"Aku tak menyangka akan bertemu dengan mu disini" ucapnya dengan mata yang terbuka lebar. Aku hanya tersenyum.
"Sedang apa kau tadi di warung kopi?"
"Aku? Hanya membeli rokok dan meminta air hangat" jawabku.
"Kau masih merokok?" aku mengangguk.
"Cih, dasar kau" ia tersenyum lalu mengusap rambutku.
Ia berdiri, lalu merapihkan pakaiannya dan memandang ku.
"Dengar, ada orang yang harus ku temui, istirahatkan tubuh mu, kau begitu pucat"
"Baiklah..."
"Kalau kau lapar, kau boleh menelepon ku, nomor telepon mu masih yang dulu bukan?" aku menggeleng.
"Aku tak memiliki ponsel" ia terdiam.
"Baiklah, cukup tunggu aku, akan ku bawakan makanan untukmu" ia tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan aku.
-***-
Aku tak menduga, aku dapat bertemu dengan Daniel. Orang yang ku rindukan kini telah ku temui.
Bahkan, sekarang aku sedang terduduk di dalam kamarnya.
Muncul niat iseng ku untuk menggeledah semua barang milik Daniel.
Aku berdiri lalu memulainya dari kamar mandi.
Tak ada yang aneh disini, hanya peralatan mandi dan bungkusan kondom yang sudah kosong.
Aku keluar dari kamar mandi, lalu menggeledah lemari pakaiannya. Rak pakaian teratas diisi baju santainya, rak dibawahnya berisi pakaian kerja dan pakaian dalam, dan aku hanya menemukan kunci kecil.
Aku sedikit kesusahan membuka rak yang paling bawah, tetapi aku berhasil membukanya dengan kunci kecil yang ku temukan.
Mataku berkilau menemukan barang-barang berharga milik Daniel.
Aku mengeluarkan rak itu lalu mengambil satu-persatu barang yang ada di dalamnya.
Aku menemukan fotonya saat ia masih sekolah, lalu ku temukan buku kenangan sekolah yang menampilkan fotonya yang hitam putih.
Aku menahan tawa ku melihat wajah Daniel yang masih sangat polos dengan rambut ikal yang sangat pendek.
Aku tertarik mengambil satu kotak kaleng cookies bekas yang tersimpan rapi dibawah tumpukan foto dan dokumen pribadi miliknya. Saat aku membuka kaleng itu, aku sedikit terkejut karena menemukan uang tunai yang masih baru lengkap dengan segel bank Indonesia.
Masih dengan rasa penasaran, tanganku kembali mengacak-acak isi kaleng itu. Ku temukan foto ku bersamanya.
Aku mengembangkan senyum. Ia masih menyimpan kenangan bersama ku.
Aku memandangi foto ketika aku dan Daniel menghabiskan malam tahun baru di kota lain, lalu ada foto yang pipiku diciumnya.
Aku terkekeh mengingat masa-masa saat pertama kali mengenalnya.
Puas memandangi foto-foto yang ku temukan, aku mengambil selembar kertas yang sedikit usang dari dalam kaleng.
Mataku terbuka lebar ketika melihat isi di lembaran kertas itu.
Sebuah surat kecil tulisan tangan ku yang berpesan padanya agar tidak berubah ketika aku bertemu dengannya lagi.
Mataku masih belum dapat menutup saat membalik lembaran kertas yang aku pegang. Di balik kertas itu, tertempel foto ku yang terlelap dengan wajah yang dicoret dengan tinta hitam.
Aku tertawa terbahak-bahak. Konyol.
Darimana ia dapat ide seperti itu hingga aku tertawa seperti ini.
Benar dugaan ku, ia tak berubah bahkan ia menyimpan semua kenanganku dengannya.
-***-
Aku membuka mataku perlahan ketika telinga ku mendengar suara dari kamar mandi.
Daniel sudah pulang.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari jam dinding. Nyawa ku langsung terkumpul saat menatap jarum jam.
Hari sudah malam, dan tandanya aku terlelap selama 12 jam lebih.
Astaga.
"Kau sudah bangun rupanya" aku menoleh ke arah kamar mandi, dan melihat Daniel hanya mengenakan celana dalam.
Aku langsung memalingkan muka dan melihat ke arah lain.
"Kenapa kau?"
"Tidak, segera pakai baju aku risih melihat mu bertelanjang" ku dengar Daniel tertawa.
"Konyol, tumben kau berkata seperti itu, biasanya kau langsung mendekati ku dan memeluk jika aku selesai mandi"
"Jangan mengejek ku, cepat pakai baju mu"
Ku rasakan wajahku memanas. Aku malu melihatnya bertelanjang. Walau aku sudah mengetahui tubuhnya yang terbentuk rapi, tetap saja aku malu.
-***-
"Kau baru pulang atau memang sudah pulang dari tadi?" tanyaku setelah selesai membilas diri dan memakai pakaian ku.
Ku pandangi Daniel yang duduk mensilakan kaki. Daniel terlihat lebih tampan jika selesai mandi.
Kini ia hanya mengenakan kaus dalam dan celana kolor sepaha favoritnya.
"Rahasia" jawabnya singkat.
"Cih, kebiasaan" ia tertawa, lalu ia mengajakku duduk untuk makan.
"Kenapa memang? Kau mencari ku?" aku mengangguk.
"Ah ya, apa yang kau belikan untukku? Lalu apa yang kau lakukan tadi?" Daniel memandang ku, lalu ia tertawa.
"Hey, hey, kau bersemangat sekali menginterogasi ku" mata kecilnya menjadi segaris dan membentuk setengah lingkaran, matanya ikut tersenyum jika ia tersenyum atau tertawa.
"Aku pulang ketika kau benar-benar sudah terlelap, bahkan kau tak sadar-sadar setelah aku panggil berulang kali, jadi ku putuskan untuk tidur disampingmu"
"Benarkah?" aku memandangnya sembari membuka bungkusan nasi yang dibelikan olehnya.
"Woah!" aku bersorak saat bungkusan nasi untukku terbuka, aku tersenyum dan kembali memandang wajah Daniel yang masih tersenyum.
"Beli dimana? Jangan bilang kau pergi ke area dekat sekolahku dan kau sengaja membelikannya untukku"
"Jika tebakan mu benar, bagaimana?" mataku terbuka lebar, aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku. Aku tersenyum dan tertawa kecil.
Daniel benar-benar belum berubah, ia mampu membuat senyumanku tak pernah hilang dari wajahku.
Aku bersyukur dapat bertemu dengannya.
-To Be Continue Soon-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar