Senin, 14 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 6)

Aku menyandarkan punggung di dadanya, sedangkan ia merebahkan punggungnya di dinding beralaskan bantal, tangannya menyelip melalui celah lengan ku lalu memeluk tubuh sembari mengusap perutku.

Kepalanya bersandar di kepalaku sementara kepalaku menyandar di bahunya.

Kami berbincang-bincang dan membagi cerita setelah menyelesaikan makan malam.

Aku menceritakan semua tentangku pasca berpisah dengannya. Aku menceritakan apa pekerjaanku, dimana aku tinggal, dan menjawab semua pertanyaan yang ia ucapkan.

Daniel bercerita jika ia menghentikan kuliahnya dan kembali pulang ke ibukota, ia memutuskan untuk berkerja.

Aku kagum padanyaㅡdi usianya yang sama denganku ia mampu mendirikan usaha yang kini telah berkembang. Dan dimataku ia telah menjadi orang yang sukses.

"Jadi, sekarang apa yang ingin kau lakukan?" kami saling memandang.

"Entahlah, aku juga tak tahu dimana aku harus tinggal"

"Kenapa kau tak kembali ke tempat Noval" aku menggelengkan kepala.

"Aku tak ingin"

"Kenapa?"

"Aku membenci Noval"

"Hanya karena ia berubah?" aku menarik nafas, aku mengalihkan pandanganku lalu memainkan jari jemari Daniel yang menumpu diatas perutku.

"Aku hanya sakit hati padanya... Ia selalu menyalahi ku, memarahi ku bahkan mengekang ku, ia juga memanggil nama asli ku..."

Daniel terkekeh.

"Kenapa kau tertawa?"

"Kau lucu, hanya menyebutkan nama asli kau menamparnya"

"Dengar, namaku Angga, bukan nama yang Noval sebutkan, lagipula aku membenci nama asliku!" aku mengerutkan bibir dan menggembungkan pipi.

"Konyol sekali kau ini, seberharga itu kah nama pemberian ku?" aku mengangguk.

"Benarkah?"

"Ya, karena nama pemberian mu membuat ku seakan terlahir kembali..."

Ia terdiam, begitupun aku.

-***-

Waktu sudah menunjukan tengah malam. Namun aku masih berbincang-bincang dengannya.

Aku masih ingin melepas kerinduan ku padanya. Beberapa tahun ini aku tak pernah melihatnya, dan ini kesempatan ku untuk melepas rinduku padanya.

Kami memutuskan merebahkan diri di atas kasur, dengan posisi aku membelakangi Daniel.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku untuknya, namun aku belum berani bertanya.

Lagipula, aku masih memikirkan bagaimana hidupku esok dan lusa.

"Daniel..." panggilku lembut.

"Ya?"

"Aku bingung"

"Kenapa?"

"Banyak yang aku pikirkan... " ku dengar ia menahan tawa.

"Maaf jika terdengar konyol, tapi bolehkah aku tinggal di sini?" ia terdiam.

Aku menghela nafas, lalu membuangnya perlahan.

"Sudahlah, pejamkan matamu lalu tidur" ujarnya menjawab pertanyaan ku.

"Aku tak bisa..." kami berdua terdiam.

"Lalu apa yang kau ingin lakukan?"

"Entahlah, aku hanya masih berpikir bagaimana aku hidup besok"

"Bukankah kau masih bekerja?" aku menggelengkan kepala.

"Ah ya, aku lupa, Noval menyogok atasanmu agar kau berhenti dari pekerjaanmu" aku mengangguk.

"Aku bingung... Rasanya aku ingin mati saja, daripada seperti ini..."

"Hey... Jangan putus asa..." ku rasakan tangannya memeluk tubuhku.

Aku menumpu tangan ku, di atas tangannya yang memeluk ku.

"Aku lelah... Lagipula jika aku mati... Tak akan ada yang mencari ku"

"Apa maksudmu? Kau lupa jika kau mati, artinya kau meninggalkan aku?" aku menoleh. Ku lihat wajahnya yang tersenyum, lesung pipit dan matanya yang membentuk lengkungan membuat ia semakin menarik.

"Kau pikir, dulu kau tak meninggalkan aku?" tanyaku dengan nada yang sedikit ku naikkan.

Aku membalikan tubuh ku berhadapan dengannya, dengan tangan Daniel yang masih memeluk pinggang ku.

Daniel tersenyum manis, menyembunyikan wajah bersalahnya.

"Jangan menyembunyikan rasa bersalah mu, jawab aku, kau pikir dulu kau tak meninggalkan aku?" Daniel tetap dia sambil tersenyum.

"Menyebalkan, aku membencimu jika seperti ini"

"Sudahlah, ayo tidur" tangan Daniel mengusap punggungku sembari tetap tersenyum memandangku.

Aku menatapnya, lalu tersenyum dan memejamkan mata. Aku mendekatkan diri dan menyembunyikan wajahku di dadanya, dengan tangan ku memeluk tubhnya erat.

Ia memelukku semakin erat, dan usapan tangannya turun ke kedua belah pantatku. Lalu dengan sengaja tangannya menyelip ke dalam celana ku dan mengerjai belah pantat ku.

"Lakukan itu dengan kekasih mu" ujarku tanpa bergerak, dan dengan nada ketus.

Ia tertawa pelan.

"Sudah, tidurlah" Daniel mengeluarkan tangannya, lalu mendekapku semakin erat sebelum ia mengecup keningku.

-To Be Continue Soon-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar