"Kita harus berangkat malam ini!" mataku tak dapat menutup saat mendengar kalimat Daniel yang mengajak ku pergi.
"Malam ini? Kemana?"
"Kota Kembang, benahi pakaian mu, kita berangkat naik bus" ucap Daniel yang tergesa-gesa.
Aku baru melihat Daniel seperti ini, ia panik dan seakan tak ada hari esok.
Awalnya Daniel tak sepanik ini, aku dan Daniel menjalani hari seperti biasaㅡdi bulan pertama aku tinggal bersamanya. Tetapi, ia kalap langsung menutup usahanya dan mengajakku bergegas pulang.
Saat aku bertanya apa alasan ia menghentikan penjualan hari ini, ia hanya menjawab akulah penyebabnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku.
Daniel yang sibuk merapikan barang-barang sembari menelepon, menghentikan kegiatannya lalu memandang ku.
"Dengar, kau sudah tak aman lagi disini, aku harus membawa mu ketempat yang lebih aman" aku terdiam.
"Kau paham apa maksud ku?"
"Tidak, kau tidak menjelaskan secara detailnya"
"Angga... Noval mencari mu! Dia membuat selembaran info orang hilang!" mataku terbuka lebar, aku sangat terkejut.
"Benarkah?"
Daniel menghela nafas, lalu menunjuk selembaran kertas yang ada di atas koper pakaian miliknya.
"Jika aku bohong, untuk apa aku panik sampai seperti ini"
Aku terdiam, memang benar ucapan Daniel. Daniel tak akan sepanik ini jika tak ada hal yang membuatnya gelisah.
Tapi, kenapa harus ia yang panik?
-***-
Aku duduk dekat jendela sembari memeluk tas ransel, sementara Daniel disamping ku sembari menelepon.
Daniel meminta bantuan kawannya untuk melanjutkan usaha kecilnya sampai Daniel benar-benar siap kembali ke ibukota. Aku hanya terdiam mendengarkan Daniel berbicara dalam cantonese.
Setelah selesai, tangannya mengusap lembut punggung tanganku.
"Dengarkan aku, disana kau akan bebas melakukan apapun" aku tersenyum memandangnya yang ikut tersenyum.
Pikiran ku melayang jauh. Masih menjadi sebuah pertanyaan bagiku, kenapa Daniel panik saat Noval mencari ku.
Lalu, darimana Daniel mengetahui jika Noval mencari ku? untuk apa ia membawa ku ke jawa barat? Dan kenapa harus malam hari?
"Beristirahatlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai" lagi, ia tersenyum.
Pikirnya, ia akan membuatku tenang dengan senyumannya, tetapi hal itu yang membuatku semakin gelisah.
Ada apa dengan Daniel sehingga ia membawa ku pergi dari ibu kota.
Aku butuh jawaban.
Perjalanan akan memakan waktu yang lama. Daniel sibuk memainkan ponsel, sementara aku memandangi jalanan melalui jendela.
Aku menengok sesaat mendengar Daniel berbicara, aku menebak ia kembali menelepon kawannya. Karena cantonese yang kental terdengar dari ujung telepon.
Aku merasa lelah dan bosan, ku putuskan untuk membenarkan posisi duduk ku dan memejamkan mata.
-***-
"Ada apa?" tanyanya saat aku terbangun dari tidur, aku memandangnya yang kelelahan. Matanya sedikit memerah, air mukanya terlihat begitu letih.
Sesaat aku melihat keadaan di luar bus, langit masih gelap.
"Sebentar lagi kita sampai" aku memalingkan muka dan kembali memandang wajah Daniel.
"Kau tidak beristirahat?" ia menggeleng.
"Kenapa?" tanyaku, aku menyandarkan kepala di pundaknya.
Tangannya merangkul ku, lalu mengusap kepalaku lembut.
"Seperti janji ku, aku akan menjaga mu" jawabnya, ia mengecup kening dengan tangan yang terus mengusap kepalaku.
"Daniel..."
"Ya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ia hanya menggumam
"Kenapa kau panik? Lalu, kenapa harus kota kembang tujuan kita?" Daniel terkekeh.
"Disana ada ibu asuh ku, dan adik-adik ku"
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan disana?"
"Berlibur, menjauhkan mu dari Noval..." aku terdiam.
Menjauhkan aku? Untuk apa?
"Angga... Ibu asuh ku ini ingin segera melihat mu, tadinya bukan hari ini aku ingin mengajak mu ke sana, namun, sangat kebetulan posisi mu sekarang menjadi target pencarian orang dan ku putuskan untuk membawa sekarang" aku masih diam.
Benarkah itu alasannya?
"Lagipula, aku yakin kau akan senang disana" Daniel tersenyum, ia menunjukan wajah bahagianya meski masih terlihat jelas wajah lelahnya.
"Semoga..." jawab ku perlahan.
"Kenapa? Sepertinya ada yang kau sembunyikan"
"Aku?"
"Ya, kau tidak senang?"
"Ah, tidak... Aku hanya, bingung" aku menarik nafas.
"Kau... Kenapa kau begitu panik saat Noval membuat selembaran itu, dan kenapa kau membawa ku pergi dari ibukota, seakan kau memaksa ku dan tak ingin kehilangan aku" lanjutku.
Daniel terdiam.
"Ku pikir, kau belum berubah namun ternyata kau berubah, kau menjadi pemaksa... Daniel yang ku kenal dulu menjadi bayangan Noval yang pemaksa dan perfeksionis"
Daniel melepas rangkulannya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Aku menjauhkan diri, menatap Daniel.
Ku lihat Daniel mengeluarkan lembaran kertas yang usang dan berlipat-lipat.
Daniel membaca isi kertas itu dengan nada yang begitu lembut hampir tak terdengar, sembari memandang ku. Wajahku memanas mendengar kalimat-kalimat Daniel.
Mataku berkaca-kaca memandangi Daniel.
Daniel membaca setiap kata penuh dengan penghayatan, seakan ada makna yang sangat berarti untuknya.
Daniel terdiam sesaat sembari menghela nafas, ia memandang wajahkuㅡyang aku yakin sudah memerah karena malu.
Raut wajahnya yang lelah terlihat begitu bersemangat membaca isi dari kertas itu, terkadang ia tersenyum dan terkekeh saat membacanya.
"Isi kertas ini yang membuat ku sadar... Isi kertas ini yang membuat ku berubah... Aku menyukai, menyayangi dan mencintai orang yang menulis di kertas ini" ucapnya setelah membaca isi kertas itu, aku terdiam.
Aku tak dapat menahan air mataku, pipiku kanan ku basah karena tetesan air mata yang mengalir.
"Aku... Tak ingin kehilangan orang yang menulis di kertas ini... Aku tak ingin kehilangan orang yang telah menulis kalimat penyemangat hidupku di kertas ini... Aku menyukai laki-laki yang kini setia menggunakan nama pemberianku..."
Walau aku tak tersedu, air mataku tetap mengalir deras.
"Dulu, aku bodoh dan aku mengakui jika aku malu harus menyatakan perasaan ku pada orang itu... Tapi, dari tulisannya aku mulai sadar, aku harus menjadi pemaksa agar orang itu tetap milik ku" aku mulai tersedu dan terisak.
"Aku menyukai Dimas Yogi Pratama..." aku menunduk, aku mengusap mataku perlahan.
"Aku menyesal pernah meninggalkan Dimas setelah lulus sekolah, dan aku menyesal tak pernah mengutarakan perasaan ku pada Dimas... Akan ku kenalkan Dimas pada keluarga ku" suaranya bergetar, seperti orang menangis sementara aku sudah terisak.
"Aku hanya ingin menepati janji pada diriku, dan aku harus sukses... Sukses mengejar Dimas dan menjadikan dia milik ku... Aku menyukainya... Aku menyukai Dimas yang setia menggunakan nama pemberian ku, aku menyukai mu... Angga"
-To Be Continue Soon-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar