Tampilkan postingan dengan label 1Shoot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1Shoot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2013

1 Pesan Untukmu...

This story is from 'someone who won't be called his name' but he is Jay Park-Jo Kwon Shipper :D
And this story is adapted from short story on local newspaper.

Cast : Jokwon of 2AM
Genre : Romance, NO YADONG.

Sayang... ingatkah kau padaku? Ingatkah kau semua tentangku? Ingatkah kau tentang kesukaan dan keburukanku? Jika kau menjawab iya namun kau mencoba untuk melupakannya, menurutku... aku tak akan melakukan itu, karena aku akan terus mengingatmu

Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk pada layar komputer ke arah kolom 'send', beberapa menit kemudian layar komputer menampilkan kotak dialog dengan tulisan 'Message Sent'.

Ku hela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, antara lega dan khawatir aku masih memandang layar komputer dengan seksama. Aku tak menghiraukan notifikasi pada pojok kanan bawah layar yang menunjukan jika aku memiliki satu pesan masuk.

Aku memutuskan untuk mengirim kembali pesan elektronik yang ku tujukan untuk seseorang yang spesial bagiku.

Ingatkah engkau ketika kau mengatakan kata sayang padaku? Ingatkah kau ketika aku menjawab pertanyaanmu dengan kata ya? Aku masih ingat itu semua...

-***-

"Kwon... boleh kita berbicara serius?"

"Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku hyung?"

"Bagaimana... jika aku sayang padamu?"

-***-

Saat itu aku sangat tersipu malu. Kau dengan lantang mengatakannya... waktu itu aku bingung ingin menjawab apa... namun hatiku mengajak untuk berkata 'ya' dan mulutuku bergerak mengikuti kata hatiku

-***-

"Hyung, tentu saja kau boleh sayang padaku"

"Jika... aku ingin dirimu menjadi milikku?"

Aku membelalakan mataku mendengar kalimatnya, antara percaya dan tidak percaya. Aku terdiam, aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya.

"Hyung... ini... aku..."

"Ya... aku paham, aku hanya ingin mengetahuinya... tak lebih dari itu"

"Entahlah... hyung..."

"Mungkinkah ini terlalu cepat?"

Aku memandang wajahnya, mata tajamnya menatapku. Aku terpaku, mulutku terkunci. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Hyung... dengarkan aku... menurutku 8 tahun itu bukanlah waktu..."

"8 tahun itu waktu yang lama kwon... waktu yang cukup untuk masa perkenalan..."

Tanganku digenggamnya, aku benci ketika ia menatapku sambil menggenggam tanganku. Aku benci ketika aku melihat ketulusan dari matanya yang menatapku, aku tak sanggup.

"Bukan... maksudku, kedekatan kita selama 8 tahun ini bukanlah waktu yang lama... maksudku... 8 tahun memanglah waktu yang lama, namun menurutku untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan waktu yang lebih... lagipula, apa yang membuatku terlihat begitu luar biasa dimatamu sampai kau melakukan ini?"

Walau terbata-bata, aku sedikit lega aku dapat mengucapkannya. Akupun menyayanginya, bahkan mencintainya. Namun, aku tak ingin merusak imagenya. Aku tak ingin ia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya, aku menikmatinya seperti ini. Tak ada hubungan spesial, hanya sebagai kerabat dekat walau sebenarnya aku ingin memiliki hubungan spesial dengannya.

"Tentu... kau sangat luar biasa bagiku... kau membuatku... begitu bahagia, kau selalu ada untukku... menurutku... kau... bagian.. dari hidupku..."

Aku melepas genggamannya, kutarik tanganku dan menaruhnya di atas pahaku. Aku bingung, aku takut.

"Just yes or no..."

Aku terpojok, aku benci situasi ini.

"Entahlah... Hyung... bagaimana jika menjawab tidak?"

Ia terdiam. Ia mengalihkan pandangannya, disandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan menundukan wajahnya. Ia selalu melakukan itu ketika berpikir keras. Aku suka ketika melihatnya seperti ini, ia menunjukan sisi lain dari seseorang yang ku kenal.

"Mungkin... aku akan lebih fokus pada grupku"

"Jika aku berkata ya?"

Ia mengangkat wajahnya dan kembali memandangku, mata kecilnya terlihat begitu indah saat menatapku seperti sekarang. Sayangnya, aku membenci hal ini, aku membenci melihat ketulusannya yang terpancar dari matanya.

"Aku tetap akan fokus pada grupku dan... lebih fokus padamu... Kwon..."

Aku merasakan wajahku memanas, aku yakin ia dapat melihat wajahku yang berubah warna. Aku yakin warna merah muda karena tersipu di wajahku terlihat dengan jelas.

"Hyung... aku... ya... aku ingin menjadi milikmu..."

-***-

Sejak saat itu, kita selalu bersama melewati hari-hari tanpa beban. Jika aku boleh berkata jujur, aku benci padamu sayang. Kau terlalu sempurna bagiku, banyak orang yang menginginkan dirimu. Namun, aku berusaha untuk tidak mengatakannya padamu. Belum lagi, dengan ketulusan yang selalu terpancar di matamu. Aku benci, entah bagaimana caranya kau dapat mengeluarkan pandangan yang tulus dan dewasa. Alasanku memang tak masuk akal, namun memang itu alasanku. Aku benci itu, namun satu sisi lain aku menyukainya.

Sayang, ingatkah engkau saat mengucapkan selamat tidur padaku lewat pesan teks? Ingatkah engkau saat aku megucapkan selamat padamu saat kau mendapat 'triple crown' waktu itu? Ingatkah saat kau mencium pipiku? Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.

Aku masih ingat semuanya dengan jelas, kita saling memberi semangat dan dukungan. Kau selalu membuatku bahagia, membuatku tersenyum dengan tingkahmu. Kau selalu membuatku merasa nyaman, aman dan senang. Kau begitu spesial.

Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku... Aku tak menyalahkanmu mengenai kehidupanmu yang kau tulis, aku tak menyalahkanmu jika kau merasakan terintimidasi disini. Namun, sangat disayangkan... ketika kau menuliskan kehidupan 8 tahunmu disini... aku... aku merasa tersinggung...

Jariku terhenti, air mataku mengalir. Aku tak sanggup melanjutkan pesan yang kutulis.

-***-

"Selamat kepada Jo-Kwon yang mendapatkan 'triple crown'"

Aku tersenyum, namun aku tak gembira. Aku memang memenangkan ajang bergengsi, tapi bukan ini yang aku harapkan. Aku menginginkan ia ada disampingku mengucapkan selamat dan memelukku.

Air mataku mengalir deras membasahi pipi, semakin banyak tangan menjabatku semakin banyak air mata yang mengalir deras. Aku sedih, aku rindu orang itu. Aku rindu semua tentangnya, wajahnya, senyumnya, tingkahnya, dan hari-hari bersamanya.

Tak ada kabar darinya sejak ia pergi, walau aku dapat melihatnya di televisi namun aku merindukannya dan ingin menyentuhnya. Aku ingin memeluknya dan merasakan kembali kehangatan yang dulu pernah kujalani bersamanya. Terlintas dalam pikiranku, aku menyusul ke tempatnya dan berbincang seperti dulu kala. Aku ingin bersamanya.

-***-

Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pesan yang kutulis.

Terima kasih kau memberi ucapan selamat padaku via pesan teks, sayangnya... yang aku inginkan adalah kau mengucapkannya langsung padaku. 

Lagi, aku menangis. Aku sadar, tangisanku tak akan membuatnya kembali.

Sayang, jaga dirimu disana. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu mejadi yang terbaik. Dan... tentang hubungan kita... biarlah seperti ini. Aku menikmatinya, walaupun tersiksa. Kau... selalu ada dihatiku... Jay Park


by :  조권
박재범 사랑해...


Aku menggeser mouse dan mengarahkan penunjuk layar pada kolom 'send', beberapa menit kemudian layar menunjukan tampilan 'Message Sent' dan disusul dengan notifikasi pesan masuk pada layar komputerku.

Aku sengaja tidak membuka dua pesan yang baru saja masuk, aku sangat sadar jika pesan yang kuterima adalah pesan laporan gagal terkirim.

Aku membiarkan pesan-pesan itu. Sejujurnya, aku mengetahui alamat pesan elektronik orang itu, tetapi aku tak sanggup mengirim ke alamat sebenarnya.  Aku akan memendamnya, walau ini konyol aku akan tetap menyimpannya.

Ini kelemahanku, aku tak sanggup melakukannya dengan benar. Namun, aku bangga akan kekuranganku ini.

Aku berhasil membuat satu pesan untuknya, pesan yang mungkin ia tak pernah ketahui.

-end-




image 1-4 source : google with adress " 2bp.blogspot.com | 4bp.blogspot.com | kpopdiamond.files.com | d1i45kki000yqu.cloudfront.com

Selasa, 16 Oktober 2012

(Request Story) YunJae

This from @YaoiRps for @UknowYourLeader and @mjejae
#HappyAniv for you two

Cast : Yuno and Jaejung of TVXQ



Yuno tersenyum lebar ketika cermin memantulkan bayangan tubuhnya yang terbentuk. Ia berpose layak 'Hercules' dan tertawa kecil melihat pantulan cermin yang mengikuti gayanya, terbayang oplehnya ketika berdiri 'topless' diatas panggung dan hanya menggunakan celana pendek ketat. Mungkin semua fansnya akan  berteriak dan memandangi tubuhnya yang terbentuk rapih.

"Hm, tubuhku memang sangat bagus" gumamnya tersenyum sembari memainkan dadanya.


"Tubuhmu memang bagus" Yuno terkejut ketika Jae masuk ke dalam kamar mandi, memergokinya yang sedang memuji diri sendiri.

"Jae, sedang apa kau?" Jae tersenyum lalu memeluknya.

"Kau lupa jika hari ini aku berkunjung untuk menjengukmu" dilepas pelukannya lalu diciumnya pipi Yuno dengan mesra. Seketika muka Yuno merekah-merah muda.

"Changmin menyuruhku menunggu diluar, namun kau tau aku tak pernah sabar menunggumu" Jae tersenyum keluar kamar mandi.

Yuno mengejar Jae dengan handuk yang masih melilit di pinggang, dikejarnya Jae sampai kamar dipeluknya tubuh Jae dari belakang.

"Hentikanlah... ganti bajumu, aku akan menunggumu diluar" ujar Jae yang tersipu karena pelukan Yuno, Jae dapat merasakan nipple tegang Yuno menempel pada punggungnya.

"Aku tak ingin mengganti bajuku... aku ingin kau merasakan tubuhku" bisik Yuno ditelinga Jae, Jae membalikan tubuhnya dan memandang Yuno.

"Lagi?" Jae mengerenyitkan dahinya.

"Tak perlu kau pintapun, aku pasti akan merasakan tubuhmu" ujar Jae sambil mengusap pipi Yuno, diciumnya bibir Yuno pelan lalu dilumatnya mesra.

Tangan Yuno memeluk pinggang Jae kencang. Tubuh Jae ditarik Yuno, lalu mengeratkan pelukannya. Jae masih menciumi bibir Yuno, ditekannya wajah Yuno agar ciumannya tidak terlepas. Dihisapnya lidah Yuno, dan dimainkannya dalam mulut Jae. Tangan Yuno tak tinggal diam, ia masuk kedalam celana Jae, dan menekan-nekan bongkahan daging tebal Jae.

Masih berciuman, tangan Jae melepas lilitan handuk dipinggang Yuno. Membiarkan adik kecil Yuno merasakan hembusang angin Air Conditioner dalam kamar. Ciuman Jae kini turun dari bibir, berjalan ke arah dada, pusar lalu ke arah selangkangan. Aroma lotion yang tercium oleh Jae membuatnya semakin terangsang. Jae bertumpu pada lututnya lalu menggenggam twinsball Yuno, tangan satunya memainkan adik kecil Yuno yang setengah tegang. Jae menarik-narik adik Yuno, lalu memainkan lubang kencing itu dengan telunjuknya.

Yuno tak tahan dengan perlakuan Jae, ia menengadahkan kepala dan mendesah pelan. Masih memainkan twinsball, Jae mulai menghisap 'jr' Yuno ganas. dilahapnya pelan-pelan lalu dimainkan lubang kencingnya dengan lidah dalam mulutnya hingga 'jr' Yuno tegak sempurna. Jae bangkit dari tumpuannya lalu menyerang nipple dan leher Yuno. dibuat kissmark leher Jae dengan semangat, hingga Yuno mengerang nikmat.

"Sudahlah... kita harus segera berangkat" ujar Jae menghentikan perlakuannya. Yuno membelalakan mata, terkejut mendengar ucapan Jae yang telah menghentikan perlakuannya.

Yuno menarik tangan Jae, lalu memepetnya ketembok. Dibukanya baju jae dan dicubitnya nakal nipple Ja oleh Yuno.

"Emang kita mau kemana, chagi? Eum?" ditatapnya wajah Jae yang memejamkan mata, Yuno mengeluarkan senyuman nakalnya melihat Jae terangsang karena rangsangan pada nipple Jae.

Setelah puas melihat wajah Jae yang terangsang, Yuno menarik tubuh jae ke atas kasur dan menindihnya. 'Jr' mereka saling menyentuh dan menggesek. Yuno menjilati tubuh Jae, dari atas hingga bawah. Tak ada yang dilewatinya hingga ia membuka celana Jae yang membungkus kemaluan Jae. Dikeluarkannya 'jr' Jae yang ujung kepalanya telah mengerluarkan cairan kental.

Yuno yang memang sudah sangat teransang, meloco 'jr'nya lalu mengarahkannya pada mulut Jae dan menyuruh Jae menghisapnya. Jae yang mengerti langsung membuka mulutnya lalu melahapnya hingga ke pangkal 'jr' Yuno. Yuno memaju-mundurkan pinggulnya mengikuti irama hisapan Jae.

"Aheumps, Ash..." desahan Yuno mengisi kekosongan dalam kamar. Yuno terus menggenjot mulut Jae tanpa ampun, Jae merasa sesak pada mulutnya. Ia paham jika Yuno akan sampai pada puncak.
Jae semakin bersemangat menghisap dan memainkan 'jr' Yuno, hingga akhirnya Yuno menembakan cairannya pada tenggorokan Jae.

Dicabut oleh Yuno kemaluannya dari mulut Jae, lalu diciumnya bibir Jae dengan mesra.

"Kau belum klimaks, aku harus memuaskanmu chagi..." dengan sergap kemaluan Jae masuk ke dalam mulut Yuno dan dihisapnya. Jae kembali memejamkan mata, menikmati rangsangan dari hisapan-hisapan Yuno.
Sembari menghisap tangan Yuno menembus lubang Jae hingga dua jari telah masuk kedalam lubang pantat Jae.

Hembusan Air Conditioner dalam ruangan membuat mereka semakin terus bertingkah, Air Conditioner tidak menghilangkan peluh keringat yang membasahi tubuh masing-masing. Setelah puas melakukan penetrasi, Yuno memasukan kemaluannya pada lubang Jae, dengan usaha keras Yuno berhasil memasukan semua batang tubuh kemaluannya.

Yuno menggenjot pelan kemaluannya, berusaha menikmati jepitan otot lubang Jae. Terus digenjotnya dan Yuno menambah kecepatan genjotannya.

"Cha... gi... yaa.... aku mau... ashhh arghh!!" belum selesai bicara Jae mengeluarkan cairannya, mengenai dada dan wajah Yuno. Yuno tersenyum melihat wajah Jae yang telah sampai puncak.

Ditindihnya, dan menggesekan 'jr' Jae dengan absnya sendiri. Sembari mencium ganas bibirnya. Yuno mencubit nipple Jae dengan ganas. Cubitannya semakin keras ketika ia hendak keluar lagi dalam lubang Jae.
Masih menindih dan berciuman, Yuno menghisap lidah Jae kencang, mengangkat tubuh Jae hingga posisi tubuh Jae menduduki Yuno.

Yuno menggigit nipple Jae kencang, dan Jae mengerang sambil menjambak rambut Yuno.
Tak berapa lama, Yuno sampai pada klimaksnya dan mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Jae.

Jae memandang Yuno, di usapnya wajah Yuno lembut lalu mereka berciuman mesra.

"Saranghae..."

"HYUNG!" kalimat Jae terpotong oleh Changmin yang mematung diambang pintu kamar Yuno.

"Changmin-a... Wae?" Yuno tersenyum melihat Changmin yang terpaku.
Ini, kali pertamanya Changmin memergoki kedua Hyungnya bercinta tanpa mengunci pintu kamar.

-end-

Kamis, 04 Oktober 2012

Yun-Jae-Chun



Cast : U-Know Yuno, Hero Jaejoong, and Micky Yoochun of TVXQ
*note : this story before JYJ debuted

Seketika langit senja digantikan oleh terangnya rembulan. Banyak bintang berhamburan menghiasi polosnya sang langit malam, hembusan angin menerpa tubuh tiga namja tampan yang berkumpul disebuah bukit yang telah menjadi markas mereka berkumpul sejak dulu. 

Namun kali ini, mereka tengah dilanda belasan botol soju yang tergeletak di bawah kaki mereka. Yuno tertawa dan berkata kepada Dua orang lainnya "Ya! Kalian berdua tidak merasa aneh?" Dipandangnya jaejung dan Uchun yang berada disamping kanan dan kiri Yuno.

"Aku merasa aku sedang terangsang gara gara belasan botol soju ini" ujarnya dilanjutnya dengan tertawa, Yoochun yang berbaring memandang langit, mengusap jrnya. Sedangkan Jaejung yang mengamati tingkah Micky meracau 

"Lihat! Micky mengusap jrnya! Kaupun terangsang?" Jaejung ikut irama tawa Yuno. Micky tersenyum dan menutup matanya. 

Terus diusapnya jr Micky hingga membentuk gundukan besar yang tercetak jelas, masih terdengar bahakan tawa jaejung dan yuno malam itu. Micky tak menghiraukannya, ia terus mengusap hingga benar benar terasa sempit. 

Tak memperdulikan Jaejung dan Yuno, Micky membuka ikatan sabuk pada celananya, membuka dan mengeluarkan jrnya yang tegang dengan bentuk sempurna, jr tegang milik Yoochun mencuat tegak berdiri menghadap langit. 

Digenggamnya, lalu diayunkannya pelan genggaman tangan yoochun naik turun, merancap dirinya sendiri ditengah hembusan angin malam. Masih menutup mata, Yoochun membayangkan seseorang menghisap kemaluannya. Tenggelam dalam imajinasi fantasi sexnya Yoochun memainkan twinsballnya sendiri dan menusuk lubang kencing dengan telunjuknya sendiri. Dengan sedikit desahan Yoochun benar benar menikmati selfservicenya. 

Jaejung dan Yuno yang tadi tertawa kini saling memuaskan, mereka berdua saling menggengam kepala dan bertukar air liur dengan ganas. Bukan bahakan tawa lagi yang terdengar melainkan desahan nikmat dari ketiga namja tampan tersebut. Yoochun yang mendengar desahan Jae dan Yuno memberanikan diri melepas semua semua pakaiannya. Nipplenya yang tegang sudah tidak tertutupi lagi oblong favoritnya. Masih memejamkan mata, Yoochun mencubiti nipplenya dan mengerang. Erangan yang terdengar seperti memancing Yuno dan Jae yang kala itu berciuman nakal. 

Nafsu yang sudah tak terbendung membuat mereka menghentikan kegiatan lalu mendekati Yoochun yang memejamkan matanya. Jae menjilati wajah Micky ganas, Jae menciumi paha dan mengusap tubuh indah Yoochun. Yoochun yg menerima sensasi tersebut menghentikan kegiatan meloconya. Yuno yang sadar akan kepasrahan Yoochun  Menaiki tubuh yoochun dan mencium bibirnya ganas, Jae tak tinggal diam. Ia membenarkan posisi pantat yuno lalu membuka sabuk celana
Yuno dari belakang, ditarik paksa celana Yuno dan menaruhnya di samping baju Yoochun. 

Setelah terpampang lubang pantat Yuno, Jae memandang jr Yuno yang sedikit basah dilubangnya. Lubang kemaluan Yoochun yang basah bertabrakan dengan kemaluan Yuno. Jae yang tak ingin
kehilangan kesempatan, menatapi dua kemaluan yang bertabrakan. Diluruskan kemaluan mereka oleh Jae dan dimainkannya. Ciuman Yuno dan Yoochun terhenti, mereka berdua mendesah dan mengerang bersama sama. Aroma soju yang tercium dari mulut Yuno dan Micky semakin membakar libido
masing masing, Yoochun membuka kaus Yuno dan mengusap dadanya lembut. Sedangkan Yuno mendekatkan mulutnya dan menghembuskan aroma soju ke hidung Yoochun, Jae yang kinipun ikut bertelanjang mendorong pinggul Yuno, memaksa kemaluan Yuno dan Yoochun berhimpitan. 

Tangan yoochun sekarang mengusap punggung Yuno lalu turun kebongkahan pantat Yuno. Dibukanya lebar dan di genggamnya, dimaju mundurkan pantat yuno oleh tangan yoochun, Jae yang diberi kesempatan Yoochun langsung meringkuk menjilati lubang pantat Yuno. Terkadang ditusukan lidahnya tepat dikerutan lubang pantat Yuno. Yuno yang memang sangat bernafsu malam itu menggigit ganas bibir Chun. Dihisapnya dengan kencang lidah Chun dan dijambaknya rambut Chun kencang. 

Gesekan antara perut dan kemaluan Yuno juga Yoochun semakin membuat mereka bernafsu. Jae membasahi kemaluannya dengan air liur, bersiap memasukannya kedalam lubang Yuno. Alkohol yg dikonsumsi Yuno tak membuatnya kesakitan saat dirinya dimasuki oleh kemaluan Jae. Yuno semakin bernafsu bertukar air liur ketika kemaluan Jae habis ditelan lubangnya. 

"Yuno..." Racau jae sedikit mengerang, tak memperdulikan desahan Jae. Yoochun masih tetap memaju-mundurkan pantat Yuno. Bosan dengan posisi tersebut Jae melepas jrnya, merancap sendiri kemaluannya agar tetap tegang, Yoochun yang melihat Jae melepas tusukannya mendorong tubuh Yuno. Dengan inisatif tinggi, Yoochun mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi dan menunjukan lubangnya pada Yuno. Yuno yang paham akan keinginan Chunnie, membasahi jrnya lalu menyiapkan diri didepan lubang pantat Chun. Jae yang tak ingin ketinggalan menaruh jrnya diatas mulut Chun dan membiarkan jr menempel pada bibirnya, Jae mencium bibir Yuno ganas. Dengan kaki yang ditopang pada bahu Yuno, Chun menggenggam jr Jae merancapnya pelan lalu memasukannya dalam mulut. 

Hisapan Chun membuat Jae kelojotan. Tak hanya jr, twinsball Jae kena sasaran hisapan Chun.
Sembari menciumi yuno, tangan Jae mencubit nipple Yuno keras, membuat nipple Yuno semakin mencuat. Dibawah sebuah pohon rindang diatas bukit, mereka mengerang bersahutan. Dirasa cukup. Yuno yang merasa akan mencapai klimaks mencabut jrnya lalu menyuruh Chunnie melakukan
Doggie style, Jae meringsut kebawah Chunni. Membiarkan kemaluannya menegang melewati celah paha dan merujuk ke lubang pantat Chun. 

Dibantu oleh Yuno, kemaluan Jae dihisapnya sebentar dan dimasukannya kedalam lubang Chun. Hampir masuk setengah, Yuno memainkan jrnya memaksa masuk Lubang Chun. Tak ada respon dari Chunnie, Yuno tetap mendorong kemaluannya. Kemaluan Jaepun terdorong, terlahap semua batangnya oleh lubang Chun. Nafas mereka memburu satu sama lain. Kini, dua kemaluan telah dilahap lubang Chunnie, ia memaju-mundurkan tubuhnya sendiri.

Yuno memeluk Chunnie dari belakang, menempelkan nipplenya pada punggung Chun, sedangkan Jae mengusap lembut nipple Chun. 

"Aheump, ash, ash" Chunnie mendesah diikuti Jae, Yuno merasa kemaluannya terjepit keras karena kemaluan Jae yg mengembang. Menandakan ia mencapai orgasme menahan jepitan nikmat dari batang Jae dan otot lubang Chun, Yuno menciumi punggung Chun. 

Tak berapa lama, ditembakannya cairan hangat masuk kedalam perut Chun, Yuno mencabut jrnya. Terlihat mengkilap kemaluan Yuno karena cairan Jae. Jae mencabut kemaluannya lalu membiarkan
Chunnie berdiri, kali ini lubang Jae yang menjadi sasaran Yuno. Yuno membuka lebar kedua kaki Jae dan memaksa memasukan jrnya. Jae sedikit berteriak namun mulutnya langsung tersumpal kemaluan Chun. Teriakan berubah erangan nakal. Dorongan jr pada tubuh Jae dipercepat Yuno. 

Bukan hanya erangan nakal Jae, bunyi pokpok ikut menghiasi malam itu. Chun yang kemaluannya dihisap dan lubangnya dipermainkan mendekatkan wajah pada Yuno. Mereka kembali berciuman dengan panas. Sembari merancap kemaluan Jae, Yuno melepas ciumannya dan berteriak.

"Ssebentar... " belum selesai berbicara, Yuno memuntahkan cairannya dan segera mencabut dari lubang Jae. Chunnie yang kemaluannya dipermainkan Jae pula merasa sampai pada puncaknya, Yuno menduduki tubuh Jae lalu menjilati leher Chunnie yang sebentar lagi berorgasme. 

"Asshhh, ashhhiiy" Tak berapa lama, Chunnie memuntahkan cairannya. Semuanya ditelan. Habis-habisan oleh Jae. Dicabut jrnya dari mulut Jae, tubuh Jae ditarik Yuno dan mereka berdiri bersamaan dengan kemaluan yang masih menegang. Tangan mereka saling merancap kemaluan, Yuno pada Jae, Jae pada Chun dan Chun pada Yuno. Masih dalam keadaan nafsu. 

Tangan kiri mereka mengusap nipple, dengan arah putaran yg sama. Tak berapa lama, Yochun
Mendesah, 

"Ah, ah, ah, kocokans Jaeh membuatkush sebentars lagih akans sampai" dan akhirnya disaat bersamaan. Mereka kembali mengeluarkan muncratannya. 

Malam itu, selesai bercinta mereka duduk terdiam tanpa sehelai benangpun. Menikmati hembusan angin malam dengan bertelanjang ria.


-End-


Senin, 01 Oktober 2012

Ong-Woon




Cast : Seulong and Jinwoon of 2AM

-Seulong-Jinwoon-

Rasa lelah masih hinggap ditubuh Seulong yang baru saja menyelesaikan shooting dramanya di salah satu stasiun tv swasta. Ong menyandarkan tubuhnya di sofa dan memanjangkan kakinya, ia berharap untuk segera terlelap agar ia merasa kembali segar, Jinwoon yang baru selesai mandi keluar dari kamarnya menuju dapur hanya menggunakan handuk, Ong yang berniat menutup matanya terbelalak melihat Woon begitu segar, Ong memperhatikan tubuh Woon yang kini sudah terbentuk rapi. 

Woon yang belum sadar akan kehadiran ong terus mengitari dapur mencari sesuatu untuk dimakan.

"Woon-a! Sedang apa kau!" teriak Ong dari sofa, Woon yang terkejut keluar dari dapur berjalan cepat kesofa.

"Woah, hyung kapan pulang?" tanya Woon sambil membawa sebuah apel digenggamannya, mata Ong terbelalak melihat Woon, rambut Woon yang basah dan tubuh Woon yang terbentuk membuat mata Ong terbelalak. 

Ong memperhatikan saenginya yang menggigit apel, ia membayangkan dirinya melumat bibir Woon dan menghisap nipple kecil Woon, sungguh nikmat. Woon duduk disamping Ong dan ikut memanjangkan kaki. Wangi harum lotion Woon membuat jr Ong terbangun.

"Hyung, hyung tidak mandi?" tanya Woon sambil memandangi Ong, Ong mencoba bersikap biasa, namun harum tubuh Woon membuat Ong tidak biasa.

"Eiy, mandi sana, badanmu bau" ejek Woon sembari tetap mengunyah apel. Ong tak menghiraukan perkataan Woon yang ada dalam pikirannya hanyalah melumat bibir Woon dan menghisap nipple Woon secara lembut, dan pikiran itu membuat celana Ong semakin sempit Jr Ong meronta keluar, Woon mengamati jr Ong dan memergoki Ong yang sedang membenarkan posisi celananya. 

"Hyung, jrmu bangun?" tanyanya polos.

"Ah... Aniya..." Ong mengelak, tangan Woon tiba tiba mengusap jr Ong lembut, ia memastikan jr hyungnya sedang berdiri atau tidak.

"Woah hyung milikmu tegang" ejek Woon. Ong terkejut. Ong melempar tangan Woon dari jrnya lalu kembali bersikap biasa.

"Sepertinya kau butuh sesuatu agar jrmu kembali tidur hyung" Woon berdiri hendak meninggalkan Ong. Ong yang saat itu memang sedang panas menarik tangan reflek, Woon terjatuh menimpa tubuh Ong yang sedang menyenderkan diri di ujung sofa.

"Hyung memang butuh sesuatu" ujar Ong sambil memandang wajah Woon, di amatinya mata kecil, hidung mancung, dan bibir lembut Woon. Tangan Ong mengusap lembut pipi Woon ditopangnya dagu Woon dengan tangan Ong, Ong mendekatkan wajahnya.

"Hyung butuh energizer biar kembali segar" ucap Ong mesra, Woon seakan mengerti kalimat Ong, Woon memejamkan mata, diciumnya pelan mulut Woon, tangan Ong menggenggam kepala Woon agar posisi ciuman mereka tak berubah, dipagutnya bibir bawah Woon, dihisap lalu digigitnya dengan lembut. Woon mengerang pelan, tangan Woon sibuk masuk ke dalam kaus Ong dan mengusap abs hyungnya mesra, terkadang tangan Ong bermain di nipple Ong dan mencubitnya nakal, masih dengan berciuman tangan Ong melucuti handuk Woon dan membiarkan Woon telanjang, mereka membenarkan posisi sembari berciuman mesra, OIng mengambil posisi dengan kaki Woon yg melingkar di pinggang Ong, Woon menduduki jr Ong yang masih terbalut celana panjang, kali ini Woon berani bermain agresif, Woon merobek kaus Ong dan melemparnya kesegala arah.

Masih berpagutan mesra tangan Woon kini mencubit ganas nipple Ong
Dihimpitnya perut Ong, agar jr Woon menempel dengan abs indah milik Ong, mulut mereka masing-masing telah basah dengan air liur.

Ong menurunkan kaki dari sofa dan berdiri, dengan posisi 'koala' kaki Woon melingkar kencang di pinggang Ong, membuat Ong mudah membuka celananya sendiri, terpampanglah jr panjang milik Ong yg telah basah. Dengan keadaan sama sama telanjang tangan woon meremas lembut rambut Ong begitupula Ong yg meremas lembut bongkahan daging kenyal milik Woon, digendongnya Woon kedalam kamar Ong, harum keringat  dalam kamar Ong membuat libido mereka semakin tinggi, Ong menidurkan Woon diatas kasur lalu sergap menciumi leher, menjilati telinga, menyapu basah wajah Woon, diangkatnya lengan Woon dan dijilatnya nafsu ketiak Woon yg tak berbulu, di ciuminya ketiak Woon lalu dibuat kissmark oleh Ong, Woon mengerang pelan tanpa suara, kali ini lidah Ong menari di dada Woon dan menggigit nakal nipple Woon yang tegang.


Tangan Ong menjelajahi tubuh Woon hingga ia temukan jr Woon yang telah basah, di shakenya pelan dan kadang dimainkannya. Perlakuan Ong membuat Woon semakin bergairah, Woon masih terpejam menikmati permainan hyungnya. Ong menyudahi tingkahnya lalu menyodorkan jr panjang miliknya, Woon langsung melahap jr hyungnya bersemangat.

"Aheumph. Kau maknaeh terhpintarh yangh hyungh punyah" ujar Ong. Tangan Woon menggenggam
paha Ong, dan memaju mundurkan seirama dengan hisapannya. Seakan kurang puas, dimainkannya lubang kencing jr Ong dengan lidah Woon.

Ong semakin geli dibuatnya, Ong menarik jrnya lalu menciumi lubang Woon dan membasahinya dengan air liur, setelah cukup dimasukannya jr kekar milik Ong, baru kepala yg masuk Woon berteriak kencang, Ong yang khawatir akan saeng tampannya melepas tusukan jr lalu kembali berperang lidah, namun tanpa tinggal diam, tangan Ong mencoba menerobos masuk ke dalam lubang Woon, berhasil satu jari, Ong terus
Melakukan penetrasi sampai dua jari masuk, jr Woon yang tegang menempel pada perut Ong, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri bagi mereka.


Woon, menikmati perlakuan hyungnya. Keringat mengalir dari tubuh mereka, Woon menyudahi ciumannya, memandang mesra Ong.

"Masukin aku hyung" Ong mengangguk, penetrasi yg dirasa cukup Ong menarik jarinya lalu menggantinya dengan jrnya, kini sedikit mudah, dan hampir setengah masuk, namun Ong bersikeras untuk memasukannya semua hingga akhirnya jrnya dilahap habis oleh lubang Woon. 

"Aarghh!!" Mereka berdua bersama sama mengerang, Woon merasa sesuatu menyundul perutnya dan Ong semakin bernapsu karna jepitan lubang Woon yg nikmat, sebelum mulai lebih genjotannya, Ong menciumi Woon mesra, dan mengangkat Woon dari kasur, dipepetnya kedinding tubuh Woon. Dengan posisi berdiri, tubuh Woon dinaik turunkan oleh Ong.

"Aargh hyunghh, enakhh" racau Woon. Jr Woon yg menegang menempel pada abs Ong, secara tak langsung menimbulkan sensasi tersendiri bagi Woon, jr Woon seperti dirancap habis-habisan oleh Ong. Tangan Woon meremas nakal rambut Ong, sedangkan Ong konsen membuat kissmarks dileher putih Woon, masih dengan gerakan naik turun Woon merasakan sesuatu yang menembak perutnya, pikirnya Ong hyung
telah berada pada puncaknya. 

Ong memang telah berada di puncaknya dan mengeluarkan cairannya dalam tubuh Woon, namun Ong masih bersemangat menembus pertahanan Woon, selain jepitan lubang Woon nikmat yang bercampur dengan cairannya sendiri, nafsu Ong belum menghilang hingga Woon mengeluarkan cairannya. Tanpa disangka Woon ingin orgasme.

"Hyungghhh akuuhh mauhh kelluuarhh" dengan sigap Ong kembali menaruh Woon dikasur, Ong mencabut tusukannya lalu menghisap jr Woon dengan semangat. Jr Woon terasa hangat dan licin, dimainkannya
twinsball Woon dengan mesra, sampai akhirnya...

"Hyunghh!! Hyungh!! Aheumhemph, aheuh" Woon mengangkat pantatnya dan cairannya tertelan habis
Oleh Ong, sedangkan Ong yg belum lelah mengocok jrnya dihadapan Woon dan kembali memuntahkan cairannya di dada Woon. Woon menatap mata sendu Ong, walaupun terlihat lelah namun sepertinya Ong merasa puas, ditariknya tubuh Ong menimpa tubuh Woon. Dibisikannya oleh Woon

"Hyung hebat..." sembari memeluk pinggang Ong mesra. 

-End of Seulong-Jinwoon 2AM on This 'Jr'-

Chan-Taec



Cast : Taecyon and Chansung of 2PM

- 2PM Chansung-Taecyeon -

Di musim gugur yang dingin Chansung berjalan sendiri ke arah dormnya, entah kenapa ia merasa sangat lesu pikirannya melayang jauh, sedangkan Taec bingung didalam dorm yang merasa kesepian tanpa seorang disana, semua anggota sedang menjalankan kegiatan masing masing.

Taec berusaha menghilangkan kegalauannya dengan bernyanyi. Sedangkan Chansung yang berhenti di tengah taman yang dikelilingi oleh pohon rindang yang berguguran mengambil sebuah kalung perak bertuliskan inisial namanya. Chansung menarik napas.


"Ah... Hyung... Kau membuatku bingung" ujar Chansung sambil memandangi kalung tersebut, Taecyeon yang merasa terpanggil seseorang menoleh kearah sampingnya, mengedarkan pandangannya namun tak ada seorangpun. 

"Chansung-a kapan kau akan pulang" ucapnya pelan "Aku khawatir"

Dilain tempat Chansung melanjutkan perjalanan sambil menggenggam kalung pemberian Taecyon beberapa hari lalu, dengan rasa khawatir yang tinggi, Taecyon bergegas keluar dari dorm berniat mencari Chansung, ia berlari dengan tergegas sampai akhirnya ia melihat Chansung berada tepat didepannya, Chansung hendak menyebrangi jalan raya, namun ia tak melihat sebuah kendaraan sedang melaju kencang ke arahnya, lalu
Taecyon berlari dan berteriak, 

"Chansung-a awas!" Taec mendorong tubuh Chan ke pinggir jalan, membuat mereka terjatuh dengan posisi Taec menindih tubuh Chan. 

"Ya! Apa kau sudah gila?" Taec bangun dan memarahi Chan, Chan yg terkejut ikut bangun dan merapihkan diri. 

"Bodohnya kau!" Taec tatap memarahi Chan, lalu ia menarik tangan Chan masuk ke dalam dorm. Chan yang masih merasa bingung dan bersalah duduk terdiam di sofa, sedangkan Taec membka jaketnya sembari membuatkan noodlecup untuk Chan. 

"Darimana kau?" Tanya taec dari arah dapur, 

"Aku dari taman" jawab Chansung, Chansung kembali membiarkan pikirannya melayang, ia terus memandangi kalung berinisial namanya dan mengacuhkan omelan Taec. Dalam pikiran Chan, apa maksud Taec hyung memberiku kalung ini, kenapa harus aku, kenapa bukan orang lain, didorm ini semuanya lebih dariku. Apa spesialnya aku dimatamu hyung? Chansung terbangun dan memasukan kalungnya kedalam kantung jaket.

"Ya! Kau tidak mendengarkan aku?"

"Aku bukan anak kecil lagi hyung" jawab Chan lesu, Taec melihat Chan sangat lesu hari ini, dalam pikiran Taec Chansung sedang mengalami masalah hebat, aku harus ada disampingnya agar ia tenang. 

Chan melahap noodlecup tanpa semangat, Taec memandanginya, ia perhatikan Chan yang wajahnya memucat.

"Apa kau sakit?" tanya Taec sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Chan, Chan tersedak karna wajah Taec yg memenuhi pandangannya. Chan menahan senyumnya, ia melanjutkan makannya dan mencoba mengacuhkan Taec. Namun Taec terus menatapnya, Chan semakin salah tingkah.

Ia terbatuk, Taec memberinya segelas minuman hangat. 

"Pelan-pelan makannya" dalam hati Chan yang membuat dirinya terbatuk adalah tingkah hyugnya. Ia menghabiskan air minumnya tergesa, membuat alirannya menetes melalui dagunya, Taec mengusapkan tangannya menghapus aliran air di dagu Chan, Chan terpaku. Begitpun Taec, Taec menatap lama wajah Chan dan mendekatkan bibirnya ke bibir Chan, Chan menutup mata dan menjatuhkan gelas digenggmannya, Taec merubah posisi duduknya, bibir Taec mencium bibir lembut Chan, terus dipagutnya bibir Chan, tangan Taec membuka sleting jaket tebal Chan,

Reflek tangan Chan melingkar di pinggang Taec, dengan lama mereka berciuman, tangan Chan mengusap punggung taec lalu masuk kedalam baju hangat Taec, begitupula tangan Taec yang telah berada di dada Chan, Taec bermain dengan nipple Chan nakal.

Membuat Chan semakin geli, Taec melepas ciumannya lalu melepas pakaian Chan, dihisapnya nipple Chan lembut kadang digigitnya nipple Chan.

Chansung mengangkat kepalanya, tangan meremas rambut Taec, tangan Taec sibuk membuka celana Chan dan dirinya. Suasana dingin musim gugur tak terasa oleh mereka, kali ini Taec dan Chan telah sama sama telanjang, Taec mendorong Chan tiduran disofa, Taec menindih C begitu pula jr mereka masing masing, dalam keadaan setengah berdiri, Taec menjepit jr Chan dengan pahanya sembari tetap memanjakan nipple Chan.

Tangan Chan masih memeluk punggung Taec mesra sedangkan tangan Taec menggenggam daging empuk dibelakang jr Chan, 

"Hyungghhh" desah Chan diantara nikmat dan bingung, Chan mendesah hebat, 

"Hyungh aheumphh ahehh" Taec yg mengerti sendiri arti desahan Chan, turun menjilat perut Chan, hingga tepat pada kepala jr Chan, di-licknya dengan pelan kepala jr Chan dengan mesra, kedua kaki Chan dilebarkan, kaki kiri Chan berada dipundak Taec, sedangkan kaki kirinya menjulur kebawah sofa, tanpa babibu Taec melahap jr Chan, 

"Aheunghh, hyungghhh stophh" tolak Chan, Taec tak berhenti sampai situ. Jari tengah taec menembus lubang Chan pelan, menambah knikmatan Chan, jarinya dimasukan seirama dengan hisapan di jr Chan, 

"Hyunghh aku takhh kuathh" tiba tiba Taec memberhentkan aksinya, lalu memaksakan jrnya yang sudah basah masuk kedalam mulut Chan, Chan mengerti keinginan Taec, dan memajukan kepalanya maju mundur. 

Setelah merasa cukup Taec menarik jrnya lalu dengan sergap membasahi lubang Chan dan menciuminya, dengan tenang Taec memasukan jrnya ke dalam lubang Chan, membuat Chan berteriak, 

"Arghhh" khawatir akan teriakan Chan terdengar, Taec langsung mencium bibir Chan dan berperang lidah, hembusan nafas Chan memburu menerpa wajah Taec. Jr Taec sukses menembus pertahanan Chan dan menyesuaikan dengan jepitan lubang Chan, tangan Taec mencubit nipple Chan, wajah mereka memerah, keringat saling membasahi, jr Chan terjepit perut Taec yg memaju mundurkan pinggulnya, semakin menambah ketegangan jr Chan. 

Tangan Chan mengusap kadang mencakar punggung Taec ganas, dengan perlakuan Chan, Taec semakin bersemangat menggenjot lubang Chan, belum dengan jepitannya yang membuat nikmat.

Masih dengan posisi sama, Chan menopang kepalanya dipundak Taec dan membiarkan Taec membuat kissmark dileher Chan.

"Hyunghh, akuhh takkhh tahanhh laghihh" tak berapa lama, jr Chan mengembang dan memncratkan cairannya keperut masing masing Taec yang jrnya terjepit kencang karena orgasme Chan pula merasa akan sampai pada puncaknya, sampai akhirnya ia mencabut dan mengocok jrnya di atas dada Chan, cairan jr Taec keluar dan muncrat ke segala arah. Wajah Chan penuh dengan cairan Taec, lalu Taec membersihkan
cairan itu dengan menjilati wajah Chan dan mengumpulkannya didalam mulut, Taec mencium chan dengan mulut penuh cairan cinta...

-Malamnya-

Chan berdiri di balkon menatap luas pemandangan malam kota Seoul, angin dingin menerpa wajahnya, sembari menggenggam kalung pemberian Taec, Chan bergumam "Apa artinya ini... Apa ia mencintaiku? Apa ia menyayangiku? Perasaan apa ini? Apa aku mencintainya? Kenapa aku?"

Berbagai macam kemungkinan muncul di otak Chan, merasa nyaman dengan terpaan angin diwajahnya Chan bergumam pelan dengan nada I can't dari album lamanya.

"Chan..." Chan terkejut karena Taec kini sudah berada disampingnya, 

"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Taec, Chan diam terpaku menatap wajah Taec, Chan menunjukan kalung perak yang digenggamnya, Taec ikut memandangi, dan tersenyum. Taec mengambil kalung itu Memasangkannya di leher chan dengan jantannya, lalu memeluk Chan dari belakang dengan mesra, 

"Diamerika sebuah kalung menandakan hadiah untuk yg tersayang, dan hyung kasih ini untuk Chanana yang hyung sayang" Taec mencium tengkuk Chan lembut, tanpa diketahui Taec, mata Chan memanas dan menangis, Chan menumpukan tangannya di atas tangan Taec, 

"Gomawo hyung..." Ucapnya pelan. Sambil menundukan wajah, di akhir musim gugur ini, Chan mendapatkan cinta dari Taec, hyungnya, walaupun daun daun kering berguguran, namun sang batang pohon tak akan pernah gugur. Terus berdiri tegak hingga sang batang tak mampu lagi bertahan, sama dengan hati Chan yang walaupun nanti akan gugur, namun ia yakin cinta Taec dan cintanya tak akan pernah gugur, hingga mereka berdua sama sama lelah dengan sendirinya. 

-End of Chan-Taec on 'Fall' Love-