Rabu, 30 Januari 2013

1 Pesan Untukmu...

This story is from 'someone who won't be called his name' but he is Jay Park-Jo Kwon Shipper :D
And this story is adapted from short story on local newspaper.

Cast : Jokwon of 2AM
Genre : Romance, NO YADONG.

Sayang... ingatkah kau padaku? Ingatkah kau semua tentangku? Ingatkah kau tentang kesukaan dan keburukanku? Jika kau menjawab iya namun kau mencoba untuk melupakannya, menurutku... aku tak akan melakukan itu, karena aku akan terus mengingatmu

Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk pada layar komputer ke arah kolom 'send', beberapa menit kemudian layar komputer menampilkan kotak dialog dengan tulisan 'Message Sent'.

Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, antara lega dan khawatir aku masih memandang layar komputer dengan seksama. Aku tak menghiraukan notifikasi pada pojok kanan bawah layar yang menunjukan jika aku memiliki satu pesan masuk.

Aku memutuskan untuk mengirim kembali pesan elektronik yang ku tujukan untuk seseorang yang spesial bagiku.

Ingatkah engkau ketika kau mengatakan kata sayang padaku? Ingatkah kau ketika aku menjawab pertanyaanmu dengan kata ya? Aku masih ingat itu semua...

-***-

"Kwon... boleh kita berbicara serius?"

"Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku hyung?"

"Bagaimana... jika aku sayang padamu?"

-***-

Saat itu aku sangat tersipu malu. Kau dengan lantang mengatakannya... waktu itu aku bingung ingin menjawab apa... namun hatiku mengajak untuk berkata 'ya' dan mulutuku bergerak mengikuti kata hatiku

-***-

"Hyung, tentu saja kau boleh sayang padaku"

"Jika... aku ingin dirimu menjadi milikku?"

Aku membelalakan mataku mendengar kalimatnya, antara percaya dan tidak percaya. Aku terdiam, aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya.

"Hyung... ini... aku..."

"Ya... aku paham, aku hanya ingin mengetahuinya... tak lebih dari itu"

"Entahlah... hyung..."

"Mungkinkah ini terlalu cepat?"

Aku memandang wajahnya, mata tajamnya menatapku. Aku terpaku, mulutku terkunci. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Hyung... dengarkan aku... menurutku 8 tahun itu bukanlah waktu..."

"8 tahun itu waktu yang lama kwon... waktu yang cukup untuk masa perkenalan..."

Tanganku digenggamnya, aku benci ketika ia menatapku sambil menggenggam tanganku. Aku benci ketika aku melihat ketulusan dari matanya yang menatapku, aku tak sanggup.

"Bukan... maksudku, kedekatan kita selama 8 tahun ini bukanlah waktu yang lama... maksudku... 8 tahun memanglah waktu yang lama, namun menurutku untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan waktu yang lebih... lagipula, apa yang membuatku terlihat begitu luar biasa dimatamu sampai kau melakukan ini?"

Walau terbata-bata, aku sedikit lega aku dapat mengucapkannya. Akupun menyayanginya, bahkan mencintainya. Namun, aku tak ingin merusak imagenya. Aku tak ingin ia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya, aku menikmatinya seperti ini. Tak ada hubungan spesial, hanya sebagai kerabat dekat walau sebenarnya aku ingin memiliki hubungan spesial dengannya.

"Tentu... kau sangat luar biasa bagiku... kau membuatku... begitu bahagia, kau selalu ada untukku... menurutku... kau... bagian.. dari hidupku..."

Aku melepas genggamannya, kutarik tanganku dan menaruhnya di atas pahaku. Aku bingung, aku takut.

"Just yes or no..."

Aku terpojok, aku benci situasi ini.

"Entahlah... Hyung... bagaimana jika menjawab tidak?"

Ia terdiam. Ia mengalihkan pandangannya, disandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan menundukan wajahnya. Ia selalu melakukan itu ketika berpikir keras. Aku suka ketika melihatnya seperti ini, ia menunjukan sisi lain dari seseorang yang ku kenal.

"Mungkin... aku akan lebih fokus pada grupku"

"Jika aku berkata ya?"

Ia mengangkat wajahnya dan kembali memandangku, mata kecilnya terlihat begitu indah saat menatapku seperti sekarang. Sayangnya, aku membenci hal ini, aku membenci melihat ketulusannya yang terpancar dari matanya.

"Aku tetap akan fokus pada grupku dan... lebih fokus padamu... Kwon..."

Aku merasakan wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat wajahku yang berubah warna. Aku yakin warna merah muda karena tersipu di wajahku terlihat dengan jelas.

"Hyung... aku... ya... aku ingin menjadi milikmu..."

-***-

Sejak saat itu, kita selalu bersama melewati hari-hari tanpa beban. Jika aku boleh berkata jujur, aku benci padamu sayang. Kau terlalu sempurna bagiku, banyak orang yang menginginkan dirimu. Namun, aku berusaha untuk tidak mengatakannya padamu. Belum lagi, dengan ketulusan yang selalu terpancar di matamu. Aku benci, entah bagaimana caranya kau dapat mengeluarkan pandangan yang tulus dan dewasa. Alasanku memang tak masuk akal, namun memang itu alasanku. Aku benci itu, namun satu sisi lain aku menyukainya.

Sayang, ingatkah engkau saat mengucapkan selamat tidur padaku lewat pesan teks? Ingatkah engkau saat aku megucapkan selamat padamu saat kau mendapat 'triple crown' waktu itu? Ingatkah saat kau mencium pipiku? Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.

Aku masih ingat semuanya dengan jelas, kita saling memberi semangat dan dukungan. Kau selalu membuatku bahagia, membuatku tersenyum dengan tingkahmu. Kau selalu membuatku merasa nyaman, aman dan senang. Kau begitu spesial.

Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku... Aku tak menyalahkanmu mengenai kehidupanmu yang kau tulis, aku tak menyalahkanmu jika kau merasakan terintimidasi disini. Namun, sangat disayangkan... ketika kau menuliskan kehidupan 8 tahunmu disini... aku... aku merasa tersinggung...

Jariku terhenti, air mataku mengalir. Aku tak sanggup melanjutkan pesan yang kutulis.

-***-

"Selamat kepada Jo-Kwon yang mendapatkan 'triple crown'"

Aku tersenyum, namun aku tak gembira. Aku memang memenangkan ajang bergengsi, tapi bukan ini yang aku harapkan. Aku menginginkan ia ada disampingku mengucapkan selamat dan memelukku.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, semakin banyak tangan menjabatku semakin banyak air mata yang mengalir deras. Aku sedih, aku rindu orang itu. Aku rindu semua tentangnya, wajahnya, senyumnya, tingkahnya, dan hari-hari bersamanya.

Tak ada kabar darinya sejak ia pergi, walau aku dapat melihatnya di televisi namun aku merindukannya dan ingin menyentuhnya. Aku ingin memeluknya dan merasakan kembali kehangatan yang dulu pernah kujalani bersamanya. Terlintas dalam pikiranku, aku menyusul ke tempatnya dan berbincang seperti dulu kala. Aku ingin bersamanya.

-***-

Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pesan yang kutulis.

Terima kasih kau memberi ucapan selamat padaku via pesan teks, sayangnya... yang aku inginkan adalah kau mengucapkannya langsung padaku. 

Lagi, aku menangis. Aku sadar, tangisanku tak akan membuatnya kembali.

Sayang, jaga dirimu disana. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu mejadi yang terbaik. Dan... tentang hubungan kita... biarlah seperti ini. Aku menikmatinya, walaupun tersiksa. Kau... selalu ada dihatiku... Jay Park


by :  조권
박재범 사랑해...


Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk layar pada kolom 'send', beberapa menit kemudian layar menunjukan tampilan 'Message Sent' dan disusul dengan notifikasi pesan masuk pada layar komputerku.

Aku sengaja tidak membuka dua pesan yang baru saja masuk, aku sangat sadar jika pesan yang kuterima adalah pesan laporan gagal terkirim.

Aku membiarkan pesan-pesan itu. Sejujurnya, aku mengetahui alamat pesan elektronik orang itu, tetapi aku tak sanggup mengirim ke alamat sebenarnya.  Aku akan memendamnya, walau ini konyol aku akan tetap menyimpannya.

Ini kelemahanku, aku tak sanggup melakukannya dengan benar. Namun, aku bangga akan kekuranganku ini.

Aku berhasil membuat satu pesan untuknya, pesan yang mungkin ia tak pernah ketahui.

-end-




image 1-4 source : google with adress " 2bp.blogspot.com | 4bp.blogspot.com | kpopdiamond.files.com | d1i45kki000yqu.cloudfront.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar