Minggu, 27 April 2014

Angga, is My Name (Ep. 14)

"Apa yang kau lakukan semalam?" Noval menegur ku yang terduduk di kusen jendela kamar.

Aku terdiam, melanjutkan kebiasaan ku yang belum ingin ku hilangkanㅡmerokok.

"Aku yakin, adik Daniel akan puas memerankan peran yang ada di dalam naskah drama itu" lanjut Noval.

Noval mendekati ku, lalu memandang ku. Aku menatap wajah Noval sesaat dan melanjutkan menghisap rokok.

"Suruh siapa kau masuk? Daniel mengijinkan mu masuk ke dalam kamarnya?" tanyaku ketus.

"Tidak, tapi ibu mengijinkan ku"

Aku menoleh, ku lihat Noval tersenyum.

Agak sedikit lega melihat Noval dapat kembali tersenyum. Jambang, kumis dan janggut yang pernah menumbuh sudah hilang.

Noval kembali menjadi Noval yang tampan, dengan senyum yang menawan.

"Dengar, aku sudah sadar kenapa kau menampar ku saat itu, aku paham semua itu maka dari itu aku memaksa mu pulang" jelas Noval.

Aku mendengarkan Noval tanpa memandang wajahnya.

"Saat itu, aku hanya emosi dan khawatir kau terluka karena pria yang ingin memperkosa mu... Jadi, aku memaki mu"

"Ya, makian yang berasal dari semua kesalahan yang kau pendam"

Noval terdiam.

"Aku menyesal sungguh, sungguh menyesal, jadi ku mohon, berhenti membenci ku"

"Tidak, maaf... Aku belum bisa untuk tidak membenci mu... Selama ini, kau menyimpan semua kesalahan ku dan disaat aku membutuhkan nasihat seperti yang kau dulu beri, kau memilih memaki ku dan menyebut nama asli ku"

"Dimas..."

"Berhenti memanggil nama Dimas, nama ku Angga, bukan Dimas!" Noval membisu saat aku meninggikan nada bicara ku.

"Bahkan di kartu tanda penduduk milik ku, tertulis Angga, bukan Dimas..." Noval masih terdiam.

"Kau mengetahui apa sebabnya aku membenci nama itu, kenapa kau tetap memanggil ku dengan nama itu!" aku membuang batangan rokok, dan turun dari jendela.

"Sampai kapanpun aku akan membenci mu, hingga akhirnya kau benar-benar sadar apa yang telah kau perbuat sampai aku membenci mu  seperti ini" ucapku, aku berlalu keluar dari kamar tanpa memperdulikan Noval yang mematung.

Aku mengusap mataku perlahan setelah duduk dilantai teras rumah. Aku tak sanggup menahan air mataku.

Ingin aku memaafkan Noval, namun aku masih membencinya.

Semakin ia berusaha meminta maaf, semakin besar rasa benci ku padanya. Walau sejujurnya, aku ingin memeluknya dan berterima kasih padanya.

Tanpa bisikan Noval tadi malam, mungkin hingga sekarang aku tak akan menyelesaikan drama untuk Ressa.

-***-

Aku terpingkal di lantai teras rumah melihat Johan yang sedang bermain dengan Daniel di halaman. Daniel seperti anak-anak jika sudah bersama Johan, mereka tertawa, saling mengerjai, saling meledek dan aku senang melihat mereka.

Walau sebenarnya aku iri pada Johan. Johan memiliki keluarga, dia pula memiliki kakak yang penyayang, dan dia memiliki kualitas waktu yang sangat berharga dengan keluarganya.

Berbeda dengan ku.

Aku hidup sendiri, tanpa keluarga. Aku tak pernah memiliki kualitas waktu yang sama seperti Johan.

Meskipun aku mengetahui jika aku masih memiliki keluarga, tapi aku menganggap kalau aku hanya hidup sendiri. Aku tak ingin menggantungkan hidup ku pada satu kelompok yang orang lain sebut keluarga.

Aku sadar aku egois, tetapi keegoisan ku karena satu hal yang membuat ku benci akan diriku sendiri.

Aku benci akan diriku yang sebenarnya.

"Hey" aku terbangun dari lamunan ku, dan menggoyangkan sedikit tubuhku ketika kurasakan telapak tangan menggelitik pinggang ku.

Aku menengok ke samping ku, ku lihat Noval menahan tawanya saat aku sedikit menjauh.

"Jangan sentuh aku" ancam ku.

Aku kembali fokus memandang Daniel dan Johan, sebelum tangan Noval kembali menggelitiki ku.

Aku menahan tawa, dan berusaha untuk tidak meladeni Noval.

Kelitikan tangan Noval semakin kencang dan keras, aku tak mampu lagi menahan tawaku. Aku terbahak-bahak ketika Noval menggelitiki aku dengan jahil.

Aku berusaha membalas namun aku tak kuasa dan hanya dapat tertawa keras.

"Hentikan! Kakak curang!" ujarku di tengah tawa.

Noval terdiam. Aku juga mulai diam.

"Kakak?" Noval mengerenyitkan dahi.

"Kakak? Apa?" tanyaku dengan rasa heran.

"Kau memanggil ku kakak" aku diam. Wajah ku memanas.

Benarkah? Aku tak sadar, jika aku memanggilnya kakak.

"Mu... mungkin..." aku diam. Aku kembali memandang Daniel dan Johan yang masih bermain.

"Kau tidak mengaku?" tanya Noval yang sembari mendekatkan diri dengan mimik yang kulihat sangat menyebalkan.

"Kau tidak mengaku? Baiklah" Noval kembali menggelitiki aku, aku tak dapat menahan tawa.

Aku kembali tertawa dan berusaha menjauhkan tangannya dari tubuhku. Aku berhasil melepaskan tangannya dan membalas menggelitiki Noval.

Noval terpingkal-pingkal dan melakukan apa yang tadi ku lakukanㅡmenjauhkan tangan ku dari tubuhnya.

-To Be Continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar