Part. III
-Wooyoung POV-
Entah mengapa aku dapat melakukan itu, bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diatas kenormalanku.
Aku mencintai pekerjaanku, namun jika seperti ini, sepertinya aku harus menghentikannya sementara waktu.
Aku tak ingin menuduh siapapun, namun Nickhun membuatku seperti ini. Seperti orang gila yang memang membutuhkan kasih sayang dan cinta.
Aku masih ingat ketika Nickhun mengajakku duduk dibangku taman, dengan alasan sudut yang sangat tepat untuk mengambil gambar. Aku menurutinya, namun bukan gambar yang kudapat, melainkan gulali kapas yang dibeli olehnya.
Itu pertama kalinya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat baik sepertinya. Wajah Thailandnya dan senyumannya membuatku betah untuk memandangnya.
-***-
Ku putuskan untuk mengajaknya menginap dirumahku, ia kebingungan mencari tempat tinggal yang cocok. Sangat kebetulan, aku hanya tinggal bersama furniture yang kumiliki.
"Woah, your place... So cozy" ujarnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Ani, ini berantakan menurutku" jawabku memandang wajahnya.
"Setidaknya kau memiliki ini semua" aku tersipu mendengar pujiannya, ku taruh tas kameraku dan meninggalkannya.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan di Seoul?" tanyaku dari dapur, membuatkan teh untuknya.
"Aku? Entahlah, aku dikirim oleh atasanku untuk bertugas disini"
"Ah? Benarkah?" kuberikan segelas teh padanya, ia tersenyum lalu meminumnya pelan.
"Eum, aku tak paham jalan pikiran atasanku..." ia terdiam, tatapan matanya kosong. Ia melihatku lalu membuang pandangannya.
Sungguh sangat kosong.
Aku mengambil kameraku lalu memotret dirinya yang terdiam mematung sambil menggenggam cangkir teh, ia sangat mempesona.
Satu, dua, tiga, empat gambar yang kuambil saat itu. Ya, sangat mempesona. Aku tak tahan ingin mengambil gambarnya, ia seperti mannequin dengan pose duduk.
-***-
-Nickhun POV-
Aku tak dapat memejamkan mataku, ada sesuatu yang harus ku katakan padanya. Aku tak dapat berbohong, ia terlalu baik.
Aku terpaku menatapnya yang tertidur, wajah kecilnya dan bibirnya membuatku semakin tak tega membohonginya. Mungkinkah ini cinta?
Aku memang baru pertama kali bertatapan muka dengannya, namun aku telah mengetahuinya lebih dulu.
Jang Wooyoung, photografer handal dengan sejuta 'taste' yang hanya dapat dinikmati photografer profesional. Sedangkan, aku hanya seorang model majalah dengan reputasi buruk.
Pemilik agensi menyuruhku berkenalan dengan Wooyoung, karena itu dapat menaikkan kepopuleranku. Namun, apa yang harus aku jawab ketika Wooyoung bertanya apa pekerjaanku sebenarnya?
Tuhan, tolong aku.
"Tidak!" aku terkejut ketika Wooyoung berteriak ditengah tidurnya, ia mengigau.
Aku mendekatinya, berjongkok mengamati wajahnya. Ia sangat lucu, sangat menarik hatiku. Aku tersenyum ketika melihat ia terbangun dengan mata terebelalak.
"Wae? Waegurae?"
"Aku mengigau?" tanyanya sembari menatap tajam wajahku.
"Sebenarnya..."
"Ya, aku tau... Aku berteriak" ia mengusap keningnya, lalu duduk menghadapku.
"Apa kau baik baik saja?" tanyaku, ia terdiam.
"Entahlah... Aku... Aku bingung..." ia menarik nafas panjang, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya berbeda. Tatapannya seperti orang yang tersesat.
"Aku mencintai pekerjaanku, sungguh! Aku tidak ingin meninggalkan pekerjaanku!" Wooyoung meneriaki ku, dipukulnya lenganku lalu ditariknya kerah baju ku.
"Aku hanya butuh waktu lebih untuk dapat memenangkannya! Aku hanya butuh seorang model nyata! Hanya itu! Kau dengar? Hah! Aku hanya butuh waktu banyak! Agar aku dapat tidur nyenyak malam ini!" ia menundukan wajahnya, ia menggenggam erat kerah bajuku.
Wooyoung menangis, ia meneteskan air matanya. Aku tak tega melihatnya seperti ini, sungguh. Aku memeluknya, mengusap kepalanya lembut.
"Tenanglah, ada aku disini" kuusap punggungnya lembut, ia menangis terisak dipundakku.
Ku lepas pelukannya, ku pandangi wajahnya.
"Ada aku disini" aku menghapus aliran air matanya, ia terdiam.
Wooyoung menatapku, mata kecilnya sembap. Kuangkat dagunya, ku usap bibir tipisnya.
Kudekatkan wajahnya, aku menciumnya lembut.
-continue-
ehhh ini keren masa :))
BalasHapus