Senin, 04 Maret 2013

-Eat Pray Love (Fans Version)-

"Cerita ini gue dedikasikan untuk sahabat gue yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, semua tokoh nyata dan cerita adalah nyata, tanpa penambahan unsur apapun. Pihak bersangkutan (tokoh utama) tidak keberatan kisahnya gue publikasikan di blog pribadi gue (walau ada sedikit kalimat yang gue tau, namun memutuskan untuk tidak mempublikasikannya). Tujuan gue posting cerita ini adalah memberi pelajaran kepada perempuan-perempuan disana untuk lebih berhati-hati dan lebih berserah diri kepada tuhan mereka. Karena cerita ini adalah pembelajaran berharga yang patut direnungkan dan dipelajari"

"Tulisan ini terinspirasi dari novel dan film Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert) yang sangat terkenal dan menginspirasi wanita seluruh dunia agar dapat 'menyeimbangkan' dirinya. Cerita dan tokoh utama adalah nyata dari pihak yang bersangkutan tanpa adanya penambahan unsur apapun" -Author

-Eat Pray Love ('Fans' Version)-

Entahlah jika aku mendengar kata 'mengeluh' di telinga ku, tampaknya kalimat itu adalah sesuatu yang sering aku lakukan. Aku bukanlah manusia yang sering mengeluh—dulu saat aku belum berkenalan dengan orang itu, namun kini aku adalah orang yang rajin mengeluh walau sebenarnya aku tak ingin melakukannya. Bukannya aku tidak bersyukur mengenal cinta dan kasih sayang, tetapi jika keburukan hasilnya, lebih baik aku sama sekali tidak mengenalnya. Sahabatku menilaiku sebagai orang yang pecundang—walau ia tak mengatakannya, aku yakin ia akan mengatakan itu karena sudah jelas terlihat dari wajahnya.

Aku selalu mencurahkan hatiku pada sahabatku—selain tuhan, ia memang pendengar baik dan ia pemberi solusi terbaik yang sangat masuk di logika.

Aku mengenalnya—orang yang sekarang menjadi kekasihku, saat ia adalah kawan satu sekolahku di jayapura, aku tertarik padanya, sempat terbayang jika aku adalah kekasihnya. Bayanganku menjadi kenyataan, dan ini merupakan hal terberat dalam hidupku. Hal yang tak pernah terpikirkan dalam benakku.

Aku mengalami fase depresi terbesar dalam hidupku, dan aku memutuskan untuk melakukan terapi pada diriku sendiri seperti yang dilakukan novelis yang karyanya diangkat menjadi sebuah film.

Ditempatku terkenal dengan jajanan pinggiran yang murah meriah, aku menyukai jajanan yang terbuat dari kentang dibumbui oleh barbeque powder dan chili corn powder. Dua rasa yang dapat menggambarkan perasaanku, rasa jagung pedas yang renyah dan barbeque yang sedap, aku selalu memesan jajanan itu dengan kombinasi seperti ini.

"Jangan sedihlah, aku selalu ada... maksudku bukan hanya aku yang selalu ada tapi semua sahabat kamu ada buat kamu"

"Jangan takut pada orang yang menjahatimu, kami (sahabatmu) selalu ada untukmu, dan tuhan pasti akan membantumu"

Terharu mendengar kalimat-kalimat sahabatku, aku selalu berpikir aku tak sendirian, aku selalu berusaha mengeluarkan energi negatif dari tubuhku, aku ingin energi positif yang ada dalam tubuhku. Ternyata, sulit, aku tak pernah dapat melakukan itu walau tersedia banyak bala bantuan disekitarku.

Jajanan kentang yang sering ku sebut mitang adalah salah satu media untuk menambah energi positif dalam tubuhku, aku tak khawatir akan kegemukan—yang biasanya melanda para wanita fase remaja dan dewasa, karena aku yakin aku tak dapat menggemukan diriku. Terlalu banyak tekanan yang kuhadapi, terlalu banyak rintangan yang aku alami.

Mitang pula yang mendekatkanku pada sahabatku, aku menyukai kentang goreng (apapun bentuknya) dan vitamin di dalam kentang membantuku mendapatkan energi-energi positif yang dapat ku serap.

-***-

Aku selalu khawatir akan rupaku yang—menurutku tidak terlalu menarik, aku fobia akan cermin. Dapat dikatakan aku seseorang yang Venustraphobia, bukan karena aku benar-benar takut akan sesosok makhluk cantik tetapi karena aku minder jika aku ada disekeliling mereka yang rupawan.

Sebenarnya, dokter kejiwaan yang aku percaya—sahabatku pun tak percaya akan ketakutanku. Mereka selalu berucap jika akupun memiliki paras rupawan yang membuat banyak iri orang. Namun, perkataan mereka tertampik oleh seseorang diluar sana—yang tak akan kusebutkan siapa.

"Lu pikir, lu cantik"

Kalimat sederhananya itu sukses berdiam di dalam kepalaku dan berhasil membuatku kembali melepas kepercayaan diriku. Aku mengetahui wajahku memanglah tidak secantik tampangnya, namun menurutku paras cantik tetapi perilaku buruk itu sama saja bohong. Lebih baik memiliki wajah sepertiku—biasa saja tetapi perilaku masih dibatas perempuan yang lainnya.

Aku tak menuding orang yang menghina ku, maksudku masih dibatas perempuan lainnya adalah perempuan yang mendahulukan ibadahnya daripada wajahnya. Beruntungnya aku, aku masih mendapatkan bimbingan untuk terus berdoa kepada tuhan, untuk terus percaya dan yakin kepada tuhan jika ada sesuatu yang tuhan simpan untukku.

Aku sangat-sangat berterima kasih pada sahabatku yang selalu membuatku percaya diri, entahlah jika aku tak memiliki sahabat super seperti mereka.

Kalimat lainnya yang sukses mendarat di kepalaku adalah ketika aku dituduh habis-habisan oleh seseorang jika aku melakukan penyulaman alis.

"Lu dari golongan orang bawah! Jangan minta duit sama abang gue cuma buat sulam alis deh!"

Lucunya, orang yang menelepon dan menuduhku itu adalah orang yang sama dan selalu menambahkan kalimat kamu pikir kamu cantik? kepadaku. Dia jelas-jelas salah paham, sebenarnya yang terjadi saat itu adalah ketika aku terkejut karena seorang artis Indonesia yang melakukan hal itu dan menghabiskan biaya 5 juta.

Belum lagi ditambah dengan tuduhan-tuduhan lainnya yang dilakukan oleh orang yang sama. Aku pernah dituduh olehnya jika aku berciuman dengan kekasihku di dalam mobil pribadi miliknya.

Aku masih teringat akan kata-katanya. Tentunya aku tidak akan bercerita semua yang aku ingat. Yang jelas, aku ingat kalimat yang sangat menusuk hatiku, seakan ia adalah orang yang paling alim diantara yang alim.

"Inget ibadah sana, pergi ke tempat yang sering ada ceramah-ceramahnya, insaf, lu bisa rasain surga dunia tapi ga bisa rasain surga akhirat"

Sungguh bodoh sekali, tuduhan-tuduhan orang itu membuatku tertawa dan menangis di saat bersamaan. Sangat jelas aku tak akan berciuman dengan kekasihku didalam sebuah mobil. Lagipula, tak leluasa jika melakukannya didalam mobil.

Aku bukanlah wanita murahan seperti yang menuduhku, lihat saja dari kalimatnya yang menceramahi. Aku berani mengatakan ia murahan karena tingkahnya yang jauh beda 180 derajat denganku. Aku mengetahui semua aktivitas-aktivitas yang tak diketahui keluarganya, jika aku jahat aku akan melaporkan pada orang tua dan abangnya—yang menjadi kekasihku.

Jika aku memang jalang, aku akan mengajak kekasihku ke sebuah hotel dan membiarkan kekasihku untuk memperkosaku. Tapi, kembali lagi, aku bukanlah perempuan murahan yang menghabiskan waktu, tenaga, dan harta hanya untuk berfoya-foya seperti orang lain.

"Inget omongan gue, lu dari golongan bawah!"

Masih terngiang perkataannya yang menyatakan jika ia adalah golongan orang atas. Sebenarnya, keinginanku adalah, walaupun ia dari kelompok orang yang mampu, setidaknya ia tak perlu mengatakan kalimat tersebut padaku. Aku memang bukan orang yang sama sepertinya—dan kekasihku, aku memang bukan orang yang kaya. Tapi, aku punya harga diri yang tak dapat dibeli oleh orang kaya manapun, dan itu seharusnya menjadikan aku orang yang lebih kaya dari orang kaya, karena menurutku—dan beberapa sahabatku setuju, jika wanita yang dapat menjaga harga dirinya adalah wanita terhebat dan terkaya karena ia tak membiarkan harga dirinya terinjak-injak.

Aku tak akan memberitahu siapa yang menuduhku, aku hanya ingin menjelaskan apa yang aku rasakan kini.
Aku selalu berdoa pada tuhan, jika semua yang aku alami adalah sebab dari tingkahku sendiri. Aku yakin, tak akan ada yang buruk untukku karena tuhan selalu memiliki rencana indah untukku dikemudian hari.

Aku mengambil wudhu dan selalu bersujud—cara agamaku beribadah. Aku memohon pada yang kuasa. Tak jarang aku menangis, aku meminta pada-Nya untuk membantuku ikhlas akan semua yang telah kulalui. Tak jarang aku merenung dan meratapi diri. Aku terjebak di sebuah maze yang tak dapat aku selesaikan.

Aku harus bertahan dan mencoba untuk tetap hidup dari hinaan-hinaan orang yang selalu mecemoohku, aku memang tak dapat membalas hinaan mereka tetapi aku yakin mereka akan mendapatkan balasan bukan dariku. Because-god-working-with-mysterious.

-***-

Disisi lain, depresi yang aku alami bukanlah dari pihak lain melainkan pihak kedua dalam hubungan percintaanku. Bukan aku mensyukuri apa yang tuhan beri padaku. Tetapi, hubungan yang aku jalin benar-benar membuat tenagaku hilang. Sempat terfikir olehku tentang cintanya, dan hal itu selalu menjadi topik hangat sahabat-sahabatku.

Aku bercerita pada sahabatku, aku pernah salah naik eskalator disebuah mall karena kegalauan yang tak berujung. Sahabatku menertawakanku, namun aku biarkan karena mereka belum merasakan apa yang aku rasakan. Ketika mereka merasakan apa yang aku rasakan aku akan berbalik tertawa dan tentunya menolong mereka.

Saat aku memiliki salah, aku meminta maaf pada kekasihku karena aku menyayanginya. Tetapi jika keadaan berbalik, ia tak pernah melakukan apa yang aku lakukan. Yang pasti ia lakukan adalah membuat status di salah satu media sosial dan menghapus relationship dari profilnya.

Jujur, aku malu. Malu karena aku pasti menjadi bahan tertawaan semua mantan dari kekasihku. Malu karena orang tua kekasihku—yang memang sangat tak suka padaku, akan menertawakanku. Belum dengan supirnya yang terlihat bermuka dua didepanku. Dan kawan-kawanku yang selalu mendukung dan menyemangatiku untuk tetap terus melanjutkan hubungan ini. Aku malu pada mereka.

Semudah itukah ia menghapus status hubungan ku di profilnya? Aku tidak melarangnya melakukan itu. Bahkan aku tidak melarangnya untuk mencari pasangan baru yang lebih baik dariku. Aku hanya meminta padanya untuk lebih menghargaiku karena aku lebih menghargainya dari diriku sendiri. Aku memang bodoh, aku terlalu mencintainya, sahabatku mengatakan jika aku harus mencari kekasih baru dan melupakan kekasih sekarang.

Bagi mereka itu mudah, tetapi sulit sekali bagiku. Aku bukan tipe orang yang mudah menjalin asmara dengan orang lain, aku bukan tipe wanita yang mudah menyerahkan perasaanku pada orang lain. Perkataanku serius, karena sahabatku—dan orang-orang dilingkunganku mengetahui aku bukanlah orang yang sering berganti pacar.

Dihadapan keluarga dan kerabat dekat aku selalu dapat tertawa, aku selalu dapat menghibur mereka—terkecuali seorang sahabat laki-laki ku yang mengaku bahwa ia perempuan, aku dapat menunjukan siapa aku sebenarnya dan aku tak pernah menahan tangisanku depannya.

Aku tak sanggup seperti ini, aku terdiskriminasi. Aku terintimidasi olehnya. Aku seakan benda mati yang dapat dimainkan seenaknya, aku seperti boneka murahan yang mudah dibeli di pasar, aku seperti bayangan yang muncul hanya saat terang dan menghilang ketika gelap datang. Aku... Aku adalah orang yang rendah dimatanya.

Aku mencintainya, sungguh. Aku sangat mencintainya. Entah kenapa aku menangisinya yang jelas-jelas suka menyakitiku. Entah kenapa aku menyayanginya yang jelas-jelas keluarganya sendiri tak menyukaiku. Entah kenapa aku terlalu bodoh untuk melihat kenyataan jika aku bukanlah sosok yang cocok baginya.

Mataku telah tertutup cinta, apa yang dilakukannya padaku sehingga aku tak dapat melupakannya. Namun, yang jelas aku benar-benar mencintainya. Aku tulus, aku tak meminta timbal-balik atau take and give. Karena sebenarnya tanda perhatian dan kasih sayangnya sudah cukup bagiku.

Entah apa yang akan aku lakukan untuk masa depanku sekarang, aku terlalu mengalami tekanan dan dorongan hal negatif. Terlalu banyak energi positif yang keluar, dan membuatku tak berdaya.

Jelas, yang akan aku sampaikan padanya adalah aku sayang padanya. Tanpa perlu kekuatan sihir atau apapun itu orang lain menyebutnya, aku tetap mencintainya tulus. Walau aku tersakiti, akan aku nikmati ini. Rasa sayang ini telah menutup rasa benciku padanya, cinta ini telah menutup rasa kesal dan benciku pada keluarganya yang tak menyukaiku.

Terima kasih karena telah memberiku kustomisasi dalam kehidupan. Karena disadari maupun tidak, tekanan yang aku alami adalah proses kedewasaan yang membuatku lebih memahami getir pahitnya bercinta.
Dan semua ini akan aku terima, seperti kentang goreng yang aku sukai—dalam bentuk apapun, aku akan menelan habis-habis dan menjadikannya tenaga untukku bekerja.

-***-

Aku memutuskan untuk membiarkan sahabatku memosting kisah yang aku alami, namun aku berpesan padanya untuk tidak menyebutkan siapa atau apa yang sering dilakukan orang-orang itu. Aku hanya bercerita yang ingin aku ceritakan. Aku tidak ingin dicap sebagai orang pencari perhatian karena membiarkan sahabatku memposting kisahku. Aku hanya ingin memberitahu pada seluruh perempuan didunia, jika cinta yang dirasakan benar-benar tak berpihak pada diri kita, carilah alternatif untuk membuat cinta itu benar-benar berpihak pada kita.

Jika semua yang kita lakukan tak berpengaruh, lakukan yang tidak aku lakukan... mencari cinta baru dan memulainya dengan kebaikan.

-end-
Tangerang, 04 Maret 2013
-Eat Pray Love (Fans Version)-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar