Aku keluar dari kamar saat mendengar suara bising dari ruang tamu.
Siapa yang bertamu hingga tertawa sekencang ini?
Meski siang hari, pantaskah tamu yang berkunjung tertawa terbahak-bahak seperti itu?
Aku sengaja duduk di ruang keluarga, mencoba mendengarkan pembicaraan di ruang tamu.
"Jadi, Noval sama Dimas ada disini bu?" terdengar suara perempuan yang bertanya.
"Kalau Noval memang disini, tapi kalau Dimas..." aku yakin kali ini ibu Daniel yang berbicara.
"Kalau Dimas kenapa bu?"
"Ga, begini, ibu itu siapanya Noval ya?"
"Boleh di panggil Novalnya? Biar jelas" jawab perempuan itu.
"Sebentar ya bu" aku memandang wajah ibu Daniel saat memasuki ruang keluarga.
Ibu Daniel membisiki ku menyuruh ku untuk bersembunyi dan mengunci kamar.
Aku terdiam, saat aku bertanya kenapa, ibu Daniel terdiam.
Aku menuruti ibu Daniel, namun saat aku ingin melangkah masuk ke dalam kamar, terdengar suara perempuan yang memanggil.
"Dimas?" aku menoleh.
Mataku terbuka lebar melihat tamu yang berkunjung.
Seorang wanita paruh bayaㅡseumur dengan ibu Daniel, berdiri memandangi ku. Wanita berambut bob yang mengenakan pakaian modis dengan warna serasi mendekatiku lalu memeluk ku erat.
Aku tak dapat berkata apa-apa. Ku lihat ibu Danielpun terdiam sama seperti ku.
"Nak, ini ibu, nak" perempuan itu mengusap pipi dan kepala ku.
"Astaga, ibu tidak menyangka, ibu dapat bertemu denganmu lagi" lanjutnya.
Lagi? Pernahkah aku bertemu dengan orang ini? Kapan?
"Ibu?" terdengar suara Noval.
Kami bertiga menengok ke arah belakang ku. Ku lihat Noval terdiam mematung, memandangi ku.
"Noval? Kenapa kamu ga pulang?" tanya wanita itu. Namun, berbeda dengan ku, wanita iniㅡyang sedang berdiri di hadapan ku, tidak memeluk Noval.
Apa yang terjadi? Siapa wanita ini? Inikah orang yang Noval sebut sebagai ibu?
Apakah ini mimpi? Kapan aku bertemu dengan wanita ini? Lalu, apa tujuannya wanita ini datang kemari?
Aku, Noval, dan ibu Daniel terdiam mendengarkan wanita ini mengoceh di ruang tamu. Mulai dari kesibukannya, hingga ia bercerita jika ia menyesal menyerahkan aku pada kawan wanitanya.
Wanita ini terus bercerita, sampai Daniel datang setelah menjemput Johan. Ibu Daniel pamit untuk mengurus Johan sedangkan Daniel berdiri terkejut melihat seseorang bertamu.
Aku langsung menyuruh Daniel masuk ke dalam kamar, meninggalkan Noval yang berbincang dengan wanita itu.
"Apa yang kau sembunyikan dari ku?" aku langsung menginterogasi Daniel setelah mengunci pintu kamar.
"Apa maksud mu?"
"Jangan berlagak! Aku yakin ini semua ulah mu! Mulai dari Noval hingga seseorang yang mengaku ibu kandung ku"
Daniel terdiam.
"Apa yang kau inginkan? Apa yang ingin kau ambil? Apa yang ingin kau ambil dariku?" aku mencerca Daniel.
Daniel tetap terdiam. Mataku menatap sinis Daniel.
"Jawab! Apa yang kau inginkan dari ku? Kau menginginkan aku? Sudah ku beri bukan? Lalu apalagi? Kau ingin aku berbaikan dengan Noval? Aku sudah berbaikan dengannya, apalagi?" aku membentak Daniel.
"Aku sudah meminta mu untuk jujur! Tapi kau belum memberikan itu padaku! Licik! Kenapa kau begitu menyebalkan!" aku mendorong tubuh Daniel.
"Hey, dengarlah... Aku bahkan tidak mengetahui hal ini... Aku hanya berencana..."
"Rencana? Kau merencanakan ini semua? Memang kau brengsek!" aku memotong kalimat Daniel.
Daniel mendekati ku.
"Seharusnya kau paham siapa aku! Aku pernah bercerita padamu jika aku tak memiliki orang tua, karena orang tua ku sudah meninggal! Dan semalam aku mengatakan jika aku pernah bertemu dengan orang tua kandung ku bukan? Seharusnya kau paham betapa bencinya aku pada orang tua kandung ku!" aku menatapnya.
Mataku memanas.
"Apalagi yang kau inginkan? Apa! Lebih baik kau bunuh aku sekarang! Daripada aku harus seperti ini karena mu! Ku pikir... Ku pikir kau belum berubah! Ku pikir kau masih Daniel yang dulu aku kenal, tapi ternyata kau berubah!" aku menunduk, aku tak tahan lagi. Aku menangis.
Aku menangis tersedu. Daniel, apa yang kau inginkan dariku?
"Hey... Tenangkan dirimu..." Daniel memelukku dari belakang. Aku meronta, melepas pelukan Daniel dari tubuhku.
-***-
"Angga..." aku memandang ibu Daniel yang duduk di samping ku.
Aku hanya duduk merenung di atas kasur sebelum ibu masuk ke dalam.
"Kenapa bu?"
"Apa rencana mu kali ini?"
"Entahlah..."
"Dengarkan ibu, temui orang ini... Bilang saja, kau adik ibu..." ibu Daniel menyerahkan selembar kartu nama.
"Ini untuk apa?"
"Orang itu... Sahabat ibu sejak kecil, jika kau ingin mencari tempat tinggal, temui saja dia"
Aku terdiam. Aku mengamati kartu nama yang diberi ibu.
"Besok, ikut ibu ke penampilan Ressa ya" ibu tersenyum.
Aku mengangguk.
"Ah ya, tadi ibu berbicara dengan Noval... Noval mengajak mu pulang... Setelah melihat penampilan Ressa, Noval sudah bicara padamu?" aku terdiam.
"Jangan lupakan ibu disini... Anggap ibu adalah ibumu sendiri"
Ibu Daniel memelukku erat.
"Aneh memang, tapi entah kenapa... Ibu merasa ibu dekat sekali dengan mu, seakan kau benar-benar anak kandung ibu..." ibu melepas pelukannya, lalu menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hidupmu... Mengapa begitu berat... Kau masih muda, ibu harap kau kuat menjalani semua ini..." ibu mengusap pipi ku, lalu mengecup kening ku.
"Rumah ini selalu ada untuk mu, jangan ragu jika ingin pulang kesini..." ibu menangis. Air matanya menetes dan jatuh melalui dagu.
"Ibu tidak tega... Perjalanan hidup mu begitu keras, ibu tak dapat membayangkan itu..." ibu terisak.
Mataku ikut berkaca-kaca.
"Sudahlah, kau harus beristirahat... Besok, Noval akan membawa mu pulang..." ibu kembali memeluk ku erat lalu melangkah keluar kamar.
Aku terdiam, ku putuskan untuk berbaring.
Noval mengajak ku pulang, Daniel merencanakan sesuatu, dan ibu menangisi kepergian ku. Apa yang terjadi sebenarnya?
Apakah hanya aku yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi?
Lalu siapa sebenarnya wanita itu yang mengaku sebagai kandung ku? Dan, kenapa Noval memanggil wanita itu ibu?
Aku butuh jawaban!
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar