Rabu, 20 November 2013

Visual Dream part. IV

Note : kisah ini merupakan kisah lanjutan Visual Dreams yang ada disitus ini.

Cast : -. @DBYuliani -. Lee Hayi (이 하이) -. Jay Park (재범) -. Kim Family
Cameo : -. Minzy (민지) -. Funzee (푼지)
Genre : Straight, Fantasy

"Dengarlah, semua penggemar permainan fantasy tidak ada yang seperti mu" terdengar suara yang membangunkan lamunanku saat itu.
Aku terdiam, ku edarkan pandangan dan tak melihat siapapun dikamarku. Aneh, sangat aneh. Darimana suara itu berasal?

"Kim?" CL mendekatiku, ia berdiri di ambang pintu lalu menyerahkan buku usang padaku.

"Semua menunggu mu dibawah"

"Ya, aku segera kebawah"

"Ku tunggu kau..."

Aku mengangguk pelan, tiba-tiba dada kiri dan lenganku perih. Aku baru menyadari jika dada dan lenganku diperban. Apa yang terjadi dengan ku?

-***-

Tepuk tangan dan sorak sorai para pejuang memenuhi ruangan tengah. Aku mematung di anak tangga melihat euphoria para pejuang kala itu.

Harus berbanggakah aku atau haruskah aku mengabaikan mereka semua?

Memang tidak banyak yang menyoraki aku sekarang, namun jika ku teruskan hidupku seperti ini, aku yakin semakin banyak orang yang akan bertepuk tangan.

"Kim!" penyihir kecilㅡsombong berlari kearah ku dan memeluk tubuhku erat.

"Ku pikir kau takkan selamat"

"Tenanglah, ia penyihir hebat tak mungkin ia terluka" ku dengar Funzee mendekat dengan Jay Park yang menuntun kursi rodaㅡcanggih kearah tangga. Aku tersenyum.

"Terima kasih, Kim..."Key menarik tangan dan menjabatku dengan erat.

"Kau menyelamatkan Taemin dan Seohyun, dan kau mempertemukan ku dengan Deby dan juga Shindong"

Aku terkekeh, aku melihat Deby dan Shindong melambaikan tangan.

-***-

Aku mengelilingi istana ini berjam-jam. Aku senang melihat pejuang yang dulunya berkumpul dirumahku kini bercengkrama dengan tawa dan kebahagiaan di istana ini.

Canda dan tawaan terdengar di setiap ruangannya.

Aku terkekeh saat Bom berusaha membuat CL, Sandara, Minzy tertawa. Diruangan lain, Pasukan 9 Rubah dan Perampok Jalan kembali akur. Mereka ditemani Shindong, dan Deby.

Daesung dan Seungri yang mengajarkan para pejuang lain menggunakan sihir dan pedang di sisi lain padang rumput yang dekat dengan istana, disisi lainnya Pasukan Vampir 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls berkumpul.

Ku langkahkan kaki menuju ruang terakhir yang belum ku kunjungi. Aku yakin Changmin, Funzee, Alex dan Jay Park berada didalamnya. Tebakan ku benar, mereka berada di ruangan yang dekat dengan kamar ku. Funzee memberi nama ruangan itu dengan sebutan 'Strategy Room'.

-***-

"Hi..." aku menoleh, ku lihat Deby mendekat dan memberikan ku sebuah tongkat ranting kecil yang sudah sangat usang.

"Ada apa?" tanyaku yang menerima tongkat itu lalu memandangnya.

"Ada yang ingin ku tanyakan..."

"Apa itu?"

"Apa kau menganggap dunia ini mimpi atau dunia ini nyata?" aku terdiam, ku taruh tongkat itu di atas meja didepanku.

"Maksudku... Aku bingung..."

"Ya, aku paham..." ku potong kalimatnya, kami saling memandang.

"Aku paham maksudmu, sepertinya kita terjebak... Namun, aku senang... Bukan hanya aku yang terjebak di dunia ini, aku melihatmu, aku melihat keluarga ku walau mereka telah tiada..."

"Bagaimana jika kita mati disini? Apakah kita..."

"Sudahlah, jangan tegang... Dan jika kita memang mati didunia ini... Artinya tugasmu didunia ini sudah selesai"

"Aku harap, aku tetap dapat bertemu dengan mu didunia nyata" kami berdua tersenyum.

"Terima kasih, Kim" aku mengangguk, wanita pemanah itu meninggalkan kamarku. Aku masih tersenyum kecil, karena sebenarnya ketakutan yang Deby alami sama dengan ketakutan yang aku bayangkan.

Bagaimana jika aku mati sebelum mengalahkan tentara merah? Aku terdiam, ku ambil tongkat usang yang Deby beri dan menaruh disela buku usang yang ku miliki.

Aku sempat terkejut, karena dihalamanㅡyang seharusnya kosong sudah tertulis 'A Start Without An Ending'

-***-

Aku terkejut melihat gadis berpakaian gaun putih dengan pita berwarna darah dilehernya sedang berdiri menatapku dari ambang pintu masuk istana. Gadis itu terus menatapku, lalu melebarkan tangannya seakan-akan ia ingin memeluk tubuhku.

Aku yakin, ia berniat melakukan sesuatu terhadap ku. Ia meringis lalu terkekeh, tubuhku mematung. Aku tak dapat bergerak, ingin segera aku berlari namun tubuhku tak dapat bergerak.

"Hayi!" Minzy berteriak dibelakang ku, lalu berlari dan memeluk gadis itu.

"Kak!" ia tertawa, dan tersenyum ketika Minzy memeluknya.

Aku membelalakan mataku. Kupikir, ia akan membunuhku dengan kekuatannya namun ternyata ia hanya melebarkan tangan untuk memeluk Minzy. Bahkan aku tak sadar jika Minzy ada dibelakangku.

"Kim! Kemarilah! Ini Hayi!" Minzy berteriak. Sungguh, aku ingin tertawa namun aku hanya dapat tersenyum mengingat gadis ini seperti ingin membunuhku.

Aku melangkah mendekati mereka.

"Hayi, perkenalkan ini..."

"Ya aku mengetahuinya, kalau saja kau tidak berteriak memanggilku, laki-laki ini mengira ia akan mati ditanganku"

Minzy dan gadis itu tertawa, aku terdiam.

"Sudahlah, jangan begitu... Kalian sesama penyihir harus saling bekerja sama" ucap Minzy.

"Baiklah, dengarkan aku... Akan kuberitahu yang lain kau datang berkunjung, silahkan saling mengenal" lanjut Minzy yang berlalu meninggalkan aku dan gadis itu.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya.

"Kim" aku menjabatnya, senyumannya menghilang ketika tangan menggenggam erat tangannya.

"Kau... Tentara merah..."

"Maksudmu?"

"Tidak, kau memiliki ikatan dengan tentara merah..."

"Aku...?"

"Kau... Dan keluargamu... Awal dari kehancuran..." apa yang gadis ini bicarakan?

Apa maksudnya?

"Lepas tanganku!" dia berteriak.

Aku terdiam, seketika pemandangan di istana yang ku tempati berubah. Tak ada lagi tanaman hias disekitar istana ini, suasana menjadi gelap dan mengerikan.

Aku terdiam, aku menatap wajah gadis iniㅡyang bernama Hayi berubah pucat. Matanya berubah merah menyala. Bibirnya mengucapkan mantra yang entah apa artinya.

"Lihat di ambang pintu!" ucapnya.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan gaun bangsawan berwarna putih sedang menggendong anak laki-laki.
Wanita itu menangis, sama seperti anak kecil yang berada di dadanya.

Pintu istana terbuka lebar, dengan Jay Park dan tentara merah yang berdiri berdampingan.

"Kau datang rupanya" Jay Park meringis.

"Lihat, tangisannya begitu indah" sang tentara merah menimpali.

"Hey! Hentikan!" ku arahkan pandanganku ke belakang tubuh, ku lihat Jea, dan Narsha berdiri disana.

"Jangan ganggu anak itu dan ibunya"

"Lepaskan mereka!" Jay dan rekan tentara merahnya tak menghiraukan ocehan Jea dan Narsha. Wanita dibawa masuk dan Jea juga Narsha berlari mengikutinya.

Sayangnya, mereka berdua tak dapat mengikuti Jay dan tentara merah. Pintu istana tertutup dan disegel dengan mantra juga monster Cerebrus yang pernah ku kalahkan.

"Sial! Kita harus beritahu yang lain!"

Lalu pandanganku kabur, aku memandang wajah Hayi yang masih pucat.

"Lihat sekelilingmu!" ujar Hayi.

Sekelilingku berubah menjadi penginapan yang pernah aku kunjungi.

"Kita harus meminta tolong!" Gain berteriak.

"Aku tak menyangka Jay akan seperti itu..."

"Pada siapa kita meminta bantuan?"

"Dengarlah, dikota ada Pasukan 9 Rubah! Memintalah pada mereka"

"Dengar, mereka tak akan bisa dan tak akan percaya"

"Kenapa?"

"Kita mahkluk yang hidup lebih dari ratusan abad! Mereka tak akan mungkin melakukannya"

Aku semakin terdiam. Aku baru mengetahui jika Keluarga Vampire 2PM, 2AM dan Brown Eyed Girls pernah berdebat sehebat ini.

"Jangan berkedip! Lihat belakangmu!"

Aku membelalakan mataku. Wanita yang tadi menggendong anaknya kini sedang dirantai. Anak kecil yang digendongnya bermain diatas lantai.

"Aku akan memusnahkan anak ini!" ucap tentara merah.

"Jangan, ku mohon! Hentikan..." tentara merah itu tertawa.

"Jay, bungkam wanita itu! Bunuh jika kau ingin"

"Kulakukan dengan senang hati" Jay tertawa, ia mengeluarkan taring dari giginya dan memanjangkan jarinya.

"Jangan sentuh anak dan cucuku!" tiba-tiba, cahaya putih terang menyilaukan datang.

Aku tercengang saat menatap wanita paruh baya berdiri didepan wanita yang dirantai, ketika cahaya menghilang.

Nenek! Nenek ku melindungi wanita itu.

Tongkat kecil kayu diayun pelan oleh nenek ku. Tubuh Jay mematung untuk sesaat, dan ia mendorong tubuh Jay hingga terpental kedinding. Jay tak dapat berbicara bahkan bergerak. Aku yakin Jay tak sadarkan diri.

"Kau! Ternyata kau dalam pengaruh setan! Terkutuk! Aku menyesal merestui mu dengan anak ku" ucap nenek dengan nada marah.

Dengan sekali ayunan tongkat kecilnya, rantai yang mengikat tubuh, tangan dan kaki wanita itu meleleh.

"Benarkah menyesal? Bukankah kau selalu membanggakanku ibu?"

"Jangan banyak bicara kau! Anak ku tak akan mudah terpengaruh setan sepertimu! Kau bukan anak ku, anak ku sudah mati ketika ia bertugas membasmi kejahatan!"

"Tidak ibu, aku masih disini... Di hadapanmu"

"Diam kau! Terkutuk!" wanita yang tadi dirantai berteriak dan mengeluarkan sihir api yang pernah ku keluarkan.

"Suamiku tidak sepertimu!" wanita itu marah. Berkali-kali ia mengeluarkan bola api dari tangannya.

"Pergi kau dari tubuh suamiku! Biarkan suamiku tenang disurga!" nenek ku dan wanita itu membaca mantra, terlihat sebuah lubang hitam kecil dari belakang tubuh sang tentara merah.

Tentara merah itu terdiam, lalu tertawa kencang.

"Aku tak akan pernah mati, lubang hitam ini hanya membuatku kembali ke masa lalu" tawa tentara merah itu semakin kencang.

"Kau salah! Lubang ini akan mengantarmu kembali ke neraka!" teriak nenek.

"Ibu, mantra! Ucapkan mantra yang pernah kau tujukan padaku!" ucap wanita itu. Nenek mendekati tentara merah dengan tangan kanan yang terbuka dan tangan kiri menggenggam tongkat.

Mulut nenek membaca mantra tanpa suara hingga akhirnya tentara merah itu terdiam dan membatu. Sekali ayunan pelan ditangan kirinya, tongkatnya mengetuk kepala patung tentara merah.

Terlihat retakan kecil dari kepala lalu patung itu terpecah belah dan terhisap oleh lubang hitam didinding.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Hayi.

"Jangan menatapku!" Hayi berteriak, ia menangis. Namun, darah yang mengalir dari matanya.

"Hayi! Hayi!" aku menggenggam tangan Hayi, hingga tak sadar aku berdiri berdua dengan Hayi diruangan yang gelap.

Aku terdiam. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemana nenek? Mana wanita itu dan anaknya? Mana Jay?
Aku mematung dan memandangi sekelilingku.

Tak ada apa apa, hanya kegelapan.

"Pejamkan matamu... Lalu bukalah" aku mendengar suara Hayi menggema, namun saat ku menatap wajah Hayi, ia hanya terdiam dengan mata yang masih mengalirkan darah.

"Jangan tatap aku! Lakukan apa yang aku suruh!"

Aku memejamkan mata, lalu membukanya.
Saat aku membuka mataku, terlihat kembali pemandangan indah disekitar istana ini.

Tanaman hias, cahaya matahari, juga canda dan tawa yang menghiasi istana ini kembali terdengar. Aku memandang wajah Hayi.

"Aku Hayi" ia menjulurkan tangannya. Aku terdiam.

Hayi mengerenyitkan dahinya.

"Kau tak ingin menjabat tanganku?" ucapnya dengan santai.

Aku tersenyum.

"Kim" ujarku tanpa menjabat tangannya.

"Baiklah sesukamu" ia tertawa, "Hey, ajak aku keruangan Minzy!" lanjutnya.

Aku mengangguk. Ku antar gadis cenayang ini ke ruangan Minzy. Entah apa yang ingin ditunjukannya padaku, namun aku berterima kasih padanya karena aku memiliki jawaban yang tak pernah aku minta.

-***-

Aku terdiam memandangi padang rumput sambil menikmati kilauan senja matahari. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku memang keturunan penyihir kuat, tetapi jika musuh ku adalah ayahku sendiri, apa yang harus ku perbuat.

Kegilaan ini tak akan mungkin bisa berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar