Senin, 28 April 2014

Angga, is My Name (Last Episode)

"Siap?" Noval menepuk pundakku. Aku berdiam diri di ambang pintu sembari memandang jalan raya.

"Ya... Mungkin memang saatnya aku yang mengejar jawaban..." Noval diam.

"Noval... Maksudku, kak..." Noval tersenyum.

"Ya? Panggil nama juga tak apa, aku paham kau belum memaafkan ku" aku tersenyum.

"Kak, sebenarnya... Siapa wanita yang kemarin ke sini..."

"Dia? Bukan siapa-siapa, dia hanya orang lain" aku memandang Noval.

"Orang lain? Apa tujuannya kemari? Lalu kenapa kau memanggilnya ibu? Wanita itu ibu mu?"

"Percayalah padaku, dia bukan siapa-siapa, lagipula aku memanggilnya ibu karena aku merasa tidak sopan jika memanggil orang itu bukan ibu"

Alasan yang logis.

"Sudahlah, persiapkan dirimu, setelah pementasan usai, kita harus pulang"

Aku menghela nafas.

"Ya, baiklah"

Aku melangkah masuk ke dalam kamar. Mengambil perlengkapan ku lalu kembali ke teras sambil menggantungkan ransel di punggung.

"Tunggulah dalam mobil, sudah ada ibu dan adik-adik Daniel" ucap Noval.

"Lalu, kakak?"

"Aku menyusul, aku harus menunggu mobil travel yang nanti datang ke sini" aku mengangguk.

Aku melangkah masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping adik Daniel yang termuda.

Johan mengajakku bercanda, aku meladeni Johan hingga Daniel datang dan mulai menyalakan mesin mobil.

Sepanjang perjalanan aku terdiam, meski Johan mengajakku bermain.

Otakku terisi penuh dengan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Kepalaku terasa begitu panas, rasanya seperti ingin meledak.

Astaga, apa yang harus ku lakukan.

-***-

"Kakak!" Ressa berteriak dan berlari mendekati Daniel setelah kami sampai di lahan parkir sekolah.

Ressa menarik-narik tangan Daniel lalu mengajak yang lainnya untuk segera memasuki aula. Terlihat jelas, wajah gembira Ressa.

"Pentas sudah mulai, untung saja ibu tepat waktu" ujar Ressa dengan nada gembira.

"Aku sudah menyiapkan tempat duduk untuk kalian, kalian dapet tempat di depan" lanjutnya.

Aku, Daniel, ibunya dan adik-adik Daniel memasuki ruang aula yang sangat besar dan luas, pertunjukan sudah berjalan tapi aku rasa kami belum tertinggal jauh dari jalan cerita.

Kami fokus melihat pementasan, setelah kami menduduki kursi yang sudah di pesan.

Entah bagaimana pendapat dari anggota keluarga Daniel, tapi aku benar-benar merasa tersanjung. Ressa dan kawan-kawannya mampu melakukan peran mereka masing-masing dengan baik.

Dengan latar belakang dan pengaturan tempat yang benar-benar terlihat seperti nyata. Mataku disuguhi sebuah drama yang sangat memukau.

Aku sedikit terkejut saat Ressa bermain nakal dengan peran utama, Ressa benar-benar doing out of the box. Ressa benar-benar memiliki keahlian berperan yang hebat.

Ressa dapat memainkan nada bicaranya, mengikuti teks dalam dialog. Lawan mainnya pula benar-benar cerdas mengatasi kekurangan diri, hingga tak ada cacat sedikitpunㅡmenurutku.

Mataku tetap tak dapat menutup saat ada bagian tertentu diselingi musik yang dimainkan secara langsung. Para pemeran juga pandai menyiasati kekurangan satu dengan yang lain.

Aku takjub mendengar suara para pemeran yang bernyanyi secara langsung. Merdu, dan terdengar begitu indah.

Aku menangis saat Ressa bernyanyi sebuah lagu favorit ku dengan suara yang begitu merdu, sebuah lagu yang memang diperuntukan seseorang.

Tangisan ku belum berhenti, dan semakin menjadi saat perpisahan kedua tokoh utama. Aku benar-benar tenggelam dalam broadway yang dibawakan Ressa dan kawan-kawan.

Kami semua bertepuk tangan saat pentasㅡyang berjalan satu jam penuh, selesai.

Beberapa orang melakukan standing applauseㅡtermasuk aku, dan berteriak meminta adegan tambahan. Aku tersentuh.

Hati kecilku tersentuh. Aku menangis sejadi-jadinya.

"Terima kasih..." ucap Ressa menggunakan mikrofon setelah para penonton berhenti bertepuk tangan.

"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada pihak sekolah yang memberikan kesempatan pada kelas saya untuk memeriahkan ulang tahun sekolah" lanjut Ressa.

"Saya juga ingin berterima kasih pada pihak yang telah turut membantu hingga suksesnya broadway yang saya dan kawan-kawan bawakan"

Suasana menjadi hening, hanya terdengar gema suara Ressa.

"Saya juga ingin berterima kasih pada kak Angga..." Ressa menunjuk ku.

"Pak, boleh saya panggil kakak saya? Saya ingin memberikan sesuatu sebelum kakak saya pergi" ucapnya, yang bertanya pada guru di depannya.

"Kak Angga, boleh naik?" aku bangkit dari duduk, lalu berjalan menaiki tangga panggung dan berdiri di samping Ressa.

"Ide cerita ini dibuat oleh kak Angga, tanpa bantuan kak Angga dan ide ceritanya mungkin kami akan membawakan cerita pangeran kodok, karena jujur saja, saya dan kawan-kawan sudah benar-benar tak memiliki ide cerita sebagus kak Angga" aku menahan senyum. Aku memperhatikan Ressa yang memandang ku sembari tersenyum.

"Sebelum kakak pergi, ada sesuatu yang harus Ressa katakan..." suasana semakin hening.

Ressa mengeluarkan selembar kertas dari kantung bajunya.

Ressa membacakan sebuah puisi dengan nada bergetar.

"Angga, entah apa yang membuat mu begitu spesial di mata ku... Kau begitu lugas, lantang, dan polos... Kau terlalu sempurna untuk menjadi insan biasa... Angga, ingatkah saat kau mengucap janji jika kita akan hidup bahagia? Ingatkah kau berjanji jika kita akan terus bersama? Ku mohon, jangan tinggalkan aku... Aku mengakui aku munafik, aku mengakui jika aku pecundang. Tapi kau, menyemangati ku dengan sepucuk surat yang kau beri sebelum aku pergi... Karena mu, aku menjadi pemberani, karena mu aku menjadi pemaksa, karena mu aku sadar kau memang orang yang aku sayang..." Ressa menangis. Begitupun aku.

"Kak..." Ressa memandang ku, setelah melempar lembaran kertas yang dibacanya tadi.

"Kenapa kakak datang dan pergi begitu cepat... Aku senang saat pertama kali melihat mu datang di tengah kebahagiaan keluarga, aku senang melihat mu bercanda dengan keluarga ku, tapi... Kenapa kau tega meninggalkan aku yang belum pernah kau ajak bermain?" suara Ressa sangat lembut, ia menyembunyikan tangisan di tengah puisi dadakan yang ia katakan.

"Jangan pergi, tinggalah meski hanya untuk 5 detik..." Ressa menunduk.

Ressa mengalihkan pandangannya ke arah penonton.

"Aku tak malu, sama sekali tidak malu, jika aku harus menangis di depan ratusan bahkan ribuan penonton untuk mengemis padamu agar kau tidak pergi... Aku belum dapat memberikan apa-apa padamu, tapi kenapa kau memilih ego mu sendiri untuk mencari kesenangan sementara dibanding bercengkrama dengan keluarga?" Ressa mengamuk.

"Tapi... Aku sadar... Itu dunia mu... Kau memiliki hak untuk memilih jalan mu, dan akupun pasti akan melakukan hal yang sama seperti mu..." Ressa memandang ku.

Ia mengeluarkan sebuah kalungㅡperak panjang yang sangat mengkilau.

"Aku belum dapat memberikan apapun selain kalung ini... Dan prestasi ku sebagai adik mu yang mampu merealisasikan drama yang kau buat..." aku terisak, begitu pula Ressa.

Ressa mendekati ku, ia memasang kalung yang ia persiapkan dileherku. Tangisanku menjadi-jadi.

Ressa memeluk tubuhku sangat erat.

"Dan aku... Hanya dapat memberikan kenangan terindah ini..."

Ressa mulai bernyanyi, diiringi petikan gitar akustik yang dimainkan oleh kawannya.

Sebuah lagu favorit ku, yang sering aku nyanyikan jika aku sedang merindukan seseorang.

Suara Ressa bergetar, ia tak dapat lagi menyembunyikan tangisannya.

Saat aku memeluk Ressa untuk menenangkan dirinya, terdengar suara kawan-kawannya yang ikut bernyanyi.

Ressa memelukku lebih erat, dan ia mengecup pipi ku.

"Terima kasih kak..." bisiknya.

Ressa, harusnya aku yang berterima kasih padamu.

-***-

Aku berjalan berdampingan dengan Daniel, diikuti ibu dan adik-adik Daniel. Aku puas, menyaksikan sebuah drama yang sempurna.

Beberapa guru ditemani Ressa menjabat tangan ku, mengucapkan terima kasih dan memuji cerita yang ku buat.

Bahkan aku sempat di dekati oleh orang tua murid yang bekerja di bidang produksi perfilman, dan ditawari membuat naskah skenario namun aku menolaknya.

Aku bangga, Ressa dan kawan-kawannya mampu membuat ku menangis terharu.

"Ibu, tunggu aku dan Angga di dalam mobil, ada sesuatu yang harus aku bicarakan pada Angga" kata Daniel yang lalu menggiring ku ke tempat yang lebih sepi.

Aku menatap mata Daniel yang sembap sama seperti ku.

"Terima kasih..." Daniel menyalami tangan ku. Seakan ia baru bertemu dengan ku.

Kami terisak, tersedu-sedan. Saling menyembunyikan tangisan.

"Terima kasih, kau menyadarkan aku" Daniel memelukku erat.

"Aku masih pecundang, aku masih bodoh, aku masih seperti anak kecil... Maaf... Maaf..." bisiknya pelan.

"Terima kasih, sudah menyukai ku... Terima kasih sudah menyimpan rasa sayang mu untuk ku... Terima kasih... Sungguh, maafkan aku"

"Hentikan, Daniel..."

Daniel melepas pelukan, menatap mataku dalam-dalam.

"Jaga kalung yang aku titipkan pada Ressa, ingatlah aku..." aku tersenyum, di tengah tangisan ku.

"Ini yang aku takutkan, aku terkena karma... Tapi, aku bersyukur karena kau sendiri yang memberikan karma padaku, aku mencintai mu, sungguh..." air mataku kembali mengalir jatuh.

Kami bertatapan, Daniel mengusap pipiku. Wajahnya mendekat, hembusan nafasnya mengenai philtrumㅡcelah antara hidung dan mulut ku.

Aku memejamkan mata.

"Sungguh, aku mencintai mu" ucapnya, setelah mencium bibir ku lembut.

-***-

Meski aku tak ingin pergi, ada sebuah keadaan yang membuatku harus pergi dari sini. Meninggalkan Daniel dan keluarganya.

Aku harus mencari jawaban, aku harus mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku harus paham mengenai diriku sendiri. Sepahit apapun, aku harus menerimanya. Karena ini sudah jalan hidupku.

Jalan hidup Angga, yang mencari kebenaran.

Angga, adalah namaku.

-end-
28일04월2014년
Author

Tidak ada komentar:

Posting Komentar