Tampilkan postingan dengan label Request Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Request Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

When...

Story One

Cast : 용준형-양요섭 (Junhyung-Yoseob) of Beast—CMIIW

Genre : Yaoi, Adult
Rate : R

Warning! Typos and Gay Themed. Leave it if disturbing.

-***-

'Dimana? Aku mencari mu' 
Aku sedikit tersenyum ketika membaca pesan singkat yang beberapa detik lalu hinggap di kotak masuk ponselku. Sebenarnya ingin aku membalasnya dengan rengekan kecil yang sedari tadi ku tahan, namun aku sadar orang ini bukan siapa-siapa.

'Aku dihatimu' 

'Tunggu aku, ada yang ingin ku tunjukan padamu' beberapa detik kemudian, balasan darinya tiba dan segera kubalas dengan 'Y'

Sejujurnya, aku memang menyukai orang yang baru saja mengirimi ku pesan singkat, namun aku yakin ia tak merasakan apa yang ku rasakan. Dia, memiliki kehidupan normal—bahkan dapat ku katakan lebih normal dari tokoh normal pada kartun bikinibottom.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku bahkan lupa sejak kapan rasa cemburu ini timbul ketika ia membicarakan orang lain selain diriku, namun yang ku ingat adalah saat ia memandangku sendu dengan senyuman tulus yang menggantung diwajahnya.

Yong Jun Hyung bagaikan malaikat yang sengaja tuhan ciptakan untuk membahagiakan semua orang. Jun begitu pandai, begitu mempesona, begitu—dan begitu banyak yang dapat kukagumi darinya. Sayang, ia tak akan pernah sadar akan kehadiranku sebagai seseorang yang menyukai melainkan hanya sebagai kawan—benar-benar kawan, tanpa ada status lain.

"Seob-i, kau dimana?" Aku bangkit dari atas kasurku lalu keluar dari kamar. Jun sudah datang, dan aku harus merapihkan kamarku—menyembunyikan semua yang menyangkut tentang dirinya. 

"Ku kira kau pergi, tak ada tanda-tanda kehidupan diruang tamu tadi" ujarnya sembari melewatiku yang berdiri di ambang pintu, aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya. 

Jun duduk diatas kasurku lalu mengeluarkan gitar akustik dari tas yang dibawanya. 

"Dengarlah, aku membuat sebuah lagu romantis" aku mengangguk pelan, duduk dihadapannya lalu menatapnya. Ia membalas tatapan ku dan tersenyum. Jemari Jun mulai memetik senar gitar, melantukan melodi lembut dan nada-nada yang membuat orang lain seperti  merasakan jatuh cinta. 

Lirik pertama ia nyanyikan dengan penuh percaya diri, hingga akhirnya pada bagian 'bridge' ia fokus pada senar gitar. Ketika petikan gitar masuk pada reff terakhir ia menatapku tajam. 

"Aku bersyukur telah menemukan mu yang membuatku mengerti akan artinya cinta" lirik yang dinyanyikannya sembari tak hentinya memandangiku. Aku bertepuk tangan saat lagu yang Jun mainkan berhenti. 

"Untuk siapa?" Untuk calon kekasihku" jawabnya sembari menaruh gitar disampingnya. 

DEG , calon kekasih? Aku? Aku menyimpulkan senyuman kecil di wajahku.

"Kau pernah bertemu dengan gadis di ujung komplek ini? Dia begitu cantik" aku terdiam,senyumanku perlahan menghilang. 

"Akan ku nyanyikan lagu ciptaan ku dihadapannya" senyumanku benar-benar menghilang. 

"Akan kunyatakan padanya, diterima atau tidak, yang jelas sudah kunyatakan perasaanku" dadaku berdegup kencang, tubuhku bergetar pelan, mataku memanas.

Benarkah dengan kalimat yang baru saja kudengar? Astaga, aku lupa jika ia memiliki kehidupan yang normal. Tapi, tak adakah rasa cintanya yang dapat dibagikan padaku? Maksudku, selama ini aku selalu ada untuknya, memberikan perhatian untuknya, dan benar-benar tak pernah pergi meninggalkannya. Jun, dapatkah kau bagi perasaan mu padaku sedikit saja untuk ku? 

-***- 

Aku menatap cermin, membenahi diri dan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan pakaian yang ku kenakan—pakaian yang Jun pernah katakan 'terlihat sangat menawan' ketika aku memakainya. Aku harus berusaha menerima apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, aku berusaha untuk tidak menunjukan rasa kesal dan cemburuku pada Jun. 

Disini, aku harus profesional dan tidak ingin menghancurkan rencananya—menyatakan rasa suka Jun pada gadis yang dikenal dengan panggilan GaYoon. Tapi, apakah aku sanggup? 

Aku menarik nafas panjang, dan menenangkan diri. Baiklah, setidaknya aku tak akan kehilangan Jun jika ia benar-benar diterima cintanya. 

'Dimana kau? Aku sudah menunggumu' 

Ku baca pesan yang baru saja masuk. Aku membalasnya dan menyuruhnya untuk menunggu, dan aku tak mendapat balasan darinya. Aku tak yakin, jika aku akan kuat. 

-***- 

Raut sedih benar-benar tak dapat disembunyikan olehnya ketika ia benar-benar ditolak oleh gadis itu. Sejujurnya, aku senang namun saat memandang wajahnya, aku menjadi sangat tidak tega. Andai saja ia menyatakan pada orang yang tepat mungkin ia tak akan seperti ini—maksudku jika ia mengatakan padaku mungkin aku tak akan melihat wajahnya yang muram.

Kami menghabiskan malam di kedai soju dekat dengan perumahannya dan memesan hampir 2 lusin untuk dibawa pulang. 

"Saatnya berpesta, Seob-iya" ujarnya yang hampir mabuk. Sepanjang perjalanan Jun mengoceh, sementara aku tidak menghiraukannya dan fokus memapah tubuhnya hingga masuk ke dalam kamar. 

"Aku begitu bodoh" ujarnya ditengah tawaan yang terdengar sangat terpaksa. 

"Kenapa aku bisa menyukai gadis tolol sepertinya" 

"Sudahlah" ujarku, ku lihat ia kembali membuka botol soju yang masih utuh dan langsung menenggaknya. 

"YA!" Aku membentaknya, "Hentikan!" 

Jun menatapku sinis, lalu memutar bola matanya. 

"Kenapa?" 

"Hentikanlah, kau sudah mabuk" 

"Lalu?" 

"Eiy… aku…" 

"Cih, kau terlalu bawel" aku terdiam ketika Jun memotong kalimatku. "Kau seperti kekasihku saja, membentakku, memarahiku, menyuruhku ini itu, ah… kau benar-benar seperti kekasih yang ku dambakan… jangan-jangan kau menyukaiku tetapi aku tak sadar" lanjutnya diselingi tawa kencang. 

Aku terdiam—benar-benar diam tanpa melakukan apapun. Jun tersedak saat—hampir menghabiskan setengah botol soju. 

"Ah, sial" Jun mengumpat, aku mendekatinya. 

"Sudahlah" Jun menatapku. 

Tatapan kami bertemu, namun aku segera membuang muka. 

"Istirahatlah" ujarku, aku bangkit lalu merapihkan tempat tidurnya. Aku menoleh ketika tangan Jun menarik lenganku hingga aku jatuh terduduk dihadapannya. 

-***- 

Nafasnya mengenai philtrum[1] milikku ketika kami saling bertatapan. Mata Jun sedikit memerah, dan tercium alkohol yang begitu kuat dari hembusan nafasnya. 

"J… Jun" ucapku gugup sebelum Jun mencium ku. 

Ya, Junhyung menciumku tepat dibibirku. Tangannya menggenggam kepalaku, menekan dan menciumku semakin dalam. Bibirku digigit lembut dan terkadang ia menghisap lidahku. Tubuhku terdorong hingga berbaring saat ia menciumku begitu dalam. 

Tubuhnya menindihku, seperti aku tempat tidurnya. 

Kurasakan selangkangannya mulai menegang dan membuat tonjolan kecil, menggesek perut dan selangkanganku. Ciumannya semakin liar, tangannya mulai berani meremas dadaku. 

"Eungh... Jun…" ia hanya menatapku lalu membuka bajunya dan celananya, menyisakan cawat yang
menutupi kemaluannya yang tegang. 

Segera, ia kembali menindih ku dan menciumku dengan tangan yang meremas-remas selangkanganku. Aku terbang hanya dengan ciumannya, remasan tangannya membuat tubuhku melengkung meski ia menindihku dan menahan mulutku dengan ciumannya. Aku 'turn on' karena perlakuannya. 

Puas menghisap bibir dan lidahku, Jun menelanjangiku—tanpa menyisakan apapun dan ia membuka cawatnya. menindihku, hanya saja kepalanya berada di kemaluanku begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehangatan pada kemaluanku dan buah pelirku. Aku terkejut ketika mulutnya memanjakan kemaluanku dengan kulumannya. Lidahnya lihai menjilat, dan memainkan lubang kencingku yang basah. Jun benar-benar seperti bocah yang baru menemukan mainan baru, sementara aku kebingungan dengan kemaluan Jun yang menyenggol pipi dan hidungku sementara precum miliknya menempel pada wajahku dan begitu menyengat namun entah darimana ada dorongan untukku menghisap kemaluannya. 

-***- 

Jun menghentikan hisapannya, dan menaik-turunkan pantatnya dengan kemaluan yang berada dalam kulumanku. Erangan Jun terdengar meski ia masih mengulum kemaluanku. Jun seperti menyenggamai mulutku dengan kemaluannya, aku hampir tersedak karena ia terlalu bersemangat. 

"Hen… hentikan" ucap Jun sebelum mencabut kemaluannya. Ia menyandarkan diri di dinding, lalu menarik tubuhku. Bibirku kembali menjadi sasarannya setelah  tubuh kami berdekatan, kemaluan kamu bertemu—saling mengadu dan menggesek hingga bertukar precum. 

Tubuh kami basah akan keringat, namun itu yang membuat Jun semakin bersemangat. Tangan kanannya mengusap punggungku sementara tangan kirinya merangsang lubang analku dengan jarinya Aku mendorong tubuhnya, melepaskan ciumannya dan mengerang ketika jari tengahnya berhasil menembus lubangku. 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan menyandarkan kepalaku dikepalanya. Kepala Jun terbenam didadaku, mulutnya menghisap dan lidahnya bermain diputing dadaku.Gigitan lembutnya membuat jemariku refleks menarik rambutnya, sementara pemanasan dilubang pantatku belum berhenti hingga 3 jari sukses bersarang dilubang pembuanganku. Kemaluanku melemas, walaupun tak kupungkiri precum masih tetap mengalir dari ujung kemaluanku. 

-***- 

Aku menahan teriakan dengan menggigit bibirku ketika kemaluan Jun berusaha menembus tubuhku, terasa perih dan begitu panas. Ketika, tubuhku sukses dimasuki olehnya, Jun memandangku sendu dengan senyuman kecil yang menggantung di wajahnya. 

"Bertahanlah…" ujarnya setelah kemaluan Jun benar-benar tenggelam dalam tubuhku. Tangannya menggenggam kedua belah pantatku, sedikit meremasnya dan membantuku menaik-turunkan tubuh sementara kepalanya membuat tanda merah disekitar dadaku, dan terkadang menggigit pelan dadaku. 

Perutku benar-benar terisi penuh seakan aku hendak buang air. Kemaluanku menempel diperutnya membuat gesekan—perlahan namun pasti yang membuat kemaluan ku menegang. Erangan kami  memenuhi ruangan dan saling mengisi. Aku mengeratkan lingkaran tanganku ketika Jun berusaha bangkit dan menggendong tubuhku. 

Ia memepetku ke dinding dan kembali menggerakkan tubuhnya. Kali ini, ia mencumbuiku lebih ganas dan terkadang menggigit lidahku. Puting dadanya menggesek dadaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang membuat kemaluanku semakin mengalirkan precum. Tanganku diangkatnya lalu ia menciumi ketiakku. 

Aku melenguh pelan, membuatnya semakin ganas dan memperlakukan ku semakin liar. Ia mencabut kemaluannya, menurunkan tubuhku dan dibaringkan di atas kasurnya. Diangkatnya kakiku, dibukanya lebar dan ia kembali memasukan kemaluannya—yang kepalanya sudah memerah dan berkedut. Tanpa aba-aba ia memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo yang sangat cepat sembari menciumiku. Kemaluanku terjepit di perutnya. 

-***- 

"Argh! Aku… Sampai" bisikku ditengah permainan. 

"Tunggu aku…" tangannya merancap kemaluanku. 

Genggaman tangannya erat dan tidak membuatku sakit saat dirancap. Ku rasakan kemaluannya berkedut dan mengembang dalam tubuhku. 

"Ngargh!... Aku sampai…" ucapnya sebelum ia mencabut kemaluannya dan ditempelkan dikemaluanku. 

Kedua tangannya menggenggam kemaluan kami lalu dikocoknya dengan cepat. 

"Argh!" Erangnya sesaat sperma sukses keluar bersamaan dengan spermaku.

-***- 

'Kenapa kau menjauhiku?' Aku membanting ponsel pintarku ke sudut kamar, dan tak berniat membalas pesan singkat yang masuk. Jun terus memberiku pesan masuk, dan aku tak pernah membalasnya. 

Konyol memang, namun aku ingin memberi pengertian padanya jika aku bukanlah pelampiasan, meskipun aku menikmati permainannya malam itu. 

Aku sengaja tak membawa ponselku keluar rumah, tapi langkahku terhenti saat kudengar alunan melodi gitar yang sangat kuhafal. Aku menoleh ke sekelilingku namun tak kutemukan sumber suara.
Aku mengitari rumahku dan aku juga tak menemukan apapun. 

"Saranghae…" aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku lalu memberikanku seikat mawar. Aku memandangi orang yang ada dihadapanku—ia berpakaian begitu rapih hingga aku tak mengenalinya. Astaga, orang ini penuh dengan kejutan. 

"Jeongmal saranghae…" ujarnya lagi sebelum ia tertawa sendiri karena 'aegyo' yang tak pernah ia lakukan. Jun, tanpa aegyopun kau sudah menempati yang kosong dalam hatiku. 

Hanya saja, aku belum dapat menerimamu, karena aku ragu jika aku masih dalam bayangan gadis itu… 

-End-

[BONUS]

Aku terbangun saat sinar matahari mengenai pipi ku melalui celah jendela, aku bangkit dan memandang ke samping kananku. Kulihat Yoseob sedang tertidur pulas dengan piyama milikku. Aku bergegas ke arah kamar mandi untuk membilas wajah.

ASTAGA.

Aku telanjang tanpa sehelai benang. Apa yang terjadi semalam? Apa aku meniduri Yoseob? Benarkah aku menidurinya?

Aku tak menyangka akan melakukannya pada Yoseob. Semoga ia memaafkanku dan melupakan kejadian tadi malam. Karena sejujurnya, aku belum ingat apa yang terjadi semalam.

-***-

"Aku pulang..."

Apa?

"Maaf... beberapa hari kedepan aku tak bisa menemui mu"

Benarkah yang kudengar?

"Jangan cari aku" ujarnya lagi sebelum ia pergi meninggalkan ku.

Yang Yoseob, ia marah padaku? Aku benar-benar brengsek. Astaga apa yang harus ku lakukan...

[Continue to next part]

Sabtu, 15 Februari 2014

Overtime? (Request)

-Kisah ini adalah permintaan @shpthunderr-
-Warning! Kisah ini mengandung tema yaoi (gay) - dewasa eksplisit-

Cast : Taecyeon of 2PM and Cheondung of Mblaq

-***-

Cheondung harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jika tidak ia bisa mati karena ocehan atasannya--Taecyeon.

Meski Taecyeon bukan termasuk orang yang banyak bicara, namun Taecyeon hobi mengerjai pegawai-pegawai yang lain dan Cheondung tak ingin menjadi salah seorang korbannya.

Cheondung fokus dengan pekerjaannya, ia tak sadar atasannya mengawasi dari belakang.

Cheondung terdiam ketika tangan Taecyeon mengusap dan meraba pelan punggungnya, ketika Cheondung menoleh ke belakang Taecyeon mengecup pipinya.

"Pak..."

"Ya?"

"Stop... Saya mohon"

"Kenapa?"

Taecyeon semakin berulah, tangannya kini meraba dada Cheondung mesra. Jarinya bermain tepat di puting dada Cheondung.

Cheondung berusaha menjauhkan diri dan mendorong pelan tubuh Taecyeon, tetapi usahanya membuat tubuhnya berbalik arah ke hadapan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum sinis, ia meraih tangan Cheondung lalu diarahkan ke selangkangannya sendiri.

"Remas..." bisik Taecyeon sembari mulutnya menjilati telinga Cheondung.

Ada rasa ingin melawan atasannya, tetapi Cheondung tetap mengikuti keinginan atasannya.

-***-

Tak sadar siapa yang memulai, keduanya sudah bertelanjang. Cheondung duduk dipaha Taecyeon dengan kemaluan yang saling menyentuh dan bergesekan.

Bibir Taecyeon menciumi tiap inch leher Cheondung, sementara Cheondung hanya mengerang dan mendesah sembari menarik-narik rambut Taecyeon.

Kepala kemaluan mereka basah dengan cairan kental bening-precum yang membuat licin gesekan demi gesekan, mereka mendesah menikmati permainan yang Taecyeon mulai.

Bibir Cheondung dilumat Taecyeon ganas, terkadang digigit pelan dan dikulum. Jemari Cheondung memilin kedua puting Taecyeon hingga benar-benar tegang.

Puas mencumbui Cheondung, Taecyeon menggendong tubuh Cheondung lalu dipindahnya keatas meja.

Cheondung tetap melingkarkan kakinya dipinggang Taecyeon meski pantatnya sudah duduk diatas meja, Ciuman Taecyeon semakin ganas.

Bibirnya turun ke dada, perut dan selangkangan. Mulutnya langsung melahap kemaluan Cheondung yang menegang sempurna, dihisap dan digigitnya kuat hingga Cheondung mengerang.

Kedua jari Taecyeon merangsang lubang anus Cheondung, dibuka lalu dimaju-mundurkan jarinya dengan tempo lambat.

Cheondung merebahkan diri, mulutnya tak berhenti mengerang dan mendesah.

Cheondung menyuruh Taecyeon menghentikan tusukan dianusnya, Taecyeon mencabut kedua jarinya lalu memandangi anus Cheondung yang berkedut.

Cheondung meremas kemaluannya dan berharap kemaluannya melemas, namun kemaluannya semakin menegang dan terpaksa ia merancap penisnya didepan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum, ia ikut merancap penisnya lalu diarahkannya ke anus Cheondung.

Cheondung berteriak, saat setengah bagian kemaluan Taecyeon berhasil menembus tubuh Cheondung.

"Tenanglah..." ucap Taecyeon perlahan.

Taecyeon memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat, tangannya merancap, dan meremas kemaluan Cheondung.

Mereka berdua mendesah.

Taecyeon melepas rancapannya, lalu menudukan diri menciumi bibir Cheondung. Cheondung membalas ciuman Taecyeon ganas.

-***-

Taecyeon meracau, sedangkan Cheondung fokus pada pinggulnya yang naik-turun diatas tubuh Taecyeon.

Keringat membasahi tubuh mereka, tercium aroma tubuh mereka yang membuat libido mereka semakin meningkat.

Taecyeon memposisikan diri agar dapat mengatur tubuh Cheondung yang naik turun.

"Ah! Ah! Ah!" desahan Taecyeon membuat semangat Cheondung yang naik-turun mengikuti tempo.

Cheondung berhenti, lalu menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan. Memaksa Taecyeon mendesah semakin hebat.

Tangan Taecyeon mulai aktif memberi rangsangan pada Cheondung, dicubit dan dirabanya puting Cheondung terkadang diremasnya hingga Cheondung menghentikan goyangannya.

Cheondung melepas kemaluan Taecyeon dan Taecyeon menyuruh Cheondung menungging. Sekali hentak seluruh kemaluan Taecyeon masuk menembus tubuh Cheondung.

-***-

Hentakan pinggul Taecyeon semakin lama meningkat dan rancapan tangan Taecyeon dikemaluan Cheondung mengikuti tempo hentakan Taecyeon.

"Ah! Ah! Rawrgh"

Mereka mendesah dan mengerang, Taecyeon meremas kencang kemaluan Cheondung sampai sperma Cheondung keluar dan membasahi lantai.

Taecyeon mengerang saat kemaluannya dijepit otot anus Cheondung, kemaluannya berkedut dan mengembang.

"Ah! Ah"

Sperma Taecyeon berhasil mengisi perut Cheondung dan mengalir keluar melalui paha Cheondung.

Taecyeon menunduk, menciumi tengkuk dan bibir Cheondung sembari membiarkan kemaluannya tertanam didalam tubuh Cheondung.

-end-

Jumat, 07 Februari 2014

What Is Love (Request)

#FanFiction ini adalah permintaan kisah dari @Chanhsung

Cast : Chansung of 2PM And Kyungsoo of EXO.

-***-

Aku menikmati hembusan angin malam sembari tetap melangkah melewati kesenyapan malam, dan masih terdengar deruan mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dijalan.

Meski waktu sudah tengah malam, deruan mesin itu tetap meramaikan jalanan yang kini sedang kulalui.

Aku sengaja berbohong padanya dan kabur darinya, aku ingin menikmati duniaku sendiri ditengah semilir angin tanpa adanya dia disisiku.

Aku ingin bebas, aku tak ingin lagi dikekang.

"Dimana kau?" aku menghentikan langkahku dan menjawab panggilan darinya. Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kau! Dimana! Jawab aku!" bentaknya, aku menghela nafasku.

"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, aku pasti pulang" kuputuskan panggilannya lalu ku lepas baterai ponsel dan memasukannya ke dalam kantung sweater.

Ku edarkan pandanganku, berniat melanjutkan langkahku namun mataku terpaku pada bangunan tinggi dihadapanku.

Gedung apartemen yang rasanya pernah ku tempati bersama seseorang yang kusayang-meski entah siapa orang itu.

Mataku memanas, dadaku sesak. Aku merasa angin yang berhembus menembus kain sweater dan kaus hingga tulang rusukku.

Aku yakin, aku pernah bahagia di salah satu ruangan dalam apartemen itu.

Angin malam kembali berhembus, namun ku nikmati hembusan itu meski air mata dan isakan pelan terdengar dariku.

Malam dingin yang indah.

-***-

Aku menikmati pemandangan dari dalam bus yang kunaiki, sembari mengusap pelan keningku sendiri.

Masih terasa kecupan lembutnya dikeningku, dan aku tidak suka akan perlakuannya-yang kini duduk disampingku.

Sebelum aku menaiki bus bersamanya, aku diinterogasinya.

"Dari mana kau, semalam?"

"Mencari makan"

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ia membentakku, aku terdiam.

Aku memandanginya kesal, ia menghela nafasnya dan berjalan ke arahku.

"Dengar, aku tak pernah ingin melihatmu terluka, aku menyayangimu" ia berlutut di depanku, menggapai kedua tanganku lalu diciumnya.

"Aku ingin menjagamu, tanpa kau terluka" aku terdiam, aku tetap memandang wajahnya.

"Rapihkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat, dan semoga kau betah disana" lanjutnya dengan nada yang sangat lembut, lalu ia berdiri dan mengecup keningku.

Sejujurnya, aku tidak suka. Jong In sudah kuanggap sebagai sahabat, hanya sahabat dan tidak lebih.

Perhatian dan seluruh yang Jong In berikan kuanggap sebagai perhatian seorang sahabat. Entah apa yang ada dipikirannya, dan aku bersumpah takkan pernah ada rasa lain untuknya.

Aku menutup hatiku, karena aku sudah membukakannya untuk satu orang. Satu orang yang ku yakin ia masih hidup dan menungguku untuk menemukan dia.

Namun, aku lupa semua tentang orang itu. Aku hanya ingat aroma tubuhnya, kasih sayang darinya dan masa-masa bahagia bersamanya.

"Hey, kau tak apa?" Jong In menggenggam tanganku yang satu lagi, lalu dikecupnya.

"Ya, aku tak apa"

"Kau sakit? Wajahmu pucat" aku memalingkan muka, menatap matanya.

"Apakah ekspresiku seperti orang sakit?" Jong In diam.

"Jangan berlebihan memperhatikanku, urus urusanmu sendiri dan bayangkan nanti aku tak akan merepotimu lagi"

-***-

"Kyungsoo-nie!" terdengar seseorang berteriak memanggil namaku saat aku melangkah keluar dari bus.

Aku membuka mataku, kulihat sahabat kecilku berlari membuka tangannya. Aku ikut berlari mendekatinya dan berpelukan.

"Baekhyun-ah! Aku merindukanmu!"

"Aku tidak" aku memukul pundaknya, lalu kami tertawa bersama.

"Kau bisa ada disini, kenapa?" tanyaku, kami berjalan berdampingan.

"Aku tak sabar melihatmu, jadi kuputuskan untuk menjemputmu"

"Kau mengetahui aku ingin pulang?" Baekhyun mengangguk.

"Dari siapa?"

"Kai" aku diam.

"Ah ya, mana Kai?" aku mengedarkan pandanganku lalu mencari kemana Jong In.

Aku lupa jika aku ditemani Jong In.

"Ah sudahlah, lebih baik kita menunggunya dirumah saja, cepatlah aku tak sabar mendengar ceritamu tentang kampus di Seoul" ujar Baekhyun.

-To Be Continue Soon-

Senin, 02 September 2013

Unit Kesehatan Sekolah (Request)

-Peringatan! Cerita ini mengandung tema yaoi (gay)-dewasa eksplisit-
-Cerita ini merupakan permintaan @RK091 yang dikirimkan melalui pesan twitter-

-***-

Cast : Lay and Tao of EXO

-***-

Aku merebahkan tubuhku diatas tubuhnya, menumpukan daguku didadanya sembari memandanginya. Lay tersenyum menatapku.

"Apa yang kau inginkan?"

"Dirimu" ia terkekeh, akupun ikut terkekeh.

"Benarkah? Bagaimana jika ku beri ini?" Lay mengambil tanganku lalu mengecupnya, aku tersenyum.

"Kurang"

"Jika ini?" ia menarik tubuhku lalu mengecup keningku, aku kembali tersenyum. Ku pejamkan mata ketika ia mengecupku keningku lembut.

Saat ku buka mataku, ia menyunggingkan senyuman terindah diwajahnya.

"Cukup?" aku menahan tawaku, aku membenarkan posisiku lalu duduk diperutnya.

"Giliranku" ujarku, ku tarik tangannya agar ia terbangun.

Aku mengalungkan tanganku dilehernya, mendekatkan hidungku dengan hidungnya lalu kami tersenyum bersama.

Tangannya melingkar dipinggangku, memelukku erat sembari mengusap pinggangku perlahan.

"Aku menyayangimu" ucapku, lalu aku mencium bibirnya.

-***-

Ciumanku dibalasnya ganas, lidahnya bermain dan menyentuh langit-langit mulutku. Bibirku dihisapnya, digigitnya perlahan lalu kembali dihisapnya.

Kami mengerang pelan, dan sedikit mendesah.

Tangannya masuk kedalam celana seragamku, meremas kedua belah pantatku dan jarinya merangsang lubang anusku.

Aku melepaskan lingkaran tanganku dilehernya, lalu turun ke dadanya dan membuka kancing bajunya.

Jari-jariku bermain didadanya, memilin dan mencubit pelan kedua putingnya. Lay melepas ciuman, mendorong tubuhku dan menindihku lalu kembali menciumku.

Tangan kiri Lay meremas selangkanganku sedangkan tangan kanannya membuka kancing celananya sendiri.

Mataku terpejam, ku nikmati perlakuannya. Tanganku membuka satu-persatu kancing seragam ku dan kancing celanaku.

-***-

Lay menindihku dan menggesekan selangkangannya di selangkanganku, ia terus menciumiku dan ciumannya pindah ke leher lalu membuat tanda merah dileherku.

Aku terus mengerang dan mendesah, kini mulutnya bermain liar didadaku.

Air liurnya membasahi putingku, dan dihisapnya kuat hingga sekeliling puting dadaku memerah sedangkan tangannya merancap kemaluannya sendiri.

Puas mengerjai dadaku, ia bangkit lalu menyodorkan kemaluannya ke mulutku. Aku paham apa yang di inginkannya, ku buka mulutku dan segera ku kulum kemaluannya.

Kemaluanku ikut dikulumnya, kami saling mengulum kemaluan masing-masing.

-***-

"Kau siap?" ujar Lay setengah berbisik sembari menatap wajahku.

Setengah batang kemaluannya sudah menembus tubuhku, perutku terisi oleh kemaluannya yang membuatku semakin terangsang.

Aku menganggukan kepala, menyuruhnya untuk bermain dengan pelan. Lay mengangguk dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo lambat.

Lay mengerang dan mendesah ketika kepala kemaluannya berhasil menyentuh titik rangsang dalam tubuhku, aku menahan suaraku.

Perih dan sedikit sakit, namun aku menikmatinya.

Lay menundukan tubuhnya, menyelipkan tangan dipunggungku lalu diangkatnya tubuhku. Lay menaik-turunkan tubuhku sembari menciumi bibirku.

Kami mengerang bersama, mendesah dan terus-menerus berganti posisi. Kami berdua bermandikan keringat, membuat gesekan di kemaluanku terasa licin diperut dan dadanya.

Nikmat, dan aku sangat terangsang.

Kini, Lay menindihku sembari menggigiti telingaku. Kurasakan kemaluannya mengembang dan berkedut dalam tubuhku, aku yakin ia akan sampai pada klimaks.

Tempo gerakan pinggulnya semakin cepat, mengguncangkan tubuhku. Aku juga merasa akan sampai klimaks.

Tanganku meremas kedua belah pantatnya, gerakan pinggulnya semakin cepat.

Gigitan ditelingaku semakin kencang, membuatku berteriak keras bersamaan dengan Lay yang mencapai klimaks.

-***-

"Maaf... Aku tak izin padamu" ucapnya pelan sembari memelukku erat.

"Tak apa" jawabku dengan senyuman.

"Kau sampai?" aku menggelengkan kepala.

Lay segera melepas pelukannya dan menundukan kepalanya, mulutnya langsung mengulum kemaluanku.

Aku menggeliatkan tubuhku, mulut Lay lihai mengerjai kemaluanku. Lubang kencingku dijilatinya dan dikiliknya dengan ujung lidah.

Aku mendesah, tangannya meremas buah pelirku terkadang jarinya menusuk-nusuk lubang anusku.

Kepalanya naik turun diselangkanganku, mulutnya mengulum tanpa henti hingga aku benar-benar sampai klimaks.

"Ah! Aku sampai!"

Lay menelan habis spermaku dan menyisakan sedikit dimulutnya. Ku cium bibirnya, dijilati olehku sperma yang tersisa dipipinya.

"Kita..." terdengar bel sekolah, tanda jam istirahat selesai.

"Harus masuk" lanjutku, Lay tertawa.

"Seharusnya, kita pergi kekantin sebelum masuk ke UKS" Lay terkekeh.

-end-

Selasa, 30 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 2-1

"Baiklah, kita kedatangan murid baru, bertemanlah dengan baik" kepala sekolah datang ke kelasku dan mengenalkan seseorang yang mengenakan seragam yang berbeda.

Ia siswa pindahan dari kota seberang. Aku mengetahuinya dari seragam yang ia kenakan, seragamnya menunjukan jika ia siswa dari sekolah yang terkenal.

Maksudku, seragam putih-merah bermotif kotak-kotak tak mungkin dikenakan di sekolah negeri lainnya. Apalagi, kebanyakan Sekolah Menengah Atas Negeri menggunakan seragam putih-abu.

Kelasku berubah seperti pasar, begitu ramai dengan ocehan siswi-siswi yang membicarakan siswa itu.

Ku akui ia siswa yang tampan. Dia tinggi, tubuhnya berisi, matanya kecil, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan menurutku ia sempurna.

"Saya Fikri, salam kenal" ucapnya dengan senyuman yang menyungging diwajahnya.

Lagi, semua siswi ramai akan ocehan tak mutu dan memuja siswa itu. Hanya aku dan Farel yang diam tak bersuara.

"Silahkan duduk, ada satu tempat kosong disamping, Adit" ujar kepala sekolah yang kemudian pamit keluar kelas.

Siswa baru itu melangkah pelan kearahku, lalu tersenyum dihadapanku. Aku merasa semua siswi dikelasku menatapku tajam.

"Boleh duduk?" ujarnya, aku memandanginya, lalu Farel menepuk pundakku dan duduk di bangku yang seharusnya ditempati siswa baru itu.

"Sorry bray, bangku ini udah gue tempatin. Elu kalo mau duduk cari tempat lain" ujar Farel dengan wajah sedikit kesal.
"Sono! Dudukin tempat lu sebelum didudukin sama yang laen!"

-***-

Aku tidak terlalu menyukai keramaian. Sejak Fikri mengisi bangku kosong dibelakangku, mejanya dan mejaku tak pernah sepi dari siswi pecicilan.

Tiap harinya aku harus mengusir satu-persatu siswi yang menduduki bangku dan mejaku, sementara Fikri menikmati popularitasnya yang naik.

Farel sebenernya merasakan hal yang sama denganku, jengah dan jijik melihat aksi centil para siswi dikelasku.

Iapun sempat bercerita jika ia tak menyukai Fikri. Apalagi, setelah kehadiran Fikri, semua siswi dikelasku menjadi liar.

Tapi, aku jamin Farel tak ingin melibatkan diri karena ia lebih suka mengerjaiku daripada berurusan dengan para siswi dikelasku.

-***-

Aku teringat saat Farel menggendongku hingga ke mobil miliknya. Menurutku, itu sikap tersembunyi yang paling jantan diantara sikapnya yang sering ditunjukan.

Ia mampu membuat ku tersipu meski saat itu aku sedang terluka parah, dan kini ingatanku mengenai kejadian itu membuatku tersenyum sendiri.

"Hey!" aku terbangun dari lamunanku saat Fikri duduk disampingku. Aku terdiam dan kembali melamun.

"Lagi mikirin apa?" aku tetap diam.

"Ga istirahat?" tanyanya, aku memalingkan wajahku padanya.

Fikri tersenyum, aku memandangnya sinis.

"Jutek bener" ucapnya diselingi tawa pelan.

"Lu mau apa dari gue?"

"Maksudnya?"

"Kalau elu pikir gue gampang diajak temenan, pikiran lu salah" ujarku.

Kulihat Fikri masih tersenyum.

"Dit, gue udah lama disini dan orang yang paling susah diajak temenan ya cuma elu" aku diam, aku alihkan pandanganku menghadap jendela.

"Gue cuma mau ngundang lu dateng kerumah, ada perayaan ultah gue" aku masih diam.
"Gue udah ajak semua orang kok, termasuk Farel"

Aku tak meladeninya, aku masih menikmati dunia lamunanku.

"Dateng ya, gue berharap banget elu dateng"

-to be continue soon-

Jumat, 19 Juli 2013

Ich Liebe Dich Side Story Part Brama

Cukup panggil aku, Brama, dari nama lengkap ku Brama Widarsana. Aku siswa senior-tingkat dua yang mengikuti ekstrakurikuler basket.

Aku menyukai olahraga basket, karena impian ku menjadi pemain basket yang bermain di tim nasional.

Selain itu, basket pula sarana penghilang stres bagiku. Tak jarang aku kabur dari pelajaran hanya untuk bermain basket.

Basket pula yang mengenalkanku pada junior-tingkat pertama yang membuatku berubah, karena basket pula aku bertaruh pada juniorku yang lain hanya untuk merebutkan dia.

Aku tak akan pernah lupa pada junior ku yang menyaksikan visulisasi ekskul dengan tatapan yang menarik perhatianku.

Aku sering berpapasan dengannya, aku berusaha tersenyum padanya walaupun ujungnya senyumanku di balas dengan wajah tanpa ekspresi oleh dia.

Hingga akhirnya aku mengetahui nama juniorku saat hendak mengambil kotak P3K di dalam ruangan UKS.

Adit, nama junior yang menarik simpati ku.

-***-

Aku menyesal bercerita pada kawan yang ku percaya mengenai Adit.

Siswi populer karena parasnya yang cantik, juga ia terkenal dengan sebutan Telinga Siluman.

Lola Rahmawati, adalah siswi yang memiliki akses penuh di ekstrakulikuler Jurnal, hobi membuat isu, dan siswi itu adalah kawan yang aku percaya.

Adit adalah korban keisengan Lola. Karena Lola juga, Farel mendatangiku dan menantang bertanding basket.

"Gue ga perduli lu kakak kelas gue atau bukan, tapi kalo udah nyangkut tentang Adit, gue ga bisa tinggal diam" aku di datangi Farel di kamar mandi saat ingin mengganti seragamku dengan seragam latihan.

"Sebentar, sebentar... Ini maksudnya apa, Rel?"

"Bram, jangan berlagak di depan gue, di mading ada artikel gue, sama Adit, gue jamin itu kerjaan lu" aku diam, aku bingung apa yang harus ku jawab.

"Yang mau gue tanya cuma satu sama lu, lu suka sama Adit?" mata ku terbuka lebar. Satu pertanyaan yang membuat aku gugup.

"Jujur sama gue, karena gue tau semua dari temen lu yang bikin artikel itu"

Aku masih terdiam, pikiran ku melayang membayangi Lola. Masalah apa lagi yang diperbuat olehnya.

"Kalaupun memang iya lu suka sama Adit, mohon maaf Adit ga akan gue lepasin sampe kapanpun"

"Sebentar, Rel... Aku ga paham sama kalimat kamu, maksud kamu apa..."

"Bodoh" Farel memotong kalimat ku, kami saling berpandangan.

"Gue tau dari temen lu juga, gue tau semua tentang lu, termasuk kenapa lu lebih suka laki-laki ketimbang perempuan"

Mendengar ucapan Farel, hatiku panas dan menjadi emosi. Farel yang ku kenal berubah menjadi Farel yang sok-mengetahui-siapa aku sebenarnya.

"Rel, maaf sebelumnya, jangan jadi orang yang sok tahu siapa saya sebenarnya"

"Oh, terus lu sebenernya siapa? Pengagum rahasia Adit? Gini deh, gue tau lu suka Adit, dan gue ga akan lepasin dia... Jadi, gimana kalo kita one on one?"

"Maaf, Rel... Aku ga mau hobi ku di jadiin media pertarungan cuma karena hal sepele"

"Adit bukan hal yang sepele, Bram. Adit bagi gue adalah orang yang seharusnya dan hanya milik gue"

Ulu hatiku terasa panas, ingin sekali aku memukul wajah orang yang-sok-tahu dihadapanku ini.

"Gue tunggu besok di lapangan sekolah, kalo lu ga dateng, artinya lu siap buat ngejauhin Adit"

Farel meninggalkan ku di dalam kamar mandi, masih terpaku karena kalimat Farel yang membuatku terdiam.

-***-

Haruskah aku mengingat masa laluku lagi? Haruskah aku teringat pada kakak kelas yang membuatku seperti ini?

Haruskah ku ingat tentang ciuman yang mendarat di bibirku, saat pertama mengikuti  ekstrakulikuler basket?

Sial, kenapa hidupku menjadi seperti ini.

Memang salahku bercerita tentang Adit pada Lola, aku tak berpikir jika Lola akan membuat cerita ku sebagai isu.

Sungguh, aku merasa bersalah.

-***-

"Hanya 1 minggu!" Farel mengancamku saat kami berlatih.

Tak kusangka, aku memiliki waktu untuk lebih dekat dengan Adit. Walau hanya seminggu, setidaknya itu membuatku mengenal lebih jauh tentang juniorku.

Hari ini, adalah hari pertama dari satu minggu yang harus ku habiskan bersama Adit. Namun, sampai sekarang aku belum melihat kehadiran Adit.

Terkadang, aku berpikir jika kalimat Adit hanya ucapan biasa. Ucapan penyemangat untuk Farel karena ingin bertanding denganku.

Aku cari ia ke seluruh tempat di sekolah, namun tetap aku belum bertemu dengannya. Di taman, kantin, tempat parkir, koperasi siswa, aula sekolah, dan belum menemukannya. Hingga ku putuskan mencari di kelasnya.

Firasat terakhir ku benar, Adit masih berada di kelasnya walau jam pelajaran telah usai.

"Dik, belum pulang?" aku mencoba menyapa Adit yang duduk di bangku mejanya. Ia memandang ke arah jendela dengan posisi kepala yang ditidurkan di meja.

Mungkin ia tidak mendengar ku, karena fokus pada buku atau pemandangan di luar kelas. Aku mendekatinya dan kembali mencoba menyapa.

Belum aku menyapa, suara dengkuran terdengar dari meja Adit. Ingin aku tertawa karena terkejut mendengar suara pelan namun pasti-dari meja Adit.

"Dik, dik bangun... Udah sore" aku menepuk pundak Adit pelan, ku goyangkan bahunya agar ia terbangun.

"Ya nek, aku sekolah... Sebentar, aku lagi mandi..." jawabnya lalu kembali mendengkur.

Lagi, aku menemukan sisi unik dari Adit. Sungguh konyol, dan membuatku ingin tertawa kencang.

"Dik, dik bangun... Kamu ga pulang?" ujarku yang terus mencoba membangunkannya. Walau ia tetap terlelap dan tak goyah dari posisinya.

Karena tak ada gerakan darinya, aku merapihkan buku-bukunya lalu mengangkat lengannya keatas. Memakaikan tas ransel pada Farel, merapihkan seragamnya lalu ku balikan tubuhku. Ku lingkarkan kaki dan tangannya pada pinggang juga leher ku.

Aku menggendongnya di punggungku, dan membawanya ke arah parkiran. Aku antarkan ia ke rumah Farel, karena aku tak mengetahui dimana letak rumah Adit.

Farel terkejut melihatku membawa Adit kerumahnya dalam keadaan tak sadar. Namun, setelah ku jelaskan dengan detail, ia paham jika Adit sedang berusaha keras menghapal materi ujian yang akan dilaksanakan besok.

-***-

"Kak, maafin aku waktu itu" Adit meminta maaf padaku, sambil menyodori ku mie rebus yang baru selesai di masak.

"Iya dik, ga apa-apa" aku tersenyum memandang wajahnya.

"Oh iya... Besok-besok kalo kaka liat aku ketiduran jangan bawa aku kerumah Farel lagi... Nanti dia kumat kaya sekarang" ujarnya menunjuk Farel yang mengintip dari dapur.

Terdengar suara pisau yang sengaja di ketukan kencang.

"Dimakan ka, mienya" aku kembali tersenyum memandangnya.

Di hari ketiga ini, ia terlihat nyaman. Tidak seperti hari pertama dan kedua kemarin.

Untuk seseorang yang introvert, Adit termasuk orang yang mudah berkomunikasi dan pandai mendekatkan diri. Karena setahuku, introvert termasuk pribadi yang keras dan sulit bergaul.

Ku perhatikan wajahnya, ia semakin menarik dari sebelumnya. Entah karena khayalan ku atau memang ia sangat menarik dan aku baru menyadarinya. Jelas terlihat, jika Adit memang junior yang unik.

-***-

Aku memutuskan untuk mengajaknya menonton konser band di taman kota, namun ia menolak dan lebih memilih menghabiskan waktu memandang pekarangan rumah.

Aku menuruti keinginan Adit, karena sejujurnya akupun tidak terlalu suka keramaian. Mengajaknya ke taman kota, hanya karena kawanku di tim basket memberi ku tiket konser-yang sangat disayangkan jika tak di tonton.

Sore ini, aku begitu terkesima melihat Adit yang mengenakan pakaian santai.

Kaus polos hitam ukuran sedang yang dipadu dengan celana pendek, menghilangkan kesan obesitas yang berlebihan.

Tanpa kacamata, Adit terlihat lebih manis. Aku dapat melihat matanya tersenyum ketika ia tertawa atau menggantungkan senyumannya.

Aku belum menyadarinya jika ia begitu menarik hingga hari ini.

-***-

Besok hari terakhir, yang harus ku habiskan dengan Adit. Semakin hari, semakin aku sulit jauh darinya. Aku yakin, aku menyukainya.

Aku sangat bersyukur saat Farel mendorongku. Karena ia memberiku kesempatan dekat dengan Adit. Kuputuskan untuk memberitahu perasaanku padanya, sekarang.

"Kakak suka ka..."

"Ah! Hujan!" aku terdiam, ku tatap matanya.

"Eh iya kakak ngomong apa?"

"Kamu ga akan pernah tau kalo aku suka kamu, karena aku bukan orang yang kamu suka"

"Itu..."

"Itu, temen kakak bilang begitu tadi pagi" aku diam, tetap memandangnya dan menarik nafas panjang.

"Orang itu, kayanya suka banget sama kakak" ia menunjukan mata tersenyum-nya padaku.

"Harusnya orang itu terus berjuang dapetin kak..." belum Adit menyelesaikan kalimatnya, Farel datang dan menarik tangan Adit.

Aku menahan Farel, mencoba menghentikan tarikan tangan Farel. Namun, usaha ku gagal. Adit sudah pergi dengan Farel yang menariknya.

Ku ikuti mereka ke arah parkiran, aku terkejut ketika Adit jatuh. Ingin aku memukul wajah Farel, karena ia membuat terluka orang yang aku suka.

Tapi, itu tidak mungkin. Aku masih tetap memandangi mereka hingga mereka berhenti di sebuah mobil.

Ya, ia tak akan pernah sadar aku menyukainya. Karena aku bukan orang yang ia suka.

Aku terlalu bodoh, karena menyukai orang yang sudah memiliki pasangan. Bodoh.

-Brama, Ich Liebe Dich, 2013-
-F.A Suprapto, @fhakubeton-

Selasa, 16 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-End

Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang semakin konyol. Ia harus menjalankan seluruh misi yang kuberikan padanya dalam satu minggu, karena ia kalah dalam pertandingan satu lawan satu.

-***-

Aku mengamati Brama dan Farel yang bertanding dengan sangat serius, tanpa ingin kejebolan nilai.
Aku menahan tawa melihat pertandingan ini. Brama yang tidak mengetahui apa-apa menjadi korban kejahilanku.

Sebenarnya aku yakin Farel akan memenangkan pertandingan ini. Karena, ia akan melakukan apa saja untukku.

Bukan aku sombong, tetapi Farel selalu membuatku merasa spesial. Saat pertama kali aku masuk sekolah, ia mendekatiku dan berbicara padaku. Saat aku di-bully oleh kawan-kawan satu kelasku, hanya ia yang membelaku.

Farel berteriak didepan kelas dan mengacungkan bogeman di atas kepalanya sembari memandangi seluruh anak laki-laki didalam kelas.

"Yang berani ngejek Adit selain gue, siap siap kena tampolan dari tangan gue"

Mulai dari situ tak ada murid yang berani mengejek ku, walaupun tetap ada beberapa anak yang mengejek karena berteman dengan Farel.

"Kak Brama! Jangan sampe kalah!" ujarku menyemangati Brama yang telah menguasai permainan.
Setengah jam permainan berlangsung, diantara mereka belum ada yang berhasil memasukan nilai. Mereka bermain tanpa memperdulikan cuaca yang sudah mulai mendung.

"Weh! Cepet masukin point! Mau ujan!" aku berteriak, mendengar teriakanku Farel sengaja mendorong Brama dan mengambil alih permainan.

Farel berhasil memasukan point dan melakukan seremoni kemenangan, membiarkan Brama yang terjatuh.
Aku menahan tawaku, lalu mendekati mereka.

"Oke, baiklah... Farel lu siap siap kena hukuman gue selama satu minggu" aku membantu membangunkan Brama, dan membawanya ke bangku yang tadi kami dudukki.

"Loh ko gue? Kan gue menang"

"Lu curang pe-ak!" Farel terdiam. "Udah ah, kalian harus pulang, mau ujan ini"

Brama merapihkan barang-barangnya lalu beranjak meninggalkan aku.

"Aku pulang dulu ya" aku tersenyum menjawab kalimat pamit Brama.

Farel mendekati dengan memasang wajah kesal menatapku.

"Apa? Mau gue tabok?"

"Galak amat lu ndut" protesnya.

"Gue udah yakin banget lu bakal menang, tapi bukan dengan cara curang... Kecewa gue" Farel terdiam, aku merapihkan barang bawaanku.

"Gue balik, mau ujan" tanganku ditarik Farel ketika aku hendak pergi meninggalkannya.

"Apa?"

"Balik bareng ya"

-***-

Aku masih tak sanggup menahan tawaku, Farel yang-katanya-memiliki-taraf-kegantengan-diatas-seribu-persen menggunakan pakaian cheerleader lengkap dengan pom-pom ditangannya.
Wajahnya ku rias secantik mungkin, agar menghilangkan kesan manly dari wajahnya. Aku menambahkan aksesoris tambahan untuk bagian kepala, dan tubuh.

Sungguh, aku tak dapat berhenti tertawa karena Farel. Brama yang berada disampingku pun tertawa lepas.
Namun, tawaku berhenti saat tangan Brama melingkar dipinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya.
Wajahku memanas, aku tersipu.

Gerakan-gerakan lucu yang dibuat Farel tak dapat membuatku tertawa. Aku masih tersipu karena Brama mengeratkan pelukannya.

-***-

Suasana kantin saat ini begitu berbeda dari biasanya, terlalu tenang tidak ramai. Aku merenung, duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah parkiran sekolah.

Suasana kantin yang tenang, dengan cuaca yang sejuk, membuatku semakin terbuai menikmati hembusan angin.

"Dik..."

Brama tersenyum didepanku, ia membawa sebuah kantung plastik putih yang berisikan kotak bekal makan siang.

"Makan bareng ya" tawarnya padaku, aku menggeleng.

"Ga kak, itu buat kakak aja"

"Loh, ini aku bikin bekalnya banyak... Jadi kita makan berdua ya" aku terdiam, aku tak mungkin menolaknya untuk kedua kalinya.

Ia duduk dihadapanku lalu membuka isi kotak bekal tersebut.

"Kakak buat mie goreng, tapi kebanyakan... Kita bagi dua ya"

Dengan sigap ia mengambil sendok dan garpu disamping kotak bekal, lalu menyendoknya dan menyodorkan ke arahku.

"Buka mulutnya" tawarnya sembari menggantungkan senyuman di wajahnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, memastikan tak ada seseorang dikantin.

"Ayo buka, mumpung masih hangat" ku buka mulutku dengan ragu-ragu.

Sebenarnya aku malu, namun karena aku tak enak untuk menolak perlakuan baiknya, aku menuruti keinginannya.

"Enak kan?" senyuman Brama kembali mengembang.

Aneh, baru seminggu ini aku mengenalnya, tapi perlakuan Brama padaku seperti kawan yang sudah berteman lama.

Tak jarang aku di buat lebih nyaman olehnya, bahkan ia suka memanjakan ku dan menraktir ku makan.

"Adit!" aku tersedak ketika Farel berlari sambil berteriak memanggil namaku.

"Ayo pulang, gue udah selesai beresin mobil" aku memandang wajah Farel heran, aku tidak berjanji untuk pulang bersamanya.

"Ayo! Gerimis ini"

"Sebentar dong, Rel... Adit lagi makan, lagipula baru mendung belum gerimis" Brama menatapku lalu memandang wajah Farel.

Entah kenapa dengan dua orang ini, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.

"Buru pulang" tanganku ditariknya, membuat lutut ku membentur kaki meja dan menggoyangkan kotak bekal Brama.

"Rel..." Brama menarik lengan Farel, menatap tajam wajah Farel. Aku menahan rasa sakit dilutut dan kaki sambil mengamati wajah keduanya.

Takut terjadi apa apa diantara keduanya, aku memutuskan untuk mengikuti Farel dan meninggalkan Brama tanpa pamit.

Pergelangan tanganku di genggam Farel sangat erat, aku yakin ia sangat marah.

"Rel lepasin, sakit! Lu narik-narik pelan kek" aku meronta, Farel tak menghiraukan kalimatku dan terus menarikku.

"Farel!" aku berhasil melepaskan genggamannya, lalu aku jatuh terpeleset di permukaan tanah parkiran yang kasar. Celana seragamku robek dan betis ku terluka parah.

Aku menatap mata Farel dengan sinis.

"Pe-ak! Lu pulang sendiri sana!" ujarku ketika bangun dan mencari tempat duduk. Betisku linu, dapat kurasakan darah mengalir di kaki ku.

Farel terdiam, ia memandangku dengan wajah yang bersalah.

"Ndut, lu ga apa-apa?"

"Cih, lu pikir? Ini namanya ga apa-apa? Pe-ak! Lagian lu kenapa kali, kaya orang dikejer utang, pulang buru-buru"

"Sori, ndut" aku mengacuhkannya.

"Udah sono pulang, gue pulang sendiri!"

"Ga, lu pulang sama gue" ia membalikan tubuhnya, berjongkok di depanku.

"Mau buang aer lu?" tanyaku dengan nada yang sinis. Aku kesal dengannya.

"Naik ke sini, gue gendong lu" aku terdiam. "Buru mau ujan, gue ga mau lu sakit"

Aku tersipu mendengar kalimatnya, aku mengalungkan tanganku dilehernya. Tangannya menggenggam pahaku. Farel berdiri dan mulai melangkah dengan pelan ke arah mobil yang berada di depan.

"Maafin gue, ndut" ucapnya. Aku tersenyum pelan, ku sandarkan daguku di pundak Farel.

"Gue ga mau lu deket sama orang lain... Karena lu punya gue... Cuma punya gue..." aku tersipu. Dengan jantannya ia membawaku dipunggungnya, mengucapkan maaf hingga di depan pintu mobil.

"Sekali lagi... Adit, Ich Liebe Dich"

-to be continue soon-

Senin, 15 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-2

Aku kembali ke hari normalku, hari yang penuh dengan kejahilan dan ketengilan Farel. Farel sudah sembuh dari sakitnya,dan kini ia telah kembali ke kebiasaan lamanya-menjahiliku.

Semenjak kejadian lalu, aku memutuskan untuk menjauhinya. Entah kenapa, tapi aku takut berdekatan dengannya.

-***-

3 Hari Yang Lalu...

"Adit... Ich Liebe Dich" aku merasakan hembusan nafas ditelingaku, punggungku hangat, dan pinggang hingga perut ku rasakan ada yang memeluk.

Aku terkejut melihat pantulan tubuh Farel dicermin. Ku lihat ia menaruh kepalanya dipundakku dan terus berbisik pelan.

"Ich Liebe Dich... Adit"

Dapat kudengar nafasnya yang bersuara, suhu tubuhnya dapat kurasakan menembus kain bajuku. Sungguh hangat, sangat hangat.

"Re... Rel... Itu ar... Artinya apa?" aku tergugup, bingung apa yang harus ku lakukan.

"Adit, I Love You"

Haruskah aku ikut memeluk tangannya, atau mendorong tubuhnya. Aku sangat kebingungan.

-***-

Aku berusaha menjauh tanpa Farel sadari, walaupun sebenarnya aku tak ingin menjauhinya. Jujur, perasaanku pada Farel adalah sama seperti ia kepadaku.

Farel selalu ada disaat aku butuh ataupun tidak, dia selalu mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya, dan aku nyaman.

"Dit, ga istirahat?" salah satu kawanku membangunkan aku yang melamun.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Nanti, gue ke kantin sendiri aja... Lagi ga enak body nih"

"Pasti kurang asupan vitamin F" kawanku duduk dihadapanku lalu menjajakan jajanan yang baru dibelinya dikantin.

"Vitamin F?" aku mengerinyatkan dahiku.

"Ya, vitamin Farel" aku membelalakan mataku, kami menahan tawa.

"Apa sih, please deh... Julukan dari mana lagi coba"

"Dari anak jurnal, lu ga tau? Lu jadi topik utama di mading loh, Dit" ia mengunyah makanannya dihadapanku.

"Topik utama?" ia mengangguk, aku mengedarkan pandanganku, membenarkan posisi kacamata lalu menatap wajah kawanku seksama.

"Header beritanya Adit yang ingin mencium Farel di UKS"  kacamataku hampir jatuh mendengar kalimat kawanku. Aku tertawa.

"Beneran? Kok bisa? Dapet darimana coba itu berita"

"Beritanya dari kakak kelas, terus yang gak kalah penting si Farel ngerespon berita itu"

"Apa? Apa?" aku penasaran, sekali lagi ku edarkan pandanganku memastikan jika tak ada siapapun didalam kelas.

"Farel bilang jangan salahin lu kalo lu mau cium dia, salahin muka dia yang kelewat ganteng" jawabnya sembari meneguk air minum miliknya. Aku tertawa keras, sangat keras.

Ku acungkan empat jempolku untuk Farel. Menggunakan kepercayaan diri dengan frekuensi dahsyat hingga orang lain lebih percaya omongan Farel daripada fakta.

Kawanku yang minum hingga memuncratkan air dari dalam mulutnya karena mendengar tawaku, dan ikut tertawa denganku.

Terkadang, Farel memang benar. Wajah bayinya membuat semua orang ingin mencium. Kecuali aku. Kadang pula, kepercayaan diri Farel membuatku tertawa keras seperti sekarang.

-***-

Bel panjang tanda jam pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa aku tak pulang dan memilih duduk berdiam diri di taman yang menghadap ke lapangan basket.

Membuka buku catatan dan mempelajari ulang apa yang baru saja ku pelajari. Begini nasibnya jika aku menjauhi sang-artis-kelas-disekolahku.

Dulu, aku selalu dibantu Farel mempelajari semua pelajaran yang sulit ku terima. Farel tak pernah komentar tentang kebodohanku, ia mengajariku dengan telaten. Walau terkadang ia lebih suka membentak dan bermain emosi.

Ini konsekuensi yang harus aku jalani, karena keputusanku menjauhi Farel.

"Sendirian, dik?" aku menoleh ketika tangan seseorang menepuk pundak ku.

Aku tersenyum memandang wajah oriental dengan hidung dan senyuman yang menawan, Kak Brama.

"I... Iya kak, kakak latihan?" jawabku tersenyum. Ia duduk disampingku lalu menaruh tas ransel di dekat kakinya.

"Ga, Farel nantang aku maen basket satu lawan satu" aku mengangguk mengiyakan, jika sudah menyangkut Farel aku tak perlu bertanya kenapa atau ada apa lagi.

Sudah jelas pasti Farel yang memulainya, dan aku tak ingin ikut campur lebih jauh dengan semua masalah yang Farel buat.

Aku amati tubuh kakak kelasku. Aku baru menyadari jika kakak kelasku ini memiliki tubuh yang lebih berotot dan berisi dari Farel.

Aku melanjutkan membaca buku catatan pelajaranku, sampai akhirnya bola basket melayang ke arah tanganku, menggoyangkan buku catatan dan mengenai wajahku.

Terdengar tawaan yang kencang dari arah lapangan tertawa. Tak perlu lagi aku menebak karena semua ini pasti ulah si-bodoh-artis-kelas-yang-memiliki-kepercayaan-diri-luar-biasa.

Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan ke arah Farel sambil membawa bola basket yang tadi mengenaiku. Setelah dekat dengan tubuhnya, ku lemparkan bola itu ke arah wajahnya. Namun, berhasil ditangkapnya.

"Dasar bodoh! Manusia bau ketek! Kegantengan! Tengil!" umpatku, "Muka gue sakit tau!"

Ia tertawa, menunjukan gigi yang berwarna putih didepanku.

"Jangan ngakak! Sialan lu!" ia menjulurkan lidahnya sebelum berlari meninggalkanku.

"Sialan lu! Sini lu!" ku kejar ia berkeliling lapangan hingga ia meminta maaf padaku dan duduk disamping tas ransel milikku.

Aku pun merasa lelah dan duduk diantara kak Brama juga Farel.

"Liat nanti, Rel! Besok lu jadi objek penderitaan gue" ucapku yang mengeluarkan botol minum dari dalam tas.

Ku lihat Brama hanya tersenyum memandangku, mungkin menurutnya pertengkaranku dengan Farel adalah acara komedi yang disiarkan secara langsung.

"Ah, gini... Gue denger dari kak Brama, kalo lu nantang dia satu lawan satu, gimana kalo tantangan itu gue kasih peraturan?" ujarku.

"Eh, maksud lu apa nih ndut?" Farel mengerenyitkan dahinya, lalu merampas botol minumku dan menenggaknya tak tersisa.

"Cih, liat si bodoh... Minuman orangpun asal ambil terus diabisin pula" ku dengar Brama tertawa mendengar celotehanku.

"Gini ya, diantara kalian, siapapun yang menang, boleh deket dan ngapain aja sama gue selama seminggu, dan yang kalah siap siap nanti"

"Siap siap gimana?" Farel memandangku.

"Siap siap jadi apa aja yang gue suruh!" aku menahan tawa, aku sudah membayangkan kedua laki-laki ini menjadi objek penyiksaanku.

"Deal! Yang menang boleh ngapain aja kan sama lu?" Farel dengan semangat berdiri dari tempatnya lalu memandang wajah Brama.

"Menurut lu gimana, Bram?" Brama terdiam.

"Kalo kakak ga suka, ga apa apa, tinggal bilang aja" ucapku, Brama hanya tersenyum.

Terkadang aku takut jika kakak kelasku ini mengidap autis stadium tinggi, karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaanku.

"Boleh, deal" lagi, Brama tersenyum ke arahku. Aku semakin yakin jika Brama bukan mengidap autis, tapi penyakit kejiwaan yang sulit dijelaskan logika.

Farel meninggalkanku dan Brama. Sebelum Brama bangkit, ku tarik tangannya dan memandang wajahnya dalam dalam.

"Kak, aku mohon... Menang ya, aku mau banget bikin si bodoh jera"

"Ya, tenang aja" dijawabnya dengan nada yang lembut.

"Oke, aku wasitnya! Inget ya, hadiahnya satu minggu kalian ngehabisin waktu bareng gue dan apa-apain gue!"

"Sip! Jangan nyesel kalo gue yang menang, Dit" jawab Farel.

"Gue jamin lu kalah, lu siap siap aja" jawabku. "Siap? Satu, dua... Tiga!"

-to be continue soon-

Minggu, 14 Juli 2013

Ich Liebe Dich Part. 1-1

Note : This story have a gay theme inside.

***

Part. 1-1

Aku terbangun karena mendengar alarm jam yang berbunyi dari handphone ku. Aku menggerutu pelan dan memandang jam pada layar handphone.

"Masih pagi..." ucapku sambil menguap dan mengusap ujung mata.

Entah kenapa, hari ini aku sangat malas bangkit dari kasurku untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Untuk ukuran seorang pelajar juniorㅡyang masuk ditahun pertama sepertiku, bangun terlalu pagi adalah siksaan dan bangun terlalu siangpun adalah hukuman.

Belum lagi, aku harus bertemu dengan pelajaran yang tak kusukai. Ditambah dengan kawanku yang menyebalkan.

-***-

Orang memanggilku, Adit. Hanya Adit, tak memiliki nama panjang seperti anak-anak yang lain. Tubuhku besar, dengan tinggi 167 centimeter, gaya rambut berponi ke arah kanan, berkaca-mata dan aku seseorang yang introvert.

"Awas!"

Sedangkan yang baru saja berteriak melewatiku adalah, Farel. Turunan konglomerat, memiliki wajah bayi, atlit olahraga andalan sekolah, berbicara dengan dua bahasa, tubuh berisi, otot lengan yang berurat, perut yang rata, tubuh yang harum dengan parfum mewah, membawa mobil ke sekolah, tingkah kekanak-kanakan, usil dan cerdas.

Orang tersombong yang pertama kukenal selama 16 tahun ini. Aku bersekolah disebuah sekolah negeri favorit yang tiap tahunnya memiliki nilai teratas dibanding sekolah lainnya. Aku duduk dikelas X-3 yang terkenal dengan sebutan kelas 'tersulit' untuk diajar oleh para guru.

Jujur saja, aku bukanlah orang yang cerdas. Akupun tak pernah menyalahkan nilaiku yang tak memuaskan, karena aku sadar aku tak sepintar kawan-kawanku yang lain.

Biasanya, aku memiliki kesibukan diluar kelas yang menyangkut tentang pelajaran. Para guru menyuruhku menjadi perwakilan sekolah yang menghadiri seminar. Bukan hanya aku tentunya, Farelㅡmusuhkuㅡorang yang tak kusukai selalu menemaniku.

Namun, kali ini aku tak sesibuk biasanya tetapi Farel tetap membuntuti. Awalnya, aku tak begitu risih dengan Farel. Namun, saat ia mulai membuntutiku kemanapun aku pergi, rasa risih itu muncul.

Tidak hanya saat seminar saja, ketika aku masuk kamar mandi, membeli makanan dikantin, menemui guru, bahkan sampai ke depan rumahpun, aku di ikuti olehnya.

Jengah, namun sekarang ia tak lagi melakukannya. Mungkin lelah, atau mungkin ia sudah memiliki target lain.

"Engga, gue lagi males ngikutin lu sekarang sekarang" jawab Farel ketika ku tanyakan alasan ia berhenti mengikutiku.

Aneh memang, tapi aku rindu saat ia membuntutiku dan aku memarahinya.

"Lu sakit?"

Farel menggeleng pelan, lalu ia berdiri dari kursi dan memandangku tajam.

"Ga ada dikamus gue kata sakit, jadi gue ga akan sakit" baru ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya goyang lalu jatuh menimpa ku.

"Rel, bangun, Rel!" ujarku dengan nada sedikit panik, walau tubuhku lebih besar darinya. Tubuh Farel tetap terasa berat.

Aku berteriak meminta tolong pada kawanku yang lain dan mengangkat tubuh Farel.

"Bawa ke ruang UKS, tidurin aja badan dia, gue yang ijin sama guru nanti" ucap salah satu kawanku yang ikut mengangkat tubuh Farel tadi.

Aku dan kawan-kawan yang lain memutuskan untuk membawanya ke ruang Unit Kesehatan Sekolah, dan membaringkan tubuh Farel. Aku menyuruh semua teman yang tadi mengangkatnya kembali ke kelas, dan membiarkan aku sendiri yang menjaga musuh besar ku.

Aku menyalakan kipas yang menggantung di langit-langit agar membuat tubuhnya sedikit dingin.

Aku terdiam sembari mengamati wajahnya yang seperti bayi. Pipinya yang chubby, bibirnya yang kecil dan tipis, matanya yang terpejam.

Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, berniat memandang wajahnya lebih jelas, namun pintu ruangan UKS terbuka.

Mataku terbuka lebar, ketika melihat seseorang yang berdiri dengan menahan tawanya.

"Kamu... Kamu lagi apa dek?" ucapnya sembari menahan tawa, wajahku memanas.

Aku malu, sangat malu. Orang itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah lemari yang dekat dengan ranjang.

"Lanjutin aja, anggap aja aku ga ada dek"

"Ah engga kok, aku ga ngapa-ngapain sumpah" aku membenarkan posisiku.

Suasana menjadi hening, terkadang aku mendengar suara tawa yang tertahan. Orang itu mendekatiku dan memandang wajahku.

"Farel kenapa?" tanyanya, aku membalas pandangannya dan tersenyum.

Aku merasa pernah melihat wajah orang yang ada di hadapanku. Tapi, dimana aku melihatnya.

"Sakit..."

"Ah... Udah kamu ke kelas aja sana, biar aku yang jaga"

"Ga apa-apa ko"

"Ah ya, aku Brama" orang itu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan senyuman di wajahku.

Kini aku ingat, ia kakak kelasku dari kelas Alam dan kakak senior Farel di ekstrakurikuler basket.

"Kalau dia ga sadar, mending pulang aja daripada disini"

"Tapi... Aku ga tau rumah dia dimana"

"Aku tau, aku buatin surat ijin ya, kamu rapihin buku-buku dia"

Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. Akhirnya, aku dan kakak kelasku mengantarnya pulang. Terpaksa tidak mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar hari ini, walaupun sebenarnya aku bahagia, karena tak perlu kabur untuk menghindari pelajaran.

-***-

"Sore bi, Farelnya ada?" aku berdiri di samping pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Farel, ia sedang membuang sampah.

"Ah iya, masuk aja dek, aden ada ko, langsung aja ke kamernya" jawabnya dengan dialek daerah yang kental.

Aku melangkah masuk dan berjalan ke arah kamarnya. Tercium aroma keringat yang sangat ku hafal saat memasuki kamarnya.

Aroma yang membuatku rindu akan Farel.

Aku tersenyum lalu duduk di tepi ranjang, ku taruh barang bawaanku di bawah ranjang dan memandang wajah Farel.

Masih terlihat jelas bekas bubur yang tadi disantap di ujung bibir Farel, ku usap dengan jariku dan membersihkan ujung bibirnya dengan tisu basah.

Sungguh sangat lucu jika melihat Farel tidur. Wajah bayi yang ia miliki terlihat begitu tenang.

"Rel... Cepet sembuh, gue kangen sama lu" ucapku pelan.

Puas memandang wajahnya, aku berjalan ke arah lemari yang ada cerminnya. Merapihkan pakaian dan menemukan sebuah kotak kaleng kecil di bawah kolong lemari.

Ku perhatikan kotak itu dan mengambil buku yang ada didalamnya. Buku tulis yang bergambarkan Astro Boy dengan catatan-catatan panjang didalamnya. Aku baca catatan itu satu persatu.

Untuk ayah, untuk ibu, dan buku itu habis dengan catatan untuk mereka. Aku mengambil buku satunya yang ada didalam kotak tersebut.

Kali ini, berbeda dengan buku yang pertama. Kali ini catatan tentang kawan-kawannya.

Untuk Andi, Budi, Adit. Aku terdiam. Aku memutar otakku keras, kenapa namaku tertulis di bukunya? Ku baca halaman demi halaman, dan tak ada yang aneh dari catatan yang dibuatnya.

Catatan yang berisi tingkah kekanak-kanakannya padaku. Ketika aku mulai bosan membaca halaman halaman itu, mataku terpaku pada satu halaman yang terisi penuh dengan kalimat Ich Liebe Dich.

"Adit... Ich Liebe Dich"

[klik pada tautan judul untuk menujur bagian selanjutnya : Ich Liebe Dich part. 1-2]

Rabu, 30 Januari 2013

1 Pesan Untukmu...

This story is from 'someone who won't be called his name' but he is Jay Park-Jo Kwon Shipper :D
And this story is adapted from short story on local newspaper.

Cast : Jokwon of 2AM
Genre : Romance, NO YADONG.

Sayang... ingatkah kau padaku? Ingatkah kau semua tentangku? Ingatkah kau tentang kesukaan dan keburukanku? Jika kau menjawab iya namun kau mencoba untuk melupakannya, menurutku... aku tak akan melakukan itu, karena aku akan terus mengingatmu

Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk pada layar komputer ke arah kolom 'send', beberapa menit kemudian layar komputer menampilkan kotak dialog dengan tulisan 'Message Sent'.

Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, antara lega dan khawatir aku masih memandang layar komputer dengan seksama. Aku tak menghiraukan notifikasi pada pojok kanan bawah layar yang menunjukan jika aku memiliki satu pesan masuk.

Aku memutuskan untuk mengirim kembali pesan elektronik yang ku tujukan untuk seseorang yang spesial bagiku.

Ingatkah engkau ketika kau mengatakan kata sayang padaku? Ingatkah kau ketika aku menjawab pertanyaanmu dengan kata ya? Aku masih ingat itu semua...

-***-

"Kwon... boleh kita berbicara serius?"

"Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku hyung?"

"Bagaimana... jika aku sayang padamu?"

-***-

Saat itu aku sangat tersipu malu. Kau dengan lantang mengatakannya... waktu itu aku bingung ingin menjawab apa... namun hatiku mengajak untuk berkata 'ya' dan mulutuku bergerak mengikuti kata hatiku

-***-

"Hyung, tentu saja kau boleh sayang padaku"

"Jika... aku ingin dirimu menjadi milikku?"

Aku membelalakan mataku mendengar kalimatnya, antara percaya dan tidak percaya. Aku terdiam, aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya.

"Hyung... ini... aku..."

"Ya... aku paham, aku hanya ingin mengetahuinya... tak lebih dari itu"

"Entahlah... hyung..."

"Mungkinkah ini terlalu cepat?"

Aku memandang wajahnya, mata tajamnya menatapku. Aku terpaku, mulutku terkunci. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Hyung... dengarkan aku... menurutku 8 tahun itu bukanlah waktu..."

"8 tahun itu waktu yang lama kwon... waktu yang cukup untuk masa perkenalan..."

Tanganku digenggamnya, aku benci ketika ia menatapku sambil menggenggam tanganku. Aku benci ketika aku melihat ketulusan dari matanya yang menatapku, aku tak sanggup.

"Bukan... maksudku, kedekatan kita selama 8 tahun ini bukanlah waktu yang lama... maksudku... 8 tahun memanglah waktu yang lama, namun menurutku untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan waktu yang lebih... lagipula, apa yang membuatku terlihat begitu luar biasa dimatamu sampai kau melakukan ini?"

Walau terbata-bata, aku sedikit lega aku dapat mengucapkannya. Akupun menyayanginya, bahkan mencintainya. Namun, aku tak ingin merusak imagenya. Aku tak ingin ia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya, aku menikmatinya seperti ini. Tak ada hubungan spesial, hanya sebagai kerabat dekat walau sebenarnya aku ingin memiliki hubungan spesial dengannya.

"Tentu... kau sangat luar biasa bagiku... kau membuatku... begitu bahagia, kau selalu ada untukku... menurutku... kau... bagian.. dari hidupku..."

Aku melepas genggamannya, kutarik tanganku dan menaruhnya di atas pahaku. Aku bingung, aku takut.

"Just yes or no..."

Aku terpojok, aku benci situasi ini.

"Entahlah... Hyung... bagaimana jika menjawab tidak?"

Ia terdiam. Ia mengalihkan pandangannya, disandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan menundukan wajahnya. Ia selalu melakukan itu ketika berpikir keras. Aku suka ketika melihatnya seperti ini, ia menunjukan sisi lain dari seseorang yang ku kenal.

"Mungkin... aku akan lebih fokus pada grupku"

"Jika aku berkata ya?"

Ia mengangkat wajahnya dan kembali memandangku, mata kecilnya terlihat begitu indah saat menatapku seperti sekarang. Sayangnya, aku membenci hal ini, aku membenci melihat ketulusannya yang terpancar dari matanya.

"Aku tetap akan fokus pada grupku dan... lebih fokus padamu... Kwon..."

Aku merasakan wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat wajahku yang berubah warna. Aku yakin warna merah muda karena tersipu di wajahku terlihat dengan jelas.

"Hyung... aku... ya... aku ingin menjadi milikmu..."

-***-

Sejak saat itu, kita selalu bersama melewati hari-hari tanpa beban. Jika aku boleh berkata jujur, aku benci padamu sayang. Kau terlalu sempurna bagiku, banyak orang yang menginginkan dirimu. Namun, aku berusaha untuk tidak mengatakannya padamu. Belum lagi, dengan ketulusan yang selalu terpancar di matamu. Aku benci, entah bagaimana caranya kau dapat mengeluarkan pandangan yang tulus dan dewasa. Alasanku memang tak masuk akal, namun memang itu alasanku. Aku benci itu, namun satu sisi lain aku menyukainya.

Sayang, ingatkah engkau saat mengucapkan selamat tidur padaku lewat pesan teks? Ingatkah engkau saat aku megucapkan selamat padamu saat kau mendapat 'triple crown' waktu itu? Ingatkah saat kau mencium pipiku? Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.

Aku masih ingat semuanya dengan jelas, kita saling memberi semangat dan dukungan. Kau selalu membuatku bahagia, membuatku tersenyum dengan tingkahmu. Kau selalu membuatku merasa nyaman, aman dan senang. Kau begitu spesial.

Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku... Aku tak menyalahkanmu mengenai kehidupanmu yang kau tulis, aku tak menyalahkanmu jika kau merasakan terintimidasi disini. Namun, sangat disayangkan... ketika kau menuliskan kehidupan 8 tahunmu disini... aku... aku merasa tersinggung...

Jariku terhenti, air mataku mengalir. Aku tak sanggup melanjutkan pesan yang kutulis.

-***-

"Selamat kepada Jo-Kwon yang mendapatkan 'triple crown'"

Aku tersenyum, namun aku tak gembira. Aku memang memenangkan ajang bergengsi, tapi bukan ini yang aku harapkan. Aku menginginkan ia ada disampingku mengucapkan selamat dan memelukku.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, semakin banyak tangan menjabatku semakin banyak air mata yang mengalir deras. Aku sedih, aku rindu orang itu. Aku rindu semua tentangnya, wajahnya, senyumnya, tingkahnya, dan hari-hari bersamanya.

Tak ada kabar darinya sejak ia pergi, walau aku dapat melihatnya di televisi namun aku merindukannya dan ingin menyentuhnya. Aku ingin memeluknya dan merasakan kembali kehangatan yang dulu pernah kujalani bersamanya. Terlintas dalam pikiranku, aku menyusul ke tempatnya dan berbincang seperti dulu kala. Aku ingin bersamanya.

-***-

Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pesan yang kutulis.

Terima kasih kau memberi ucapan selamat padaku via pesan teks, sayangnya... yang aku inginkan adalah kau mengucapkannya langsung padaku. 

Lagi, aku menangis. Aku sadar, tangisanku tak akan membuatnya kembali.

Sayang, jaga dirimu disana. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu mejadi yang terbaik. Dan... tentang hubungan kita... biarlah seperti ini. Aku menikmatinya, walaupun tersiksa. Kau... selalu ada dihatiku... Jay Park


by :  조권
박재범 사랑해...


Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk layar pada kolom 'send', beberapa menit kemudian layar menunjukan tampilan 'Message Sent' dan disusul dengan notifikasi pesan masuk pada layar komputerku.

Aku sengaja tidak membuka dua pesan yang baru saja masuk, aku sangat sadar jika pesan yang kuterima adalah pesan laporan gagal terkirim.

Aku membiarkan pesan-pesan itu. Sejujurnya, aku mengetahui alamat pesan elektronik orang itu, tetapi aku tak sanggup mengirim ke alamat sebenarnya.  Aku akan memendamnya, walau ini konyol aku akan tetap menyimpannya.

Ini kelemahanku, aku tak sanggup melakukannya dengan benar. Namun, aku bangga akan kekuranganku ini.

Aku berhasil membuat satu pesan untuknya, pesan yang mungkin ia tak pernah ketahui.

-end-




image 1-4 source : google with adress " 2bp.blogspot.com | 4bp.blogspot.com | kpopdiamond.files.com | d1i45kki000yqu.cloudfront.com

Kamis, 25 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. V

Semenjak malam itu, Wooyoung selalu nyenyak dalam tidurnya. Tak lagi ia bermimpi tentang pekerjaannya, tak lagi ia bermimpi tentang editor majalah yang menekannya, tak lagi ia berteriak di tengah malam.

Nickhun memutuskan menjauhi Wooyoung secara perlahan, malam itu ia menemukan sisi lain dari Wooyoung. Nickhun tak menyangka jika Wooyoung memiliki sisi lain yang lebihj tertekan dari dirinya. Nickhun tak tega, ia berencana meninggalkan Wooyoung ketika keadaan lebih membaik.

_***_

-Wooyoung POV-

"Hi, already wake up, huh?" sapanya sembari memberiku secangkir kopi hangat, aku tersenyum menjawabnya. Ternyata ia bangun lebih cepat dariku, ia terlihat tampan pagi ini.

Aku berlari meninggalkannya, menuju kamar, mengambil kamera lalu kembali ke arah dapur. Sesaat, ku hentikan langkahku di ruang tengah, mengambil gambar Nickhun dari kejauhan. Aku mengambil gambarnya yang tengah mengaduk kopi, ia terlihat sangat sempurna pagi ini. Kemeja putih transparan yang menutupi tubuh berbentuknya membuat ia semakin seperti sebuah mannequin yang patut dimiliki.

Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menggoda membuatku betah mengambil gambarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima gambar ku ambil gambarnya, aku memokuskan kamera pada setengah badannya yang tengah mengaduk kopi. Sadar akan dirinya sedang difoto olehku, ia menatap lensa kamera dan mengerlingkan matanya ke arah lensa. Nickhun memainkan ekspresinya dihadapanku, diangkatnya cangkir kopi lalu berpose seperti ia sedang melakukan 'Commercial Film' di stasiun televisi.

Dengan cahaya mentari pagi yang lewat melalui ventilasi, menyinari sebagian tubuhnya. Ia benar-benar seperti mannequin yang berjalan, mannequin yang patut dimiliki, di rawat, dan dicintai.

_***_

-Nickhun POV-

Ditengah terik matahari, Wooyoung bersemangat membuat kotak kayu kecil dari kayu yang dikumpulkannya. Aku memandanginya dari teras, ia sangat serius dengan pekerjaannya. Menggergaji, mencocokan ukuran dan memaku kayu demi kayu agar terlihat menjadi sebuah kotak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Wooyoung terlihat begitu seksi dengan mimik serius seperti itu, dengan keringat yang membuat kaus hitamnya lekat menempel pada tubuhnya, aku terangsang melihatnya seperti itu.

"Kau harus berhasil melakukan misi ini, ini semua demi kepopularitasanmu!" perkataan sang atasan agensi terlintas dalam benakku.

Aku terdiam, seharusnya aku tak boleh merasakan ini. Seharusnya aku tak boleh terangsang melihat Wooyoung seperti itu,  aku mendekatinya hanya karena keegoisanku. Seharusnya aku tak boleh menaruh simpati padanya yang tertekan, seharusnya aku lebih fokus pada misiku yang akan menaikan kepopularitasanku, yang sebentar lagi akan kudapatkan.

Namun... aku tak bisa.

_***_

Satu minggu Nickhun menginap di kediaman Wooyoung, banyak cerita yang mereka lalui. Nickhun semakin sulit meninggalkan Wooyoung. Sementara Wooyoung, ia merasa menjadi seseorang yang beruntung karena berkenalan dengan Nickhun yang mungkin saja membantunya ia memenangkan sebuah perlombaan photografi.

"Wajahmu... seperti model profesional" puji Wooyoung yang menunjukan hasil cetakan gambar dari kameranya.

"Saat aku mengambil gambarmu ini... kau terlihat..." Wooyoung menunjuk foto dimana Nickhun berpose seperti 'Commercial Film' sembari tersenyum.

"Terlihat sangat tampan, dan... senyummu... begitu..."

"Eum? Wae? Ada apa dengan senyumku?"

"Begitu tulus... sungguh sangat tulus" Nickhun terdiam, memandangi wajah Wooyoung yang tersenyum.

"Sangat beruntung orang yang memilikimu, kau memiliki senyum indah, wajah dan tubuh yang sempurna. Kau begitu tampan dan sempurna untuk ukuran seorang manusia" Nickhun terdiam, ia benar-benar tak dapat berkata apa-apa, mulutnya terkunci melihat Wooyoung yang memujinya.

Nickhun tak menyangka ia akan mendapatkan pujian yang terdengar seperti dari dalam hatinya. Ia semakin tak tega untuk mencurangi Wooyoung, terpikir oleh Nickhun jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang patut disayangi, bukan dicurangi maupun disakiti.

Senyum tulus dan tawa bahagia terlihat dari wajahnya jika Wooyoung bukanlah orang yang jahat, tidak seperti Nikchun yang mementingkan keegoisannya.

"Khun-a... Hyung!" Nickhun terbangun dari lamunannya, mendengar teriakan Wooyoung ia menarik senyumnya sambil memandangi Wooyoung.

"Ne? Ah, gomawo"

_***_

"What do you want from him?"

"What do you mean 'him'?" terdengar suara tawa di ujung telepon.

"Don't lie to me... we both know who is him"

"Ah, I don't want anything... it just for your popularity... and I heard, he need someone to make him relax at night..."

"Shut up! You..."

"What? Am I right?" terdengar lagi suara tawa diujung telepon, sepertinya orang di ujung sana sangat bahagia.

"Ah, I wanna say thanks for you, because of you the magazine that work with us get a high rating. So, thanks and if you wanna get back here, just come... We so proud of you here"

Rasa kesal bercampur menyesal beradu dalam dirinya, ia berhasil keluar dari rumah Wooyoung untuk menyelesaikan masalah yang disembunyikannya. Namun, bukan seperti ini hasil yang ia inginkan.
Ia menginginkan dirinya bebas dari kebohongan, ia tak ingin melukai hati Wooyoung. Tapi, mengapa ini hasil semua yang dilakukannya.

Nickhun, memandangi stand koran yang ada disampingnya, ia melihat sebuah tabloid dengan gambar yang membuat ia tercengang, di dekatinya dan dibacanya headline news pelan-pelan. Wajah Nickhun memerah, ia mengambil salah satu tabloid dengan gambar saat ia menggenggam sebuah cangkir kopi.

Tertulis 'Pemenang Photografi Minggu Ini yang Bercinta Dengan Modelnya Sendiri', diremasnya lalu dibuangnya jauh-jauh dari hadapannya tabloid itu. Nikchun bergegas berlari meninggalkan stand pinggir jalan, ia berniat kembali ke kediaman Wooyoung, menjelaskan semua yang telah terjadi.

_***_

Rabu, 24 Oktober 2012

(Request Story) One Day

Part. IV
-Wooyoung POV-
Aku melepas ciumannya, aku terkejut. Aku memandang wajahnya, ekspresinya sama sepertiku. Terkejut dan malu.
"Hyung, apa yang kau lakukan" tanyaku, aku menghapus air mataku dan mengusap bibirku.
"Sorry..." aku dapat melihat telinga dan wajahnya memerah, aku yakin wajahku terlihat sama sepertinya.
"Aku hanya ingin membantu melepas stres-mu, maaf" ia menatapku.
"Aku tak tega melihatmu tertekan seperti ini"
"Tapi, ini bukanlah caranya..."
"Wooyoung, aku ingin kau relax... Aku tak tega melihatmu seperti ini"
Perkataannya memang sangat benar, namun apakah benar ini caranya? Satu sisi aku memang menginginkannya, satu sisi aku menolaknya.
Namun, satu yang pasti dalam anganku. Aku hanya menginginkan ke-nyenyak-an dalam tidur setiap malamnya.
"Maafkan aku..."
-***-
-Nickhun POV-
Aku mencium bibirnya, ku pagut pelan, tanganku mengusap pipinya.
Lagi, ia mendorong tubuhku. Ditatapnya wajahku, diusapnya lalu dicium pipi ku.
"Please help me..." ujarnya sambil setengah berbisik.
Aku menjemput bibirnya, ku lumat lembut. Aku mengangkat tubuhnya ke atas pangkuanku, ia melingkarkan tangannya dileherku.
Aku hisap lidahnya pelan, ku permainkan lidahnya, terkadang aku gigit lidahnya. Kupeluk tubuhnya, aku mengangkat kakinya ku lingkarkan pada pinggangku.
Tangannya mengusap pungguungku, sungguh aku sangat terangsang.
Nafasnya menderu mengenai wajahku, aku melepas pelukanku lalu membuka piyama yang ia kenakan.
Aku mengecupi lehernya, aku jilati hingga ke dada. Didadanya aku menarikan lidahku di atas nipplenya yang tegang. Aku hisap pelan lalu kugigit, ia menarik rambutku dengan pelan.
Ia mendesah, desahannya mengisi kamar malam ini.
Ia mengerang, dan terus memanggil namaku.
Aku menyudahi perlakuanku, aku memandangnya. ia tersipu, tersenyum kecil lalu menggigit bibir bawahku. Dikulumnya, lalu dipermainkan bibirku dengan lidahnya.
Kami bertukar air liur, lidahnya memasuki rongga mulut dan menyentuh langit-langit mulutku.
-***-
-Wooyoung POV-
Entah apa yang ada dalam pikiranku kini, namun aku yakin sebenarnya ini sesuatu yang salah, sangat salah. Aku menyerahkan diri pada orang yang belum aku kenal seutuhnya.
Bodohnya aku, namun aku menikmati ini. Sangat menikmati.
"May I?" bisiknya sembari mengusap kemaluanku yang sudah menegang, aku memejamkan mata lalu mengangguk pelan.
Diremasnya kemaluanku oleh Nickhun, dihisapnya kembali nippleku yang sudah sangat tegang.
Dirapatkan olehnya tubuhku kedinding, Nickhun menyerangku habis-habisan. Tak hanya leher, dadaku sukses di 'kissmark'-nya.
Tuhan, aku paham ini salah, maafkan aku.
Tangannya pandai merancap, bibirnya pintar menemukan titik rangsang, lidahnya lihai menari diatas tubuhku. Laki-laki ini sangat cerdas.
"Have you do this with another male?" bisiknya ditengah permainan, aku menggelengkan kepala.
Aku mendesah, mengerang, menggeliat, menikmati permainannya. Aku sangat terangsang, malam ini aku mungkin akan terlelap dengan nyenyak.
-***-
-Nickhun POV-
Aku merancap kemaluannya kencang, seirama dengan tusukanku dalam tubuhnya. Kami berdua sama sama telanjang, keringat menyilaukan tubuh kami yang basah oleh keringat.
Hentakan demi hentakan terus ku lakukan, aku menikmati permainan ini. Mungkin juga Wooyoung menikmatinya.
Ku lihat wajahnya, matanya yang terpejam, dan bibir tipisnya yang indah membuatku semakin bernafsu untuk meneruskan permainan ini.
Aku mempercepat rancapanku pada kemaluannya, sebentar lagi aku mencapai puncak. Namun, menggenggam kemaluan Wooyoung membuatku menahan klimaks dan lebih mendahulukan Wooyoung.
Otot Wooyoung mengembang dalam genggamanku, aku dapat merasakan jepitan otot tubuhnya yang menjepit milikku. Tak berapa lama, Wooyoung memuntahkan cairannya yang menyebar kemana-mana. Sebagian kedadaku, wajahku, wajahnya dan tentunya tanganku.
Aku tak kuat menahan klimaks, aku mencabut milikku dan meloconya di atas dadanya.. Cairanku keluar mengenai dadanya dan wajahnya, aku menjilati seluruh wajahnya, membersihkan dari cairan kentalku.
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!