Rabu, 13 November 2013

Satu Hari

Note : Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika dirasa mengganggu. Terima kasih, regards, Author.

Kisah ini pula pernah dibuat dalam 5 bagian yang tak selesai pada blog ini yang berjudul "One Day" dan kisah ini, Author mengubah beberapa bagian menjadi kisah yang tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang agar tidak menjadi kisah yang panjang.

Cast : Nickhun and Wooyoung of 2PM.
Genre : Yaoi Explicit, Mature Content, Adult

Peringatan! Cerita ini mengandung unsur tema Yaoi/Gay Eksplisit atau digambarkan secara fulgar. Silahkan tutup halaman ini jika merasa terganggu dan membuat jijik. Ini hanya kisah fiksi yang dibuat oleh fans. Selamat membaca. Terima kasih, Regards, Author.

-Satu Hari-

Memang, yang muncul pertama kali dihati manusia adalah kecurigaan. Aku tak memungkirinya.
Aku menaruh curiga ku pada orang itu, yang setiap harinya membuatku seperti orang gila.

-***-

[2 Months before, Day]
Aku mengenalnya saat aku sedang memburu pemandangan ditaman kota. Tak sengaja aku melihatnya melalui lensa kamera, ketika ia sedang tersenyum sembari memakan permen gulali kapas.

Tanganku refleks menekan tombol pada kamera agar mendapatkan gambarnya.
Satu, dua, tiga gambar aku dapatkan tanpa sepengetahuannya. Aku memeriksa hasil jepretan pada kamera dan sedikit tersenyum saat mengetahui hasilnya mendekati sempurna.

"Gulali?" aku membelalakan mataku ketika objek yang aku curi melalui kamera menawarkan permen gulali kapas.

Aku terdiam, aku tersipu sesaat lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit.

-***-

[3 Months before, Night]
Nickhun. Tangannya menjabat ku dengan erat lalu menggoyangkannya pelan.

Aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Nickhun ketika ia sedang mengetuk pelan pintu rumahku. Aku tak mengerti bagaimana ia dapat menemukan alamat rumahku dengan mudahnya.

"Cukup panggil aku, Khun" ia tersenyum.

Aneh, aku merasa aneh padanya.

"Jadi... Kau Wooyoung sang fotografer handal itu?" tanyanya, ia kembali tersenyum.

"Senang bertemu denganmu, aku Khun model pertamamu" lanjutnya.

Sejak saat itu, Khun menginap dikediaman ku.

Dia bercerita tentang alasannya kenapa mengejarku hingga datang ke Busan. Nickhun diutus oleh presiden agensi daerahnya untuk menemukan seorang fotografer handal, dan ia menemukan namaku disebuah situs fotografi yang menulis namaku sebagai pemotret pemandangan yang handal.

"Aku tak menyangka jika aku dapat menemukanmu" ucapnya dengan riang.

"Tempat tinggalmu begitu nyaman dan sangat tenang. Tidak sama dengan tempat tinggalku. Kau..."

"Teh atau kopi?" aku memotong kalimatnya, memandang wajahnya sesaat lalu melangkah ke arah dapur.

"Teh, kau benar-benar sendiri?" lanjutnya.

"Ya... Selamat datang di duniaku" jawabku yang menyodorkan dua gelah cangkir teh hangat. Aku melangkah meninggalkannya membuka pintu kaca agar angin sejuk malam hari dari teras belakang rumah masuk ke dalam.

Ia terdiam, aku mengajaknya duduk di teras belakang rumah. Nickhun mengikuti ku dan duduk bersila menghadap ke arah halaman.

Aku terpesona memandangnya, kemeja putih gading yang dikenakan dengan lengan yang dilipat hingga ke sikut membuatnya begitu menarik.

"Tunggu disini..." aku mengambil kamera yang kutaruh di meja makan dan mengambil gambar Nickhun dari arah belakang.

Lalu aku kembali duduk dihadapannya, dan mengambil gambar Nickhun yang sedang meminum teh.

"Kau memang pantas menjadi seorang model" puji ku.

Nickhun tersenyum. Malam itu kami berbincang panjang mengenai diri masing-masing.

-***-

Andai saja, saat itu aku tak mengenalnya. Mungkin aku tak akan merasa sesedih ini. Aku menyesal, sangat menyesal. Bukan karena mengenalnya, namun karena perasaan yang ku libati ketika mulai mengetahui siapa Nickhun sebenarnya.

-***-

[1 Months before, Night]
"Apa ini! Kau bilang ini bagus? Majalah kami tak akan menerbitkannya!" bentak pria paruh baya dihadapan ku. Aku terdiam menatap wajahnya.

"Apa yang terjadi padamu, aku paham kau hanya seorang pekerja paruh waktu disini. Tapi, tak seperti pula hasil yang ku inginkan!" lagi, kali ini air liurnya membasahi wajah, hasil foto, dan kamera ku.

"Sepertinya, kau harus banyak belajar bocah! Mulai besok, aku tak ingin melihatmu dan hasil foto mu ditempat ini! Datang kembali jika kau sudah paham apa yang namanya fotografi!" lanjut pria itu yang membentak dengan nada tinggi.

Ia merobek hasil fotoku dan membakarnya di hadapanku.

Emosiku meningkat, tubuhku terbakar, kupejamkan mataku dan ku kepalkan tanganku. Ingin sekali aku menghajar wajahnya, menendang mulutnya dan melempar tubuhnya dari ruangan kerja.

Ketika aku membuka mata, yang ku lihat Nickhun sedang memandangi wajahku.

"Ada apa dengan mu?" tanyanya.

Aku terdiam. Ku edarkan pandanganku dan kembali memejamkan mata.

Mimpi buruk.

"Ada apa dengan mu, Wooyoung?" Nickhun memajukan tubuhnya, ia memandang ku seakan aku bukan manusia.

"Apa tadi aku mengigau?" tanyaku sembari mendudukan tubuh. Ku sadarkan tubuhku ke dinding, mendorong sedikit tubuh Nickhun lalu memandang wajahnya.

"Sebenarnya... Kau berteriak..." aku menarik nafas panjang. Ku usap keningku dan wajahku. Aku terdiam.

"Maafkan aku jika kau terganggu karena ku..."

"Bukan., ini bukan karenamu... Ini karena atasan ku yang membenci hasil fotoku" kami berdua terdiam. Hanya terdengar suara dengusan nafas dari hidungku.

"Kau bermimpi buruk..." Nickhun memandangku. Aku menganggukan wajah, dan membalas tatapan matanya.

"Hampir setiap malamnya aku bermimpi yang sama..."

"Dan aku baru mendengar kau berteriak pada malam ini..."

Aku menundukan wajah. Aku merasa bersalah padanya.

"Maafkan aku... Aku menganggu waktu tidurmu" Nickhun tersenyum.

"Tidak, aku tak apa... Aku hanya khawatir padamu" ia menatapku lekat lekat. Seakan ada yang ingin ia ucapkan padaku.

"Kau..." aku membelalakan mataku, kalimatku terpotong ketika Nickhun mencium bibirku.

Nickhun mencium dengan lembut bibirku.

Tanganku menggenggam bahu Nickhun, mendorongnya pelan namun tubuhnya semakin dekat. Aku ingin menolaknya, namun tubuhku kaku. Aku hanya dapat diam dan menerima ciuman bibir Nickhun yang lembut. Mataku terpejam, tak lagi aku mendorong tubuh Nickhun tetapi aku memeluk lehernya.

"Maaf..." ucapnya memandangku. Wajah dan telinganya memerah..

"Aku hanya tak tega melihatmu seperti tadi, karena aku..." ia duduk dikedua lutut ku.

Kami diam, seribu bahasa.

Lalu ia berdiri, dan hendak meninggalkanku. Ku tarik kaus dalamnya, ku peluk tubuhnya dari belakang, ku taruh kepalaku dipundaknya.

"Jangan... Bantu aku melupakan mimpi burukku..." Nickhun membalikan tubuhnya perlahan, menatap wajahku dan kembali menciumku.

Aku menikmati perlakuannya, tangannya mengusap punggungku dan membuka kancing piyama yang aku kenakan. Bibirnya melumat, menghisap dan mengulum bibir juga lidahku.

Kami bertukar air liur.

Perlakuannya membuatku seperti melayang. Dengusan nafasnya mengenai hidungku, erangan dan rintihan pelan membakar semua emosiku. Aku terangsang, sangat terangsang.

Entah siapa yang memulai, kami sudah bertelanjang. Kakiku diangkat Nickhun dan kulingkarkan dipinggangnya. Kemaluan kami saling menghimpit dan dada kami saling bergesekan. Buliran keringat sudah membasahi tubuh kami. Aku yakin, kami sudah dimabukan asmara.

"Izinkan aku..."

"Lakukan apa yang kau suka"

Nickhun berbisik pelan, dan aku menjawabnya.

Lidahnya kini bermain ditelingaku, melumat buliran keringat yang mengalir. Membuat tanda merah dileher dan dadaku. Ia mengangkat tubuhku dengan tangannya, ia membawaku ke dinding dan menghimpit tubuhku.

Kembali ia mencium bibirku dengan nafsu. Kedua jarinya bermain dilubang anusku dan menusukannya pelan. Ia merangsangku dengan menghisap dan menggigit kedua puting dadaku bergantian.

Aku mengerang dan mendesah.

Kemaluannya menonjok perut dan terkadang menggesek pinggulku. Ia berusaha mengangkat tubuhku tinggi-tinggi agar kemaluannya dapat menembus lubang anusku.

Aku berteriak kencang ketika miliknya berhasil masuk dan merobek anusku. Perih, namun entah kenapa tubuhku bereaksi lain dan semakin membuat aku bernafsu.

Hentakan demi hentakan ia lakukan hingga kami benar-benar klimaks.

-***-

[One day before, Day]
Aku paham, yang pernah aku lakukan dengannya malam itu salah. Namun, aku harus berterima kasih padanya karena sejak itu aku tak lagi mengalami mimpi yang serupa.

Namun, ketika perasaanku semakin terlibat. Aku semakin yakin jika ada yang aneh darinya. Aku berhasil menjadi seorang fotografer disebuah studio yang berani membayar lebih upahku, dan aku berniat mengajak Nickhun untuk menikmati hasil yang aku dapatkan.

Aku baru mengetahui jika Nickhun bukanlah orang yang baik. Nickhun adalah penipu ulung yang memanfaatkan ku agar ia mendapatkan hasil taruhan yang lebih besar dari hasil upahku.

Aku mengetahui hal itu ketika aku berjalan pulang kerumah. Ku lihat segerombolan orang sedang menyalami Nickhun. Aku mengenal salah satu diantara mereka, kawan lama yang aku benci karena mengetahui jika ia adalah pengedar obat terlarang.

Bodohnya aku, aku mudah percaya semua kalimat-kalimatnya. Aku memang bodoh.

Ketika Nickhun sampai rumah, aku mendiaminya.

"Wooyoung-ah... Aku ingin berpamitan denganmu"

Aku tak menjawabnya, hatiku sakit.

"Apa kau tak apa ku tinggal?"

Aku masih tak menjawabnya, rasa kecewa semakin membesar.

"Wooyoung-ah, aku ingin pergi..." aku melangkah mendekatinya, menyiram dadanya dengan air hangat yang ku persiapkan untuk membuat teh.

"Ada apa denganmu!" ia berteriak, tangannya mengepal, ku sodorkan pipiku.

"Hajar aku, agar kau semakin puas menyakitiku" ucapku. Kami saling bertatapan. Mataku memanas.

Nickhun terdiam.

"Kau mengecewakan ku! Kau memanfaatkan ku! Kau menjadikan aku taruhan mu! Dasar idiot!" aku mencengkeram kerah bajunya, mendorong tubuhnya hingga mengenai dinding.

Emosiku meningkat, mataku memanas. Sekilas teringat dalam kepalaku saat Nickhun memeluk ku dari belakang sembari menyanyikan lagu 'aku milikmu' .

"Kau memang brengsek! Kau penipu ulung!" dadaku sesak, aku menangis tanpa terisak.

Lagi, aku menatapnya sinis lalu aku mendekatinya dan memukul dadanya. Nickhun tak berontak. Ia hanya diam.

"Kau... Brengsek" aku terduduk lemah diantara kakinya, aku lemas.

"Pergi dari tempatku... Aku muak melihatmu..." ujarku dengan nada lemah.

-***-

[Now, Day]
"Ini teh mu..." aku terkejut dan segera mengedarkan pandangan ke sekelilingku, namun tak ada siapa siapa disekitarku.

Aku merasa mendengar suara Nickhun.

Lagi, sekilas aku terbayang wajah Nickhun dan hari-hari saat kami berdua. Sayangnya, aku terlanjur kecewa padanya dan aku tak ingin mengulangi hari-hariku bersamanya.

Walau saat itu aku tak memiliki hubungan dengannya, aku senang dapat mengenal Nickhun. Nickhun orang yang baik, aku sangat yakin dia baik.

Mungkin, karena pengaruh lingkungannya maka Nickhun seperti itu. Andai saja, dia tak menjadikanku barang taruhan. Mungkin aku sudah menjadikannya model terkenal yang akan selalu ku foto dan ku pajang gambarnya disitus resmi milikku sendiri.

-fin, end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar