Noval memandang ku dengan tatapan sendu, matanya begitu merah. Wajah Noval terlihat begitu lemas.
Sebenarnya aku tak tega, tapi hatiku belum bisa memaafkan Noval.
"Maafkan kakakmu Angga..." terdengar suara Daniel dibelakangku.
"Aku tak bisa..." ucapku dengan nada yang lemah.
Aku begitu terharu, Noval menangis dihadapanku.
"Dimas... Maaf..." Noval berdiri lalu mendekatiku.
"Aku... Aku belum bisa..." suaraku bergetar.
"Separah itukah kesalahanku? Separah itukah kau membenciku?" aku diam.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku?" Noval tetap memandangku. Air matanya masih menetes.
"Dengarlah, aku berjanji padamu... Jika kau pulang, aku tak akan mengganggumu lagi... Sungguh..." Noval sedikit mendorong tubuhku, membuat tubuhku menjadi semakin dekat dengan Noval.
"Aku... Aku sudah sadar, aku sadar aku gagal... Maaf..." aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa.
Tubuhku mematung, namun sedikit bergetar.
"Ku mohon, maaf..."
Tangan Noval memelukku erat. Tercium aroma khas tubuhnya ketika kepalaku bersembunyi didadanya. Aroma khas yang membawaku kembali ke masa-masa bahagia saat pertama bertemu Noval.
"Ku mohon... Maafkan aku..."
Tangan kekarnya memelukku sembari mengusap kepalaku.
-***-
Ibu Daniel tersenyum memandangku yang duduk disampingnya, kami menghabiskan malam di teras. Berbicara mengenai apa yang aku rencanakan selanjutnya.
Aku dan ibu saling berbagi cerita mengenai masa sekolah, dan bercerita tentang Noval yang gelisah tadi siang.
Ibu berkata, jika Noval begitu sangat menyesal. Saat ibu menyuruh Noval beristirahat, Noval tetap memaksakan diri untuk bertemu dengan ku dan meminta maaf.
"Legakah?" tanya ibu. Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa? Bukankah Noval sudah meminta maaf?" aku terdiam.
"Tak apa bu, hanya saja aku tak suka melihat Noval... Jika bukan Daniel yang memaksa, aku tak akan memaafkan Noval"
"Hanya itu?"
"Ya... Aku membenci Noval bu"
"Benci? Sebabnya?"
"Banyak..."
Ibu terdiam.
"Dengar, dulu ibu benci sekali pada ayah Daniel, sebabnya banyak, tapi... Ibu merasa ibu sudah dewasa, ibu juga harus bersikap dewasa, sampai akhirnya ibu mampu menghilangkan rasa benci ibu pada ayah Daniel" aku memandang wajah ibu.
"Suatu hari ayah Daniel menyarankan ibu untuk mengadopsi anak, tapi ibu tak ingin dan ibu merasa tidak sanggup, jika ibu mampu menyusui, ibu sudah mengadopsi bayi dari panti, lalu kami bertengkar hingga akhirnya ada seseorang yang sengaja meninggalkan Daniel di depan rumah dalam keadaan menangis" aku mendengarkan ibu Daniel, sempat terlihat mata ibu berkaca-kaca.
"Ibu masih ingat Daniel menangis di tinggal oleh orang tuanya yang entah kemana, lalu ayah dan ibu memutuskan untuk mengadopsi Daniel, dan pertengkaran kami selesai saat Daniel datang... Memang berbeda dengan kasus mu, tapi ibu harap, dengan paksaan Daniel juga datangnya Noval kesini meminta maaf padamu, pertengkaran kalian selesai, tak baik bertengkar dengan saudara sendiri"
"Tapi bu, aku dan Noval bukan saudara... Aku memang menganggap Noval sebagai kakak, tapi kami bukan saudara kandung" ibu terdiam.
"Kau harus buka matamu, agar kau dapat melihat apa yang ada disekitar mu, jangan berpura-pura buta..." aku diam.
Apa maksudnya?
"Ibu selalu membuka mata ibu, dan karena itu, ibu sadar, apa yang ada di hadapan ibu, hingga banyak kawan-kawan ibu yang meminta ibu mengasuh anak-anak mereka, hingga akhirnya ibu memiliki hak asuh resmi dari pengadilan... Lihat semua adik Daniel, mereka berbeda wajah, tapi mereka sanggup menerima satu dengan yang lain, karena ibu mengajarkan pada mereka untuk membuka mata..."
Aku membisu.
Angin malam menerpa wajah kami. Rambut ibu yang tergerai, melayang-layang mengikuti hembusan angin.
Apa yang dimaksud ibu? Aku belum paham.
"Bu, sudah malam, masuklah, nanti ibu sakit..." aku menoleh saat mendengar Daniel menegur.
"Ah ya, baiklah, ibu tinggal ya..." ibu Daniel bangkit lalu meninggalkan ku yang termenung.
"Apa yang kalian bicarakan?" Daniel bertanya, aku memandang wajah Daniel.
Aku tersenyum kecil.
"Banyak, sudahlah, aku ingin tidur"
Aku berdiri, lalu melangkah masuk ke dalam.
Ibu, apa yang ibu maksud?
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar