"Pulanglah..." aku membalikan tubuhku saat mendengar seseorang berbicara dibelakang ku.
Mataku terbuka lebar melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah kusut, dan kumis juga jambang yang tumbuh lebat diwajahnya berdiri sembari memandang ku sendu.
"Ku mohon... Pulang... Aku memohon padamu..." ucapnya lagi.
Aku berdiri mematung melihat orang yang berdiri dihadapan ku. Mulutku terkunci rapat, tubuhku lemas.
"Dimas... Kakak mohon... Pulang..."
-***-
Mata dan mulutku masih tak dapat menutup, melihat orang iniㅡyang kutemui tadi duduk di hadapan ku, Daniel dan ibunya memohon ku pulang.
Rasa penasaran ku muncul, darimana orang ini mengetahui keberadaan ku.
"De, benar tujuan mu hanya menjemput Angga?" ibu Daniel bertanya pada orang itu, orang itu mengangguk.
"Lalu, darimana kau mengetahui tempat ini?" ia tak menjawab.
"Sebenarnya, ada ikatan apa kamu dengan Angga?" ia terdiam.
"Bu... Sudahlah, biarkan orang ini beristirahat, mungkin ia kelelahan" Daniel berbicara, aku terdiam. Aku masih memandang wajah orang yang juga menatap ke arah ku.
"Ah ya, benar juga, mari de Noval, lebih baik beristirahat dulu..." ibu Daniel mengajak Noval menuju kamar tamu disamping kamar Daniel.
Noval menurut lalu mengikuti ibu Daniel.
"Kau memberitahu siapa saat kau menelepon?" bentak ku pada Daniel setelah Noval pergi.
"Tenangkan dirimu, jangan emosi"
"Jelas aku emosi, darimana Noval mengetahui keberadaan ku!" aku membentak Daniel.
Emosi ku membludak.
"Hey, jangan berteriak, malu jika Noval mendengar"
"Biarkan, aku tak perduli!" aku berdiri lalu melangkah ke kamar.
Aku duduk di atas kusen jendela, dan memutuskan untuk menghisap sebatang rokok.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Darimana Noval mengetahui keberadaan ku? Lalu, kenapa ia tetap ngotot menyuruh ku pulang?
Baru 2 hari aku disini, tapi Noval sudah menyusul. Darimana ia mendapat info keberadaan ku?
Astaga, kepalaku sakit memikirkan hal ini.
"Hey, sudahlah" aku menengok kearah Daniel yang mendekat.
"Sudahlah apa?" tanyaku ketus, aku kembali memandang halaman samping sembari merokok.
"Sudahlah... Jangan terlalu pusing memikirkan hal ini" ujar Daniel.
Kami terdiam.
Aku memainkan kaki ku yang keluar jendela, dengan posisi duduk membelakangi Daniel.
Kurasakan tangan Daniel melingkar dipinggang ku, dan pundak kiri ku terasa berat saat kepala Daniel menyandar.
"Marahkah kau padaku?" tanyanya lembut.
"Tidak, aku hanya kesal"
"Kenapa?"
"Pada siapa kau menelepon saat dibus? Kenapa harus menggunakan bahasa cina?"
"Kawanku, hanya kawanku"
"Lalu jika benar kawanmu, kenapa harus menggunakan bahasa asing?"
"Angga, hentikanlah, kenapa kau begitu curiga padaku?"
"Aku tidak curiga padamu, aku hanya penasaran apa yang membuat Noval mengetahui tempat ini. Kau bilang rumah mu aman, dan tak ada orang yang akan mencari ku, tapi kenyataannya?" Daniel diam.
Aku membuang batangan rokok dan melepaskan pelukan Daniel.
"Sudahlah, aku tak ingin membahas ini" aku menuruni jendela lalu melangkah ke luar rumah.
Aku duduk di kursi teras rumah, yang menghadap jalanan.
"Dimas..." aku menoleh sesaat mendengar namaku dipanggil, lalu kembali membuang muka ke hadapan ku.
"Cari siapa?" tanyaku ketus.
Kami terdiam.
Aku lupa jika Noval masih berada di sini.
"Dimas, ku mohon, pulang" aku membisu, aku tak ingin meladeni Noval.
"Maafkan aku yang berkata seenaknya padamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu..." aku tetap diam.
"Dimas..." aku membuka mata lebar-lebar. Noval bersujud di depan ku.
"Sedang apa kau? Menjijikan!" aku bangkit dari duduk lalu meninggalkan Noval yang masih bersujud.
"Hey, kau tak boleh seperti itu" aku menghentikan langkah saat Daniel menegur ku dari dalam ruang tamu.
Aku tak sadar jika Daniel mengikuti ku.
"Kau membela orang itu?"
"Tidak, hanya saja, maafkan dia"
"Tidak, tidak ingin!"
"Ada sesuatu yang kau sulit maafkan darinya?" aku mengangguk.
"Lalu, bagaimana jika kau melakukan hal yang membuat ku sakit hati? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan orang itu? Bersujud di hadapan ku, sembari memohon maaf, dan aku tidak memaafkan mu, apa kau tetap bersujud seperti orang itu?" aku diam.
Aku menengok ke arah teras, ku lihat Noval masih bersujud.
"Berikanlah apa yang dia inginkan, aku yakin kaupun berharap kata maaf keluar dari mulutku jika kau melakukan hal yang sama seperti Noval" aku menarik nafas panjang.
Daniel, kenapa kau sangat mengesalkan!
"Aku memaafkan orang itu karena mu, ingat itu"
"Karena ku? Lebih baik tak usah, kau memaksakan diri" Daniel berdiri, lalu mendekati ku.
"Dengarlah, Angga... Bayangkan jika kau atau aku ada di posisi orang itu, pasti sangat tidak nyaman... Jadi, buka hati mu, maafkan orang itu" aku menatap mata Daniel.
"Maafkan dia, agar dia tenang... Menurutku cukup balasan dari mu yang menampar pipi orang itu"
Aku menghela nafas ku.
"Maafkanlah..." ku tatap mata Daniel sekali lagi.
Daniel tersenyum, lalu ia mengusap kepalaku pelan.
"Sana, berikan kesempatan untuknya" aku melangkah lesu mendekati Noval.
"Bangunlah!" ucapku ketus.
"Hey, berdiri! Jangan seperti ini!" lanjutku.
Noval diam.
"Hey! Bangun!" aku menendang Noval.
Noval tetap diam.
"Jangan begitu..." terdengar Daniel menegur ku dari arah belakang.
"Dia tidak ingin berdiri, mencari perhatian sekali! Aku benci!"
"Tidak perlu kasar..."
Argh! Daniel kau benar-benar menyebalkan.
"Kak..." panggil ku dengan lembut. Aku terpaksa melakukan hal ini.
Jika bukan Daniel yang memaksa ku, akan ku tendang hingga mati orang yang bersujud di hadapan ku.
"Kak, bangunlah..." Noval mengangkat kepalanya dan memandang ku.
Matanya memerah, terlihat jelas air matanya membasahi pipi.
Aku tak dapat berkata-kata, aku sedikit terharu melihat Noval seperti ini.
Wajah tampannya hilang termakan tangisannya sendiri. Jambang, kumis dan janggut Noval basah. Noval tersenyum ke arahku, di tengah tangisan.
"Dimas... Maafkan kakak..."
-To Be Continue Soon-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar