- [Bigbang] Daesung, Seungri [2Ne1] CL, Minzy, BOM
- [TVXQ] Changmin [HSK] Nuna Funzee
- Writer Friends, Writer Family
- Note : This time the story was really STRAIGHT :) no yaoi / yuri, this fantasy story that I experienced(the author) when last night ... honest story is not fake, this time I was having a dream. certainly the end of my story changed a bit since I had never found a worn notebook. enjoy :)
- The Cast Pict :
Semua ini terlalu seram untuk menjadi kenyataan. Semua ini terjadi ketika semua “gamer” gemar memainkan permainan yang berjudul “Fantasy World”. Begitupun denganku, aku hanya anak remaja laki-laki yang gemar memaikan permainan itu. Permainan yang selalu ada dalam fantasy ku, menggenggam sebuah pedang dan bermain dengan sihir.
Aku selalu ditegur oleh semua kawanku karena terlalu sering memainkan permainan itu, akupun sering mengeluh karena minus dimataku bertambah. Namun tak dapat dipungkiri aku sangat menyukai permainan itu.
Malam itu aku mengeluh didepan kakak perempuan ku karena pekerjaan yang terlalu menyiksa waktu dan tenagaku. Aku merebahkan diri dirumah sewaku dan langsung tertidur.
Aku terbangun ketika jam dinding di kamarku menunjukan pukul 08.00 pagi. Aku bergegas ketempat kerjaku, di tengah perjalananku aku bertemu dengan seseorang yang sangat kukenal. Orang itu bukanlah kawanku, ia seorang selebritis yang sangat terkenal di dunia. Ia berjalan dengan kostum seperti suster yang merawat dirumah sakit. Aku tak menghiraukannya, karena pikirku ia sedang bergegas ke sebuah lokasi pengambilan video untuk album terbarunya.
Aku mengganti pakaian ku karena pekerjaan yang mengharuskan memakai seragam. Beberapa menit berlalu tempat kerjaku di sebuah pelayanan jasa ramai. Beberapa pengunjung menggunakan pakaian yang menurutku aneh, kawanku menghampiriku dengan kostum seperti pemanah dan tentunya ia membawa panah yang menggantung di bahunya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku karena rasa penasaran.
“Aku sedang mengunjungi mu tentunya, kau meninggalkan pakaianmu”
“Aku? Pakaian?” aku mengintip kantung plastik itu, kulihat dengan jelas didalamnya terdapat kostum penyihir dan buku catatan usang.
“Apa kau gila? Aku memakai pakaian seperti ini?” aku tertawa dan menaruh pakaianku di loker pakaianku. ia memberiku sebuah botol kecil dengan cairan berwarna merah.
“Ketika kau terluka, minumlah ini. Segera ganti bajumu, dan berhati-hatilah” aku mengangguk dan tertawa ketika ia pergi.
Keteruskan pekerjaanku dan tak menghiraukan apa yang dikatakan kawanku, bahkan aku lupa siapa nama kawanku yang memberiku kostum.
_***_
“Kim!” kudengar seseorang memanggil nama, seseorang dengan wajah tampan dan kostum prajurit lengkap dengan helmnya mendekat dan tersenyum padaku.
“Hey! Kau kupanggil diam saja” ia tetap tersenyum.
“Saya?” kuamati wajah orang itu, wajah yang sepertinya aku pernah lihat.
“Tentu saja, namamu Kim! Kau pikir aku memanggil siapa?” aku terkejut, namaku berubah. Seingatku semua orang tak pernah memanggilku Kim.
“Kenapa kau tak mengganti baju?” aku diam, semuanya mulai aneh bagiku.
“Kau, siapa kau? Aku tak mengenalmu! Apa urusanmu jika aku belum mengganti bajuku?”
“O? Kau lupa pada kakak angkatmu? Hey! Ini aku, Changmin!” aku tertawa, aku tak pernah memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Changmin. Bahkan jika memang ia Changmin yang aku bayangkan aku tak akan mengaku ia kakak ku.
“Kau sudah mengingatnya?”
“Aku tak punya kakak laki-laki”
“Sepertinya kau mengalami gangguan ingatan, perlu aku mengingatkanmu?” ia memandangku dan tersenyum padaku. “Baiklah, under my skin! Neon nareul wonhae? Ingat?” lanjutnya sambil bernyanyi dan menari.
Aku menggeleng pelan, bagiku orang di hadapanku ini adalah orang gila yang memakai kostum prajurit lengkap dengan helmnya berakting seperti seorang artis.
“Baiklah, aku akan menunggumu di luar. Segera berganti baju ada sebuah misi yang harus kita jalankan” aku menurutinya, ia pergi dan aku menatap loker pakaian disampingku.
Aku buka loker pakaian itu, ketika aku mengintip plastik yang diberikan kawanku tubuhku membatu. Tak lama tempat kerjaku meledak. Aku terkejut mendengar ledakan di belakang tubuhku. Aku panik jantungku berdetak kencang, aku berusaha lari namun kakiku tak bergerak sama sekali. Tubuhku masih membatu didepan loker pakaianku. Dengan posisi berdiri dan masih menggenggam sebuah plastik aku berdoa, buku catatan yang ku intip jatuh dengan posisi terbuka. Ku lihat dengan mataku ada sebuah tulisan latin didalamnya.
Salah satu tentara berseragam itu ada di belakangku dan menyuruhku untuk mengangkat tanganku, namun bagiku usahanya sia-sia karena aku membatu. Sama sekali tak bergerak, aku hanya dapat menggerakan mata, dan mulut.
Tentara itu terus menyuruhku mengangkat tanganku dan berteriak memanggil kawannya. Jantungku berdetak sangat kencang. Keringat dingin mengucur dari dahiku dan mengalir melewati bingkai kacamata ku.
Rasa panikku bertambah ketika beberapa tentara berteriak dibelakangku. Aku ingin menangis, aku takut aku akan mati di tempat kerjaku. Sebuah kematian yang tidak aku inginkan. Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil dan beberapa tentara itu berteriak untuk mundur.
Aku mendengar letusan senjata, dan beberapa ledakan bom dibelakangku. Keringat dingin terus mengucur dan mengaliri wajahku, aku ingin berlari namun aku tetap membatu.
“Kim, gunakan mantramu!” ku dengar seseorang berteriak.
“Mantra? Dimana? Aku tak melihat ada mantra disini!” aku membalas teriakan itu. Ku amati tempatku dan melihat buku catatan yang terjatuh tadi. Tulisan latin yang kulihat bersinar, cahanya menembus kacamataku dan membuat kacamataku pecah dibagian tepi.
“LIBER EVADERET!” aku membaca tulisan itu dengan lantang. Angin kencang menyerang tempat kerjaku, angin itu membawa beberapa tentara yang tersisa di tempat kerjaku termasuk semua mayat yang terbaring.
Tubuhku lemas dan terjatuh ketika angin itu menghabiskan tempat kerjaku. Aku berlari menjauh dengan membawa plastik dan buku catatan yang telah menyelamatkanku, aku tak menghiraukan orang-orang yang berada disana. Jantungku masih berdetak kencang dengan keringat yang terus mengucur. Aku berlari tak tentu arah, sepatu ku lepas dan membuangnya jauh. Aku berlari menuju rumah nenekku di tengah hutan.
Aku tak melihat kearah depan dan terus melihat kebelakang, aku khawatir akan tentara yang mengejarku. Bagiku kini dunia menjadi gila, tentara yang seharusnya melindungi rakyatnya kini membalik menyerang. Ada apa dengan pemerintah sekarang, pikirku.
“Hey, perhatikan langkahmu adik kecil” aku menabrak seorang wanita dengan pakaian anggun.
“Bom? Park Bom?”
“Kim! Kau selamat!” seorang yang ku kagumi telah kutabrak dan sekarang ia memelukku. Apa yang terjadi, beribu pertanyaan menyerang kepalaku.
Ia mengajakku untuk masuk kedalam rumah, rumah nenekku berubah menjadi markas. Kamarku penuh dengan dengan senjata api dan beberapa pisau. Lemari pakaianku penuh dengan seragam penyihir seperti milikku. aku tak dapat berkata apa-apa ketika nenekku menyuguhkan kue favoritku.
“Kau selamat, nenek pikir kau akan terbunuh di tempat kerjamu” ujarnya sambil menitikan air mata. Aku memeluk nenekku karena aku paham akan rasa khawatir yang dialaminya.
“Aku yakin ia pasti selamat” seseorang dengan kursi roda dan kacamata mengagetkan ku.
“Nuna Funzee?” tanyaku, “Sedang apa kau?”
“Aku? Aku programmer tentu saja, aku memprogram beberapa aplikasi yang dapat menghancurkan musuh kita tentunya” ia tersenyum.
“Musuh?” aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi di dunia. Namun kedatangan wanita itu membuatku sedikit tenang, ia meyakinkan bahwa bukan hanya aku yang mengalami perubahan dunia.
“Kau selamat, Kim!” kali ini wanita berambut pirang panjang memotong pembicaraanku dan memberiku sepasang sepatu.
“Kau? CL? Chang Lin?”
“Tentu saja, kau pikir siapa?” ia tertawa. Ku pandangi sepatu yang diberinya, itu sepatu yang ku buang saat berlari pulang.
“Kami temukan sepatumu, kami kira kau terbunuh saat tentara itu menyerang tempat kerjamu” suara yang sangat kuhafal mengejutkan ku yang memandangi sepatu.
“Minzy?”
“Sepertinya kau mengalami hari yang berat sekarang” nenek mengejekku dan meninggalkan kami di ruang tengah.
“Sebentar, Nuna Funzee, CL, Bom, Minzy sedang apa kalian dirumah nenekku?”
“Rumah nenekmu sangat cocok untuk dijadikan sebuah markas, ditengah hutan yang kemungkinan besar tentara itu tak akan pernah tau” Funzee menjelaskan sambil memakan kue favoritku.
“Ya, lagipula nenekmu penyihir terkuat dalam sejarah. Ia pasti akan menyembunyikan tempat ini dari tentara itu” Bom melanjutkan.
“Semua yang kalian jelaskan tetap tidak dapat masuk dalam akalku”
“Baiklah, mungkin setelah kau mandi kau akan mengingatnya” CL mengantarku kekamar mandi, ia berjanji akan bercerita setelah aku mandi. Ia paham perasaan ku yang masih terkejut dengan semua yang terjadi.
Aku membilas diriku, di kamar mandi semuanya masih dalam keadaan normal. Kamar mandi yang sama sebelum aku menyewa rumah yang dekat dengan tempat kerjaku. Sabun, dan perlengkapan mandi yang sama. Ketika aku melihat pakaian gantiku, aku merasa aku berada dalam dunia lain. Pakaian penyihir dengan topi anehnya mebuatku berpikir dua kali untuk menggunakannya atau tidak. aku berjalan menuju kamar yang penuh dengan senjata api dan pisau. Aku berencana untuk pergi dari rumah nenek tanpa pamit. Aku merapihkan beberapa pakaian normalku dan membungkusnya dengan plastik hitam yang selalu kusediakan di dalam lemari.
Ketika aku ingin melangkah keluar dari rumah nenek, seseorang memanggilku.
“Mau pergi?” tanyanya, orang yang mengaku Changmin itu mendekati ku. Ku sembunyikan plastik yang kubawa di belakang tubuhku.
“Aku? Tidak aku hanya ingin membuang pakaian” jawabku, ia tertawa.
“Tak perlu berbohong padaku setelah kau menerbangkanku dengan sihir dahsyat” ia melepaskan helmnya dan tersenyum ke arahku. Ku pandangi wajahnya, ia benar-benar seperti Changmin yang aku bayangkan. Selebritis terkenal akan lagu-lagunya.
“Kau terkejut?” aku mengangguk mengiyakan, ia mengajakku masuk kedalam kamarku. Aku menaruh plastik hitam yang ingin aku bawa, ia bercerita tentang dunia yang berubah drastis, ia merebahkan diri di kasurku. Ia menjelaskan beberapa pakaian penyihirku dan beberapa pisau yang ada dibawah lemari pakaianku.
“Nenek sangat baik. Aku hampir mati jika nenek tidak menolongku, ia gunakan sihirnya untuk menyembuhkan lukaku. Nenek bercerita tentang pakaianmu, kau akan memakai penyihir yang berwarna merah ketika kau telah menguasai beberapa sihir kuat dan kawan-kawanmu akan memanggilmu penyihir merah” kupandangi pakaian penyihir berwarna merah.
CL memasuki kamarku dan menghampiriku.
“Aku berjanji untuk bercerita, keluarlah. Aku yakin kau tak akan nyaman mendengar ceritaku ketika ada dihadapan kakakmu” ia menunjuk Changmin yang memejamkan mata. Aku mengikutinya kearah teras.
“Relax, take your time” ia duduk diatas kayu pembatas teras dan halaman.
“Dunia telah berubah ketika orang itu datang” jelasnya, aku berdiri disampingnya mencoba mendengarkan ceritanya yang mungkin saja akan diterima oleh akalku.
“Aku yakin keinginanmu sama denganku, aku ingin dunia ini kembali seperti semula. Tak ada pertikaian, permusuhan, pembunuhan atau apapun itu. Aku ingin dunia kembali normal”
“Apa kau terjebak disini?” ia memandangku, ia tersenyum.
“Sama seperti mu, aku beristirahat dikamarku ketika terbangun seluruh keluargaku mati”
“Dibunuh?” ia mengangguk.
“Tentara itu, mereka membunuh keluargaku” kulihat dimatanya tergenang air mata yang siap menetes.
“Aku janji padamu, aku akan membuat dunia kembali seperti semula…” aku ingin menghiburnya, sebelum semuanya terjadi ia adalah selebritis wanita yang aku sukai. Kali ini aku melihatnya seperti sebuah kawan lama yang rindu akan keluarganya, aku paham perasaannya. Itu yang sekarang sedang aku rasakan, aku rindu ibu. Walau kakak dan nenekku masih hidup, kehadiran seorang ibu merupakan hal penting bagiku.
“Terima kasih” ia tersenyum, ku hapus air matanya yang mengalir di pipinya. Pipinya lembut, aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin membalaskan rasa sakitnya pada tentara itu, aku tak ingin melihatnya menangis.
“CL! Kim!” aku mendengar Funzee memanggil, aku dan CL bergegas masuk kedalam ruang tengah menemuinya.
“Kenapa, kak?” tanya CL. Ia menjelaskan aplikasi yang baru saja dibuatnya, aplikasi yang dapat membuat seluruh situs dunia kacau. Aplikasi yang dapat membuat barisan tentara merah menyerah.
“Kim, dengarkan aku. Aplikasi ini membuat seluruh situs dunia kacau, ketika seseorang surfing internet yang ditemukannya hanyalah situs ini. Walau kau tetap mencoba pergi ke situs lain tetap situs ini yang akan ditampilkan komputer”
“Kenggulan situsmu selain itu?”
“Setidaknya kita dapat mengetahui daerah mana yang akan diserang oleh tentara itu, namun untuk awalan aku ingin kau dan CL mengisi pesan dikolom ini agar aku dapat memberitahukan ke seluruh dunia jika dunia kita sedang diserang oleh tentara itu”
Aku, CL, dan Funzee membuat pesan dikolom yang telah disediakan. Aku bercerita tentang tentara yang menyerang tempat kerjaku, CL bercerita tentang keluarganya yang dibunuh dan Funzee bercerita tentang kehidupannya sebelum diserang tentara itu. Ia menambahkan kolom kecil untuk para pengunjung yang meninggalkan komentar. Kami berdua fokus menatap layar komputer dan berharap ada yang memberikan komentar atau cerita sama yang dialami olehku.
Park Bom ikut bergabung, ia menulis pengalamannya ketika diburu oleh tentara merah.
_***_
“Berjuanglah, kalian harus berjuang. Kita ikuti kawan-kawan yang berperang melawan tentara merah, aku ingin mengikuti jejak ketuaku. Aku ingin mengikuti pahlawan yang gugur karena telah melindungiku, Yunho, Yoochun, Jaejoong, Junsu. Aku tak ingin kalian terbunuh sia-sia, berperanglah. Lawan tentara merah itu dan jadilah pahlawan yang ikut mengembalikan dunia seperti semula” Changmin berbicara diruang bawah tanah yang pernah kubuat dulu sebelum pergi meninggalkan rumah nenek.
“Aku ingin katakan sesuatu” nenekku mengambil alih, ia berdiri menggantikan Changmin.
“Cucuku pulang dengan selamat, aku tak dapat melindungi tempat ini lagi. Cucuku seorang seraphim sama sepertiku. Aku dapat merasakan pesta kemenangan yang akan kalian adakan, aku akan datang menemui kalian ketika cucuku mengadakan pesta itu. Bergegaslah, dengan selamatnya cucuku tentara itu akan mengejarnya dan membunuh orang yang menyembunyikan cucuku. Semua ini tentang kekacauan dunia. Kalian harus paham apa yang sedang dikejar oleh ketua tentara merah itu, orang itu adalah musuh bebuyutanku. Orang itu telah membunuh anakku dan suamiku. Berhati-hatilah, aku telah mempersiapkan segalanya. Pilih senjata kalian, asah keahlian kalian, perbaiki kesalahan diwaktu lalu jangan sampai kalian berubah dan menyerang kami para pejuang yang ingin menyelamatkan dunia. Selamatkan dunia!”
Malam itu rapat yang diadakan Changmin dan nenek menggerakkan hati beberapa pejuang dirumahku. Aku masih belum mengerti dengan semua yang terjadi, aku hanya menyaksikan beberapa pejuang lain memilih senjata yang cocok dengan mereka. Seorang dari mereka mendekatiku, penyihir perempuan dengan tongkat kayunya.
“Kim, aku ingin meminta tolong padamu”
“Ya?”
“Aku ingin kau mencari ayahku, ayahku hilang” aku terdiam menatap anak perempuan itu, ia terlihat bersungguh-sungguh meminta pertolonganku.
“Maaf gadis kecil, aku tak ikut berperang” ia terdiam.
“Tapi… tapi kau penyihir sama seperti ku bahkan tingkatmu lebih tinggi dariku. Kau seraphim kenapa tak ikut berperang?”
“Kau tau? Aku bukanlah seorang pejuang, mungkin orang-orang disini menganggapku hebat tapi aku bukanlah seorang prajurit atau penyihir hebat seperti mu” dimatanya tergenang air, ia menangis memandangku, wajahnya pucat.
“Tak baik menangisi seorang anak kecil, Kim” CL mendekatiku dan mengusap kepala anak perempuan itu. “Lihatlah, ia masih kecil namun sudah bertekad menjadi penyihir hebat” anak perempuan itu menyembunyikan wajahnya.
“Tenang saja, Kim akan menemukan ayahmu. Sebutkan ciri-ciri ayahmu”
“Ayahku memiliki luka diwajahnya, luka cakar yang membekas. Cakaran tanganku membuat wajahnya seperti itu” ia menjelaskan dengan isakan tangis.
“Siapa namamu gadis kecil?”
“Alex, dari Vietnam” ia berlari meninggalkanku dan CL.
“Sebaiknya jangan kau kecewakan anak itu, Kim”
“Aku hanya ingin menepati janji padamu, bukan pada seluruh orang disini”
“Menepati janjiku sama saja menepati janji pada semua orang itu” CL mengasah pisau kecilnya, ia taruh pisau kecil itu dikantung belakangnya. Lalu ia mengambil sebuah gatling gun lengkap dengan peluru tambahan melingkari tubuhnya.
“Asah kemampuanmu dan buat sebuah keajaiban” lanjutnya dengan tersenyum.
_***_
Malam semakin larut, beberapa orang yang tidak mengambil senjata tidur diruang bawah tanah. Sedangkan orang-orang yang mengambil senjata ikut berjaga denganku dan CL.
Terkadang aku memejamkan mata, mencoba beristirahat. Namun dalam penglihatanku aku melihat seseorang tentara merah menyerang, aku kembali terjaga. Selalu seperti itu, aku tak pernah menutup mataku dan terus terjaga. Rasa kantuk yang menyerang membuatku semakin terjaga. Aku bermain dengan beberapa mantra kecil yang membuatku tertawa.
“Sulit ya menghilangkan rasa kekanak-kanakan mu” aku terkejut seseorang mendekati dan berdiri disampingku. Ia tersenyum.
“Ah, aku hanya bermain dengan mantra favoritku ketika aku kecil” ia menjulurkan tangannya.
“Seungri, bagaimana rasanya menjadi cucu seorang penyihir?”
“Biasa saja, aku hanya berharap aku keturunan seorang prajurit pedang”
“Kau bisa belajar menggunakan pedang jika kau mau” ia tersenyum, ia memandang jauh kearah langit malam. Aku mengikutinya.
“Kaupun bisa mengambil bintang paling terang jika kau menginginkannya”
“Apa kau yakin Kim akan mengerti perkataanmu?” seorang dengan mata yang kecil ikut mendekati dan memandang kearah langit.
“Daesung, siap untuk peperangan besar?” ia menjulurkan tangannya dan tersenyum kearahku.
“Aku? Entahlah” jawabku, aku hanya berpikir untuk menepati janjiku pada CL, dan tak berniat untuk berperang melawan tentara merah.
“Aku pernah melihatmu di kontes” tiba-tiba Seungri mengalihkan pandangannya padaku.
“Kontes?” aku memandang wajah Seungri.
“Ya, kontes dance”
“Lucu sekali seorang penyihir, menari” Daesung menyela.
“Hey, itu pekerjaanku sebelum berperang” ujarku, mereka tertawa.
“Aku sendiri tak pernah menginginkan menjadi penyihir” tawaan mereka mengisi malamku, perasaanku malam ini sungguh tidak nyaman. Khawatir akan tentara merah menyerang dan mengacau rumah nenekku.
Kejenuhan menyerang ketika semua orang mulai tertidur, aku merasa mereka meremehkan apa yang akan mereka hadapi. Bagiku, kejadian ini adalah kesempatan untuk mengembalikan hidupku yang indah.
“AH!”
“Tentara merah!” kudengar seseorang berteriak, aku berlari ke sumber suara. Aku melihat Bom ditarik seorang tentara. Aku mengejar tentara itu.
“Kim! Kejar Bom! Aku akan menyelesaikan beberapa tentara disini!” CL berteriak.
“Bom!” aku terus mengejar tentara yang membawa Bom, kulihat perempuan kecil yang sempat berbicara denganku mengejar Bom.
“Alex! Gunakan sihirmu! Tambah kecepatanku!” ujarku menyemangatinya, ia menoleh dan mengucapkan mantra padaku.
“Kim, Velocitate!” kecepatan kakiku bertambah, aku hampir menabrak sebuah pohon yang ada di depan mataku.
“Aku akan menolongmu!” aku berteriak dibelakang tentara yang menangkap Bom. Aku akan merasa menyesal ketika harus kehilangan seorang pejuang sebelum perang dimulai.
“Kim!” Bom berteriak padaku.
“Bom, jika kau bisa menggunakan sihir gunakanlah!”
“Percuma, mereka mengunci sihirku”
“Ignis!” aku terus berlari sambil mengucapkan mantra, sebuah tembakan api kecil mengenai tubuh tentara itu. Tentara merah itu sempat menoleh dan berhenti untuk memandangku. Sedikit lagi aku akan dekat dengannya dan menghajar wajahnya.
“Ignis! Ignis!” berulang-ulang aku mengucapkan mantra, sebagian tembakan mengenai pakaian tentara itu dan membakar punggungnya. Sebagian tembakan hampir mengenai wajah Bom.
“Hey! Hati-hati dengan mantramu anak kecil!” Bom berteriak dan memukul punggung tentara itu.
“Turunkan aku tentara bodoh!” ia mengeluh dan terus meronta melepaskan diri.
“Fragor!” aku mengarahkan tanganku ketantara itu, dengan sekejap tentara itu meledak. Aku mendekati ledakan itu, yang kulihat hanya Bom yang tersungkur.
“Bommie!” aku membangunkan Bom.
“Tentara itu lari kearah sana, kejarlah!” nadanya melemah, wajahnya menghitam karena mantra ledakanku.
“Minum ini” aku memberikan botol cairan merah yang kudapat dari kawanku.
“Kejarlah… dan berhati-hatilah” aku mengangguk.
“Bommie!” Seungri, CL dan Daesung datang menghampiri, aku menggenggam tangan Bom.
“Tolonglah, bawa pulang. Aku akan mengejar tentara itu” ku teruskan berlari mengejar tentara merah yang telah membuat duniaku berubah seratus persen.
Aku semakin masuk kedalam hutan, mengejar tentara merah. Yang kutemukan hanya sebuah pengistirahatan yang terbuat dari kayu-kayu lapuk. Aku tak mencium keadaan tentara merah yang kukejar. aku menyelidiki tempat itu, aku mendengar suara bising dari dalam rumah tersebut.
“Invicta” ku sebutkan mantra yang membuatku tembus pandang, aku masuk kedalam rumah itu dan berjalan pelan. Ku amati dalam rumah itu, tak ada tanda-tanda keberadaan tentara merah. Ku terus amati seluruh ruangan rumah itu. Ku temukan sesuatu yang mencurigakan, sebuah ember kecil dengan busa detergen yang menutupi.
“Lepaskan mantra tak terlihatmu” aku terkejut ketika seorang laki-laki berwajah besar ada disampingku.
“Percuma kau menggunakan mantra dihadapanku, karena aku sama sepertimu” kuhilangkan mantraku dan memandangi wajah laki-laki itu.
Wajahnya terdapat luka cakar, aku seperti mengenal laki-laki ini. Laki-laki yang muncul dengan tiba-tiba dihadapanku.
“Kau, kau orang tua Alex” ujarku. Ia menatap tajam kearahku, sepertinya ia terkejut mendengar ucapanku.
“Alex? Siapa dia?”
“Anakmu, kau memiliki anak yang bernama Alex!” aku mengikutinya keruang tengah, ia duduk dengan pelan. Sepertinya ia merasa sakit dibagian punggung. Ku perhatikan tingkahnya, ia gelisah dan aku sempat melihatnya membersihkan luka di lengannya dengan saputangan.
“Nak, sepertinya kau mengigau. Bertahun-tahun aku tinggal disini dan aku belum punya anak” aku terdiam. Dengan diam-diam aku mengucapkan mantra, aku menggandakan diri dan berjalan mengecek ember yang sempat membuatku curiga.
Diriku yang satunya berbicara dengan lelaki separuh baya itu, ia bercerita tentang kehidupannya dirumah itu dan bertanya padaku apa yang membuat ku masuk kedalam rumahnya.
“Kau melihat tentara merah?” tanyaku.
“Tentara merah? Maksudmu tentara yang kejam itu?”
“Ya, tentara yang membuat kehidupanku berubah seratus persen” ia menggeleng, diwaktu yang sama diriku yang satu lagi menghilang dan menyisakan ingatan “ember” padaku yang sedang berbicara.
“Mengubah hidupmu?”
“Ya, aku hanya seorang pegawai di pelayanan jasa. Dengan kehadiran mereka hidupku yang tenang memaksaku menjadi seorang penyihir”
“Ya, sayang karena aku sama sekali tidak tau tentara merah yang kau maksud” tingkahnya menunjukan bahwa ia gelisah dan panik, keringat dinginnya mengalir. Aku dapat melihatnya dengan kacamataku.
Aku terdiam melihat reaksinya.
“Sepertinya sapu tangan yang kau pegang sangat spesial. Apa itu dari Alex?” aku memancing pertanyaan padanya.
“Ya, dia sangat pintar merajut dan menjahit” ia menjawab dengan percaya diri, terdiam seketika dan melanjutkan perkataannya. “Bukan Alex yang kau pikirkan tentunya anak muda” ia tersenyum.
“Kau tau? Ada istilah yang disebut Hubungan Penyihir, karena kau penyihir aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Tentara merah” aku tersenyum, membuatnya salah tingkah.
“Apa yang kau bicarakan anak muda” ia meringis.
“Kau lupa pada Alex kecilmu dan menjadi tentara merah?” ia terdiam.
“Sebelum aku mengucapkan mantra api yang mengenai punggungmu, Alex ikut mengejarmu karena ia tau siapa yang sedang ia kejar. Ia hanya ingin bertemu ayahnya yang menghilang entah kemana. Jika aku Alex kecilmu mungkin aku akan menangis dan tak menganggapmu ayahku lagi”
“Tingkah anehmu yang menyembunyikan luka dipunggung memastikan aku yang curiga padamu, alasan tentara merah menyerang rumah nenekku karena rumah peristirahatanmu dekat dengan rumah nenekku. Kau berpura-pura menjadi korban tentara merah” ia menggeser tempatnya dan membuatnya duduk di tepi kursi.
“Kembalilah, jadilah orang tua Alex yang dulu. Alex merindukanmu, merindukan seorang ayah yang sayang pada anaknya. Kau lebih tua dariku seharusnya kau paham perasaan anakmu yang ikut berjuang melawan tentara merah”
“Diam! Kau terlalu banyak bicara!” ia berteriak padaku, mengambil sebuah pistol dan menembakan kearah kepalaku. Aku tak dapat menepisnya dan tersungkur jatuh.
_***_
Aku terbangun karena suara kakak perempuanku yang tertawa keras, jam dinding dalam kamar sewaku menunjukan pukul 12 siang. Aku membuka mata dan melihat keadaan sekitarku. Semuanya terlihat normal. Rumah sewaku yang normal, pakaian kerjaku yang normal. Tak ada lagi mantra, tak ada lagi pedang, tak ada lagi selebritis yang ikut berperang, tak ada lagi sesuatu yang aneh.
Sungguh mimpi yang sangat menakutkan, aku sangat bersyukur ketika semua itu hanyalah mimpi belaka. Dan aku tak perlu khawatir terluka karena semua hal itu hanya ada dalam mimpiku. Aku bergegas membersihkan diri dan menggunakan pakaianku, tempat kerjaku tidaklah jauh dari rumah sewaku. Aku tersenyum pada kakakku dan membuatkan makan siang untuknya.
Aku berjalan ketempat kerja dengan tas ransel yang setia menemaniku. Tempat pelayanan jasa yang sangat nyaman tanpa adanya tentara yang mengejarku. Aku buka tasku dan mengambil pakaian kerjaku, aku terkejut ketika melihat sebuah buku catatan using terjatuh dari pakaian ku. Buku catatan yang pernah kulihat. Aku membuka dan membaca isinya, beberapa menggunakan huruf latin. Dan beberapa halaman terlihat kosong, namun aku tertarik akan sebuah halaman yang bercorak merah, disitu tertulis : Tentara merah, Bommie, Alex dan Mimpi.
Karya asli oleh : Fajjar Angga Suprapto
Continue to part. II
Note : Seraphim = Higher than an angel, Divine creatures from the Old Testament,
Liber Evaderet, Ignis, Fragor = it's a *for a some country (i'm forget from where i got it, sorry... but i just remember that means is : speed, fire and explode)
thanks for reading :)
NP : MBLAQ - It's War




blog nya ceritain apa sih '??
BalasHapussaya mau jadi meember tapi masih ragu hahah syaa enggak tau apa maksut dan tujuan blog ini ada :D
tujuannya itu cuma buat ngehibur doang :D udah :D
BalasHapus