Cast : Kellan Lutz and D.O of EXO
Genre : NC Yaoi (Explicit)
Requsted By : Roleplayer of Kellan
Author : ASup
Camera? Roll. Action!
Mataku tak dapat menutup mataku ketika membaca tiap kalimat yang tertulis di skrip.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.
"A... Apa ini?" gumam ku pelan.
Dari awal hingga akhir halaman, hanya tertulis dua huruf. Huruf 'A' dan huruf 'H'.
Aku bingung, akankah film yang ku bintangi hanya berisi desahan selama 90 menit penuh?
Ada yang tidak beres, aku harus membicarakan ini dengan tim produksi.
-***-
Aku disambut hangat oleh tim produksi yang berkumpul di studio yang akan digunakan nanti.
Aku menyapa mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, saat ku bicarakan tujuan kedatanganku mereka menjawabnya dengan sopan dan ramah.
Sempat kulihat seorang dari mereka menghubungi sang sutradara dan produser.
Bahkan aku diantar salah seorang kru untuk mendatangi produser dan sutradara yang menginap di tengah kota.
Ketika aku sampai disebuah losmen sederhana, kru yang mengantarku menunjuk satu kamar dan ia berlalu meninggalkan ku.
Segera, aku mengetuk pintu kamar yang produser dan sutradara tempati.
Aku mematung ketika seseorang yang bertelanjang dada menyambutku, orang itu tersenyum padaku.
"Hi" sapa orang itu.
Aku tersenyum kaku memandang wajahnya. Matakuㅡingin tak ingin mengamati tubuhnya yang terbentuk.
"A... Aku ingin bertemu dengan sutradara dan produser"
"Well, masuklah" ucapnya, "Kau tak akan bertemu dengan mereka jika hanya mematung di sini"
Aku mengangguk pelan, lalu mengikutinya masuk ke dalam.
Aku mengedarkan pandanganku, menurutku kamar ini terlalu luas untuk ukuran losmen dan banyak kamera yang telah disiapkan dalam kamar ini. Bahkan aku sempat melihat kamera kecil tersembunyi di balik pintu.
"Jadi, kau partner ku?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
"Bersantailah, akan kubuatkan minum untukmu" lanjutnya.
Aku duduk di sofa, masih mengamati perlengkapan yang terpasang di dalam kamar.
"Minumlah, tunggu sebentar, mereka sedang keluar membeli sesuatu" ucap orang itu sembari menyajikan minuman padaku.
Aku meminum yang di sajikan olehnya, dan kami berbincang panjang lebar.
Namanya Kellan, ia bersedia mengambil tawaran sang sutradara karena bayaran yang begitu tinggi. Ia rela berangkat dari negaranya dari beberapa hari yang lalu untuk mengambil gambar di sini.
Menurutku, orang ini mudah bergaul bahkan ia keberatan saat aku panggil 'kak' saat mengobrol.
"Kau kepanasan?" tanyanya ditengah perbincangan.
Aku mengangguk pelan.
"Buka saja bajumu, jangan malu" aku terdiam.
Aku tak mungkin membuka bajuku dengan kamera yang tersebar. Lagipula, aku juga tak mengerti kenapa aku merasa begitu kepanasan.
Air conditioner berhembus dengan kencang namun tetap saja aku merasa begitu panas.
"Tenanglah, kamera disini sedang tidak menyala" ujarnya.
Aku melihat ke seluruh kamera, dan memang tak ada yang menyala.
"Tak apa jika aku membuka baju?"
"Aku, tak apa, aku hanya keberatan saat kau memanggilku kakak" ujarnya, aku sedikit tersipu dengan kalimatnya.
Ku putuskan untuk menanggalkan bajuku. Aku terdiam, dan menutupi dadaku dengan kaus yang tadi ku kenakan.
Kellan hanya tersenyum memandangiku, lalu ia meminta ijin padaku untuk pergi ke kamar mandi.
Aku menghela nafas panjang saat Kellan menghilang dari hadapanku.
Aku bingung, apa yang harus ku lakukan.
Aku menjadi relasi kerjanya dalam film ini, dan hingga saat ini aku tak mengetahui apa sebenarnya peranku.
Aku bangkit dari duduk dan melihat-lihat apa yang ada dalam kamar ini.
Aku membuka pintu kaca yang menghubungkan ruang tidur dengan balkon. Aku berdiri dibalkon, menikmati hembusan angin.
Aneh, aku merasa begitu kepanasan dan bergairah. Aku tak menyangka akan beradu peran dengan orang yang memiliki bentuk tubuh yang rapih dan kekar seperti Kellan.
Orang yang menjadi kekasihnya sangat beruntung, apalagi saat berhubungan intim. Aku yakin, kekasihnya akan terus-menerus meminta berhubungan.
Astaga, pikiranku melambung tinggi. Aku tersipu dengan pemikiranku sendiri.
Konyol. Kemaluanku tegang, celana ku menyempit.
"Hey, apa yang kau lakukan?" aku tersontak kaget saat kedua lengan memeluk ku dengan erat.
Kurasakan punggungku mengenai dua puting yang menegang dan otot tubuhnya yang lain. Aku terdiam.
"Menikmati angin segar?" tanyanya lagi.
Aku masih diam, tak bersuara. Dada Kellan bergerak pelan, menggesek punggungku. Kedua puting dadanya menggaruk pelan punggungku.
Lengannya tak lagi memeluk, kini dada ku diremasnya lembut. Membuatku sedikit mendesah.
Bibirnya mengecupi dan lidahnya menari dipipiku.
Remasan didadaku semakin keras, jarinya merangsang kedua putingku.
Puas memainkan tubuhku, kini ia membalikan tubuhku agar berhadapan dengannya.
Astaga, tatapan matanya begitu tajam dan dalam.
"Kau menikmatinya?" aku menunduk, aku tersipu.
Tangannya kini turun ke kakiku, dan mengangkatnya. Reflek, aku melingkarkan kakiku dipinggangnya dan mengalungkan tanganku dilehernya.
Ia menggantungkan senyumannya, lalu mencium bibirku.
Ciuman yang liar, menurutku. Bibirku dihisap, digigit dan lidahku ikut dihisap.
Kemaluan kami bertemu, saling bergesekan meski masih tertutup celana jeans.
Angin berhembus kencang, mengenai tubuhku dan tubuhnya yang basah dengan keringat.
Aku dibawanya masuk ke dalam kamar dengan posisi kaki dan tangan yang melingkar ditubuhnyaㅡseperti koala, sementara ciuman kami belum berhenti.
Tubuhku dihempaskannya ke atas kasur, dan Kellan tetap mencumbuku.
Kellan menindihku, dengan kakiku yang terbuka lebar dan memeluk belakang tubuhnya. Dadanya menggesek dadaku, kedua puting kami bertemu dan saling menempel.
Tanganku mengusap kepalanya, dan ciumannya semakin ganas. Daun telinga, tengkuk, dan dadaku menjadi sasaran mulutnya untuk dikecup.
Tangannya membuka resleting celana ku dan meremas kemaluanku yang menegang. Ia terkekeh saat jarinya bermain dicelana dalamku yang mencetak precum.
Aku benar-benar terangsang.
Aku memandang wajahnya dan memintanya berhenti mempermainkanku.
Ia salah menangkap kalimatku, bahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut dan menyuruhku menungging.
Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Beberapa detik kemudian, aku merasa lubang pantatku diolesi sesuatu yang sangat dingin.
Membuatku melengkungkan tubuh dan menggelinjang.
Beberapa menit kemudian, aku berteriak keras saat sesuatu mencoba menembus kemaluanku.
"Hentikan, sakit" ucapku tapi Kellan tak memperdulikanku bahkan ia melanjutkan usahanya hingga berhasil menembus tubuhku.
Kellan mendesah panjang, sedangkan aku menutup mataku menahan sakit.
Kellan menindihku, dadanya kembali menggesek punggungku tanpa menggerakan pinggulnya.
Bibirnya menghisap daun telingaku dan berbisik padaku, lalu menyuruhku bangkit.
Aku menurut, tangannya memeluk ku. Membantuku bangkit dan bertumpu lutut. Ketika aku dan dia sudah bangkit, tangan kirinya menekan kepalaku. Memaksaku menerima ciumannya dan tangan kanannya meremas kencang kemaluanku.
Pinggulnya mulai bergerak, mengikuti irama rancapan tangannya di kemaluanku.
Kellan mendesah ditelingaku, ketika aku menyandarkan kepala dibahunya.
Tangan kirinya memilin putingku lembut, terkadang di remas.
"Hentikan, ku mohon" ujarku.
Kellan menghentikan goyangan pinggulnya, lalu melepas kemaluannya dari anusku.
Aku membaringkan tubuhku, masih menahan sakit.
Ku pikir ia akan berhenti. Kakiku diangkatnya tinggi, lalu kembali memasukan kemaluannya sebelum ciumannya mendarat di bibirku.
Perutnya menekan kemaluanku, sangat terasa otot kencang perutnya menggesek kemaluanku.
Kemaluannya mengoyak isi tubuhku, namun entah kenapa aku merasakan gejolak yang begitu tinggi.
Sakit yang tadi kurasa, berubah nikmat dan membuat kemaluanku mengalirkan precum yang semakin banyak.
Ditambah dengan tekanan perutnya yang menggesek kemaluanku.
Aku benar-benar terangsang, desahan saling menyahut hingga terdengar seperti melodi.
Kellan menggerakan pinggulnya semakin kencang, bibirnya menghisap kedua putingku bergantian. Telunjuknya berada dimulutkuㅡdihisap dengan mulutku.
Sprei kasur begitu berantakan dan basah.
"Kau sampai?" aku tak menjawab saat Kellan berbisik ditelingaku.
Kellan bangkit, lalu merogoh anusku semakin dalam. Tangannya merancap kemaluanku cepat.
Nafasku semakin berat, aku tak sanggup lagi.
"Hentikan, aku sampai!" teriakku ditengah desahan.
Tangan Kellan semakin cepat merancap kemaluanku, hingga kurasakan kemaluanku berdenyut cepat.
Kellan melepas tangannya. Kini, ia fokus pada gerakan pinggulnya.
Kemaluan Kellan terus menerus menyentuh titik rangsangku, bahkan Kellan tidak berbicara sedikitpun dan hanya mendesah.
Hingga akhirnya, aku memuntahkan spermaku. Kellan mencabut kemaluannya dan meloconya cepat.
"Angh, yes-h" beberapa detik kemudian, sperma Kellan bercampur dengan spermaku yang membasahi tubuh.
Tubuhnya menindihku. Bibirnya kembali menciumiku, namun kini lebih lembut. Tangannya mengusap pipiku, dan aku memeluk tubuhnya.
Tubuh kami basah dengan keringat.
Kedua putingnya menempel di putingku, kemaluannya menekan kemaluanku.
Tubuhnya naik turun, seiring dengan nafas kami.
-This is an end?-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar