Kamis, 17 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 10)

Aku mengejapkan mata dengan posisi tubuh yang masih berbaring. Aku mencium aroma khas yang membuatku terbangun.

"Kau sudah sadar?" aku bangkit dari tidur ku, sambil mengusap mata.

Ku lihat Daniel sedang berkaca dan membenahi diri.

"Aku pingsan?" tanyaku.

Daniel tertawa.

"Kau tertidur lebih lama dariku, dan kau melewati makan malam" mataku terbuka lebar mendengar Daniel berbicara.

Astaga. Aku baru ingat, aku memiliki janji dengan ibu Daniel.

"Bagaimana ini? Aku sudah berjanji dengan ibu mu" ucap ku sedikit panik.

"Ibu menunggu mu di kamar, datang saja ke kamarnya jika kau merasa bersalah" ejek Daniel.

Daniel melanjutkan berkaca lalu memandang ke arah ku.

"Dengar, lebih baik kau mandi lalu setelah itu langsung ke kamar ibu, aku harus mengantar adik ku berjalan-jalan" lanjut Daniel sebelum pergi meninggalkanku.

-***-

Aku mengetuk pintu kamar ibu Daniel setelah membilas diri. Ibu Daniel tersenyum menatap ku, lalu menyuruh ku masuk.

"Ibu maaf, tadi..."

"Sudahlah, jangan bahas itu, ibu paham" ibu Daniel memotong kalimat ku, tangannya menarik tanganku dan menyuruh ku duduk di sampingnya.

"Angga, kau suka dengan Daniel?" aku diam.

Sebenarnya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan ibu Daniel, pertanyaan konyolㅡmenurut ku.

"Jujurlah..."

"Hm... Bagaimana ya aku menjawabnya..." ku lihat sang ibu tersenyum.

"Jangan malu, tadi Daniel cerita kalau dia sudah menyatakan perasaannya" wajah ku memanas, aku malu.

"Daniel bercerita banyak tentang kamu, sepertinya Daniel memang benar-benar menyukai mu" aku tersenyum.

"Lalu Daniel memarahi ibu, katanya karena ibu, Angga benci pada Daniel, benar begitu?" aku mengerenyitkan dahi.

"Kata Daniel, andaikan Daniel tidak pulang kesini setelah lulus sekolah mungkin ia akan bersamamu di ibukota"

"Memang sebenarnya apa yang terjadi bu? Sampai Daniel harus pulang ke sini sesudah kelulusan" ibu Daniel menarik nafas.

"Ayahnya, meninggal dunia... Daniel membantu ibu mengurus semua urusan yang menyangkut ayahnya..." aku terdiam.

Ibu Daniel memandang sebuah portrait keluarga yang terpajang di tembok, aku baru menyadari jika ada foto disana.

"Daniel anak yang baik... Walau Daniel bukan anak kandung ibu dan suami ibu, Daniel anak yang sangat berbakti..." aku mengusap pundak ibu Daniel.

"Yang sabar ya bu..."

"Rasanya baru kemarin ibu nikah, dan memutuskan mengadopsi Daniel... Tapi..." nada suara ibu bergetar, ibu memandang ku.

"Entah kenapa, ibu bahagia melihat kamu, Angga... Seakan ibu bercermin... Ibu harap, Daniel dapat membahagiakan kamu..."

Aku membisu, dengan tangan yang masih mengusap pelan pundak ibu dan memandang wajahnya.

-***-

Aku duduk termenung di dalam kamar, menanti kedatangan Daniel.

Masih terdengar jelas kalimat-kalimat ibu Daniel di telingaku, membuat pikiran ku melayang jauh.

Pikiran ku semakin bercabang, ada sebuah kenyataan yang sulit diterima dengan logika ku dan aku tidak pernah menyangka hal yang baru saja ku dengar.

Daniel merupakan anak asuh satu-satunya yang ditemukan di depan pintu rumah ini, dan ibu Daniel adalah orang pertamaㅡyang ku temui berhasil menikah setelah operasi kelamin.

Aku benar-benar tak menduga jika ibu Daniel seorang transgender.

Pantas saja ia mengatakan seperti bercermin melihatku.

Lalu, apa yang membuat Daniel menjadi suka dengan ku? Bukankah dulu ia bersumpah agar tidak menjadi seorang homo?

Berjuta pertanyaan mengisi otakku.

"Hey, aku pulang" terdengar suara Daniel di depan pintu kamar.

"Masuklah, aku tidak mengunci pintu kamar"

Daniel masuk ke dalam kamar sembari tersenyum.

"Ada apa dengan mu? Bahagia sekali"

"Tak apa, tak bolehkah aku bahagia?" tanyanya, ia berjalan ke arahku setelah mengunci pintu kamar.

"Darimana saja kau?" ujar ku sembari memandangnya yang melepas baju.

Seperti biasa, ia pasti ingin langsung beristirahat jika sudah membuka bajunya.

Hanya mengenakan kolor kebanggaannya, ia berbaring di samping ku.

"Hanya berkeliling kota, lalu berhenti di sebuah tempat dan membeli sesuatu"

"Kenapa? Kau mencari ku? Rindukah?" lanjutnya sembari terkekeh.

Aku terdiam. Konyol, pasti ia akan mengatakan sesuatu yang garing dan berharap aku akan tertawa karena candaan anehnya.

"Diamlah, aku hanya ingin bertanya padamu" aku merebahkan diri di sampingnya, lalu berhadapan dengannya yang tersenyum.

"Apa?"

"Ibu... Ibumu melakukan operasi?" Daniel menahan tawa.

"Jangan tertawa, aku serius" Daniel terdiam.

"Kalau ya, kenapa? Kalaupun tidak, kenapa? Apa itu mengganggu mu?" aku menggelengkan kepala.

"Tidak, hanya saja... Ibu mu adalah orang pertama yang ku temui melakukan operasi kelamin..."

"Lalu?"

"Aneh, tapi aku kagum pada ibu... Bagaimana orang tuanya jika mengetahui anaknya melakukan operasi?"

"Ibu ku, sama seperti mu, ia yatim piatu... Maka dari itu, ibu berharap segera menemui mu dan berbicara banyak pada mu" aku terdiam.

Daniel bercerita tentang ibu dan ayahnya. Mereka bertemu saat sang ibu menjadi penari latar di sebuah konser, lalu mereka berpacaran setelah kenal dekat.

Orang tua ayah Daniel melarang sang ibu untuk berdekatan dengan ayah Daniel, namun ayah Daniel memaksa orang tuanya merestui hubungan mereka sampai akhirnya mereka menikah.

Hingga ayah Daniel meninggal, mertua ibu kini sudah menerima ibu bahkan menyuruh ibu menikah lagi, tetapi ibu tidak ingin.

Setiap malamnya, pasca ayah Daniel meninggal, Daniel selalu menemani ibunya yang menangis hingga tertidur.

Daniel merasa bersalah pada ibunya, karena ia belum dapat membahagiakan ibu. Maka, Daniel berpikir jika aku ditemukan dengan ibunya, mungkin ibu akan menemukan semangat hidup yang dulu pernah hilang.

"Angga... Maka dari itu, ku mohon, jawab pertanyaan ku, apakah kau menyukai ku juga?" aku terdiam.

"Dengarlah, aku sedang membahas ibu, bukan membahas tentang perasaan ku padamu"

"Perasaan mu merupakan faktor penting agar ibu bahagia" aku kembali terdiam.

Aku membalikan tubuhku.

"Sudahlah, mari kita beristirahat... Kita harus tidur..."

Daniel memelukku dan mengecup pipiku sebelum ia tertidur.

Aku menumpukan tanganku di atas tangannya. Aku semakin bingung.

Benarkah ini jalan ku hidup? Aku butuh seseorang untuk memberikan solusi, aku butuh Noval.

Noval, bagaimana kabar mu?

-To Be Continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar