Sabtu, 15 Februari 2014

Overtime? (Request)

-Kisah ini adalah permintaan @shpthunderr-
-Warning! Kisah ini mengandung tema yaoi (gay) - dewasa eksplisit-

Cast : Taecyeon of 2PM and Cheondung of Mblaq

-***-

Cheondung harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jika tidak ia bisa mati karena ocehan atasannya--Taecyeon.

Meski Taecyeon bukan termasuk orang yang banyak bicara, namun Taecyeon hobi mengerjai pegawai-pegawai yang lain dan Cheondung tak ingin menjadi salah seorang korbannya.

Cheondung fokus dengan pekerjaannya, ia tak sadar atasannya mengawasi dari belakang.

Cheondung terdiam ketika tangan Taecyeon mengusap dan meraba pelan punggungnya, ketika Cheondung menoleh ke belakang Taecyeon mengecup pipinya.

"Pak..."

"Ya?"

"Stop... Saya mohon"

"Kenapa?"

Taecyeon semakin berulah, tangannya kini meraba dada Cheondung mesra. Jarinya bermain tepat di puting dada Cheondung.

Cheondung berusaha menjauhkan diri dan mendorong pelan tubuh Taecyeon, tetapi usahanya membuat tubuhnya berbalik arah ke hadapan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum sinis, ia meraih tangan Cheondung lalu diarahkan ke selangkangannya sendiri.

"Remas..." bisik Taecyeon sembari mulutnya menjilati telinga Cheondung.

Ada rasa ingin melawan atasannya, tetapi Cheondung tetap mengikuti keinginan atasannya.

-***-

Tak sadar siapa yang memulai, keduanya sudah bertelanjang. Cheondung duduk dipaha Taecyeon dengan kemaluan yang saling menyentuh dan bergesekan.

Bibir Taecyeon menciumi tiap inch leher Cheondung, sementara Cheondung hanya mengerang dan mendesah sembari menarik-narik rambut Taecyeon.

Kepala kemaluan mereka basah dengan cairan kental bening-precum yang membuat licin gesekan demi gesekan, mereka mendesah menikmati permainan yang Taecyeon mulai.

Bibir Cheondung dilumat Taecyeon ganas, terkadang digigit pelan dan dikulum. Jemari Cheondung memilin kedua puting Taecyeon hingga benar-benar tegang.

Puas mencumbui Cheondung, Taecyeon menggendong tubuh Cheondung lalu dipindahnya keatas meja.

Cheondung tetap melingkarkan kakinya dipinggang Taecyeon meski pantatnya sudah duduk diatas meja, Ciuman Taecyeon semakin ganas.

Bibirnya turun ke dada, perut dan selangkangan. Mulutnya langsung melahap kemaluan Cheondung yang menegang sempurna, dihisap dan digigitnya kuat hingga Cheondung mengerang.

Kedua jari Taecyeon merangsang lubang anus Cheondung, dibuka lalu dimaju-mundurkan jarinya dengan tempo lambat.

Cheondung merebahkan diri, mulutnya tak berhenti mengerang dan mendesah.

Cheondung menyuruh Taecyeon menghentikan tusukan dianusnya, Taecyeon mencabut kedua jarinya lalu memandangi anus Cheondung yang berkedut.

Cheondung meremas kemaluannya dan berharap kemaluannya melemas, namun kemaluannya semakin menegang dan terpaksa ia merancap penisnya didepan Taecyeon.

Taecyeon tersenyum, ia ikut merancap penisnya lalu diarahkannya ke anus Cheondung.

Cheondung berteriak, saat setengah bagian kemaluan Taecyeon berhasil menembus tubuh Cheondung.

"Tenanglah..." ucap Taecyeon perlahan.

Taecyeon memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat, tangannya merancap, dan meremas kemaluan Cheondung.

Mereka berdua mendesah.

Taecyeon melepas rancapannya, lalu menudukan diri menciumi bibir Cheondung. Cheondung membalas ciuman Taecyeon ganas.

-***-

Taecyeon meracau, sedangkan Cheondung fokus pada pinggulnya yang naik-turun diatas tubuh Taecyeon.

Keringat membasahi tubuh mereka, tercium aroma tubuh mereka yang membuat libido mereka semakin meningkat.

Taecyeon memposisikan diri agar dapat mengatur tubuh Cheondung yang naik turun.

"Ah! Ah! Ah!" desahan Taecyeon membuat semangat Cheondung yang naik-turun mengikuti tempo.

Cheondung berhenti, lalu menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan. Memaksa Taecyeon mendesah semakin hebat.

Tangan Taecyeon mulai aktif memberi rangsangan pada Cheondung, dicubit dan dirabanya puting Cheondung terkadang diremasnya hingga Cheondung menghentikan goyangannya.

Cheondung melepas kemaluan Taecyeon dan Taecyeon menyuruh Cheondung menungging. Sekali hentak seluruh kemaluan Taecyeon masuk menembus tubuh Cheondung.

-***-

Hentakan pinggul Taecyeon semakin lama meningkat dan rancapan tangan Taecyeon dikemaluan Cheondung mengikuti tempo hentakan Taecyeon.

"Ah! Ah! Rawrgh"

Mereka mendesah dan mengerang, Taecyeon meremas kencang kemaluan Cheondung sampai sperma Cheondung keluar dan membasahi lantai.

Taecyeon mengerang saat kemaluannya dijepit otot anus Cheondung, kemaluannya berkedut dan mengembang.

"Ah! Ah"

Sperma Taecyeon berhasil mengisi perut Cheondung dan mengalir keluar melalui paha Cheondung.

Taecyeon menunduk, menciumi tengkuk dan bibir Cheondung sembari membiarkan kemaluannya tertanam didalam tubuh Cheondung.

-end-

Jumat, 07 Februari 2014

What Is Love (Request)

#FanFiction ini adalah permintaan kisah dari @Chanhsung

Cast : Chansung of 2PM And Kyungsoo of EXO.

-***-

Aku menikmati hembusan angin malam sembari tetap melangkah melewati kesenyapan malam, dan masih terdengar deruan mesin kendaraan bermotor yang berlalu-lalang dijalan.

Meski waktu sudah tengah malam, deruan mesin itu tetap meramaikan jalanan yang kini sedang kulalui.

Aku sengaja berbohong padanya dan kabur darinya, aku ingin menikmati duniaku sendiri ditengah semilir angin tanpa adanya dia disisiku.

Aku ingin bebas, aku tak ingin lagi dikekang.

"Dimana kau?" aku menghentikan langkahku dan menjawab panggilan darinya. Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

"Kau! Dimana! Jawab aku!" bentaknya, aku menghela nafasku.

"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, aku pasti pulang" kuputuskan panggilannya lalu ku lepas baterai ponsel dan memasukannya ke dalam kantung sweater.

Ku edarkan pandanganku, berniat melanjutkan langkahku namun mataku terpaku pada bangunan tinggi dihadapanku.

Gedung apartemen yang rasanya pernah ku tempati bersama seseorang yang kusayang-meski entah siapa orang itu.

Mataku memanas, dadaku sesak. Aku merasa angin yang berhembus menembus kain sweater dan kaus hingga tulang rusukku.

Aku yakin, aku pernah bahagia di salah satu ruangan dalam apartemen itu.

Angin malam kembali berhembus, namun ku nikmati hembusan itu meski air mata dan isakan pelan terdengar dariku.

Malam dingin yang indah.

-***-

Aku menikmati pemandangan dari dalam bus yang kunaiki, sembari mengusap pelan keningku sendiri.

Masih terasa kecupan lembutnya dikeningku, dan aku tidak suka akan perlakuannya-yang kini duduk disampingku.

Sebelum aku menaiki bus bersamanya, aku diinterogasinya.

"Dari mana kau, semalam?"

"Mencari makan"

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" ia membentakku, aku terdiam.

Aku memandanginya kesal, ia menghela nafasnya dan berjalan ke arahku.

"Dengar, aku tak pernah ingin melihatmu terluka, aku menyayangimu" ia berlutut di depanku, menggapai kedua tanganku lalu diciumnya.

"Aku ingin menjagamu, tanpa kau terluka" aku terdiam, aku tetap memandang wajahnya.

"Rapihkan dirimu, sebentar lagi kita berangkat, dan semoga kau betah disana" lanjutnya dengan nada yang sangat lembut, lalu ia berdiri dan mengecup keningku.

Sejujurnya, aku tidak suka. Jong In sudah kuanggap sebagai sahabat, hanya sahabat dan tidak lebih.

Perhatian dan seluruh yang Jong In berikan kuanggap sebagai perhatian seorang sahabat. Entah apa yang ada dipikirannya, dan aku bersumpah takkan pernah ada rasa lain untuknya.

Aku menutup hatiku, karena aku sudah membukakannya untuk satu orang. Satu orang yang ku yakin ia masih hidup dan menungguku untuk menemukan dia.

Namun, aku lupa semua tentang orang itu. Aku hanya ingat aroma tubuhnya, kasih sayang darinya dan masa-masa bahagia bersamanya.

"Hey, kau tak apa?" Jong In menggenggam tanganku yang satu lagi, lalu dikecupnya.

"Ya, aku tak apa"

"Kau sakit? Wajahmu pucat" aku memalingkan muka, menatap matanya.

"Apakah ekspresiku seperti orang sakit?" Jong In diam.

"Jangan berlebihan memperhatikanku, urus urusanmu sendiri dan bayangkan nanti aku tak akan merepotimu lagi"

-***-

"Kyungsoo-nie!" terdengar seseorang berteriak memanggil namaku saat aku melangkah keluar dari bus.

Aku membuka mataku, kulihat sahabat kecilku berlari membuka tangannya. Aku ikut berlari mendekatinya dan berpelukan.

"Baekhyun-ah! Aku merindukanmu!"

"Aku tidak" aku memukul pundaknya, lalu kami tertawa bersama.

"Kau bisa ada disini, kenapa?" tanyaku, kami berjalan berdampingan.

"Aku tak sabar melihatmu, jadi kuputuskan untuk menjemputmu"

"Kau mengetahui aku ingin pulang?" Baekhyun mengangguk.

"Dari siapa?"

"Kai" aku diam.

"Ah ya, mana Kai?" aku mengedarkan pandanganku lalu mencari kemana Jong In.

Aku lupa jika aku ditemani Jong In.

"Ah sudahlah, lebih baik kita menunggunya dirumah saja, cepatlah aku tak sabar mendengar ceritamu tentang kampus di Seoul" ujar Baekhyun.

-To Be Continue Soon-