.
Aku sudah mengenakan kostumkuㅡcawat kecil yang hanya menutupi kemaluanku, aku pun sudah mengenakan riasanku, kini saatnya aku memulai aktivitasku.
Aku sedikit terkejut saat ku lihat ruang tengah penuh dengan pengunjung. Malam ini lebih ramai dari malam sebelumnya.
Malam kemarin dapat terhitung meja tamu yang terisi, tapi malam ini semua meja penuh.
Sempat kulihat sekumpulan laki-laki bau kencur duduk sembari menghisap batangan rokok.
Meski aku masih merasa sedikit bad mood, tapi aku harus profesional. Ini pekerjaanku.
-***-
Tepuk tangan meriah menyambutku dengan siulan-siulan panjang dari beberapa pengunjung.
Alunan musik bertempo lambat dengan ketukan beat kencang membuatku bergerak mengikuti iringan musik.
Penari latar mengajakku menari mengikuti gerakan mereka yang fokus pada paha dan pinggang, lalu mereka mengangkat tubuhku seakan aku penguasa panggung malam itu.
Beberapa pengunjung berteriak memanggil-manggil namaku, mereka terus bertepuk tangan. Ku lihat seseorang mendekati panggung lalu melempar satu kotak berisikan kondom ke atas panggung.
Aku berjalan ke arah meja bartender setelah penari latar menurunkan aku. Aku menari diatas meja bartender, disoraki siulan-siulan liar juga rabaan tangan mereka ditubuhku.
Bahkan sempat kudengar seseorang mendesah tepat ditelinga ku sembari meraba tubuhku.
Ku liuk-liukan tubuh diselingi dengan gerakan erotis yang membuat para laki-laki didepan meja bar menyorakiku liar.
Aku berdiri dan mulai melepas cawatkuㅡsatu-satunya helai pakaian yang menutupi kemaluanku.
Aku menggoyangkan pinggangku maju mundur, terkadang aku membuka selangkanganku lebar-lebar.
Riuhan memenuhi ruang tengah, ada beberapa pengunjung mencoba menyentuh kemaluanku, tetapi tak berhasil karena sang bartender menghalangi.
Puas menari diatas meja bar, aku berjalan ke arah tengah lalu mengikuti gerakan yang penari latar lakukan.
Semua pengunjung menyoraki ku, bertepuk tangan dan memanggil-manggil namaku.
Alunan musik berganti tempo, dengan ketukan beat yang lebih intim. Aku menggerakan tubuh ke kanan dan kiri, dengan tangan yangㅡmemang sengaja ku gerakan mengusap dada, selangkangan dan tubuhku yang lain.
Salah seorang penari latar mendekatiku lalu mendekapku dari belakang. Bibirnya bermain di wajahku lalu turun ke leherㅡterlihat seperti pasangan yang berhubungan intim.
Suasana semakin panas, dan riuh akan teriakan para pengunjung. Kerlipan lampu yang ditata mengikuti tempo musik membuat ruang tengah itu semakin ribut.
Aku hanya tersenyum kecil. Aku bangga, dan bahagia. Tarianku dinikmati dengan sorakan dan tepukan tangan meriah.
Aku mencintai pekerjaan ini. Aku bangga menjadi penari striptease.
-***-
Aku terduduk disalah satu kursi yang menghadap ke ruang tengah.
Pesta telah usai. Suasana ruang tengah menjadi sepi, hanya tersisa beberapa pengunjung yang tertidur karena mabuk berat dan beberapa cleaning service yang sibuk merapihkan botol alkohol yang berserakan.
Aku menunggu kedatangan Noval yang tadi sudah menghubungiku.
Entah apa reaksinya jika ia tadi melihatku menari, mungkin aku akan langsung ditariknya pulang. Noval membenci pekerjaan ku, ia membenci semua tentangkuㅡyang menurutnya tak patut untukku sedangkan menurutku pantas.
Lagipula, aku mengenal dunia ini lebih lama sebelum akhirnya aku menabrak Noval saat itu.
"Malam sayang" aku terkejut dan terbangun dari lamunanku ketika ku lihat seseorang mendekatiku.
Wajahnya tidak begitu jelas, tapi yang pasti dari orang itu adalah ia mabuk. Tercium aroma alkohol yang kuat dari mulutnya.
Aku tak meladeninya, ia duduk disampingku lalu meraba pahaku.
"Saya mohon hentikan sebelum terjadi sesuatu pada anda" gertakku, tapi sepertinya ia tak menghiraukan kalimatku.
Tangannya terus meraba pahaku lalu mengcengkram pahaku. Aku menepis tangan orang itu, lalu berdiri dan menjauh darinya.
Aku tersontak kaget saat orang itu menarik tanganku lalu menggiringku ke pojok ruamg tengah, tubuhnya menekan tubuhku hingga menempel pada dinding.
Aku berteriak, meronta meminta tolong. Tetapi, tak ada seorangpun yang mendekat. Aku berusaha lari dari dekapan orang itu, tapi tenaganya begitu kuat.
Bibirnya berusaha menciumku, sedangkan tubuhnya digesekan ke tubuhku. Dapat kurasakan selangkangannya menegang begitu juga puting dadanya.
Aku terus berteriak, menampar orang itu dan melakukan apapun untuk lepas darinya.
"Tolong!" teriakku, tapi tetap tak ada yang menolongku.
"Tak ada yang mungkin datang, aku sudah membayar semua orang itu agar pura-pura tak melihat"
Sial. Aku sangat sial malam ini.
"Ku mohon, lepaskan aku" erangku.
"Tidak, sebelum aku memperkosamu"
"Hey!" mataku terbelalak saat ada seseorang yang berteriak lalu menggenggam pundak orang itu, ditariknya orang itu dan pipi orang itu segera di hantam dengan bogeman mentah.
Orang itu terhempas jauh dan berhasil mengenai meja tamu dan botol minuman yang ada dimeja.
Aku baru sadar, Noval yang menghajar orang itu.
"Jauhi badan busukmu dari Angga! Bajingan!" ucap Noval yang terus-menerus memukul wajah orang itu.
Ketika orang itu tersungkur, Noval melayangkan tendangan diperut dan kepala.
"Bangsat!"
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar