Daniel bodoh! Kenapa harus beralasan sakit dan membiarkan aku berbelanja dengan Noval?
Apa yang direncanakannya? Hingga akhirnya aku dan Noval harus berbelanja.
Bodoh! Daniel bodoh! Aku sangat kesal!
"Sudah siap?" Noval bertanya padaku yang menggerutu karena kesal.
Aku terpaksa duduk di jok motor yang dipinjamkan pada Noval.
"Ya, cepatlah, aku tak betah berlama-lama di pasar nanti" jawabku ketus.
"Pegangan padaku" ujar Noval.
"Dengarkan aku, jangan menganggap motor ini seperti milik mu! Ingat! Jangan, menganggap motor ini seperti milik mu" aku meninggikan nada bicara.
"Kenapa?" Noval mulai menyalakan mesin motor.
"Karena biasanya...Ak!" aku memeluk perut Noval erat saat ia mengambil kecepatan tinggi sebelum aku menyelesaikan kalimat ku.
"Noval! Bodoh!" teriak ku.
Aku berteriak sepanjang jalan dan mengeratkan pelukan, Sementara Noval asik bermain dengan kecepatan motor, menyalip kesana-kemari seakan jalan raya milik sendiri.
Baru sampai tempat parkir pasar aku berhenti berteriak. Aku memukul pundak Noval berulang-ulang dan semakin keras.
"Bodoh! Aku hampir mati! Bodoh! Bodoh!" keluh ku sembari turun dari motor.
"Lebih baik kau tabrak aku daripada kau harus membonceng ku dengan kecepatan tinggi!" ucapku sembari meninggalkan Noval.
Ku dengar Noval tertawa puas, aku hanya menggerutu hingga masuk ke dalam pasar.
Noval berjalan disamping ku dan menggandeng tangan ku, lalu digenggamnya erat. Ia menuntun ku menjauhi tanah yang basah dan menjaga ku agar tidak bersenggolan dengan orang lain.
Terkadang Noval merangkul ku, dan tidak membiarkan aku berbelanja sendirian.
Ada sedikit rasa risih, namun ada sedikit rasa terlindungi saat seperti ini.
Noval melindungi ku, benar-benar menjaga ku.
"Noval, sepertinya ingin hujan... Lebih baik kita pulang" ajak ku.
"Barang belanja sudah lengkap?"
"Belum, tinggal beberapa sayuran dan bumbu dapur"
"Cari lagi ya, baru kita pulang" aku mengangguk.
Aku dan Noval berputar mengelilingi pasar, mencari bumbu dapur dan sayuran yang belum aku dapat.
Angin berhembus kencang, menyebarkan bau basah. Aku sangat yakin, sebentar lagi hujan akan turun.
Aku cemas. Aku tak ingin tubuhku basah karena hujan.
Aku berusaha merayu Noval agar segera pulang. Namun, Noval tetap memaksa ku untuk mencari bahan masakan yang kurang.
Suara petir terdengar dimana-mana, kilauan cahaya kilat pula terlihat di depan mataku. Aku terdiam.
Aku menarik baju Noval dan membujuk Noval untuk menyudahi belanja, aku takut.
"Ku mohon, aku ingin pulang..." ujarku lemas.
Noval menatap wajahku.
"Sebentar lagi ya, lagipula masih pagi, jikalau hujan pun, tak akan mungkin sampai siang"
"Lalu, kau akan mengajakku berteduh hingga siang nanti?" Noval diam.
"Aku pulang sendiri!" tangan ku ditarik Noval.
"Baiklah kita pulang" Noval menatap ku dalam-dalam. Aku membalas tatapan Noval sendu.
Lagi, aku melihat kilauan cahaya kilat. Aku memejamkan mata, dan menutup kedua telingaku. Aku yakin hujan akan turun deras.
Dugaan ku benar, terdengar suara petir yang menggelegar sebelum hujan turun.
"Ku mohon, aku ingin pulang" ucap ku lemas.
Angin dingin menusuk tulang, rintik hujan membasahi tubuhku. Lagi, suara petir terdengar kencang.
Aku berteriak.
"Tenang... Hey tenang, ada kakak disini" bisiknya lembut sembari memelukku erat.
Dibawah guyuran hujan, Noval memeluk tubuhku yang basah.
"Kak, ku mohon... Pulang..." aku memandang wajah Noval, aku menangis.
Jari Noval mengusap aliran air mataku, lalu memeluk ku lagi.
"Ya, kita pulang... Tenang, ada kakak disini... Jangan takut, kakakmu ada disini"
Hujan turun semakin deras. Aku memeluk Noval. Menyembunyikan wajahku di dadanya.
Kak, aku ingin pulang.
-***-
Aku dibangunkan Daniel saat menjelang malam. Tubuhku lemas, aku sulit membangunkan diri.
Daniel membantu ku, lalu meminta maaf padaku.
"Aku kesal padamu..." ujarku lesu.
"Maaf..." Daniel memeluk ku.
"Lepas, aku ingin beristirahat"
"Makan dulu, aku membuatkan bubur untukmu" bisiknya. Daniel belum melepaskan pelukannya.
"Ya, aku makan dulu baru beristirahat"
"Jangan istirahat dulu, kita belum bermesraan beberapa hari ini"
"Mesum!" aku mendorong tubuh Daniel hingga pelukannya terlepas.
"Bisa-bisanya kau memikirkan hal mesum disaat aku seperti ini, lama-lama ku potong adik kecil kebanggan mu, bodoh" bentak ku dengan suara parau.
Daniel terkekeh.
Aku terdiam.
"Daniel..." aku memandangi Daniel yang sibuk menyiapkan bubur untuk ku.
"Ya?" Daniel menatap ku. Mata kecilnya menusuk hatiku. Seakan menelanjangi ku.
"Kau benar-benar menyukai ku?" Daniel tersenyum. Mata kecilnya ikut tersenyumㅡmembentuk setengah lingkaran seperti film animasi.
"Sudahlah, jangan pertanyakan hal itu, lebih baik kau makan dahulu" jawabnya.
Aku menolak suapan Daniel untuk pertama kalinya.
"Kenapa? Tenang saja, aku tidak meracunimu..."
"Aku tidak ingin makan sebelum kau menjawab" Daniel kembali tersenyum.
"Jika ku jawab, apa kau akan meninggalkan ku?" aku terdiam.
Apa maksudnya?
"Dengar, aku yakin kau begitu kehilangan ku saat aku pergi dari mu... Sekarang, jika aku menyukai mu dan benar-benar menyayangi mu, aku takut sakit hati... Seperti mu... Aku belum sukses mendapatkan hati mu... Maksud ku hatimu yang seutuhnya..." aku diam.
"Aku takut kau akan membalas ku, saat aku sudah menyatakan perasaan ku dan kau akan meninggalkan ku... Hanya itu..." aku tetap diam.
"Sudahlah, ayo makan" Daniel tersenyum.
Aku membuka mulut dan menerima suapan Daniel.
Daniel, hanya itu yang kau takutkan?
Apa pantas ku sebut kau kekasih ku?
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar