"Warning! Melewati bagian ini tidak berpengaruh dalam cerita keseluruhan.
Bagian ini mengandung unsur sex eksplisit.
Regards.
Author"
-Ep. 10.5-
"Angga... Aku tak dapat tertidur..." bisiknya di telinga ku, aku tak meladeni Daniel dan berpura-pura sudah terlelap.
Daniel mendekap ku lebih erat, kurasakan dadanya menempel pada punggung ku.
"Angga... Aku terbayang akan kalimat mu..." bisiknya lagi. Aku masih belum meladeni Daniel.
"Dengarlah, kau berkata jika aku hanya berani mengemis tanpa berani akan resikonya... Memang apa resikonya jika aku menyukai mu" lanjutnya.
"Jujur saja, aku masih ingat saat pertama kali aku mengenal mu, aku yakin ada sesuatu yang istimewa dari dirimu"
"Tak dapatkah aku mencintai mu? Aku ingin seperti ayah dan ibu, saling mencintai hingga tua"
Aku mulai risih, aku membuka mataku, melepaskan dekapannya dan membalikan tubuhku.
"Tidurlah, cukup ibu mu yang membuat ku berpikir layaknya seorang ilmuwan, jadi ku harap kau tidur" ujarku dengan nada ketus.
"Aku tak dapat tidur... Aku... Adikku..."
Aku menarik nafas.
"Adik mu bangun? Lalu apa susahnya jika sekarang kau keluar dan meniduri adikmu?" Daniel terdiam.
"Kenapa? Kau punya tangan bukan?" Daniel masih diam.
"Sekarang kau keluar, lalu tiduri adikmu, lagipula apa yang adikmu lakukan di tengah malam seperti ini?" Daniel menahan tawa.
"Angga..."
"Apa?" ia meraih tanganku lalu dituntunnya ke selangkangannya.
Mataku terbuka lebar saat tanganku merasakan kemaluan Daniel mengeras.
"Adik ku yang ini sulit tertidur..." aku terdiam.
Mulutku membentuk lingkaran kecil. Aku baru paham adik yang Daniel maksud.
"Dengarlah, kawan ku berbicara mengenai melakukan hal itu padaku, dan... Aku ingin merasakannya..." kini, giliran ku yang menahan tawa.
"Bodoh, ku pikir adik mu yang lain, sudahlah kau harus tidur, jangan lakukan apapun pada adik mu yang sulit tertidur" ucapku sembari menarik tangan ku.
Daniel terdiam. Aku memejamkan mataku, dan berusaha tertidur. Entah apa yang Daniel lakukan, aku hanya ingin fokus tertidur.
"Angga..." Daniel merayu ku. Aku mengacuhkan Daniel.
Aku mengintip Daniel, ku lihat ia meremas-remas kemaluannya. Aku ingin tertawa. Sungguh konyol.
"Astaga, bagaimana ini..." keluh Daniel pelan.
Daniel berdiri lalu mematikan lampu kamar, dan ia kembali berbaring disampingku.
Terdengar suara berasal dari Daniel, aku membayangkan Daniel melepas kolor dan memainkan adik kecilnya, lalu aku mendengar seperti suara desahan yang tertahan.
"Kau jahat, Angga... Aku sudah menyatakan perasaaan ku padamu tapi kau tak ada respon, dan kini kau membiarkan aku sengsara dengan kemaluan yang menegang" keluhnya lagi.
"Aku sangat bersyukur saat bertemu dengan mu lagi, dan kini aku bersama mu lebih dari 1 bulan tapi kau belum menjawab pertanyaan ku" lanjutnya di selingi desahan yang tertahan.
"Dan aku sekarang merancap kemaluan ku sendiri, walaupun disamping ku ada kau, kau benar-benar jahat!" aku menahan tawa dengan mata yang masih tertutup.
Aku menahan tawaku, ia benar-benar melepas kolor dan merancap penisnya sendiri.
Keluhannya membuat ku ingin tertawa lepas.
"Tapi... Kenapa aku tetap menyukai bahkan mencintai mu, Angga!" kali ini desahannya terdengar begitu jelas.
"Ah, shit, why I'm so horny tonight!" lanjutnya dengan desahan yang panjang.
Sepertinya, ia sudah mencapai klimaks.
Aku bangkit dan terbangun, mataku mulai terbiasa melihat meski gelap. Terlihat Daniel gelisah dan menutup kemaluannya yang masih menegang.
"Angga..." ia memanggil ku dengan nada yang lemah. Sepertinya ia malu.
"Kau begitu berisik! Aku tak dapat tidur karena mu!" ujarku. Ia terdiam. Lalu ia meraba-raba kasur mencari kolor yang sudah ia lepaskan.
"Mencari apa kau?" ia terdiam.
Aku mendekati Daniel yang berbaring, dengan tangan kiri yang mencari celana dan tangan satunya yang menutup kemaluanㅡwalau masih terlihat bagian batang kemaluan yang tidak tertutup.
Aku terdiam, lalu aku berdiri dan duduk diperutnya.
"Apa yang kau cari?" kedua tangan Daniel diam.
"Kenapa kau begitu berisik! Aku ingin tidur!" bentak ku tapi tetap dengan suara yang pelan.
"Jika kau benar-benar ingin melakukannya denganku, lakukanlah, toh aku tak akan menolak!" ucapku.
Daniel terdiam, lalu ia membangkitkan diri dengan lengan yang menahan tubuhnya.
"Benarkah?"
"Tidak, aku hanya bercanda" canda ku sembari berdiri dari perutnya dan berbaring di sampingnya.
"Ah, candaan mu keterlaluan" ia kembali merebahkan diri.
Aku tertawa kecil.
"Lakukanlah jika kau ingin, karena aku juga menyukai mu" ucapku.
-***-
Daniel menindih tubuhku sembari bibirnya menciumku. Ciumannya ganas, terkadang ia menghisap dan mengigit bibirku.
Lidahnya menyentuh langit-langit mulutku sementara tangannya menggenggam kepalaku, menahan kepalaku agar tidak bergerak.
Aku memeluknya, mengusap punggungnya.
Kemaluannya menekan kemaluanku yang masih terbalut celana dalam.
Puas menciumku, Daniel mengecupi leher dan menghisap leherku seperti drakulaㅡaku yakin, ia sedang membuat tanda merah dileher.
Tangannya masuk ke dalam bajuku, meraba lalu mengusap dadaku. Jarinya memilin, dan mencubit pelan kedua putingku.
Aku mengerang dan mendesah, perlakuannya membuatku ikut bernafsu.
Aku meremas rambutnya saat ia menjilat telinga dan mengecupi pipiku.
"Daniel..." erangku ditelinganya.
-***-
"Kau yakin?" tanyanya sembari mengangkat tinggi kakiku.
"Ya, lakukan dengan cepat!"
Kepala menyusup disela pantatku, membasahi lubang anusku dengan jilatan lidahnya. Terasa geli dan basah di pantatku.
Lidahnya menusuk-nusuk anusku, sementara tangannya meremas kemaluanku dan dikocoknya perlahan. Telunjuk Daniel bermain dilubang kencingku, mengilik dan mengelus precum yang membasahi kepala kemaluanku.
"Kau siap?"
"Ya"
Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit pada anusku.
Aku merasa, kemaluan Daniel benar-benar merobek anusku dan mengisi penuh perutku saat kepala kemaluannya masuk.
Aku mengerang menahan sakit.
"Kau tak apa?" aku terus mengerang.
"Aku tak tega..." dicabut kemaluannya lalu kembali menindihku.
"Dengar, aku tak akan melanjutkanya jika itu membuatmu sakit" bisiknya.
Daniel menciumku lagi, kemaluannya menindihku yang sudah benar-benar tegang.
"Lanjutkan... Tak apa, aku hanya belum pernah melakukan ini..." balasku.
Daniel kembali bangkit lalu mencoba lagi, hingga akhirnya ia berhasil menembus anus ku.
Aku mengerang.
Daniel belum bergerak, ia menciumi ku sementara pinggul Daniel berusaha bergerak perlahan.
Kami mendesah bersamaan.
Aku terus-menerus mengusap punggung Daniel, sementara Daniel menggerakan pinggulnya maju-mundur sembari menindihku.
Kemaluanku terjepit oleh perutnya yang terbentuk, membuat sensasi tersendiri yang aku rasakan.
Perlahan namun pasti, Daniel menggenjot tubuhku sembari menciumiku ganas.
Erangan dan desahan kami saling menyahut, ditengah goyangan pinggulnya.
Puas menciumku, ia berdiri sembari meloco penisku dengan tempo lambat.
Entah apa yang Daniel lakukan, aku merasa begitu merangsang walau masih terasa sakit di anusku.
Daniel mengangkat tinggi-tinggi kakiku dan ditaruh di pundaknya, sementara tangannya menggenggam paha ku.
"Aku... Sebentar lagi sampai..."
Aku tak menjawabnya, ia menghentikan goyangan lalu fokus pada kemaluanku.
Aku mendesah, nafasku memberat saat tangan Daniel mengocok kemaluanku dengan cepat.
Mungkin, ia merasa jika kemaluanku menggembung dan mengeras. Kocokan tangannya semakin cepat hingga akhirnya aku mencapai klimaks.
"Giliran ku" ujarnya, setelah aku berhasil mengeluarkan sperma.
Tak memperdulikan aku yang baru saja sampai, Daniel menggoyang pinggulnya cepat dan tak beraturan.
Aku dapat merasa kemaluan Daniel mengembang dan berkedut dalam anusku.
"Ah, aku sampai!" erang Daniel.
Daniel mencabut kemaluannya lalu mengocok di atas perutku, tak berapa lama sperma Daniel keluar dan membasahi dada, dan perutku sebagian mengenai wajah ku.
Daniel menindih tubuhku, sembari menciumku.
"Terima kasih, aku menyayangi mu..."
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar